Bab VI. Cetiya Pertama di Rumah Eddy Tan Tjong Leng

Bab VI. Cetiya Pertama di Rumah Eddy Tan Tjong Leng

“Rumah ini adalah wihara. Dulu, sebelum wihara di sana berdiri, disinilah wiharanya.”

Eddy Tan Tjong Leng
Rumah Eddy Tan Tjong Leng (2012), Cetiya pertama di Palembang, tempat ibadah umat Buddha sebelum Wihara Dharmakirti berdiri.
Rumah Eddy Tan Tjong Leng (1960). Foto diambil oleh Kumuda Dharmatanna, sesaat setelah wisudhi Sapta(7) Upasaka pertama di Seberang Ilir. Waktu itu Wihara Dharmakirti belum berdiri. Wisudhi dilakukan di cetiya yang terletak di ruang tamu rumah Eddy Tan Tjong Leng.

Pada tahun 1960, pusat kegiatan Agama Buddha di 10 Ulu adalah di Wihara Kwam Im (Chandra Nadi), dimana saat itu Romo Tan Ek Kai (Maha Upasaka Padma Nanda) menjadi Locu (Ketua Yayasannya).

Seberang Ulu dikenal sebagai daerah asli masyarakat Palembang, baik Tionghoa maupun Melayu. Ada banyak klenteng di sana. Banyak orang Tionghoa bermukim di sana, yang secara ekonomi kurang mampu. Hanya ada beberapa pengusaha hasil bumi yang sangat kaya seperti Goei Kim Hock.

Tan Ek Kai merupakan sesepuh orang Tionghoa di seberang Ulu. Neneknya sendiri adalah putri Tiongkok beragama Islam, yang menikah dengan keturunan raja-raja Sriwijaya di Palembang. Karena kesaktiannya, makam neneknya kini menjadi tempat yang dikramatkan masyarakat Banyulincir, dan dikenal sebagai ‘Nyai Banyulincir’.

Sedangkan di Seberang Ilir, yang dibatasi sungai Musi, merupakan hunian peranakan atau pendatang, yang secara ekonomi lebih mapan. Ekonomi yang baik dan bentuk bangunan yang moderen, membuat seberang Ilir dianggap daerah kota dibandingkan Seberang Ulu.

Diantara peranakan Seberang Ilir ini adalah Eddy Tan Tjong Leng, saudagar pendatang dari Cirebon. Eddy Tan Tjong Leng yang kaya, menikah dengan wanita kaya di Palembang, membuat beliau menjadi salah satu orang terkaya di Palembang saat itu, selain Goie Kim Hock.

Eddy Tan Tjong Leng (Maha Upasaka Pandita Kumuda Nanda).

“Dialah, bersama Goei Kim Hock merupakan orang pertama yang punya mobil di Palembang,” kata Dr. Jan Hadi, anak dari Romo Tan Ek Kai.

“Kalau ada acara, kita bawa umat pakai mobil Goei Kim Hock. Tapi kalau buat antar jemput Bhante, pakai mobil Eddy Tan. Karena mobil Eddy Tan yang paling bagus,” kata Romo Yangtjik.

Untuk pembabaran Dharma di Seberang Ilir, dibuatlah cetiya pertama di Rumah Eddy Tan. Tempat kebaktian dan pembabaran Dharma dilakukan.

Pada jamannya, Rumah Eddy Tan di Jalan Teratai nomor 1/5571, merupakan rumah mewah di Palembang. Saat kebanyakan rumah masih dari kayu, rumah Eddy Tan yang menjadi cetiya, sudah merupakan rumah tembok berasitektur Belanda.

Di rumah ini pula, Eddy Tan mengalami sendiri bukti kekuatan batin Ashin Jinarakkhita.

Dikatakan, pada suatu hari Eddy Tan yang saat itu duda beranak tiga seharusnya berkunjung ke makam istrinya, tapi ia belum jua berangkat. Sampai akhirnya Ashin Jinarakhhita yang ada di cetiya di rumahnya mengingatkannya:

“Belum berangkat?”

“Kenapa Bhante?”

“Tadi pagi sudah dijemput.”

“Dijemput siapa, Bhante?” kata Eddy Tan heran.

“Istrinya.”

Sekonyong-konyong Eddy Tan menatap aneh Ashin Jinarakkhita. Istrinya sudah lama meninggal. Teman-teman aktivis Buddhis tak pernah mengenal almahum istrinya. Bagaimana bisa biksu muda yang baru muncul ini mengaku tahu istrinya? Melihat istrinya datang menjemputnya?

Di hari tertentu, ia memang rutin mengunjungi makam istrinya. Hari ini, seharusnya ia sudah ziarah ke makamnya. Tapi, perkataan biksu ini sungguh di luar akal sehat.

Untuk membuktikan Ashin Jinarakkhita memang ‘melihat’ kedatangan istrinya, Eddy Tan mengambil sebuah foto, satu dari beberapa orang dalam foto itu adalah istrinya.

 Hebatnya, Ashin Jinarakkhita dengan cepat, tepat menunjuk sosok dalam foto yang tak lain memang istrinya yang sudah meninggal, “ini istrimu yang datang menjemput tadi pagi.”

Sejak itu keyakinan Eddy Tan kepada Ashin Jinarakkhita bertambah kuat.

Wisudhi 7 Upasaka Pertama di Seberang Ilir

Di rumah Eddy Tan Tjong Leng ini pulalah, Ashin Jinarakkhita memberikan wisudhi 7 upasaka pertama di Seberang Ilir Palembang, untuk membantu tugas-tugasnya.

Ketujuh Upasaka pertama di seberang Ilir ini, dikenal sebagai Sapta Kumuda:

  1. Kumuda Nanda (Eddy Tan Tjong Leng)
  2. Kumuda Dharmatanna (Tan Guan Tjai)
  3. Kumuda Putra (Lim Ek Siu)
  4. Kumuda Chandra (Tan Ken Yung Kin).
  5. Kumuda Ratna (Tante Noni) Merupakan Upasika pertama.
  6. Kumuda Siri (William Chia)
  7. Lim Tji Lam (?)

Wisudhi 7 Upasaka Pertama di Seberang Ulu

Setelah itu, rombongan berangkat untuk melantik 7 Upasaka pertama di seberang Ulu.  Tan Ek Kai, sesepuh masyarakat Tionghoa di Seberang Ulu yang hadir saat wisudhi di rumah Eddy Tan Tjong Leng menyertai rombongan ke Seberang Ulu.

Saat itu, jembatan Ampera dan perahu mesin belum ada. Ashin Jinarakkhita muda dan rombongan, menyebrangi sungai Musi dengan sampan (perahu dayung).

Setiba di Seberang Ilir, dengan jubah merah maron berkibar oleh angin, sedikit basah oleh percikan air sungai Musi dari hempasan dayung kayu sampan yang terangkat, beliau melompat dari sampan.

Bertemankan udara pesisir khas berbau ikan, beliau meniti jembatan kayu dan tanah becek. Tak lama, tibalah rombongan di klenteng Kwam Im, dimana Tan Ek Kai sebagai Locu klenteng sudah mempersiapkan acara wisudhi Upasaka di Klenteng Kwam Im, Seberang Ulu .

Ternyata, berbeda dengan di Seberang Ilir, dimana Ashin Jinarakkhita memberi nama wisudhi serba ‘Kumuda’, untuk seberang Ulu ini diberi nama serba ‘Padma’.

 Ketujuh Upasaka pertama di Seberang Ulu ini adalah:

  1. Padma Nanda (Tan Ek Kai)
  2. Padma Kusala (Tji Siang Bo)
  3. Padma Gaya (Ong Kian Gwan)
  4. Padma Mula (Romo Poni)
  5. Padma Chandra (Romo Yangtjik)
  6. Padma…(I Ketut Danging-Brimob)
  7. Padma Sadha (…..

Setelah itu, dengan peran serta pembantu-pembantunya ini, Buddha Dharma berkembang pesat di Palembang. Wisudhi Upasaka terus dilakukan. Dua tahun kemudian, tepatnya 8 Juli 1962 Wihara Dharmakirti berdiri.

Salah satu Upasaka yang kemudian cukup menonjol adalah Upasaka Sri Kumuda Gayasih (Tjia Tian Sun), yang merupakan penulis dan penerjemah buku.

 “Pada awal kebangkitan kembali Agama Buddha di Indonesia dimana bacaan Buddhis dalam Bahasa Indonesia sangat jarang, Kumuda Gayasih sudah banyak menerjemahkan dan menerbitkan buku Buddhis. Kehadiran buku-buku beliau, membawa atmosfer tersendiri bagi mereka yang haus Buddha Dharma,” kata Bhante Dharmavimala.

Buku-buku hasil terjemahan Kumuda Gayasih adalah: Sutra Hati, Sutra Intan, Sutra Pertanyaan Dewa, Vinaya Mahayana, Meditasi Buddhis, Pemadaman Total Tanpa Sisa, Pendekatan yang Benar pada Dharma, Satipatthana dan Anapanasati.

Beberapa dari buku itu, bisa didownload dari grup-grup diskusi Buddhis di Internet, dengan bahasa yang sudah diedit mengikuti EYD (Ejaan yang Disempurnakan). Tapi sayang, ada yang tak mencantumkan Kumuda Gayasih sebagai penerjemahnya.

Masa Tua Eddy Tan Tjong Leng

Kondisi politik di Indonesia tahun 60-an sungguh tak menentu, atau Bung Karno mengatakan ‘Revolusi selalu memakan anak kandungnya sendiri.”

Demikian halnya Eddy Tan. Saat peristiwa PKI meletus dan muncul sentimen anti Tionghoa, dimana kantong-kantong kebudayaan Tionghoa dirusak dan dijarah, Eddy  Tan termasuk ‘anak kandung’ korban revolusi.

Ia sempat ditangkap, percetakan dan hartanya disita dengan semena-mena. Bahkan menurut Bastian Hendrawan (keponakan Biksuni Jinaloka), Romo Eddy Tan yang pernah menjadi orang terkaya di Palembang itu, sampai berjualan kue kering door to door ke rumah kenalannya. “Saya sempat beli, karena saya dan Biksuni Jinaloka cukup dekat dengan beliau,” tulisnya di FB mesengger.

Melalui banyak kesulitan, termasuk masa Ashin Jinarakkhita digoyang oleh muridnya sendiri yang mendapat pengaruh Dhammayut, yang diarsiteki oleh Dharmaduta dari Thailand yang ia undang untuk membantu penabhisan biksu di Indonesia, Upasaka Kumuda Nanda atau Eddy Tan tetap setia kepada Ashin Jinarakkhita.

Melalu proses waktu, Eddy Tan di Seberang Ilir dan Tan Ek Kai di Seberang Ulu, karena jasa-jasanya dalam penyebaran Dharma di Palembang, diangkat menjadi Maha Upasaka Pandita. Sebuah penghargaan yang sangat jarang diberikan, biasanya hanya kepada pribadi yang menunjukkan kualitas pengabdian luar biasa.

Namun sayang, kualitas kesetiaan dan pengabdian yang begitu panjang, akhirnya runtuh oleh penyakit kanker ganas yang  menggerogotinya.

“Menyedihkan, membaca kisah Romo Eddy. Saat sakit dia tak punya biaya berobat. Mungkin inilah yang dimanfaatkan pihak Kristen M,” tulis Bastian.

Terbujuk Kristen M

“Mulanya ada benjolan sebesar bisul di leher Papa. Papa melakukan pemeriksaan ke dokter. Kata dokter, Papa tak bisa dioperasi karena faktor umur dan glukoma. Akhirnya diambil cairan dari benjolah itu untuk dianalisa.

Namun, setelah diambil cairannya, benjolan itu justru tumbuh membesar, hingga sebesar gondok. Rasa sakitnya sungguh mengganggu Papa, Papa cuma ingin sembuh,” kata Metha Maria Tanzil dengan mata lelah, anak dari istri kedua Almarhum Eddy Tan yang kini mendiami rumah bersejarah itu.

Metha Maria Tanzil, anak Almarhum Eddy Tan Tjong Leng dari istri kedua.

“Datanglah keponakan Papa yang beragama Kristen Protestan M. Keponakan itu dan pendetanya menyakinkan, Papa bisa sembuh, bila mengikuti ritual Kristem M.

Papa yang juga pendeta agama Buddha, oleh penderitaannya, sangat ingin sembuh. Itulah yang membuat Papa terbujuk mengikuti ritual penyembuhan Kristen M,” kata Metha yang mencuri waktu pulang dari tempat kerjanya saat jam istirahat makan, untuk menemui kami yang menunggu di depan pagar rumahnya yang selalu terkunci.

“Papa tidak dipermandikan secara Kristen. Namun, dua hari setelah mengikuti ritual mereka, pendeta dari Gereja M dan orang-orangnya datang ke rumah, mereka menyita semua perlengkapan sembahyang di cetiya, altar milik Papa. Tanpa minta ijin dan sebagainya, mereka membawa patung-patung dan barang sembahyang Papa. Tidak tahu dibawa kemana. Sepertinya mereka beralasan papa sakit karena barang-barang itu.”

Bagaimana dengan kondisi Eddy Tan? Apakah membaik sesuai janji pendeta Gereja M?

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Bukannya sembuh dari sakitnya seperti dijanjikan Pendeta itu, setelah mengikuti ritual mereka sampai kemana-mana, kondisi Eddy Tan yang saat itu berumur 70-an justru memburuk.

Sebulan kemudian, Maha Upasaka Kumuda Nanda yang kondisinya kian payah setelah mengikuti ritual Kristen M, jatuh di kamar mandi  dan mengalami pendarahan hebat di benjolannya.

“Dokter Jan Hadi yang kami telepon, membantu dan merekomendasikan Papa ke rumah sakit Carita. Masuk UGD, ” tambah Metha.

“Kemudian, seminggu sebelum meninggal, menurut Mama, Papa minta dipermandikan sebagai Katolik. Kata Mama, Papa takut nanti tak ada yang merawatnya. Karena Mama beragama Katolik, anak Papa dari almarhum istri pertama maupun Mama sebagai istri keduanya juga beragama Katolik.”

Ketika ditanyakan, apakah Mitha mendengar permintaan untuk dikatolikkan langsung dari Papanya, Mitha menjawab ia hanya mendengar dari mamanya, bukan langsung dari papanya.

Saat itu, anak-anaknya juga berpikir risih, apa kata orang nanti, kalau papa yang seorang Maha Upasaka Pandita Agama Buddha, tiba-tiba menjadi Katolik. Tapi kata Mama, permintaan itu datang dari Papa sendiri.

Seminggu setelah dipermandikan secara Katolik, tepatnya 14 Januari 1999, mantan Maha Upasaka Kumuda Nanda (Eddy Tan Tjong Leng) menghembuskan nafas terakhir.

Setelah tulisan ini aku posting di blog harpin.wordpress.com, Bastian Hendrawan (keponakan Biksuni Jinaloka) mengontak lewat Facebook Messengger. Menurut Bastian, dua hari sebelum Romo Eddy meninggal, ia dan Biksuni Jinaloka sempat menjengguknya di rumah sakit:

“Waktu dirawat di rumah sakit beliau sakit keras sudah poisisi gak ingat lagi, saya besuk dengan Bhiksuni Jinaloka , beliau tidak bisa bicara, tapi masih bisa anjali pai Bhiksuni … “.

Menurut Bastian yang saat itu berusian 35 tahunan, sudah lama benjolan itu tumbuh, Eddy Tan sakit tak ada biaya utk berobat . Sepertinya orang-orang sudah lupa dengan jasa-jasa beliau. Entah mengapa, Biksuni Jinaloka menjenguknya juga diam-diam, hanya mengajak Bastian seorang.

“Waktu kami masuk ke ruangan , beliau dibisiki oleh penjaganya ( anaknya ? ) mungkin berkata ada Biksuni, beliau langsung namaskara pelan2, Biksuni terlihat terharu terus diam berdoa , sudah itu kami permisi sama si penjaga, terus dimobil Bhiksuni bilang tadi romo ada ucap salam .. Auummm …., mungkin alasan bahwa romo sdh bukan Buddhis lagi , Biksuni besuk berdua aja sama aku…. Omitofu”.

Posisi dan rak altar cetiya itu tak berubah. Hanya, perlengkapan puja, patung maupun aksesoris Agama Buddha yang menghiasinya sudah tak ada. ‘Disita’ pendeta Gereja M. Kini, di atas altar itu berganti salib, Patung Yesus dan Bunda Maria, serta foto almarhum. Paling kiri adalah foto ayahanda Eddy Tan. Paling kanan adalah foto Almarhum Eddy Tan. Sedangkan yang ditengah adalah foto istri kedua Eddy Tan: Almarhumah Theresia Hewida. Guci di tengah adalah abu almarhumah Theresia Hewida.

Saat rombongan duka Wihara Dharmakirti datang untuk mendoakan dan mengatur upacara kematiannya, istri Eddy Tan menolak dengan alasan sebelum meninggal, Eddy Tan atau Maha Upasaka Kumuda Nanda sudah menjadi Katolik. Jadi, semua upacara dan doa harus secara Katolik.

Kali ini, rombongan duka Wihara Dharmakirti benar-benar pulang dengan duka. Rumah yang pernah menjadi cikal bakal wihara Dharmakirti telah menolak mereka.

Bahkan, mereka tak diijinkan memberikan pelayanan atau doa di akhir hidup Maha Upasaka yang telah banyak berbuat untuk wihara dan Agama Buddha di Palembang.

Saat saya tanyakan ke Bastian, apakah dia maupun Biksuni Jinaloka datang di hari meninggalnya Eddy Tan, karena menurut Bastian, dia dan Biksuni Jinaloka dekat dengan Eddy Tan. Bastian bilang, dia tidak datang, Biksuni Jinaloka sepertinya juga tidak datang, dia tak tahu waktu itu alasannya kenapa.

Theresia Hewida

Istri kedua dari Eddy Tan bukan orang asing bagi pengurus Yayasan Buddhakirti. Sebelum menikah dengan eks Maha Upasaka Kumuda Nanda, beliau adalah guru di sekolah Padmajaya milik Yayaan Buddhakirti di Seberang Ulu.

Almarhumah Theresia Hewida, istri kedua Eddy Tan Tjong Leng. Beliau merupakan mantan guru dan kepala sekolah di SD Padmajaya milik Yayasan Buddhakirti.

Saat menjadi Ketua Komisi Pendidikan Padmajaya (menggantikan Ibu Healthy-istri Romo Tanjung yang pindah ke Jakarta) di Seberang Ulu inilah, Eddy Tan yang saat itu duda beranak tiga berkenalan dengan bakal istri keduanya yang masih muda usia, Theresia Hewida.

Cinta bersemih. Eddy Tan menjadi muda kembali. Sangat bersemangat, dandy dan trendy jika berangkat ke Sekolah Padmajaya di Seberang Ulu dari rumahnya di Seberang Ilir.

Beliau bisa berlama-lama menunggu ibu guru Theresia Hewida  yang tengah mengajar. Ibu guru muda Theresia Hewida  yang beragama Katolik, kemudian diangkat Eddy Tan menjadi kepala sekolah SD Padmajaya.

Akhirnya, mereka menikah dan hidup dalam perbedaan agama. Eddy Tan tetap menjalankan aktifitasnya sebagai aktifis Buddhis, dan istrinya tetap hidup dalam aktifitasnya sebagai aktifis gereja Katolik.

Anak-anak Eddy Tan, baik dari istri pertama maupun kedua, sampai saat ini mengikuti agama istri kedua Eddy Tan, yakni Katolik. Kecuali seorang putrinya dari istri pertama, mungkin mengikuti agama dari suaminya yang bereknis Melayu. Pernikahan putrinya itu, tak direstui Eddy Tan.

Eddy Tan sendiri menjadi Katolik dalam kondisi sakit parah, kesadaran lemah, tidak bisa bicara dan nyaris tak ingat apa-apa, tepatnya seminggu sebelum beliau meninggal.

Informasi kondisi terakhir Romo Eddy Tan didapat secara tak langsung dari kesaksian Bastian di atas, bersama Biksuni Jinaloka mengunjunginya dua hari sebelum beliau meninggal.

Foto keluarga besar almarhum Eddy Tan Tjong Leng minus Eddy Tan Tjong Leng, terdiri istri keduanya Theresia Hewida berserta semua anak, menantu dan cucu-cucunya. Foto direkayasa grafis, karena saat pembuatannya Eddy Tan Tjong Leng maupun Theresia Hewida sudah meninggal.

In Memoriam.

Apakah Metha ingat, hal paling berkesan dari Papanya?

“Dulu, meskipun Wihara Dharmakirti sudah berdiri, setiap waisak rombongan dari Wihara Dharmakirti selalu mengadakan kebaktian di rumah ini. Waktu itu Metha masih SD. Metha tanya ke Papa, ‘Pa, kenapa orang dari wihara sembayang di sini?’ Jawab Papa: ’Rumah ini adalah wihara. Dulu sebelum wihara di sana berdiri, disinilah wiharanya.’”

Keterangan sosok dalam foto tahun 1960 mengikuti abjad di bawah.

  1. (A) Tjie Sian Boh
  2. (B)Tan Yong Huat
  3. (C)Lim Ek Sioe (Kumuda Hema Putra)
  4. (D)So Tjiang Poo (Kemudian dikenal sebagai Yoga Murti).
  5. (E)Eddy Tan Tjong Leng.
  6. (F)Tan Ek Kai (Padmananda Tanzil)
  7. (G)Pandita Dharmarutji Ida Bagus Giri (kemudian lebih dikenal sebagai Biku Girirakkhita)
  8. (H)Injo Hong Hai
  9. (I)Goei Kim Hock (Ketua Yayasan yang Pertama).
  10. (J)Goei Kim Sek
  11. (K)Tan Guan Tjhai (Kumuda Dharmatanna), ayahanda dari Budiarsi dan Sanjaya.
  12. (L)Mertua dari Eddy Tan Tjong Leng.
  13. (M)Istri dari Yogamurti
  14. (N)Istri dari Tan Guan Tjhai (Kumuda Dhanatana), Ibunda dari Budiarsi.
  15. (O)Tante Nonik (Kumuda Ratna), merupakan Upasika pertama di Palembang.
  16. (P)Budiarsi.
  17. (Q)Dr. Jan Hadi S.T, pada saat itu kelas 3 SMU.
  18. (R)Sanjaya (adik dari Budiarsi).
  19. (S)Ashin Jinarakkhita
  20. (T)Adik dari Budiarsi
  21. (U)Toni Tanzil (Anak pertama dari Eddy Tan Tjong Leng dari istri pertama)
  22. (V)Eles Tanzil (Anak kedua dari Eddy Tan Tjong Leng dari istri pertama)
  23. (W)Niko Tanzil (Anak ketiga dari Eddy Tan Tjong Leng dari istri pertama)

Bab V. Akta Pendirian Yayasan Buddhakirti, 1961.

Bab V. Akta Pendirian Yayasan Buddhakirti, 1961

Akta Pendirian Yayasan Buddhakirti, 1961

 

ANGGARAN DASAR JAJASAN JAJASAN

____________________________

Tambahan Berita – Negara R.I. tanggal 14/11 – 1961 No.91

 _______________________________________________

JAJASAN “BUDDHAKIRTI”

 

Nomer 38.

Pada hari ini, hari Rabu, tanggal tudjuh belas Mei seribu sembilan ratus enam puluh satu (17/5 – 1961).

Maka menghadap dihadapan saja, Sie Poo Tjiang, atas kekuatan penetapan Menteri Kehakiman tertanggal enam belas Agustus  seribu sembilan ratus enam puluh nomer J.A.7/8/12, pengganti dari tuan Tan Thong Kie, notaris di Palembang, dengan dihadiri oleh saksi-saksi jang akan disebut dan jang telah dikenal oleh saja, notaris.

I. Tuan Goei Kim Hock, saudagar, tinggal di Palembang, kampung 4 Ulu nomer 541, menurut keterangannja dalam hal ini mendjalani:

a.      untuk diri sendiri;

b.      atas kekuatan kuasa termuat dalam surat kuasa dibawah tangan tertanggal enam belas Maret seribu sembilan ratus enam puluh satu jang dilekatkan pada asli surat akte ini, selaku wakil dari dan karena itu bertindak untuk dan atas nama tuan Tjia Siok Ing, pegawai Pabrik Es Sekanak, tinggal di Palembang, keduanja dikampung 28 Ilir, djalan Pabean nomer 210;

 II.           Tuan Tan Ek Kai, saudagar, tinggal di Palembang , kampung 10 Ulu, djalan     Tembok Baru nomer 560 Rt. Nomer 26, menurut keterangannya dalam hal ini mendjalani:

a. untuk diri sendiri;

b. atas kekuatan kuada termuat dalam surat kuasa dibawah tangan tertanggal enam belas Maret seribu sembilan ratus enam puluh satu jang dilekatkan pada asli surat akte ini, selaku wakil dari dan karena itu bertindak untuk dan atas nama:

1.tuan Tan Thiam Kioe, pedagang ketjil, tinggal di Palembang, kampung 10 Ulu;

2.tuan Lim Tjong Moh, saudagar, tinggal di Palembang, djalan Indrapura nomer

 III.  Tuan Eddy Tan Chong Leng, saudagar, tinggal di Palembang, djalan Teratai nomer 1/5571/Rt.10/20, menurut keterangannja dalam hal ini mendjalani;

a.      untuk diri sendiri;

b.      atas kekuatan kuada termuat dalam surat kuasa dibawah tangan tertanggal enam belas Maret seribu sembilan ratus enam puluh satu jang dilekatkan pada asli surat akte ini, selaku wakil dari dan karena itu bertindak untuk dan atas nama tuan-tuan:

  1. Oen Kian Hoat,pemimpin tjabang Central Trading Company,    tinggal  di Palembang, djalan Tjek Bakar nomer 5;
  2. Lim Ek Sioe, saudagar, tinggal di palembang, Lorong Abdul Hamid nomer 6 ;
  3. Injo Hong Hai, saudagar, tinggal di Palembang djalan Duku nomer 87;

IV.              Tuan Lim Hong Gan, pengusaha pemangkas rambut “Kambodja”, tinggal di Palembang, kampung 20 Ilir, djalan Djenderal Sudirman nomer 5605 Rt.10/20; menurut keterangannja dalam hal ini mendjalani;

a.      untuk diri sendiri;

b.      atas kekuatan kuada termuat dalam surat kuasa dibawah tangan tertanggal enam belas Maret seribu sembilan ratus enam puluh satu jang dilekatkan pada asli surat akte ini, selaku wakil dari dan karena itu bertindak untuk dan atas nama tuan Tan Guan Tjay, Pengurus N.V. Organa dan tuan Tan Jong Khin, pengawai N.V. Organa, keduanja tinggal di Palembang.

 V.                 Tuan Tan Jong Huat alias Hasan, saudagar, tinggal di Palembang, djalan Djenderal Sudirman nomer 115;

 VI.              Tuan Tjia Jan Hoen (Romo Yancik, red) , saudagar, tinggal di Palembang kampung 17 Ilir, Lorong Gedong nomer 7;

 VII.            Tuan Lie Sioe Seng, saudagar di Palembang, djalan Bukit Ketjil nomer 36;

 Para penghadap nomer V dan VI, VII masing-masing telah dikenal oleh saja, notaris sedangkan para penghadap lainnja masing-masing telah diperkenalkan kepada saja, notaris, oleh dua orang teman penghadapnja jang lain, sebagai saksi-saksi jang memperkenalkan.

      Para penghadap untuk diri sendiri dan mendjalani seperti tersebut menerangkan dalam surat akte ini bahwa mereka bersama-sama telah menjendirikan dan memisahkan uang tunai sebanjak Rp. 5.000,- (lima ribu rupiah) jang dipergunakan dan diperuntukkan chusus untuk mendirikan suatu Jajasan dengan aturan-aturan atau anggaran dasar seperti tersebut dibawah ini:

 Fatsal 1.

Nama, tempat kedududukan dan waktu.

  1. Jajasan ini bernama ;”Jajasan Buddhakirti” dan berkedudukan di Palembang, dengan perwakilan-perwakilan ditempat lain jang dpandang perlu oleh Badan Pengurus.
  2. Jajasan ini didirikan untuk waktu jang tidak ditentukan lamanja dan bermulai pada hari ini.

Fatsal 2.

Maksud dan tudjuan.

 Maksud dan tudjuan jajasan ini ialah mendirikan, meneruskan, melangsungkan dan mejelenggarakan Lembaga-lembaga atau usaha-usaha untuk penjiaran, pendidikan, pertumbuhan dan penjempurnaan pengadjaran Buddha Dharma dalam arti-kata jang seluas-luasnja.

 Fatsal 3.

Usaha-usaha.

             Untuk mentjapai maksud dan tudjuan tersebut diatas maka jajasan berusaha:

  1. mendirikan atau meneruskan serta memlihara Vihara-vihara sebagai tempat-tempat peribadatan Umum Buddhis;
  2. mendirikan atau meneruskan serta memelihara tempat-tempat perabuan (crematoria);
  3. mendirikan atau meneruskan serta mengusahakan sekolah-sekolah, kursus-kursus, tempat-tempat pengobatan, pemondokan-pemondokan jatim-piatu atau fakir-miskin;
  4. mengadakan perpustakaan, menerbitkan, menjebarkan atau mengedarkan buku-buku, brosur-brosur, madjalah-madjalah dan /atau naskah-naskah batjaan lainnja;
  5. mendjalankan segala usaha lainnja, asal sadja tidak bertentangan dengan Undang-undang atau anggaran dasar jajasan.

Fatsal 4.

Kekajaan.

  1. Untuk pertama kalinja jajasan mempunyai kekajaan berupa uang tunai sebajak Rp.5000,- (lima ribu rupiah) jang telah disendirikan dan dipisahkan tersebut dan selandjutnja kekajaan diperoleh dari:
    1. sokongan dan sumbangan dari perseorangan dan/atau badan-badan partikulir;
    2. sokongan bulanan tetap, subsidi atau bantuan lain dari pemerintah;
    3. hibah-hibah dan/atau hibah warisan;
    4. penghasilan dari usaha-usaha jajasan sendiri atau penghasilan lainnja jang sah dan tidak bertentangan dengan Undang-undang atau sifat jajasan.
  2. Uang kekajaan jajasan jang tidak segera dibutuhkan untuk keperluan jajasan dapat disimpan pada salah satu Bank atau ditjarikan laba dengan tjara jang akan ditentukan oleh badang pengurus.

Fatsal 5.

Badan pengurus dan badan pengawas.

  1. Jajsan ini diurus oleh suatu badan pengurus jang terdiri dari sekurang-kurangnja lima orang, diantaranya harus ada seorang Ketua, seorang Wakil Ketua, seorang Penulis, seorang Bendahara, dan seorang Komisaris.
  2. Jang boleh dipilih dan diangkat medjadi anggota badan penggurus hanja Warga Negara Indonesia.
  3. Para anggota badan pengurus dan badan pengawas diangkat oleh rapat umum para anggota badan pengurus/badan pengawas untuk dua tahun lamanja dan tiap dua tahun akan diadakan pemilihan anggota badan pengurus dan badan pengawas jang baru, sedangkan anggota jang lama dapat dipilih kembali.
  4. Badan pengurus mewakili jajasan dihadapan dan diluar Pengadilan dan bertindak untuk dan atas nama Jajasan, mengikat jajadan dengan fihak lain atau sebaliknja dan dalam segala hal serta kedjadian badan pengurus berhak untuk melakukan segala tindakan, baik jang mengenai pengurusan maupun jang mengenai pemilikan (daden van beheer en daden van eigendom) dengan tidak terbatas, asal sadja tidak bertentangan dengan anggaran dasar ini.
  5. Badan pengurus berhak memberi kuasa kepada salah seorang anggotanja untuk bertindak untuk dan atas nama jajasan, dengan kuasa-kuasanja jang akan ditentukan oleh badan pengurus,
  6. Badan pengawas berkewadjiban mengawasi pekerdjaan badan pengurus. Badan pengawas baik bersama-sama maupun sendiri-sendiri berhak sewaktu-waktu masuk dalam gedung-gedung dan pekarangan-pekarangan jang dipakai oleh jajasan untuk memeriksa keadaan buku-buku surat-menjurat, teristimewa surat-surat berharga,memeriksa persediaan barang-barang serta harta kekajaan jajasan, badan pengurus diwadjibkan memberi keterangan yang diminta badan pengawas atau salah seorang anggotanja.
  1. Badan pengawas pada setiap waktu berhak memetjat atau memberhentikan badan pengurus atau salah seorang yang anggotanja apabila ternjata bahwa mereka melakukan pekerdjaan jang bertentangan dengan anggaran dasar jajasan ataupun jang merugikan nama baik dari jajasan.

Fatsal 6.

Pengurus Harian.

 Pengurus harian membantu badan pengurus dalam pekerdjaan sehari-hari dan terdiri dari seorang Ketua, seorang penulis dan seorang bendahara.

      Djika perlu dapat diangkat satu atau beberapa orang pegawai jang dapat diberikan gadji/honorarium jang tertentu sesuai dengan kemampuan jajasan.

      Pengurus harian dapat mewakili badan pengurus diluar untuk dan atas nama jajasan, tetapi dengan ketentuan, bahwa untuk memindjam uang, memindjamkan uang, melepaskan hak atas atau memberatkan barang-barang jang tidak bergerak milik jajasan, mengikat jajasan sebagai penanggung, mendjalankan perkara (proses) dan menggadaikan barang-barang bergerak milik jajasan, pengurus harian harus mendapat persetudjuan terlebih dahulu dari badan pengurus.

 Fatsal 7.

Rapat badan pengurus/badan pengawas.

  1. Badan pengurus/ badan pengawas mengadakan rapat sekurang-kurangnja satu kali dalam setahun dan apabila dipandang perlu dapat diadakan setiap waktu atas permintaan seorang ketua atau sekurang-kurannja dua orang-orang anggota badan pengurus.
  2. Rapat badan pengurus/ badan pengawas hanja dianggap sah bilamana lebih dari separuh djumlah anggota badan pengurus dan badan pengawas hadir atau diwakili dalam rapat itu.
  3. Masing-masing anggota badan pengurus dan badan pengawas berhak untuk mengeluarkan satu suara dalam rapat itu.
  4. Setiap keputusan dari badan pengurus bersama-sama badan pengawas jang diambil dalam rapat hanja dianggap sah, djika jang menjetudjui melebihi separoh dari djumlah suara jang dikeluarkan dengan sah dalam rapat, hal mana tidak mengurangi apa jang ditentukan dalam fatsal 11. Bilamana suara itu sama banjaknya, maka Ketua rapat berhak untuk mengambil keputusan demi kepentingan jajasan.

 Fatsal 8.

Perwakilan.

1.      Badan pengurus mengangkat dan memberhentikan wakil-wakil jang berkewadjiban memimpin perwakilan dan memberi segalah perintah serta petundjuk kepadanja.

2.      Wakil-wakil tersebut oleh Badan Pengurus diberi kuasa jang dianggap perlu atau baik untuk melantjarkan pekerdjaan dilingkungan daerahnja/kekuasaanja.

 Fatsal 9.

Tahun buku dan pertanggungan-djawab.

 

  1. Tahun buku jajasan dimulai dari satu Djanuari sampai dengan achir bulan Desember setiap tahun. Selambar-lambatnya bulan Djuni dari tahun berikutnja, untuk pertama kalinja selambat-lambatnja pada bulan Djuni seribu sembilan ratus enam puluh dua, badan pengurus harus membuat suatu neratja dari kekajaan, pendapatan dan pengeluaran jajasan jang harus diletakkan selambat-lambatnja pada tanggal lima belas Djuli dikantor jajasan untuk diperiksa dan diketahui oleh jang berkepentingan.
  1. Pengurus harian diwadjibkan membuat laporan tahunan jang disediakan bersama-sama dengan neratja tersebut di kantor jajasan.
  2. Tiap-tiap perwakilan jajasan diwadjibkan mengirimkan neratja perhitungan kekajaan dan laporan dari keadaan perwakilan selama tahun jang lampau selambat-lambatnja pada tanggal lima belas Mei setiap tahun kepada badan pengurus, dan badan pengurus berhak sewaktu-waktu meminta segala keterangan jang diperlukan olehnja.

Fatsal 10.

Badan penasehat dan badan pelindung.

  1. Badan pengurus dapat mengangkat suatu badan penasehat dan suatu badan pelindung, djika dianggap perlu.
  2. Badan penasehat dan badan pelindung tersebut masing-masing memberikan nasehatnja, bilamana diminta oleh badan pengurus atau  salah seorang anggotanja.

Fatsal 11.

Perobahan anggaran dasar dan pembubaran jajasan.

  1. Untuk merobah atau menambah anggaran dasar ini maka keputusan hanja sah, djika diambil dalam rapat jang dihadiri oleh semua anggota badan pengurus dan badan pengawas dan djika usul jang berkenaan disetudjui oleh sekurang-kurangnja dua pertiga dari djumlah suara jang dikeluarkan dengan sah. Dalam hal ini suara blanco dianggap sebagai suara jang tidak setudju.
  1. Apabila pada rapat pertama tidak semua anggota hadir atau diwakili dengan sah, maka dapat dadakan rapat kedua setjepat-tjepatnya satu minggu, tetapi selambat-lambatnja dalam waktu satu bulan sesudah rapat pertama diadakan.
  2. Dalam rapat kedua ini hanja dapat diambil keputusan jang sah apabila rapat itu dihadiri oleh sekurang-kurangnja dua pertiga djumlah anggota badan pengurus dan badan pengawas dan usul jang berkenaan disetudjui oleh sekurang-kurangnja dua pertiga djumlah suara jang dikeluarkan dengan sah.
  3. Dalam keputusan untuk membubarkan jajasan harus ditentukan djuga tjara mempergunakan sisa kekajaan jajasan dengan memperhatikan dasar tudjuannja.

Fatsal 12.

Aturan rumah tangga.

      Badan pengurus menetapkan aturan rumah tangga untuk mengatur segala hal jang tidak atau tidak tjukup diatur dalam anggaran dasar ini dan pula membuat aturan-aturan lain jang dipandang baik atau berguna untuk lantjar djalannja pekerjaan jajasan. Aturan-aturan itu tidak boleh bertentangan dengan anggaran dasar ini.

 Aturan penutup.

Dengan menjimpang dari apa jang telah ditentukan dalam fatsal 5 ajat 3 diatas tentang tjara pengangkatan para anggota badan pengurus dan badan pengawas, maka untuk pertama kalinja oleh para pendiri jajasan telah diangkat dalam susunan badan pengurus dan badan pengawas sebagai berikut:

 1. Badan Pengurus:

Ketua Umum      : penghadap Goei Kim Hock

Ketua I             : penghadap Eddy Tan Chong Leng,

Ketua II           : penghadap Lim Hong Gan

Ketua III          : penghadap Tan Ek Kai

Penulis I           : tuan Tjie Sian Boh,

Penulis II          : tuan Chia Hock Chiang,

Penulis III         : tuan Wiliam Chia Hock Soey,

Bendahara I     : tuan Lim Tjong Moh,

Bendahara II    : tuan Goei Kim Sik,

Bendahara III  : tuan Tan Bian Kim (K.W. Hartanu, redaksi)

Para pembantu      : tuan-tuan Lim Tjan Seck, Tan Soei Goean, Ong Kian Goean, Tan Gwan Tjay dan penghadap Tjia Jan Hoen (Romo Yancik sekarang, redaksi).

 2. Badan pengawas:

Penghadap Tan Jong Huat alias Hasan, Lie Sioe Seng, tuan-tuan Ida Ketut Dangin, Tan Yoe Tiong, Oen Kian Hoeat, Rambas Wadhwane, Tjia Siok Ing dan Injo Hong Hai, semuanja tersebut . Pengangkatan-pengangkatan tersebut harus diperkuat dalam rapat para anggota badan pengurus/badan pengawas jang akan diadakan untuk pertama kalinja.

      Akhirnja para penghadap untuk diri sendiri dan mendjalani seperti tersebut menerangkan telah memilih tempat tinggal kediaman (domicilie) jang tetap dan umum tentang segala hal jang timbul sebagai akibat dari surat akte ini dikantor Panitera Pengadilan Negeri di Palembang.

            Maka dari apa jang tersebut di atas.

      Dibikin dan dibuat surat akte ini, tertulis, dibatja dan tertanda-tangani di Palembang, pada hari, tanggal, bulan ini, di hadapan tuan Kiagus Husin Hanafiah dan njonja Warsiti Agoes Soelaiman, keduanja pegawai notaris dan tinggal di Palembang, sebagai saksi-saksi.

      Surat akte ini, setelah dibatjakan oleh saja, notaris, kepada para penghadap dan saksi-saksi, maka seketika itu djuga lantas ditanda-tangani oleh para penghadap, saksi-saki dan saja, notaris.

      Dibikin dengan tiga tjoretan, dua tjoretan serta gantian dan dua belas tambahan.

      Akte ini ditanda-tangani oleh:

 GOEI KIM HOCK,

TAN EK KAI,

EDDY TAN CHONG LENG,

LIM HONG GAN,

TAN JONG HUAT alias HASAN

TJIA JAN HOEN, (Romo Jantjik, redaksi)

LIE SIOE SENG,

KIAGUS HUSIN HANAFIAH,

WARSITI AGOES SOELAIMAN

SIE POO TJHIANG,

Diberikan sebagai salinan,

SIE POO TJHIANG.

                                     ———————————————————–

      Pada hari ini, Kemis, tanggal 20 Djuli seribu sembilan ratus enam puluh satu akte ini telah didaftarkan dalam buku register untuk maksud itu jang berada di kantor Pengadilan Negeri di Palembang dibawah nomor 248/1961.

Panitera Pengadilan Negeri

di Palembang,

R.A. HAMID HASANI.

Ongkos-ongkosnja:

Leges               Rp. 6,-

Upah tulis      “ 21,-

                         ______

Djumlah      Rp.27,-

                                                         ____________________

Wihara Sakyakirti Jambi

Wihara  Perjuangan

 (Tulisan ini diambil dari Mamit  9/2012 yang akan terbit Juni ini)

 Adik-adik, sebelum menjadi anggota Sanggha, Ashin Jinarakkhita pernah menjadi guru di Sekolah Sariputra, Jakarta.

Sekolah Sariputra di Jakarta berdiri tahun 1955, merupakan sekolah Buddhis pertama di Indonesia yang didirikan Ong Tiang Biauw (kemudian ditabhiskan menjadi Biksu Jinaputta).

Sekolah ini juga memiliki sebuah wihara, yang merupakan tempat ibadah Buddhis pertama di Jakarta yang tak bercorak klenteng.

Tapi sayang, keberadaan Sekolah dan Wihara Sariputra di Jakarta yang bersejarah itu, kini tinggal kenangan, resmi ditutup 30 Juni 2007, untuk dirobohkan demi kepentingan bisnis.

Namun demikian adik-adik, di Jambi juga memiliki Sekolah Buddhayana yang didirikan tahun 1970 yang kini dikenal sebagai Sekolah Sariputra.

Pemberkatan oleh Ashin Jinarakkhita

Sekolah Sariputra ini meliputi TK-SD-SMP-SMU dan masih menjadi salah satu sekolah favorit di Kota Jambi hingga kini.

Awal berdirinya, sekolah ini hanya memiliki 3 kelas, berdinding papan dan beratapkan seng tanpa plafon, dengan hanya beberapa murid.

Menginjak tahun 1974, murid Sekolah Sariputra bertambah pesat mencapai 1000 orang, yang membuat ruang kelas terus ditambah dan harus memakai kelas bergiliran pagi dan sore.

Saat itu sekolah Sariputra menjadi sekolah terfavorit di Kota Jambi, mengalahkan sekolah favorit misionaris Katolik yang lebih dulu ada.

Namun, ditengah kegemilangan itu, tiba-tiba pada 19 Maret 1974 pemerintah mengeluarkan peraturan yang membongsai keberadaan sekolah Sariputra.

Atas nama pembauran, pemerintah meminta pihak sekolah mengeluarkan 60 persen siswanya yang Tionghoa dan menggantikannya dengan siswa pribumi yang non Buddhist.

Wah, Sekolah Sariputra dan siswanya kelimpungan.

Mengapa? Tak mudah memilih dan mengorbankan siswa untuk dikeluarkan dari sekolah hanya karena mereka terlahir sebagai orang Tionghoa. Karena, terlahir sebagai Tionghoa ataupun Melayu, bukanlah sebuah perbuatan kriminal yang harus diusir dari sekolah.

Selain itu, siswa non Tionghoa yang baru masuk tak harus membayar spp sebesar siswa Tionghoa yang sudah lebih dulu ada, melainkan harus lebih kecil.

Sejujurnya peraturan yang katanya untuk pembauran itu telah menciptakan diskriminasi. Selain itu, sekolah kini kesulitan memenuhi biaya operasional. Belum lagi pekerjaan membonkar kurikulum yang semula bercirikan Buddhis, untuk tak dianggap membuddhistkan murid-murid baru ini.

Syukurlah, melalui kesulitan-kesulitan tak sedikit itu, Sekolah Sariputra tetap menjadi sekolah favorit hingga hari ini. Banyak dari alumnusnya yang kini menyebar di berbagai kota di Indonesia maupun luar negeri, yang tetap menjadi aktivis memenuhi wihara tempat mereka tinggal kini.

Semua ini tentu tak lepas dari jasa Ashin Jinarakkhita adik-adik, yang sejak tahun 1964 telah menabur benih Dharma di Jambi, didampingi murid yang dikasihinya Samanera Jinagiri (kemudian dikenal sebagai Bhikkhu Girirakhitta) dan Samanera Jinaratana.

Berturut-turut dengan bimbingan beliau, didirikanlah Wihara Sakyakirti Jambi tahun 1968 sebagai tempat ibadah umat Buddha yang pertama di Jambi yang tak bercirikan klenteng.

Untuk memenuhi kebutuhan pendidikan umat Buddha yang terus meningkat kemudian di kompleks Wihara Sakyakitri didirikan Sekolah Buddhayana (Sekolah Sariputra), juga merupakan sekolah Buddhis pertama dan satu-satunya hingga kini di Jambi.

Beberapa murid beliau yang berjasa dalam pengembangan agama Buddha awal mula di Jambi adalah: Alm. Ali Santo, Alm Ibu Emy/ Tan Sian Nio(Kumuda Mitta), Alm Tjio Kiem Liang (Virya Mitta), Alm Oen Soei Jang (Satya Mitta) dan Alm Maitrimitta.

Semoga berkat timbunan perbuatan baik yang dilakukan mereka terlahir di alam bahagia. Untuk mereka yang masih dan terus mengabdi, semoga kesejahtraan mereka terpenuhi yah adik-adik, sadhu.

Saat ini ketua Yayasan Caka Maha Jaya yang menaungi Wihara Sakyakirti dan Sekolah Sariputra diketuai Romo Romo Balamitta (Tan Kian Ping).

Wihara Sakyakirti Jambi saat ini, 2012.