Biksuni Indonesia Pertama

Biksuni Jinakumari (biksuni Indonesia yang Pertama) berdiri di sebelah kiri gurunya Bhante Jinarakkhita pada acara Purnapugar Wihara Dharmakirti Palembang 1973
Biksuni Jinakumari (biksuni Indonesia yang Pertama) berdiri di sebelah kiri gurunya Bhante Jinarakkhita pada acara Purnapugar Wihara Dharmakirti Palembang 1973

Sumber: Mamit 11/2013

Biksuni Jinakumari

Biksuni Indonesia Pertama

 

Adik-adik, setelah kembali ke Indonesia Sesepuh Ashin Jinarakkhita giat melakukan penyebaran Dharma keliling Indonesia. Saat berkeliling inilah, beliau bertemu orang-orang yang kemudian menjadi cikal-bakal murid-muridnya dalam membangkitkan kembali agama Buddha di Indonesia.

Salah satunya seorang ahli kecantikan atau pemilik salon kecantikan di Medan yang mulai menyadari ketidakkekalan, yang kemudian hari dikenal sebagai Biksuni Jinakumari.

Ahli kencantikan ini ditabhiskan Bhante Ashin Jinarakkhita menjadi Sramerika Jinakumari di wihara Vimaladharma Bandung pada tahun 1963. Sebagai sramanerika, sama seperti murid-murid Bhante Jinarakkhita lainnya, Sramerika Jinakumari mewarisi dua sisilah dari beliau, yakni sisilah Therawada dari Mahasi Sayadaw (Myanmar) dan sisilah Mahayana dari Kong Hoa Sie (Tiongkok).

Semakin yakin dengan pilihan hidupnya, dua tahun kemudian, yakni pada tahun 1965, Sramerika Jinakumari menerima penabisan penuh sebagai biksuni di Kek Lok Sie Temple, Penang, Malaysia.

Kalau gurunya, Ashin Jinarakkhita dikenal sebagai putra Indonesia pertama yang menjadi biksu/bhante pasca runtuhnya kerajaan Buddhis di Indonesia, maka  biksuni Jinakumari menjadi putri Indonesia pertama yang menerima penabhisan penuh sebagai biksuni.

Setelah itu beliau aktif membina umat Buddha di Indonesia, dan menjadi salah satu pembantu utama sesepuh Ashin Jinarakkhita. Sesuai dengan keahlian beliau dalam administrasi, beliau dipercaya sesepuh untuk membenahi administrsi wihara. Beliau juga menjadi Nayika Sangha Wanita, pendiri Wihara Avalokitesvara Pondok Cabe (1985)

Beberapa murid beliau di Indonesia adalah Biksuni Dharmakumari, Biksuni Dharmagantha, Biksuni Dharmagiri, dan Biksuni Dharmarukkha.

Menurut Bhante Dharmavimala, saat ini semua murid-muridnya di Indonesia telah meninggal. Namun, beliau masih memiliki beberapa murid di Tiongkok, yang hingga kini telah bercucu-murid.