Pahlawan Dharma

Pahlawan Dharma

Banyak biksu/biksuni murid dari Ashin Jinarakkhita berjasa besar, tapi nyaris tak terdengar.

Misalnya saya pernah dengar cerita B.Dharmavimala Thera, di Palembang terdapat bikuni hebat. Kalau saya tak salah, beliau adalah almahumah YA Bhiksuni Jinaloka, kebenaran nama ini masih akan saya konfirmasi.

Konon, sebelum meninggal YA Bhiksuni Jinaloka telepon dari Palembang ke gurunya di Lembah Cipendawa,Pacet.

Namun sayang, guru terkasihnya Sayadaw dari Lembah Cipendawa Ashin Jinarakkhita tak di tempat, sehingga YA Bhiksuni Jinaloka hanya meninggalkan pesan ‘mau pamit’ untuk gurunya.

Usai telepon ke Lembah Cipendawa, beliau bermeditasi dan meninggal dalam posisi meditasi. Setelah dikremasi terdapat relik berupa telinga beliau.

Satu alasan mengapa saat ini banyak terdapat devoter luar biasa dari Jambi dan Palembang, tentu tak lepas dari kharisma beliau yang bertugas di dua wilayah ini saat itu.

Kalau saya tak salah, waktu kecil sempat mencicipi kue yang ditawarkan beliau saat diajak mama berkunjung ke kuti beliau di Vihara Sakyakirti Jambi.

Sayangnya, kini saat search: YA Bhiksuni Jinaloka di google, saya tak mendapat info apa-apa.

Tak kenal maka tak sayang, saya juga akan melist biksu/biksuni luar biasa murid dari Ashin Jinarakkhita, adakah yang bisa membantu?

 

Y.A Mahawiku Dharma-aji Uggadhammo

ugadhammo

 

YA. Mahawiku Dharma-aji lahir 10 Februari 1918, di kota Kawedanan Ambarawa dengan nama Darmadjie (Darmakoesoma Semi Adjie) dari pasangan Pak Slamet dan Bu Moerni. Oleh karena miskin, maka anak itu tak dimasukkan ke sekolah, melainkan diajarkan membaca oleh ayahnya: karena cuma diajarkan membaca, diumur 7 tahun beliau sudah pandai membaca, tapi tak dapat menulis.

Umur 9 tahun orang tuanya bercerai karena masalah ekonomi. Darmadjie kecil terpaksa menumpang dari rumah teman satu ke teman yang lain. Untuk mencari nafkah, beliau bekerja sebagai buruh pembuat selonsong bungkus rokok kretek.

Namun Darmadjie kecil tak putus asa untuk meningkatkan kemampuan dirinya, perlahan ia belajar menulis dari teman-teman yang bersekolah di sekolah Belanda dan Tionghoa, sehingga di usia 11 tahun, ia bisa mengajar teman-temannya yang buta huruf.

Tahun 1932 beliau bekerja di toko P&D milik Tan Kiem Soem di ambarawa, untuk melayani Belanda Militer yang minum-minum di situ. Disinilah kesempatan mempraktekan bahasa Belanda yang ia pelajari dari teman-temannya tak ia sia-siakan. Karena bertubuh kurus tinggi, ia dipanggil orang-orang Belanda dengan sebutan Piccalo (seruling).

Tahun 1934 saat berumur 16 tahun ia dipanggil ibunya yang kini berdiam di Jalan Pandanaran, Semarang, untuk membantu usaha kecil ibunya yang berjualan manisan, kripik, gula-gula, sayur asin dan sebagainya.

Tahun 1942 Beliau menikah dengan seorang gadis dari Semarang bernama Soekini. Setahun kemudian dikaruniai seorang anak yang dinamai Padmawati.

Tahun 1946 Saat Belanda ingin menduduki Indonesia kembali, beliau ikut berjuang menghalangi niat Belanda. Di saat ini sebuah pecahan mortir yang ditembakkan dari Gombel menembus pahanya yang menyebabkan seketika itu beliau tak bisa berjalan.

Tahun 1949, saat berusia 31 tahun Puteri ketiganya lahir dan diberi nama Riza Arsianti, saat itu ia bekerja sebagai penjaga gudang tembakau di jalan Purwodinatan, Semarang. Karena harga barang-barang terus melambung, gajinya selalu habis di pertengahan bulan. Lalu Darmadjie mencari akal dengan menggelar tikar di alun-alun Semarang sebagai ahli nujum Kong Beng. Karena ramalannya jitu, makin hari pengunjungnya semakin ramai. Dari pekerjaan inilah, ia bisa menghidupi rumah tangganya. Pekerjaan ini dijalaninya kurang lebih 17 tahun.

Menginjak usia 40 tahun ia sering berjalan-jalan ke Wihara Buddha Gaya, Watugong, Unggaran untuk menikmati nasi pecel dan sate ayem (bukan Ayam). Di sana ia sering di sapa Yang Mulia Ashin Jinarakkhita “jalan-jalan?”, “Ya, Bhante,” jawab Dharmadjie. Dari saat itulah, Dharmadjie mengenal Agama Buddha lebih mendalam. Sebelumnya ia hanya mengenal lewat tulisan Bapak Kwee Tek Hoay. Sejak itu, tiap ada perayaan Waisak di Borobudur, Dharmadjie dan keluarga selalu hadir.

Tahun 1963 isteri tercintanya, Soekini pergi meninggalkannya dan lima anaknya di rumah sakit Telogorejo Semarang karena serangan jantung. Sedihnya tiada terkira ia rasakan hingga 3 tahun. Sebagai penghibur lara, beliau sering mengunjungi Wihara. Pada waktu itu sudah ada tempat puja bhakti di rumah Maha Upasaka Sariputra Sardono.

Tahun 1964, di gedung PHI Semarang diadakan kongres Perbuddhi menjelang Waisak 2508. Darmadjie diwisudi menjadi upasaka oleh Yang Arya Biku Jinapiya. Ia kemudian bertugas di Wihara Tanah Putih sebagai penceramah Agama Buddha.

Tahun 1965, saat berusia 50 tahun, beliau mengikuti latihan vipassana selama 3 hari di Wihara Karuna Cattra, Rembang. Beliau diwisudi oleh Yang Arya Biku Girirakhito sebagai Upasaka Pandita Dharmasinha, bertugas di Cetiya Wijayakusuma (rumah almahum Bapak Sadono, Semarang). Saat meninggalkan Wihara Tanah Putih ke Wihara Wijayakusuma beliau diikuti pengikutnya yang berjumlah 20 orang, yang kemudian jumlah ini terus meningkat.

Waisak 2507 Buddha Era (1970), di Maha Mandala candi Borobudur diadakan upasampada kebikuan oleh Yang Arya Ashin Jinarakkhita (Maha Sangha Indonesia) dengan upajjaya: Ven. Chaukun Sasana Sobhana / Nanasamvara sekarang Sangha Raja Thailand, Achariya: Ven Pra Guru Palat Nukik / Chaukun Dhamma Boru (Dhammaduta untuk Indoensia di Jakarta, Kamavaca: Ven. Chaukun Dhamma Sobhana, Upa. Saksi: Ven. Bhikkhu Kantipalo dari Inggris, Upa Saksi: Ven Viriya Cariya dari Australia dan terakhir Upa saksi Ven. Subhato dari Indonesia.

 

Putra Indonesia yang menerima penabhisan kebikuan adalah: Biku Agga Jinamitto, Biku Jinadhammo dan Biku Uggadhammo, Biku Sirivijayo, Biku Saccamano. Namun dalam perkembangannya Biku Sirivijayo dan Biku Saccamano kemudian lepas jubah.

Tahun 1972 Vihara Mahabodhi di Jalan Seroja Timur 11 diresmikan. Semua umat dari cetiya Wijayakusuma berpindah puja baktinya ke wihara baru ini, yang kian hari jumlahnya kian bertambah.

Tahun 1980, ketiga biku yang ditabhis pada Waisak 2507 menjadi Thera dan dirayakan di Wihara Dharma Ratna, Sukabumi. Yang Arya Biku Uggadhammo Thera kemudian menetap di Wihara Buddhasena, Bogor. Di sini beliau bertugas sampai 30 September 1984, selanjutnya kembali ke Semarang.

Tahun 1987, beliau wafat di Semarang. Setelah sekian lama menderita penyakit jantung dan kencing manis. 25 Mei 1987 dikremasikan di krematorium Ambarawa.

Pada Saat wafatnya beliau menjabat sebagai Nayaka Sangha Tantrayana Indonesia dari Sangha Agung Indonesia. Beliau juga menjabat sebagai Anu Nayaka Sangha Agung Indonesia.

Buku yang beliau wariskan adalah Doktrin Sanghyang Adi Buddha.

Murid-murid beliau yang kita kenal sekarang antara lain Yang Arya Biku Aryamaitri Mahasthavira (Kepala Wihara Ekayana, Jakarta), Yang Arya Biku Dharma Murti Mahasthavira (Kepala Wihara Arya Mularama, Gadog).

Dan seandainya dulu beliau menerima permohonan pemuda Husodo(sekarang Bhante Sri Pannavaro Mahathera) untuk ditabhis mungkin Yang Arya Biku Aryamaitri dan Bhante Sri Pannavaro Mahathera sekarang adalah saudara sepeguruan (Suheng dan Suti), namun sejarah memang memiliki kehendaknya sendiri.

 

Berikut adalah cuplikan tulisan Mas Tek(Buku Harian Seorang Dayaka)”Svara Dharma-7 Juli 1987 Tahun XII)”:

Bhante D.Uggadhammo kemudian berdomisili di Vihara Mahabodhi, Jl. Seroja Timur 11  Semarang sampai akhir hayatnya, walaupun selang diantara waktu itu Bhante juga pernah tinggal lama di Vihara Dhanagun, Bogor.

Sebagai dharmaduta Bhante giat bergerak ke mana-mana sampai ke daerah-daerah transmigrasi. Khotbah-khotbah Bhante yang sederhana dengan tema kehidupan sehari-hari mudah dipahami dan menggunakan bahasa pengantar Jawa dan Indonesia. Bhante juga sesekali muncul sebagai penceramah di RRI dan TVRI  di berbagai daerah….

Sebagai seorang yang telah lama belajar banyak agama baik Islam, Hindu Dharma, Theosofi, Taoisme, Konfusianisme, Kejawen, Sapto Dharma, Manunggal, Sumarah, maka masuknya Bhante sebagai biku sudah merupakan pilihan Bhante yang sejati ning ilmu. Penguasaan bahasa Jawa, Indonesia dan Inggris yang baik, sedikit Belanda, Arab, Mandarin dan Sunda, maka sarana untuk maju sebagai dharmaduta yang mumpuni cukuplah sudah.

Kalau Bhante ada di Semarang maka waktu senggangnya digunakan untuk mengumpulkan anak-anak di sekitar vihara. Kepada yang kurang mampu dan tidak bersekolah dengan papan tulis Bhante memberikan berbagai pelajaran membaca menulis baik latin maupun aksara Jawa. Bhante menekankan agar anak-anak menjadi manusia susila yang baik dan sopan di masyarakat sesuai dengan apa yang diajarkan Buddha. Dan sebagai seorang nasionalis yang pada waktu perang kemerdekaan dulu ikut bergerilya dan pernah terkena pecahan mortir di Gombel (Semarang Selatan), maka jiwa patriot Bhante ditekankan juga pada anak-anak, pemuda-pemudi dan umat Buddha semua untuk mencintai tanah air,negara bangsa dan budaya Indonesia. Motto Bhante adalah “Agama Buddha Indonesia yang universal dan membumi.”

Biku yang juga seniman ini banyak mengubah lagu. Kalau dihitung ada sekitar 100 lagu Buddhis gubahannya dan banyak diantaranya sebagai Vihara Gita seperti: Siswa Sang Buddha, Marilah Kita Berdana, Mendut Borobudur, Gate Gate Param Gate, Semoga Hatiku Tenang dan sebagainya. Bahkan ketika suatu ketika lagu gubahannya :Ajaran Semua Buddha dinyannyikan anak-anak di depan Bhante Narada, Biku dari Sri langka ini mengangguk-angguk mengacungkan jempolnya. Bhante juga yang punya ide menggunakan alat-alat musik Mahayana seperti Muk Ik(kayu kepala ikan), Im Keng (tingting), Hap (bekles), Tiong (Genta) untuk mengiringi pembacaan Paritta Pali

Bhante juga menyusun banyak puisi dan menerjemahkan banyak buku Buddhis. Tulisan Bhante juga banyak dimuat di majalah Sinar Mahabodhi yang di tahun 1970 merupakan satu-satunya majalah Buddhis yang penerbitannya lancar dan bertahan sekitar 70 edisi.

Sesekali di tahun 1970, jika saya datang ke Semarang di sore hari, sering mengatar Bhante naek Bogor Ekpres, dan di ruang tunggu Bhante menjadi pusat perhatian, karena pada saat itu biku merupakaan hal baru di Indonesia. Beberapa orang bertanya pada saya: Apakah dia bisa berbahasa Indonesia? Karena dikira orang India. Seorang ibu bertanya dimanakah dia tinggal, bersediakah diminta tolong meramalkan suaminya? Seorang pemuda malah ingin belajar silat, dan dengan berbisik-bisik seorang bapak nekad bertanya pada saya, tolong dik saya ditanyakan pada Mbah berapa nomor buntutnya yang akan keluar?

Kalau Bhante pulang dari berpergian jauh dan kebetulan saya ke sana, makan Bhante banyak bercerita tentang perjalannya dan menunjukkan foto2 kepergiannya dengan Bhante Jinapiya membuka beberapa cetya dan vihara di Jawa Barat, suatu ketika bersama Bhante Jinamitto ke daerah transmigrasi di Lampung, dimana anak-anak membuntuti terus dan sambil menyanyikan lagu gundul-gundul Pacul dan Bhante pun tertawa mengenang itu semua.

Bagi masyarakat Jawa Buddhis, Bhante Uggadhamm bersama
Bhante Agga Jinamitto dan Bhante Khemasarano merupakan tiga serangkai Thera yang dalam usia 80 tahun lebih masih mengumandangkan Dharma ke desa desa dan daerah transmigran  untuk melestarikan agama Buddha sebagai tinggalane Wong Jowo Kuno serta memertahankan agar Dharma tak tercerabut dari buminya budaya jawa atau budaya Majapahit.

Dua bulan yang lalu, ketika saya ikut kebaktian Mahayana(Imlek bulan kedua), kembali saya sempat berbicara santai dengan Bhante. Bhante tampak kurus dan duduk bersandar bantalan. Bhante bercerita tentang kepergiannya ke Muntilan dalam rangka acara Ulambana bersama Bhante Pannavaro dan menginap di Mendut. “Umat Muntilan dan Pannavaro itu baik sekali. Saya benar-benar terkesan! Ketika saya pulang, Pannavaro memberi saya 2 buah wayang, satu Seno (Bima) dan satu Samiajie (Yudistira). “Saya katakan pada dia ini kunjungan saya yang terakhir” dan ia berkata”Ya Bhante dan ini adalah kenang-kenangan yang terakhir dari saya”.

“Saya mungkin mau pergi Tek” dan Bhante memandang saya seperti biasanya dan kemudian tertawa keras. Walaupun dengan keadaan yang memburuk Bhante tetap ceria. Kemudian menambahkan ”saya bermimpi saya ini sudah mati dan dibelikan peti mati seharga 2 juta. Orang Jawa kalau diimpikan mati itu adalah panjang umur.”

“Apakah angka dua itu punya arti, Bhante? Mungkin dua tahun atau duapuluh tahun”. “Ah, tidak sejauh itu. Fisik saya sudah begini, banyak kompilasi jantung, gula, darah tinggi dan macam-macam lagi. Manusia harus menerima kenyataan itu kata Sang Buddha dan  saya kira dua bulan lagi” kembali Bhante memandang saya dan tertawa keras seperti biasanya. Dan apa yang Bhante katakana ternyata betul. Menjelang Tai Pe Cham (Sembayang cinta kasih) pada bulan empat Imlek, Bhante telah pergi… peramal yang bergelar “Khong Beng” dari kota Semarang ini cukup terkenal sebelum menjadi biku, ternyata jitu dalam meramalkan diri sendiri.

Bhante D.Uggadhammo dan Bhante Pannavaro sebenarnya waktu berpisah di Muntilan telah mengerti apa yang bakal terjadi, karena seorang biku pasti intuisinya akan terus berkembang dan weruh sak durunge winarah atau mengetahui sebelum terjadi tapi tak perlu menolak, karena itu semua adalah karma. Apalagi Bhante senang pergi bertapa di salah satu tempat pertapaannya adalah Gunung Gede yang menurut Bhante bertapa di sana bersama ayahanda romo Irwan Hidayat, seorang tokoh besar Mahayana.

Bhante memang salah satu murid kesayangan pertapa dari Gunung Gede, yaitu Bhante Ashin Jinarakkhita. Kalau kita berbicara dengan Bhante, kita bisa memperhatikan pandangan mata Bhante yang tajam dan lembut. Ini merupakan ciri-ciri dari biku yang memiliki power.

Bhante memiliki banyak murid, baik biku maupun Pandita dan mereka semua bakti, seperti YA Bhante Dharma Murti yang telah beraditthana untuk datang di Semarang waktu Bhante meninggal dengan menempuh jarak kurang lebih 400 km Pacet-Semarang dengan berjalan kaki selama beberapa hari. Suatu bakti yang luar biasa dari seorang murid pada gurunya.

Hari selasa 19 Mei 1987 Bhante telah wafat.

Berhari-hari wihara Mahabodhi selalu dipenuhi umat. Ribuan pelayat datang memberikan penghormatan yang terakhir. Berbagai upacara baik Mahayana, Theravada maupun Wajrayana  diadakan dengan megah dan suara liam keng dan paritta terus terdengar. Bahkan umat Sai Centre (Shri Sathya Sai Baba) mengadakan upacara untuk Bhante. Karangan bunga dari umat Hindu, Islam dan Khatolik sebagai rasa duka cita tampak juga terpampang di situ.

 

Senin 25 Mei 1987 dengan diawali oleh sejumlah sepeda motor Harley Davidson dari HDC sebagai pembuka jalan dan diiringi 100 buah mobil berangkatlah sebuah rombongan lelayu yang menyertai perabuan Bhante ke krematorium Ambarawa.

 

Bhante D Uggadhammo telah pergi, banyak kenangan yang telah ditinggalkannya….

 

Kata Pustaka:

Mengenang Y.A Mahawiku Dharma-aji Uggadhammo, Wihara Warhana Kirti, Jl.Ubi No.8 Jakarta (tahun 1987).

1. YA Bhiksuni Dharma Bodhi Mahatheri(Teng Sim She)

2. …..

Sumber: harpin.wordpress.com

13 thoughts on “Pahlawan Dharma”

  1. Harpin, nama Bhikshuninya adalah Bhante Jinaloka bukan yah?

    Oh Yah? Makasih yah infonya, aku blom sempat konfirm ke orang2 yang tahu,karena gue juga ga tahu siapa yang tahu, he2. Mungkin bisa membantu saya lebih jauh? Sedikit cerita tentang beliau yang Anda tahu, kalo memungkinkan juga foto2 beliau?

    Makasih….

  2. yang saya tau dulu beliau nayaka di rayon II dan lama di vihara dharmakirti.

    sayang sekali saya ga punya foto2nya. dulu waktu beliau wafat,sempat melihat jenazahnya,seperti sedang tidur…dan waktu mengantar ke krematorium, sempat muncul gerimis kecil sebentar,padahal matahari agak terang…

    mgk bro bisa hubungi vihara dharmakirti?

    Ok d, thx ya, but kontak ke dharmakirti lewat siapa ya?

  3. Cerita tentang YA.Bhiksuni Jinaloka adalah benar.

    Saya adalah keponakannya ( papa saya adalah adik kandung Bhante Jinaloka )
    Saya lah orang yang menghubungi telepon ke tempat tinggal sukong.

    Sesaat sebelum meninggal beliau dijemput oleh para Bodhisatva, ini cerita pembantu yang setiap subuh mengantarkan makanan dan bunga kekamar meditasi Bhante. Saat itu Bhante menolak makanan dan bunga dengan mengatakan kepada pembantu bahwa disini (tempatnya meditasi) telah berkumpul banyak orang dan banyak sekali bunga-bunga. Pembantu mengatakan “Bhante disini tidak ada siapa2 … “

    1. Menarik sekali, kemarin di Palembang saya ke rumah Bapak Safiit Hendrawan untuk wawancara soal Biksuni Jinaloka, tapi blum saya disusun hasil wawancara tersebut. Namun saya masih memerlukan data tambahan ‘saat-saat terakhir beliau’ dari orang2 yang ada di sekitarnya, boleh minta nomor telepon Anda untuk saya wawancara seputar beliau? Berarti Anda adalah sepupuh atau saudara kandung Bapak Safiit?

      Saya ada di Jakarta, hp 0852 136 136 37, email: harpin70@yahoo.com

  4. Bhiksuni Jinaloka sesaat sebelum wafat dijemput oleh para Bodhisatva.

    Seperti biasanya setiap subuh pembantu tempat nya Bhiksuni meditasi mengantarkan makanan dan bunga2, tetapi ketika itu Bhiksuni menolak makanan dan bunga2 pemberian pembantunya dan mengatakan bahwa disini (Tempatnya meditasi) banyak sekali orang kumpul dan bunga2 yang harum. Sang pembantu mengatakan : .” … bhante disini tidak ada siapa2 ….”

  5. saya sering berkunjung ke rumah koko saya pagi hari sekitar jam 9 , biasanya jam 9 pagi Bhante Jinaloka tidak lagi meditasi, satu hari sebelum wafat, ketika saya bincang2 dgn Bhante, beliau mengatakan kepengen sekali mau bicara dgn sukong, ” apa sukong sehat2 saja ? saya sudah cukup lama disini , nanti mau ketempat lain, bilangin sukong saya mau bicara … ” demikian Bhante Jinaloka. Saya bilang nanti saya tanya dulu no telp sukong, lantas saya tlp ke Cece Cory ( adik romo TjoeTjoe , alm ), dan Cory mengatakan akan menanyakan dgn Ahi ( romo Darwis). Saya mendaptkan 2 no telp, saya pulang kekantor sekitar jam 11.00 , langsung telp. no. yg pertama adalah tempat penginapan ( hehee… mungkin romo darwis sering menginap disana ) satu lagi berhasil dan diangkat oleh Bhante Arya Dharma , alm. katanya umat gak dibolehkan bicara telp dgn sukong, saya bilang yang mau bicara adalah Bhikuni Jinaloka, setelah menunggu sebentar , Bhante Arya Dharma mengatakan sukong lagi dikamar, alhasil janjian lah kami besok pagi jam 9 Bhikhuni akan bicara langsung dgn Sukong… ehehe … besok pagi2 saya mendapatkan khabar bahwa Bhikuni Jinaloka telah wafat…

  6. Waktu perabuan Bhiksuni , Bhante Arya Dharma ke Palembang, bincang2 dgn saya , dikatakannya bahwa Sukong sudah diberitahu bahwa Bhiksuni mau bicara besok jam 9 pagi dan Sukong sudah oke. Kedatangannya ke Palembang diutus oleh Sukong karena kondisi fisik sukong yang tidak mengizinkannya ke Palembang menghadiri perabuan Bhiksuni Jinaloka.

    dari bincang2 saya dengan beberapa Bhikkhu Sangha yang datang ke Palembang, mereka yakin bahwa antara Bhiksuni Jinaloka degan Sukong sudah bicara lewat canel “Meditasi” . Omitofo…

  7. Terima kasih atas ulasan mengenai biksu Uggadhamo. Banyak info yg sy ketahui ttg beliau dr artikel ini.
    Saya adalah cucu dari anak keduanya. Dahulu sering pada hari sabtu saya dan mama saya menginap di vihara mahabodhi di Semarang dan msh ingat nama penjaganya Pak Kasdi. Saya beberapa kali melihat Sukong berkunjung ke sana dan saya selalu bersembunyi kl melihat Sukong, krn takut dgn jenggotnya yg panjang meskipun beliau sering mengajak sy main.
    Saat biksu Uggadhamo wafat dan diantar ke krematorium ambarawa, sy masih berumur 5 tahun dan msh ingat sy ada di dlm mobil jenazah di samping peti jenazah.
    Banyak orang-orang tua di Semarang yg masih kenal dengan beliau sampai saat ini sebagai orang yg ahli dlm meramal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *