Biksuni Jinaloka, Reliknya Sepasang Kuping

Sumber: Mamit 10/2012

Pelayan Dharma

 

Biksuni Jinaloka

Bhiksuni Jinaloka, Reliknya Sepasang Kuping

Adik-adik, Biksuni Jinaloka dilahirkan di Palembang 21 Mei 1921. Sejak kecil beliau memiliki banyak teman, vokal dan peduli dengan orang lain.

Menurut keponakannya (Safiit Hendrawan), sejak Pak Safiit masih anak-anak dan tinggal bersama kakeknya sebagai keluarga besar, rumah mereka selalu ramai dari pagi sampai malam, karena kedatangan teman-teman bibinya itu.

“Temannya sangat banyak, datang dari pagi sampai malam. Saat itu, tanda-tangannya bisa dijadikan uang untuk mereka yang membutuhkan. Ia bisa membuat memo untuk mereka yang dalam kesulitan untuk mengambil uang di toko-toko yang dituju. Selain sebagai ketua perkumpulan wanita Tionghoa, ia juga menjabat kepala sekolah di taman kanak-kanak sekolah Tionghoa”

Demikianlah masa muda Biksuni Jinaloka, sampai akhirnya beliau menikah dengan seorang pengusaha dan memiliki 3 orang putri, sikap pedulinya terhadap orang lain tak berubah.

Saat terjadi kerusuhan tahun 1966, beliau sempat mengungsi ke Bogor. Konon, di sinilah ia semakin mengenal Ashin Jinarakkhita yang juga dilahirkan di kota Bogor, dimana saat itu Ashin Jinarakkhita telah berdiam di Lembah Cipendawa, Pacet.

Seiring waktu, ketertarikan beliau terhadap kehidupan spritual semakin mendalam, sampai kemudian, setelah menikahkan putri terakhirnya tahun 1970 , beliau memutuskan menjadi biksuni.

Ketika menjadi biksuni, daerah binaan beliau meliputi Medan, Palembang, Jambi dan sekitarnya. Karena fasih mandarin, banyak pengikutnya adalah mereka yang menekuni Liam Keng, alias pembacaan sutra Buddha dalam bahasa Mandarin.

Salah satu murid beliau adalah Romo Darwis, ketua Yayasan Buddha Kirti di Palembang saat ini.

 “Pertama saya ke wihara waktu kuliah,  sanggha yang saya kenal adalah beliau. Beliaulah guru spritual saya yang pertama. Biksuni Jinalokalah yang memotivasi saya pada 2 Februari 1977 membentuk PPBD (Persaudaaan Pemuda Buddhis Dharmakirti,” kata Romo Darwis, murid kesayangan beliau.

 “Begitu sayangnya beliau dengan Romo Darwis, membuat saat itu kami yang ponakannya cemburu, hehe,” kata Bastian Hendrawan (keponakan Biksuni Jinaloka).

Beliau juga memiliki seorang dayaka yang sangat setia pada beliau sampai hari ini, adalah Ibu Eng Sui yang sampai hari ini mengajar di sekolah Padmajaya, Seberang Ulu, Palembang.

Meski, selalu memimpin liam keng, untuk praktek pribadinya, beliau adalah meditator ulung.

Menjelang akhir hayatnya, beliau sempat menolak dibawakan kembang oleh pembantu-pembantunya, “tak usah, di sini sudah banyak orang dan banyak kembang,” kata beliau.

“Mana? Di sini tak ada orang dan tidak ada kembang, Bhante,” kata pembantunya heran.

Beliau sempat minta keponakannya (Bastian) telepon ke Pacet, untuk ‘pamit’ dengan guru beliau Ashin Jinarakkhita.

Keesokan hari 18 Desember 1999, beliau diketemukan sudah meninggal dalam posisi duduk meditasi. Dokter keluarga beragama Katolik yang dipanggil Pak Safiit, meski terheran-heran, setelah memeriksa urat nadinya memastikan beliau sudah meninggal.

Dari sisa perabuan beliau ditemukan relik sepasang kuping besar, seperti kuping Buddha berbentuk batu giok hijau. Sayangnya, keberadaan relik sepasang kuping itu kini tak diketahui.

Safiit Hendrawan, keponakan beliau yang ikut saat pengambilan abu di tempat kremasi mengatakan, ia melihat Biksuni Pundarika dan Bhante Kumuda (sudah lepas jubah) hati-hati mengambil sepasang relik kuping hijau seperti batu giok itu, lalu membungkusnya dengan kain.

“Habis itu, tak tahulah aku ceritanya.”

Ada yang bisa membantu melacak keberadaan relik itu sekarang?

Bab VII Sekolah Padmajaya

BAB VII

Sekolah Padmajaya

Sekolah Padmajaya 2012

Tahun 1960, saat kedatangan Ashin Jinarakkhita di Palembang, di Seberang Ulu ini merupakan perkampungan orang Tionghoa yang anak-anaknya tak bersekolah. Kecuali beberapa pengusaha hasil bumi superkaya seperti Goei Kim Hock, rata-rata orang Tionghoa di Seberang Ulu adalah orang miskin.

Pembelian tanah sekolah dilakukan tahun 1963, setahun setelah Wihara Dharmakirti  di Seberang Ilir diresmikan. Tahun 1964 sekolah Padmajaya memulai proses belajar mengajarnya, yang ditandai dengan penanaman pohon Bodhi oleh Ashin Jinarakkhita.

“Dulu waktu sekolah berdiri, banyak anak sudah besar-besar, baru duduk di kelas 1” kata Ibu Listyani, guru Bahasa Mandarin yang bergabung kembali di sekolah Padmajaya sepuluh tahun belakangan.

Diantara guru-guru Sekolah Padmajaya saat ini, Ibu Listyani merupakan guru yang paling awal mengajar. Beliau yang lulusan SPG (Sekolah Pendidikan Guru) mengajar sekitar tahun 68-69. Ia merasakan suka-dukanya mengabdi di awal sekolah Padmajaya berdiri.

Dikatakan mengabdi karena bagi dia yang tinggal di Seberang Ilir, membutuhkan perjuangan keras setiap hari mencapai sekolah ini di Seberang Ulu.

“Waktu itu angkutan umum cuma sampai di Jembatan Ampera. Kito harus jalan kaki dari Jembatan Ampera sampai sekolah Padmajaya. Saat itu dari Jembatan Ampera sampai ke sekolah masih tano merah galo, berdebu kalau panas, licin bila hujan. Seringkali, air sungai Musi meluap membuat jalanan dipenuhi air.

Kalau banjir meluap, kito harus menenteng sepatu di tangan dan angkat rok setinggi paha nah untuk mencapai sekolah ini,” tambahnya.

Itulah sebabnya, setahun kemudian, tahun 1969 meskipun ditawari posisi kepala sekolah di SD Padmajaya, karena kendala-kendala teknis dan masalah ekonomi, beliau memutuskan pindah ke sekolah lain yang memberikan honor sepuluh kali lipat  dibanding Sekolah Padmajaya.

Memasuki era reformasi, mantan Presiden Gus Dur menertawakan kebijakan pemerintah Orba. Menurut Gus Dur, satu-satunya negara di dunia yang melarang bahasa Mandarin beredar adalah Indonesia.

Gus Dur mencabut Intruksi Presiden (Inpres) No 14/1967 yang dikeluarkan pemerintah Suharto untuk ‘mengandangkan’ kebudayaan Tionghoa. Gus Dur lewat kebijakannya memungkinkan Bahasa Mandarin diajarkan secara bebas sebagaimana bahasa asing lainya di Indonesia.

Buah kebijakan pemerintahan Gus Dur, belajar Bahasa Mandarin bukan lagi sebuah ‘dosa besar’, dimana pada jaman Orba proses belajar mengajar ini harus dilakukan sembunyi-sembunyi layaknya penjahat narkoba sedang melakukan transaksi.

Di Sekolah Padmajaya, bahasa Mandarin pun diajarkan kembali. Hingga kini, sudah sepuluh tahun Ibu Lusiana mengabdi kembali di Sekolah Padmajaya sebagai guru Bahasa Mandarin.

Kiri ke kanan: Ibu Enggawati (kepala sekolah SD Padmajaya 1977-2012), Ibu Engsui (Staf dan dayaka setia Biksuni Jinaloka), Ibu Listyani (Guru Bahasa Mandarin/komisi pendidikan).

Ibu Enggawati

Ibu Enggawati mulai mengajar di Sekolah Padmajaya tahun 1969. Beliau diangkat menjadi kepala sekolah dari tahun 1977 sampai sekarang. Jadi, sudah 43 tahun mengabdi di Sekolah Padmajaya. Sebuah pengabdian luar biasa. Sekarang beliau berstatus PNS (Pegawai Negeri Sipil) dan akan pensiun tahun 2012 ini.

“Kalau ditanyo suko dukonya banyakan dukonnya dibanding sukonyo. Tapi kito bicarakan sukanyo baelah,hahaha” katanya dengan suara lantang. Yah, pengalaman mengajar hampir setengah abad di depan kelas, ditengah riuh-rendah suara anak-anak tanpa bantuan mikorfon, membuat suaranya kuat, jelas dan mantap.

“Ini arsip-arsipnyo. Waktu aku pertama jadi Kepala Sekolah dak ado ini, aku yang bikin dewek. Sanghapuspa kepala sekolah pertama, tuh fotonya nah. Dilanjutkan Theresia Hewida, istri dari Romo Edy Tan Tjong Leng.

Tahun 1958 aku lah tinggal di Seberang Ulu, jadi tahulah awal-awalnya. Dalam arsip kelulusan aku lihat tahun 1964 baru mulai proses belajar di Sekolah Padmajaya ini. Awalnya terdiri tigo kelas, taman kanak-kanak satu kelas,  SD duo kelas.

Segala sesuatu ado visi misinyo. Kalau sekolah ini, visi awalnya Sukong (Ashin Jinarakkhita) nak bantu orang-orang Tionghoa di Seberang Ulu ini yang idak mampu. Awal berdirinya cuma terdiri tigo ruangan kelas dari kayu,” lanjut Ibu Enggawati.

Yah, kelas dari kayu itu, pada masa kepemimpinan Romo Yusrin di Yayasan Buddhakirti tahun 1988 dibangun kembali menjadi bangunan tembok kokoh menggunakan sisa dana perluasan baktisala Wihara Dharmakirti yang beliau kumpulkan.

Romo Yusrin, Ketua Yayasan Buddhakirti 2 pariode 1987-1995 yang merenovasi gedung Sekolah Padmajaya.

Begitu perhatiannya Ashin Jinarakkhita kepada sektor pendidikan membuat beliau kembali menyempatkan diri meresmikan bangunan sekolah Padmajaya setelah direnovasi. Tak lupa beliau ‘menghadiahkan’ piagam penghargaan pada Romo Yusrin sebagai U.S.D.K (Upasaka Sri Dharma Kirti) pada 18 Maret 1988.

Peresmian kembali sekolah Padmajaya oleh Ashin Jinarakkhita setelah renovasi, 1988.

“Itulah hebatnya Sukong. Pada masa itu sudah memikirkan pendidikan yang idak terpikir oleh kito,” lanjut Romo Darwis, ketua Yayasan Buddhakirti sekarang ini.

Romo Darwis, ketua Yayasan Buddhakirti sekarang.

“Beliau merancang Wihara Dharmakirit di Seberang Ilir, dan Sekolah Padmajaya di Seberang Ulu, dimana dulunya merupakan perkampungan orang Tionghoa, banyak diantranya orang tidak mampu. Saat itu, pendidikan merupakan barang mewah yang tak bisa dijangkau mereka, Sukong telah memikirkan pendidikan yang murah untuk mereka,” tambah Romo Darwis.

“Dulunya, wong Tionghoa di Palembang dak ado dak yang beragama Kristen atau Katolik. Tapi pasca meletusnya PKI dan pemerintah Orba menutup dan mencaplok sekolah dan yayasan-yayasan Tionghoa, merajalelahlah mereko, sekolah-sekolah dan yayasan Kristen/Katolik,” kata Romo Yancik, pendiri sekolah Dharmajaya yang juga sesepuh dan pendiri Yayasan Buddhakirti yang kini berumur 87 tahun, tapi masih sehat dan bisa menyetir mobil sendiri.

Romo Yancik, sesepuh dan satu-satunya pendiri Yayasan Buddhakirti yang masih hidup, kini berumur 87 tahun.

Romo Yancik dan Ibu Padmawati memiliki andil besar dalam pendirian sekolah Padmajaya ini.

“Karena kebijakan pemerintah Orba, anak-anak kito banyak pindah agama di sekolah mereka itulah,” tambah Romo Yancik yang mendirikan sekolah Dharmajaya dengan 5 murid pertamanya adalah 5 orang anaknya, kemudian ditambah anak-anak dari sanak-saudaranya.

Tahun 80an pun, pemerintah Orba kembali melakukan tindakan represif dengan alasan pembauran, mengaduk-aduk sekolah yang murid-muridnya didominasi orang Tionghoa.

Kebijakan represif ini mengharuskan Sekolah Padmajaya memindahkan 60 persen muridnya yang Tionghoa ke sekolah negeri, dan memasukkan 40 persen murid sekolah negeri yang Melayu ke sekolah Padmajaya.

“Ah susahnyo bukan main. Murid yang Tionghoa saat dipindah ke sekolah negeri suka dikata-katain cino dan juga dipalak,” kata Ibu Enggawati yang sudah menjadi kepala sekolah saat ‘pembauran’ itu.

“Sebaliknya murid negeri yang dipindahkan ke sekolah ini juga bermasalah. Karena sistim pengajaran yang berbeda, murid di sini jam belajarnya lebih panjang sedangkan di sekolah negeri lebih pendek, akibatnya mereka sering bolos. Manjat-manjat tembok, ha.

Dari sisi orang tua, mereka curigo, karena ini sekolah Buddhis, mereka takut anak mereka nak kito Buddhiskan.

Dari sisi uang sekolah. Siswa Tionghoa bayar enam ratus rupiah, sedangkan siswa dari negeri cuma bayar sepuluh atau seratus rupiah. Perbedaannyo jauh mak. Pusinglah kito menutupinyo.

Kalau peraturan ini tak dijalankan, sekolah kito bisa ditutup. Pihak pemerintah juga sering datang kontrol apakah peraturan ini dijalankan.”

Demikianlah, suka duka Ibu Enggawati yang dipercaya Yayasan menjadi kepala sekolah mengawal sekolah Padmajaya ini dari tahun 1977 hingga sekarang. Salah satu lulusan sekolah Padmajaya yang cukup dikenal di MBI adalah Romo Marga Canto Santosa.

Menurut Ibu Enggawati, kelulusan dari sekolah ini selalu 100%. Saat ini, tercatat 38 siswa Tk  belajar di sini, ditambah 171 orang siswa SD dan  59 orang siswa SMP.

Namun mayoritas mereka bukanlah Tionghoa atau Buddhis lagi, melainkan Muslim. Itu bukanlah karena kebijakan pembauran, masa sulit pembauran sudah lewat. Tapi, karena dalam perkembangannya, anak cucu orang Tionghoa di Seberang Ulu ini pendidikan dan ekonominya membaik, menjual rumah mereka di Seberang Ulu, membeli rumah lalu pindah ke Seberang Ilir yang dianggap kota.

Kini kampung orang Tionghoa itu tak lagi didominasi orang Tionghoa. Mayoritas orang di situ sekarang Melayu Muslim.

Efeknya ke sekolah Padmajaya, karena komunitas tempat sekolah berdiri berubah menjadi komunitas Muslim, mayoritas muridnya pun kini didominasi Muslim

Bila dikembalikan ke visi misi sekolah Padmajaya dulunya, yakni membantu orang Tionghoa yang tak mampu di seberang Ulu mendapatkan pendidikan, rasanya misi ini telah selesai. Karena tak banyak orang Tionghoa di Seberang Ulu lagi, dan mayoritas murid di sekolah Padmajaya kini adalah Muslim. Dari segi visi dan misi, ini jelas sudah salah sasaran.

Mengingat hingga kini sekolah selalu disubsidi  Yayasan Buddhakirti yang menaunginya, timbul pemikiran sejumlah pihak, agar tak memberatkan kas yayasan sebaiknya sekolah Padmajaya ditutup saja.

Saat ditanyakan ke Romo Darwis, decision maker yang merupakan ketua Yayasan Buddhakirti saat ini, Romo Darwis mengatakan, “kalau misinya membantu orang, apakah harus dilihat agamanya?”

Romo Darwis dalam masa kepemimpinannya telah mendirikan Manggala School di samping Wihara Dharmakirti, sebuah sekolah Buddhis di Seberang Ilir yang telah lama diidamkan umat Wihara Dharmakirti.

Manggala School, 2012

Masyarakat Buddhis Kita yang Sakit

Masyarakat Buddhis Kita yang ‘Sakit’

 

Biksu berjualan di Petailing Street Malaysia, Fotografer: Budi Hermawan.

Sepanjang yang saya tahu, Buddhisme mengajarkan Ehipassiko: Datang, lihat, buktikan.

Yang Buddha ajarkan adalah penyakit itu ada, sumber penyakit ada, penyakit bisa sembuh, ada cara menyembuhkan penyakit itu.

Ketika kita enggan melihat penyakit, berpura-pura tidak tahu, berpura-pura tidak ada penyakit, semua baik-baik saja, berpura-pura bijaksana, atau menghakiminya sebagai aib… bahkan menyalahkan orang yang memberitahu kita sedang sakit, hahaha, dalam pandangan saya… sepertinya kita tak hidup di alam nyata.

 Wake up please, meski tak mengenakkan, realita ini ada, sentuhlah dia, kasihanilah dia, bantulah dia.

Sanggha sebagai Komunitas.

Tepat dua bulan setelah mencapai Penerangan Sempurna (558SM), Buddha Gautama membabarkan Dhamma untuk pertama kalinyakepada lima pertapa di Taman Rusa Isipatana.

Kelima  pertapa ini kemudian disebut Panca Vaggiya Biksu, mereka adalah Kondanna, Bhaddiya, Vappa, Mahanama, dan Assaji.

Selanjutnya, bersama Panca Vagghiya Biksu tersebut, Buddha membentuk Sanggha Biksu yang pertama. Dengan terbentuknya Sanggha, maka Tiratana (Triratna) menjadi lengkap. Sebelumnya, baru ada Buddha dan Dhamma (yang ditemukan oleh Buddha ).

Tiratana atau Triratna berarti Tiga Mustika, terdiri atas Buddha, Dhamma dan Sanggha. Tiratana merupakan pelindung umat Buddha. Setiap umat Buddha berlindung kepada Tiratana dengan memanjatkan paritta Tisarana (Trisarana).

Mari kita bahas soal Sanggha, dimana kita memohon  perlindungan.

Dalam hal ini perlu diingat, banyak yang belum bisa membedakan biksu dengan Sanggha. Setiap menyebut biksu selalu dikatakan Sanggha, padahal biksu yang disebut hanya seorang. “Menurut Sanggha begini,”, “menurut Sanggha begitu,” padahal yang ia maksud adalah seorang biksu semata. Berlindung pada Sanggha, ia samakan dengan berlindung kepada sesosok biksu.

Sanggha adalah komunitas monastik, bukan sosok individu biksu. Sesuai histori terbentuknya, 5 orang biksu baru bisa bertindak mewakili Sanggha. Biksu bukanlah Sanggha, melainkan anggota Sanggha.

Itulah sebabnya, perayaan Kathina, yakni hari persembahan pada Sanggha, harus dihadiri minimal 5 biksu. Apabila perayaan Kathina dihadiri kurang dari 5 biksu, itu tak mewakili Sanggha, dengan demikian, persembahan yang diberikan untuk Sanggha menjadi tidak sah.

Jadi jelas di sini, Sanggha adalah komunitas, bukan sosok pribadi biksu.

Hubungan Timba-Balik Sanggha dan Umat

Dharmavimala Mahathera di Sanggha Agung Indonesia pernah mengatakan, tempat tinggal biksu yang ideal adalah tidak terlalu jauh dari tempat tinggal penduduk, dan tidak terlalu dekat dengan pemukiman penduduk.

Tentu ini ada maksudnya. Sebagai orang yang meninggalkan kehidupan duniawi, para pertapa masih butuh makan, untuk melanjutkan latihan mereka.

Di sisi lain, umat awam butuh penuntun spritual, dan ladang untuk menanam kebajikan. Tempat tinggal yang tidak terlalu jauh sekaligus tidak terlalu dekat, akan membantu hubungan timbal balik ini.

Di masa lalu, tradisi menghormati pertapa/yogi yang begitu kuat di India, membuat tidak terlalu masalah dan tak sulit untuk seorang pertapa mengumpulkan makanan dari rumah ke rumah.

Makna Sanggha menurut Thich Nhat Hanh

Dalam perkembangannya, makna Sanggha diterjemahkan menjadi lebih luas. Bila dulu diterjemahkan komunitas monastik yang hanya terdiri para biksu, oleh biksu Thich Nhat Hanh, Sanggha diberi arti lebih luas, sebagai komunitas mereka yang berlatih. Jadi, meskipun umat awam, sepanjang mereka melakukan latihan hidup berkesadaran dalam kelompok, mereka bisa disebut Sanggha, atau di Buddhayana disebut Sanggha Putih, maksudnya Sanggha berbaju/berjubah putih.

Berikut kutipan pengertian Sanggha Putih dari Grup Dharmajala yang mengadopsi dari  biksu Thich Nhat Hanh:

Sanggha adalah komunitas para sahabat yang mempraktikkan Dharma secara bersama untuk menumbuhkembangkan dan mempertahankan keadaan sadar. Esensi Sanggha adalah keadaan sadar, pengertian, penerimaan, keharmonisan, dan cinta kasih. Ketika saudara menemukan elemen-elemen tersebut hadir dalam sebuah komunitas, saudara tahu bahwa saudara memiliki kebahagiaan serta keberuntungan dapat berada dalam sebuah Sanggha yang sejati.

Sanggha bukanlah tempat bersembunyi agar dapat menghindari berbagai tanggung jawab saudara.

Sanggha adalah tempat berlatih mencapai transformasi dan penyembuhan diri maupun masyarakat. Ketika saudara kuat, saudara bisa hadir membantu masyarakat. Jika masyarakat saudara bermasalah, jika keluarga saudara berantakan, jika wihara saudara tak lagi mampu menyediakan kehidupan spiritual, maka saudara berusahalah untuk berlindung pada Sanggha agar dapat mengembalikan kekuatan saudara, pengertian saudara, kasih sayang saudara, rasa percaya diri saudara. Dan setelah itu, saudara dapat menggunakan kekuatan, pengertian, dan kasih sayang tersebut untuk membangun kembali keluarga dan masyarakat saudara, meremajakan wihara saudara, mengembalikan komunikasi dan keharmonisan. Ini hanya bisa dilakukan sebagai sebuah komunitas–bukan sebagai individu, tapi sebagai sebuah Sanggha.

Ketika seekor harimau meninggalkan gunung dan turun ke dataran rendah, ia akan tertangkap dan mati dibunuh manusia. Saat praktisi meninggalkan Sangghanya, ia akan mencampakkan latihannya beberapa bulan kemudian. Agar dapat meneruskan praktik transformasi dan penyembuhan, kita membutuhkan sebuah Sanggha.

Ijinkanlah diri saudara didukung, digenggam oleh Sanggha. Ketika saudara mengijinkan diri saudara berada dalam Sanggha, bagaikan setetes air mengijinkan dirinya ke dalam sungai, energi Sanggha akan menembus ke dalam diri saudara dan transformasi serta penyembuhan akan menjadi mungkin.

Dengan kata lain, menurut penulis, dari jaman dulu hingga sekarang yang diterjemahkan lebih luas oleh biksu Thich Nhat Hanh, Sanggha adalah sebuah komunitas berlatih, tempat mereka yang berlatih diri berlindung, untuk menjaga latihan mereka.

Khusus untuk Sanggha monastic (biksu) tentu kondisinya berbeda dengan Sanggha putih (umat awam yang berlatih) karena biksu, sejak penabhisannya telah ‘diikat’ dengan sejumlah 227 peratutan atau dikenal dengan winaya.

Winaya

Winaya artinya: Peraturan, Disiplin, Tata Tertib. Kata Winaya sendiri berarti : melenyapkan/menghapus/memusnahkan/menghilangkan – dalam hal ini – segala tingkah laku yang menghalangi kemajuan dalam Jalan Pelaksanaan Dhamma; atau sesuatu yang membimbing ke luar (dari dukkha).

Ada beberapa hal yang menyebabkan Buddha menetapkan Winaya:

  1. Untuk tegaknya Sanggha (tanpa Winaya, Sanggha tidak akan bertahan lama).
  2. Untuk kebahagiaan Sanggha (sehingga biksu mempunyai sedikit rintangan dan hidup damai).
  3. Untuk pengendalian diri orang-orang yang tidak teguh (yang dapat menimbulkan persoalan dalam Sanggha),
  4. Untuk kebahagiaan biksu-biksu yang berkelakuan baik (pelaksanaan sila murni menyebabkan kebahagiaan sekarang ini),
  5. Untuk perlindungan diri dari asawa dalam kehidupan ini (karena banyak kesukaran dapat dihindarkan dengan tingkah laku moral yang baik),
  6. Untuk perlindungan diri asawa yang timbul dalam kehidupan yang akan datang (asawa tidak timbul pada orang yang melaksanakan sila dengan baik),
  7. Untuk membahagiakan mereka yang belum bahagia (orang yang belum mengenal Dhamma akan bahagia dengan tingkah laku biksu yang baik),
  8. Untuk meningkatkan mereka yang berbahagia (orang yang telah mengenal Dhamma akan bahagia melihat pelaksanaannya),
  9. Untuk tegaknya Dhamma yang Benar (Dhamma akan bertahan lama bila Winaya dilaksanakan dengan baik oleh para biksu),
  10. Untuk manfaat dari winaya (Winaya dapat memberi manfaat kepada makhluk-makhluk, terbebas dari dukkha, menuju Nibbana).”

(Anguttara Nikaya, Book of Tens, Discourse 31)

Dalam Buddhapaññati dan Abhisamacara disebut Winaya dapat diibaratkan bagaikan benang yang mengikat bunga-bunga menjadi suatu rangkaian, dengan cara demikian pula winaya membantu membentuk biksu Sanggha yang kuat.

Di jaman Buddha, mereka yang ditahbiskan menjadi biksu berasal dari keluarga yang tinggi, menengah bahkan rendah serta berbeda dalam sifat dan kasta.

Apabila tidak ada winaya untuk mengendalikan mereka atau apabila mereka tidak mematuhi winaya, maka mereka akan merupakan masyarakat biksu yang tidak baik dan hal ini tidak mendorong untuk timbulnya saddha dan pasada (keyakinan yang bijaksana dan kejernihan pandangan pada orang lain).

Apabila para biksu mematuhi winaya, maka mereka akan menjadi masyarakat yang baik yang mendorong timbulnya saddha dan pasada pada orang lain.

Bahkan dalam Mahaparinibbana Sutta, Ketika Ananda bertanya kepada Buddha apa yang akan menjadi guru setelah Ia wafat, Buddha menjawab,

“Apa yang diharapkan dariku, Ananda? Aku telah mambabarkan kebenaran tanpa perbedaan apa pun; karena demi kebenaran, tidak ada yang disembunyikan dalam ajaran Buddha… Adalah mungkin, Ananda, bahwa beberapa di antara kamu, akan timbul pikiran, ‘Kata-kata Sang Guru akan segera berakhir; sebentar lagi kita tidak akan memiliki seorang guru.’

Tapi jangan berpikir seperti itu, Ananda. Bila Aku telah pergi, ajaran dan aturan disiplin-Ku-lah yang akan menjadi gurumu.”

Dan aturan disiplin yang dimaksud dalam Mahaparinibbana Sutta tak lain adalah Winaya.

Abad Modern.

Kembali pada komunitas Sanggha, anggota Sanggha bernama biksu yang harus menjalankan 227 disiplin yang bernama winaya.

Dewasa ini muncul sejumlah postingan di facebook yang mempertanyakan apakah biksu boleh berjualan? Berdagang? Karena disinyalir ada biksu yang terlibat urusan Multi Level Marketing.

Ketika saya diminta pendapat, saya mengatakan dari sisi winaya, ini jelas pelanggaran. Lelakijagat dalam postingannya di grup Umat Buddha Mendukung KPK Menahan Yang Pantas Ditahan, menulis: karena biksu tidak boleh terlibat jual-beli. (Winaya Sutta, Nissaggiya-pācittiya, 19).

Lalu munculah sejumlah postingan foto dari Budi Hermawan, tentang biksu-biksu Therawada di Petailing Street Malaysia. Biksu-biksu itu, berjubah membawa mangkok patta sambil menjajalkan dagangan berupa gelang. Ada juga biksu Thailand yang melakukan Blessing seperti dengan cara memasukan kertas emas ke kepala umatnya. Perlembar kertas emas itu S$ 2. Ini dilakukan di salah satu toko alat-alat sembahyang Buddhis di Singapura.

Sekali blessing 2 dolar, Biksu Thailand di Singapura.
Fotografer:Budi Hermawan

Beragam tanggapan dan komentar:

Terhadap postingan Bro Budi Hermawan di wall saya, saya forward ke grup Buddhayana. Komentar pro dan kontra muncul sebagai berikut:

Teh Choo Sian: Pertama-tama, Petaling Street di kena “Duit ada di seluruh jalan situ”. Lagi sana tidak ada budaya “buat dana” atau “pindapatta”. Biksu-biksu ai manusia juga, perlu wang untuk makan, belanja hidup. Saya pikir karena kehidupan, mereka jual barang di situ.

Gyatso Zangmo: Bro…terima kasih. Gua ga tertarik dengan mengoreksi orang lain. Bro…semua orang punya cara hidupnya sendiri, selama kita belum tahu motivasinya…kita hanya melihat dari pemikiran kita sendiri. Mudah melihat kesalahan orang lain tapi sulit menghargai kebaikan orang lain. Lebih sulit lagi mengakui dan melihat kesalahan sendiri dan berani bertanggung jawab. Teh Choo Siang… ya semua orang butuh uang untuk hidup. Kamu bijaksana dalam melihat situasi, tidak menghakimi orang lain. 🙂 Terima kasih

Eko Nugroho Rahardjo: bisa jadi cuma orang yang pake jubah biku, di Bodhgaya India yang macam ini saya juga bisa ketemu tiap hari, malah mereka bukan berjualan pernak-pernik souvenir tapi agak lebih cerdik, menyambut pengunjung yang keluar masuk kuil dengan pembacaan paritta pemberkahan… kalo ada patroli kamtib mereka buru-buru menyingkir biar gak kena gebuk rotan petugas hehehe… yahh dunia… cari makan susah om… hehehe…

Chrismanto Kusuma: Dalam buku Yoga. Ada tahapan pembersihan yang terbagi 4 tahap. 1. Arambha. 2. Ghata. 3. Parichaya. 4. Nishpatti. Di dalam tubuh manusia ada NADI yang terdiri dari 3 tahap. Sushumna, Ida dan Pingala. Jadi jangan kaget para praktisi kadang berbuat salah yang tdk bisa kita terima secara akal sehat karena ada faktor2 Karma yang menghambat proses Kesucian. Jadi biarkan saja semoga dia menemukan jalan Meditasi yang benar dan semoga semua karma buruknya dapat terkikis pelahan lahan sesuai karma masing2.

Warsito Djufri: Sudah sangat jelas ini Bikkhsu GADUNGAN, ini dikoordinir oleh orang dari Tiongkok! Penjelasan sama seperti Faldly.

Bachtiar Ismail: Dalam Sapurisa Sutta, Buddha mengatakan:
‘Misalnya, ada seseorang yang jahat tetapi ahli dalam Winaya dan ia berfikir, ‘Aku adalah seorangahli dalam Winaya, tetapi yang lainnya bukan,’ dan ia meninggikan dirinya serta merendahkan orang lain.

Inilah Dhamma bagi orang jahat tersebut. Tetapi, orang yang baik berfikir seperti ini, ‘Ketamakan, kebencian dan kebodohan itu tak dapat dihancurkan karena keahlian dalam Winaya.’ Bahkan bila seseorang bukan ahli sama sekali dalam Winaya, ia masih dapat menjalankan latihan sesuai dengan Dhamma, dapat mempraktekkannya dengan benar, dapat hidup sesuai dengan Dhamma; dan, oleh karenanya, ia pantas mendapatkan penghargaan dan penghormatan.’ Setelah menjadikan Jalan Buddha hal yang utama dalam hidupnya, ia tidak meninggikan dirinya ataupun merendahkan orang lain. Inilah Dhamma bagi orang yang baik itu.’ (M.III,39)

Hasan Lo: Terserah ke masing2, mau jadi apatis atau tidak, tapi ingat,  apakah anda pernah menjadi pemula / starter dalam BuddhaDharma ? Bagaimana kondisi anda (luar, dalam dan yg tersembunyi) sebagai starter, coba renungkan ? Apalagi jika starter tertipu oleh Gadungan? Apa yg timbul dalam pikiran / kesan starter tersebut? Apakah kita salahkan karma aja? Seperti umum / biasanya, lebih mudah masalah selesai…hehehe
Sedikit bijaksana bukan berarti membiarkan dan ber- “assume” that life will go on and on and on on on….hehehe

Komentar saya?

Sepanjang yang saya tahu, Buddhisme mengajarkan Ehipassiko: Datang, lihat, buktikan.

Yang Buddha ajarkan adalah ‘penyakit’ itu ada, sumber penyakit ada, penyakit bisa sembuh, ada cara menyembuhkan penyakit itu.

Ketika kita enggan melihat penyakit, berpura-pura tidak tahu, berpura-pura tidak ada penyakit, semua baik-baik saja, berpura-pura bijaksana, atau menghakiminya sebagai aib… bahkan menyalahkan orang yang memberitahu kita sedang sakit, hahaha, dalam pandangan saya… sepertinya kita tak hidup di alam nyata.

Wake up please, meski tak mengenakkan, realita ini ada, sentuhlah dia, kasihanilah dia, bantulah dia.

Kesimpulan

Ketika terjadi biksu melakukan pelanggaran winaya, dengan berdagang dan sebagainya, mungkin kita bisa bersikap macam-macam: tidak mau tahu, terheran-heran, mencercah, tidak mau lihat dan menyalahkan orang yang memberitahu dan sebagainya.

Semua itu sah-sah saja, karena kita adalah pemilik dari pemikiran kita sendiri.

Pertanyaan kemudian, dimana peran Sanggha? Komunitas monastik yang seharusnya melindungi dan menjaga anggotanya?

Kemana peran umat penyokong Sanggha? Yang harusnya menyediakan kebutuhan mendasar Sanggha, sehingga biksu tak perlu terlibat urusan jual beli yang melanggar winaya?

Sedemikian sulitkah penghidupan biksu itu, sehingga harus mencari makan dengan merintis karir di bidang multi level marketing? Lalu apa makna penabhisan sebagai samana dan jubah yang dipakai? Sekedar seragam untuk keperluan upacara?

Ah, entalah. Mungkin, kita ada dalam sebuah masyarakat Buddhis yang ‘sakit’.

SARA adalah Mahakarya Penjajah Belanda

foto dari erepublik.com

Konon, mempertentangkan Islam dengan Tionghoa mulai dilakukan Belanda setelah mengetahui Raden Patah adalah keturunan Tionghoa. Penyelidikan berikutnya setelah menyita dokumen-dokumen di Klenteng Sam Po Kong, mereka lebih kaget lagi, 8 dari 9 Wali yang begitu dihormati dalam siar Islam adalah keturunan Tionghoa!

Kekhawatiran orang Tionghoa, Jawa, Melayu bersatupadu melawan misi 3G(Gold, Glory, Gospel= kekayaan, kejayaan dan misionaris), membuat Belanda memakai politik devide et impera baru, memecah belah Tionghoa dan orang Melayu, Jawa yang mayoritas sudah di-Islamkan oleh 9 Wali.

Di situlah cerita bermula, kebencian berbau SARA pada orang-orang Tionghoa yang sampai hari ini bagai bara dalam sekam di Indonesia.

Sehingga menurut saya, dosa Belanda teramat besar. Secara tak langsung, Belanda bertagungjawab terhadap seluruh kerusuhan berbau etnis di Indonesia hingga hari ini.

Khusus etnis Tionghoa saja, nama: Kali Angke, Tanah Abang, Rawa Bangke menjadi saksi bisu pembantaian orang-orang Tionghoa di Jakarta akibat api kebencian yang disulut Belanda.

Tahun 1740, di Batavia terjadi perebutan kekuasaan posisi Gubernur Jenderal Hindia-Belanda antara Valckenier dan Van Imhoff  yang juga memakai pola mengorbarkan kebencian terhadap orang-orang Tionghoa.

Kuat dugaan, metode sejenis, terus digunakan hingga di alam kemerdekaan ini. Amatilah kerusuhan berbau etnis di Indonesia, kerusuhan tahun 66, 88, seringkali merupakan riak-riak yang diciptakan beberapa petinggi yang tengah memperebutkan kekuasaan.

Ibarat perpatah, Gajah bertarung, pelanduk mati di tengah-tengah. Yang paling dekat saat ini adalah Pikada DKI 1, yang juga coba bermain di air keruh, memancing isu SARA.

Lihatlah kejadian tahun 1740. berlangsung di Batavia dari 9 Oktober hingga 22 Oktober. Sebagian besar sejarawan mencatat sebanyak 10.000 orang Tionghoa yang berada di dalam kota Batavia dibunuh, dan 500 lagi mengalami luka berat. Antara 600 dan 700 rumah milik orang Tionghoa dijarah dan dibakar.Vermeulen mencatat 600 orang Tionghoa yang selamat,sementara sejarawan Indonesia A.R.T. Kemasang mencatat 3.000 orang yang selamat. Sejarawan Tionghoa-Indonesia Benny G. Setiono mencatat bahwa sebanyak 500 tahanan dan pasien rumah sakit dibunuh, dengan jumlah orang yang selamat sebanyak 3.431.

Pembantaian ini disusul oleh periode yang rawan pembantaian terhadap warga keturunan Tionghoa di seluruh pulau Jawa, termasuk satu pembataian lagi di Semarang pada tahun 1741, dan beberapa pembantaian lain di Surabaya dan Gresik.

Angke, Tanah Abang, Rawa Bangke

Pembantaian ini mungkin juga menjadi asal nama beberapa daerah di Jakarta. Salah satu etimologi untuk nama Tanah Abang (yang berarti “tanah merah”) ialah bahwa daerah itu dinamakan untuk darah orang Tionghoa yang dibunuh di sana; van Hoëvell berpendapat bahwa nama itu diajukan agar orang Tionghoa yang selamat lebih cepat menerima amnesti. Nama Rawa Bangke mungkin diambil dari kata bangkai, karena jumlah orang Tionghoa yang dibunuh di sana; etimologi serupa juga pernah diajukan untuk Angke di Tambora, Jakarta Barat. Namun ada yang berpendapat, Angke berasal dari bahasa Hokkian (sungai merah). Karena saat itu mayat-mayat orang tionghoa bergelimpangan di kali itu, sehingga air di kali berwarna merah darah. Vermeulen menyebut pembantaian tahun 1740 ini, sebagai “salah satu peristiwa kelam dalam kolonialisme Belanda pada abad ke-18 yang paling menonjol”.

 Belanda Harus Minta Maaf

Seharusnya kita menuntut Belanda meminta maaf. Karena politik devide et impera yang mereka tanamkan tiga setengah abad lalu, terus mengakar dan menyebabkan kebencian pada orang Tionghoa terus berlanjut. Sebuah konspirasi besar penjajahan bermotif 3G (Gold, Glory, Gospel) yang terus berevolusi, yang dikatakan Bung Karno sebagai neocolonialism.

Neocolonialism

Bung karno, presiden RI pertama berhasil memimpin perlawanan terhadap penjajahan hingga mendeklarasikan Kemerdekaan RI. Namun, ironisnya, sejarah mencatat, Bung Karno sendiri berhasil digulingkan bentuk baru neocolonialism ini.

Saat Bung Karno jatuh, pemerintah Orde Baru didukung Amerika dan kroni-kroninya mulai menancapkan kuku-kukunya di Indonesia.

Mengiringi masuknya modal Amerika dan sekutunya menguras berbagai kekayaan alam dan tambang Indonesia (Gold), gaya hidup, produk dan idiologi barat merajalela (Glory), sekolah dan pusat-pusat kebudayaan Tionghoa ditutup, sekolah dan rumah sakit misionari berkembang pesat (Gospel). Lengkaplah neocolonialism di abad kemerdekaan. Dalam hal ini yang saya bahas, penjajahan kebudayaan Tionghoa oleh kaum misionari.

Hasil penjajahan ini, banyak generasi muda Tionghoa Indonesia tak mengenal budaya nenek moyangnya.

Tahun 1999, saat menjadi design grafis di sebuah percetakan di Kedoya, aku mendengar bos saya yang orang Tionghoa mendapat ucapan selamat tahun baru Imlek dari rekannya, ia menolak dan mengatakan, “Saya tidak merayakan Imlek, saya Kristen” katanya.

Kemudian, setelah reformasi, ada kebijakan berbeda dari kaum misionari. Bila jaman Orde Lama mengangap perayaan Imlek sebagai hari besar Buddha/ Konghucu dan tak perlu dirayakan oleh umat Kristen. Karena erat dengan pemujaan berhala. Namun,  setelah pemerintah Indonesia, Gus Dur lewat keppres No,6/ 2000 menjadikan Imlek libur fakultatif dan pemerintahan Megawati tahun 2000 menjadikan Imlek hari libur Nasional, mungkin supaya tidak kehilangan umatnya yang Tionghoa, beberapa gereja mulai melakukan Misa Imlek?

Dari tahapan itu saya melihat, api dalam sekam bernama SARA yang dimulai Belanda, telah dilanjutkan penguasa Orde Baru, dengan beragam peraturannya yang mendiskriminasikan orang Tionghoa. Puncaknya adalah meletusnya kerusuhan Mei 1998, yang konon menurut beberapa sumber berita, ada jendral-jendral yang adu kekuatan di belakangnya.

Jadi, di perayaan Hut RI ke 67 ini yang ingin saya tanyakan adalah, apakah kita sudah benar-benar merdeka?

Indikatornya adalah: Apakah kita sudah mengelolah hasil bumi dan pertambangan kita sendiri? Apakah kita sudah menggunakan produk anak bangsa sendiri? Apakah kita sudah bangga dengan kebudayaan kita sendiri? Kebudayaan Jawa, kebudayaan Betawi, Kebudayaan Tionghoa, Kebudayaan Melayu, Kebudayaan Bali, maupun Kebudayaan Papua.

Dan terakhir, apakah kita masih belum bisa menghindari isu SARA warisan kolonia Belanda?

Jika jawabannya belum, that’s right, Selamat! Kita masih belum merdeka!

Warning: Tulisan diatas adalah pendapat penulis pribadi, tidak mewakili institusi manapun, juga belum pasti kebenarannya, jadi jangan terlalu dipercaya maupun terlalu tidak dipercaya, hehe.

Bab VI. Cetiya Pertama di Rumah Eddy Tan Tjong Leng

Bab VI. Cetiya Pertama di Rumah Eddy Tan Tjong Leng

“Rumah ini adalah wihara. Dulu, sebelum wihara di sana berdiri, disinilah wiharanya.”

Eddy Tan Tjong Leng
Rumah Eddy Tan Tjong Leng (2012), Cetiya pertama di Palembang, tempat ibadah umat Buddha sebelum Wihara Dharmakirti berdiri.
Rumah Eddy Tan Tjong Leng (1960). Foto diambil oleh Kumuda Dharmatanna, sesaat setelah wisudhi Sapta(7) Upasaka pertama di Seberang Ilir. Waktu itu Wihara Dharmakirti belum berdiri. Wisudhi dilakukan di cetiya yang terletak di ruang tamu rumah Eddy Tan Tjong Leng.

Pada tahun 1960, pusat kegiatan Agama Buddha di 10 Ulu adalah di Wihara Kwam Im (Chandra Nadi), dimana saat itu Romo Tan Ek Kai (Maha Upasaka Padma Nanda) menjadi Locu (Ketua Yayasannya).

Seberang Ulu dikenal sebagai daerah asli masyarakat Palembang, baik Tionghoa maupun Melayu. Ada banyak klenteng di sana. Banyak orang Tionghoa bermukim di sana, yang secara ekonomi kurang mampu. Hanya ada beberapa pengusaha hasil bumi yang sangat kaya seperti Goei Kim Hock.

Tan Ek Kai merupakan sesepuh orang Tionghoa di seberang Ulu. Neneknya sendiri adalah putri Tiongkok beragama Islam, yang menikah dengan keturunan raja-raja Sriwijaya di Palembang. Karena kesaktiannya, makam neneknya kini menjadi tempat yang dikramatkan masyarakat Banyulincir, dan dikenal sebagai ‘Nyai Banyulincir’.

Sedangkan di Seberang Ilir, yang dibatasi sungai Musi, merupakan hunian peranakan atau pendatang, yang secara ekonomi lebih mapan. Ekonomi yang baik dan bentuk bangunan yang moderen, membuat seberang Ilir dianggap daerah kota dibandingkan Seberang Ulu.

Diantara peranakan Seberang Ilir ini adalah Eddy Tan Tjong Leng, saudagar pendatang dari Cirebon. Eddy Tan Tjong Leng yang kaya, menikah dengan wanita kaya di Palembang, membuat beliau menjadi salah satu orang terkaya di Palembang saat itu, selain Goie Kim Hock.

Eddy Tan Tjong Leng (Maha Upasaka Pandita Kumuda Nanda).

“Dialah, bersama Goei Kim Hock merupakan orang pertama yang punya mobil di Palembang,” kata Dr. Jan Hadi, anak dari Romo Tan Ek Kai.

“Kalau ada acara, kita bawa umat pakai mobil Goei Kim Hock. Tapi kalau buat antar jemput Bhante, pakai mobil Eddy Tan. Karena mobil Eddy Tan yang paling bagus,” kata Romo Yangtjik.

Untuk pembabaran Dharma di Seberang Ilir, dibuatlah cetiya pertama di Rumah Eddy Tan. Tempat kebaktian dan pembabaran Dharma dilakukan.

Pada jamannya, Rumah Eddy Tan di Jalan Teratai nomor 1/5571, merupakan rumah mewah di Palembang. Saat kebanyakan rumah masih dari kayu, rumah Eddy Tan yang menjadi cetiya, sudah merupakan rumah tembok berasitektur Belanda.

Di rumah ini pula, Eddy Tan mengalami sendiri bukti kekuatan batin Ashin Jinarakkhita.

Dikatakan, pada suatu hari Eddy Tan yang saat itu duda beranak tiga seharusnya berkunjung ke makam istrinya, tapi ia belum jua berangkat. Sampai akhirnya Ashin Jinarakhhita yang ada di cetiya di rumahnya mengingatkannya:

“Belum berangkat?”

“Kenapa Bhante?”

“Tadi pagi sudah dijemput.”

“Dijemput siapa, Bhante?” kata Eddy Tan heran.

“Istrinya.”

Sekonyong-konyong Eddy Tan menatap aneh Ashin Jinarakkhita. Istrinya sudah lama meninggal. Teman-teman aktivis Buddhis tak pernah mengenal almahum istrinya. Bagaimana bisa biksu muda yang baru muncul ini mengaku tahu istrinya? Melihat istrinya datang menjemputnya?

Di hari tertentu, ia memang rutin mengunjungi makam istrinya. Hari ini, seharusnya ia sudah ziarah ke makamnya. Tapi, perkataan biksu ini sungguh di luar akal sehat.

Untuk membuktikan Ashin Jinarakkhita memang ‘melihat’ kedatangan istrinya, Eddy Tan mengambil sebuah foto, satu dari beberapa orang dalam foto itu adalah istrinya.

 Hebatnya, Ashin Jinarakkhita dengan cepat, tepat menunjuk sosok dalam foto yang tak lain memang istrinya yang sudah meninggal, “ini istrimu yang datang menjemput tadi pagi.”

Sejak itu keyakinan Eddy Tan kepada Ashin Jinarakkhita bertambah kuat.

Wisudhi 7 Upasaka Pertama di Seberang Ilir

Di rumah Eddy Tan Tjong Leng ini pulalah, Ashin Jinarakkhita memberikan wisudhi 7 upasaka pertama di Seberang Ilir Palembang, untuk membantu tugas-tugasnya.

Ketujuh Upasaka pertama di seberang Ilir ini, dikenal sebagai Sapta Kumuda:

  1. Kumuda Nanda (Eddy Tan Tjong Leng)
  2. Kumuda Dharmatanna (Tan Guan Tjai)
  3. Kumuda Putra (Lim Ek Siu)
  4. Kumuda Chandra (Tan Ken Yung Kin).
  5. Kumuda Ratna (Tante Noni) Merupakan Upasika pertama.
  6. Kumuda Siri (William Chia)
  7. Lim Tji Lam (?)

Wisudhi 7 Upasaka Pertama di Seberang Ulu

Setelah itu, rombongan berangkat untuk melantik 7 Upasaka pertama di seberang Ulu.  Tan Ek Kai, sesepuh masyarakat Tionghoa di Seberang Ulu yang hadir saat wisudhi di rumah Eddy Tan Tjong Leng menyertai rombongan ke Seberang Ulu.

Saat itu, jembatan Ampera dan perahu mesin belum ada. Ashin Jinarakkhita muda dan rombongan, menyebrangi sungai Musi dengan sampan (perahu dayung).

Setiba di Seberang Ilir, dengan jubah merah maron berkibar oleh angin, sedikit basah oleh percikan air sungai Musi dari hempasan dayung kayu sampan yang terangkat, beliau melompat dari sampan.

Bertemankan udara pesisir khas berbau ikan, beliau meniti jembatan kayu dan tanah becek. Tak lama, tibalah rombongan di klenteng Kwam Im, dimana Tan Ek Kai sebagai Locu klenteng sudah mempersiapkan acara wisudhi Upasaka di Klenteng Kwam Im, Seberang Ulu .

Ternyata, berbeda dengan di Seberang Ilir, dimana Ashin Jinarakkhita memberi nama wisudhi serba ‘Kumuda’, untuk seberang Ulu ini diberi nama serba ‘Padma’.

 Ketujuh Upasaka pertama di Seberang Ulu ini adalah:

  1. Padma Nanda (Tan Ek Kai)
  2. Padma Kusala (Tji Siang Bo)
  3. Padma Gaya (Ong Kian Gwan)
  4. Padma Mula (Romo Poni)
  5. Padma Chandra (Romo Yangtjik)
  6. Padma…(I Ketut Danging-Brimob)
  7. Padma Sadha (…..

Setelah itu, dengan peran serta pembantu-pembantunya ini, Buddha Dharma berkembang pesat di Palembang. Wisudhi Upasaka terus dilakukan. Dua tahun kemudian, tepatnya 8 Juli 1962 Wihara Dharmakirti berdiri.

Salah satu Upasaka yang kemudian cukup menonjol adalah Upasaka Sri Kumuda Gayasih (Tjia Tian Sun), yang merupakan penulis dan penerjemah buku.

 “Pada awal kebangkitan kembali Agama Buddha di Indonesia dimana bacaan Buddhis dalam Bahasa Indonesia sangat jarang, Kumuda Gayasih sudah banyak menerjemahkan dan menerbitkan buku Buddhis. Kehadiran buku-buku beliau, membawa atmosfer tersendiri bagi mereka yang haus Buddha Dharma,” kata Bhante Dharmavimala.

Buku-buku hasil terjemahan Kumuda Gayasih adalah: Sutra Hati, Sutra Intan, Sutra Pertanyaan Dewa, Vinaya Mahayana, Meditasi Buddhis, Pemadaman Total Tanpa Sisa, Pendekatan yang Benar pada Dharma, Satipatthana dan Anapanasati.

Beberapa dari buku itu, bisa didownload dari grup-grup diskusi Buddhis di Internet, dengan bahasa yang sudah diedit mengikuti EYD (Ejaan yang Disempurnakan). Tapi sayang, ada yang tak mencantumkan Kumuda Gayasih sebagai penerjemahnya.

Masa Tua Eddy Tan Tjong Leng

Kondisi politik di Indonesia tahun 60-an sungguh tak menentu, atau Bung Karno mengatakan ‘Revolusi selalu memakan anak kandungnya sendiri.”

Demikian halnya Eddy Tan. Saat peristiwa PKI meletus dan muncul sentimen anti Tionghoa, dimana kantong-kantong kebudayaan Tionghoa dirusak dan dijarah, Eddy  Tan termasuk ‘anak kandung’ korban revolusi.

Ia sempat ditangkap, percetakan dan hartanya disita dengan semena-mena. Bahkan menurut Bastian Hendrawan (keponakan Biksuni Jinaloka), Romo Eddy Tan yang pernah menjadi orang terkaya di Palembang itu, sampai berjualan kue kering door to door ke rumah kenalannya. “Saya sempat beli, karena saya dan Biksuni Jinaloka cukup dekat dengan beliau,” tulisnya di FB mesengger.

Melalui banyak kesulitan, termasuk masa Ashin Jinarakkhita digoyang oleh muridnya sendiri yang mendapat pengaruh Dhammayut, yang diarsiteki oleh Dharmaduta dari Thailand yang ia undang untuk membantu penabhisan biksu di Indonesia, Upasaka Kumuda Nanda atau Eddy Tan tetap setia kepada Ashin Jinarakkhita.

Melalu proses waktu, Eddy Tan di Seberang Ilir dan Tan Ek Kai di Seberang Ulu, karena jasa-jasanya dalam penyebaran Dharma di Palembang, diangkat menjadi Maha Upasaka Pandita. Sebuah penghargaan yang sangat jarang diberikan, biasanya hanya kepada pribadi yang menunjukkan kualitas pengabdian luar biasa.

Namun sayang, kualitas kesetiaan dan pengabdian yang begitu panjang, akhirnya runtuh oleh penyakit kanker ganas yang  menggerogotinya.

“Menyedihkan, membaca kisah Romo Eddy. Saat sakit dia tak punya biaya berobat. Mungkin inilah yang dimanfaatkan pihak Kristen M,” tulis Bastian.

Terbujuk Kristen M

“Mulanya ada benjolan sebesar bisul di leher Papa. Papa melakukan pemeriksaan ke dokter. Kata dokter, Papa tak bisa dioperasi karena faktor umur dan glukoma. Akhirnya diambil cairan dari benjolah itu untuk dianalisa.

Namun, setelah diambil cairannya, benjolan itu justru tumbuh membesar, hingga sebesar gondok. Rasa sakitnya sungguh mengganggu Papa, Papa cuma ingin sembuh,” kata Metha Maria Tanzil dengan mata lelah, anak dari istri kedua Almarhum Eddy Tan yang kini mendiami rumah bersejarah itu.

Metha Maria Tanzil, anak Almarhum Eddy Tan Tjong Leng dari istri kedua.

“Datanglah keponakan Papa yang beragama Kristen Protestan M. Keponakan itu dan pendetanya menyakinkan, Papa bisa sembuh, bila mengikuti ritual Kristem M.

Papa yang juga pendeta agama Buddha, oleh penderitaannya, sangat ingin sembuh. Itulah yang membuat Papa terbujuk mengikuti ritual penyembuhan Kristen M,” kata Metha yang mencuri waktu pulang dari tempat kerjanya saat jam istirahat makan, untuk menemui kami yang menunggu di depan pagar rumahnya yang selalu terkunci.

“Papa tidak dipermandikan secara Kristen. Namun, dua hari setelah mengikuti ritual mereka, pendeta dari Gereja M dan orang-orangnya datang ke rumah, mereka menyita semua perlengkapan sembahyang di cetiya, altar milik Papa. Tanpa minta ijin dan sebagainya, mereka membawa patung-patung dan barang sembahyang Papa. Tidak tahu dibawa kemana. Sepertinya mereka beralasan papa sakit karena barang-barang itu.”

Bagaimana dengan kondisi Eddy Tan? Apakah membaik sesuai janji pendeta Gereja M?

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Bukannya sembuh dari sakitnya seperti dijanjikan Pendeta itu, setelah mengikuti ritual mereka sampai kemana-mana, kondisi Eddy Tan yang saat itu berumur 70-an justru memburuk.

Sebulan kemudian, Maha Upasaka Kumuda Nanda yang kondisinya kian payah setelah mengikuti ritual Kristen M, jatuh di kamar mandi  dan mengalami pendarahan hebat di benjolannya.

“Dokter Jan Hadi yang kami telepon, membantu dan merekomendasikan Papa ke rumah sakit Carita. Masuk UGD, ” tambah Metha.

“Kemudian, seminggu sebelum meninggal, menurut Mama, Papa minta dipermandikan sebagai Katolik. Kata Mama, Papa takut nanti tak ada yang merawatnya. Karena Mama beragama Katolik, anak Papa dari almarhum istri pertama maupun Mama sebagai istri keduanya juga beragama Katolik.”

Ketika ditanyakan, apakah Mitha mendengar permintaan untuk dikatolikkan langsung dari Papanya, Mitha menjawab ia hanya mendengar dari mamanya, bukan langsung dari papanya.

Saat itu, anak-anaknya juga berpikir risih, apa kata orang nanti, kalau papa yang seorang Maha Upasaka Pandita Agama Buddha, tiba-tiba menjadi Katolik. Tapi kata Mama, permintaan itu datang dari Papa sendiri.

Seminggu setelah dipermandikan secara Katolik, tepatnya 14 Januari 1999, mantan Maha Upasaka Kumuda Nanda (Eddy Tan Tjong Leng) menghembuskan nafas terakhir.

Setelah tulisan ini aku posting di blog harpin.wordpress.com, Bastian Hendrawan (keponakan Biksuni Jinaloka) mengontak lewat Facebook Messengger. Menurut Bastian, dua hari sebelum Romo Eddy meninggal, ia dan Biksuni Jinaloka sempat menjengguknya di rumah sakit:

“Waktu dirawat di rumah sakit beliau sakit keras sudah poisisi gak ingat lagi, saya besuk dengan Bhiksuni Jinaloka , beliau tidak bisa bicara, tapi masih bisa anjali pai Bhiksuni … “.

Menurut Bastian yang saat itu berusian 35 tahunan, sudah lama benjolan itu tumbuh, Eddy Tan sakit tak ada biaya utk berobat . Sepertinya orang-orang sudah lupa dengan jasa-jasa beliau. Entah mengapa, Biksuni Jinaloka menjenguknya juga diam-diam, hanya mengajak Bastian seorang.

“Waktu kami masuk ke ruangan , beliau dibisiki oleh penjaganya ( anaknya ? ) mungkin berkata ada Biksuni, beliau langsung namaskara pelan2, Biksuni terlihat terharu terus diam berdoa , sudah itu kami permisi sama si penjaga, terus dimobil Bhiksuni bilang tadi romo ada ucap salam .. Auummm …., mungkin alasan bahwa romo sdh bukan Buddhis lagi , Biksuni besuk berdua aja sama aku…. Omitofu”.

Posisi dan rak altar cetiya itu tak berubah. Hanya, perlengkapan puja, patung maupun aksesoris Agama Buddha yang menghiasinya sudah tak ada. ‘Disita’ pendeta Gereja M. Kini, di atas altar itu berganti salib, Patung Yesus dan Bunda Maria, serta foto almarhum. Paling kiri adalah foto ayahanda Eddy Tan. Paling kanan adalah foto Almarhum Eddy Tan. Sedangkan yang ditengah adalah foto istri kedua Eddy Tan: Almarhumah Theresia Hewida. Guci di tengah adalah abu almarhumah Theresia Hewida.

Saat rombongan duka Wihara Dharmakirti datang untuk mendoakan dan mengatur upacara kematiannya, istri Eddy Tan menolak dengan alasan sebelum meninggal, Eddy Tan atau Maha Upasaka Kumuda Nanda sudah menjadi Katolik. Jadi, semua upacara dan doa harus secara Katolik.

Kali ini, rombongan duka Wihara Dharmakirti benar-benar pulang dengan duka. Rumah yang pernah menjadi cikal bakal wihara Dharmakirti telah menolak mereka.

Bahkan, mereka tak diijinkan memberikan pelayanan atau doa di akhir hidup Maha Upasaka yang telah banyak berbuat untuk wihara dan Agama Buddha di Palembang.

Saat saya tanyakan ke Bastian, apakah dia maupun Biksuni Jinaloka datang di hari meninggalnya Eddy Tan, karena menurut Bastian, dia dan Biksuni Jinaloka dekat dengan Eddy Tan. Bastian bilang, dia tidak datang, Biksuni Jinaloka sepertinya juga tidak datang, dia tak tahu waktu itu alasannya kenapa.

Theresia Hewida

Istri kedua dari Eddy Tan bukan orang asing bagi pengurus Yayasan Buddhakirti. Sebelum menikah dengan eks Maha Upasaka Kumuda Nanda, beliau adalah guru di sekolah Padmajaya milik Yayaan Buddhakirti di Seberang Ulu.

Almarhumah Theresia Hewida, istri kedua Eddy Tan Tjong Leng. Beliau merupakan mantan guru dan kepala sekolah di SD Padmajaya milik Yayasan Buddhakirti.

Saat menjadi Ketua Komisi Pendidikan Padmajaya (menggantikan Ibu Healthy-istri Romo Tanjung yang pindah ke Jakarta) di Seberang Ulu inilah, Eddy Tan yang saat itu duda beranak tiga berkenalan dengan bakal istri keduanya yang masih muda usia, Theresia Hewida.

Cinta bersemih. Eddy Tan menjadi muda kembali. Sangat bersemangat, dandy dan trendy jika berangkat ke Sekolah Padmajaya di Seberang Ulu dari rumahnya di Seberang Ilir.

Beliau bisa berlama-lama menunggu ibu guru Theresia Hewida  yang tengah mengajar. Ibu guru muda Theresia Hewida  yang beragama Katolik, kemudian diangkat Eddy Tan menjadi kepala sekolah SD Padmajaya.

Akhirnya, mereka menikah dan hidup dalam perbedaan agama. Eddy Tan tetap menjalankan aktifitasnya sebagai aktifis Buddhis, dan istrinya tetap hidup dalam aktifitasnya sebagai aktifis gereja Katolik.

Anak-anak Eddy Tan, baik dari istri pertama maupun kedua, sampai saat ini mengikuti agama istri kedua Eddy Tan, yakni Katolik. Kecuali seorang putrinya dari istri pertama, mungkin mengikuti agama dari suaminya yang bereknis Melayu. Pernikahan putrinya itu, tak direstui Eddy Tan.

Eddy Tan sendiri menjadi Katolik dalam kondisi sakit parah, kesadaran lemah, tidak bisa bicara dan nyaris tak ingat apa-apa, tepatnya seminggu sebelum beliau meninggal.

Informasi kondisi terakhir Romo Eddy Tan didapat secara tak langsung dari kesaksian Bastian di atas, bersama Biksuni Jinaloka mengunjunginya dua hari sebelum beliau meninggal.

Foto keluarga besar almarhum Eddy Tan Tjong Leng minus Eddy Tan Tjong Leng, terdiri istri keduanya Theresia Hewida berserta semua anak, menantu dan cucu-cucunya. Foto direkayasa grafis, karena saat pembuatannya Eddy Tan Tjong Leng maupun Theresia Hewida sudah meninggal.

In Memoriam.

Apakah Metha ingat, hal paling berkesan dari Papanya?

“Dulu, meskipun Wihara Dharmakirti sudah berdiri, setiap waisak rombongan dari Wihara Dharmakirti selalu mengadakan kebaktian di rumah ini. Waktu itu Metha masih SD. Metha tanya ke Papa, ‘Pa, kenapa orang dari wihara sembayang di sini?’ Jawab Papa: ’Rumah ini adalah wihara. Dulu sebelum wihara di sana berdiri, disinilah wiharanya.’”

Keterangan sosok dalam foto tahun 1960 mengikuti abjad di bawah.

  1. (A) Tjie Sian Boh
  2. (B)Tan Yong Huat
  3. (C)Lim Ek Sioe (Kumuda Hema Putra)
  4. (D)So Tjiang Poo (Kemudian dikenal sebagai Yoga Murti).
  5. (E)Eddy Tan Tjong Leng.
  6. (F)Tan Ek Kai (Padmananda Tanzil)
  7. (G)Pandita Dharmarutji Ida Bagus Giri (kemudian lebih dikenal sebagai Biku Girirakkhita)
  8. (H)Injo Hong Hai
  9. (I)Goei Kim Hock (Ketua Yayasan yang Pertama).
  10. (J)Goei Kim Sek
  11. (K)Tan Guan Tjhai (Kumuda Dharmatanna), ayahanda dari Budiarsi dan Sanjaya.
  12. (L)Mertua dari Eddy Tan Tjong Leng.
  13. (M)Istri dari Yogamurti
  14. (N)Istri dari Tan Guan Tjhai (Kumuda Dhanatana), Ibunda dari Budiarsi.
  15. (O)Tante Nonik (Kumuda Ratna), merupakan Upasika pertama di Palembang.
  16. (P)Budiarsi.
  17. (Q)Dr. Jan Hadi S.T, pada saat itu kelas 3 SMU.
  18. (R)Sanjaya (adik dari Budiarsi).
  19. (S)Ashin Jinarakkhita
  20. (T)Adik dari Budiarsi
  21. (U)Toni Tanzil (Anak pertama dari Eddy Tan Tjong Leng dari istri pertama)
  22. (V)Eles Tanzil (Anak kedua dari Eddy Tan Tjong Leng dari istri pertama)
  23. (W)Niko Tanzil (Anak ketiga dari Eddy Tan Tjong Leng dari istri pertama)

Bab V. Akta Pendirian Yayasan Buddhakirti, 1961.

Bab V. Akta Pendirian Yayasan Buddhakirti, 1961

Akta Pendirian Yayasan Buddhakirti, 1961

 

ANGGARAN DASAR JAJASAN JAJASAN

____________________________

Tambahan Berita – Negara R.I. tanggal 14/11 – 1961 No.91

 _______________________________________________

JAJASAN “BUDDHAKIRTI”

 

Nomer 38.

Pada hari ini, hari Rabu, tanggal tudjuh belas Mei seribu sembilan ratus enam puluh satu (17/5 – 1961).

Maka menghadap dihadapan saja, Sie Poo Tjiang, atas kekuatan penetapan Menteri Kehakiman tertanggal enam belas Agustus  seribu sembilan ratus enam puluh nomer J.A.7/8/12, pengganti dari tuan Tan Thong Kie, notaris di Palembang, dengan dihadiri oleh saksi-saksi jang akan disebut dan jang telah dikenal oleh saja, notaris.

I. Tuan Goei Kim Hock, saudagar, tinggal di Palembang, kampung 4 Ulu nomer 541, menurut keterangannja dalam hal ini mendjalani:

a.      untuk diri sendiri;

b.      atas kekuatan kuasa termuat dalam surat kuasa dibawah tangan tertanggal enam belas Maret seribu sembilan ratus enam puluh satu jang dilekatkan pada asli surat akte ini, selaku wakil dari dan karena itu bertindak untuk dan atas nama tuan Tjia Siok Ing, pegawai Pabrik Es Sekanak, tinggal di Palembang, keduanja dikampung 28 Ilir, djalan Pabean nomer 210;

 II.           Tuan Tan Ek Kai, saudagar, tinggal di Palembang , kampung 10 Ulu, djalan     Tembok Baru nomer 560 Rt. Nomer 26, menurut keterangannya dalam hal ini mendjalani:

a. untuk diri sendiri;

b. atas kekuatan kuada termuat dalam surat kuasa dibawah tangan tertanggal enam belas Maret seribu sembilan ratus enam puluh satu jang dilekatkan pada asli surat akte ini, selaku wakil dari dan karena itu bertindak untuk dan atas nama:

1.tuan Tan Thiam Kioe, pedagang ketjil, tinggal di Palembang, kampung 10 Ulu;

2.tuan Lim Tjong Moh, saudagar, tinggal di Palembang, djalan Indrapura nomer

 III.  Tuan Eddy Tan Chong Leng, saudagar, tinggal di Palembang, djalan Teratai nomer 1/5571/Rt.10/20, menurut keterangannja dalam hal ini mendjalani;

a.      untuk diri sendiri;

b.      atas kekuatan kuada termuat dalam surat kuasa dibawah tangan tertanggal enam belas Maret seribu sembilan ratus enam puluh satu jang dilekatkan pada asli surat akte ini, selaku wakil dari dan karena itu bertindak untuk dan atas nama tuan-tuan:

  1. Oen Kian Hoat,pemimpin tjabang Central Trading Company,    tinggal  di Palembang, djalan Tjek Bakar nomer 5;
  2. Lim Ek Sioe, saudagar, tinggal di palembang, Lorong Abdul Hamid nomer 6 ;
  3. Injo Hong Hai, saudagar, tinggal di Palembang djalan Duku nomer 87;

IV.              Tuan Lim Hong Gan, pengusaha pemangkas rambut “Kambodja”, tinggal di Palembang, kampung 20 Ilir, djalan Djenderal Sudirman nomer 5605 Rt.10/20; menurut keterangannja dalam hal ini mendjalani;

a.      untuk diri sendiri;

b.      atas kekuatan kuada termuat dalam surat kuasa dibawah tangan tertanggal enam belas Maret seribu sembilan ratus enam puluh satu jang dilekatkan pada asli surat akte ini, selaku wakil dari dan karena itu bertindak untuk dan atas nama tuan Tan Guan Tjay, Pengurus N.V. Organa dan tuan Tan Jong Khin, pengawai N.V. Organa, keduanja tinggal di Palembang.

 V.                 Tuan Tan Jong Huat alias Hasan, saudagar, tinggal di Palembang, djalan Djenderal Sudirman nomer 115;

 VI.              Tuan Tjia Jan Hoen (Romo Yancik, red) , saudagar, tinggal di Palembang kampung 17 Ilir, Lorong Gedong nomer 7;

 VII.            Tuan Lie Sioe Seng, saudagar di Palembang, djalan Bukit Ketjil nomer 36;

 Para penghadap nomer V dan VI, VII masing-masing telah dikenal oleh saja, notaris sedangkan para penghadap lainnja masing-masing telah diperkenalkan kepada saja, notaris, oleh dua orang teman penghadapnja jang lain, sebagai saksi-saksi jang memperkenalkan.

      Para penghadap untuk diri sendiri dan mendjalani seperti tersebut menerangkan dalam surat akte ini bahwa mereka bersama-sama telah menjendirikan dan memisahkan uang tunai sebanjak Rp. 5.000,- (lima ribu rupiah) jang dipergunakan dan diperuntukkan chusus untuk mendirikan suatu Jajasan dengan aturan-aturan atau anggaran dasar seperti tersebut dibawah ini:

 Fatsal 1.

Nama, tempat kedududukan dan waktu.

  1. Jajasan ini bernama ;”Jajasan Buddhakirti” dan berkedudukan di Palembang, dengan perwakilan-perwakilan ditempat lain jang dpandang perlu oleh Badan Pengurus.
  2. Jajasan ini didirikan untuk waktu jang tidak ditentukan lamanja dan bermulai pada hari ini.

Fatsal 2.

Maksud dan tudjuan.

 Maksud dan tudjuan jajasan ini ialah mendirikan, meneruskan, melangsungkan dan mejelenggarakan Lembaga-lembaga atau usaha-usaha untuk penjiaran, pendidikan, pertumbuhan dan penjempurnaan pengadjaran Buddha Dharma dalam arti-kata jang seluas-luasnja.

 Fatsal 3.

Usaha-usaha.

             Untuk mentjapai maksud dan tudjuan tersebut diatas maka jajasan berusaha:

  1. mendirikan atau meneruskan serta memlihara Vihara-vihara sebagai tempat-tempat peribadatan Umum Buddhis;
  2. mendirikan atau meneruskan serta memelihara tempat-tempat perabuan (crematoria);
  3. mendirikan atau meneruskan serta mengusahakan sekolah-sekolah, kursus-kursus, tempat-tempat pengobatan, pemondokan-pemondokan jatim-piatu atau fakir-miskin;
  4. mengadakan perpustakaan, menerbitkan, menjebarkan atau mengedarkan buku-buku, brosur-brosur, madjalah-madjalah dan /atau naskah-naskah batjaan lainnja;
  5. mendjalankan segala usaha lainnja, asal sadja tidak bertentangan dengan Undang-undang atau anggaran dasar jajasan.

Fatsal 4.

Kekajaan.

  1. Untuk pertama kalinja jajasan mempunyai kekajaan berupa uang tunai sebajak Rp.5000,- (lima ribu rupiah) jang telah disendirikan dan dipisahkan tersebut dan selandjutnja kekajaan diperoleh dari:
    1. sokongan dan sumbangan dari perseorangan dan/atau badan-badan partikulir;
    2. sokongan bulanan tetap, subsidi atau bantuan lain dari pemerintah;
    3. hibah-hibah dan/atau hibah warisan;
    4. penghasilan dari usaha-usaha jajasan sendiri atau penghasilan lainnja jang sah dan tidak bertentangan dengan Undang-undang atau sifat jajasan.
  2. Uang kekajaan jajasan jang tidak segera dibutuhkan untuk keperluan jajasan dapat disimpan pada salah satu Bank atau ditjarikan laba dengan tjara jang akan ditentukan oleh badang pengurus.

Fatsal 5.

Badan pengurus dan badan pengawas.

  1. Jajsan ini diurus oleh suatu badan pengurus jang terdiri dari sekurang-kurangnja lima orang, diantaranya harus ada seorang Ketua, seorang Wakil Ketua, seorang Penulis, seorang Bendahara, dan seorang Komisaris.
  2. Jang boleh dipilih dan diangkat medjadi anggota badan penggurus hanja Warga Negara Indonesia.
  3. Para anggota badan pengurus dan badan pengawas diangkat oleh rapat umum para anggota badan pengurus/badan pengawas untuk dua tahun lamanja dan tiap dua tahun akan diadakan pemilihan anggota badan pengurus dan badan pengawas jang baru, sedangkan anggota jang lama dapat dipilih kembali.
  4. Badan pengurus mewakili jajasan dihadapan dan diluar Pengadilan dan bertindak untuk dan atas nama Jajasan, mengikat jajadan dengan fihak lain atau sebaliknja dan dalam segala hal serta kedjadian badan pengurus berhak untuk melakukan segala tindakan, baik jang mengenai pengurusan maupun jang mengenai pemilikan (daden van beheer en daden van eigendom) dengan tidak terbatas, asal sadja tidak bertentangan dengan anggaran dasar ini.
  5. Badan pengurus berhak memberi kuasa kepada salah seorang anggotanja untuk bertindak untuk dan atas nama jajasan, dengan kuasa-kuasanja jang akan ditentukan oleh badan pengurus,
  6. Badan pengawas berkewadjiban mengawasi pekerdjaan badan pengurus. Badan pengawas baik bersama-sama maupun sendiri-sendiri berhak sewaktu-waktu masuk dalam gedung-gedung dan pekarangan-pekarangan jang dipakai oleh jajasan untuk memeriksa keadaan buku-buku surat-menjurat, teristimewa surat-surat berharga,memeriksa persediaan barang-barang serta harta kekajaan jajasan, badan pengurus diwadjibkan memberi keterangan yang diminta badan pengawas atau salah seorang anggotanja.
  1. Badan pengawas pada setiap waktu berhak memetjat atau memberhentikan badan pengurus atau salah seorang yang anggotanja apabila ternjata bahwa mereka melakukan pekerdjaan jang bertentangan dengan anggaran dasar jajasan ataupun jang merugikan nama baik dari jajasan.

Fatsal 6.

Pengurus Harian.

 Pengurus harian membantu badan pengurus dalam pekerdjaan sehari-hari dan terdiri dari seorang Ketua, seorang penulis dan seorang bendahara.

      Djika perlu dapat diangkat satu atau beberapa orang pegawai jang dapat diberikan gadji/honorarium jang tertentu sesuai dengan kemampuan jajasan.

      Pengurus harian dapat mewakili badan pengurus diluar untuk dan atas nama jajasan, tetapi dengan ketentuan, bahwa untuk memindjam uang, memindjamkan uang, melepaskan hak atas atau memberatkan barang-barang jang tidak bergerak milik jajasan, mengikat jajasan sebagai penanggung, mendjalankan perkara (proses) dan menggadaikan barang-barang bergerak milik jajasan, pengurus harian harus mendapat persetudjuan terlebih dahulu dari badan pengurus.

 Fatsal 7.

Rapat badan pengurus/badan pengawas.

  1. Badan pengurus/ badan pengawas mengadakan rapat sekurang-kurangnja satu kali dalam setahun dan apabila dipandang perlu dapat diadakan setiap waktu atas permintaan seorang ketua atau sekurang-kurannja dua orang-orang anggota badan pengurus.
  2. Rapat badan pengurus/ badan pengawas hanja dianggap sah bilamana lebih dari separuh djumlah anggota badan pengurus dan badan pengawas hadir atau diwakili dalam rapat itu.
  3. Masing-masing anggota badan pengurus dan badan pengawas berhak untuk mengeluarkan satu suara dalam rapat itu.
  4. Setiap keputusan dari badan pengurus bersama-sama badan pengawas jang diambil dalam rapat hanja dianggap sah, djika jang menjetudjui melebihi separoh dari djumlah suara jang dikeluarkan dengan sah dalam rapat, hal mana tidak mengurangi apa jang ditentukan dalam fatsal 11. Bilamana suara itu sama banjaknya, maka Ketua rapat berhak untuk mengambil keputusan demi kepentingan jajasan.

 Fatsal 8.

Perwakilan.

1.      Badan pengurus mengangkat dan memberhentikan wakil-wakil jang berkewadjiban memimpin perwakilan dan memberi segalah perintah serta petundjuk kepadanja.

2.      Wakil-wakil tersebut oleh Badan Pengurus diberi kuasa jang dianggap perlu atau baik untuk melantjarkan pekerdjaan dilingkungan daerahnja/kekuasaanja.

 Fatsal 9.

Tahun buku dan pertanggungan-djawab.

 

  1. Tahun buku jajasan dimulai dari satu Djanuari sampai dengan achir bulan Desember setiap tahun. Selambar-lambatnya bulan Djuni dari tahun berikutnja, untuk pertama kalinja selambat-lambatnja pada bulan Djuni seribu sembilan ratus enam puluh dua, badan pengurus harus membuat suatu neratja dari kekajaan, pendapatan dan pengeluaran jajasan jang harus diletakkan selambat-lambatnja pada tanggal lima belas Djuli dikantor jajasan untuk diperiksa dan diketahui oleh jang berkepentingan.
  1. Pengurus harian diwadjibkan membuat laporan tahunan jang disediakan bersama-sama dengan neratja tersebut di kantor jajasan.
  2. Tiap-tiap perwakilan jajasan diwadjibkan mengirimkan neratja perhitungan kekajaan dan laporan dari keadaan perwakilan selama tahun jang lampau selambat-lambatnja pada tanggal lima belas Mei setiap tahun kepada badan pengurus, dan badan pengurus berhak sewaktu-waktu meminta segala keterangan jang diperlukan olehnja.

Fatsal 10.

Badan penasehat dan badan pelindung.

  1. Badan pengurus dapat mengangkat suatu badan penasehat dan suatu badan pelindung, djika dianggap perlu.
  2. Badan penasehat dan badan pelindung tersebut masing-masing memberikan nasehatnja, bilamana diminta oleh badan pengurus atau  salah seorang anggotanja.

Fatsal 11.

Perobahan anggaran dasar dan pembubaran jajasan.

  1. Untuk merobah atau menambah anggaran dasar ini maka keputusan hanja sah, djika diambil dalam rapat jang dihadiri oleh semua anggota badan pengurus dan badan pengawas dan djika usul jang berkenaan disetudjui oleh sekurang-kurangnja dua pertiga dari djumlah suara jang dikeluarkan dengan sah. Dalam hal ini suara blanco dianggap sebagai suara jang tidak setudju.
  1. Apabila pada rapat pertama tidak semua anggota hadir atau diwakili dengan sah, maka dapat dadakan rapat kedua setjepat-tjepatnya satu minggu, tetapi selambat-lambatnja dalam waktu satu bulan sesudah rapat pertama diadakan.
  2. Dalam rapat kedua ini hanja dapat diambil keputusan jang sah apabila rapat itu dihadiri oleh sekurang-kurangnja dua pertiga djumlah anggota badan pengurus dan badan pengawas dan usul jang berkenaan disetudjui oleh sekurang-kurangnja dua pertiga djumlah suara jang dikeluarkan dengan sah.
  3. Dalam keputusan untuk membubarkan jajasan harus ditentukan djuga tjara mempergunakan sisa kekajaan jajasan dengan memperhatikan dasar tudjuannja.

Fatsal 12.

Aturan rumah tangga.

      Badan pengurus menetapkan aturan rumah tangga untuk mengatur segala hal jang tidak atau tidak tjukup diatur dalam anggaran dasar ini dan pula membuat aturan-aturan lain jang dipandang baik atau berguna untuk lantjar djalannja pekerjaan jajasan. Aturan-aturan itu tidak boleh bertentangan dengan anggaran dasar ini.

 Aturan penutup.

Dengan menjimpang dari apa jang telah ditentukan dalam fatsal 5 ajat 3 diatas tentang tjara pengangkatan para anggota badan pengurus dan badan pengawas, maka untuk pertama kalinja oleh para pendiri jajasan telah diangkat dalam susunan badan pengurus dan badan pengawas sebagai berikut:

 1. Badan Pengurus:

Ketua Umum      : penghadap Goei Kim Hock

Ketua I             : penghadap Eddy Tan Chong Leng,

Ketua II           : penghadap Lim Hong Gan

Ketua III          : penghadap Tan Ek Kai

Penulis I           : tuan Tjie Sian Boh,

Penulis II          : tuan Chia Hock Chiang,

Penulis III         : tuan Wiliam Chia Hock Soey,

Bendahara I     : tuan Lim Tjong Moh,

Bendahara II    : tuan Goei Kim Sik,

Bendahara III  : tuan Tan Bian Kim (K.W. Hartanu, redaksi)

Para pembantu      : tuan-tuan Lim Tjan Seck, Tan Soei Goean, Ong Kian Goean, Tan Gwan Tjay dan penghadap Tjia Jan Hoen (Romo Yancik sekarang, redaksi).

 2. Badan pengawas:

Penghadap Tan Jong Huat alias Hasan, Lie Sioe Seng, tuan-tuan Ida Ketut Dangin, Tan Yoe Tiong, Oen Kian Hoeat, Rambas Wadhwane, Tjia Siok Ing dan Injo Hong Hai, semuanja tersebut . Pengangkatan-pengangkatan tersebut harus diperkuat dalam rapat para anggota badan pengurus/badan pengawas jang akan diadakan untuk pertama kalinja.

      Akhirnja para penghadap untuk diri sendiri dan mendjalani seperti tersebut menerangkan telah memilih tempat tinggal kediaman (domicilie) jang tetap dan umum tentang segala hal jang timbul sebagai akibat dari surat akte ini dikantor Panitera Pengadilan Negeri di Palembang.

            Maka dari apa jang tersebut di atas.

      Dibikin dan dibuat surat akte ini, tertulis, dibatja dan tertanda-tangani di Palembang, pada hari, tanggal, bulan ini, di hadapan tuan Kiagus Husin Hanafiah dan njonja Warsiti Agoes Soelaiman, keduanja pegawai notaris dan tinggal di Palembang, sebagai saksi-saksi.

      Surat akte ini, setelah dibatjakan oleh saja, notaris, kepada para penghadap dan saksi-saksi, maka seketika itu djuga lantas ditanda-tangani oleh para penghadap, saksi-saki dan saja, notaris.

      Dibikin dengan tiga tjoretan, dua tjoretan serta gantian dan dua belas tambahan.

      Akte ini ditanda-tangani oleh:

 GOEI KIM HOCK,

TAN EK KAI,

EDDY TAN CHONG LENG,

LIM HONG GAN,

TAN JONG HUAT alias HASAN

TJIA JAN HOEN, (Romo Jantjik, redaksi)

LIE SIOE SENG,

KIAGUS HUSIN HANAFIAH,

WARSITI AGOES SOELAIMAN

SIE POO TJHIANG,

Diberikan sebagai salinan,

SIE POO TJHIANG.

                                     ———————————————————–

      Pada hari ini, Kemis, tanggal 20 Djuli seribu sembilan ratus enam puluh satu akte ini telah didaftarkan dalam buku register untuk maksud itu jang berada di kantor Pengadilan Negeri di Palembang dibawah nomor 248/1961.

Panitera Pengadilan Negeri

di Palembang,

R.A. HAMID HASANI.

Ongkos-ongkosnja:

Leges               Rp. 6,-

Upah tulis      “ 21,-

                         ______

Djumlah      Rp.27,-

                                                         ____________________

Bab. IV Goei Kim Hock, Ketua Umum Pertama

50 Tahun Wihara Dharmakirti

Bab IV. Goei Kim Hock, Ketua Umum Pertama

Penanaman Pohon Bodhi di halaman Wihara Dharmakirti. Paling kanan (berdasi, membaca teks) adalah Romo Liem Djie Lan (Kumuda Nama), kemudian Goei Kim Hock(berdasi), lalu Biksu Jinapiya, Ashin Jinarakkhita, yang gondrong adalah orang Menado yang kemudian menjadi Biksu Agga Jinametto, memiliki metta yang sangat kuat-gurunya Mahathera Dharmasuryabhumi. Kontributor Foto: Budiarsa Dharmatanna.

Goei Kim Hock (I) adalah Ketua Umum pertama Yayasan Buddhakirti. Saudagar, pedagang hasil bumi, yang menurut akte pendirian Yayasan Buddhakirti, tinggal di kampung 4 Ulu nomor 541, Palembang.

Sebagai saudagar mapan, bersama Lim Cong Mo (Mochtar Salim) mereka menjadi sosok penting donatur awal Yayasan Buddhakirti.

Beliau menjabat Ketua Umum sekitar 2 tahun, lalu terjadi kevakuman karena beliau meninggal dunia. Menurut Romo Tanjung, tahun 1964 posisinya digantikan Lim Cong Mo (Mochtar Salim). Sedangkan menurut surat Soewandi, anaknya Goei Kim Hock, Lim Cong Mo menjadi Ketua Umum tahun 1974. Pada era ini Romo Tanjung Kt menjadi Ketua I, Soewandi menjadi Bendahara I.

Mengikuti memori Romo Tanjung, sebagai pengurus awal di Wihara Dharmakirti, mereka berperan aktif menyelamatkan klenteng-klenteng di Palembang dari serangan KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia)/ KAPI (Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia). Mereka juga membantu proses penggantian nama masyarakat Tionghoa menjadi nama Indonesia, sebagaimana diwajibkan pemerintah Orde Baru.

Menurut catatan sejarah, karena efek G-30S (Gerakan 30 September), tahun 1966 segala sesuatu berbau Tionghoa diserang dan dijarah. Takut dicap PKI, klenteng-klenteng ditinggalkan pengurus dan penganutnya. Sekolah-sekolah Chung Hua diambil alih pemerintah,  dijadikan sekolah negeri.

SD negeri di samping Wihara Dharmakirti contohnya, dulunya adalah sekolah Chung Hua. Universitas Muhammadiyah di Palembang saat ini, dulunya merupakan sekolah Chung Hua. Bahkan Pasar 10 Ulu di Palembang, dulunya adalah wilayah klenteng Chandra Nadi, yang diambil pemerintah setelah meletusnya G-30S.

Salah satu pendiri Universitas Sriwijaya (UNSRI) adalah Lim Tjong Hian (pengacara terkenal di Palembang, Yap Thiam Hien-nya Palembang). Ia mendirikan UNSRI bersama-sama dengan Muhammad Isa dan Ibnu Sutowo (Pangdam Palembang) saat itu. Namun Lim Tjong Hian akhirnya kabur ke Belanda, konon karena dituduh anggota BAPERKI oleh Pemerintah Orba.

Di Jakarta, Universitas Trisakti merupakan Universitas BAPERKI yang disita pemerintah Orba, kepemilikan Universitas Trisakti kini tak jelas. Ada yang berpendapat, sebagai sitaan Orba, sama halnya dengan sekolah-sekolah sitaan lain, seharusnya Universitas Trisakti berstatus universitas negeri.

Mengikuti tahun kejadian ini, serangan KAMI/KAPI ke kantong-kantong kebudayaan Tionghoa, dan peran Wihara Dharmakirti melindungi masyarakat Tionghoa di Palembang saat itu, seharusnya Lim Cong Mo (Mochtar Salim) menjadi Ketua Umum sejak tahun 1964 seperti yang diingat Romo Tanjung.

“Patokannya peristiwa menghadapi KAMI/KAPI itu,” kata Romo Tanjung mengingat-ingat. Menurutnya, Lim Cong Mo menjabat 2 pariode, 1 pariode 4 tahun. Dengan hitungan tersebut, artinya Lim Cong Mo menjabat Ketua Umum sampai tahun 1972. “Setelah Lim Cong Mo, saya yang melanjutkan,” kata Romo Tanjung lagi.

Sejauh ini, ada dua versi  rangka tahun kepermimpinan Lim Cong Mo, yakni versi Romo Tanjung  sejak 1964, dan versi Goei Siang Soei sejak 1974.

Data otentik seperti surat pengangkatan versi tahun 1964 maupun 1974 belum ditemukan. Yang terdapat di dokumentasi Romo Tanjung adalah surat pengangkatan beliau (Romo Tanjung) sebagai Ketua tahun 1978. Surat pengangkatan itu ditanda-tangani drs.Tanjung Kt sebagai Ketua dan Agus Wanagiri sebagai Sekretaris.

Tidak seperti susunan pengurus pariode-pariode awal, surat pengangkatan pengurus tahun 1978 tidak terdapat jabatan Ketua Umum lagi. Posisi paling atas adalah Pelindung, kemudian Penasehat dan dibawahnya adalah Badan Pengurus.

Pada surat pengkangkatan drs.Tanjung Kt sebagai Ketua Pengurus tahun 1978 ini, I Ketut Budra (DEPAG) dan Padma Nanda Tanzil (Tan Ek Kai) duduk sebagai Pelindung. Mochtar Salim (Lim Cong Mo)  dan Yancik HP duduk sebagai penasehat.

Tambahan informasi yang didapat penulis, Romo Yancik, sesepuh Yayasan Buddhakirti (87 tahun) yang kini tinggal di Jakarta mengatakan, “Saya meninggalkan Palembang tahun 1968 akhir, saat itu Romo Tanjung belum aktif sebagai pengurus.” Menurut Romo Yancik lagi, Romo Tanjung mulai aktif setelah dia (Romo Yancik) tidak di Palembang.

 Sudah Bethel

Saat ini, anak-cucu Goei Kim Hock tak ada yang beragama Buddha, meski pada awalnya mereka pernah menjadi pengurus di Yayasan Buddhakirti.

Adalah Bapak Suryadi (Goei Sui Sen) kelahiran 27 Maret 1944 anak beliau yang berhasil kami temui di perumahan elit di Palembang yang kini menjadi pengusaha property, mengaku pernah aktif di wihara Dharmakirti tapi kini beragama Kristen Bethel.

Bapak Suryadi (Goei Sui Sen), anak dari Goei Kim Hock, dulu umat di Wihara Dharmakirti.

Bapak Suryadi dan istrinya menyambut ramah kedatangan kami tim penyusun buku 50 Tahun Wihara Dharmakirti, untuk mencari informasi seputar ayahnya, Goei Kim Hock. Istri beliau, menghubungi saudaranya di Jakarta untuk diwawancarai kami, tapi jawaban di telepon menyatakan ‘mereka sekarang sudah Kristen’, menemukan jalan buntu.

Bapak Suryadi bersama isteri. Semenjak menikah mengikuti agama isterinya. Kini mereka pengikut Kristen Bethel yang taat.

Map dari Soewandi G (Goei Siang Soei)

Di Jakarta, mengetahui saya sedang menyusun buku 50 tahun Wihara Dharmakirti, Mahathera Dharmavimala memberikan map merah ‘Sekelumit Berdirinya Wihara Dharmakirti Palembang’, yang katanya pemberian Soewandi G (Goei Siang Soei) anak tertua Goei Kim Hock, yang berarti kakaknya Suryadi (Goei Sui Sen).

Map itu berisi selembar HVS ketikan mesin tulis satu halaman, dua lembar A3 fotokopi foto2 penanaman pohon Bodhi dan kedatangan Gubernur, Pangdam, Walikota Palembang yang menandakan, keberadaan umat Buddha di Palembang tahun 1962 sudah diakui negara.

Sayangnya, mungkin karena sudah lama diberikan, keberadaan pemberi map itu, anak tertua dari Goei Kim Hock tak bisa dilacak. Alamat dalam kartu nama di map masih memakai alamat rumah di Palembang. Sementara saat dilacak, rumah itu sudah lama dijual.

“Bertahun-tahun aku ingin menemuinya, rumahnya selalu tertutup. Aku bahkan meninggalkan pesan lewat tetangganya, terakhir ke sana rumah itu sudah dijual, penghuninya sudah pindah ke Jakarta,” kata Romo Darwis lewat sms.

Saat ini saya sedang menunggu upaya Romo Tanjung menghubungi Soewandi G (Goei Siang Soei) untuk bisa diwawancara saya, sebagai narasumber dalam penulisan sejarah Wihara Dharmakirti.

 Isi Dokumen Map Merah

Dibawah adalah isi ketikan di atas kertas HVS dalam map merah, yang diberikan Soewandi G kepada Mahasthawira Aryamaitri hampir sepuluh tahun lalu:

 Palembang, July 2003

 Namo Buddhaya,

 “Sekilas  Perjalanan terbentuknya

Wihara dan Yayasan Buddhakirti di Palembang.”

Pada tahun 1960 (maaf lupa bulan) datang ke kantor kami di Jalan Sekanak 29 Ilir, waktu itu orang tua saya berkata kepada saya, ada hwesio mau datang (maklum masa itu hanya tahu hwesio, belum kenal nama biksu).

Setelah itu munculah sdr. Tan Ek Kai, Edy Tan, Goen Tjay, Yan Hoen dan Lim Hong Gan. Dan yang mengenalkan beliau adalah Yan Hoen (Romo Yancik), di situlah kami mengenal Ashin Jinarakkhita.

Yang pertama membuka suara adalah sdr, Goen Tjay. Inti dari pembicaraan adalah:

  1. Asal mula penganut ajaran Buddha di Palembang.
  2. Belum ada prasana yang mendukung, saat ini semua kegiatan masih dipusatkan di klenteng.

 Dari hasil pembicaraan itu:

  1. Sdr. Tan Ek Kai sebagai sesepuh di Seberang Ulu menjadi orang yang mengembang tugas.
  2. Goei Kim Hock menjadi koodinator dana (bendahara). Lokasi akan dicari bersama-sama.

 Masalah dialog itu masih aku ingat, karena ikut hadir.

Akhirnya lokasi didapat di Jalan Kamboja, berikut bangunan sekolah lama lantai masih tanah dan semen. Saat peresmian, digelar tikar sebagai tempat duduk. Untunglah saudara Yan Hoen (Romo Yancik) cukup aktif bergerak ke sana-sini membantu, dan saya yang lebih muda saat itu, menjadi ajudan orang tua saya menyediakan mobil Suburban untuk transportasi wihara.

Bangunan awal Wihara Dharmakirti, merupakan 3 ruang kelas dari kayu yang dibeli dari Sekolah Chung Hua.

Orang tua menyumbangkan Teraso Ubin merah dan hijau.

Pada masa itu, di Palembang tak ada yang bisa membuatnya, apalagi keramik. Semuanya harus dipasok dari Surabaya, beruntunglah kami memiliki stok karena sedang membuat rumah. Keramik-keramik dan teraso itu lalu dipasang di lantai wihara dan juga kantor seksi duka.

Setelah orang tua saya meninggal, terjadi kevakuman posisi ketua umum.

Untunglah tahun 1974, Ibu Kartina Ellis mulai menonjol dalam menggalang dana. Dari perkembangan itu, dibentuklah pengurus baru:

Ketua Umum : Mochtar Salim

Ketua I             : Tanjung Kt

Bendahara I   : Soewandi G

Bendahara II : Romo Cek Ba

Setelah tahun 1982, saya hadir bersama sdr. Tjoe Tjoe dan Cek Ba di Pacet, langsung saya mengundurkan diri sebagai pengurus dan umat di Dharmakirti.

Tidak tahu apa yang menggerakkan, awal Juli 2003 saya berkunjung ke Wihara Dharmakirti, dan saya gembira melihat kemajuan dan kemegahan wihara, dan saya dengar setiap minggu umat begitu banyak.

Sampai saat ini saya belum kenal ketua umum  maupun pengurus.

Kiranya saya ingin mengucapkan terima kasih  mewakili para pendiri dan pionir yang telah wafat, yang mana jerih payah mereka telah terkabul atas jasa Ketua Umum dan pengurus sekarang ini. Mudah-mudahan, ada kesempatan bertemu muka untuk mengucapkan terima kasih secara langsung.

Namo Buddhaya

Semoga Bahagia dan Sukses Selalu

Dan Selalu Dilindungi oleh Sang Tri Ratna

Soewandi G (Goei Siang Soei)

  1. Fotografer saat itu
  2. Ajudan orang tua saya Goei Kim Hock (Ketua Umum Pertama Yayasan Buddhakirti)
  1. Salah satu pendiri GP2BI (Gerakan Pemuda-Pemudi Buddhis Indonesia) 1961
  2. Bendahara I pariode 1974 Yayasan Buddhakirti

 

Bab3. Rumah Kapiten Tan Ek Kai

“Pada mulanya, datang menghadap ke rumah papa (Kapiten Tan Ek Kai), adalah Inyo Hong Hai, Lim Hong Gan, Eddy Tan Chong Leng pada bulan Mei 1960/61, yang meminta dukungan Tan Ek Kai sebagai pemimpin masyarakat Tionghoa, karena Palembang akan kedatangan seorang Biksu untuk pembabaran Buddha Dharma.”

 Dr. Jan Hadi S.T

Rumah Kapiten Tan Ek Kai,
kini menjati tempat penjualan kayu tua.

“Rumah enkong ada dua. Yang satu di sebelah sini, tempat enkong tinggal. Satunya di seberang kali, yang dihubungkan jembatan kayu,” kata Romo Sutanto, cucu Kapiten Tan Ek Kai, menunjuk sebuah rumah kayu lain di seberang kali.

“Rumah yang di seberang baru selesai dibangun. Jadi Sukong siang ceramah di rumah engkong yang ini, malamnya ceramah lagi di klenteng Kwam Im (Chandra Nadi) , terus malamnya tidur di rumah enkong yang baru selesai dibangun yang dihubungkan jembatan kayu,” lanjut Romo Tanto, pendiri dan ketua pertama Keluarga Mahasiswa Buddhis Palembang tahun 83-85, yang menyukai meditasi.

Meski kedua rumah tersebut kini bukan milik keluarga Tan Ek Kai, kami masih bebas menyusurinya, karena orang melayu pemilik baru kedua rumah itu sangat ramah.

Di rumah sebelumnya, anak muda berkulit hitam terpanggang matahari yang menyambut mengatakan,“Silahkan, anggap saja rumah sendiri.” Ia sedang dikop(buang angin) menggunakan tanduk kerbau oleh seorang berkopiah putih yang dipanggil Pak Haji.

Anak pemilik rumah yang sekarang,
sedang dikop buang angin saat kami berkunjung.

“Permisi yah,” kata Romo Tanto masuk ke sana-sini mengingat-ingat posisi Ashin Jinarakkhita duduk dan membabarkan Dharma.

Romo Tanto di dalam rumah yang pernah menjadi rumah Kapiten Tak Ek Kai, kakeknya. Tempat Ashin Jinarakkhita pertama kali ceramah.

Dari rumah Enkongnya, keluarga besarnya dulu tinggal, kami menuju rumah baru mereka di seberang jembatan, yang  dipakai sebagai kuti Ashin Jinarakkhita dan murid-muridnya awal berkunjung ke Palembang.

Rumah baru Tan Ek Kai diseberang jembatan
yang menjadi kuti Ashin Jinarakkhita.

“Sukong tidurnya di sini, di dalam. Ini kamarnya Sukong” katanya menunjuk sebuah pintu kamar kayu yang tertutup rapat.

Entah mengapa, setelah sekian lama, setelah 50 tahun kedatangan beliau dan menginap di rumah itu, aku masih merasakan getaran damai di sana, di rumah kayu kuno tersebut, yang  mirip dengan kuti saya di Myanmar dulu. Sekujur sendi dalam tubuh ini, serasa bergetar melihatnya,haru.

Kamar Ashin Jinarakkhita, pertama kali bermalam di Palembang,
‘aura’ damainya masih terasa.

“Nah, kalau murid sukong, Pandita Dharmarutji  Ida Bagus Giri, yang kelak menjadi Samanera Giri terus menjadi Bhikkhu Girirakkhita, tidurnya di kamar yang itu, yang ada di teras belakang,” kata Romo Sutanto bersemangat menelusuri lorong-lorong masa kecilnya. Dalam kunjungan ini, ia bertemu teman masa lalunya yang sudah 20 tahun tak bertemu.

Bagian belakang rumah baru Tan Ek Kai yang menjadi kuti Ashin Jinarakkhita, terdapat kamar kamar untuk muridnya Pandita Dharmarutji Ida Bagus Giri (yang kemudian dikenal sebagai Bhikkhu Girirakkhita)

Jadi, rumah baru Kapiten Tan Ek Kai yang terletak di Kampung 10 Ulu, Jalan Tembok Baru nomer 560, Rt.26 inilah, yang menjadi basecamp Ashin Jinarakkhita saat pertama kali berkunjung ke Bumi Sriwijaya.

Berita Kedatangan Biksu ke Palembang

Menurut Dr. Jan Hadi (Q), putra dari Tan Ek Kai, paman dari Romo Sutanto, yang saat kedatangan Ashin Jinarakkhita duduk di kelas 3 SMU:

“Pada mulanya, datang menghadap ke rumah papa (Kapiten Tan Ek Kai) adalah Inyo Hong Hai, Lim Hong Gan, Eddy Tan Chong Leng pada bulan Mei 1960/61, yang meminta dukungan Tan Ek Kai sebagai pemimpin masyarakat Tionghoa, karena Palembang akan kedatangan seorang Biksu untuk pembabaran Buddha Dharma.”

Kapiten Tan Ek Kai

Kapiten Tan Ek Kai merupakan pimpinan masyarakat Tionghoa di  Seberang Ilir Palembang. Ia seorang saudagar, juga sinshe ahli patah tulang,

Mendengar akan datangnya biksu membabarkan Buddha Dharma, beliau yang sebelumnya sedikit mengenal agama Buddha dari buku Kwe Tek Hoay, sangat bersemangat.

“Kemudian, setelah pertemuan itu datanglah Ashin Jinarakkhita,” lanjut Dokter Jan Hadi yang kelahiran 27 Juli 1939. Tokoh-tokoh masyarakat Tionghoa bahu membahu mengumpulkan orang mendengar ceramah Ashin Jinarakkhita.

Dr.Jan Hadi S.T, anak dari Tan Ek Kai, wakil ketua GPBI yang pertama, ketua GPBI pariode kedua, GPBI adalah organisasi pemuda pertama di Wihara Dharmakirti.

Wakil Ketua GPBI Pertama

Tahun 1964 Dr. Jan Hadi menjadi Wakil ketua GPBI (Gerakan Pemuda Buddhis Indonesia) dimana ketuanya adalah Tan Cong Leng, lalu pada pariode kedua, dia menjadi ketua GPBI.

GPBI merupakan organisasi pemuda pertama di Wihara Dharmakirti.

Dalam kesibukan aktifitasnya, Dr Jan Hadi S.T bertemu kekasih yang menjadi pendamping hidupnya, wanita Singapura berdarah melayu. Ia menikah secara Islam di Singapura, kemudian menikah lagi secara Tionghoa di Palembang.

Kemudian ia menghadap Sukong di Pacet bersama isterinya, dan melaporkan dia sudah masuk Islam, karena menikah dengan wanita Muslim.

Reaksi Sukong sungguh di luar perkiraannya. Sukong mengatakan “Bagus, sukong dulu juga berlajar dari Islam.”

Ia dan istrinya yang awalnya ketar-ketir, jadi bersemangat. Kemudian istrinya membiarkan saja, saat ia ciamsi di Pacet.

Istri dan anak-anaknya menetap di Singapura. Karena pernikahan, kedua anaknya kemudian tak lagi beragama Islam, kecuali dirinya dan istrinya.

“Saya muslim yang berpikiran Buddhis” katanya menutup pembicaraan.

Saat ini Dr. Jan Hadi masih berpraktek sebagai dokter, juga menjadi pengurus di PB.PBSI (Pengurus Besar Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia) dengan jabatan Hubungan Luar Negeri.

Dr. Jan Hadi S.T, istri dan kedua anaknya.

                                                     *********

Romo Yancik (Tjia Jan Hoen), Pendiri Yayasan Buddha Kirti

“Awal kedatangannya, Sukong datangnya sendiri, diiringi dayaka tentunya, tapi saya lupa siapa dayakanya, “ kata Romo Yancik (Tjia Jan Hoen),  satu-satunya pendiri Yayasan Buddha Kirti yang masih bisa ditemui, yang 13 Juli 2012 ini menginjak 87 tahun, tetap sehat tanpa tongkat, kadang masih menyupir sendiri. Selamat Hari Berkelanjutan Romo.

Romo Yancik (Tjia Jan Hoen)- 87 tahun, duduk tepat di depan laptop, satu-satunya pendiri Yayasan Buddha Kirti yang masih hidup. Di sebelahnya(berkacamata) adalah adik bungsunya. Duduk di atas kursi (berkacamata) adalah Romo Tanjung (mantan ketua Yayasan Buddha Kirti) suami dari adiknya tersebut. Sedangkan yang duduk di kursi putih adalah istri Romo Yancik.

Menurut Romo Yancik, setelah melihat dukungan masyarakat di Palembang, Ashin Jinarakkhita rutin ke Palembang diiringi rombongannya seperti Biksu Jinapiya (kemudian dikenal sebagai Bhikkhu Thitaketuko, Pandita Dharmarutji Ida Bagus Giri (Kemudian dikenal sebagai Bhikkhu Girirakkhita), Yogamurti (Upasaka So Tjiang Poo), Ibu Parwati, Oka Diputra dan sebagainya.

Romo Yancik yang saat itu berumur 37 tahun, rumahnya di dekat Klenteng Kwam Im (Chandra Nadi) mengatakan, saat kedatangan Ashin Jinarakkhita mereka sama sekali belum tahu agama Buddha.

“Barulah saat kedatangan sukong, kita tahu apa itu Dharma. Siapa itu Siddharta, oh ternyata beliau orang India dan sebagainya.”

“Sukong memang luar biasa, kita sebagai wong Palembang waktu itu belum tahu Bukit Siguntang adalah tempat bersejarah yang sakral. Kita tahunya daerah itu angker.

Tapi Sukong sudah nanya Bukit Siguntang dimana? Barulah kita cari-cari dan mengantar beliau ke sana. Di situ rupanya Sukong minta ijin, untuk membabarkan Buddha Dharma di Palembang”.

Ternyata belakangan mereka tahu Bukit Siguntang memiliki kaitan erat dengan Sriwijaya.

Romo Yancik kemudian menjadi salah satu pembantu utama Ashin Jinarakkhita, atau dikenal sebagai sekretarisnya sukong.

Dua Pilar Buddhayana di Jakarta

Setelah hijrah ke Jakarta, bersama Ibu Parwati mereka menjadi dua pilar utama Buddhayana di Jakarta. Ada segelintir isu beredar, bila mau jatuhkan Sukong di Jakarta, rebutlah kedua pilar ini. Tapi sayang, kedua pilar ini adalah pilar setia, yang tak bisa dibeli dengan apapun, apalagi dengan uang dan jabatan. Kesetiaan mereka sudah teruji oleh waktu.

Romo Yancik jugalah, bersama sahabatnya yang memperluas tanah Wihara Dharma Bhakti di Jelambar dari hanya sebuah klenteng kecil, menjadi lebih luas seperti sekarang.

                                                      *******

Klenteng Kwam Im (Chandra Nadi)

Setelah mengantar kami melihat rumah engkongnya (Tan Ek Kai) dulu, Romo Darwis dan Romo Sutanto mengajak kami ke klenteng Kwam Im (Chandra Nadi), klenteng tempat pertama Ashin Jinarakkhita ceramah di Palembang.

Klenteng Chandra Nadi, klenteng pertama kali
Ashin Jinarakkhita berceramah di Palembang.

Sebelum mengenal Buddha Dharma, almahum Biksu Vajragiri, pernah menjadi Locu di Klenteng ini, beliau pertama bertemu Ashin Jinarakkhita di klenteng ini.

Kami mencapai Klenteng Kwam Im dengan berjalan kaki sekitar 200 meter dari rumah Kapiten Tan Ek Kai. Klenteng ini terletak di 10 Ulu, di depan rumah Romo Yancik saat itu.

Asal Mula Mpek-Mpek Palembang

“Pada masa itu, daerah Seberang Ulu, merupakan daerah pecinan,” kata Romo Tanto, “Mpek-mpek yang menjadi makanan khas Palembang, lahir di 10 Ulu ini. “

“Dulu, ada apek-apek (bapak tua) yang kreatif, memodifikasi bakso ikan menjadi bentuk lain yang dimakan dengan cuko. Apek itu berjualan keliling di 10 Ulu dengan memakai keranjang rotan.

Dagangannya laris, tiap kali orang menunggunya lewat dan memangil Apek!!! Ada juga yang memanggilnya Mpek!!! Lama-lama jadilah kata Mpek-mpek, hahaha..!”

Karena laris, akhirnya banyak yang meniru dan menjualnya. Jadilah mpek-mpek makanan khas Palembang.

“Mpek-mpek Palembang yang terkenal kan dari 10 Ulu ini. Dulu berderet ha orang menjualnya di sini,” tutur Romo Tanto menunjuk deretan rumah kayu di samping klenteng.

Mpek-Mpek Palembang

                                                                  ******

(Bersambung…)

Bab 2. Palembang, Wong Kito Galo

50 Tahun Wihara Dharmakirti

Bab 2. Palembang, Wong Kito Galo

Di dalam foto itu, berdiri di belakang Ashin Jinarakkhita adalah seorang pemuda yang tampak tinggi gagah (g). Siapakah dia? Tak lain adalah murid beliau: Pandita Dharmarutji Ida Bagus Giri (kelak dikenal sebagai Bhikkhu Girirakkhita).

Karena keterbatasan akomodasi, saya tak bisa bergerak sendiri. Niat menjelajah nusantara mengungkap jejak beliau, tersimpan dalam memori.

Saya hanya melakukan ‘penggalian’ bila kebetulan ke daerah. Seperti menghadiri pernikahan keponakan di Jambi, saya manfaatkan ke Wihara Sakyakirti Jambi, yang saya tahu menyimpan jejak kuat beliau dalam menabur Dharma di Nusantara.

Maka, tawaran Romo Darwis, saya tanggapi antusias. Menulis buku 50 Tahun Wihara Dharmakirti berkaitan erat dengan kedatangan Ashin Jinarakkhita di Palembang, menabur Dharma di bumi Sriwijaya, sekian lama setelah Buddha Dharma lenyap bersamaan runtuhnya kedatuan Sriwijaya.

Segera saya pesan tiket Jakarta-Palembang PP lewat sms. Tiket dikirim by email dan aku print sendiri.

Begitu menginjakkan kaki di Wihara Dharmakirti, kami sudah ditunggu Romo Darwis rapat di perpustakaan.

Rapat dengan Romo Darwis

Kedua foto hitam putih yang pernah aku pasang di blog, menjadi kunci masuk menulis sejarah Wihara Dharmakirti. Karena seperti di Jambi, sejarah Agama Buddha di Palembang setelah ‘habisnya’ Sriwijaya dimulai dengan masuknya Ashin Jinarakkhita ke Palembang. Bahkan Ashin Jinarakkhita lebih dulu ke Palembang (1960), sebelum melanjutkan penyebaran Dharma ke Jambi tahun 1964.

Setelah rapat singkat, kami langsung bergerak. Selama 3 hari, napak tilas ke tempat-tempat yang pernah Ashin Jinarakkhita kunjungi, Menyusuri tempat beliau pertama kali menginap, pertama kali ceramah.

Kami mencari anak cucu para pendiri dalam foto hitam putih di blog aku, dan juga, nama-nama dalam akte pendirian Yayasan Buddhakirti.

Ternyata,Romo Sutanto, dosen Fakultas Teknik Unsri (Universitas Sriwijaya) yang mengantar saya napak tilas, merupakan cucu Tan Ek Kai (F), salah satu pendiri Yayasan Buddha Kirti.

Romo Sutanto, cucu dari Kapiten Tan Ek Kai.

Siap membawa kami menelusuri jejak
Ashin Jinarakkhita.

Diantar Mobil Yayasan Buddhakirti, Romo Darwis dan Romo Sutanto, kami menuju Seberang Ulu, rumah Enkong Romo Sutanto yang merupakan rumah masa kecil Romo Sutanto.

Sekitar lima belas menit setelah melalui jembatan Ampera, tibalah kami di deretan rumah kayu di Seberang Ulu, yang menggambarkan Palembang tempo doeloe.

Romo Sutanto, di depan rumah lama engkong yang bagian depannya sudah dibongkar, kini menjadi tempat penjualan kayu tua. Di rumah inilah Ashin Jinarakkhita pertama kali ceramah di Palembang.

“Ini rumah Enkong dulu, tapi depannya sudah dibongkar yah? Tunggu bentar, aku minta ijin orangnyo,” kata Romo Tanto bergerak masuk ke salah satu rumah kayu tersebut, yang kini bukan milik keluarganya lagi.

Di rumah kayu Kapiten Tan Ek Kai ini, tokoh masyarakat Tionghoa di Palembang saat itu, Ashin Jinarakkhita dan muridnya Biksu Jinapiya (kemudian dikenal sebagi Bhikkhu Thitaketuko) dan Pandita Dharmarutji Ida Bagus Giri (kelak dikenal sebagai Bhikkhu Girirakkhita) menghabiskan hari pertama di Palembang. Di rumah kayu di Seberang Ulu Palembang, yang masih berdiri hingga kini.

Perlu diketahui, secara geografis, Palembang terdiri dua wilayah daratan dipisahkan sungai Musi, yakni Seberang Ulu dan Seberang Ilir. Tahun 1962, Presiden Soekarno dengan tenaga ahli Jepang, membangun jembatan Ampera dari harta rampasan Jepang, menghubungkan kedua wilayah ini, sehingga perjalanan tak harus menggunakan angkutan laut lagi.

Rumah Kapiten Tan Ek Kai terletak di Seberang Ulu, sedangkan Wihara Dharmakirti yang belakangan dibangun terletak di Seberang Ilir.

Sejarah Palembang

Sriwijaya adalah kemaharajaan bahari Buddhis yang pernah berdiri di pulau Sumatera dan banyak memberi pengaruh di Nusantara. Daerah kekuasaannya membentang dari Kamboja, Thailand Selatan, Semenanjung Malaya, Sumatera, Jawa, dan pesisir Kalimantan.

Bukti awal keberadaan Sriwijaya berasal dari abad ke-7; seorang biksu dari Tiongkok, I Tsing, menulis bahwa ia mengunjungi Sriwijaya tahun 671 dan tinggal selama 6 bulan. Selanjutnya prasasti paling tua mengenai Sriwijaya dari abad ke-7, yaitu prasasti Kedukan Bukit di Palembang, bertarikh 682.

I Tsing melaporkan Sriwijaya menjadi rumah bagi sarjana Buddha, pusat pembelajaran agama Buddha. Terdapat 1000 biksu berguru pada Sakyakirti, seorang biksu terkenal di Sriwijaya.

Di akhir abad ke-8 beberapa kerajaan di Jawa, Tarumanegara dan Holing di bawah kekuasaan Sriwijaya. Menurut catatan, masa ini pula wangsa Sailendra bermigrasi ke Jawa Tengah dan berkuasa disana.

Setelah Dharmasetu, Samaratungga menjadi penerus kerajaan. Ia berkuasa periode 792 sampai 835. Tak seperti Dharmasetu yang ekspansionis, Samaratungga tak melakukan ekspansi militer, tapi memilih memperkuat penguasaan Sriwijaya di Jawa. Selama masa kepemimpinannya, ia membangun candi Borobudur di Jawa Tengah, selesai tahun 825.

Borobudur

Akhir Abad ke 9, Sriwijaya mulai mengalami kemunduran karena peperangan, di antaranya serangan raja Dharmawangsa Teguh dari Jawapada tahun 990, dan serangan Rajendra Chola I dari Koromandel tahun 1025. Selanjutnya, tahun 1183 Sriwijaya di bawah kendali kerajaan Dharmasraya.

Sriwijaya menjadi simbol kebesaran Sumatera awal, dan kerajaan besar Nusantara selain Majapahit di Jawa Timur.

Pada abad ke-20, kedua kerajaan Buddhis ini menjadi referensi kaum nasionalis, untuk menunjukkan Indonesia merupakan satu kesatuan negara sebelum kolonialisme Belanda.

Senjakala Kerajaan Hindu-Buddha di Nusantara

Laksamana Cheng Ho

Laksamana Sam Po Bo atau Laksamana Ceng Ho adalah kasim Muslim kepercayaan Kaisar Yongle dari Tiongkok (berkuasa tahun 1403-1424), kaisar ketiga dari Dinasti Ming.

Keberadaan Laksamana Cheng Ho tak bisa dipisahkan dari Palembang dan berkembangnya siar Islam di kepulauan Nusantara. Masyarakat Tionghoa Muslim/Hanafi pertama di bumi Nusantara dibentuk Laksamana Cheng Ho di Palembang, padahal saat itu agama masyarakat setempat adalah Buddha Wajrayana.

“Tahun 1405-1425 Armada dinasti Ming dibawah pimpinan Laksamana Sam Po Bo berhasil menguasai perairan dan pantai-pantai Nan Yang (Asia Tenggara).

Tahun 1407, armada dinasti Ming berhasil merebut Kukang(Palembang) yang secara turun-temurun menjadi sarang perampok orang-orang Tionghoa non Muslim dari Hokkian. Cen Cu Yi, kepala perampok ditawan, dirantai dan dibawa ke Tiongkok. Ia mati dipancung di muka umum, sebagai peringatan untuk orang-orang Hokkian di seluruh Nan Yang. Di Kukang dibentuk masyarakat Tionghoa Muslim/Hanafi yang pertama di kepulauan Indonesia. Tahun itu juga didirikan masyarakat Tionghoa Muslim/Hanafi yang kedua di Sambas.” Prof. Slamet Muljana, Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara.

Kedatantangan Laksamana Cheng Ho, selain mengembang tugas Kaisar Yongle, Dinasti Ming, juga membawa misi pribadi siar Islam. Di tiap kepulauan yang dilaluinya, beliau membentuk masyarakat Tionghoa Muslim, dan menempatkan orang kepercayaannya sebagai kapten Masyarakat Tionghoa di daerah tersebut untuk siar Islam, sebuah agama baru di Bumi Nusantara, berbeda dengan agama yang dianut penduduk Nusantara saat itu: Hindu-Buddha.

Tercatat Laksana Ceng Ho 4 kali mengunjungi Palembang. Kedatangan berikutnya tahun 1413–1415M, 1421–1422M, dan tahun 1431–1433 M.

Hingga kini, kita bisa melihat misi siar Laksamana Cheng Ho sukses besar, Islam menjadi agama mayoritas masyarakat Indonesia menggantikan agama Hindu-Buddha yang pernah ada.

Arya Damar (Swan Liong)

Pertengahan abad 14, Palembang telah menjadi daerah taklukan Kerajaan Majapahit. Palembang dibawah pemerintahan bupati yang diangkat Majapahit.  Beliau adalah Arya Damar (Swan Liong atau Jaka Dilah atau Ario Damar atau Ario Abdilah).

Siapakah Arya Damar?

Menurut kronik Tiongkok dari  Klenteng Sam Po Kong Semarang, Arya Damar atau Swan Liong (Naga Berlian) adalah putra raja Majapahit bernama Yang-wi-si-sa yang lahir dari seorang selir Tionghoa. Mungkin Yang-wi-si-sa sama dengan Hyang Wisesa atau mungkin Hyang Purwawisesa. Kedua nama ini ditemukan dalam naskah Pararaton.

Swan Liong bekerja sebagai kepala pabrik bahan peledak di Semarang. Pada tahun 1443 ia diangkat menjadi kapten Tionghoa di Palembang oleh Haji Gan Eng Cu, kapten Tionghoa di Jawa.

Swan Liong di Palembang memiliki asisten bernama Bong Swi Hoo. Pada tahun 1445 Bong Swi Hoo pindah ke Jawa dan menjadi menantu Haji Gan Eng Cu. Pada tahun 1451 Bong Swi Hoo mendirikan pusat pengajaran agama Islam di Surabaya, dan ia pun terkenal dengan sebutan Sunan Ampel.

Swan Liong di Palembang memiliki istri seorang bekas selir Kung-ta-bu-mi (Bhre Kertabhumi) raja Majapahit. Dari wanita itu lahir dua orang putra bernama Jin Bum (= Orang Kuat) dan Kim San (= Gunung Emas).

Pada tahun 1474 Jin Bum dan Kim San pindah ke Jawa untuk berguru kepada Bong Swi Hoo alias Sunan Ampel. Bong Swi Hoo, menantu dari kapten Haji Gan Eng Cu kemudian menggembleng Jin Bum dan Kim San untuk siar Islam.

Tahun 1475, Jin Bum diperintahkan Bong Swi Ho atau Sunan Ampel membentuk masyarkat Tionghoa Muslim di Pantai Utara Jawa, di kaki gunung Muria, menggantikan masyarakat Muslim Tionghoa di Semarang yang mulai murtad. Sedangkan Kim San diperintahkan menjadi barisan kelima dalam kraton Majapahit, bertugas mengumpulkan informasi dari kraton Majapahit mengantikan Haji Ma Hong Fu.

Raden Patah kemudian mendirikan kerajaan Demak. Selanjutnya, dalam buku best seler Sabdapalon karya Damar Shashangka terbitan Dolphin, menceritakan untuk menghindari perang dengan anaknya sendiri, Raja Brawijaya yang merupakan raja Majapahit yang terakhir melarikan diri ditemani 2 abdinya yang setia, biksu Sabda Palon dan biksu Naya Genggong.

Adapun yang menyerang dan membumihanguskan Majapahit adalah pasukan Raden Patah (Jin Bum), putra Brawijaya sendiri dari selir Tionghoa yang kemudian selagi masih hamil ia berikan kepada Arya Damar (Swan Liong) Bupati di Palembang untuk menjadi isteri.

Seiring melemah dan berakhirnya Majapahit, daerah-daerah taklukkannya mulai memerdekakan diri.  Demikian juga kondisi di Palembang, bermunculan penguasa-penguasa lokal baru.

Tahun 1659, berdirilah Kesultanan Palembang yang didirikan Ki Gede ing Suro, seorang bangsawan Jawa yang melarikan diri dari Demak. Pada era kesultanan ini, Sultan yang terkenal adalah Sultan Mahmud Badaruddin II, yang berhasil memenangkan 3 pertempuran melawan Belanda dan Inggris.

Tahun 1823, setelah menaklukkan kesultanan Palembang, pemerintah Hindia-Berlanda menghapus kesultanan Palembang dan membagi Palembang menjadi dua keresidenan, daerah Ilir dan Ulu yang dipisahkan Sungai Musi, yang dikenal sebagai Seberang Ulu dan Seberang Ilir. Setelah beberapa kali percobaan pemberontakan oleh penerus Sultan Mahmud Badaruddin II, istana kesultanan dibumihanguskan Belanda. Belanda kemudian berkuasa sampai tahun 1945, hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Kedatangan Ashin Jinarakkhita

 Tahun 1960, awal kedatangan Ashin Jinarakkhita ke hunian di tepi sungai Musi itu, sisa kedigdayaan Sriwijaya sebagai negara Buddhis bahari nyaris tak berbekas lagi.

Bahkan, dalam sejarahnya, tak ada orang Indonesia modern mendengar mengenai Sriwijaya sampai tahun 1920-an, ketika sarjana Perancis George Cœdès mempublikasikan penemuannya dalam surat kabar berbahasa Belanda dan Indonesia. Coedès menyatakan bahwa referensi Tiongkok terhadap “San-fo-ts’i”, sebelumnya dibaca “Sribhoja”, dan beberapa prasasti dalam Melayu Kuno merujuk pada kekaisaran yang sama.

Jadi bisa dibayangkan, biksu yang pada jaman Sriwijaya begitu banyak hilir-mudik di tempat umum dan begitu dihormati, kini dilihat sebagai manusia berbaju aneh dari planet lain dengan kepala botaknya.

Dengan kata lain, Buddhism sudah tak dikenal di Palembang yang pernah menjadi kerajaan Buddhis. Memang ada biksu Mahayana dari Tiongkok di klenteng-klenteng. Tapi, mereka tak berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia dan lebih banyak mengajar cara sembahyang yang erat kaitannya dengan tradisi Tiongkok.

Saat itu, Jembatan Ampera pun belum dibangun. Apabila dari Seberang Ilir hendak menuju Seberang Ulu, demikian sebaliknya, hanya bisa memakai perahu kayu meniti air menyeberangi Sungai Musi.

Sungai Musi jaman dulu, belum ada jembatan Ampera,dari Ulu ke Ilir hanya bisa diseberangi dengan perahu kayu.

Begitu juga rombongan Ashin Jinarakkhita muda bersama murid-muridnya: biksu Jinapiya, Pandita Dharmarutji Ida Bagus Giri dan Yogamurti, menyebrang dari Ilir ke Ulu menggunakan perahu.

Jalan beraspal juga belum ada. Ketika turun dari perahu, mereka harus meloncat gesit melewati tanah lumpur, atau meniti balok-balok kayu. Banjir juga sering terjadi, jadi harus siap-siap mengangkat jubah tinggi agar tak basah.

Di seberang Ulu ini, tinggalah masyarakat asli Palembang, baik itu Tionghoa maupun melayu. Pada dasarnya, mengingat sejarah panjang Palembang, pernah dibawah kekuasaan turun-temurun ribuan bajak laut asal Hokkian, Tahun 1407 armada dinasti Ming dibawah komando Laksama Cheng Ho merebut dan menaklukkan bajak laut Hokkian yang menguasainya, lalu ketika Arya Damar(Swan Liong) dan istrinya menjadi penguasa Palembang sebagai taklukan Majapahit, sebenarnya tak ada perbedaan signifikan lagi antara ras Melayu dan Tionghoa di sana, sama-sama pribumi.

Sejarah panjang dan pembauran membuat kini, kadang sulit membedakan Melayu ataupun Tionghoa di Palembang, karena yang dikatakan Melayu di Palembang biasanya juga putih-putih dan sipit-sipit.

Contohnya, saat kerusuhan tahun 1998, ada teman bereknis Melayu di Palembang rumahnya ikut dibakar massa perusuh. Sebab musababnya, keluarganya putih-putih dan sipit semua, jadi rumahnya ikut dibakar.

“Ai, payah nian ha! Padahal aku Islam! Melayu!” kata dia berkeluh-kesah saat mengungsi ke Jambi.

Yah, kadang ada yang memakai indentitas Islam untuk menunjukkan dirinya bukan Tionghoa, tapi Melayu.

Padahal kalau dirujuk ke belakang, sejarah Islam di Bumi Nusantara, baik itu di Palembang maupun di Jawa, lebih ribet lagi.

Prof.Dr. Slamet Muljana, seorang filolof dan sejarawan Indonesia yang pernah mengajar di Universitas Gadjah Mada, IKIP Bandung (Universitas Pendidikan Indonesia sekarang), Akademi Penerangan, dan Akademi Jurnalistik. Kemudian pada masa Orde Baru dikucilkan di Indonesia, buku-bukunya dilarang, mengakibatkan sejarawan hebat itu memilih mengajar di luar negeri, antara lain, Wolfgang Goethe Universitat (Frankfurt, Jerman), State University of New York (Albany, Amerika Serikat), dan Nanyang University of Singapore. Ia pernah menjabat sebagai direktur Institut untuk Bahasa dan Kebudayaan di Singapura, serta menjadi anggota dewan kurator pada Institute of Southeast Asian Studies di Singapura.

Menurut professor ini, dalam bukunya “Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara (1968, terbit ulang 2006) yang dibredel pada jaman Orde Baru, “8 dari 9 Wali yang menyebarkan agama Islam di Indonesia, yang sangat dihormati itu adalah keturunan Tionghoa.”

Delapan dari 9 Wali adalah keturunan Tionghoa

1. Sunan Ampel nama Mandarinnya Bong Swie Ho.

2. Sunan Drajat nama Mandarinnya Bong Tak Kheng.
3. Sunan Bonang nama Mandarinnya Bong Tak An.
4. Sunan Kalijaga nama Mandarinnya Gan Si Chang.
5. Sunan Gunung Jati nama Mandarinnya Tu An Po.
6. Sunan Kudus nama Mandarinnya Ca Tek Su.
7. Sunan Giri, adalah cucu Sunan Ampel, jadi juga bermarga Bong.
8. Sunan Muria Maulana Malik Ibrahim, bernama Tan Eng Huat/ Chen Ing Fat.

Dengan rujukan ini, sebenarnya klaim Islam sudah pasti bukan Tionghoa atau Tionghoa sudah pasti bukan Islam adalah sesat.  Buku itu justru memaparkan, yang meng-Islamkan Indonesia adalah orang Tionghoa.

Konon, mempertentangkan Islam dengan Tionghoa mulai dilakukan Belanda setelah mengetahui Raden Patah adalah keturunan Tionghoa. Penyelidikan berikutnya setelah menyita dokumen-dokumen di Klenteng Sam Po Kong, mereka lebih kaget lagi, 8 dari 9 Wali yang begitu dihormati dalam siar Islam adalah keturunan Tionghoa!

Kekhawatiran akan Tionghoa, Jawa, Melayu bersatupadu melawan misi 3G(Gold, Glory dan Gospel= kekayaan, kejayaan dan misionaris) mereka,  membuat Belanda memakai politik devide et impera baru, memecah belah Tionghoa dan orang Melayu, Jawa yang mayoritas sudah beragama Islam.

Celakanya, politik pecah-belah ini kemudian dilanjutkan pemerintah Orde Baru dengan beragam peraturannya yang mendiskriminasikan orang Tionghoa. Puncaknya adalah meletusnya kerusuhan Mei 1998.

Jadi? Yah, mau dia Tionghoa maupun Melayu atau setengah-setengah, mereka sama-sama pribumi di Indonesia, juga di seberang Ulu.

Sedangkan di Seberang Ilir yang dipisahkan Sungai Musi, saat itu dikenal sebagai daerahnya pendatang, bukan asli Palembang.

Nah, di Seberang Ulu inilah, tepatnya Seberang Ulu 10 (maksudnya kilometer 10), Ashin Jinarakkhita pertama kali menginap dan membabarkan Dharma di Palembang. Tepatnya di rumah Bapak Tan Ek Kai, ayah dari Dr. Jan Hadi S.T (Q), dan kakek dari Romo Sutanto.

———————————————-000————————————

Bab 3. Rumah Kayu Kapiten Tan Ek Kai

“Ini kamarnya Sukong” kata Romo Tanto menunjuk sebuah pintu kamar kayu yang tertutup rapat.

Entah mengapa, setelah sekian lama, setelah 50 tahun kedatangan beliau dan menginap di rumah itu, aku masih merasakan getaran damai di sana, di rumah kayu kuno tersebut, yang  mirip dengan kuti saya di Myanmar dulu. Sendi-sendi ini serasa bergetar semua, haru.

Kamar Ashin Jinarakkhita, pertama kali bermalam di Palembang, ‘aura’ damainya masih terasa.


(Bersambung…)

Pelayan Dharma


Romo Toni
‘Golden Age’ di Sekolah Dharma Loka

Adik-adik, Romo Toni adalah sosok yang peduli dunia anak-anak. Menurut Romo, usia 2 sampai 10 tahun adalah usia keemasan (Golden Age) untuk adik-adik.

Karenanya, pada usia-usia ini, adik-adik harus belajar dengan baik, bergaul dan berteman dengan orang-orang yang baik, agar tumbuh menjadi pribadi yang baik.

Karena keperdulian inilah, Romo memperjuangkan agar anak-anak dari keluarga Buddhis sejak dini bisa belajar di sekolah Buddhis.

“Lewat dari usia ini, selesailah, anak-anak sudah memiliki dunia tersendiri yang tak mudah bagi orang tua untuk masuk ke dalamnya,” kata Romo Toni suatu ketika saat berkunjung ke Prasadha Jinnarakkhita di Jakarta.

Karena keperdulian dan kecintaannya inilah, bersama teman-temannya Romo Toni mendirikan Yayasan Pendidikan Pancadharma Pekanbaru dimana Romo Toni adalah ketuanya, kemudian mendirikan TK Dharma Loka di Pekanbaru tahun 1997.

Mendirikan Sekolah Buddhis bukanlah pekerjaan mudah. Namun, teladan dari Mahathera Ashin Jinnarakhita dan Mahathera Jinnadhammo membuat Romo Toni pantang menyerah.

Dua tahun kemudian, untuk menampung lulusan TK Dharma Loka beliau mendirikan SD Dharma Loka, disusul SMK dan SMU Dharma Loka.

Kini, Umat Buddha Pekan Baru boleh berbangga hati, telah memiliki sekolah formal Buddhis. Sehingga ‘Golden Age’ ini bisa diisi dengan baik.

Namun, menurut Romo Toni yang lahir 9 Oktober 1959 ini, setelah sekolah berdiri, tantangan berikutnya tak mudah mendapatkan tenaga pendidik.

Semoga nanti diantara adik-adik ada yang bisa meneruskan perjuangan Romo Toni yah, atau ada yang mau jadi pendidik?

Kini aktifitas Romo Toni menjadi Dharma Duta keliling, menjabat sebagai Sekretaris Dewan Pengawas PP Majelis Buddhayana Indonesia dan pengurus Palang Merah Indonesia kota Pekanbaru.

Pesan Romo Toni untuk adik-adik, “Rajin-rajin ke wihara, yah.”

(Sumber: Majalah Mamit 9/Juni 2012)