KREMASI

KREMASI

Nenek saya punya adik meninggal. Selama masa duka jenazahnya
disemayangkan di rumah duka Atmajaya. Putranya 3 orang, putri 2
orang. Putra ke-2 termasuk orang hebat, punya pabrik baja yang
jumlah karyawannya tak terhitung (oleh saya) saking banyaknya. Maka
selama masa duka, karangan bunga untuk nenek saya punya adik (cimpo)
berjilbun memenuhi dan memonopoli perkarangan rumah duka Atmajaya,
tentu atas nama putra nomor 2nya itu.

Demikian juga saat dibawa ke tempat kremasi di Cilincing, dari kaca
bus yang mengangkut keluarganya di urutan paling depan, saya melihat
iringan mobil para pelayat yang nyaris tak terhitung. Saya berusaha
menghitung jumlah mobil pelayat, tapi selalu sebelum ketemu mobil
terakhir jalan sudah berkelok, sehingga usaha saya menghitung gagal.

Tiba di tempat kremasi jenazah, Cimpo saya diletakkan di atas
tumpukan kayu bakar, diselimuti baju-bajunya, memakai sepatu, tak
lupa rumah kertas (lengkap setifikat) berserta perlengkapannya :
parabola, tivi, etc(tidak tahu apakah juga disertakan kartu kredit
kertas atau handphone merek terbaru dari kertas) dan berkoper-koper
uang-uangan. Saya masih sempat melihat tangan dan kakiknya mengintip
keluar, di sela-sela bunga yang kami taburkan, saat membaca parita
sambil mengelilingi jenazahnya.

Setelah itu kami diminta keluar dari ruangan pembakaran. Pembacaan
doa dilakukan lagi di luar dipimpin 2 orang samaneri. Kemudian
dilanjutkkan lagi oleh orang-orang maitrea yang menyanyikan lagu
bahasa mandarin + musik (diiringi angin sepoi-sepoi
kami ‘berkaraoke’, tapi itu menyejukkan, meski saya tak mengerti
artinya). Gerombolan besar anak-anak dan cucu-cucunya tetap diminta
berlutut. Setelah itu terasa ada yang menerjang kulit, udara terasa
panas, secara reflek kami mundur beberapa langkah. karena melalui
celah pintu kami melihat jilatan api kekuning-kuningan, ternyata
tungku sudah dinyalakan! Anak-anaknya serentak
berteriak: “Maaaaaaaaaa!!!!!!!!!!” Dan
cucunya : “Amaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!” Muka-mukanya berubah merah, syok,
entah karena panas oleh api, atau panas karena emosi tak terbendung.
Suasana begitu haru-biru. “Maaaaaaaaa.!!!” “Amaaaaaaaaa..!
huhuhuuuuuuuu…!!!”

Saya terbengong-bengong mencari tempat duduk melihat peristiwa itu.
Kami serombongan orang ke sini mengantar sesosok tubuh Cimpo saya.
Yang saya masih ingat persis wajah dan cara berjalannya. Juga
kebaikan hatinya yang kalau bertemu selalu was-was bertanya saya
sudah makan belum? Lalu dengan tubuh tuanya yang tetap gesit ia
menyiapkan makan untuk saya—–ia tak pernah mengijinkan saya
menyiapkan sendiri. Ia juga selalu hati-hati menanyakan keadaan mama
saya—yang sudah ia anggap anaknya sendiri.

Lalu suatu hari terdengar kabar ia terjatuh di kamar mandi. Kami
ikut menjenguknya di rumah sakit. Ia sadar, matanya masih bisa
terbuka. Tapi itu tak lama. Lusa kemudian saat di kantor HP
saya ‘berkicau’, beritanya ‘Cimpo sudah meninggal’. Saya diminta
membawa mama ke sana. Mata saya hangat menatap jauh melalui jendela,
melihat awan gemawan di langit yang menghitam. Udara terasa membeku.
Semua begitu cepat, Live so fast….

Dan kini sosok Cimpo saya terbentang di sebuah kamar berukuran + 4×4
m. Sendirian di atas perapian merah kekuning-kuningan yang dengan
ganasnya menjilati sekujur tubuhnya. Sementara di luar ruangan itu,
dibatasi selembar tembok dan sebuah daun pintu yang terbuka sedikit,
dalam jarak begitu dekat anak-anak yang telah lahir dari rahimnya,
beserta menantu dan cucu-cucunya yang begitu ramai, hanya bisa
menangis. Yah, hanya bisa menangis tak berdaya.. Mungkin sampai
tahap ini, manusia baru bisa merasakan mereka hanyalah mahkluk
biasa. Uang tak banyak berarti, selain bisa memberikan sebuah
pemakaman yang lebih mewah, ia tak bisa menghidupkan yang mati. Yang
bersisa kemudian hanyalah kesedihan, atau bahkan terkadang
mendatangkan kegembiraan, bagi yang mendapat warisan, atau yang
sudah merasa kesulitan mengurus orang tuanya yang jompo. Sudah
bebas! Katanya.

Duduk di kursi saya melihat asap hitam keluar dari bagian atas
ruangan itu. Cimpo saya di dalam ruangan itu. Sendiri….
Betermankan asap dan api, kemudian ia akan menguap entah kemana….
Kemanakah gerangan ia pergi? Saya masih bertanya-tanya. Saya melihat
banyak orang di sana. Terhadap pertanyaan ini, seperti juga
kebanyakan agama, kebanyakan orang hanyalah bisa berteori-teori.
Saya mengamati orang-orang di sana lagi dengan beragam karakter.
Lalu saya mengamati sekeliling. Mengamati asap yang hilang di langit-
langit biru tak berbatas. Tiba-tiba saya merasa sangat kecil.., di
tengah dunia yang maha luas. Ada ngilu terasa di sekujur tubuh saya.
Tiba-tiba saya merasa sangat lelah. lelah… lelah… dan lelah….

Besok atau lusa beberapa anaknya akan ke sini lagi. Untuk membuka
ruangan itu. Tentu saja mereka tak akan bertemu sosok Cimpo
sebagaimana yang biasa kami kenal. Atau seutuhnya seperti waktu
dimasukkan ke dalam. Melainkan hanya akan mendapatkan seonggok abu.
Yah, seongok abu tubuh Cimpo, karena itu yang dicari dan ambil serta
harapkan. Sudah pasti mereka tak berharap menemukan sosok Cimpo yang
duduk dengan manisnya menunggu mereka lalu menyapa: “Hai…”, karena
bila itu ternyadi, pasti banyak yang kencing di celana. Kemudian abu
itu dimasukkan ke dalam guci, untuk disemayangkan di rumah abu di
Ekayana, bertetangga dengan guci-guci lain.

Cimpo saya, yang saya kenal sudah tak ada lagi. Tak ada lagi sosok
tua gesit, yang kalau bertemu pasti bertanya : “Li ciak ho boi” Kamu
sudah makan? Atau ” Li-e mak le?” Mama kamu di mana?

Yah, ia sudah tak ada lagi. Yang ada kini hanya seonggok abu dalam
guci yang tak bisa berbicara. Atau kalau ia bisa berbicara, pasti
membuat orang yang mendengarnya terbirit-birit. Apalagi Awi yang
mejanya bersebelahan dengan rumah abu, mungkin ia sudah memanggil
lontong-lontong. eh Tolong-tolonggggg.. Yang mana sampai hari ini,
itu belum terjadi.

Trawas (Jawa Timur), 24 September 2001
Chando

TOLONGLAH….

Tolonglah, Suami saya di rumah sakit…hiks hiks hiks”

old woman
old woman

Saya tengah mengetik domain www.Yahoo.com di komputer warnet ketika
kepala A’i (panggilan untuk wanita tionghoa paruh baya) kurus
berbaju hitam itu muncul dari belakang layar monitor. “Beli yach,
buat bantu A’i, bantu biaya suami A’i yang masuk rumah
sakit..huhuhuhu….hik..hiks”

Tanpa memberi waktu saya menyela, dia sesungukan dengan jemari dan
telapak tangan mengekspresikan orang menyeka air mata, dua bungkus
dodol bulet coklat terbungkus plastik bening diletakkan di meja di
samping monitor.
“Bantu A’i, A’i orang susah.”.katanya.
“Emang suaminya sakit dimana?” tanya saya melirik dia…yang
kini berdiri menyamping di depan saya yang tengah duduk menghadap
monitor.
“Beli ini aja yach, dodol, bantu A’i, nanti Tuhan yang akan
membalas…”
“A’i, emang suaminya sakit dimana? ” tanya saya mengulang.
“Di Grogol, rumah sakit Grogol, Sumber Waras. A’i dagang
buat nutupi biaya di rumah sakit.”kata dia cepat.
“Di ruang apa A’i, harus yang jelas, nanti kita bisa
bantu…tapi kita harus liat dulu kondisinya,” kata saya serius,
mata saya menatap dia agak lama.
Dia melirik saya cepat, lalu secepat itu juga berhiks-hiks
dan menjawab: “Beli ini… suaminya udah meninggal..huhu, ini untuk
bayar kontrak rumah…” katanya berhik2 lagi sambil menjinjing
kantong kresek kembali mengekspresikan orang menangis dan mengelap
air mata dimatanya yang tidak berairmata.

Secepat kilat juga ia menyodorkan dua bungkus dodol bulat panjang
small size, yang di toko mungkin satunya nggak nyampe sepuluh ribu.
“Beli, yac….”
Mata saya melihatnya memaklumi, “berapa ini A’i? Tanya saya,
pikiran paling sepuluh ribuanlah.
“Dua biji lima puluh ribu…. Hiks hiks, belilah, kasihan
A’i, buat bayar kontrak…tadi di sono ada yang bantu
juga…” katanya memperlihatkan beberapa lembar lima puluh ribu di
tangannya

Lima puluh ribu? Saya mengerutkan kening… “m.. gak usalah”
kata saya mengembalikan dodol yang ia sodorkan, lalu menarik dompet
keluar bermaksud memberinya uang sekedarnya.
“Nggak.. nggak kalau dikasih uang aja, A’i nggak mau…”
katanya menolak. “Beli ini aja, bantu A’i…yach beli yach. Bantu
A’i, nanti Tuhan pasti bantu Engko juga..” katanya.

Saya buka dompet, mencari uang lima puluh ribu. Tak ada,
yang ada hanya tiga lembar sepuluh ribu dan satu lembar lima ribu.
“Nggak deh A’i…” kata saya.
“Bantu A’ilah. Cuma lima puluh ribu…kok..buat bayar
kontrak”katanya.
Saya menatapnya sebentar..”Saya pengen bantu A’i. Tapi
dodolnya kemahalan. Duit saya aja nggak nyampe lima puluh ribu…”
kata saya.
“Oh… tolonglah….”
“Kalo lima puluh ribu saya ga ada, kalo A’i mau, ini buat
A’i aja, ” kata saya menyelipkan selembar sepuluh ribuan ke
tangannya.

Dia yang semula mengatakan tak mau diberi uang aja, sekarang
reflek menerima uang itu, mengucapkan kamsiah lalu buru-buru keluar
pintu.
Kalau udah menyangkut orang menghiba, apalagi A’i-A’i
seperti itu, dengan baju kumal dan tas kresek hitam, dengan ekspresi
menangis, perlu uang untuk suami di rumah sakit, meski kemudian
alibinya diganti untuk bayar kontrak, sungguh sangat melemahkan
hati. Melihatnya kadang mengingatkan saya pada mama yang sudah tua
di kampung.

Dalam sepersekian detik kejadian, rasanya kalau ada uang
limapuluh di dompet mungkin udah saya berikan.

Belas kasihan, kadang memang menjadi bumerang saat harus
bertemu orang-orang seperti ini. Tapi sekali-kali gpplah.

Di tengah saya mengetik naskah ini, kembali untuk kesekian kali saya
menerima kiriman sms kalo saya menang undian berhadiah 20 juta dari
telkomsel.
Hahaha, its very-very funny ah.
Saya langsung mendelete message itu, kalo lagi berbaik hati saya
sempat membalas sms dengan: “hadiahnya buat kamu aja, ingat hukum
karma, jangan menari-nari di atas penderitaan orang lain. Mau
informasi lebih lanjut lihat di www.gombal.com.”

Ekayana Buddhist Centre, Perpustakaan Manjusri
25 April 2003

SAAT di MYANMAR

Saat di Myanmar

Di Panditarama Forest Monastry—Myanmar, kegiatan dimulai jam 03
subuh, ketika kentungan besar kayu dibunyikan; tung tung tung
tung….!!!!

Panditarama Forest Monastry merupakan center meditasi yang terletak
di hutan, jauh dari Yangon, ibukota Myanmar. Saya tidak mencatat
persis berapa jam perjalanan, tapi saat brangkat dari Yangon diantar
sopir Pak Handaka, saya beberapa kali tertidur , bangun, tertidur
dan
bangun lagi di dalam mobil tapi belum sampai di tempat tujuan. Kalau
tidak salah sekitar 3 jam perjalanan.

Sepanjang perjalanan di kanan kiri jalan banyak stupa, tanaman hijau
dan rumah-rumah sederhana orang Myanmar yang kondisinya tak bedah
dengan Indonesia di tahun 70 atau 80an. Ditambah dengan ras (warna
kulit, postur tubuh) orang Myanmar yang 99% mirip orang Indonesia,
membawa saya merasa tak sedang ada di luar negeri.

Satu-satunya perbedaan kontras dengan Indonesia; 95% penduduk
Myanmar beragama Buddha Theravada, sehingga bila di Indonesia yang
mayoritas muslim, Anda bisa menjumpai mesjid dimana-mana,
kebalikannya di sini kita bisa menjumpai stupa(vihara) dimana2 di
sepanjang jalan. Kalau di Indonesia memiliki mesjid Istiqlah, di
Yangon
tedapat Swedagon Pagoda yang konon didirikan dua saudagar Tapusa
dan Balika yang merupakan murid Guru Buddha dari umat berumah
tangga yang pertama (kalau saya tak salah).

Akisah setelah berdana makanan pada Guru Buddha, kedua saudagar
memohon sesuatu dari Guru Buddha untuk dibawa pulang ke Goldenland
(Myanmar), Guru Buddha memberikan beberapa helai rambutnya.
Sekembalinya di Myanmar mereka mendirikan pagoda sebagai tempat
bagi rambut Guru buddha, Pagoda itu sampai sekarang masih ada
bahkan bertambah mega, dimana hari ini dikenal sebagai Shwedagon
Pagoda. Maka tidak salah kiranya kalau orang Myanmar mengklain
bahwa Buddhism di Myanmar merupakan tradisi tak terputus selama
2500 tahun dari jaman Guru Buddha.

Perlu diketahui, meski Theravada tapi jubah bikkhu di Myanmar
berwarna merah safron seperti bikkhu Tibet. Dan karena mayoritas
penduduknya beragama Buddha, pemandangan bikkhu-bikkhu
Theravada berjubah merah di sepanjang jalan sudah merupakan hal
yang biasa. Seperti juga di Dharamsala, kadang terlintas pikiran;
Sebenarnya yang lebih banyak bikkhu atau umatnya yach? Selain
bikkhu,
terdapat juga Daw (silacarini) yang jubahnya berwarna pink.

Ajaran Guru Buddha yang mendalam di sanubari masyarakat Myanmar,
membuat mereka memiliki kebajikan terpuji dalam perilaku sehari-
hari.
Kebajikan ini bisa kita rasakan dengan fibrasi/getaran damai yang
terasa
saat Anda berkunjung ke negara ini.

Mereka yang pernah tinggal di Myanmar, umumnya memiliki kenangan
yang manis atas kebaikan hati orang Myanmar dan fibrasi damai di
sana.

Menurut rekan Handaka, saat ditugaskan ke Myanmar dulu, pertama kali
beliau berangkat sendiri melakukan survei kelayakan, hasilnya ia
tercengang-cengang melihat keterbelakangan negara ini. Tak kuasa
menahan rasa sedih, malam itu saat berbaring sendiri, cairan hangat
mengalir dari kedua pelupuk matanya sambil menatap langit-langit
kamar, ia menangis. Tak kuat memikirkan, kalimat apa yang harus ia
ucapkan, untuk mengaja istri dan kedua anaknya yang masih kecil
hidup
di tempat seperti ini. Istrinya mungkin tak keberatan, tapi ianya
yang tak =

tega.

Tapi itu dulu, kini karena prestasinya, sudah beberapa kali
perusahaannya ingin menarik beliau ke kantor pusat dengan jabatan
yang lebih tinggi. Sekarang beliau malah menolaknya. Mereka
sekeluarga merasa nyaman tinggal di Myanmar.

Mungkin di Jakarta dia bisa mendapat posisi dan gaji yang lebih
tinggi,
tapi soal kedamaian, bekerja dengan orang-orang yang tidak memiliki
kebencian di hatinya, apa yang ada di Myanmar tak bisa diukur
dengan
uang.

Saat di Thailand saya bertemu konglomerat keturunan cina yang
dilahirkan di Myanmar. Sekitar umur 10 tahun oleh situasi politik
tak
sehat negara itu, mereka sekeluarga pindah ke Taiwan. Kini orang
tua
dan saudara-saudaranya telah menjadi warga negara Amerika,
sedangkan beliau mengikuti suaminya orang Thailand memiliki
kewarganegaraan Thailand.

Meskipun sudah tak memiliki sanak-saudara di sana(karena
meninggalkan Myanmar saat umur 10 tahun, kini beliau berumur 50an),
saat ini beliau masih rutin mengunjungi Myanmar. `Mengapa?’ tanya
saya. `Karena, orang-orang di sana tak memiliki kebencian di hati
mereka,’ katanya.

Mengapa bisa seperti itu? Mari saya ceritakan sedikit sebabnya.

Di Myanmar, meditation centre bertebaran di mana-mana. Bahkan saya
bisa mengklain centre meditasi terbaik, guru-guru meditasi kelas
dunia
berasal dari Myanmar. Sebut saja; Mahasi Sayadaw, U Panditarama,
Chanmyay, Shwe U Min, Goenka dan banyak lagi.

Bagi masyarakat di Myanmar, belajar vipassana dan tinggal di
meditation centre, sepertinya telah menjadi kebiasaan bila libur
tiba.
Akan halnya menjadi samanera atau bikkhu sementara(ditabis
berdasarkan usia), juga menjadi kebiasaan mereka, terutama
menjelang tahun baru Myanmar.

Seminggu menjelang tahun baru Myanmar saat saya berada di Shwe Oe
Min forest monastry, centre penuh oleh mereka yang datang untuk
menjadi samanera ataupun bikkhu sementara. Hebatnya ada ayah dan
anak yang datang bersamaan, anaknya karena masih kecil ditabhiskan
menjadi samanera, sedangkan bapaknya sepertinya karena sudah diatas
19 tahun ditabhiskan menjadi bikkhu. Namanya juga sementara, umur
penabhisan ini tidak lam; bisa 3 hari, satu minggu, satu bulan
ataupun 3
bulan. Ada juga yang keterusan, ada yang tidak. Tapi, penabisan
berulang-ulang sudah menjadi hal yang lumrah di sana. Kalau hal
seperti ini terjadi di Indonesia, hehe, sudah pasti banyak
buruksangka
dialamatkan kepada Anda.

Karena bekal latihan meditasi dan balajar dharma inilah, nilai-nilai
ajaran buddhism seperti tidak memiliki prasangka buruk, tidak
memiliki
itikat yang jahat menjadi keseharian hidup mereka. Akibat cara
hidup
yang tidak berprasangka buruk, tidak memiliki itikat jahat, bisa
kita
rasakan dari fibrasi damai pada lingkungan mereka.

Keadaan yang saling mendukung antara kebiasaan yang baik , hati yang
baik membuat vipassana mereka menjadi baik, vipassana yang baik
semakin meningkatkan kebiasaan hidup yang baik. Keadaan yang saling
mendukung antara sila dan vipassana ini membuat mereka memiliki
kebijaksanaan yang baik.

Dengan kebijaksanaan yang ada pada sayadaw-sayadaw (biasanya kata
sayadaw digunakan untuk menyebut atau memanggil bikkhu senior) di
pusat meditasi, membuat kesalahan fatal yang ada pada Agama Buddha
saat ini, yang bahkan pada jaman Guru Buddha ditentang oleh Guru
Buddha(Kalama Sutta), yakni sebuah agama ritual, tereleminir di
sini.

Hal-hal yang sebenarnya bukan dan tidak ada di vinaya bikkhu tetapi
seolah-olah sudah menjadi vinaya bikkhu Theravada semisal bikkhu
tidak boleh menerima langsung bila dana (atau barang apapun juga)
diberikan oleh wanita(di Thailand dan oleh sebagian bikkhu Theravada
di Indonesia yang kiblatnya ke Thailand ini sudah menjadi satu
vinaya)
tidak terjadi di sini. Di sini bhikku boleh menerima langsung
barang/dana
yang diberikan oleh kaum hawa tanpa harus menggunakan selembar
kain. Konon peraturan ini diciptakan oleh Raja Thailand yang menjadi
bikkhu, dimana saat menjadi bikkhu untuk menata kembali Sangha di
Thailand beliau banyak menciptakan peraturan kebikkhuan yang baru.
Konon katanya lagi, setelah banyak menciptakan vinaya baru untuk
bikkhu, beliau kemudian lepas jubah dan memiliki banyak istri, hehe.

Selain itu, satu hal yang membahagiakan saya saat di Meditation
Centre
di Myanmar, kita tidak disibukkan segudang doa. Makan yach makan,
tidak ada doa pembuka makan atau penutup makan. Umat yang
berdana makanan pun tak memiliki kemelekatan pada dana yang
mereka lakukan, semisal kalau berdana harus dibacakan doa—kalau
belum didoa belum resmi/belum srek, hehe. Di sini mereka mengerti
sepenuhnya, semuanya adalah batin.

Pengertian hukum karma yang baik membuat mereka mengerti semua
sudah otomatis. Menanam kebajikan sudah pasti buahnya kebajikan,
yang baik adalah berdana dengan penuh hormat, dengan setulus hati,
tanpa harus memiliki kemelekatan pada apa yang sudah kita danakan
dan apa yang kita dapat kemudian. Balik modal gak?

Memang sering terjadi, dalam pengertian yang belum sempurna, orang
yang berdana masih memiliki konsep dagang, masih memiliki keinginan.
Terus-menerus menghitung, apa yang telah mereka danakan, lalu apa
yang mereka dapat?

Tentu saja pemberian tertinggi, pemberian tanpa berharap. Memberi
hanya memberi, titik. Seperti kasih seorang ibu yang dicurahkan pada
anaknya, hanya memberi dan tak berharap kembali. Dalam sejarah
peradaban makluk hidup, tentu kita telah melihat dan mengerti,
betapa
dalam dan tingginya kualitas pemberian seorang ibu. Pemberian yang
tulus dan dalam, penuh kasih tanpa berharap kembali.

Sepenuhnya yang ditekankan pada para meditator di meditation centre
hanya sikap yang baik, moral yang baik, prasangka yang baik,
kebiasaan
yang baik, menjalankan sila (semua peserta meditasi wajib mengambil
8 sila), dan tentu saja meditasi yang kontiniu dari pagi hingga
malam.
Nilai-nilai hidup Guru Buddha diimplementasikan dalam kehidupan
sehari-
hari, Anda bisa menyaksikan dan mengalami sendiri di sini Buddhism
is
a way of live, not a way for pray.

Kalaupun membaca doa, doanya dibaca dalam bahasa yang bisa kita
mengerti. Di Panditarama Forest monastry setiap jam 5 subuh,
sekitar
seprempat jam kita membaca doa dalam selembar kertas(cuma
selembar) yang dibagikan. Doanya dalam bahasa Myanmar (sehingga
orang Myanmar mengerti artinya) dan dibawah tulisan romawi bahasa
Myanmar terdapat terjemahan dalam bahasa Inggris, sehingga mereka
yang tidak mengerti bahasa Myanmar juga mengerti doa apa yang
sedang dibaca, yang sudah pasti isinya menyatakan perlindungan pada
Triratna, juga doa yang memancarkan cinta kasih semoga semua
mahkluk berbahagia.

Di Shwe U Min tidak ada lembar kertas doa yang dibagikan pada doa
singkat di sore hari. Sehingga kita yang orang asing tak wajib ikut.
Doanya sih sama dengan yang di Panditarama Forest Centre, singkat,
cinta kasih untuk semua mahkluk hidup. Di Panditarama setiap hari
jam
12 siang kita mendengarkan ceramah dari Panditarama. Bukan
Panditarama sendiri yang ceramah, tapi dengerin kaset ceramahnya,
hehe. Meskipun Panditarama tidak hadir, sebelum ceramah dimulai
Upasaka dan Upasika yang merupakan yogi di situ harus mengambil 8
sila dulu (sila diambil tiap hari), yang mana Panditarama diwakili
bikkhu
yang menjadi asisten pengawas para meditator.

Proses pengambilan sila itu pun sangat singkat dan tidak bertele-
tele.
Diawali pernyataan belindung pada Triratna, lalu Si Bikkhu senior
langsung mengatakan (dalam bahasa Myanmar) tiba saatnya mengambil
sila, lalu yogi-yogi itu langsung melafalkan 10 sila yang mereka
ambil,
selesai. Kaset ceramah Panditarama, yang merupakan rekaman
ceramah live-nya lalu diputar. Panditarama ceramah dalam bahasa
Myanmar, ada suara bule yang menerjemahkannya dalam bahasa
Inggris. Sehingga baik orang Myanmar maupun orang asing yang
menjadi meditator di situ mengerti arti ceramahnya. Lamanya ceramah
Panditarama hanya setengah jam, tetapi karena harus diterjemahkan
total jendral waktu yang dibutuhkan 1 jam. Sebaliknya di Shwe U Min
karena rekaman ceramah Shwe U Min tidak ada terjemahannya, kita
yang orang asing tidak wajib mengikuti session ceramah.

Saya rasa, saya merasakan dan mengalami tradisi tidak putus dari
jaman Guru Buddha sebelum parinibana di Myanmar. Ajaran Guru
Buddha yang lebih menekankan Sila(sila yang diberikan Guru Buddha,
bukan yang diciptakan raja), Samadi dan Prajna. Prajna tentu lebih
tinggi dari Sila dan Samadhi yang tunjuannya untuk menghasilkan
Prajna itu sendiri. Ketiga ini adalah tiga serangkai, karena tanpa
Sila(
kebiasaan hidup yang benar) dan Samadhi, Prajna itu tidak bisa
muncul.

Saya rasa, saya merasakan dan mengalami tradisi tidak putus dari
jaman Guru Buddha sebelum parinibana di Myanmar, ajaran Guru
Buddha masih murni ajaran Guru Buddha, belum ganti nama menjadi
Agama Buddha, salah satu agama yang dikenal memiliki ritual
terbesar
di bumi ini, saat ini.

Rengasdengklok, 18 September 2004
ashin nyanachatta

NYALA yang BERPUTUS

NYALA YANG BERPUTUS

Kedua tangan saya mengembang, Sang Ibu ada di sebelah kanan saya,
kedua putrinya ada di sebelah kiri saya, tangan saya merangkuh
pundak mereka. Sekali-kali jemari di tangan kiri memijit-mijit
pundak ibunya, dan telapak tangan kiri saya terkadang mengusap
rambut anak putrinya. Di depan kami adalah sebuah ranjang dimana
seorang laki-laki terbujur dikelilingi suster-suster dan dokter
dengan berbagai peralatan modern, berusaha memperpanjang hidupnya.

“Tabah yah, semua orang sudah memiliki garis hidupnya sendiri-
sendiri. Pokoknya kita sudah berusaha yang terbaik yang bisa kita
lakukan, yah Tante yach,” kataku sambil menatap mata wanita tua itu,
ia mengangguk, matanya menyorotkan pengertian sambil terus menatap
ke ranjang, ke arah suaminya.

Dokter perempuan itu berjalan ragu ke ujung ranjang, “Kita akan
berusaha, tapi apapun yang terjadi nanti ibu harus iklas yah..iklas
yah bu.”nadanya seolah sudah menggambarkan kemungkinan apa yang
bakal terjadi.

Mereka tak bisa menjawab, karena memang tak tahu jawaban apa yang
harus diberikan, hanya bisu yang terdengar. Dokter itu menatap
semakin gelisah dan gamang. Sementara di ranjang dada laki-laki itu,
Pak Kam, terus dipijit untuk mengaktifkan jantungnya.

“Dokter, usahakan yang terbaik yang bisa dokter lakukan, kita akan
menerima semua hasilnya.” Kataku mengangguk-angguk mewakili.

Putrinya, Lusi, yang biasa ke vihara langsung melantunkan mantra.
Tapi ada isak terdengar. Lalu saya dan ibunya mengikuti, bertiga
kami melantunkan mantra. Putri yang satu diam, hanya tangannya yang
mengatup beranjali.

“Apapun hasilnya, bahkan sampai yang terburuk sekalipun, kita sudah
berusaha, dan mungkin itu yang terbaik buat kita. Ini hanyalah
proses, kita percaya tumimba lahir, adanya kelahiran kembali.Ada
kehidupan selanjutnya,” mataku beralih ke kedua putrinya.

Lusi, putrinya menyenderkan kepalanya di pundak saya sebentar.
Matanya menatap ke atas beberapa menit, untuk menghentikan air mata
yang akan meluncur, menahan gejolah di hatinya. Doa masih tetap
mengalun dari bibirnya.

“Tabah yah,” kataku sekali lagi mengusap rambut mereka, mencoba
berdiri kokoh sebagai tiang penyangga, ketika hati mereka nyaris
roboh.

Doa mengalun lagi, isak masih ada, tapi tak seberapa kuat, hanya
gema doa semakin syahdu terdengar, detik demi detik terus berlalu,
terus berpacu, sampai akhirnya dokter perempuan itu menggeleng pada
rekannya. Dan sekali lagi, ragu menghampiri kami, “maaf kami sudah
berusaha..”

Dan seperti tadi, dokter itu tak mendapatjawaban apa-apa, dan dia
memang tak butuh jawaban apa-apa, seperti anak dan istri Bapak Kam
yang juga tak tahu harus menjawab apa?

Diam.

saya menguatkan pegangan pada pundak mereka. Sejurus kemudian isakan
mulai muncul lagi.

“Tante tenang, yah. Lusi sama Yuli juga yah.” Kataku pelan. Perlahan
juga mulut saya mengalunkan bait-bait ajaran tentang cara menghadapi
kematian.

“Dimana pikiran dan perasaan di arahkan, di situ kita akan
dilahirkan. Ketika seseorang ‘pergi’ dengan kondisi batin yang
tenang, ia akan terlahir lagi di tempat yang tenang. Ketika
seseorang pergi dengan kondisi batin yang kacau, penuh dengan
kesedihan, ia akan terlahir di tempat yang menyedihkan.”

Sampai di sini, saya tetap was-was mengawasi guncangan di bahu ibu
dan anak ini. Bersyukurlah, Lusi (yang menelepon Ibu Siang Riany
dulu, bukan Yuli seperti yang saya tulis sebelumnya) dan ibunya bisa
lebih tenang. Terisak sebentar lalu diam. Saya tahu ada petir baru
menyambar hati mereka, tapi wajah dan eksperesinya sungguh
mencerminkan manusia dewasa, kebesaran hati.

Sebaliknya dengan Yuli, kakaknya Lusi, langsung meraung dan jatuh
terduduk.

“Psstt.. tidak boleh begitu Yul. kataku cepat menghampiri memegang
pundaknya, dan kepalanya yang lemah langsung terkulai menyender ke
paha saya, “pinsang?” Tanya suster dari agak jauh. Kuping saya masih
mendengar isakan. Berarti ia tidak pingsan.

Perlahan saya katakan, “Yul, terkadang, ketika kita menyayangi
seseorang, yang terbaik adalah membiarkan dia pergi. Bila kita tidak
rela, seringkali itu menunjukkan bukan karena kita sayang dia,
tetapi lebih merupakan sikap egois kita untuk memiliki dia. Caramu
ini hanya akan menyulitkan kepergian papamu dan dirimu sendiri.

Menjelang kepergiannya, kalau pikirannya tidak tenang, ia tidak akan
lahir di alam yang baik, atau mungkin ia mengalami kesulitan dalam
perjalanannya.

Kita harus bisa menerima semua kenyataan, Yul. Dan juga. tangismu
tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Kamu bisa menangis dan
meraung sekuat apapun, namun itu tak akan pernah merubah keadaan,
Yul. Mungkin kamu malah menjadi sakit dan masalah bertambah lagi.
Papamu akan sedih melihat kamu begitu. Udah yach.., berdiri yuk..”
Kataku perlahan membantunya berdiri. Isaknya masih terdengar,
matanya masih basah,tapi agak berkurang.

“Lusi, ajak kakakmu”, pintaku pada Lusi yang menyusul mamanya
berjalan meninggalkan ruang icu.

Saya sendiri sibuk mencari informasi kelanjutan setelah mereka
keluar, ini kali pertama saya berurusan dengan masalah seperti ini.
Saya tidak tahu proses selanjutnya. Sambil menunggu dokter saya
mengabarkan perkembangan terbaru pada Ibu Siang Riany/ Ci Aisiang
(maminya anak asuh) dan Awi, Sekjen Pemuda Buddhayana (Sekber PMVBI)
lewat HP.

Kemudian Lusi masuk ke ruang ICU lagi, lalu keluar bersama
saya. “kakakmu mana? temani dia Lus, dia agak emosional.”

“Ada temannya di luar, Ko. Dia emang gak pernah dapat pelajaran
agama Buddha di sekolah. Lingkungannya beda dengan kita.” Katanya
nervous.

“Oh, pantas.” Kataku baru memaklumi perasaan ganjil tadi, melihat
cara ketiga orang ini menghadapi masalah yang sama, dengan reaksi
yang jauh berbeda. Ada perbedaan antara yang mengerti dhamma dan
tidak dalam menghadapi hidup ini.

Saya belum begitu mengenal mereka. Karena sebelum peristiwa ini
terjadi, saya bahkan tak mengenal mereka. Tetapi Lusi yang mengenali
saya saat saya survei ke rumah sakit. “Koko yang ngisi PPD (Pekan
Penghayatan Dhamma) kemarin kan?” Katanya.

Saya mengangguk.

Itulah awal saya mengenal mereka lebih dekat, oleh kebersamaan
inilah selama beberapa hari ini, mereka seperti menjadi keluarga
sendiri. Suster dan dokter di rumah sakit juga sangat tersentuh,
ketika tahu saya dan rekan-rekan yang menjenguk bukan siapa-siapanya
mereka, yang bahkan sebelumnya tak saling kenal, tetapi kami hanya
orang-orang yang peduli dan berusaha membantu orang lain. Mungkin
suster dan dokter itu akan lebih tersentuh lagi kalau saya
ceritakan, ada berpuluh2 sms dan telepon yang harus kami terima
setiap hari yang dikirim oleh orang yang tak kami kenal, hanya untuk
menanyakan kondisi pasien dan apa yang dibutuhkan. Entah itu dari
Medan, Riau, bahkan sdri Jenty special meng-hp saya dari Malaysia-
saya dan Jenty memang sudah saling mengenal. Trims juga untuk
kebaikannya dan suaminya selama saya di Kuala Lumpur kemarin. Kalau
sudah seperti ini, life menjadi wonderful things, aha? All man is
brother, hehe.

Hal yang saya rasa kurang mungkin kita butuh lebih banyak volunteer
yang bisa turun ke lapangan, bisa stand bye di arena. Yang bisa
bergerak ke sana-sini apabila dibutuhkan.

Sebagai informasi, dana yang terkumpul sudah mencukupi, dan kayaknya
tidak menerima setoran lagi.

Dan juga, sebagai kelanjutan dari kegiatan ini, Ibu Siang Riany,
saya dan beberapa rekan berpikir untuk melanjutkan proyek
memanusiakan manusia dalam arti memberi tempat layak huni bagi
manusia. Karena menurut Ibu Siang Riany saat melakukan survei untuk
anak-asuh, seringkali menemukan keluarga yang tinggal di tempat yang
sangat tidak layak. Rumah yang amat sangat sederhana, dimana suami,
istri, anak-anak entah itu laki atau perempuan tumplek bek makan,
masak, dan tidur di satu ruangan yang sama.

Akibatnya apa? Bila malam tiba dan hujan turun sedikit saja, lalu si
suami pura-pura kedinginan mendekati istrinya untuk mencari
kehangatan, apa yang akan terjadi? Mungkin mereka harus menunggu
tengah malam, saat anak-anak di sampingnya terlelap. Tetapi saya
lebih percaya nafsu sering tak berkompromi apalagi punya etika.
Sepandai-pandai tupai meloncat sekali-kali kejeblos juga. Bagaimana
kalau anaknya terbangun tengah malam menemukan papa dan mamanya
ternyata sedang bersatupadu?

Atau terkadang malah saking serunya orang tuanya lupa diri dan
membuat ‘kerusuhan’ yang membuat anaknya terbangun lalu pura-pura
tidur lagi.
Midnight showlah!
Agak sulit memang mendidik anak yang tinggal dalam kondisi seperti
ini.

Oke, sampai di sini dulu, ada urusan administrasi rumah sakit dan
rumah duka yang harus diselesaikan. Ada tempat dimana saya harus
menyetor naskah yang sejak 3 hari lalu menelepon dan marah2 karena
saya terlambat.
Dan nanti ada laporan keuangan juga yang harus saya buat untuk Anda.

Sekali lagi thx untuk semua atas kerjasamanya.

Jakarta, 18 Januari 2003
Harpin R

CERITA dari AMERICAN TEXAS

Cerita dari Amerikan Texas

Jangan berpikir ini cerita dari Texas, Amerika nun jauh di sana,
tempat teman saya sdr. Hadi Nadi sekarang berada.

Kami yang aktivis di Ekayana, sungguh mengenal baik tempat ini.
Biasanya kami singkat AW, kalau menyebutkan dengan tidak disingkat,
jadilah namanya American Texas. Haha, jangan tanya saya, kok
kepanjangannya begitu, dari AW jadi American Texas. Dan juga, don’t
ask me, kok bisa muncul nama itu. Saya tak tahulah. Ceritanya pernah
ada yang ajak makan ke AW, American Texas, tapi setelah sampai
ternyata hanya sebuah warteg-warung tegal. Taunya saya cuma begitu-
itu.

Jadi kalau Anda ke Ekayana dan ada yang ajak makan ke AW di belakang
vihara misalnya, pastilah konon yang ia maksud sebuah warteg.

Di hari biasa, kalau jarum sudah menunjuk jam 12 siang plus minus,
kurang atau lebih, kami sudah ada di sini. Makan sambil cerita-
cerita berbaur dengan tukang bajaj, kuli bangunan, de es be. Di sini
kalo kantong lagi kanker, alias lagi pasang surut, alias lagi bokek,
sering juga dapat suplus dari sesama aktivis ato professional yang
bekerja di Ekayana. Tapi harus diingat, sepertinya mereka mentraktir
bukan ingin mendapat karma baik, tapi lebih karena tak tega melihat
wajah teman yang memelas, hehe. Candaaaa..

Tak biasanya, siang itu saya ke sana sendiri, pesen nasi telor dan
segelas es teh manis. Lalu riulah melahap. Waktu menunjukkan jam
13.25, jam dimana warteg tak begitu ramai, ketika seorang laki-laki,
bertopi, bersandal jepit dan celana pendek dengan sorot mata yang
liar dan tajam, masuk ke dalam.

“Ngeri saya mbak, “katanya pada mbak yang melayani yang rupanya
sudah saling kenal.

Saya nguping aja, kalo sorot mata liar itu bisa ngeri tentu ada
something luar biasa.

“Saya hampir satu jam di sana. Ada satu jam saya lihat orang itu
dihajar bak-bik-buk ramai-ramai. Dari jam 12 tadi sampai sekarang,
ada satu jam, yach ada satu jam mbak.” Ia terus bercerita, saya
terus makan, mendengar dia bercerita dengan bahasa gado-gado,
Indonesia plus Jawa. Dan mbaknya terus membungkus nasi yang ia
pesan.

Sambil bercerita laki-laki itu terkadang menatap saya, seperti juga
ingin saya mendengar cerita yang membuat dia shock, ia ingin membagi
cerita yang luar biasa yang ia saksikan ini pada siapa saja,”Ada
apa, Mas? Maling yach?” Tanya saya kemudian.”

“Ia, Mas, ada dua mas, yang satu kabur, yang ketangkep dihajar habis-
habisan. Ih serem mas. Ini mas, batu sebesar ini.” katanya
membulatkan kedua lengan tangannya membentuk lingkaran sebesar roda
mobil,” diangkat dan dilemparkan ke kepala orang itu. bocor mas,
otaknya bercecerann.. ih merinding saya mas.” Katanya.

Ada gambaran siluet bermain di kepala saya, gambaran kepala manusia
yang dijatuhi batu besar, batok kepala yang bocor, dan otak yang
muncrat keluar. Basah.merah.mungkin keputih-putihan.

“Emang dia maling dimana?”

“Di 91 mas.”

“91? Dimana yach rumah nomor 91? Di belakang?”

“Bukan rumah mas, tapi copet di Metromini katanya. Metromini 91”

Saya mulai menangkap arah ceritanya, ada pencopet yang ketangkep di
Metromini, konon karena yang ia copet intel yang sedang menyamar,
hadiahnya dia ketangkep dan dihajar massa.

Metromini 91 saya tahu. Dulu saya suka pakai metromini 91 juga,
dari Batu Sari ke Grogol, dan memang tidak jarang mendengar anak-
anak Binus (Universitas Bina Nusantara) yang kampusnya di sekitar
itu, yang mayoriti Chinese berwajah innocent ‘digarap’ habis di
metromini 91, bahkan terkadang pemalaknya serombongan anak
berseragam SMU.

“Saat orang itu lagi dihajar di pinggir jalan, orang-orang yang
lewat juga berhenti dan ikut menghajar Mas. Ada yang lalu
berteriak ‘bakar-bakar-bakar’, Hampir dibakar, Mas. Tapi nggak jadi.
Cara hajarnya juga serem mas. Kayak di film-film. Kakinya diangkat
lurus, lalu dihantam, dibengkokkan sampai bunyi ‘krek’ bunyi tulang
patah.”

“.”

“Pencopetnya udah ampun-ampun tapi tidak ada yang peduli.”

“. sekarang orangnya dimana?”

“Udah dibawa ke kantor polisi, Mas. Tapi dihajar seperti itu kurang
lebih satu jam, saya yakin orangnya udah mati.”

..

Saya menggelengkan kepala. Laki2 itu bercerita lagi dengan serunya.
Ada suara bajaj lewat. Lalu terdengar dia bercerita lagi.

.I only can say nothing. Hari ini satu kehidupan kembali berakhir
dengan sia-sia. Tidak beda dengan tikus-tikus got yang bangkainya
seringkali dilemparkan di tengah jalan. Ususnya terburai. Dagingnya
merah hancur bercampur kulitnya yang berbulu, moncong yang lancip
dan gigi tajamnya tergelepar dilindas kendaraan yang lewat. Satu
bentuk penghukuman berbentuk dendam yang sering saya temui saat
meyusuri jalan-jalan beraspal di Jakarta.

.. I only can say nothing. Terus melahap nasi saya. Terus
mendengarkan suara brisik bajaj yang lewat. Mendengarkan laki-laki
itu, sorot mata yang menunjukkan kehidupan yang keras, berlalu
dengan kengerian dalam hatinya. Mencari siapa lagi yang mau
mendengar cerita serem yang baru dia lihat. Dia dengan sorot mata
yang terkesan liar aja bisa serem, apalagi kita yang melihat
sendiri.

Saya melihat mbak penjaga warteg yang menatap kosong ke arah saya,
terlalu banyak cerita yang sudah ia dengar dari pembeli berlalu-
lalang. Cerita ini akan berlalu diganti pembeli baru dengan cerita
baru, tidak jamin bisa lebih seru apa tidak. Sehingga ia tak perlu
mendengar dengan hati, apalagi di Jakarta ini yang katanya kalau
Koran Pos Kota dan Lampu Merah diperas bisa keluar darah, karena
berita2 kriminal yang ada di dalamnya. Terutama Koran Lampu Merah,
yang dengan entengnya mengclose up foto konyol pelaku kriminal yang
babak belur dihajar massa, lalu menetawainya dengan judul-judul
badutnya, seperti: Istri mau melahirkan butuh biaya, maling sepeda,
ketauan bonyok deh. Guoblok sih, yang dimalingin cuman Sepeda! Butut
lagi!

Pada akhirnya, orang bisa menikmati sajian konyol orang yang dihajar
babak belur bertemankan secangkir kopi pahit dan roti sambil
tertawa..hahaha.

Its life.

Kemarin kita terlibat dalam usaha untuk mempertahankan satu nyawa.
Tetapi hari ini ada satu nyawa yang sengaja dihabiskan dengan sia-
sia.

Apa yang salah dengan hidup ini?

Dua hari kemudian, seperti biasa, dipagi hari saya turun dari lantai
2, siap untuk berangkat kerja. Dan seperti biasa berhaha-hihi dengan
ibu kos yang tinggal di lantai bawah, sebelum pamit keluar.

“Win, kemarin di tivi ada pencuri kabel yang dibakar.”

“Syerem.” katanya. “padahal beritanya orang itu gak pernah nyuri
sebelumnya, Win. Tapi karena kepepet, butuh uang dan diajak
temannya, akhirnya dia mencuri. Ehh ketangkep. Kedua pencuri itu
dihajar abis-abisan. Lalu kayu ditumpuk-tumpuk menutupi mereka, trus
disiram bensin dan dibakar.”

Saya mendengar dengan miris, tak tahu harus berkata apa. Apa yang
salah dengan masyarakat kita?

“Kok orang bisa begitu yah? Membakar orang hidup-hidup..” Ibu kos
saya berkata dengan nada bertanya, nada yang tak butuh jawaban.
Karena saya sendiri tak tahu harus berkata apa.

Whats wrong with this live.

Di pagi itu suara motorku menderu.dan seperti biasa saya menemukan
bangkai tikus tergelepar di jalan-jalan, seperti pencopet dan
pencuri dalam kisah nyata tadi. Atau mungkin bisa dibalik, pencuri
dan pencopet yang terkapar seperti tikus-tikus di jalan tadi.

Tak ada yang peduli. Paling satu dua orang lewat menutup hidung. Ada
juga mobil yang ikut menggilas. Habis itu saya tidak tahu kemana
bangkai itu berakhir. Entah kering karena hujan dan panas lalu
menjadi ‘peyek’ di jalan, atau ada ‘pasukan kuning’-sebutan untuk
pembersih jalan berseragam kuning, yang membersihkannya.

Bangkai di jalan itu akhirnya tak kelihatan lagi, tetapi esoknya
mungkin muncul lagi bangkai lain di jalan yang lain di sudut-sudut
jalan Jakarta. Dan orang-orang kembali berlalu dengan tidak peduli.
Menutup hidung atau ikut menggilas begitu saja.

Dari kisah nyata tadi juga, dan melihat metode penghakiman massa
yang terus berkembang, sampai di sini sepertinya tak ada lagi
perbedaan tikus dan manusia. Yang ada sama-sama adalah pencopet dan
pencuri yang harus diakhiri hidupnya dengan tidak hormat.

Mungkin suatu hari nanti, saat keluar dari kos, saya akan menemukan
pencuri dan pencopet berwujud manusia yang terkapar di jalan,
dilindas truk yang lewat ‘krak’, lalu orang yang melihat hanya
menutup hidung, takut bau pencuri itu akan mengotori hidungnya, atau
lebih celaka lagi, mereka bersyukur dan berterimakasih pada Tuhan,
bahwa berkat rahmatnyalah satu pencopet telah bekurang hari ini.

Whats wrong with this live?
Actually maybe live isn’t wrong and never wrong.
Maybe the wrong matter is in my mind.
I hope that.

Ekayana Buddhist Centre
28 Januari 2003
Harpin R

SILUET untuk DAVID

SILUET UNTUK DAVID

Goresan di Perpustakaan Manjusri

Sabbe Sangkhara Anicca

Pada hari ini, 01 Maret 2003 sekitar jam 14 wib Di RS Pluit, Jakarta

Telah Melanjutkan perjalanan mendahului kita:

Sdr David Herman, (mantan Ketua DPD Imabi DKI Jakarta periode 2001-
2003, anggota Biro SDM Setprop DKI Jakarta).

Rencananya tubuh kasarnya akan di pindahkan di Ruka Duka Atmajaya
pada keesokan harinya.

SAYA sedang patah hati waktu itu…(hehehe). Sebelum mengambil gelar masternya ke Australia, pacar saya memutuskan dulu cintanya padaku..anicca…anicca..tapi syuerrrrr…waktu itu mata saya benar-benar terbuka untuk mengerti makna anicca. Seseorang yang begitu anda cintai, begitu anda sayangi… begitu anda kasihi, suatu waktu pasti akan meninggalkan Anda. Entah karena kematian, atau ia tak mencintai anda seperti dulu. Sakitnya tak ketulungan… butuh waktu lama bagi saya untuk menata hati yang retak, memulihkan stamina yang anjlok drastis– tis.

Saat langit seperti dijatuhkan dari langit (kok bisa yach?) pundak menjadi sangat berat untuk ditegakkan. Kepala sepertinya tidak menancap di leher lagi, maunya menggelinding aja. Tetapi beruntunglah, kita memiliki teman-teman yang juga merasa memiliki kita. Jadi kita saling memiliki..hehe..alangkah indahnya dunia. Kita suka mengadakan perjalanan kalo libur atau ada waktu luang. Mengembara ke vihara2 di bandung, puncak, lalu merayap ke air terjun di kaki gunung salak.

Saya suka berteriak-teriak di sana. Mencoba mengalahkan deru air terjun, terutama sehabis hujan. Basah kuyup mandi di air terjun, kami berpekik nyaring, namun sepertinya bagaimanapun paraunya suara saya yang cempreng, ia tak pernah bisa mengalahkan nyaringnya deru air terjun. Seperti juga saat itu saya tak pernah bisa mengalahkan perihnya jarum yang menusuk-nusuk dalam dada ini.

Namun, selalu ada lega terasa setelah itu… setelah pekik nyaring melenking, disaksikan batu, pohon-pohon hijau dan langit biru yang hanya membisu.

I like it.

Sore menjelang..kita buru-buru kabur ke bawah, turun melewati gardu Jagawana mencari tumpangan bermalam di Vihara Sakyawanaram, yang kalau malam dinginnya minta ampunnnnnnn… hasilnya kita tidak tidur, malah ngerumpi di sekitar api unggun ampe pagi….

Satu masa kenangan yang indah.

Sampai pada satu sore jam 16.00 di tahun 1998 (kalo gak salah) salah satu teman yang merasa memiliki dan dimiliki kita memberi tahu, “Ko, mau ikutan gak? Ada Pekan Meditasi di Ekayana.”

“Ekayana mana?” Tanya saya… rada kuper juga neh, masak Ekayana aja gak tau…hehe…waktu itu Ekayana belum sebesar sekarang….

“Yang di Tanjung Duren..kalau mau nanti jam 6 sore kita rame-rame seperti biasa”

“Mau…” kataku bersemangat, siapa tau ntar abis meditasi jadi sakti, hehehe.

Sorenya kami berangkat, konvoi dengan sepeda motor ke Ekayana, di situ saya pertama kali tau dan mau tau kalau yang namanya Bhante juga punya nama, gak cuma Bhante aja. Misalnya Bhante Vimala, nama Bhante yang pertama saya kenal dan ingat. Sebelumnya saya memang kenal nama Sukong, seorang bhante tua yang sangat dihormati, tapi saya tidak tau kenapa orang begitu menghormati beliau, untuk apa, dan kok mau-maunya, dan saya gak mau pusing dengan itu. Saya juga tidak tau kalo Sukong itu bernama Bhante Ashin. (Hmm…ini dulu yach, waktu gue masih rada idiot..hehe).

Di Ekayana, pada saat Pekan Meditasi ini pula saya pertama kaliber kenalan dengan David, koodinator pekan meditasi, dan Bhante Vimala yang mengisi acara pekan meditasi.

Selama seminggu, setiap hari menjelang jam 19.00 kami konvoi ke Ekayana, apalagi kalau bukan bermeditasi sampai jam 21.00. Semangat juga, tapi motivasinya beda-beda. Beberapa diantaranya memang lagi ngincer teman konvoinya. Menyelam minum airlah, siapa tau bisa jadian…hehehe. Jadi pake topeng meditasi biar bisa bersama, hahaha. Hingga kemudian pekan meditasi berakhir, lumayan ada 2 pasang yang akhirnya jadian awet ampe kini.

Semenjak mengikuti pekan meditasi itu, saya jadi keserang penyakit misterius. Meski Pekan meditasi telah berakhir, seminggu 2 kali saya pasti ke Ekayana, menikmati kesendirian, kesunyian diri di ruang meditasi di lantai 3.

Pertama kali emang kucing-kucingan ama Awi, front officer gemulai yang was-was curiga maksud kedatangan saya. Siapa tau saya penjahat dunia kelas berat yang sedang diincer Amerika.

Tapi setelah beberapa kali pertemuan, Awi yakin saya orang baek(mungkin dijidat saya ada stempelnya..syuer..hehe), mungkin juga dia tahu kedatangan
saya emang murni untuk meditasi dan udah diketahui Bhante Arya ama Bhante Vimala.

Dari seminggu 2 kali ke vihara untuk meditasi rutinitas meningkat jadi 3 kali,lalu jadi 4 kali, sampai akhirnya tiap hari saya ke Ekayana. Kadang kalo libur kerja, sehari bisa 2 kali malah, serakah emang, haha.

Karena prestasi inilah, saya yang gak tau apa-apa tentang Ekayana dan organisasinya beserta segala pengurusnya mejelang waisak tahun berikutnya, tiba-tiba ditangkap Bhante Arya dengan jurus aji nunjuk untuk menjadi koodinator meditasi menggantikan sdr.David di tahun lalu.

Kali ini yang isi Bhante Dharmasurya Bumi Mahathera, guru meditasi yang dekat dengan kehidupan hutan dan gunung. Menyenangkan bisa berguru dengan beliau, satu dari sedikit guru besar meditasi yang bisa ditemui dan beliau sendiri jarang mau muncul di permukaan.

Hehe, berguru dengan beliau, kadang seperti kita cuma berkomunikasi dengan pikiran. Banyak yang harus ditebak dan beliau bisa menerangkan tahap meditasi kita sampai dimana dan, sepertinya beliau juga bisa membaca pikiran kita…hehe. Jadi sibuk deh berwas -wes- wos menyangkal diri dari apa yang sedang kita pikir kalo ketemu dia…hahaha.

Kini, David, salah satu mata roda yang memungkinkan matangnya karma saya mengenal meditasi sudah pergi. Senyumnya, letak kaca matanya, kerendahatiannya, sikapnya yang selalu bersahabat dan bertanggungjawab akan tetap menjadi kenangan yang indah bagi kami, sahabat-sahabatnya, dan juga siapa saja yang pernah mengenal dirinya.

Semoga dengan segala timbunan karma baik yang ia miliki, ia bisa terlahir di alam lebih bahagia, hingga akhirnya mencapai kondisi yang tak berkondisi lagi.

Perpustakaan Manjusri Ekayana Buddhist Centre, 02 Maret 2003

Harpin R

PEACE, OKEY?

PEACE, OKEY?

Diantara lebih dari 5 miliar manusia di dunia ini, hanya sedikit
yang mencapai penerangan dan mengerti kebenaran hidup, mari orang-
orang yang telah cerah itu kita sebut “Buddha”. Anggaplah dunia
mereka tinggal sebagai ‘pantai seberang’.

Sebaliknya disisi lain, kebanyakan manusia salah mengartikan inti
kehidupan dan hidup dalam ilusi tak menentu, mari kita sebut dunia
manusia-manusia ini sebagai ‘pantai ini’.

Orang-orang yang tinggal di pantai ini, dipenuhi pikiran ego tentang
diri sendiri. Karenanya, di segala ruang dan waktu dimana mereka
berada, mereka selalu membawa ego mereka, diibaratkan seperti jarum
yang jatuh ke dalam seember air-tak bersedia melebur diri ke dalam
waktu dan ruangnya air. Maka masih jelas bisa dilihat dan dibedakan
antara jarum dan air itu. Demikian juga, selama ego ada, perbedaan
yang kontras antara ‘saya’ dengan waktu dan ruang (dunia luar-‘kamu’
atau ‘mereka’ misalnya), akan selalu ada. Akan selalu ada penilaian
baik vs jahat, status tinggi vs status rendah. Demikianlah, selama
ego ada, akan slalu ada kata ‘mereka’.(dunia luar).

Mengapa ini bisa terjadi? Bagaimana prosesnya? Mari kita bahas:

Karena manusia memiliki alat indra
(mata,kuping,hidung,lidah,tubuh,pikiran), selamanya akan menerima
informasi dari luar berupa bentuk, suara, bau, rasa, etc. Informasi-
informasi ini diterima indra-indra di atas, lalu masuk ke dalam
dunia bawah sadar seseorang. Setelah informasi dikomunikasikan ke
jaringan otak, lalu disimpan di pusat informasi, selanjutnya
diperbandingkan dan dibedakan. Gunanya informasi diperbandingkan
untuk pengadaan informasi baru, dan nilai emosional egois yang abadi
yang telah ada di pusat data ditambahkan untuk keperluan analisa,
kesimpulan, dan alasan.

Akhirnya, dari proses ‘dapur’ tadi, munculah keputusan bertindak
(keputusan adalah hasil proses pemikiran berulang-ulang). Setelah
itu, respon bawah sadar dan proses pembuatan keputusan ini
menghasilkan akibat (meskipun belum dimanifestasikan pada tindakan
mulut atau tubuh-maksudnya baru berupa hasil analisa dalam pikiran,
belum diwujudkan dalam tindakan sudah ‘berbuah’ pada karakter
seseorang. Itulah mengapa kita harus berhati-hati menjaga pikiran.
Kenapa? Karena proses pembuatan keputusan ini, meski belum
diwujudkan dalam tindakan telah menjadi bagian dari kesadaran
seseorang).

Begitulah cara dunia bawah sadar ini yang tak pernah berubah dalam
menanggapi pengaruh luar, dimana umumnya kita sebut sebagai sensasi,
persepsi, keputusan dan kesadaran. Semua yang ada di luar pikiran
bawah sadar (termasuk fisik tubuh itu sendiri) disebut sebagai
duniawi. Oleh karena itu ada perbedaan besar dan kecil, kaya dan
miskin, hina dan mulia. Pikiran membedakan segala sesuatu dengan
kata keinginanku dan bukan keinginanku.

Ketika orang hidup dengan sikap pemisahan dirinya dengan ruang dan
waktu (dunia luar) dimana masih terus mencari perbedaan dan
penghakiman yang kontras pada tinggi vs rendah, kaya vs miskin, aku
vs dia, aku vs kau, aku vs mereka, maka kita sebut orang tersebut
hidup dalam ‘kerajaan duniawi’.

Sebaliknya, orang yang mencapai penerangan hidup secara spiritual di
pantai seberang, memiliki sikap yang berbeda terhadap hidup di dunia
ini. Di manapun tempat mereka tinggal, mereka melebur diri dalam
ruang tersebut tanpa adanya ego. Kapanpun waktu mereka tinggal,
mereka meleburkan diri ke dalam waktu itu tanpa adanya ego. Ketika
ia yang telah cerah menatap bunga, ia adalah bagian dari bunga itu.
Ketika mendengar suara hujan, ia adalah hujan itu. Ketika ia
menjalani lahir, tumbuh, sakit, dan mati. Ia menjalani proses lahir,
tumbuh, sakit dan mati sebagai proses alami, ialah lahir, tumbuh,
sakit dan mati itu. Dengan kata lain, proses itu bagian dari
dirinya, yang tak harus dikejar atau ditolak. Dengan cara ini, ia
bisa menjalani semuanya dengan kebahagiaan.

Seorang yang telah suci melepaskan egonya tak mementingkan diri, dan
dengan ketulusan hati merangkul semua perubahan di sekelilingnya.
Entah itu kaya atau miskin, hina atau mulia. Seseorang suci juga
sepenuhnya menghargai ruang dan waktu. Ia bersikap terhadap
kehidupan dunia ini seperti sepotong garam yang lebur ke dalam
seember air. Garam lebur ke dalam air dan berubah menjadi molekul-
molekul. Walaupun dirinya hilang, semua bagian air menjadi asin.
Pada ruang dan waktu dalam ember air, tak ada diri yang ditemukan,
semuanya telah menyatu dengan ruang dan waktu. Itulah yang
dikatakan, orang yang telah suci, bagaikan cahaya tanpa batas yang
memenuhi seluruh ruang. Bagaikan bentuk kehidupan yang berlangsung
sepanjang masa.

Itulah keabadian. It’s Nibbana? Kalau ini yang dinamakan nibbana,
mungkin kita tak harus menunggu ‘bau bangkai’ dulu baru ke sana. Ini
sesuatu yang bisa kita capai detik ini, saat ini, sekarang juga.
Caranya? Peace, okey?

(Heart Sutra, diintepretasikan Tsai Chih Chung. Elex Media,
diintepretasikan kembali Chando)

MAKAN ROTI menjalankan KEHIDUPAN,HEHE

MAKAN ROTI MENJALANKAN KEHIDUPAN, HEHE

Waktu itu bulan September 2001 kalau saya tak salah.
Kami, saya dan lebih 100 orang dalam perjalanan dari
Palembang ke Linggau. Rencana mengikuti Musda
(Musyawarah Daerah) Sekber PMVBI (Sekretariat Bersama
Persaudaraan Muda-mudi Vihara-vihara Buddhayana
Indonesia) Sumatra Selatan. Adapun kehadiran saya atas
undangan IPGABI (Ikatan Pembina Gelanggang Anak-anak
Buddhis Indonesia) Sumsel. Kami + bersepuluh mobil
berangkat beriringan dari Vihara Dharmakirti Palembang
menuju stasiun kereta api. Saat itu liburan, jadi
suasana stasiun ramai minta ampunnnnn. Gerombolan kami
yang mana rata-rata berangsel, jadinya mirip-mirip
pengungsi, terlebih jubah saya yang mencolok, membuat
saya jadi makhluk yang lain dari pada yang lain di
stasiun itu. Jadi artis-lah ceritanya.

Waktu keberangkatan hampir tiba, kami antri memasuki
peron. Saya kebagian kelas bisnis bersama 2 penatar
yang akan mengisi Musda + 1 panitia. Sementara karena
suasana libur yang rame, yang lain kebagian di
ekonomi, lengkap sudalah status pengungsi mereka.
Kedua penatar: satu laki dan satu perempuan, saya tak
ingat namanya.. Saya duduk berdampingan dengan penatar
yang pria sedangkan yang wanita duduk di hadapan kami
bersama panitia yang juga wanita. Sepanjang jalan,
atmosfir percakapan kedua penatar yang inggris minded
(menggunakan Bahasa Inggris) meski mereka bukan orang
asing membuat saya serasa sedang di Eropa, hehe.
Beberapa kali kami ngobrol juga, suaranya berbalapan
dengan deru rel kereta api.

“E… maaf yah, kenapa… milih jadi….” Tanya yang laki
dengan gaya menggantung kalimat, diikuti wanita di
hadapannya yang menatap ke arah saya….

“Memilih jadi samanera?” Sambut saya tahu arah
pikiran mereka, mungkin dengan gaya senyum yang sama,
klise. “Yach, gimana yah? Karmanya udah sampe, kali?”
kata saya. Lalu pembicaraan berkembang ngalor-ngidul
(merembet ke mana-mana). Sampai akhirnya saya tahu
yang cowok ternyata guru di LIA dan yang cewek guru
privat inggris. Pantas!

Tengah kami duduk, panitia yang laki-laki datang dari
gerbong lain membawa sekotak roti. Mereka bertiga
masing-masing mengambil satu, saya tidak. “Atasila,”
kata saya.

“Maaf yah Samanera,” kata mereka.

“Gak pa-pa. Makan aja.”

Sambil menggigit roti yang tampak renyah itu, cowok
yang guru LIA bertanya, “kalau kita makan begini, apa
yang harus direnungkan yach, Samanera?”
nyam-nyam-nyam, tampak ia menikmati rotinya.

“Ei iyah… apa Samanera?” yang cewek yang guru privat
itu, yang katanya lagi ngambil S-2 (es lilin atau es
puter ya? hehe), beserta cewek panitia yang dari tadi
diam seperti lukisan monalisa (cantik tapi mulutnya
terkunci rapat), sambil memegang rotinya ikut
memandang saya mohon penjelasan.

Saya melihat mereka sambil senyum. Kali ini bukan
senyum klise, tapi sedikit geli bin iseng.

“Yang direnungkan?” Tanya saya memastikan
keingintahuan mereka.

“Yah, ” kata mereka kompak.

“Yach, yang harus direnungkan adalah, mungkin kalau
lagi makan begini, Anda berani ramai-ramai, nggak
malu-malu. Senyum sana, senyum sini. Ketawa-ketiwi.
Tapi giliran ngeluarinya… Biasanya Anda mencari
tempat persembunyian. Malu-malu. Sendiri-sendiri, atau
kadang menutup hidung,” saya senyum kalem menyelidiki
raut wajah mereka.

“Mnk!” kontan wajah nyaman tadi tercekat, syok. Yang
guru Lia menahan gigitan rotinya sambil menatap tak
percaya. “Masak begitu Samanera?”

“Lha, iyah. Ini serius. Renungan dalam Buddhis yah
begitu. Hehe….”Ternyata imajinasi mereka bagus juga,
haha. Mau tidak mau akhirnya mereka tertawa juga,
tepatnya tertawa jijai. Lalu diam sebentar, berusaha
mengalihkan pikiran dengan membahas topik lain. Agak
berat memang, sambil makan membayangkan giliran
mengeluarkannya. Bentuknya seperti apa? Bulat lonjong
atau kotak-kotak? Warnanya seperti apa? Kuning,
coklat, atau kehitam-hitaman? Terakhir bagaimana
bentuknya? Cair, padat, atau setengah cair setengah
padat? Haha. Kok beda ama waktu ‘disimpan’, yach?
Hahaha.

Waktu makannya sih enak. Wangi, renyah, manis, gurih,
rame-rame…! Seperti bunyi sebuah iklan. Waktu
mengeluarkannya? Ih…jijai. Ini mirip sebuah koin
dengan dua sisi berbeda. Sangat dekat nyata beda.

Anyway, perenungan ini sebenarnya ditujukan bagi kita
yang memiliki keserakahan dalam hal makanan. Ada orang
yang kadang makan bukan karena mereka lapar, tapi
lebih karena rakus yang berasal dari skandal/indra.
Pada intinya harus disadari kita makan untuk hidup,
bukan kebalikannya: hidup untuk makan. Setiap naluri
untuk melahap muncul, hal yang bisa
diamati(instropeksi) kemudian adalah… ini sesuatu
dorongan dari fisik dimana saya benar-benar lemas tak
bertenaga, perut kosong, dan butuh diisi atau hanya
timbul dari sebuah naluri/nafsu karena tak bisa
melihat makanan `nganggur’? Bila yang terakhir ini
alibinya, sebaiknya Anda merenungkan esensial dari
makan. Ini bagian dari pelajaran mawas diri, karena
sekali lagi, perasaan dan pikiran kita sangat halus.
Melalui makanan dan nafsu yang timbul ini sebenarnya
kita bisa belajar mengendalikan gelombang nafsu yang
mungkin lebih kasar, birahi misalnya.

Selain itu, yang vital kita renungkan dalam hal makan
adalah: Berterimakasihlah kepada segala penyebab
hadirnya makanan tsb. Entah itu pembantu yang
menyiapkan, orang yang mendanakan, petani yang
menanamnya di sawah di bawah terik matahari dan
keringat yang menetes dan berkurban dalam lumpur
hitam, maupun segala aspek transportasi dan distribusi
yang menyebabkan makanan ini bisa hadir di hadapan
kita. Berterimakasilah, dan berdoa semoga mereka
mendapat kebahagiaan dari jasa mereka, dan juga
mendapatkan makanan yang layak sebagai mana yang kita
dapatkan. Perenungan-perenungan seperti ini, akan
mendewasakan batin tentang sifat manusia yang mahkluk
social. Bahwa terkadang kita lupa, ternyata petani di
sawah, kuli-kuli pengangkut di pasar yang tak kita
kenal atau mungkin tak pernah Anda tahu ada manusia
berprofesi seperti itu, ternyata telah berjasa dalam
kehidupan Anda. Pengetahuan, belas kasih, cinta kasih,
terima kasih, rasa puas, simpati dan empati, itulah
yang akan membuat hidup Anda bahagia dan kaya dalam
arti sebenarnya.

Trawas(Jawa Timur) 30 September 2001, Ekayana
(Jakarta) 19 Oktober 2001

Chando bunga1

ARUS yang BERUBAH

ARUS yang BERUBAH

Patung utama di vihara ini masih seperti dulu.
Berjenggot hitam panjang dalam posisi duduk dengan
warna aslinya yang tak kasat mata lagi, menghitam karena
asap tahunan dari hio yang bisa dikatakan terus menyala
di hiolo besar di hadapannya.

Hiolo itu terletak di atas meja panjang, yang mana pada hari-
hari tertentu, bukan hanya buah dan kue saja yang dipersembahkan
di atas meja tersebut… tetapi persembahan berupa barang bernyawa,
seperti daging pun ada di sana.

Di bawah patung atau dewa utama itu terdapat Dewa Macan, di sini
sering terlihat sepotong daging babi diletakkan di depannya, atau terkadang ada
yang menyelipkan lembaran uang di taringnya. Lalu di kanan-kiri Dewa utama
ini terdapat beberapa altar dewa lain. Yang satu digambarkan sebagai orang tua
dalam busana Tiongkok yang tengah memancing ikan, kemudian yang satunya
lagi sepertinya Dewa Kwan Kong.

Di sebelah kiri tempat dewa-dewa tadi, terdapat sebuah ruangan yang disekat
tersendiri, dimana ’empunya’ ruangan ini tampak duduk bersila di sebuah altar
dengan warna tubuhnya yang keemasan, bukan dewa tentu, tapi Buddha.

Saya mengamati ruangan itu sekali lagi, tak banyak perubahan sejak saya
tinggalkan setahun lalu. Di ruangan yang bersebelahan dengan altar dewa-dewa inilah,
dulu, setiap minggu, saya menghabiskan waktu dengan bernyanyi, bermain dan
bercerita tentang cinta kasih Buddha yang luar biasa terhadap setiap bentuk kehidupan
pada anak-anak Sekolah Minggu. Di ruangan inilah saya melihat mereka tertawa, menjerit,
dan juga menangis.

Ah…. Hidup memang terlalu cepat berpacu. Kini saya kembali lagi
ke tempat ini, diundang mereka, bukan sebagai guru sekolah minggu lagi, tapi sebagai
anggota Sangha. Ada beberapa muka baru, tetapi sebagian besar masih ingat pada saya,
terutama kakak-kakak pengasuhnya.

Enam tahun lalu, ketika menginjak Jakarta, oleh rekan kerja saya diantar ke vihara ini. Yang mana
yang pertama kali saya lakukan kalau menginjak vihara adalah mencari segepok hio dan lilin
untuk ‘antri’ pai—sujud pada dewa-dewa yang sama sekali tak saya kenal dengan baik.
Makin besar dan hitam dewanya akan makin khidmat sujud yang saya lakukan. Jadi kalau berkunjung ke vihara keringat bisa bercucuran, apalagi kalau dewa di vihara itu banyak, saya harus berkeliling dan merasa berdosa apabila kelewatan satu dewa saja.

Tetapi untunglah, vihara itu juga menyediakan perpustakaan dan buku-buku dharma yang boleh diambil cuma-cuma. Dari seorang umat kebanyakan yang tung-tung cep (waton nancep) hio,
west e wes ewest (komat-kamit) semoga saya ganteng, cakep, kaya raya, bijaksana, bahagia,
masuk sorga… saya diajak untuk melihat dunia dan kehidupan ini lebih luas, orang Hindu bilang
dari ego kecil menjadi ego besar, orang Buddhis bilang dari ego menjadi tanpa ego.

Waktu terus berjalan, saya yang dulu suka kebingungan bila diledek agama buddha menyembah patung, Mulai tahu sebenarnya kita tak menyembah patung, it’s symbol. Saya mulai
tahu pandangan agama buddha apa itu dewa, apa itu manusia, dan apa itu Buddha. Sampai akhirnya saya berpandangan be a Buddhist it’s so simple–bahkan ekstrimnya rupang buddha sekalipun gue gak butuh. Tetapi hehehe, itu terlalu ekstrim, yach.

Saya menatap altar itu sekali lagi, benar masih seperti dulu, tak ada yang berubah
sejak pertama kali saya menginjakkan kaki di sini, untuk mencari segepok hio dan berdoa
semoga saya selamat dan berbahagia (masalah orang lain celaka bukan urusan saya).

Benar tempat itu tidak berubah. Mungkin saya rasa, yang berubah adalah sesuatu di
hati saya, kini kalau berdoa, yang selalu saya ucapkan adalah: ‘Semoga semua makhluk hidup berbahagia.’ Bukan ‘semoga saya selamat, kaya raya, gagah perkasa, kalau mati masuk
surga lagi. Yach, saya rasa itu.

Tempat itu memang tak berubah, tapi siapa yang bisa tahu perubahan di hati saya?
Siapa yang bisa tahu, berapa banyak hati dan pikiran kita yang telah berubah? Siapa? Dan mungkin, Anda sendiri ada dalam gelombang hati dan pikiran yag telah berubah itu.

EBC, 16 Juni 2001
Dalam pelukan angin pagi

Samanera Nyanachando