Biksu Hsu Yun, Hanyut karena Tak Mampu Bayar Ongkos Perahu

YunHsu

Sumber :Mamit 11/2013. Langganan: 08989248677 Redaksi: 085213613637

Para Sesepuh

Biksu Hsu Yun

Adik-adik, Biksu Hsu Yun dilahirkan 26 Agustus 1840 di Fukien, Tiongkok, dan meninggal 13 Oktober 1959, yakni pada usia 119 tahun, wuih usia yang sangat panjang yah, Adik-adik.

Biksu Hsu Yun adalah guru Zen paling berpengaruh dari abad ke 19 dan 20. Dan bisa dibilang yang paling penting dalam sejarah Tiongkok modern.

Ketika komunis mulai berkuasa di Tiongkok, beliau dan murid-muridnya  dianiaya dan disiksa.

Pada tahun 1953, bersama dengan Dharma Guru Yuan Ying dan lain-lain, Biksu Hsu Yun membentuk Asosiasi Buddhis Tiongkok di Kuang Chi. Dia dinominasikan sebagai ketua, namun ia menolak karena usia tua dan sakit, dimana saat itu usianya telah menginjak 115 tahun .

Asosiasi inilah yang kemudian memperjuangkan tegaknya agama Buddha di Tiongkok hingga kini.

 Hal-hal yang diperjuangkan asosiasi itu kepada pemerintah:

1) Dalam semua tempat, kerusakan lebih lanjut dari wihara-wihara, penodaan gambar, dan pembakaran sutra harus segera dihentikan

 2) Intimidasi terhadap biksu dan biksuni untuk memaksa mereka lepas jubah tak akan ditoleransi.

 3) Semua aset wihara yang dijarah harus dikembalikan kepada wihara.

 Perjuangannya berhasil, petisi itu akhirnya disetujui pemerintah komunis.

Biksu Hsu Yun sendiri banyak memimpin renovasi wihara-wihara bersejarah yang tak terawat saat komunis mulai berkuasa, salah satunya wihara peninggalan Patriat ke 6 (Huineng) yang bahkan telah menjadi kandang kuda!

Ia juga menegakkan kembali winaya-winaya kebiksuan yang tidak dijalankan, yang bahkan coba dirubah beberapa biksu yang masih dikuasai pandangan salah.

Riwayat Hidup

Ibunda Biksu Hsu Yun  meninggal saat beliau lahir. Biksu Hsu Yun kecil mulai mengenal Buddhisme saat neneknya meninggal, dimana pertama kali ia mendengar pembacaan sutra.

Saat empat belas tahun, ia ingin menjadi biksu. Ayahnya tak menyetujui pandangan Buddhisme dan mengirimnya belajar Tao. Namun, Biksu Hsu Yun tak puas dengan ajaran Tao.

Suatu hari, ia kabur untuk menjadi biksu. Namun, pamannya mengirim orang mencegatnya. Tiba di rumah, keluarganya takut ia kabur lagi, sehingga dikirim mengikuti sepupu pertamanya, Fu Kuo, ke Quanzhou. Ayahnya  menikahkan beliau dengan dua wanita sekaligus untuk meneruskan marga ayah dan pamannya sesuai amanah almahumah neneknya.

Di usia kesembilan belas, disertai dengan Fu Kuo sepupunya yang juga tertarik dengan Buddhis, mereka memulai perjalanan ke Gu Shan (Drum Mountain) di Fuzhou. Di Gu  Shan, bersama-sama mereka dicukur dan menerima pentahbisan sebagai biksu.

Ketika ayahnya mengirim orang untuk menemukannya, Biksu Hsu Yun bersembunyi di sebuah gua di belakang biara, di mana ia tinggal dalam kesendirian keras selama tiga tahun. Di usia dua puluh lima, Biksu Hsu Yun mengetahui, ayahnya telah meninggal, ibu tiri dan dua istrinya mengikuti jejaknya menjadi biksuni.

Untuk membalas kebaikan budi orang tuanya, ia bersumpah untuk berziarah ke Nan Hai. Dari Fa Hua Temple menuju puncak  Gunung Wutai, dengan cara satu kali sujud penuh setiap tiga langkah.

Dia berdoa untuk kelahiran kembali orang tuanya di Tanah Suci. Ia hampir meninggal dalam menjalankan tekatnya ini. Sepanjang jalan, Biksu Hsu Yun dikatakan telah bertemu seorang pengemis bernama Wen Chi, yang dua kali menyelamatkan nyawanya. Setelah berbicara dengan para biksu di Gunung Lima-puncak, Biksu Hsu Yun percaya pengemis yang menemani dan menyelamatinya itu adalah inkarnasi Manjushri.

Biksu Hsu Yun kemudian melakukan perjalanan ke barat dan selatan dengan berjalan kaki melalui Tibet. Ia mengunjungi Potala, dan Biara Tashilhunpo, India,Srilanka, dan Burma. Selama masa mengembaraannya dengan berjalan kaki, Biksu Hsu Yun merasa pikiran dan kesehatannya semakin kuat.

Jhana

Suatu kali dalam gua pertapaannya di gunung, sambil menunggu makanan matang ia bermeditasi. Saat sedang meditasi ia dibangunkan dengan lonceng oleh beberapa biksu. Biksu itu memberitahukan, bahwa mereka khawatir karena Biksu Hsu Yun tidak kelihatan selama 2 minggu, dimana debu tebal dan jejak harimau ada di guanya.

Ternyata saat meditasi menunggu nasi masak ia memasuki jhana selama 2 minggu! Sejak itu banyak orang mengunjunginya, yang membuatnya kemudian menyingkirkan diri untuk melanjutkan meditasi.

Tak Punya Uang untuk Naik Perahu

Ketika Biksu Hsu Yun berumur lima puluh enam tahun, kepala wihara Yue Lang di Yangzhou mengadakan sesi dua belas minggu meditasi dhyana. Untuk mempersiapkan segala sesuatu Biksu Hsu Yun diminta berangkat dulu. Setelah mencapai Gang Di, ia harus menyeberang dengan perahu, karena tak punya uang dia ditolak tukang perahu. Saat menyelusuri tepian sungai, ia terjatuh ke dalam air sungai yang deras.

Sehari semalam ia dihanyutkan air dalam kondisi tak berdaya. Hingga tubuhnya tertangkap jaring nelayan dalam kondisi tak sadar dan hampir meninggal.

Nelayan itu membawanya ke sebuah kuil, di mana ia dirawat karena luka-lukanya. Setelah siuman, meskipun dalam kondisi sakit ia kembali ke Yangzhou.

Ketika diminta Biksu Gao Ming memimpin meditasi minggu mendatang, ia menolak dengan sopan, tanpa mengungkapkan peristiwa yang ia alami dan kondisinya yang belum pulih.

Namun, biara memiliki aturan menolak tugas dari kepala wihara merupakan penghinaan kepada seluruh komunitas wihara. Akhirnya, Biksu Hsu Yun dihukum dengan pukulan tongkat kayu. Dia menerima hukuman ini, tanpa menceritakan kondisinya yang sakit. Akibat hukuman itu penyakitnya kian parah.

Selama beberapa hari berikutnya, Biksu Hsu Yun duduk dalam meditasi terus menerus.

Dalam otobiografinya, ia menulis:

“Kemurnian kesucian pikiran saya, saya lupa semua tentang tubuh saya Dua puluh hari kemudian penyakit saya lenyap sepenuhnya.”

Hari Tua

Biksu Hsu Yun menghabiskan usia tua dengan bekerja sebagai bodhisatwa, mengajar sila, menjelaskan sutra, dan merenovasi wihara-wihara tua bersejarah. Dia bekerja di seluruh Asia. Pengikut-Nya tersebar di seluruh Burma, Thailand, Malaysia, Indonesia, Vietnam, Tibet dan Tiongkok.

Pada hari kedua belas bulan lunar kesembilan, ia tahu bahwa waktunya telah tiba. Biksu Hsu Yun memerintahkan para penerusnya untuk sungguh-sungguh dan penuh semangat menerapkan diri untuk budidaya sila, samadhi, dan kebijaksanaan, dalam rangka untuk melawan keserakahan, kemarahan, dan kebodohan. Meminta mereka melupakan diri sendiri demi Dharma dan untuk saling menghargai dan menghormati satu sama lain. 13 Oktober 1959 beliau menghembuskan nafas terakhir dalam usia 119 tahun.

Dari kremasi beliau terdapat lebih dari seratus sarira/relik besar panca warna dan tak terhitung yang berukuran kecil.