Kesadaran dan Kotoran Manusia

Gg. Melati, Ampera 7 oil on canvas
Gg. Melati, Ampera 7 oil on canvas, harpin

Kesadaran dan Kotoran Manusia

Kotoran manusia yang saya maksud bukanlah kiasan semisal kotoran batin, tapi kotoran dalam arti sisa pencernaan yang keluar dari dubur kita.

Waktu saya masih kost di gang melati Pademangan Barat, pernah dan sering mengalami wc mampet.

Ketika pemilik kost lebih nyaman dengan bini muda di Kalimantan, kondisi kost benar-benar terlantar seperti rumah tak bertuan.

Dulu saat pemilik masih tinggal di Jakarta, ia biasa mengontrol dan menjaga kualitas kostnya. Saat ia asyik dengan ‘mainan’ baru di Kalimantan, terlantarlah kami yang kost di tempat dia di Jakarta.

Penjaga kost biasa, kalau bos ada sangat rajin. Tapi belakangan pemilik kost tidak ada, ia mencari tambahan kerja di luar, tinggalah istri dan anaknya yang masih kecil yang merawat kost.

Suatu ketika, dan sering terjadi, lobang pembuangan air di kamar mandi mampet. Kami tak bisa masuk dan beraktifitas di kamar mandi, karena air mengambang, banjir lokal terjadi dalam kamar mandi.

Jadilah siang itu saya melapor istri penjaga kost, kalau saluran pembuangan kamar mandi mampet.

Ia lalu membuka penutup got pembuangan di lorong rumah yang mengalir ke got besar di depan kos. Ternyata ada satu bagian penampungan cukup dalam yang penuh sampah plastik bungkus sampo, bungkus sabun, pasir, batu, dan juga kotoran manusia.

Ya, ternyata anak-anak kos di sini orang-orang efisien, pembungkus shampo langsung dibuang ke saluran air, bahkan ada yang berak di situ.

Sambil jijai sedikit menutup hidung, Ia mencungkil-cungkil dengan kayu berusaha membersihkan jalur air yang tertutup kotoran.

Biasalah, sebagai gentleman yang sok baik, tentu saya tak tega membiarkan seorang wanita mengejakan hal yang ia tak suka, yang juga cara kerjanya tak efektif.

Saya ambil posisi jongkok, menjulurkan tangan dan lengan saya sampai siku masuk dalam air di lubang saluran itu. Menguras tanah, bungkus shampo, krikil dan sepotong dua potong kotoran manusia di sepanjang saluran itu..dari mata batin, jiah mata batin, sepertinya saya menangkap ia bergidik melihat saya bisa melakukan hal itu, hahaha.

Aneh juga, berbekal ilmu kesadaran melihat hanya melihat, mencium hanya mencium, segala bentuk pikiran dan konsep tentang kotoran manusia yang menakutkan itu runtuh dengan sendirinya. Memegang hanya memegang, lembut hanya lembut, keras hanya keras, saya memegang, mengangkat dan membuang entah kotoran siapa itu hehehe.

“Bret bret” air dalam got sudah mengalir lancar, aku lalu menutup kayu-kayu penutup saluran air itu lalu mencuci tangan dengan sabun antiseptik dan mandi.

Well, malam hanya sebuah malam. Gelap hanya sebuah gelap. Bumbu-bumbu respon batinmu yang membuat malam itu menjadi malam jahanam atau penuh bintang.

Terkadang, terlalu asyik kita dalam pelukan malam hingga lupa esok masih ada siang. Atau, mungkin siang dan malam juga khayalan kita semata sahaja? Hahaha.

Bandar Kemayoran, 06 April 2016.

KERINDUAN

 

Bagi yg mengetahui cara kerja pikiran, yang sampai pada pengetahuan: pikiran hanyalah salah satu indra.

Maka ia mengetahui semua produk pikiran adalah ilusi.

Semenjak kesadaran semua produk pikiran adalah ilusi ada, apa yang kita alami bisa sangat cepat, juga bisa sangat lambat.

Sangat cepat bila kita mengetahui gerak pikiran dan tak meladeninya.

Sangat lambat bila kita mengetahui ataupun tidak mengetahui gerak pikiran, namun melekat dan memanjakannya.

Pada beberapa individu, kemelekatan ini bisa bertahun-tahun, bahkan berabad-abad, berjalan dari kehidupan satu ke kehidupan lain.

Kekasihku, ketika pikiran tentangmu muncul

Lalu aku coba mengajakmu susuri masa lalu

Anggap saja, AKU sedang larut dalam pusaran pikiran, bermain-main dan memanjakan cipta karsa tentangmu.

Hahaha.

Bandar Kemayoran, 16/03/2016

 

surealis2

Selamat Datang di Tanah Buddha

Selamat Datang di Tanah Buddha

arahanta

Kemarahan ini tak nyata

Kebencian ini tak nyata

Dendam ini tak nyata

Sakit hati ini tak nyata

Namun, masih banyak yang terus membawanya hingga berputar-putar dalam samsara.

 

Ketika aku berpikir ‘aku’ adalah real, ketidakwaspadaan menguasai aku untuk hidup dalam lautan emosi. kebencian maupun dendam saat ‘merasa’ disakiti. Perasaan2 ini yang terus menciptakan karma buruk tanpa akhir,penderitaan berkalpa-kalpa. (Kalpa is a Sanskrit word (Hindi: कल्प kalpa) meaning an aeon, or a relatively long period of time (by human calculation) in Hindu and Buddhist cosmology. ).

Ketika aku sadar ‘dihina, hanyalah proses matangnya karma buruk yg harus dijalani, maka aku bisa melihat dihina dan terhina hanyalah proses berubahnya unsur angin dingin ke angin panas dalam diri kita. Ketika aku berhasil mengamati unsur angin, angin panas segera berlalu menjadi angin mamiri, angin sepoi-sepoi.

Tapi, kalau yang mengamati tidak sadar, tidak mampu melihatnya, angin itu bisa menjadi angin bahorok, tornado yg meluluhlantakkan, mencuri segala kedamaian yg kita miliki. Sebelum si pengamat menyadarinya, angin itu tetap akan panas dan makin panas. Ada yg menyebutnya setan yang hidup dalam diri kita. Makan dari energi kita.

Dalam meditasi kesadaran penuh, ketika kesadaran cukup kuat, kita mampu merasakan perubahan itu.

Meditasi kesadaran sebenarnya adalah latihan mempertahankan kesadaran itu. Diperlukan daya upaya yang sangat besar untuk mengalami apa yg disebut ‘sadar’. Karena sadar bukan berarti tidak pingsan atau tidak sedang tidur.

Saat kita sudah mengerti dan mengalami ‘sadar’, selanjutnya diperlukan daya upaya sangat besar untuk terus mempertahankan kesadaran. Karena kesadaran timbul tenggelam, datang dan pergi dengan cepat. Tidak mengherankan, beberapa pusat meditasi memiliki disiplin sangat ketat dalam melatihnya. Bahkan seperti perguruan silat, memiliki jurus-jurus dan tehknik latihan berbeda satu dengan lain.

Ketika kesadaran kita terjaga terus menerus tanpa terputus, bahkan saat tidur… well its arahanta. Selamat datang di tanah seberang. Tanah dimana kebencian, dendam dan sakit hati tiada lagi memiliki tempat. Habis.

Meditasi dan sadar harus dialami sendiri.Tidak bisa diwakili. Seseorang yang kesadaran terjaga tidak butuh banyak tidur. Kalaupun tidur, tidurnya adalah tidur berkualitas. Ibarat mengisi baterai handphone, tidurnya atau sadarnya adalah proses mengisi baterai handphone.

Sebaliknya orang yang tidak sadar, sepanjang hidup baik tidur atau tidak, mereka sedang menghabiskan energi. Bahkan tidurnya lebih boros energi, karena banyak diisi mimpi dan pikiran berkeliaran.

Meditasi kesadaran mengajarkan kita mengalami, melihat sebuah proses secara utuh dari awal sampai akhir. Mengalami 4 kebenaran mulia bukan teori, tapi sesuatu yang nyata. Yakni: kebenaran adanya duka, kebenaran sebab timbulnya duka, kebenaran duka bisa lenyap, kebenaran melihat sebab lenyapnya duka.

Duka ada dalam setiap proses kehidupan kita. Ketika kita bisa melihat, mengalami proses itu secara utuh, duka itu berubah menjadi sukacita. Kegiuran, belas kasih. Saat itu tiba, tiada lagi kebencian dan dendam, karena yg kita alami adalah bagian dari proses yg harus kita jalani. Kalau sudah begitu, selamat datang di Tanah Buddha.

Bagaikan kawanan angsa yang meninggalkan kolam demi kolam,
demikian mereka meninggalkan tempat kediaman demi tempat kediaman.

(Dharmapada VII:91)

Bandar Kemayoran, 14 Agustus 2015.

Tulisan ini disarikan dari opini saya dalam diskusi di Grup whatsapp  MBI Jakarta.

Sakit Gigi dan Wipassana

Sakit Gigi dan Wipassana

 gigi

Udara dingin beberapa hari ini membuat sakit gigiku kumat. Ini mengingatkanku saat masih menjadi biku dan berdiam di Wihara Buddhasena, Bogor.

 Saat itu sakit gigiku kumat, namun sebagai penganut aliran tak minum obat kalau tak kepepetz, saya menolak minum obat.

 Umat di sana pun khawatir dan menyarankan minum obat.

 “Belum perlulah, fungsi obat sakit gigi hanya menghilangkan rasa sakit, tapi tak menyembuhkan penyakitnya,” kataku.

 Di sisi lain, sepengetahuan saya, obat penahan sakit membuat kerja ginjal lebih berat. Prinsipnya, selama bisa ditahan, saya akan menahannya. Saat kita berkunjung ke dokter yang baik juga, minum obat penahan sakit direkomendasikan bila terpaksa saja.

 Di sisi lain, aha.. ini kesempatan yang baik untuk berlatih.

 Maka saya mulai memperhatikan naik turun perut, lalu mengkonsentrasi pada titik senat-senut di gigi yang begitu dominan.

 Setelah konsentrasi terbentuk, saya bisa merasakan pusaran getaran halus pada titik konsentrasi saya. Pusaran getaran ini lalu saya arahkan menyotir titik-titik sakit di gigi. Hasilnya “Bet! Bet! Bet!” bukan sulap bukan sihir… sakit giginya lenyap sodara-sodara!

 

Lepas Jubah

Saat tidak memakai jubah, kesempatan saya berlatih turun drastis.

 Ketika memakai jubah, saya tak disibukkan kegiatan mencari uang. Makan dan tempat tinggal sudah tersedia, bahkan berlebih. Dimana-mana, kemana-mana, umat akan bersukacita menerima kehadiran Anda, mengundang makan dan selalu mendanakan makanan.

 Kini?

 Kalau tak cari makan siapa yang akan memberi saya makan? Kalau tak cari uang, siapa yang akan membayar cicilan rumah saya?

 Bahkan waktu masih kos, saya sempat tak berani pulang kos sebelum mendapat pinjaman untuk membayar kos yang jatuh tempo.

 Penjaga kos cukup ekstrim, dia tak akan sungkan ketuk kamar Anda dan berteriak kenceng hingga satu lantai mendengar anda belum bayar kos, “Pin! Bayar kos Pin! Sudah terlambat berapa hari ini!”

Pernah pas jatuh tempo dan belum punya uang, saya keluyuran mencari pinjaman dulu hingga tengah malam baru berani pulang karena sudah dapat pinjaman, hihi.

Punya Rumah

Setelah punya rumah kesibukannya tetap sama. Memang tak khawatir lagi tengah malam diketuk pintu dan diteriaki untuk bayar kos.  Tapi kewajibannya justri bertambah, saya sibuk cari uang untuk bayar service charge, bayar air, bayar listrik, bayar telepon, bayar sewa konter, bayar cicilan rumah, dan beragam keperluan sehari-hari.

Kesibukan-kesibukan ini, beban hutang yang ada, juga beban jalur Bodhisattwa yang saya pilih terkadang harus menanggung hal yang tak terucap, praktis memberi tekanan batin tersendiri.

Waktu berlatih menjadi berkurang, bahkan jadi tidak sama sekali. Ditambah kondisi yang sudah tak pegang sila biku, membuat kadang saya membiarkan luapan pikiran dan sedikit kenakalan berkeliaran sebagai human basic instinc, hehe.

Jadi, dua hari ini, ketika udara dingin dan gigi ini sakit… mengingatkan saya untuk melakukan perhatian penuh lagi. Perhatian penuh pada gigi yang sakit. Apakah masih berhasil?

Yup, pusaran itu, meski tak sekuat dulu, ternyata masih ada sodara-sodara.

It works!

“Bet! Bet!” Sakit giginya lenyap.

Kesimpulannya, saya masih belum perlu minum obat sodara-sodara, hehe.

(Bandar Kemayoran, 17 November 2013)

Purworejo(Bagelen) Pusat Tantra di Jawa Tengah Dahulu Kala

Purworejo(Bagelen) Pusat Tantra di Jawa Tengah Dahulu Kala

Kedamaian alam Purworejo

Dear all,

Ini adalah sedikit oleh-oleh kunjungan saya seminggu di Purworejo. Pada masa keemasan Syiwa Buddha, Purworejo  dikenal sebagai Bagelen.

Menurut sejarah, Kadipaten Bagelen diserahkan kepada Hindia-Belanda oleh pihak Kesultanan Yogyakarta setelah Perang Diponegoro berakhir. Untuk memutus jati diri  Bagelen sebagai daerah yang kuat, wilayah ini dalam kekuasaan Belanda diciutkan menjadi hanya kabupaten  dalam Karesidenan Kedu.

Belanda membangun pemukiman baru di daerah ini dan menamainya Purworejo. Saking waspada akan  perlawanan di tempat ini, Belanda menempatkan barak-barak tentara di sini, sekaligus membangun jalan raya membelah daerah ini agar lebih mudah diawasi.  Begitulah asal mula Purworejo.

Nah, sejak tiba di kabupaten Purworejo, saya diliputi perasaan damai dan tenang. Semula saya heran, di tempat yang sangat cocok untuk peristirahatan ini, kok tak ada pusat meditasi, bahkan katanya tak ada wihara, padahal saya rasa vibrasi tempat latihan yang tenang sangat mendukung di sini.

Setelah saya browsing tentang Purworejo di internet, fill damai ini tak salah. Dari hasil browsing saya tahu, Purworejo atau Bagelen merupakan pusat pengembangan agama Syiwa Buddha (Tantra) di Jawa Tengah sejak kerajaan Galuh-Tarumanegara.

Pada jaman itu, Bagelen atau Purworejo adalah tempat biksu tinggal dan bertapa. Jadi tak heran, vibrasi damai ini masih terasa hingga kini. Bahkan urat nadi kabupaten ini adalah sungai yang bernama Bagawanta, yang berasal dari kata Begawan, karena konon di sepanjang tepi sungai inilah para biksu bermukim!

Malangnya, keluarga teman dekat saya yang non Buddhis yang terpesona indahnya Dharma Guru Buddha yang saya sampaikan, hanya bisa berkata, sayang di sini tak ada wihara. Padahal gereja dan pastoran bertebaran.

Ada yang mau merintis?

Dalam pemikiran, saya mungkin punya ikatan karma dengan tempat ini pada kelahiran yang lalu.

Tercatat sejak SMU, 3 kali saya kelayapan tak jelas sampai di daerah ini. Satu kali bermalam di rumah penduduk dan mandi di permandian air panas alam beramai-ramai dengan penduduk, yang kini tak bisa kulacak keberadaannya.

Kedua, masih di bangku SMU, saya pernah masuk sampai ke tempat paling sakral Petilasan Nyai Bagelen, leluhur orang Purworejo yang dikramatkan penduduk di sini, yang mayoritas muslim kejawen. Berada di dalam petilasan yang dikramatkan itu, yang dikelilingi kuburan muslim, saya agak kaget karena isi dari ruang spesial itu, pusat dari petilasan tersebut yang dijaga juru kunci ternyata sebuah Stupa! Mungkin itu stupa perabuan Nyai Bagelen? Yang ternyata Buddhis!

Faktor kedua adanya pemikiran ikatan karma aku dengan tempat ini, tanpa rencana seminggu ini saya ‘dipaksa’ ada di Purworejo. Kalau bukan oleh karma yang harus diselesaikan, bagaimana mungkin saya ada di sini?

Uniknya, konon di sini masih hidup tradisi, setelah sunatan anak yang disunat diarak keliling dengan kuda. Jadi ingat tradisi di Negara Buddhis yang juga mengarak anaknya keliling setelah menjadi samanera kecil, terinspirasi kisah Pangeran Siddharta yang meninggalkan istana? Mungkin ini alkuturasi agama pendatang dengan kebudayaan Buddhis setempat yang kuat pada era lalu.

Mau ke sana? Kalau naik bis ac Sinar Jaya dari Pulo Gadung Rp.65.000,- Jakarta – Purworejo. 10 Jam perjalanan. Bisnya sehari 2 kali jalan. Pagi jam 6, kalau sore jam 4. Letak Purworejo sekitar 2 jam dari Yogyakarta, 15 menit dari Candi Borobudur.

Berikut  kutipan dari sebuah blog tentang sejarah Purworejo/Bagelen:

Syiwa-Buddha

Menurut Oteng, dakwah Sunan Geseng di Bagelen dengan mengakomodasi kepercayaan Syiwa-Buddha bukan tanpa alasan. Sejak zaman kerajaan Galuh-Tarumanegara, Bagelen dikenal sebagai pusat perkembangan agama Syiwa-Buddha di Jawa Tengah.

Bahkan, pendiri Bagelen adalah putri Raja Syailendra atau yang disebut warga setempat sebagai Raja Suwela Cala. Di Bagelen juga banyak ditemukan yoni dan lingga peninggalan Wangsa Sanjaya dan Rakai Panangkaran yang beragama Hindu-Syiwa.

Bagelen yang dulu juga meliputi sebagian Wonosobo dikenal sebagai tempat pelarian pangeran dan kesatria Majapahit. Salah satunya adalah Pangeran Jayakusuma. Demikian pula dengan Raden Caranggasing dari Jenggala.

Di Bagelen bagian selatan banyak pendeta Bhairawa Tantra, yang sakti. Maka, banyak prajurit tangguh dari wilayah ini.

Urat nadi wilayah Bagelen, yaitu Sungai Bagawanta, konon merupakan tempat begawan dan biksu tinggal dan bertapa. Karena itu, sungai itu dinamakan Bagawanta (dari kata begawan). Sebelumnya, berdasarkan prasasti peninggalan Wangsa Sanjaya, sungai ini bernama Ciwatukora.

Dengan latar belakang semacam itu, tak ada pilihan lain bagi Sunan Kalijaga maupun Sunan Geseng untuk tidak mengakomodasi nilai Syiwa-Buddha. Apalagi dalam beberapa hal ajaran Islam dan Syiwa- Buddha juga memiliki kesamaan.

Memang, karakter khas warga Bagelen kini tak sekental dimasa lalu. Bahkan, secara geografis pun wilayah Bagelen mengerdil. Bila dulu pada masa sebelum tahun 1830 wilayahnya meliputi Berangkal (kini Purworejo), Semawung (Kutoarjo), Ngaran (Kebumen), dan Karangduwur (Wonosobo bagian selatan), tetapi setelah tahun 1830 Bagelen tinggal wilayah seluas empat kecamatan disebelah timur Purworejo.

Pengerdilan wilayah Bagelen ini tak terlepas dari upaya Belanda menghentikan perlawanan sisa pengikut Pangeran Diponegoro di wilayah ini.

Masih tampak

Namun demikian, tradisi Islam-Jawa dalam banyak hal masih tampak. Legimin (66), sesepuh Desa Bagelen, Sabtu (28/1), mengatakan, setiap Jumat Kliwon, Selasa Kliwon, dan Kamis Wage, warga Bagelen mengadakan ritual sesaji kepada leluhur. Biasanya mereka mengunjungi petilasan Nyai Ageng Bagelen di Desa Bagelen, Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo.

“Mereka yang ke petilasan itu tidak hanya yang Kejawen, tetapi juga yang beragama Islam, bahkan Nasrani. Mereka menghormati Nyai Ageng Bagelen sebagai leluhur. Dan, meminta kepada Allah supaya Bagelen selamat dan sejahtera,” tuturnya.

Pada bulan Sura ini, warga Bagelen, baik yang beragama Islam atau penganut Kejawen, melakukan jamasan pusaka. Mereka juga mengunjungi petilasan pepunden, seperti petilasan Nyai Ageng Bagelen, Banyu Urip, petilasan Sunan Geseng dan pepunden yang lain.

Memang, tradisi Islam-Kejawen di Bagelen kini kian tergerus modernitas yang memasuki relung kehidupan di wilayah ini.

http://waridjan.multiply.com/journal/item/71/BAGELEN_POTRET_SEBUAH_AKULTURASI_ISLAM-JAWA_

Purworejo, 14 Februari 2010

Harpin R

Sumber: http: //harpin.wordpress.com

Metta it Work’s

Metta, it  Work’s


Mohon maaf untuk para sahabat yang mengirim email bertanya kelanjutan tulisan perjalanan spiritual di blog aku, yang tak ada kelanjutannya. Ini semata kesibukan mengurus penerbitan Majalah Mamit.  Terimakasih atas dukungan dan sapaannya, mengingatkan aku meneruskan tulisanku di blog.

Ada beberapa hal yang akan aku ceritakan dalam perjalanan ke Sumatra, sebelum akhirnya kembali ke Jakarta, lalu berangkat ke Thailand bersama Bhante Nyanadasa (waktu itu masih samanera) dan Yuliana mengikuti  acara  Young Bodhisattva di Thailand.

Sekitar sebulan menetap di Vihara Avalokitesvara, aku melanjutkan perjalanan keliling ke vihara-vihara  pesisir. Dalam perjalanan kembali ke Medan, Sampailah aku di wihara.. saya lupa itu dimana, mungkin Tanjung Balai Karimun. Katanya Bhante Nyanapratama sebelum jadi biku adalah muda-mudi di situ. Letaknya sekitar  2 jam perjalanan dari Medan.

Wihara itu adalah bangunan tua. Katanya ada kamar khusus sukong di lantai atas. Sementara kuti untuk biku di lantai 2. Yang dimaksud Sukong adalah Almahum YM. Ashin Jinarakkhita.

Namanya juga bangunan tua, wihara itu termasuk angker. Seorang anak yang menemui saya pada malam itu bertanya dengan innocent: “Bhante tidur di sini?” Suaranya sedikit aneh.

“Iya, mau nginap juga?” tanyaku yang spontan ia jawab bergidik “ti..dak.”

“Tempatnya angker, Bhante. Anak-anak di sini tak ada yang berani nginap di wihara. Katanya di kamar Sukong juga ada penunggunya,”  kata dia menunjuk lantai atas.

Wow… ketika dia pergi, tinggalah aku sendiri di gedung tua ini, sebagai pengembara waktu yang selalu bertemu tempat, pengalaman, dan pertualangan baru.

Malam itu pun berlalu seperti malam umumnya.

Pagi menjelang, saat A’i (panggilan Chinese  untuk wanita setengah baya) yang biasa mengurus makanan Bhante datang, hal pertama yang dia tanya dengan mata selidik: “Semalam gimana, Bhante? Tidak terjadi apa-apa?”

“Emang ada apa?” tanya aku heran.

“Oh nggak, “ katanya, terus mengalihkan pembicaraan ke hal lain.

Live go on. Hari itu aku diajak putar-putar dengan perahu bermesin mengarungi sungai di depan wihara. Konon katannya, sukong bilang posisi wihara yang menhadap sungai itu bagus, kata mereka.

Malam tiba, aku seorang diri lagi dalam tembok tua dan bau dingin wihara. Sunyi, senyap yang ada hanyalah udara bergerak, biarkanlah udara itu bergerak, bukankah harkekat udara itu memang bergerak? Hehe.

Keesokan pagi, saat menyiapkan makan pagi, wanita setengah baya itu kembali bertanya dengan mata selidik: “Semalam tidak apa-apa, Bhante?”

Jawaban aku juga sama, “nggak, emang kenapa?”

Ia kembali bilang “nggak,” lalu bicara masalah lain lagi. Konon dia seorang guru, jadi pintarlah dia merangkai kata mengalirkan pembicaraan mengisi pagi itu.

Ya, sejujurnya memang aku tak mengalami apa-apa, takut-takut dikit ada juga. Tidur sendiri, di gedung tua yang konon sepertinya ada penghuni, tapi mereka tak berani cerita. Cuman seorang anak yang cerita bahwa tak ada diantara mereka berani menginap di wihara. Cukup aneh juga, mengingat di daerah lain, anak-anak biasa saja kalau menginap di wihara.

Menjelang siang, saat anak itu datang lagi, ia terheran-heran melihat seekor burung gereja ditangkap aku dengan tangan kosong. Burung itu tak melakukan perlawanan apapun, pasrah.

“Kok bisa yah, Bhante?” tanyanya terheran-heran.

“Yah bisa saja,” kata aku, “dia sedang sakit,” sambil mengambil butir nasi di meja memasukkannya ke paruh burung itu.

Sejujurnya, aku merasa aneh juga, tapi aku sok biasa. Tadinya aku melihat burung itu berjalan terseok-seok di teras wihara diantara pot-pot tanaman hias.  Sebenarnya burung itu bisa terbang, hanya tidak selincah kalau sehat. Tapi ia tak merontak atau menghindar, diam saja sambil melihat ke aku yang mengulurkan tangan hati-hati meraihnya.

Oleh belas kasih mengetahui burung itu sakit, aku juga berusaha agar burung itu mau dibantu. Saat menghampiri burung itu, aku memancarkan vibrasi metta ke burung itu. Entah pancaran metta aku manjur, hehe, ia pasrah saat aku tangkap.

Jadi aku punya kesempatan memberinya makan. Memberinya minum. Saat tanganku sedang menangkap burung itulah, ketika aku berbalik, ternyata sepasang suami istri dan anak itu tengah mengamati dari tadi di belakangku.

Mereka bernamaskara. Suami istri itu tidak berkata apa-apa, memberi ampau lalu pamit. Anak itu masih terbengong-bengong bertanya, “kok bisa yah Bhante,” yang kembali aku jawab, “karena dia lagi sakit.”

Saat anak itu pergi, aku meletakkan burung itu di teras tempat aku menangkapnya, tak lupa meletakkan tempat minum di situ. Beberapa saat, ketika aku memeriksa lagi, burung itu sudah pergi.

Syukurlah dia sehat kembali. Fill free, because you be born for free.

Keesokan hari setelah sarapan, aku melanjutkan perjalanan ke Medan, untuk kembali ke Jakarta.

Jakarta, 29 01 2010

Bodhisattva Thích Quảng Đức

Bodhisattva Thích Quảng Đức

Quang Duc, a Buddhist monk, burns himself to death on a Saigon street June 11, 1963 to protest alleged persecution of Buddhists by the South Vietnamese government. (AP


Selama di Vihara Avalokitersvara aku menyadari perubahan-perubahan tubuhku. Karena perubahan-perubahan yang dialami tubuhku. Seperti ada pegas/peer di lutut kakiku. Sehingga kakiku tak dapat berdiri lama, bila berdiri lama ia akan secara otomatis menekuk/melipat sendiri sehingga aku bisa tiba-tiba terjatuh.

Pernah suatu hari aku berangkat bersama sejumlah umat dan pandita setempat mengunjungi seorang Ibu tua yang sakit. Ibu itu hidup seorang diri. Konon, usianya sudah tua tapi tak mati-mati, dicurigai beliau punya ilmu yang membuatnya susah mati.

Karena bukan ahli upacara, dalam tiap kunjugan saya bersama umat di daerah, saya memposisikan hanya mendampingi Pandita setempat, artinya saya meminta mereka tetap menjalankan fungsinya memimpin upacara sementara saya hanya mendampingi.

Tiap mengunjungi umat sakit parah di rumah sakit dengan selang di sana-sini, makan dari selang infus, buang air kecil dan air besar lewat selang, saya selalu menkonsentrasikan dalam batin, apabila saatnya sudah tiba, berikanlah dia kemudahan untuk ‘melanjutkan’ perjalanan. Sebaliknya apabila bisa sembuh, berikanlah kemudahan untuk sembuh dan mengakhiri penderitaannya yang berlarut-larut.

Dalam banyak kesempatan mengunjungi orang sakit, doa yang kami panjatkan saya rasa cukup efektif. Selama menjadi samanera dulu di Ekayana, pernah dalam sehari bersama Ibu Chaifung cs kami mengunjungi tiga orang yang sakitnya parah. Keesokan hari, menjelang makan siang aku mendengar kabar dari B.Aryamaitri Mahasthavira, ketiga pasien yang kami kunjungi kemarin sudah ‘lewat’.

Kembali pada semua persendianku yang lentur. Karena ada perubahan di persendianku ini, aku tak bisa berdiri lama. Saat mendoakan Ibu tua di pesisir Sumatra ini pun, karena baca doanya cukup panjang, dalam hatiku sudah was-was, takut kakiku menekuk sendiri. Dan dugaanku benar, saat tengah membaca doa, kakiku tiba-tiba menekukkan dirinya, hasilnya bisa ditebak: aku terjatuh dengan sukses berikut bonusnya keseleo. Aku segera diberikan kursi untuk duduk. Ibu tua itu beberapa hari kemudian kalau saya tak salah, memang ‘lewat’.

Keesokan hari kakiku membengkak. Ada umat vihara mengatakan suaminya bisa urut. Ia minta suaminya mengurut aku di kantin belakang vihara. Sebelum menjadi samanera, saat bekerja dulu, aku belajar otodidak pijat refleksi, yang hasilnya suka dimintai pijat oleh teman-teman sekantor,hehe. Jadi sedikit banyak tahulah aku tentang ilmu pijit.

Sepengetahuanku pijat refleksi menghindari memijat daerah yang membengkak, melainkan sisi-sisinya saja. Tapi apa yang dilakukan umat ini, mungkin bukan pijat refleksi. Daerah tapak kakiku yang keseleo dan membengkak, dipijat habis-habisan oleh beliau. Waduh-waduh, beberapa orang ibu yang melihat mengatakan kalau mereka yang mengalami mungkin akan menangis berurai air mata.

Sebelum memijit, Acek itu mewanti-wanti, dulu anaknya pernah jatuh dari tangga dan ia pijiti, sakitnya minta ampun, anaknya sambil menangis dan menjeri-jerit, tapi kemudian sembuh. Jadi aku harus siap menahan sakit.

Aku iya-iya sajalah. Sambil berpikir, sepertinya ada moment untuk berlatih. Lets me try,hehe.

Maka mulailah Acek itu mengeluarkan ilmu memijitnya. Tapi setelah sekian lama, agaknya beliau harus ‘kecewa’ dan terbelalak heran. Meski beliau memijit pengbengkakan di kakiku habis-habisan. Tak secuilpun erangan atau ringisan, apalagi jeritan yang tampak di wajahku. Wajahku hanya senyum, dan biasa saja.

Ini tak lain bisa terjadi karena aku mindfull pada titik-titik yang sakit selama beliau memijit kakiku. Saat tak diamati, atau saat kita tak mindfull, rasa sakit sepertinya ada pada seluruh tubuh. Atau tepatnya rasa sakit menguasai pikiran kita. Tapi begitu kita mindfull, dengan jelas kita bisa mendeteksi bagian yang sakit seperti menggunakan kaca pembesar. Makin dekat- makin detail. Kita tahu yang sakit ada di kaki. Setelah didekati lagi, ada di tapak, setelah didekati lagi, ada di satu titik. Setelah titik itu diamati lagi, ada molekul-molekul kecil berlarian di titik itu. Ketika molekul-molekul kecil itu diamati… mereka menjadi bias. Hasilnya sama sekali tak ada sakit yang kita rasakan.

Sebenarnya berangkat dari pengalaman ini aku bisa mengerti apa yang terjadi pada biku yang membakar diri di Vietnam, Yang Mulia Biku Thích Quảng Đức dimana masyarkat Vietnam mengenalnya sebagai Bodhisattva Thích Quảng Đức.

Yang Mulia Bodhisattva Thích Quảng Đức lahir di tahun 1897 dan meninggal 11 Juni 1963. Beliau adalah seorang Biku Mahayana, Master Meditasi yang mengakhiri hidupnya dengan membakar diri di keramaian jalan utama kota Saigon.

Hal ini beliau lakukan sebagai bentuk protes atas ketidakberdayaan Umat Buddha menghadapi tekanan dan penindasan dari penguasa Vietnam Utara yang tampaknya non Buddhist.

Di tahun 1963 itu, apa yang beliau lakukan sontak menarik perhatian dunia akan kondisi di Vietnam dan mendatangkan tekanan pada rejim yang berkuasa. Malcolm Browne yang mengabadikan moment itu dengan kameranya mendapatkan hadiah bergengsi di bidang jurnalistik dunia Pulitzer Price, demikian juga David Halberstam dengan laporan jurnalistiknya.

Uniknya, para saksi mata dan film dokumenter yang ada menunjukkan, selama proses pembakaran itu, beliau duduk dalam posisi meditasi dengan ketenangan tak tergoncangkan dari awal sampai akhir.

Jenazahnya kemudian dikremasi ulang. Lebih unik lagi, sisa pembakarannya berupa hatinya yang tetap utuh, dengan kata lain, terdapat relik berupa hati beliau. Ini adalah simbol belas kasih beliau yang luar biasa, masyarakat Vietnam kemudian menghormatinya sebagai bodhisattva. Atau secara Theravada Buddhism mengatakan, kalau ada relik sudah pasti Arahanta.

Pengorbanan beliau mendatangkan tekanan dunia internasional yang luar biasa pada rezim berkuasa, untuk merubah kebijakan yang mendiskreditkan umat Buddha di Vietnam. Akibat tekanan dunia internasional Rezim yang berkuasa merubah beberapa kebijakan, tapi tak sepenuh hati, sampai akhirnya terjadi kudeta militer, dimana rezim yang berkuasa Ngô Đình Diệm dibunuh militer dalam kudeta itu.

Jakarta, 24 Oktober 2009

Perjalanan ke Medan

Perjalanan ke Medan

Avalokitesvara-Kuan-Yin-Compassion-scupture-tk-yeoh-Buddhism

Pesawat yang aku tumpangi mendarat di Bandara Polonia Medan. Bapak A, umat yang mengundangku menjemput sendiri. Karena sikapku yang  friendly monk, beliau tak sungkan beranjali, menggenggam dan menggandeng tanganku menuju mobil. Sikap yang sebenarnya mengungkapkan kerinduannya akan pertemuan ini.

Kami pertama bertemu saat bencana alam terjadi di Sumatra, saat aku baru pulang dari Myanmar. Komunikasi yang baik membuat hubungan berjalan baik. Beberapa kali beliau menelepon memintaku berkunjung lagi, hingga akhirnya kali ini aku turuti permintaannya.

Sebelumnya, beliau juga menawarkan tanahnya yang banyak untuk aku bangun center dan menetap. Namun aku tak menerima karena tahu kebikuanku masih muda, dan belum sanggup melakukan hal sebesar itu. Di sisi lain, aku menyadari kondisi meditasiku yang masih setengah jalan, masih mencari what happening with me. Karena dalam waktu dekat akan mengikuti Youth Bodhisatva Training di Thailand, saat itu aku mempunyai cukup alasan tak menerima permohonannya.

Sebagai orang terkaya di daerahnya, yang memiliki mal dan beberapa jenis usaha, sikap beliau terhadapku sangat rendah hati. Beliau menjemputku sendiri ke bandara, setelah itu kami ke tempat saudaranya menjemput anak dan istri beliau untuk kembali ke kota asalnya di pesisir Medan.

Berlima, Bapak A yang menyetir, aku yang duduk di sebelahnya dan istri beserta kedua anaknya duduk di belakang, mobil kami melaju.

Sebagaimana cerita aku sebelumnya dalam The Last Moment at Myanmar, masalahku berhubungan dengan mual bila berada dalam mobil dengan orang banyak, seiring waktu bisa aku atasi sedikit-sedikit. Yakni dengan mempertahankan kesadaran melalui meditasi akan sikap dudukku.

Dengan bersikap mindful atas tubuh, aku bisa merasakan udara berputar kencang di dalam kepalaku, lalu tersedot keluar keluar melalui ubun-ubun. Setelah itu isi kepalaku menjadi plong, kosong. Mual itu hilang.

Hal ini ada positif dan negatifnya. Positifnya, aku tak merasa mual lagi. Negatifnya, saking plongnya, kadang benar-benar tak ada lagi pikiran dalam kepala aku. Jadi aku bisa seperti orang ling lung tak tahu harus mengucapkan apa, bayangkan bila ini terjadi saat aku harus mengisi ceramah. Dan ini benar-benar pernah terjadi dalam sebuah kunjunganku di sebuah daerah, umat Mahayana terheran-heran melihat aku hanya memegang mic dalam waktu lama tanpa mengucap sepatah kata pun.Ini bukan mau menunjukkan ajaran Zen ‘tanpa kata’, tapi memang kepalaku benar-benar blank, kosong!

Dengan latihan perhatian penuh saat duduk, berdiri dan berjalan maupun makan, perlahan juga aku menyadari segala bentuk pikiran yang berkecamuk itu bukan milikku. Bahkan pikiran itu juga bukan milikku. Bagaimana bisa menjadi milikku, sedangkan pikiran itu sendiri tak ada. Yang ada hanya bentuk-bentuk udara yang terus berputar.

Yang ada hanyalah tubuh ini, udara yang terus berputar, dan kesadaran yang menyadari proses yang terus berproses. Kesadaran ini juga selalu timbul-tenggelam. Anicca, dukkha, anatta.Tidak kekal, tidak ada aku, dukkha oleh kesadaran yang tak konstan. Ketika kesadaran kuat, dukkha dan sukkha hanyalah sikap batin yang bertamu, tapi ketika kesadaran lemah, dukkha dan sukha seolah menjadi ‘pemilik’ rumah, kita tenggelam dalam ilusi. That’s the real suffering.

Adapun halnya tubuh kasar ini, dibentuk sekian banyak bentuk kehidupan, mikroorganisme, kuman positif dan kuman negatif yang memiliki kehendak sendiri. Yang terus bertarung sepanjang hidup kita, di dalam tubuh kita. Bahkan saat nafas sudah pergi dari tubuh ini pun, mereka masih berproses untuk menghancurkan tubuh ini.

Apakah tubuh ini benar-benar milikku? Tentu saja tidak, karena di dalam tubuh ini juga hidup beragam mikroorganisme yang memiliki willnya sendiri, dengan kata lain di luar kontrol kita dan bukan milik kita. Tubuh kita hanya seperti lahan kehidupan bagi mereka sama seperti kita merasa bumi ini adalah lahan kehidupan kita. Saat kondisi batin yang tenang kita bisa merasakan gerakan-gerakan berproses dalam tubuh kita. Kalau dikatakan kita pemilik tubuh ini, bagaimana dengan ekosistim di dalam tubuh ini? Sekian banyak kehidupan yang ada di dalam tubuh ini, apakah mereka cuma numpang? Sepertinya tidak. Mereka adalah bagian dari tubuh ini, tanpa ada kehidupan dalam tubuh, berarti tubuh ini sendiri tak eksis lagi, jadi tubuh ini sendiri juga merupakan sebuah kumpulan kehidupan. Kita bukan pemilik tubuh ini, tapi kita betugas menjaga dan merawat tubuh ini, memakainya untuk melatih mencapai tingkat kesadaran yang lebih baik.

Kembali ke perjalanan aku bersama keluarga Bapak A di dalam mobil. Seperti biasa sepanjang perjalanan beliau banyak bertanya tentang Dharma, juga berkonsultasi yang aku jawab semampuku.

“Agama Buddha kita memang paling baguslah Bhante. Apa yang bhante jelaskan sangat bisa saya terima,” katanya. Kemudian beliau membandingkan penjelasan-penjelasan yang sudah beliau dapat dari agama lain.

“Ini Bhante, ada kasetnya kalau Bhante mau dengar penjelasan dari agama mereka, gak apa-apakan kalau Bhante dengar ini?” katanya sambil menyetir memperlihatkan pada aku sebuah kaset dari eve angelis.

“Gak papa,” kataku ketawa, menarik juga pikirku. Lalu beliau memasukkan kaset ke dalam tape mobil.

Ssst… tiba-tiba ada putih asap dan bau menyengat kabel terbakar muncul di dalam mobil.

“Pa, kebakaran Pa, ada bau kabel terbakar…bisa meledak Pa…” teriak anak dan istrinya dari belakang. Pak A buru-buru memberhentikan mobil dan kami semua keluar dari mobil.

“Pa… menjauh aja Pa.. bisa meledak Pa..” teriak istrinya. Asap putih makin banyak dan bau kabel terbakar makin tajam. Kami berdiri menjauh sepuluh meteran dari mobil.

Namun, instuisi dan pola orang lapangan membuat beliau kembali mendekati mobilnya untuk mencari sumber asap dan bau terbakar itu. Ternyata bersumber dari  kabel-kabel lampu asesoris yang ada di pijakan rem.

Segera beliau mencabut kabel-kabel itu, yang hasilnya perjalan kembali bisa kami lanjutkan.

Saat melanjutkan perjalanan, beliau mengurungkan niatnya untuk memutar kaset ceramah eve angelis itu.

“Jangan diputarlah. Memang tidak pantas memutar itu di depan Bhante,” katanya serius.

“Tidak apa-apa, kok” kataku.

“Janganlah. Maaf yah Bhante udah lancang tadi,” katanya, aku cuma tertawa.

Kami terus melanjutkan perjalanan. Hingga kemudian menjelang tengah malam, kami tiba di tujuan, beliau mengantar aku lebih dulu untuk menginap di Wihara Avalokitesvara.

Meski berjubah Theravada, tapi belakangan hari aku menyadari sepertinya jodoh aku lebih dekat dengan Avalokitesvara, hehe. Om Mani Padme Hum.

Gg.Melati, Jakarta 10 September 2009

Harpin R

Sumber: Harpin.wordpress.com

The Last Moment at Myanmar (2)

The Last Moment at   Myanmar (2)

chakraasis

Aku diarahkan bagian pengecekan paspor ke sebuah ruangan. Meski aku menjelaskan ke Myanmar atas undangan Pemerintah Myanmar, mengikuti Word Buddhist Summit, tapi over stay karena berada di center meditasi, dan saya biku, bagian imigrasi masa bodoh.

Berapa hari over stay aku dihitung, lalu diwajibkan membayar baru diperbolehkan menuju pesawat. Poor day.

Pesawat mendarat di Bandara Changi, Singapura. Ada rekan Hendritanti (sekarang Biku Nyanagupta) menyambutku. Malam itu aku menginap di kontrakannya. Untuk keesokan hari melanjutkan perjalanan ke Indonesia.

Rekan Hendritanti menjagaku sangat baik.  Untuk makan, biar kita makan di tempat umum, dia mewanti-wanti penjualnya untuk tak menggunakan daging, yang sebenarnya bukan pantangan aku, but as long we can follow it, its doesn’t matter.

Dia juga selalu membuka jalan untuk aku saat berjalan di keramaian, tapi saat aku minta diperlakukan biasa saja, dia juga easy going. Take care me as friendly monk, hehe. Dia juga mau membayar penuh tiket pesawat aku ke Jakarta. Tapi aku menolaknya, aku masih ada sisa sedikit uang, kamu nambahin kekurangannya saja, kataku.

Setiba di Indonesia, aku mengontak salah satu biku senior yang punya center di gunung.

“Namo Buddhaya Bhante, Ini Nyanachatta. Aku baru pulang dari Myanmar, Aku butuh bantuan Bhante, sepertinya meditasiku mengalami gangguan,” kataku to the point.

Ajaibnya, ternyata bhante itu sedang ‘turun gunung’ dan berada di Jakarta. “Udah tunggu aja, nanti sekalian aku jemput ke sana,” katanya.

Wah, kali ini sebuah kehormatan besar lagi bagiku. Biku sesenior dia pas lagi di Jakarta dan menjemput aku langsung di Ekayana.

Saat di dalam mobil, biku senior itu bertanya ”dalam mobil  begini pusing gak?”

Ups, dia sangat mengerti kondisiku, kataku dalam hati. Ini yang kucari, “Mual banget Bhante,” kataku.

Saat umat yang ada dalam mobil ikut berbicara, biku senior itu mengalihkan pembicaraan seolah tentang hal lain, jadi komunikasi ini cuma dua arah antara aku dan dia.

Singkat cerita kami sudah sampai di centernya di gunung. Biku senior itu berguman, “Selalu saja begini kalau udah mau jadi.” Beliau juga kaget saat tahu aku baru satu bulan di Forest Center Myanmar, “kirain sudah berapa tahun,” katanya.

Aku sekilas menceritakan kondisi center di Myanmar tempatku berlatih. Disiplin ketat.
Entah karena cerita ini atau bukan, di sini biku ini lalu memperlakukan aku dengan sangat keras… bahasa lainnya dibentak terus. Agak syok juga, hehe. Belakangan hari saat tidak di center biku senior ini lagi, dan bertemu salah satu yogi yang ada di sana saat itu, yogi itu bercerita mereka sempat komplain ke biku senior itu, kenapa memperlakukan aku begitu keras. Dalam pandangan aku, mungkin ada misundestanding antara disiplin dan bentakan.

Di Myanmar, guru kami begitu lembut dan tak pernah membentak. Memang disiplinnya sangat ketat dan seolah bisa membuat kita tak bisa bernapas, tapi fibrasi cintakasihnya yang kuat, rasa menyayanginya yang besar bisa kami rasakan dalam setiap sesi pertemuan yang terbatas.

Ketika biku senior ini, mungkin surprise dengan kemajuanku yang hanya satu bulan lebih di center Myanmar yang ketat ingin mengaplikasi system ini di tempatnya, suasana center berubah menjadi medan ospek. Disiplin tanpa loving kindness membuat center menjadi hanya medan bara. Dari center yang damai, saya tiba-tiba mendapati tiap hari harus diomelin.

Seperti ketika makan siang: Di Panditarama Forest Center, Myanmar, setiap moment adalah meditasi. Saat makan sekalipun, kami memasukan suap demi suap nasi ke mulut dengan sangat pelahan, mengunyahnya dengan penuh kesadaran, merasakan asin, manis, panas dan dingin makanan yang tercerap indra  lidah kami.

Agaknya belakangan aku tahu, biku senior ini juga pernah berada di Soeb  Oo Min Center Myanmar, dimana tidak menyarankan melakukan segala hal terlalu lambat. Mungkin karena hal inilah, siang itu biku senior itu membentak aku lagi. “Apa sih yang kamu lakukan? Makan begitu lambat! Kamu menikmati makanan itu kan?”

“Tidak Bhante,” kataku pelan setelah ia menghabiskan unek-uneknya. Mendengar  jawaban aku, ia melihatku untuk mendengar alasan lebih lanjut. Dengan memberanikan diri, untuk tak berkesan menggurui, aku menjelaskan aku sedang melakukan meditasi dalam makanan.

“Meditasi gimana?! Kamu pasti menikmati makanan itu, enak kan?!” hardiknya.

“Tidak Bhante,” kataku hati-hati dengan sedikit menunduk. “Aku mengawasi rasa asin, asam, manis, panas atau dingin yang kurasakan dari makananku,” aku tak menikmatinya,” kataku.

Syukurlah, meski tampak keras, biku senior itu bisa menerima alasanku. Beliau tampak berpikir dan tak memarahiku lagi. Namun, suasana makan tentu tak mengenakkan lagi.

Meski tahu bahwa aku sedang mendapat gangguan dalam meditasi, aku mencoba selektif terhadap resep yang diberikan padaku. Berhati-hati untuk mencari tahu kondisi batinku ada dimana, dan resep apa yang cocok untukku. Maka ketika biku senior itu diawal kedatanganku, memberikan foto-foto mayat, untuk dilihat lalu diingat dalam batin katanya, tentu tak aku jalankan.

Setahu aku, yang aku pelajari adalah meditasi vipasana. Dalam vipasana kita tak menciptakan atau menghilangkan sesuatu. Jadi agak aneh kalau sekarang aku harus memasukkan mayat-mayat ini ke dalam batinku. Melihatnya, lalu menutup mata membayanginya di dalam batin.

“Nanti aku ajarkan yang lainnya lagi,” katanya.

Namun, tak etis kalau aku menolak di hadapan biku itu. Aku  bilang ya dan menyimpan foto itu, tetapi aku tetap praktek meditasi dengan metode yang sudah aku jalani di dalam kutiku.

Maka bisa dipastikan, esok harinya ketika ditanya hasil meditasiku, apakah sudah ada gambaran mayat itu di dalam batin, aku menjawab belum, biku senior itu tampak mangkel. Terlebih saat aku tanyakan seperti ada tangan robot, tangan tambahan yang menempel di saraf-sarafku.

Langsung saja, pagi itu aku menjadi bulan-bulanan bentakannya. Agaknya dia nge kalau aku tak menjalankan arahannya. Yah, mohon maaf, mungkin aku termasuk pembelajar yang selektif. Meski kadang bisa merugikanku, tapi seringkali itu bermanfaat untukku. “Pantas kamu disuruh keluar dari center. Keras kepala. Disuruh begini malah jalanin yang lain. Lama-lama kamu bisa gila! Denger yah, jangan memasukkan nafas lewat mulut. Nafas masuk lewat hidung harus keluar lewat hidung.”

Astaga, inilah untungnya belajar dengan biku senior, ada point-point yang tak kita sebutkan, tapi dari jam terbangnya yang tinggi, beliau bisa tahu dan menjelaskan.

“Maaf Bhante, aku salah… tadi pagi aku memasukkan nafas lewat mulut dan mengeluarkan lewat ubun-ubun, aku merasa tubuh ini sepertinya dikuasai orang lain.”

“Hah, kamu bisa gila!”

“Maaf Bhante, aku tidak mengulanginya lagi.” Kataku bersujud  tiga kali. “Makasih banget, Bhante.”

Setidaknya biku senior ini mengingatkan dasar-dasar meditasi yang ternyata aku lepaskan. Selama mengamati getaran-getaran tubuh yang terus berpindah, aku sudah terbawa terlalu jauh. Aku bisa merasakan getaran perputaran di titik anus, perut, jantung, hati,tenggorokan, jidat dan ubun-ubun yang bergetar bersamaan, lalu nafas yang masuk lewat mulut aku keluarkan melewati pusaran-pusaaran itu dan berakhir di ubun-ubun seperti helikopter, hehe.

Meditasi yang aku lakukan dengan mengamati pusaran-pusaran itu tanpa aku sadar membuat aku mengamati semua sensasi abstrak yang aku rasakan. Hal sangat sepele yang dulu aku tahu untuk mengabaikan/cukup tahu saja sensasi abstrak colekan di kaki, seperti ada yang berusaha menempel sehingga punggung terasa berat dan sebagainya, telah aku abaikan.

Aku terjebak dan tak bisa membedakan menyadari dengan mengikuti. Dalam hal meditasi, dua kata ini memiliki makna dan akibat yang begitu fatal.

Aku menyadari sepertinya kekacauan ini dimulai dua malam terakhir saat aku di Forest Center Myanmar,ketika aku mengikuti sensasi colekan di kakiku.

Terima kasih Bhante, from that moment, kondisi meditasiku membaik. Aku berhutang sangat banyak pada Bhante.

Tetapi di sisi lain, aku tahu, metode yang aku pelajari berbeda dengan metode di center biku senior yang ada di gunung ini, yang tampaknya menurutku lebih ke arah Samatha Bhawana.

“Kalau aku menutup mata, rasanya tak seperti sedang menutup mata biasanya, tapi seperti sedang ada di alam lain, “ kataku memulai pembicaraan.

“Itu alam tanpa batas,” kata biku senior itu.

Point terakhir yang ingin aku tahu adalah, gambaran yang aku lihat dulu, permadangan yang sangat indah, kuda terbang yang mengangkut penumpang di awan itu apa?

Ketika keesokan harinya aku tanyakan pada biku senior itu, beliau berkata” kamu melamun kali?”

“Yang aku lihat bukan dalam kondisi duduk meditasi, Bhante. Tapi saat mata terbuka begini. Itu seolah ada di jidat, bergerak seperti film, kalau diarahkan ke matahari, gambar itu makin terang…”

Bhante itu tampak terdiam. Ia tak mengucapkan apa-apa. Kesimpulannya, tak ada jawaban di sini.

Genap seminggu, karena merasa yang aku dapat cukup, sore itu aku minta ijin pada biku senior itu untuk pulang ke Jakarta.

Aku bersujud tiga kali mengucapkan rasa terimakasih yang amat sangat. Beliau telah mengingatkan aku sebuah masalah sangat simple dan dasar, tetapi peringatan itu telah menyelamatkan aku.

“Budi ini tak akan bisa aku balas, Bhante,” sujudku pada beliau.

“Ke Jakartanya naek pesawat saja, jangan naek bis” pesan beliau tahu aku belum bisa berada di satu ruangan dengan banyak orang, pasti aku akan mual. Setidaknya pesawat bisa mempercepat semuanya.

Bersambung  gak yah? Hehe….

Jakarta 15 Agustus 2009 (10:56 pm)

Harpin

Sumber: harpin.wordpress.com

Kisah PEMBUNGKUS PERMEN DAN ISINYA

Kisah PEMBUNGKUS PERMEN DAN ISINYA

Saat di Myanmar, saya mengalami membaca paritta dalam bahasa
Myanmar, hanya sekitar 15 menit di pagi hari, yang isinya adalah doa
cinta kasih semua. Meski tidak mengerti bahasa Myanmar, tapi saya
mengerti artinya, karena dibawa doa itu terdapat terjemahan dalam
Bahasa Inggris. Baik membaca Paritta maupun Patimokha dilakukan
dalam bahasa Myanmar.

Dari Myanmar menuju Thailand saya mengalami membaca paritta
dalam bahasa Pali yang datar (menurut rekan Bikkhu yang pernah
tinggal di sana ada yang dalam bahasa Thai juga). Dari Thailand
menuju Dharamsala, saya sempat mengikuti Patimokha di Nangyal
Gompanya Dalai Lama. Tentu saja doa atau paritta yang dibacakan
dalam bahasa Tibet, sehingga seperti Bikkhu Myanmar, Bikkhu Tibet
pun mengerti apa yang mereka baca.

Sebaliknya di Tushita Meditation Centre, karena orang barat yang
lebih
dominan, mereka membaca Sutra Buddhis(melakukan puja) dalam
Bahasa Inggris. Tentunya tetap dengan tekanan dan irama yang sama
seperti saat dibacakan dalam Bahasa Tibet, tak lupa diiringi
memainkan
tambur,bel dan vajra di tangan.

Sebaliknya saat berkunjung ke Fo Guang Shan Taiwan, saya sempat
mengikuti puja jam 5 pagi. Pembacaan sutra(puja) dilakukan dalam
bahasa Mandarin tentunya, bahasa yang dimengerti orang-orang
Tiongkok dimana agama Buddha Mahayana berkembang pesat.

Pada selebaran yang diberikan kepada saya karena tak mengerti
Mandarin, terdapat terjemahan dalam bahasa Inggris. Setelah saya
baca terjemahannya, isinya kurang lebih sama dengan yang dibaca oleh
Bikkhu-Bikkhu bule di Tushita Meditation Centre maupun di Nangyal
Gompal. Bedanya Bikkhu di Tushita membacakan(puja) dalam bahasa
Inggris, Nangyal Gompal dalam bahasa Tibet, sedangkan di Fo Guang
Shan dalam bahasa Mandarin.

Mengenai paritta yang dibaca dalam Bahasa Pali saya temukan di
vihara
Thailand dan India. Meskipun sama-sama bahasa Pali, bedanya di
India,
sesuai cara orang India berbicara, irama dan anggukan kecil
kepalanya
membuat mereka seperti sedang menyanyi.

Hasilnya, dalam hati saya bertanya-tanya; Orang Tibet bisa melakukan
puja dalam bahasa yang mereka mengerti, orang Taiwan, Vietnam dan
Myanmar juga begitu, bahkan bule-bule pun mampu melakukan puja
dalam bahasa mereka, Bahasa Inggris. Lalu, mengapa kita di Indonesia
terus memaksa diri melafah sesuatu yang kita tak tahu maknanya?
Mengapa tak membaca paritta dalam Bahasa Indonesia saja? Bahasa
kita sehari-hari, bahasa yang kita mengerti.

Kata orang bijak, kalau beli permen jangan makan bungkusnya, tapi
isinya. Di Tibet ajaran Guru Buddha dibungkus dengan kebudayaan
Tibet. Di Tiongkok ajaran Guru Buddha dibungkus dengan kebudayaan
Tiongkok. Di Thailand ajaran Guru Buddha tak lepas dari pengaruh
Raja
Thailand.

Kalau beli permen jangan makan bungkusnya, tapi isinya. Sah-sah saja
kita belajar ajaran Guru Buddha sampai ujung dunia . Sah-sah juga
kita
belajar kebudayaan setempat. Tapi jangan lalu jadikan kebudayaan
setempat sebagai agama baru kita. Kalau kita mau boleh-boleh aja,
tapi
jangan kemudian menganggap yang laen sesat dong, anak kecil juga
tau, hehe.

Bila Anda pernah bertemu Bhante Dewa yang merupakan bikkhu sepuh
Sangha Agung Indonesia di Jawa, beliau membaca paritta dalam Bahasa
Jawa.

Dan bodohnya kita, tak jarang kita bertengkar hanya karena ada yang
mengatakan bahasa dan irama yang satu lebih suci dari yang lain.
Hehehe… hahahahaha, kacaunya… dunia.

Ekayana Buddhist Centre–Jakarta, 22 September 2004
nyanachatta