Kebencian, Keserakahan, Kebodohan yang Membutakan Mata Hati.

 

Guru yang baik mengajarkan muridnya , untuk berhati-hati, agar tidak ada unsur tersebut dalam pikiran, ucapan, maupun perbuatan muridnya.

Adanya ketiga unsur itu, membuat kita tidak adil.
Hitam bisa jadi putih, putih bisa jadi hitam.
Salah bisa jadi benar, benar bisa jadi salah.

Membuat kita tidak jujur,
bahkan terhadap diri kita sendiri.

Ketika itu terjadi, apakah kita tahu, siapa diri kita?

Samsara, oh samsara.

Pelayan Dharma


Romo Toni
‘Golden Age’ di Sekolah Dharma Loka

Adik-adik, Romo Toni adalah sosok yang peduli dunia anak-anak. Menurut Romo, usia 2 sampai 10 tahun adalah usia keemasan (Golden Age) untuk adik-adik.

Karenanya, pada usia-usia ini, adik-adik harus belajar dengan baik, bergaul dan berteman dengan orang-orang yang baik, agar tumbuh menjadi pribadi yang baik.

Karena keperdulian inilah, Romo memperjuangkan agar anak-anak dari keluarga Buddhis sejak dini bisa belajar di sekolah Buddhis.

“Lewat dari usia ini, selesailah, anak-anak sudah memiliki dunia tersendiri yang tak mudah bagi orang tua untuk masuk ke dalamnya,” kata Romo Toni suatu ketika saat berkunjung ke Prasadha Jinnarakkhita di Jakarta.

Karena keperdulian dan kecintaannya inilah, bersama teman-temannya Romo Toni mendirikan Yayasan Pendidikan Pancadharma Pekanbaru dimana Romo Toni adalah ketuanya, kemudian mendirikan TK Dharma Loka di Pekanbaru tahun 1997.

Mendirikan Sekolah Buddhis bukanlah pekerjaan mudah. Namun, teladan dari Mahathera Ashin Jinnarakhita dan Mahathera Jinnadhammo membuat Romo Toni pantang menyerah.

Dua tahun kemudian, untuk menampung lulusan TK Dharma Loka beliau mendirikan SD Dharma Loka, disusul SMK dan SMU Dharma Loka.

Kini, Umat Buddha Pekan Baru boleh berbangga hati, telah memiliki sekolah formal Buddhis. Sehingga ‘Golden Age’ ini bisa diisi dengan baik.

Namun, menurut Romo Toni yang lahir 9 Oktober 1959 ini, setelah sekolah berdiri, tantangan berikutnya tak mudah mendapatkan tenaga pendidik.

Semoga nanti diantara adik-adik ada yang bisa meneruskan perjuangan Romo Toni yah, atau ada yang mau jadi pendidik?

Kini aktifitas Romo Toni menjadi Dharma Duta keliling, menjabat sebagai Sekretaris Dewan Pengawas PP Majelis Buddhayana Indonesia dan pengurus Palang Merah Indonesia kota Pekanbaru.

Pesan Romo Toni untuk adik-adik, “Rajin-rajin ke wihara, yah.”

(Sumber: Majalah Mamit 9/Juni 2012)

BULE BULE BULE

Bule bule bule

Dalam perjalanan di Dharamsala saya sempat tinggal dan mengikuti
beberapa kegiatan di Tushita Meditation Centre yang didirikan Lama
Yeshe.

Luar biasanya, bila di Indonesia ada satu bule saja muncul di vihara
atau ikut kebaktian pasti beratus sosok mata kelaparan mengarah pada
bule itu. Soalnya masih ada stereo type di pikiran kita, Buddhism
itu
hanya untuk orang Asia, terutama ras Mongoloid (Cina, Jepang, Korea,
Tibet, etc).

Meskipun sering mendengar agama Buddha berkembang pesat di Barat,
tapi mendengar dan menyaksikan sendiri tentu sangat berbeda.

Mari saya kisahkan sedikit surprise itu:
Saat tinggal di Tushita, tamu yang Asia cuma saya dan 2 wanita India
yang lebih mirip bule. Sisanya bule tulen semua. Dari Prancis,
Germany,
Israel, Australia, Italy, etc. Total jendral jumlah bule itu puluhan
orang.=

Mereka semua Buddhis.

Dari segi pengurus, Direkturnya bernama Drokkar (bukan dokar, hehe)—
pernah menjadi bikuni dan sepertinya orang German. Nun senior di
sini
Sangye Khadro (Kattlen Mc Donald), orang Amerika—penulis buku How
to Meditate. Monk in charge 1 orang Belanda dan 2 lagi bule juga,
tapi
tidak tau dari mana.

Resepsionisnya: Sabina (Germany), Pengurus perpustakaan: Noah
(Amerika). Spritual Program Koodinator: Fiona (Australia). Hanya
urusan dapur dipegang oleh orang Asia: Kokinya 1 orang India, 2
orang
Tibet.

Kalau di Indonesia ada bule masuk vihara jadi makluk aneh karena
penampilan fisik mereka berbeda sendiri. Di sini saya mengalami
kebalikannya. Sepertinya saya yang jadi orang aneh di dalam vihara
(gompa) bersama bule-bule itu. Hehe.

Keesokan paginya saya berkunjung ke Dhamma Sikhara, Goenka
Meditation Centre yang letaknya persis di sebelah Tushita Meditation
Centre.

Saat saya menuju ke dalam perkarangan Dhamma Sikhara, seorang
bule tampak berdiri di luar . Rambutnya agak ikal, selembar selimut
dililitkan di tubuhnya yang menggigil, mengatasi pagi yang menggigit
sambil mengawasi peserta meditasi yang sedang antri ransom pagi.

Segera ia meninggalkan posisinya ketika melihat saya, yang begitu
pagi
hadir di padepokan mereka.

“Pagi, ada yang bisa saya bantu ?” tanya dia sambil beranjali.

“Pagi juga, iya, saya pengen tahu lebih banyak tentang tempat ini.”
Kata
saya, tentu saja kami melakukan percakapan dalam bahasa Inggris,
ini
adalah hasil terjemahan dialognya, hehe.

Segera ia menjelaskan tempat ini adalah cabang Goenka di McLeoGanj.
Goenka adalah dst..dst…dari Burma. Kami juga berkenalan. Ia
menyebut namanya Noah. Saya menyebut nama saya Nyana. Ia
menanyakan asal saya dari mana? Saya bilang: Indonesia.

Kamu?

“I am from Israel.”

“So, you are Jewish?” Tanya saya memastikan dia keturuan Yahudi. Tak
ada maksud mengarah pada agama/kepercayaan Yahudi(Jewish). Tapi
pertanyaan ini sepertinya membuat dia agak tersingung, hehe, dan
menjelaskan dengan sangat jelas dan tegas:

“Maybe I am be born in this Jew body. But I am a Buddhist.”

Hehe, nice, kata saya. Lalu kami berbicara lagi. Kata dia, Manajer
mereka yang bernama I-T pernah 2 tahun jadi monk di Myanmar.
Hingga sekarang dia sangat respek kalau melihat monk. Dia sendiri
adalah volunteer dan kebetulan sedang bertugas. Ia meminta saya
duduk menunggu di kantor mereka sementara dia mencari managernya
yang bernama I-T untuk diperkenalkan pada saya, yang ternyata saat
muncul dan berkenalan juga orang Yahudi.

Ternyata ada banyak orang yahudi beragama Buddha menjadi volunteer
di Goenka Center, Dhamma Sikhara. Pagi ini saya sempat berkenalan
dengan 3 bule di situ. Mereka semua Yahudi. Mereka semua Buddhist.

14 Agustus 2004
Dari Room 204, Taiwan Monastry, Buddgaya—India

Nyanachatta