Selamat Datang di Tanah Buddha

Selamat Datang di Tanah Buddha

arahanta

Kemarahan ini tak nyata

Kebencian ini tak nyata

Dendam ini tak nyata

Sakit hati ini tak nyata

Namun, masih banyak yang terus membawanya hingga berputar-putar dalam samsara.

 

Ketika aku berpikir ‘aku’ adalah real, ketidakwaspadaan menguasai aku untuk hidup dalam lautan emosi. kebencian maupun dendam saat ‘merasa’ disakiti. Perasaan2 ini yang terus menciptakan karma buruk tanpa akhir,penderitaan berkalpa-kalpa. (Kalpa is a Sanskrit word (Hindi: कल्प kalpa) meaning an aeon, or a relatively long period of time (by human calculation) in Hindu and Buddhist cosmology. ).

Ketika aku sadar ‘dihina, hanyalah proses matangnya karma buruk yg harus dijalani, maka aku bisa melihat dihina dan terhina hanyalah proses berubahnya unsur angin dingin ke angin panas dalam diri kita. Ketika aku berhasil mengamati unsur angin, angin panas segera berlalu menjadi angin mamiri, angin sepoi-sepoi.

Tapi, kalau yang mengamati tidak sadar, tidak mampu melihatnya, angin itu bisa menjadi angin bahorok, tornado yg meluluhlantakkan, mencuri segala kedamaian yg kita miliki. Sebelum si pengamat menyadarinya, angin itu tetap akan panas dan makin panas. Ada yg menyebutnya setan yang hidup dalam diri kita. Makan dari energi kita.

Dalam meditasi kesadaran penuh, ketika kesadaran cukup kuat, kita mampu merasakan perubahan itu.

Meditasi kesadaran sebenarnya adalah latihan mempertahankan kesadaran itu. Diperlukan daya upaya yang sangat besar untuk mengalami apa yg disebut ‘sadar’. Karena sadar bukan berarti tidak pingsan atau tidak sedang tidur.

Saat kita sudah mengerti dan mengalami ‘sadar’, selanjutnya diperlukan daya upaya sangat besar untuk terus mempertahankan kesadaran. Karena kesadaran timbul tenggelam, datang dan pergi dengan cepat. Tidak mengherankan, beberapa pusat meditasi memiliki disiplin sangat ketat dalam melatihnya. Bahkan seperti perguruan silat, memiliki jurus-jurus dan tehknik latihan berbeda satu dengan lain.

Ketika kesadaran kita terjaga terus menerus tanpa terputus, bahkan saat tidur… well its arahanta. Selamat datang di tanah seberang. Tanah dimana kebencian, dendam dan sakit hati tiada lagi memiliki tempat. Habis.

Meditasi dan sadar harus dialami sendiri.Tidak bisa diwakili. Seseorang yang kesadaran terjaga tidak butuh banyak tidur. Kalaupun tidur, tidurnya adalah tidur berkualitas. Ibarat mengisi baterai handphone, tidurnya atau sadarnya adalah proses mengisi baterai handphone.

Sebaliknya orang yang tidak sadar, sepanjang hidup baik tidur atau tidak, mereka sedang menghabiskan energi. Bahkan tidurnya lebih boros energi, karena banyak diisi mimpi dan pikiran berkeliaran.

Meditasi kesadaran mengajarkan kita mengalami, melihat sebuah proses secara utuh dari awal sampai akhir. Mengalami 4 kebenaran mulia bukan teori, tapi sesuatu yang nyata. Yakni: kebenaran adanya duka, kebenaran sebab timbulnya duka, kebenaran duka bisa lenyap, kebenaran melihat sebab lenyapnya duka.

Duka ada dalam setiap proses kehidupan kita. Ketika kita bisa melihat, mengalami proses itu secara utuh, duka itu berubah menjadi sukacita. Kegiuran, belas kasih. Saat itu tiba, tiada lagi kebencian dan dendam, karena yg kita alami adalah bagian dari proses yg harus kita jalani. Kalau sudah begitu, selamat datang di Tanah Buddha.

Bagaikan kawanan angsa yang meninggalkan kolam demi kolam,
demikian mereka meninggalkan tempat kediaman demi tempat kediaman.

(Dharmapada VII:91)

Bandar Kemayoran, 14 Agustus 2015.

Tulisan ini disarikan dari opini saya dalam diskusi di Grup whatsapp  MBI Jakarta.

Petugas Upacara Berseragam Biksu

206413_biksu-palsu-di-china-kendarai-ninja-hasil-ngemis_663_382

Petugas Upacara Berseragam Biksu

Semalam diminta Dharmadesana di Ruma Duka Atmajaya (Heaven Grup), ada keluarga umat di Wihara Cibubur yang meninggal. Setelah baca paritta dan Dharmadesana selesai kami duduk menikmati jamuan roti dan “air sorga” (air mineral mereknya Heaven).

Saat minum dan makan roti, masuklah dua orang: yang satu kepalanya plontos, satunya rambut dua senti. Yang kepala plontos lebih tua, pakai kaos kerah warna kuning dan celana panjang bahan warna coklat, yang rambut dua senti pakai kaos dan celana panjang seperti pengunjung biasa.

Pandita di sebelah saya berbisik, “katanya itu suhu di sini.”

“Suhu? Mungkin maksudnya guru kali, dalam pengertian chinese, suhu tidak berarti biksu, tapi orang yang dianggap lebih tahu, guru” kata saya.

Pandita itu mengangguk, “iya yah,” katanya.

Tapi apa yang selanjutnya terjadi membuat saya tercengang, “kedua orang itu bersalin dan menggunakan jubah biksu Mahayana berwarna kuning, lalu liam keng memimpin sembahyang tutup peti.

Oh, ternyata jubah telah menjadi seragam upacara.

Apa boleh buat, umat lebih sreg kalau ada orang berkepala botak memakai jubah biksu memimpin upacara. Sementara stok biksu terbatas, seseorang menjadi biksu sebenarnya tidak untuk memimpin upacara, karena agama Buddha sejatinya bukan agama upacara.

Jadi hukum ekonomi bermain, permintaan besar, ampao besar, tapi suply terbatas. Munculah manusia-manusia berkepala botak memakai jubah biksu memimpin upacara, lalu kembali berpakaian biasa saat sembahyang selesai.

Selesai memimpin kebaktian tutup peti, saya melihat kedua orang itu melepas jubahnya, berpakaian layaknya umat biasa.

Bandar Kemayoran, 09 Februari 2015

Ketika Komnas HAM harus Belajar arti HAM

 

Yap Tiam Hiem, Soe Hok Gie dan Munir.
Yap Tiam Hiem, Soe Hok Gie dan Munir.

Perjuang HAM (Hak Asasi Manusia) bagi saya adalah kegiatan yang sangat mulia. Dalam pikiran saya mereka adalah orang-orang seperti Yap Thiam Hiem, Soe Hok Gie, Munir, Adnan Buyung Nasution atau Bambang Wijayanto yang saat ini menjadi Ketua KPK.

Dalam gambaran saya, mereka adalah orang yang gelisah melihat ada yang mendapat perlakuan tak adil atau dibedakan karena ras, agama, sikap atau pandangan politik mereka.

Yap Thiam Hien

Pada masanya Yap Thiam Hien, ketika Orde Baru begitu kuat dan komunis menjadi bulan-bulanan dalam arti sah untuk dibunuh, Yap Thiam Hiem yang dikenal sebagai pribadi antikomunis, tampil membela para tersangka G30S, sepertiAbdul Latief, Asep Suryawan, dan Oei Tjoe Tat. Ia juga membela Soebandrio, bekas perdana menteri, yang menjadi sasaran cacian massa pada awal Orde Baru.

Pembelaan Yap yang serius dan teliti pada Soebandrio, membuat hakim-hakim militer di Mahmilub (Mahkamah Militer Luar Biasa) bingung dan kesal.

Soe Hok Gie

Soe Hok Gie sendiri adalah arsitek demo mahasiswa yang menggulingkan kekuasaan Orde Lama. Ketika rezim yang ia tantang runtuh, disusul bangunnya rezim Orde Baru yang tak lebih baik dari rezim sebelumnya, Soe Hok Gie menjadi gundah-gulana. Ia berusaha menyuarakan suara-suara mereka yang tertindas melalui pulpen wartawannya. Seperti pembantaian di Bali, pembunuhan, penjarahan terhadap mereka yang dianggap komunis.

Akan tetapi, seperti kata Arif Budiman (Kakaknya Soe Hok Gie) di Taman Ismail Marzuki tahun 1998 saat Majalah Tempo dibredel oleh pemerintahan Orba “seorang perjuang adalah orang yang berjalan sendiri di jalannya,” demikianlah yang dialami Soe Hok Gie. Sahabat-sahabat seperjuangan yang silau oleh harta dan tahta mulai menjauhinya. Banyak yang mengingatkannya untuk berhati-hati. Ia dikuntit dan juga diancam akan dibunuh.

Soe Hok Gie akhirnya menghembuskan nafas terakhir di puncak gunung Semeru tahun 1969 tepat sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27, konon akibat menghirup asap beracun dari gunung. Tukang peti mati yang mengirimkan mayatnya ke Jakarta, yang hanya mengenalnya dari tulisannya pun menangis, akan kepergian anak muda yang luar biasa ini.

Mengingat aktifitas dan ancaman yang pernah diterimanya, saya yang tak mengenalnya tetapi sangat mengaguminya pun sampai saat ini ragu, apa iya dia meninggal karena gas beracun di gunung?

Munir Said Thalib

Akan halnya Munir Saib Thalib, tak ada yang menyansikan kenekatannya. Ketika dominasi militer di segala sektor begitu kuat di masa Orde Baru, ia menjadi pemimpin dan harapan mereka yang tertindas oleh kekuatan ’sepatu lars’ ini, dimana yang lain hanya bisa bunkam. Saat menjabat Dewan Kontras, dia maju membela para aktivis yang menjadi korban penculikan Tim Mawar dari Kopassus.

Setelah Soeharto jatuh, penculikan itu menjadi alasan pencopotan Danjen Kopassus Prabowo Subianto dan diadilinya para anggota tim Mawar.

Munir sendiri meninggal diracun dalam perjalanan pesawat JakartaAmsterdam, 7 September 2004 pada umur 38 tahun. Hingga kini, pengusutan akan kematiannya masih seperti menegakkan benang basah.

Hidup untuk Orang Lain

Mereka yang saya ceritakan di atas, adalah orang-orang yang tahu kemana arah hidupnya dan siap mati untuk itu. Mereka tak digerakkan oleh iming-iming tahtah ataupun materi, tapi semata-mata tidak sudi melihat adanya ketidakadilan. Tidak sudi melihat ada yang dijalimi. Tidak sudi melihat ada yang dirampas haknya.

Mereka hidup bukan untuk diri sendiri, tapi untuk kepentingan orang banyak.

Ketika mereka berpulang, banyak yang menangisi kepergian mereka, meski tak kenal sekalipun, tapi orang-orang tahu betapa mulianya mereka ini.

Penutup

Sebagai penutup, cobalah Anda perhatikan sepak terjang anggota Komnas Ham pariode 2012-2016 ini. Baru jadi Komnas HAM sudah rebutan jadi ketua dan rebutan mobil Camry. Ham apa yang akan ditegakkan oleh orang-orang dengan mental seperti ini? Hamburger? Hahaha!

Mungkin benar kata Ahok: “Musti ditinjau ulang tuh pengertiannya Komnas HAM. Perlu saya kasih kuliah umum sama mereka arti HAM itu apa.” ungkap Ahok di Balaikota Jakarta, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat.