CERITA dari AMERICAN TEXAS

Cerita dari Amerikan Texas

Jangan berpikir ini cerita dari Texas, Amerika nun jauh di sana,
tempat teman saya sdr. Hadi Nadi sekarang berada.

Kami yang aktivis di Ekayana, sungguh mengenal baik tempat ini.
Biasanya kami singkat AW, kalau menyebutkan dengan tidak disingkat,
jadilah namanya American Texas. Haha, jangan tanya saya, kok
kepanjangannya begitu, dari AW jadi American Texas. Dan juga, don’t
ask me, kok bisa muncul nama itu. Saya tak tahulah. Ceritanya pernah
ada yang ajak makan ke AW, American Texas, tapi setelah sampai
ternyata hanya sebuah warteg-warung tegal. Taunya saya cuma begitu-
itu.

Jadi kalau Anda ke Ekayana dan ada yang ajak makan ke AW di belakang
vihara misalnya, pastilah konon yang ia maksud sebuah warteg.

Di hari biasa, kalau jarum sudah menunjuk jam 12 siang plus minus,
kurang atau lebih, kami sudah ada di sini. Makan sambil cerita-
cerita berbaur dengan tukang bajaj, kuli bangunan, de es be. Di sini
kalo kantong lagi kanker, alias lagi pasang surut, alias lagi bokek,
sering juga dapat suplus dari sesama aktivis ato professional yang
bekerja di Ekayana. Tapi harus diingat, sepertinya mereka mentraktir
bukan ingin mendapat karma baik, tapi lebih karena tak tega melihat
wajah teman yang memelas, hehe. Candaaaa..

Tak biasanya, siang itu saya ke sana sendiri, pesen nasi telor dan
segelas es teh manis. Lalu riulah melahap. Waktu menunjukkan jam
13.25, jam dimana warteg tak begitu ramai, ketika seorang laki-laki,
bertopi, bersandal jepit dan celana pendek dengan sorot mata yang
liar dan tajam, masuk ke dalam.

“Ngeri saya mbak, “katanya pada mbak yang melayani yang rupanya
sudah saling kenal.

Saya nguping aja, kalo sorot mata liar itu bisa ngeri tentu ada
something luar biasa.

“Saya hampir satu jam di sana. Ada satu jam saya lihat orang itu
dihajar bak-bik-buk ramai-ramai. Dari jam 12 tadi sampai sekarang,
ada satu jam, yach ada satu jam mbak.” Ia terus bercerita, saya
terus makan, mendengar dia bercerita dengan bahasa gado-gado,
Indonesia plus Jawa. Dan mbaknya terus membungkus nasi yang ia
pesan.

Sambil bercerita laki-laki itu terkadang menatap saya, seperti juga
ingin saya mendengar cerita yang membuat dia shock, ia ingin membagi
cerita yang luar biasa yang ia saksikan ini pada siapa saja,”Ada
apa, Mas? Maling yach?” Tanya saya kemudian.”

“Ia, Mas, ada dua mas, yang satu kabur, yang ketangkep dihajar habis-
habisan. Ih serem mas. Ini mas, batu sebesar ini.” katanya
membulatkan kedua lengan tangannya membentuk lingkaran sebesar roda
mobil,” diangkat dan dilemparkan ke kepala orang itu. bocor mas,
otaknya bercecerann.. ih merinding saya mas.” Katanya.

Ada gambaran siluet bermain di kepala saya, gambaran kepala manusia
yang dijatuhi batu besar, batok kepala yang bocor, dan otak yang
muncrat keluar. Basah.merah.mungkin keputih-putihan.

“Emang dia maling dimana?”

“Di 91 mas.”

“91? Dimana yach rumah nomor 91? Di belakang?”

“Bukan rumah mas, tapi copet di Metromini katanya. Metromini 91”

Saya mulai menangkap arah ceritanya, ada pencopet yang ketangkep di
Metromini, konon karena yang ia copet intel yang sedang menyamar,
hadiahnya dia ketangkep dan dihajar massa.

Metromini 91 saya tahu. Dulu saya suka pakai metromini 91 juga,
dari Batu Sari ke Grogol, dan memang tidak jarang mendengar anak-
anak Binus (Universitas Bina Nusantara) yang kampusnya di sekitar
itu, yang mayoriti Chinese berwajah innocent ‘digarap’ habis di
metromini 91, bahkan terkadang pemalaknya serombongan anak
berseragam SMU.

“Saat orang itu lagi dihajar di pinggir jalan, orang-orang yang
lewat juga berhenti dan ikut menghajar Mas. Ada yang lalu
berteriak ‘bakar-bakar-bakar’, Hampir dibakar, Mas. Tapi nggak jadi.
Cara hajarnya juga serem mas. Kayak di film-film. Kakinya diangkat
lurus, lalu dihantam, dibengkokkan sampai bunyi ‘krek’ bunyi tulang
patah.”

“.”

“Pencopetnya udah ampun-ampun tapi tidak ada yang peduli.”

“. sekarang orangnya dimana?”

“Udah dibawa ke kantor polisi, Mas. Tapi dihajar seperti itu kurang
lebih satu jam, saya yakin orangnya udah mati.”

..

Saya menggelengkan kepala. Laki2 itu bercerita lagi dengan serunya.
Ada suara bajaj lewat. Lalu terdengar dia bercerita lagi.

.I only can say nothing. Hari ini satu kehidupan kembali berakhir
dengan sia-sia. Tidak beda dengan tikus-tikus got yang bangkainya
seringkali dilemparkan di tengah jalan. Ususnya terburai. Dagingnya
merah hancur bercampur kulitnya yang berbulu, moncong yang lancip
dan gigi tajamnya tergelepar dilindas kendaraan yang lewat. Satu
bentuk penghukuman berbentuk dendam yang sering saya temui saat
meyusuri jalan-jalan beraspal di Jakarta.

.. I only can say nothing. Terus melahap nasi saya. Terus
mendengarkan suara brisik bajaj yang lewat. Mendengarkan laki-laki
itu, sorot mata yang menunjukkan kehidupan yang keras, berlalu
dengan kengerian dalam hatinya. Mencari siapa lagi yang mau
mendengar cerita serem yang baru dia lihat. Dia dengan sorot mata
yang terkesan liar aja bisa serem, apalagi kita yang melihat
sendiri.

Saya melihat mbak penjaga warteg yang menatap kosong ke arah saya,
terlalu banyak cerita yang sudah ia dengar dari pembeli berlalu-
lalang. Cerita ini akan berlalu diganti pembeli baru dengan cerita
baru, tidak jamin bisa lebih seru apa tidak. Sehingga ia tak perlu
mendengar dengan hati, apalagi di Jakarta ini yang katanya kalau
Koran Pos Kota dan Lampu Merah diperas bisa keluar darah, karena
berita2 kriminal yang ada di dalamnya. Terutama Koran Lampu Merah,
yang dengan entengnya mengclose up foto konyol pelaku kriminal yang
babak belur dihajar massa, lalu menetawainya dengan judul-judul
badutnya, seperti: Istri mau melahirkan butuh biaya, maling sepeda,
ketauan bonyok deh. Guoblok sih, yang dimalingin cuman Sepeda! Butut
lagi!

Pada akhirnya, orang bisa menikmati sajian konyol orang yang dihajar
babak belur bertemankan secangkir kopi pahit dan roti sambil
tertawa..hahaha.

Its life.

Kemarin kita terlibat dalam usaha untuk mempertahankan satu nyawa.
Tetapi hari ini ada satu nyawa yang sengaja dihabiskan dengan sia-
sia.

Apa yang salah dengan hidup ini?

Dua hari kemudian, seperti biasa, dipagi hari saya turun dari lantai
2, siap untuk berangkat kerja. Dan seperti biasa berhaha-hihi dengan
ibu kos yang tinggal di lantai bawah, sebelum pamit keluar.

“Win, kemarin di tivi ada pencuri kabel yang dibakar.”

“Syerem.” katanya. “padahal beritanya orang itu gak pernah nyuri
sebelumnya, Win. Tapi karena kepepet, butuh uang dan diajak
temannya, akhirnya dia mencuri. Ehh ketangkep. Kedua pencuri itu
dihajar abis-abisan. Lalu kayu ditumpuk-tumpuk menutupi mereka, trus
disiram bensin dan dibakar.”

Saya mendengar dengan miris, tak tahu harus berkata apa. Apa yang
salah dengan masyarakat kita?

“Kok orang bisa begitu yah? Membakar orang hidup-hidup..” Ibu kos
saya berkata dengan nada bertanya, nada yang tak butuh jawaban.
Karena saya sendiri tak tahu harus berkata apa.

Whats wrong with this live.

Di pagi itu suara motorku menderu.dan seperti biasa saya menemukan
bangkai tikus tergelepar di jalan-jalan, seperti pencopet dan
pencuri dalam kisah nyata tadi. Atau mungkin bisa dibalik, pencuri
dan pencopet yang terkapar seperti tikus-tikus di jalan tadi.

Tak ada yang peduli. Paling satu dua orang lewat menutup hidung. Ada
juga mobil yang ikut menggilas. Habis itu saya tidak tahu kemana
bangkai itu berakhir. Entah kering karena hujan dan panas lalu
menjadi ‘peyek’ di jalan, atau ada ‘pasukan kuning’-sebutan untuk
pembersih jalan berseragam kuning, yang membersihkannya.

Bangkai di jalan itu akhirnya tak kelihatan lagi, tetapi esoknya
mungkin muncul lagi bangkai lain di jalan yang lain di sudut-sudut
jalan Jakarta. Dan orang-orang kembali berlalu dengan tidak peduli.
Menutup hidung atau ikut menggilas begitu saja.

Dari kisah nyata tadi juga, dan melihat metode penghakiman massa
yang terus berkembang, sampai di sini sepertinya tak ada lagi
perbedaan tikus dan manusia. Yang ada sama-sama adalah pencopet dan
pencuri yang harus diakhiri hidupnya dengan tidak hormat.

Mungkin suatu hari nanti, saat keluar dari kos, saya akan menemukan
pencuri dan pencopet berwujud manusia yang terkapar di jalan,
dilindas truk yang lewat ‘krak’, lalu orang yang melihat hanya
menutup hidung, takut bau pencuri itu akan mengotori hidungnya, atau
lebih celaka lagi, mereka bersyukur dan berterimakasih pada Tuhan,
bahwa berkat rahmatnyalah satu pencopet telah bekurang hari ini.

Whats wrong with this live?
Actually maybe live isn’t wrong and never wrong.
Maybe the wrong matter is in my mind.
I hope that.

Ekayana Buddhist Centre
28 Januari 2003
Harpin R

SILUET untuk DAVID

SILUET UNTUK DAVID

Goresan di Perpustakaan Manjusri

Sabbe Sangkhara Anicca

Pada hari ini, 01 Maret 2003 sekitar jam 14 wib Di RS Pluit, Jakarta

Telah Melanjutkan perjalanan mendahului kita:

Sdr David Herman, (mantan Ketua DPD Imabi DKI Jakarta periode 2001-
2003, anggota Biro SDM Setprop DKI Jakarta).

Rencananya tubuh kasarnya akan di pindahkan di Ruka Duka Atmajaya
pada keesokan harinya.

SAYA sedang patah hati waktu itu…(hehehe). Sebelum mengambil gelar masternya ke Australia, pacar saya memutuskan dulu cintanya padaku..anicca…anicca..tapi syuerrrrr…waktu itu mata saya benar-benar terbuka untuk mengerti makna anicca. Seseorang yang begitu anda cintai, begitu anda sayangi… begitu anda kasihi, suatu waktu pasti akan meninggalkan Anda. Entah karena kematian, atau ia tak mencintai anda seperti dulu. Sakitnya tak ketulungan… butuh waktu lama bagi saya untuk menata hati yang retak, memulihkan stamina yang anjlok drastis– tis.

Saat langit seperti dijatuhkan dari langit (kok bisa yach?) pundak menjadi sangat berat untuk ditegakkan. Kepala sepertinya tidak menancap di leher lagi, maunya menggelinding aja. Tetapi beruntunglah, kita memiliki teman-teman yang juga merasa memiliki kita. Jadi kita saling memiliki..hehe..alangkah indahnya dunia. Kita suka mengadakan perjalanan kalo libur atau ada waktu luang. Mengembara ke vihara2 di bandung, puncak, lalu merayap ke air terjun di kaki gunung salak.

Saya suka berteriak-teriak di sana. Mencoba mengalahkan deru air terjun, terutama sehabis hujan. Basah kuyup mandi di air terjun, kami berpekik nyaring, namun sepertinya bagaimanapun paraunya suara saya yang cempreng, ia tak pernah bisa mengalahkan nyaringnya deru air terjun. Seperti juga saat itu saya tak pernah bisa mengalahkan perihnya jarum yang menusuk-nusuk dalam dada ini.

Namun, selalu ada lega terasa setelah itu… setelah pekik nyaring melenking, disaksikan batu, pohon-pohon hijau dan langit biru yang hanya membisu.

I like it.

Sore menjelang..kita buru-buru kabur ke bawah, turun melewati gardu Jagawana mencari tumpangan bermalam di Vihara Sakyawanaram, yang kalau malam dinginnya minta ampunnnnnnn… hasilnya kita tidak tidur, malah ngerumpi di sekitar api unggun ampe pagi….

Satu masa kenangan yang indah.

Sampai pada satu sore jam 16.00 di tahun 1998 (kalo gak salah) salah satu teman yang merasa memiliki dan dimiliki kita memberi tahu, “Ko, mau ikutan gak? Ada Pekan Meditasi di Ekayana.”

“Ekayana mana?” Tanya saya… rada kuper juga neh, masak Ekayana aja gak tau…hehe…waktu itu Ekayana belum sebesar sekarang….

“Yang di Tanjung Duren..kalau mau nanti jam 6 sore kita rame-rame seperti biasa”

“Mau…” kataku bersemangat, siapa tau ntar abis meditasi jadi sakti, hehehe.

Sorenya kami berangkat, konvoi dengan sepeda motor ke Ekayana, di situ saya pertama kali tau dan mau tau kalau yang namanya Bhante juga punya nama, gak cuma Bhante aja. Misalnya Bhante Vimala, nama Bhante yang pertama saya kenal dan ingat. Sebelumnya saya memang kenal nama Sukong, seorang bhante tua yang sangat dihormati, tapi saya tidak tau kenapa orang begitu menghormati beliau, untuk apa, dan kok mau-maunya, dan saya gak mau pusing dengan itu. Saya juga tidak tau kalo Sukong itu bernama Bhante Ashin. (Hmm…ini dulu yach, waktu gue masih rada idiot..hehe).

Di Ekayana, pada saat Pekan Meditasi ini pula saya pertama kaliber kenalan dengan David, koodinator pekan meditasi, dan Bhante Vimala yang mengisi acara pekan meditasi.

Selama seminggu, setiap hari menjelang jam 19.00 kami konvoi ke Ekayana, apalagi kalau bukan bermeditasi sampai jam 21.00. Semangat juga, tapi motivasinya beda-beda. Beberapa diantaranya memang lagi ngincer teman konvoinya. Menyelam minum airlah, siapa tau bisa jadian…hehehe. Jadi pake topeng meditasi biar bisa bersama, hahaha. Hingga kemudian pekan meditasi berakhir, lumayan ada 2 pasang yang akhirnya jadian awet ampe kini.

Semenjak mengikuti pekan meditasi itu, saya jadi keserang penyakit misterius. Meski Pekan meditasi telah berakhir, seminggu 2 kali saya pasti ke Ekayana, menikmati kesendirian, kesunyian diri di ruang meditasi di lantai 3.

Pertama kali emang kucing-kucingan ama Awi, front officer gemulai yang was-was curiga maksud kedatangan saya. Siapa tau saya penjahat dunia kelas berat yang sedang diincer Amerika.

Tapi setelah beberapa kali pertemuan, Awi yakin saya orang baek(mungkin dijidat saya ada stempelnya..syuer..hehe), mungkin juga dia tahu kedatangan
saya emang murni untuk meditasi dan udah diketahui Bhante Arya ama Bhante Vimala.

Dari seminggu 2 kali ke vihara untuk meditasi rutinitas meningkat jadi 3 kali,lalu jadi 4 kali, sampai akhirnya tiap hari saya ke Ekayana. Kadang kalo libur kerja, sehari bisa 2 kali malah, serakah emang, haha.

Karena prestasi inilah, saya yang gak tau apa-apa tentang Ekayana dan organisasinya beserta segala pengurusnya mejelang waisak tahun berikutnya, tiba-tiba ditangkap Bhante Arya dengan jurus aji nunjuk untuk menjadi koodinator meditasi menggantikan sdr.David di tahun lalu.

Kali ini yang isi Bhante Dharmasurya Bumi Mahathera, guru meditasi yang dekat dengan kehidupan hutan dan gunung. Menyenangkan bisa berguru dengan beliau, satu dari sedikit guru besar meditasi yang bisa ditemui dan beliau sendiri jarang mau muncul di permukaan.

Hehe, berguru dengan beliau, kadang seperti kita cuma berkomunikasi dengan pikiran. Banyak yang harus ditebak dan beliau bisa menerangkan tahap meditasi kita sampai dimana dan, sepertinya beliau juga bisa membaca pikiran kita…hehe. Jadi sibuk deh berwas -wes- wos menyangkal diri dari apa yang sedang kita pikir kalo ketemu dia…hahaha.

Kini, David, salah satu mata roda yang memungkinkan matangnya karma saya mengenal meditasi sudah pergi. Senyumnya, letak kaca matanya, kerendahatiannya, sikapnya yang selalu bersahabat dan bertanggungjawab akan tetap menjadi kenangan yang indah bagi kami, sahabat-sahabatnya, dan juga siapa saja yang pernah mengenal dirinya.

Semoga dengan segala timbunan karma baik yang ia miliki, ia bisa terlahir di alam lebih bahagia, hingga akhirnya mencapai kondisi yang tak berkondisi lagi.

Perpustakaan Manjusri Ekayana Buddhist Centre, 02 Maret 2003

Harpin R

PEACE, OKEY?

PEACE, OKEY?

Diantara lebih dari 5 miliar manusia di dunia ini, hanya sedikit
yang mencapai penerangan dan mengerti kebenaran hidup, mari orang-
orang yang telah cerah itu kita sebut “Buddha”. Anggaplah dunia
mereka tinggal sebagai ‘pantai seberang’.

Sebaliknya disisi lain, kebanyakan manusia salah mengartikan inti
kehidupan dan hidup dalam ilusi tak menentu, mari kita sebut dunia
manusia-manusia ini sebagai ‘pantai ini’.

Orang-orang yang tinggal di pantai ini, dipenuhi pikiran ego tentang
diri sendiri. Karenanya, di segala ruang dan waktu dimana mereka
berada, mereka selalu membawa ego mereka, diibaratkan seperti jarum
yang jatuh ke dalam seember air-tak bersedia melebur diri ke dalam
waktu dan ruangnya air. Maka masih jelas bisa dilihat dan dibedakan
antara jarum dan air itu. Demikian juga, selama ego ada, perbedaan
yang kontras antara ‘saya’ dengan waktu dan ruang (dunia luar-‘kamu’
atau ‘mereka’ misalnya), akan selalu ada. Akan selalu ada penilaian
baik vs jahat, status tinggi vs status rendah. Demikianlah, selama
ego ada, akan slalu ada kata ‘mereka’.(dunia luar).

Mengapa ini bisa terjadi? Bagaimana prosesnya? Mari kita bahas:

Karena manusia memiliki alat indra
(mata,kuping,hidung,lidah,tubuh,pikiran), selamanya akan menerima
informasi dari luar berupa bentuk, suara, bau, rasa, etc. Informasi-
informasi ini diterima indra-indra di atas, lalu masuk ke dalam
dunia bawah sadar seseorang. Setelah informasi dikomunikasikan ke
jaringan otak, lalu disimpan di pusat informasi, selanjutnya
diperbandingkan dan dibedakan. Gunanya informasi diperbandingkan
untuk pengadaan informasi baru, dan nilai emosional egois yang abadi
yang telah ada di pusat data ditambahkan untuk keperluan analisa,
kesimpulan, dan alasan.

Akhirnya, dari proses ‘dapur’ tadi, munculah keputusan bertindak
(keputusan adalah hasil proses pemikiran berulang-ulang). Setelah
itu, respon bawah sadar dan proses pembuatan keputusan ini
menghasilkan akibat (meskipun belum dimanifestasikan pada tindakan
mulut atau tubuh-maksudnya baru berupa hasil analisa dalam pikiran,
belum diwujudkan dalam tindakan sudah ‘berbuah’ pada karakter
seseorang. Itulah mengapa kita harus berhati-hati menjaga pikiran.
Kenapa? Karena proses pembuatan keputusan ini, meski belum
diwujudkan dalam tindakan telah menjadi bagian dari kesadaran
seseorang).

Begitulah cara dunia bawah sadar ini yang tak pernah berubah dalam
menanggapi pengaruh luar, dimana umumnya kita sebut sebagai sensasi,
persepsi, keputusan dan kesadaran. Semua yang ada di luar pikiran
bawah sadar (termasuk fisik tubuh itu sendiri) disebut sebagai
duniawi. Oleh karena itu ada perbedaan besar dan kecil, kaya dan
miskin, hina dan mulia. Pikiran membedakan segala sesuatu dengan
kata keinginanku dan bukan keinginanku.

Ketika orang hidup dengan sikap pemisahan dirinya dengan ruang dan
waktu (dunia luar) dimana masih terus mencari perbedaan dan
penghakiman yang kontras pada tinggi vs rendah, kaya vs miskin, aku
vs dia, aku vs kau, aku vs mereka, maka kita sebut orang tersebut
hidup dalam ‘kerajaan duniawi’.

Sebaliknya, orang yang mencapai penerangan hidup secara spiritual di
pantai seberang, memiliki sikap yang berbeda terhadap hidup di dunia
ini. Di manapun tempat mereka tinggal, mereka melebur diri dalam
ruang tersebut tanpa adanya ego. Kapanpun waktu mereka tinggal,
mereka meleburkan diri ke dalam waktu itu tanpa adanya ego. Ketika
ia yang telah cerah menatap bunga, ia adalah bagian dari bunga itu.
Ketika mendengar suara hujan, ia adalah hujan itu. Ketika ia
menjalani lahir, tumbuh, sakit, dan mati. Ia menjalani proses lahir,
tumbuh, sakit dan mati sebagai proses alami, ialah lahir, tumbuh,
sakit dan mati itu. Dengan kata lain, proses itu bagian dari
dirinya, yang tak harus dikejar atau ditolak. Dengan cara ini, ia
bisa menjalani semuanya dengan kebahagiaan.

Seorang yang telah suci melepaskan egonya tak mementingkan diri, dan
dengan ketulusan hati merangkul semua perubahan di sekelilingnya.
Entah itu kaya atau miskin, hina atau mulia. Seseorang suci juga
sepenuhnya menghargai ruang dan waktu. Ia bersikap terhadap
kehidupan dunia ini seperti sepotong garam yang lebur ke dalam
seember air. Garam lebur ke dalam air dan berubah menjadi molekul-
molekul. Walaupun dirinya hilang, semua bagian air menjadi asin.
Pada ruang dan waktu dalam ember air, tak ada diri yang ditemukan,
semuanya telah menyatu dengan ruang dan waktu. Itulah yang
dikatakan, orang yang telah suci, bagaikan cahaya tanpa batas yang
memenuhi seluruh ruang. Bagaikan bentuk kehidupan yang berlangsung
sepanjang masa.

Itulah keabadian. It’s Nibbana? Kalau ini yang dinamakan nibbana,
mungkin kita tak harus menunggu ‘bau bangkai’ dulu baru ke sana. Ini
sesuatu yang bisa kita capai detik ini, saat ini, sekarang juga.
Caranya? Peace, okey?

(Heart Sutra, diintepretasikan Tsai Chih Chung. Elex Media,
diintepretasikan kembali Chando)

MAKAN ROTI menjalankan KEHIDUPAN,HEHE

MAKAN ROTI MENJALANKAN KEHIDUPAN, HEHE

Waktu itu bulan September 2001 kalau saya tak salah.
Kami, saya dan lebih 100 orang dalam perjalanan dari
Palembang ke Linggau. Rencana mengikuti Musda
(Musyawarah Daerah) Sekber PMVBI (Sekretariat Bersama
Persaudaraan Muda-mudi Vihara-vihara Buddhayana
Indonesia) Sumatra Selatan. Adapun kehadiran saya atas
undangan IPGABI (Ikatan Pembina Gelanggang Anak-anak
Buddhis Indonesia) Sumsel. Kami + bersepuluh mobil
berangkat beriringan dari Vihara Dharmakirti Palembang
menuju stasiun kereta api. Saat itu liburan, jadi
suasana stasiun ramai minta ampunnnnn. Gerombolan kami
yang mana rata-rata berangsel, jadinya mirip-mirip
pengungsi, terlebih jubah saya yang mencolok, membuat
saya jadi makhluk yang lain dari pada yang lain di
stasiun itu. Jadi artis-lah ceritanya.

Waktu keberangkatan hampir tiba, kami antri memasuki
peron. Saya kebagian kelas bisnis bersama 2 penatar
yang akan mengisi Musda + 1 panitia. Sementara karena
suasana libur yang rame, yang lain kebagian di
ekonomi, lengkap sudalah status pengungsi mereka.
Kedua penatar: satu laki dan satu perempuan, saya tak
ingat namanya.. Saya duduk berdampingan dengan penatar
yang pria sedangkan yang wanita duduk di hadapan kami
bersama panitia yang juga wanita. Sepanjang jalan,
atmosfir percakapan kedua penatar yang inggris minded
(menggunakan Bahasa Inggris) meski mereka bukan orang
asing membuat saya serasa sedang di Eropa, hehe.
Beberapa kali kami ngobrol juga, suaranya berbalapan
dengan deru rel kereta api.

“E… maaf yah, kenapa… milih jadi….” Tanya yang laki
dengan gaya menggantung kalimat, diikuti wanita di
hadapannya yang menatap ke arah saya….

“Memilih jadi samanera?” Sambut saya tahu arah
pikiran mereka, mungkin dengan gaya senyum yang sama,
klise. “Yach, gimana yah? Karmanya udah sampe, kali?”
kata saya. Lalu pembicaraan berkembang ngalor-ngidul
(merembet ke mana-mana). Sampai akhirnya saya tahu
yang cowok ternyata guru di LIA dan yang cewek guru
privat inggris. Pantas!

Tengah kami duduk, panitia yang laki-laki datang dari
gerbong lain membawa sekotak roti. Mereka bertiga
masing-masing mengambil satu, saya tidak. “Atasila,”
kata saya.

“Maaf yah Samanera,” kata mereka.

“Gak pa-pa. Makan aja.”

Sambil menggigit roti yang tampak renyah itu, cowok
yang guru LIA bertanya, “kalau kita makan begini, apa
yang harus direnungkan yach, Samanera?”
nyam-nyam-nyam, tampak ia menikmati rotinya.

“Ei iyah… apa Samanera?” yang cewek yang guru privat
itu, yang katanya lagi ngambil S-2 (es lilin atau es
puter ya? hehe), beserta cewek panitia yang dari tadi
diam seperti lukisan monalisa (cantik tapi mulutnya
terkunci rapat), sambil memegang rotinya ikut
memandang saya mohon penjelasan.

Saya melihat mereka sambil senyum. Kali ini bukan
senyum klise, tapi sedikit geli bin iseng.

“Yang direnungkan?” Tanya saya memastikan
keingintahuan mereka.

“Yah, ” kata mereka kompak.

“Yach, yang harus direnungkan adalah, mungkin kalau
lagi makan begini, Anda berani ramai-ramai, nggak
malu-malu. Senyum sana, senyum sini. Ketawa-ketiwi.
Tapi giliran ngeluarinya… Biasanya Anda mencari
tempat persembunyian. Malu-malu. Sendiri-sendiri, atau
kadang menutup hidung,” saya senyum kalem menyelidiki
raut wajah mereka.

“Mnk!” kontan wajah nyaman tadi tercekat, syok. Yang
guru Lia menahan gigitan rotinya sambil menatap tak
percaya. “Masak begitu Samanera?”

“Lha, iyah. Ini serius. Renungan dalam Buddhis yah
begitu. Hehe….”Ternyata imajinasi mereka bagus juga,
haha. Mau tidak mau akhirnya mereka tertawa juga,
tepatnya tertawa jijai. Lalu diam sebentar, berusaha
mengalihkan pikiran dengan membahas topik lain. Agak
berat memang, sambil makan membayangkan giliran
mengeluarkannya. Bentuknya seperti apa? Bulat lonjong
atau kotak-kotak? Warnanya seperti apa? Kuning,
coklat, atau kehitam-hitaman? Terakhir bagaimana
bentuknya? Cair, padat, atau setengah cair setengah
padat? Haha. Kok beda ama waktu ‘disimpan’, yach?
Hahaha.

Waktu makannya sih enak. Wangi, renyah, manis, gurih,
rame-rame…! Seperti bunyi sebuah iklan. Waktu
mengeluarkannya? Ih…jijai. Ini mirip sebuah koin
dengan dua sisi berbeda. Sangat dekat nyata beda.

Anyway, perenungan ini sebenarnya ditujukan bagi kita
yang memiliki keserakahan dalam hal makanan. Ada orang
yang kadang makan bukan karena mereka lapar, tapi
lebih karena rakus yang berasal dari skandal/indra.
Pada intinya harus disadari kita makan untuk hidup,
bukan kebalikannya: hidup untuk makan. Setiap naluri
untuk melahap muncul, hal yang bisa
diamati(instropeksi) kemudian adalah… ini sesuatu
dorongan dari fisik dimana saya benar-benar lemas tak
bertenaga, perut kosong, dan butuh diisi atau hanya
timbul dari sebuah naluri/nafsu karena tak bisa
melihat makanan `nganggur’? Bila yang terakhir ini
alibinya, sebaiknya Anda merenungkan esensial dari
makan. Ini bagian dari pelajaran mawas diri, karena
sekali lagi, perasaan dan pikiran kita sangat halus.
Melalui makanan dan nafsu yang timbul ini sebenarnya
kita bisa belajar mengendalikan gelombang nafsu yang
mungkin lebih kasar, birahi misalnya.

Selain itu, yang vital kita renungkan dalam hal makan
adalah: Berterimakasihlah kepada segala penyebab
hadirnya makanan tsb. Entah itu pembantu yang
menyiapkan, orang yang mendanakan, petani yang
menanamnya di sawah di bawah terik matahari dan
keringat yang menetes dan berkurban dalam lumpur
hitam, maupun segala aspek transportasi dan distribusi
yang menyebabkan makanan ini bisa hadir di hadapan
kita. Berterimakasilah, dan berdoa semoga mereka
mendapat kebahagiaan dari jasa mereka, dan juga
mendapatkan makanan yang layak sebagai mana yang kita
dapatkan. Perenungan-perenungan seperti ini, akan
mendewasakan batin tentang sifat manusia yang mahkluk
social. Bahwa terkadang kita lupa, ternyata petani di
sawah, kuli-kuli pengangkut di pasar yang tak kita
kenal atau mungkin tak pernah Anda tahu ada manusia
berprofesi seperti itu, ternyata telah berjasa dalam
kehidupan Anda. Pengetahuan, belas kasih, cinta kasih,
terima kasih, rasa puas, simpati dan empati, itulah
yang akan membuat hidup Anda bahagia dan kaya dalam
arti sebenarnya.

Trawas(Jawa Timur) 30 September 2001, Ekayana
(Jakarta) 19 Oktober 2001

Chando bunga1

ARUS yang BERUBAH

ARUS yang BERUBAH

Patung utama di vihara ini masih seperti dulu.
Berjenggot hitam panjang dalam posisi duduk dengan
warna aslinya yang tak kasat mata lagi, menghitam karena
asap tahunan dari hio yang bisa dikatakan terus menyala
di hiolo besar di hadapannya.

Hiolo itu terletak di atas meja panjang, yang mana pada hari-
hari tertentu, bukan hanya buah dan kue saja yang dipersembahkan
di atas meja tersebut… tetapi persembahan berupa barang bernyawa,
seperti daging pun ada di sana.

Di bawah patung atau dewa utama itu terdapat Dewa Macan, di sini
sering terlihat sepotong daging babi diletakkan di depannya, atau terkadang ada
yang menyelipkan lembaran uang di taringnya. Lalu di kanan-kiri Dewa utama
ini terdapat beberapa altar dewa lain. Yang satu digambarkan sebagai orang tua
dalam busana Tiongkok yang tengah memancing ikan, kemudian yang satunya
lagi sepertinya Dewa Kwan Kong.

Di sebelah kiri tempat dewa-dewa tadi, terdapat sebuah ruangan yang disekat
tersendiri, dimana ’empunya’ ruangan ini tampak duduk bersila di sebuah altar
dengan warna tubuhnya yang keemasan, bukan dewa tentu, tapi Buddha.

Saya mengamati ruangan itu sekali lagi, tak banyak perubahan sejak saya
tinggalkan setahun lalu. Di ruangan yang bersebelahan dengan altar dewa-dewa inilah,
dulu, setiap minggu, saya menghabiskan waktu dengan bernyanyi, bermain dan
bercerita tentang cinta kasih Buddha yang luar biasa terhadap setiap bentuk kehidupan
pada anak-anak Sekolah Minggu. Di ruangan inilah saya melihat mereka tertawa, menjerit,
dan juga menangis.

Ah…. Hidup memang terlalu cepat berpacu. Kini saya kembali lagi
ke tempat ini, diundang mereka, bukan sebagai guru sekolah minggu lagi, tapi sebagai
anggota Sangha. Ada beberapa muka baru, tetapi sebagian besar masih ingat pada saya,
terutama kakak-kakak pengasuhnya.

Enam tahun lalu, ketika menginjak Jakarta, oleh rekan kerja saya diantar ke vihara ini. Yang mana
yang pertama kali saya lakukan kalau menginjak vihara adalah mencari segepok hio dan lilin
untuk ‘antri’ pai—sujud pada dewa-dewa yang sama sekali tak saya kenal dengan baik.
Makin besar dan hitam dewanya akan makin khidmat sujud yang saya lakukan. Jadi kalau berkunjung ke vihara keringat bisa bercucuran, apalagi kalau dewa di vihara itu banyak, saya harus berkeliling dan merasa berdosa apabila kelewatan satu dewa saja.

Tetapi untunglah, vihara itu juga menyediakan perpustakaan dan buku-buku dharma yang boleh diambil cuma-cuma. Dari seorang umat kebanyakan yang tung-tung cep (waton nancep) hio,
west e wes ewest (komat-kamit) semoga saya ganteng, cakep, kaya raya, bijaksana, bahagia,
masuk sorga… saya diajak untuk melihat dunia dan kehidupan ini lebih luas, orang Hindu bilang
dari ego kecil menjadi ego besar, orang Buddhis bilang dari ego menjadi tanpa ego.

Waktu terus berjalan, saya yang dulu suka kebingungan bila diledek agama buddha menyembah patung, Mulai tahu sebenarnya kita tak menyembah patung, it’s symbol. Saya mulai
tahu pandangan agama buddha apa itu dewa, apa itu manusia, dan apa itu Buddha. Sampai akhirnya saya berpandangan be a Buddhist it’s so simple–bahkan ekstrimnya rupang buddha sekalipun gue gak butuh. Tetapi hehehe, itu terlalu ekstrim, yach.

Saya menatap altar itu sekali lagi, benar masih seperti dulu, tak ada yang berubah
sejak pertama kali saya menginjakkan kaki di sini, untuk mencari segepok hio dan berdoa
semoga saya selamat dan berbahagia (masalah orang lain celaka bukan urusan saya).

Benar tempat itu tidak berubah. Mungkin saya rasa, yang berubah adalah sesuatu di
hati saya, kini kalau berdoa, yang selalu saya ucapkan adalah: ‘Semoga semua makhluk hidup berbahagia.’ Bukan ‘semoga saya selamat, kaya raya, gagah perkasa, kalau mati masuk
surga lagi. Yach, saya rasa itu.

Tempat itu memang tak berubah, tapi siapa yang bisa tahu perubahan di hati saya?
Siapa yang bisa tahu, berapa banyak hati dan pikiran kita yang telah berubah? Siapa? Dan mungkin, Anda sendiri ada dalam gelombang hati dan pikiran yag telah berubah itu.

EBC, 16 Juni 2001
Dalam pelukan angin pagi

Samanera Nyanachando