The Last Moment at Myanmar (2)

The Last Moment at   Myanmar (2)

chakraasis

Aku diarahkan bagian pengecekan paspor ke sebuah ruangan. Meski aku menjelaskan ke Myanmar atas undangan Pemerintah Myanmar, mengikuti Word Buddhist Summit, tapi over stay karena berada di center meditasi, dan saya biku, bagian imigrasi masa bodoh.

Berapa hari over stay aku dihitung, lalu diwajibkan membayar baru diperbolehkan menuju pesawat. Poor day.

Pesawat mendarat di Bandara Changi, Singapura. Ada rekan Hendritanti (sekarang Biku Nyanagupta) menyambutku. Malam itu aku menginap di kontrakannya. Untuk keesokan hari melanjutkan perjalanan ke Indonesia.

Rekan Hendritanti menjagaku sangat baik.  Untuk makan, biar kita makan di tempat umum, dia mewanti-wanti penjualnya untuk tak menggunakan daging, yang sebenarnya bukan pantangan aku, but as long we can follow it, its doesn’t matter.

Dia juga selalu membuka jalan untuk aku saat berjalan di keramaian, tapi saat aku minta diperlakukan biasa saja, dia juga easy going. Take care me as friendly monk, hehe. Dia juga mau membayar penuh tiket pesawat aku ke Jakarta. Tapi aku menolaknya, aku masih ada sisa sedikit uang, kamu nambahin kekurangannya saja, kataku.

Setiba di Indonesia, aku mengontak salah satu biku senior yang punya center di gunung.

“Namo Buddhaya Bhante, Ini Nyanachatta. Aku baru pulang dari Myanmar, Aku butuh bantuan Bhante, sepertinya meditasiku mengalami gangguan,” kataku to the point.

Ajaibnya, ternyata bhante itu sedang ‘turun gunung’ dan berada di Jakarta. “Udah tunggu aja, nanti sekalian aku jemput ke sana,” katanya.

Wah, kali ini sebuah kehormatan besar lagi bagiku. Biku sesenior dia pas lagi di Jakarta dan menjemput aku langsung di Ekayana.

Saat di dalam mobil, biku senior itu bertanya ”dalam mobil  begini pusing gak?”

Ups, dia sangat mengerti kondisiku, kataku dalam hati. Ini yang kucari, “Mual banget Bhante,” kataku.

Saat umat yang ada dalam mobil ikut berbicara, biku senior itu mengalihkan pembicaraan seolah tentang hal lain, jadi komunikasi ini cuma dua arah antara aku dan dia.

Singkat cerita kami sudah sampai di centernya di gunung. Biku senior itu berguman, “Selalu saja begini kalau udah mau jadi.” Beliau juga kaget saat tahu aku baru satu bulan di Forest Center Myanmar, “kirain sudah berapa tahun,” katanya.

Aku sekilas menceritakan kondisi center di Myanmar tempatku berlatih. Disiplin ketat.
Entah karena cerita ini atau bukan, di sini biku ini lalu memperlakukan aku dengan sangat keras… bahasa lainnya dibentak terus. Agak syok juga, hehe. Belakangan hari saat tidak di center biku senior ini lagi, dan bertemu salah satu yogi yang ada di sana saat itu, yogi itu bercerita mereka sempat komplain ke biku senior itu, kenapa memperlakukan aku begitu keras. Dalam pandangan aku, mungkin ada misundestanding antara disiplin dan bentakan.

Di Myanmar, guru kami begitu lembut dan tak pernah membentak. Memang disiplinnya sangat ketat dan seolah bisa membuat kita tak bisa bernapas, tapi fibrasi cintakasihnya yang kuat, rasa menyayanginya yang besar bisa kami rasakan dalam setiap sesi pertemuan yang terbatas.

Ketika biku senior ini, mungkin surprise dengan kemajuanku yang hanya satu bulan lebih di center Myanmar yang ketat ingin mengaplikasi system ini di tempatnya, suasana center berubah menjadi medan ospek. Disiplin tanpa loving kindness membuat center menjadi hanya medan bara. Dari center yang damai, saya tiba-tiba mendapati tiap hari harus diomelin.

Seperti ketika makan siang: Di Panditarama Forest Center, Myanmar, setiap moment adalah meditasi. Saat makan sekalipun, kami memasukan suap demi suap nasi ke mulut dengan sangat pelahan, mengunyahnya dengan penuh kesadaran, merasakan asin, manis, panas dan dingin makanan yang tercerap indra  lidah kami.

Agaknya belakangan aku tahu, biku senior ini juga pernah berada di Soeb  Oo Min Center Myanmar, dimana tidak menyarankan melakukan segala hal terlalu lambat. Mungkin karena hal inilah, siang itu biku senior itu membentak aku lagi. “Apa sih yang kamu lakukan? Makan begitu lambat! Kamu menikmati makanan itu kan?”

“Tidak Bhante,” kataku pelan setelah ia menghabiskan unek-uneknya. Mendengar  jawaban aku, ia melihatku untuk mendengar alasan lebih lanjut. Dengan memberanikan diri, untuk tak berkesan menggurui, aku menjelaskan aku sedang melakukan meditasi dalam makanan.

“Meditasi gimana?! Kamu pasti menikmati makanan itu, enak kan?!” hardiknya.

“Tidak Bhante,” kataku hati-hati dengan sedikit menunduk. “Aku mengawasi rasa asin, asam, manis, panas atau dingin yang kurasakan dari makananku,” aku tak menikmatinya,” kataku.

Syukurlah, meski tampak keras, biku senior itu bisa menerima alasanku. Beliau tampak berpikir dan tak memarahiku lagi. Namun, suasana makan tentu tak mengenakkan lagi.

Meski tahu bahwa aku sedang mendapat gangguan dalam meditasi, aku mencoba selektif terhadap resep yang diberikan padaku. Berhati-hati untuk mencari tahu kondisi batinku ada dimana, dan resep apa yang cocok untukku. Maka ketika biku senior itu diawal kedatanganku, memberikan foto-foto mayat, untuk dilihat lalu diingat dalam batin katanya, tentu tak aku jalankan.

Setahu aku, yang aku pelajari adalah meditasi vipasana. Dalam vipasana kita tak menciptakan atau menghilangkan sesuatu. Jadi agak aneh kalau sekarang aku harus memasukkan mayat-mayat ini ke dalam batinku. Melihatnya, lalu menutup mata membayanginya di dalam batin.

“Nanti aku ajarkan yang lainnya lagi,” katanya.

Namun, tak etis kalau aku menolak di hadapan biku itu. Aku  bilang ya dan menyimpan foto itu, tetapi aku tetap praktek meditasi dengan metode yang sudah aku jalani di dalam kutiku.

Maka bisa dipastikan, esok harinya ketika ditanya hasil meditasiku, apakah sudah ada gambaran mayat itu di dalam batin, aku menjawab belum, biku senior itu tampak mangkel. Terlebih saat aku tanyakan seperti ada tangan robot, tangan tambahan yang menempel di saraf-sarafku.

Langsung saja, pagi itu aku menjadi bulan-bulanan bentakannya. Agaknya dia nge kalau aku tak menjalankan arahannya. Yah, mohon maaf, mungkin aku termasuk pembelajar yang selektif. Meski kadang bisa merugikanku, tapi seringkali itu bermanfaat untukku. “Pantas kamu disuruh keluar dari center. Keras kepala. Disuruh begini malah jalanin yang lain. Lama-lama kamu bisa gila! Denger yah, jangan memasukkan nafas lewat mulut. Nafas masuk lewat hidung harus keluar lewat hidung.”

Astaga, inilah untungnya belajar dengan biku senior, ada point-point yang tak kita sebutkan, tapi dari jam terbangnya yang tinggi, beliau bisa tahu dan menjelaskan.

“Maaf Bhante, aku salah… tadi pagi aku memasukkan nafas lewat mulut dan mengeluarkan lewat ubun-ubun, aku merasa tubuh ini sepertinya dikuasai orang lain.”

“Hah, kamu bisa gila!”

“Maaf Bhante, aku tidak mengulanginya lagi.” Kataku bersujud  tiga kali. “Makasih banget, Bhante.”

Setidaknya biku senior ini mengingatkan dasar-dasar meditasi yang ternyata aku lepaskan. Selama mengamati getaran-getaran tubuh yang terus berpindah, aku sudah terbawa terlalu jauh. Aku bisa merasakan getaran perputaran di titik anus, perut, jantung, hati,tenggorokan, jidat dan ubun-ubun yang bergetar bersamaan, lalu nafas yang masuk lewat mulut aku keluarkan melewati pusaran-pusaaran itu dan berakhir di ubun-ubun seperti helikopter, hehe.

Meditasi yang aku lakukan dengan mengamati pusaran-pusaran itu tanpa aku sadar membuat aku mengamati semua sensasi abstrak yang aku rasakan. Hal sangat sepele yang dulu aku tahu untuk mengabaikan/cukup tahu saja sensasi abstrak colekan di kaki, seperti ada yang berusaha menempel sehingga punggung terasa berat dan sebagainya, telah aku abaikan.

Aku terjebak dan tak bisa membedakan menyadari dengan mengikuti. Dalam hal meditasi, dua kata ini memiliki makna dan akibat yang begitu fatal.

Aku menyadari sepertinya kekacauan ini dimulai dua malam terakhir saat aku di Forest Center Myanmar,ketika aku mengikuti sensasi colekan di kakiku.

Terima kasih Bhante, from that moment, kondisi meditasiku membaik. Aku berhutang sangat banyak pada Bhante.

Tetapi di sisi lain, aku tahu, metode yang aku pelajari berbeda dengan metode di center biku senior yang ada di gunung ini, yang tampaknya menurutku lebih ke arah Samatha Bhawana.

“Kalau aku menutup mata, rasanya tak seperti sedang menutup mata biasanya, tapi seperti sedang ada di alam lain, “ kataku memulai pembicaraan.

“Itu alam tanpa batas,” kata biku senior itu.

Point terakhir yang ingin aku tahu adalah, gambaran yang aku lihat dulu, permadangan yang sangat indah, kuda terbang yang mengangkut penumpang di awan itu apa?

Ketika keesokan harinya aku tanyakan pada biku senior itu, beliau berkata” kamu melamun kali?”

“Yang aku lihat bukan dalam kondisi duduk meditasi, Bhante. Tapi saat mata terbuka begini. Itu seolah ada di jidat, bergerak seperti film, kalau diarahkan ke matahari, gambar itu makin terang…”

Bhante itu tampak terdiam. Ia tak mengucapkan apa-apa. Kesimpulannya, tak ada jawaban di sini.

Genap seminggu, karena merasa yang aku dapat cukup, sore itu aku minta ijin pada biku senior itu untuk pulang ke Jakarta.

Aku bersujud tiga kali mengucapkan rasa terimakasih yang amat sangat. Beliau telah mengingatkan aku sebuah masalah sangat simple dan dasar, tetapi peringatan itu telah menyelamatkan aku.

“Budi ini tak akan bisa aku balas, Bhante,” sujudku pada beliau.

“Ke Jakartanya naek pesawat saja, jangan naek bis” pesan beliau tahu aku belum bisa berada di satu ruangan dengan banyak orang, pasti aku akan mual. Setidaknya pesawat bisa mempercepat semuanya.

Bersambung  gak yah? Hehe….

Jakarta 15 Agustus 2009 (10:56 pm)

Harpin

Sumber: harpin.wordpress.com

The Last Moment at Myanmar (1)

The Last Moment at Myanmar (1)

Still Mind, 50cm X 70cm, oil on canvas
HAPPY VAISAKA DAYS, MAY ALL BEING BE ENLIGHTENING AS LORD BUDDHA

Bagi kami yang berlatih Vipassana, terlebih metode Mahasi di Panditarama Forest Center, rasa sakit, jenuh, adalah makanan sehari-hari yang harus dilalui di awal-awal latihan.

Bayangkan, dari jam 3 pagi sudah harus di aula utama untuk meditasi. Diselingi break makan pagi dan siang, mandi sore, praktis hari-hari kami hanya meditasi dan meditasi.

Semua, tahap demi tahap bisa aku lalui hingga aku menikmatinya, terlebih oleh pengalaman di luar nalar yang aku alami, yang mana semua harus diakhiri oleh kekacauan ciptaanku sendiri.

Kekacauan yang kulalui mencapai klimaks, saat di suatu pagi, meditasi jalan di bawah terik matahari pagi, sengatan2 elektro dari cahaya matahari ‘membersihkan’ partikel2 di ubun-ubun kepalaku.

Amazingly thats i cannot believe, meski aku pernah punya ilmu kuda lumping, mengalami mimpi buto muncul dari dinding kamar aku 2 kali (pertama di ekayana-Jakarta, kedua di Tushita Meditation Center-Dharamasala,India), saat aku bangun ada cahaya sebesar sinar senter bergerak di kamar aku, lalu hilang. Tapi pagi ini yang aku alami benar-benar membuatku takjub tak bisa berkata-kata.

Setelah ubun2ku bersih, di jidatku muncul vision. Vision ini berbeda dengan vision ketika duduk meditasi mendalam. Vision saat duduk meditasi mendalam sifatnya samar-samar, seperti mimpi. Atau bahasanya ‘seperti’ melihat Kwam Im. ‘Seperti’ melihat Buddha, yang sifatnya seolah-olah… samar-samar seperti mimpi, begitu kita sadar gambar itu tak ada lagi.

Seperti juga di awal-awal saya tertarik meditasi dan sering berada di ruang meditasi Ekayana. Suatu kali saat mau meditasi di ruang itu aku terkaget-kaget. Ada rupang 1000 Armed Chenrezig/Kwam Im berwarna coklat Tibetan style di ruangan itu yang biasanya hanya terdapat rupang Buddha putih zen style. Sempat tak percaya dengan apa yang ada di hadapanku aku mendekati rupang Chenrezig itu, meraba dan memastikan its real?

Bukan apa-apa, waktu meditasi kemarin aku ‘seolah-olah’ melihat rupang Avalokitesvara itu, persis, plek. Kehadiran rupang ini mempertegas bentuk dan gambar yang ‘seolah-olah’ aku lihat dalam meditasi kemarin.

Saat aku ceritakan ke guruku terkasih Bhante Dharmavimala, menurut beliau, ruang meditasi ini memang spesial. Di Ekayana yang awalnya dimulai hanya dari beberapa ruko, sudah menjadi rahasia umum, ruangan-ruangan yang ada bersifat multifungsi dan banyak dijebol untuk mencari konfigurasi terbaik. Hanya ruang meditasi di sebelah kantor Bhante Aryamaitri saja dari awal dibangun tak pernah dimanfaatkan untuk ruangan apapun selain ruang meditasi.

Di ruangan ini pulalah, air mata dan seduh sedan saya pernah bersahutan saat vision my mom and his suffering live muncul di meditasiku.

But, sekedar info, kemarin setelah `3 tahun tak muncul, aku tiba-tiba mampir ke sana. Tebak yang kulihat? Ruangan ini akhirnya jebol juga menjadi kantor, hanya altarnya tetap di posisi dan tak diganggu-gugat. Yah, everything is impermanen, anicca.

Menurut Bhante Vimala, ruangan meditasi dipindahkan ke atas, ke lantai empat.

Kembali ke vision terbaru ini. Kali ini bukan vision ‘seolah-olah’ seperti pernah aku alami. But this vision is very real, seolah-olah jidatku menjadi proyektor film 3 dimensi seperti di Keong Emas Taman Mini Indonesia Indah.

Lazimnya vision meditasi yang aku alami bersifat ‘seolah-olah’ saat kita ‘terjaga’ vision itu hilang, sehingga tetap menjadi vision ‘seolah-olah’ melihat ini dan itu.

Nah, vision yang ini seperti tercetak di jidat. Begitu kita mengarahkan pandangan ke tempat yang pencahayaannya kuat, lampu atau matahari, vision yang terlihat di kening kita semakin kuat dan jelas. Jadi di saat mata kita melihat orang dan sebagainya di depan kita, di jidat kita juga sedang berlangsung pemutaran gambar 3 dimensi full color. Seperti tengah menonton film saja.

Benar, seperti menyetel film 3 dimensi. Karena bila konsentrasi kita lepas dari fim 3 dimensi itu ke arah lain,misalnya berbicara dengan rekan dan sebagainya, gambaran itu hilang. Begitu kita melihat apa yang ada dalam jidat lagi, gambaran itu muncul, reply dari awal.

Vision apa yang aku lihat?

Ada sebuah ruangan emas. Di dalamnya sebuah rupang emas duduk di singasana emas dengan bantalan merah. Arca emas dan singasananya terus berputar perlahan seperti kita sedang bekerja dengan program desain 3 dimensi. Aku mengamati Arca itu, bukan Buddha, tapi seperti Tibetan Deity. Belakangan, jauh setelah peristiwa itu saat aku mencari jawaban di internet, aku mendapat gambaran sepertinya  arca itu gambaran Guru Rimpoche/ Padmasambava.

Selanjutnya ada perpohonan dan air mancur yang sangat indah. Lalu di langit ada kuda terbang yang ada orang menungganginya terbang di awan-awan.

Darimana gambaran itu muncul? Kalau dibilang imajinasi saya, rasanya saya tak pernah mengkhayalkan kuda terbang. Padmasambava apalagi, Selama ini yang saya mengerti cuma Buddha dan Kwam Im.

Selain vision itu, di saat bersamaan terdapat sengatan elektrik yang bekerja dari ubun-ubun ke titik-titik konsentrasi yang dominan di tubuhku. Beberapa partikel kecil dalam tubuh aku yang beberapa hari ini bisa aku rasakan pergerakannya, bberhamburan ‘menyelamatkan’ diri saat sengatan elektrik ini muncul. karena sumber elektrik ini dari atas kepala, partikel-partikel kecil ini lari ke bawah. Ada yang keluar lewat mulut menjadi seperti sendawa, lewat lubang pantat menjadi kentut dan banyak yang lari keluar melalui ujung kaki.

Yang tak berhasil melarikan diri terkenal sengatan elektrik ini tertarik ke atas keluar dari ubun-ubun, lalu aku bisa merasakan pecikannya yang jatuh ke wajah aku seperti ketombe, bergerak, menimbulkan rasa gatal lalu lenyap tak bebekas.

Setelah munculnya sengatan ini, sangat mudah bagiku masuk dalam meditasi mendalam. Mungkin inilah sebabnya, U Tamanakyaw Sayadaw, guruku terkasih terakhir kali interviu sempat 2 kali bertanya ‘apa yang kamu lihat?’, waktu aku bilang tak lihat apa-apa, dia bilang mungkin belum bersih. Lalu beliau tanya aku duduk meditasi berapa jam? Aku jawab bisa 3 jam. Beliau mengingatkanku untuk duduk 1 satu jam dan jalan 1 jam, ganti-ganti, tak boleh duduk lama-lama.

Aku merasakan sengatan elektrik itu terus bekerja ‘membersihkan’ tubuhku inci percinci pada setiap sel darahku. Aku menyebutnya ‘membersihkan’ karena ia bersifat seperti vacum cleaner, menyedot habis sumbatan-sumbatan dalam sel darahku lalu membuangnya melalui ubun-ubun.

Celakanya, dalam kondisi ini aku tak memiliki tempat berbagi atau bertanya. Jadwal interviu dengan sayadaw 2 hari lagi. Aku lost kontrol terbawa pada kenikmatan sekaligus kecemasan apa yang aku alami.

Setelah break makan siang, aku duduk meditasi dengan sangat nyaman dan atusias, akhirnya… aku bisa mencapai arahat juga dalam kehidupan ini kataku dalam hati. Secara perlahan tapi pasti peristiwa luar biasa ini menghilangkan kewasapadaan dan kesadaranku. Sambil duduk meditasi aku terus mengawasi getaran dominan dan sengatan-sengatan elektrik itu. ‘Pembersihan’ dalam tubuh kasarku sedang berlangsung, kataku dalam hati. Saat itu aku seperti merasakan ada sekumpulan partikel yang berusaha mencenkram habis tulang belakang di pundakku. Aku berusaha konsentrasi mengarakan sengatan elektrik itu membersihkan partikel-partikel itu. Mungkin inilah cenkraman setan-setan kebodohan yang telah berlangsung sekian abad yang membuatku terlahir dan terus terlahir lagi, kataku dalam hati. Aku tenggelam dalam perang di dalam tubuhku ini dan takut melepaskan sedikit saja konsentrasiku, aku takut terjadi sesuatu tak diinginkan apabila aku lepas konsentrasi.

Bahkan hingga tiba saatnya U Panditarama memberikan Dharma Desana aku tak rela bangun dari meditasiku.

Biasanya, sebelum U Panditarama tiba, biku pengawas mengingatkan kami merapikan jubah kami. Melihat aku terus saja bermeditasi ia berusaha membangunkanku, ‘bangun-bangun Sayadaw sebentar lagi tiba,’ katanya. Tapi aku bergeming. Sekian lama melihat aku tak juga bergerak, dia mendorong tubuhku, dan aku merelakan diriku jatuh oleh dorongannya tanpa merubah posisi meditasiku.

Suasana tentu heboh. Aku segera dibopong ke kuti di dekat meditation hall. Di sana mereka mengira aku kesurupan. Aku dibacain doa, disembur dengan air, dan terakhir matanya dimasukkan cairan-cairan dan daun-daun pedas agar sadar dan bangun dari meditasiku.

Haha, usaha mereka tak membuahkan hasil. Aku mindfull pada tubuhku. Begitu cairan pedas itu menyentuh mataku, ia menjadi objec dominan. Aku cukup mengamati saja, begitu aku mengamati getaran dominan di mataku, getaran elektrik itu mencabut habis gerakan-gerakan dominan di situ, hasilnya ajaib..mataku tidak perih sama-sekali.

Berulang kali mereka melakukan hal itu tanpa hasil, hingga tiba utusan yang merupakan penerjemah U Tamana Kyaw Sayadaw. Kata Ibu itu, sayadaw bilang kesadaranku kuat, jadi biarkan saja aku tak mungkin kerasukan. Aku diberi waktu libur 2 minggu untuk tak mengikuti meditasi. Aku boleh jalan-jalan dan sebagainya. Aku juga diberi seorang dayaka. Untuk makan, aku tak perlu ke dining hall, akan diantar dayaka.

Di Forest Center sekelas Panditarama, ini kemewahan luar biasa bagi biku baru seperti aku. Selain itu, mungkin untuk jaga-jaga cuci dosa, ibu itu mengatakan aku sebelumnya habis dari India dan mempraktekan metode lain, selain itu bahasa inggrisku buruk, jadi mungkin terjadi salah komunikasi, untuk itu ia minta seorang yogi dari Indonesia mendampingi aku.

Harapanku satu-satunya agar bisa bertemu U Tamana Kyaw tak terpenuhi. Seandainya beliau sendiri yang datang dan memintaku bangun, mungkin akan aku lakukan. aku begini lebih karena tak berani melepas konsendtrasi dari sengatan itu dan tak memiliki tempat bertanya.

Sengatan itu begitu hebat menyedot habis sensasi dalam tubuhku, termasuk rasa sakit. Jadi tak heran, hari itu aku meditasi dari jam 2 siang sampai jam 19.30 malam tanpa merubah posisi. Itupun setelah aku diangkut dan dimasukkan dalam truk dalam posisi meditasi ke kutiku, dan mereka mengancam, kalau aku belum mau bangun juga akan disiramin air. Yah, udah ngalah ajalah, aku yang dipaksa tidur di ranjangku akhirnya membuka mata dan merebahkan diri. Gila cing, tubuh aku rasanya ringan dan rileks banget, just like a baby. Lebih terkejut lagi saat aku tanya jam berapa? Mereka bilang sudah 19.30. Ha? Aku kira masih sore!?

Malam itu aku tidur ditemani seorang dayaka. Aku kasihan melihat dia menggelar tikar di depan kuti, aku memintanya masuk tidur di kutiku, dia tak berani.

Keesokan harinya aku tetap bangun pagi dan meditasi. Anehnya, sekujur persendianku rasanya memiliki per. Terutama pada lutut dan siku tanganku. Perubahan fisik juga mulai terasa, jari-jariku menjadi lurus-lurus dan bahkan jempol jariku anehnya bisa melengkung ke atas.

Diluar itu, kini seorang yogi dari Indonesia menemaniku. Mungkin karena satu negara, apalagi beliau juga kenal Pak Handaka sebagai penyokong saya di Myanmar, aku merasa mendapat teman curhat. Dia tampak bersikap baik, tapi juga memberi masukan yang menciutkan nyaliku. Dia mengatakan aku tak boleh merepotkan orang, sampai harus diangkut dengan mobil ke kuti, disediakan dayaka, makan diantar segala. Kalimat-kalimatnya ini membuat aku merasa sangat bersalah, takut dan sebagainya.

Sorenya dia mengajak aku jalan-jalan. Saat melewati sebuah pohon di depan front office, aku bisa merasakan udara yang bergerak aktif masuk ke telingaku. Buzz!  Masuk ke dalam perutku, buzz! Lalu keluar lagi lewat kuping, buzz!

Malangnya aku tak bisa menceritakan ini pada siapa-siapa. aku merasakan tubuhku penuh angin, yang keluar masuk seenaknya. Aku rasanya hampir tak bisa bernafas karena tekanan angin-angin ini dan ketakutanku yang kian menjadi.

Aku coba mengatakan pada yogi itu, kalau pintu sudah terbuka dan aku tak bisa mengendalikannya, angin-angin ini bebas keluar masuk tubuhku seenaknya. Tanpa aku sadari, sepertinya yogi ini makin memandang minor pada diriku. Padahal aku mempercayainya dan menganggap dia sahabat dan saudaraku satu-satunya saat itu. Malamnya, karena ketakutanku aku memilih menginap di kuti yogi itu. Dalam kondisiku yang labil, aku memang berpikir dia sebaik Pak Handaka untuk menjaga aku.

Tapi harapanku sepertinya menjadi bumerang. Keesokannya, mungkin gara-gara menginap di kutinya, dan mungkin juga dari laporannya tentang ucapanku yang aneh-aneh, aku dipanggil oleh Sayadaw. Informasi ini tentu aku dapat dari yogi itu. Bahwa aku tak boleh lagi tinggal di situ. Dia akan mengantar aku ke Yangon. Nanti kalau ketemu Sayadaw kamu jangan bicara…. mereka tak mau bicara lagi dengan kamu tentang meditasi, katanya. Dari sikapnya aku menyadari, kepercayaanku padanya ternyata salah.

Saat ini, tiba-tiba dialah juru bicaraku, di sisi lain sebagai juru bicara dia memandang negatif pada aku. jadi saat ketemu Sayadaw aku menjadi terpidana. Aku malu dan takut, saat aku mencoba berbicara langsung menggunakan Bahasa Inggris dengan Sayadaw, dia mengatakan kamu mau ngomong apa biar aku yang omongin. Dan hebatnya, dia bertanya pada Sayadaw, “sebelum dibawah ke Yangon apakah dia perlu dilepasjubahkan dulu?”

Aku terkaget-kaget mendengarnya. Aku mempercayainya, tapi dia menganggap aku tak waras, ini mengiris-iris hatiku, tapi sebagai terpidana yang sudah menghebohkan Panditarama Forest Center, aku tak bisa berbuat apa-apa.

“Tidak usah” kata sayadaw. Dia masih memiliki guru di Indonesia. “Emang dia mau dibawa kemana?” tanya Sayadaw.

“Ke Yangon.”

“Terus kemana?”

“Di Yangon ada keluarganya, mereka yang akan mengurusnya” mungkin maksud dia keluarga Pak Handaka.

“Terus?”

“Nanti dari sana dia akan dibawa ke Indonesia.”

Aku menangkap, sepertinya U Tamana Kyaw ingin tahu atau mungkin memberi saran sebaiknya aku dibawa ke mana. Tapi sebagai biku yang baik layaknya guruku di Indonesia, aku tahu biasanya mereka tak akan memberi pendapat kalau tak diminta. Tapi sekali lagi aku hanyalah seorang terpidana yang tak memiliki hak suara.

Keesokan paginya, dengan menumpang mobil center bersama pegawai yang mau belanja keperluan dapur kami ke Yangon. Sepanjang jalan mereka menatap aku senyum-senyum penuh arti. Aku sendiri harus mempertahankan kesadaranku, entah mengapa, berada di dalam mobil membuatku puyeng dan mual. ah, malangnya nasibku, begitu sudah jadi arahat langsung dicap sebagai orang gila, nasib-nasib, pikirku dalam hati, hehe.

Saat sudah di Panditarama Center di Yangon inilah, saya berpikir harus melawan tekanan pikiran mereka bahwa saya gila. Caranya? Saya harusbisa melakukan semuanya sendiri, mencari jawaban apakah trek meditasi saya benar. Dan saya juga masih normal, tak usah dikawal seperti orang yang tak ingat jalan pulang.

Pertama-tama yang aku lakukan adalah menelepon Pak Handaka mengabarkan keadaanku, aku yang dianggap gila dan aku merasa tidak gila, dan niatku mencari solusi sendiri. Sepertinya Pak Handaka awalnya juga ragu, maklumlah kan banyak orang gila karena belajar meditasi tapi merasa tidak gila. Tapi untunglah Pak Handaka memberi kesempatan mempercayaiku untuk menunjukkan aku masih waras.

Jadi, yang pertama-tama aku lakukan ke pasar membeli silet cukur untuk didanakan pada guruku U Tamana Kyaw sebagai tanda terima kasih sudah membimbing aku, kemudian mencari taksi menuju Panditarama Forest Center.

Sesampainya di Forest Center, Ibu di front office yang menertawai aku waktu menuju Yangon di mobil terkaget-kaget melihat aku. “Aku tak seperti kalian kira, kataku. Apakah aku bisa bertemu Sayadaw untuk memberikan dana?” tanyaku.

“Ada di kutinya,” katanya.

Saat membuka pintu, Sayadaw yang habis cuci muka terkejut melihat kemunculanku, ‘ada apa?’ tanyanya.

‘Aku tidak apa-apa,’ kataku, “apa yang ku alami, semua cuman angin.”

Mendengar kalimatku dia tersenyum senang.

Tapi saat aku bertanya tentang vision yang aku lihat, tiba-tiba beliau menutup diri dari pembicaraan lebih lanjut. Dengan kata lain, misiku buyar. Terlebih saat aku bertanya apakah aku boleh tinggal lagi di situ, beliau mengatakan tidak, luluh lantaklah hati ini. Segera aku memberikan dana berupa pisau cukur padanya dengan hormat lalu pamit.

“Kamu mau pergi kemana?” tanyanya sebelum aku berbalik.

Aku kembali melakukan kesalahan, seharusnya aku meminta pertimbangan beliau, tapi karena terlanjur kecewa aku cuma menjawab, “karena tak diperbolehkan di center ini, saya akan mencari center lain,” dengan bahasa lain, yah udah kalau gak boleh di sini aku juga bisa mencari tempat lain.

Aku terus berlalu, segera naik taksi yang masih menunggu aku untuk menuju Panditara Center di Yangon.

Setiba di Center di Yangon aku cepat berbenah. Keesokan harinya sesuai perjanjian sopir Pak Handaka menjemput aku ke rumah Pak Handaka.

Mula-mula Pak Handaka hati-hati juga, tapi melalui serangkai dialog, sepertinya dia tahu aku masih waras, hehe.

Selang dua hari kemudian diantar sopir Pak Handaka aku ke Shwe Oi Min Center untuk kedua kalinya. aku berpikir, karena Pandita Center telah menutup pintu, mungkin aku bisa mencari jawaban di Shwe Oi Min. Kan Shwe Oi Min dulu juga guru di Mahasi Center.

Aku mengatakan pada U Tejaniya, selama di Panditarama mungkin juga pikiranku sempat ‘terganggu’. U Tejaniya mengatakan, bagus. Meditator kalau terganggu tapi menyadarinya bisa sembuh. Yang susah kalau terganggu tapi tidak merasa, katanya.

Cuman, ketika interviu rame-rame saat aku menanyakan vision yang aku lihat, tampaknya U Tejaniya blank, kamu melamun kali, katanya.

Yup, kayaknya memang bukan di sini jawabannya kataku dalam hati. Aku sangat yakin itu bukan khayalanku. Tamana Kyaw sendiri berulang kali bertanya apa yang aku lihat, sebelum aku melihat apa-apa. Tapi begitu aku sudah melilhat lalu terjadi peristiwa heboh itu, beliau menutup semua pembicaraan dengan saya berhubungan dengan meditasi.

Karena merasa tak akan menemukan jawaban di Shwe Oi Min center, seminggu kemudian aku kembali ke rumah Pak Handaka. Pak Handaka sempat mengusulkan aku ke Pak Au Sayadaw. Tapi aku pikir sedang belajar metode Mahasi dan ada di tengah jalan, sebaiknya aku mencari jawaban dari center metode Mahasi dulu. Untuk itu, aku harus ke Chammy Sayadaw.

Lalu aku berangkat sendiri ke Chammy Center.

Di sana aku minta bertemu guru meditasi yang ada, aku diketemukan dengan U Keti (aku tak tahu spellnya benar tidak).

Aku menceritakan yang aku alami. Mikro organisme yang berlarian di tubuhku, sesuatu yang seperti vacum cleaner menyedot mikroorganisme yang berlarian, dan vision yang aku lihat. U Keti, guru meditasi yang tampak sangat muda itu mengatakan trek saya tak salah. Saat aku bertanya aku mencapai tahap apa? Beliau menjawab, biku tak boleh mengatakan seseorang mencapai kesucian tahap begini dan begini.

Aku bertanya boleh tidak aku melanjutkan meditasi di Chammy center? Boleh, katanya. Tapi, karena paspor aku over stay seminggu, dia mengantar aku ke biku yang biasa mengurus yogi dari Indonesia.

Ternyata aku tak berjodoh dengan Chammy center. Biku itu mengatakan tak bisa membantu. Kalau mau tinggal di Chammy center, saya harus mengajukan permohonan sebelum masuk Myanmar.

Meskipun U Keti sangat ingin membantu, tapi beliau tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa mengantarkan aku ke pintu gerbang. “Tidak apa-apa, saya memang tak berjodoh belajar di sini, saya harus segera kembali ke Indonesia” kataku.

Saat di Imigrasi, karena overstay aku didenda tanpa ampun sebesar..aku lupa mungkin sekitar 1,5 juta.

To be Continue….

Batavia, 1/5 2009  4:42am