Masyarakat Buddhis Kita yang Sakit

Masyarakat Buddhis Kita yang ‘Sakit’

 

Biksu berjualan di Petailing Street Malaysia, Fotografer: Budi Hermawan.

Sepanjang yang saya tahu, Buddhisme mengajarkan Ehipassiko: Datang, lihat, buktikan.

Yang Buddha ajarkan adalah penyakit itu ada, sumber penyakit ada, penyakit bisa sembuh, ada cara menyembuhkan penyakit itu.

Ketika kita enggan melihat penyakit, berpura-pura tidak tahu, berpura-pura tidak ada penyakit, semua baik-baik saja, berpura-pura bijaksana, atau menghakiminya sebagai aib… bahkan menyalahkan orang yang memberitahu kita sedang sakit, hahaha, dalam pandangan saya… sepertinya kita tak hidup di alam nyata.

 Wake up please, meski tak mengenakkan, realita ini ada, sentuhlah dia, kasihanilah dia, bantulah dia.

Sanggha sebagai Komunitas.

Tepat dua bulan setelah mencapai Penerangan Sempurna (558SM), Buddha Gautama membabarkan Dhamma untuk pertama kalinyakepada lima pertapa di Taman Rusa Isipatana.

Kelima  pertapa ini kemudian disebut Panca Vaggiya Biksu, mereka adalah Kondanna, Bhaddiya, Vappa, Mahanama, dan Assaji.

Selanjutnya, bersama Panca Vagghiya Biksu tersebut, Buddha membentuk Sanggha Biksu yang pertama. Dengan terbentuknya Sanggha, maka Tiratana (Triratna) menjadi lengkap. Sebelumnya, baru ada Buddha dan Dhamma (yang ditemukan oleh Buddha ).

Tiratana atau Triratna berarti Tiga Mustika, terdiri atas Buddha, Dhamma dan Sanggha. Tiratana merupakan pelindung umat Buddha. Setiap umat Buddha berlindung kepada Tiratana dengan memanjatkan paritta Tisarana (Trisarana).

Mari kita bahas soal Sanggha, dimana kita memohon  perlindungan.

Dalam hal ini perlu diingat, banyak yang belum bisa membedakan biksu dengan Sanggha. Setiap menyebut biksu selalu dikatakan Sanggha, padahal biksu yang disebut hanya seorang. “Menurut Sanggha begini,”, “menurut Sanggha begitu,” padahal yang ia maksud adalah seorang biksu semata. Berlindung pada Sanggha, ia samakan dengan berlindung kepada sesosok biksu.

Sanggha adalah komunitas monastik, bukan sosok individu biksu. Sesuai histori terbentuknya, 5 orang biksu baru bisa bertindak mewakili Sanggha. Biksu bukanlah Sanggha, melainkan anggota Sanggha.

Itulah sebabnya, perayaan Kathina, yakni hari persembahan pada Sanggha, harus dihadiri minimal 5 biksu. Apabila perayaan Kathina dihadiri kurang dari 5 biksu, itu tak mewakili Sanggha, dengan demikian, persembahan yang diberikan untuk Sanggha menjadi tidak sah.

Jadi jelas di sini, Sanggha adalah komunitas, bukan sosok pribadi biksu.

Hubungan Timba-Balik Sanggha dan Umat

Dharmavimala Mahathera di Sanggha Agung Indonesia pernah mengatakan, tempat tinggal biksu yang ideal adalah tidak terlalu jauh dari tempat tinggal penduduk, dan tidak terlalu dekat dengan pemukiman penduduk.

Tentu ini ada maksudnya. Sebagai orang yang meninggalkan kehidupan duniawi, para pertapa masih butuh makan, untuk melanjutkan latihan mereka.

Di sisi lain, umat awam butuh penuntun spritual, dan ladang untuk menanam kebajikan. Tempat tinggal yang tidak terlalu jauh sekaligus tidak terlalu dekat, akan membantu hubungan timbal balik ini.

Di masa lalu, tradisi menghormati pertapa/yogi yang begitu kuat di India, membuat tidak terlalu masalah dan tak sulit untuk seorang pertapa mengumpulkan makanan dari rumah ke rumah.

Makna Sanggha menurut Thich Nhat Hanh

Dalam perkembangannya, makna Sanggha diterjemahkan menjadi lebih luas. Bila dulu diterjemahkan komunitas monastik yang hanya terdiri para biksu, oleh biksu Thich Nhat Hanh, Sanggha diberi arti lebih luas, sebagai komunitas mereka yang berlatih. Jadi, meskipun umat awam, sepanjang mereka melakukan latihan hidup berkesadaran dalam kelompok, mereka bisa disebut Sanggha, atau di Buddhayana disebut Sanggha Putih, maksudnya Sanggha berbaju/berjubah putih.

Berikut kutipan pengertian Sanggha Putih dari Grup Dharmajala yang mengadopsi dari  biksu Thich Nhat Hanh:

Sanggha adalah komunitas para sahabat yang mempraktikkan Dharma secara bersama untuk menumbuhkembangkan dan mempertahankan keadaan sadar. Esensi Sanggha adalah keadaan sadar, pengertian, penerimaan, keharmonisan, dan cinta kasih. Ketika saudara menemukan elemen-elemen tersebut hadir dalam sebuah komunitas, saudara tahu bahwa saudara memiliki kebahagiaan serta keberuntungan dapat berada dalam sebuah Sanggha yang sejati.

Sanggha bukanlah tempat bersembunyi agar dapat menghindari berbagai tanggung jawab saudara.

Sanggha adalah tempat berlatih mencapai transformasi dan penyembuhan diri maupun masyarakat. Ketika saudara kuat, saudara bisa hadir membantu masyarakat. Jika masyarakat saudara bermasalah, jika keluarga saudara berantakan, jika wihara saudara tak lagi mampu menyediakan kehidupan spiritual, maka saudara berusahalah untuk berlindung pada Sanggha agar dapat mengembalikan kekuatan saudara, pengertian saudara, kasih sayang saudara, rasa percaya diri saudara. Dan setelah itu, saudara dapat menggunakan kekuatan, pengertian, dan kasih sayang tersebut untuk membangun kembali keluarga dan masyarakat saudara, meremajakan wihara saudara, mengembalikan komunikasi dan keharmonisan. Ini hanya bisa dilakukan sebagai sebuah komunitas–bukan sebagai individu, tapi sebagai sebuah Sanggha.

Ketika seekor harimau meninggalkan gunung dan turun ke dataran rendah, ia akan tertangkap dan mati dibunuh manusia. Saat praktisi meninggalkan Sangghanya, ia akan mencampakkan latihannya beberapa bulan kemudian. Agar dapat meneruskan praktik transformasi dan penyembuhan, kita membutuhkan sebuah Sanggha.

Ijinkanlah diri saudara didukung, digenggam oleh Sanggha. Ketika saudara mengijinkan diri saudara berada dalam Sanggha, bagaikan setetes air mengijinkan dirinya ke dalam sungai, energi Sanggha akan menembus ke dalam diri saudara dan transformasi serta penyembuhan akan menjadi mungkin.

Dengan kata lain, menurut penulis, dari jaman dulu hingga sekarang yang diterjemahkan lebih luas oleh biksu Thich Nhat Hanh, Sanggha adalah sebuah komunitas berlatih, tempat mereka yang berlatih diri berlindung, untuk menjaga latihan mereka.

Khusus untuk Sanggha monastic (biksu) tentu kondisinya berbeda dengan Sanggha putih (umat awam yang berlatih) karena biksu, sejak penabhisannya telah ‘diikat’ dengan sejumlah 227 peratutan atau dikenal dengan winaya.

Winaya

Winaya artinya: Peraturan, Disiplin, Tata Tertib. Kata Winaya sendiri berarti : melenyapkan/menghapus/memusnahkan/menghilangkan – dalam hal ini – segala tingkah laku yang menghalangi kemajuan dalam Jalan Pelaksanaan Dhamma; atau sesuatu yang membimbing ke luar (dari dukkha).

Ada beberapa hal yang menyebabkan Buddha menetapkan Winaya:

  1. Untuk tegaknya Sanggha (tanpa Winaya, Sanggha tidak akan bertahan lama).
  2. Untuk kebahagiaan Sanggha (sehingga biksu mempunyai sedikit rintangan dan hidup damai).
  3. Untuk pengendalian diri orang-orang yang tidak teguh (yang dapat menimbulkan persoalan dalam Sanggha),
  4. Untuk kebahagiaan biksu-biksu yang berkelakuan baik (pelaksanaan sila murni menyebabkan kebahagiaan sekarang ini),
  5. Untuk perlindungan diri dari asawa dalam kehidupan ini (karena banyak kesukaran dapat dihindarkan dengan tingkah laku moral yang baik),
  6. Untuk perlindungan diri asawa yang timbul dalam kehidupan yang akan datang (asawa tidak timbul pada orang yang melaksanakan sila dengan baik),
  7. Untuk membahagiakan mereka yang belum bahagia (orang yang belum mengenal Dhamma akan bahagia dengan tingkah laku biksu yang baik),
  8. Untuk meningkatkan mereka yang berbahagia (orang yang telah mengenal Dhamma akan bahagia melihat pelaksanaannya),
  9. Untuk tegaknya Dhamma yang Benar (Dhamma akan bertahan lama bila Winaya dilaksanakan dengan baik oleh para biksu),
  10. Untuk manfaat dari winaya (Winaya dapat memberi manfaat kepada makhluk-makhluk, terbebas dari dukkha, menuju Nibbana).”

(Anguttara Nikaya, Book of Tens, Discourse 31)

Dalam Buddhapaññati dan Abhisamacara disebut Winaya dapat diibaratkan bagaikan benang yang mengikat bunga-bunga menjadi suatu rangkaian, dengan cara demikian pula winaya membantu membentuk biksu Sanggha yang kuat.

Di jaman Buddha, mereka yang ditahbiskan menjadi biksu berasal dari keluarga yang tinggi, menengah bahkan rendah serta berbeda dalam sifat dan kasta.

Apabila tidak ada winaya untuk mengendalikan mereka atau apabila mereka tidak mematuhi winaya, maka mereka akan merupakan masyarakat biksu yang tidak baik dan hal ini tidak mendorong untuk timbulnya saddha dan pasada (keyakinan yang bijaksana dan kejernihan pandangan pada orang lain).

Apabila para biksu mematuhi winaya, maka mereka akan menjadi masyarakat yang baik yang mendorong timbulnya saddha dan pasada pada orang lain.

Bahkan dalam Mahaparinibbana Sutta, Ketika Ananda bertanya kepada Buddha apa yang akan menjadi guru setelah Ia wafat, Buddha menjawab,

“Apa yang diharapkan dariku, Ananda? Aku telah mambabarkan kebenaran tanpa perbedaan apa pun; karena demi kebenaran, tidak ada yang disembunyikan dalam ajaran Buddha… Adalah mungkin, Ananda, bahwa beberapa di antara kamu, akan timbul pikiran, ‘Kata-kata Sang Guru akan segera berakhir; sebentar lagi kita tidak akan memiliki seorang guru.’

Tapi jangan berpikir seperti itu, Ananda. Bila Aku telah pergi, ajaran dan aturan disiplin-Ku-lah yang akan menjadi gurumu.”

Dan aturan disiplin yang dimaksud dalam Mahaparinibbana Sutta tak lain adalah Winaya.

Abad Modern.

Kembali pada komunitas Sanggha, anggota Sanggha bernama biksu yang harus menjalankan 227 disiplin yang bernama winaya.

Dewasa ini muncul sejumlah postingan di facebook yang mempertanyakan apakah biksu boleh berjualan? Berdagang? Karena disinyalir ada biksu yang terlibat urusan Multi Level Marketing.

Ketika saya diminta pendapat, saya mengatakan dari sisi winaya, ini jelas pelanggaran. Lelakijagat dalam postingannya di grup Umat Buddha Mendukung KPK Menahan Yang Pantas Ditahan, menulis: karena biksu tidak boleh terlibat jual-beli. (Winaya Sutta, Nissaggiya-pācittiya, 19).

Lalu munculah sejumlah postingan foto dari Budi Hermawan, tentang biksu-biksu Therawada di Petailing Street Malaysia. Biksu-biksu itu, berjubah membawa mangkok patta sambil menjajalkan dagangan berupa gelang. Ada juga biksu Thailand yang melakukan Blessing seperti dengan cara memasukan kertas emas ke kepala umatnya. Perlembar kertas emas itu S$ 2. Ini dilakukan di salah satu toko alat-alat sembahyang Buddhis di Singapura.

Sekali blessing 2 dolar, Biksu Thailand di Singapura.
Fotografer:Budi Hermawan

Beragam tanggapan dan komentar:

Terhadap postingan Bro Budi Hermawan di wall saya, saya forward ke grup Buddhayana. Komentar pro dan kontra muncul sebagai berikut:

Teh Choo Sian: Pertama-tama, Petaling Street di kena “Duit ada di seluruh jalan situ”. Lagi sana tidak ada budaya “buat dana” atau “pindapatta”. Biksu-biksu ai manusia juga, perlu wang untuk makan, belanja hidup. Saya pikir karena kehidupan, mereka jual barang di situ.

Gyatso Zangmo: Bro…terima kasih. Gua ga tertarik dengan mengoreksi orang lain. Bro…semua orang punya cara hidupnya sendiri, selama kita belum tahu motivasinya…kita hanya melihat dari pemikiran kita sendiri. Mudah melihat kesalahan orang lain tapi sulit menghargai kebaikan orang lain. Lebih sulit lagi mengakui dan melihat kesalahan sendiri dan berani bertanggung jawab. Teh Choo Siang… ya semua orang butuh uang untuk hidup. Kamu bijaksana dalam melihat situasi, tidak menghakimi orang lain. 🙂 Terima kasih

Eko Nugroho Rahardjo: bisa jadi cuma orang yang pake jubah biku, di Bodhgaya India yang macam ini saya juga bisa ketemu tiap hari, malah mereka bukan berjualan pernak-pernik souvenir tapi agak lebih cerdik, menyambut pengunjung yang keluar masuk kuil dengan pembacaan paritta pemberkahan… kalo ada patroli kamtib mereka buru-buru menyingkir biar gak kena gebuk rotan petugas hehehe… yahh dunia… cari makan susah om… hehehe…

Chrismanto Kusuma: Dalam buku Yoga. Ada tahapan pembersihan yang terbagi 4 tahap. 1. Arambha. 2. Ghata. 3. Parichaya. 4. Nishpatti. Di dalam tubuh manusia ada NADI yang terdiri dari 3 tahap. Sushumna, Ida dan Pingala. Jadi jangan kaget para praktisi kadang berbuat salah yang tdk bisa kita terima secara akal sehat karena ada faktor2 Karma yang menghambat proses Kesucian. Jadi biarkan saja semoga dia menemukan jalan Meditasi yang benar dan semoga semua karma buruknya dapat terkikis pelahan lahan sesuai karma masing2.

Warsito Djufri: Sudah sangat jelas ini Bikkhsu GADUNGAN, ini dikoordinir oleh orang dari Tiongkok! Penjelasan sama seperti Faldly.

Bachtiar Ismail: Dalam Sapurisa Sutta, Buddha mengatakan:
‘Misalnya, ada seseorang yang jahat tetapi ahli dalam Winaya dan ia berfikir, ‘Aku adalah seorangahli dalam Winaya, tetapi yang lainnya bukan,’ dan ia meninggikan dirinya serta merendahkan orang lain.

Inilah Dhamma bagi orang jahat tersebut. Tetapi, orang yang baik berfikir seperti ini, ‘Ketamakan, kebencian dan kebodohan itu tak dapat dihancurkan karena keahlian dalam Winaya.’ Bahkan bila seseorang bukan ahli sama sekali dalam Winaya, ia masih dapat menjalankan latihan sesuai dengan Dhamma, dapat mempraktekkannya dengan benar, dapat hidup sesuai dengan Dhamma; dan, oleh karenanya, ia pantas mendapatkan penghargaan dan penghormatan.’ Setelah menjadikan Jalan Buddha hal yang utama dalam hidupnya, ia tidak meninggikan dirinya ataupun merendahkan orang lain. Inilah Dhamma bagi orang yang baik itu.’ (M.III,39)

Hasan Lo: Terserah ke masing2, mau jadi apatis atau tidak, tapi ingat,  apakah anda pernah menjadi pemula / starter dalam BuddhaDharma ? Bagaimana kondisi anda (luar, dalam dan yg tersembunyi) sebagai starter, coba renungkan ? Apalagi jika starter tertipu oleh Gadungan? Apa yg timbul dalam pikiran / kesan starter tersebut? Apakah kita salahkan karma aja? Seperti umum / biasanya, lebih mudah masalah selesai…hehehe
Sedikit bijaksana bukan berarti membiarkan dan ber- “assume” that life will go on and on and on on on….hehehe

Komentar saya?

Sepanjang yang saya tahu, Buddhisme mengajarkan Ehipassiko: Datang, lihat, buktikan.

Yang Buddha ajarkan adalah ‘penyakit’ itu ada, sumber penyakit ada, penyakit bisa sembuh, ada cara menyembuhkan penyakit itu.

Ketika kita enggan melihat penyakit, berpura-pura tidak tahu, berpura-pura tidak ada penyakit, semua baik-baik saja, berpura-pura bijaksana, atau menghakiminya sebagai aib… bahkan menyalahkan orang yang memberitahu kita sedang sakit, hahaha, dalam pandangan saya… sepertinya kita tak hidup di alam nyata.

Wake up please, meski tak mengenakkan, realita ini ada, sentuhlah dia, kasihanilah dia, bantulah dia.

Kesimpulan

Ketika terjadi biksu melakukan pelanggaran winaya, dengan berdagang dan sebagainya, mungkin kita bisa bersikap macam-macam: tidak mau tahu, terheran-heran, mencercah, tidak mau lihat dan menyalahkan orang yang memberitahu dan sebagainya.

Semua itu sah-sah saja, karena kita adalah pemilik dari pemikiran kita sendiri.

Pertanyaan kemudian, dimana peran Sanggha? Komunitas monastik yang seharusnya melindungi dan menjaga anggotanya?

Kemana peran umat penyokong Sanggha? Yang harusnya menyediakan kebutuhan mendasar Sanggha, sehingga biksu tak perlu terlibat urusan jual beli yang melanggar winaya?

Sedemikian sulitkah penghidupan biksu itu, sehingga harus mencari makan dengan merintis karir di bidang multi level marketing? Lalu apa makna penabhisan sebagai samana dan jubah yang dipakai? Sekedar seragam untuk keperluan upacara?

Ah, entalah. Mungkin, kita ada dalam sebuah masyarakat Buddhis yang ‘sakit’.

SARA adalah Mahakarya Penjajah Belanda

foto dari erepublik.com

Konon, mempertentangkan Islam dengan Tionghoa mulai dilakukan Belanda setelah mengetahui Raden Patah adalah keturunan Tionghoa. Penyelidikan berikutnya setelah menyita dokumen-dokumen di Klenteng Sam Po Kong, mereka lebih kaget lagi, 8 dari 9 Wali yang begitu dihormati dalam siar Islam adalah keturunan Tionghoa!

Kekhawatiran orang Tionghoa, Jawa, Melayu bersatupadu melawan misi 3G(Gold, Glory, Gospel= kekayaan, kejayaan dan misionaris), membuat Belanda memakai politik devide et impera baru, memecah belah Tionghoa dan orang Melayu, Jawa yang mayoritas sudah di-Islamkan oleh 9 Wali.

Di situlah cerita bermula, kebencian berbau SARA pada orang-orang Tionghoa yang sampai hari ini bagai bara dalam sekam di Indonesia.

Sehingga menurut saya, dosa Belanda teramat besar. Secara tak langsung, Belanda bertagungjawab terhadap seluruh kerusuhan berbau etnis di Indonesia hingga hari ini.

Khusus etnis Tionghoa saja, nama: Kali Angke, Tanah Abang, Rawa Bangke menjadi saksi bisu pembantaian orang-orang Tionghoa di Jakarta akibat api kebencian yang disulut Belanda.

Tahun 1740, di Batavia terjadi perebutan kekuasaan posisi Gubernur Jenderal Hindia-Belanda antara Valckenier dan Van Imhoff  yang juga memakai pola mengorbarkan kebencian terhadap orang-orang Tionghoa.

Kuat dugaan, metode sejenis, terus digunakan hingga di alam kemerdekaan ini. Amatilah kerusuhan berbau etnis di Indonesia, kerusuhan tahun 66, 88, seringkali merupakan riak-riak yang diciptakan beberapa petinggi yang tengah memperebutkan kekuasaan.

Ibarat perpatah, Gajah bertarung, pelanduk mati di tengah-tengah. Yang paling dekat saat ini adalah Pikada DKI 1, yang juga coba bermain di air keruh, memancing isu SARA.

Lihatlah kejadian tahun 1740. berlangsung di Batavia dari 9 Oktober hingga 22 Oktober. Sebagian besar sejarawan mencatat sebanyak 10.000 orang Tionghoa yang berada di dalam kota Batavia dibunuh, dan 500 lagi mengalami luka berat. Antara 600 dan 700 rumah milik orang Tionghoa dijarah dan dibakar.Vermeulen mencatat 600 orang Tionghoa yang selamat,sementara sejarawan Indonesia A.R.T. Kemasang mencatat 3.000 orang yang selamat. Sejarawan Tionghoa-Indonesia Benny G. Setiono mencatat bahwa sebanyak 500 tahanan dan pasien rumah sakit dibunuh, dengan jumlah orang yang selamat sebanyak 3.431.

Pembantaian ini disusul oleh periode yang rawan pembantaian terhadap warga keturunan Tionghoa di seluruh pulau Jawa, termasuk satu pembataian lagi di Semarang pada tahun 1741, dan beberapa pembantaian lain di Surabaya dan Gresik.

Angke, Tanah Abang, Rawa Bangke

Pembantaian ini mungkin juga menjadi asal nama beberapa daerah di Jakarta. Salah satu etimologi untuk nama Tanah Abang (yang berarti “tanah merah”) ialah bahwa daerah itu dinamakan untuk darah orang Tionghoa yang dibunuh di sana; van Hoëvell berpendapat bahwa nama itu diajukan agar orang Tionghoa yang selamat lebih cepat menerima amnesti. Nama Rawa Bangke mungkin diambil dari kata bangkai, karena jumlah orang Tionghoa yang dibunuh di sana; etimologi serupa juga pernah diajukan untuk Angke di Tambora, Jakarta Barat. Namun ada yang berpendapat, Angke berasal dari bahasa Hokkian (sungai merah). Karena saat itu mayat-mayat orang tionghoa bergelimpangan di kali itu, sehingga air di kali berwarna merah darah. Vermeulen menyebut pembantaian tahun 1740 ini, sebagai “salah satu peristiwa kelam dalam kolonialisme Belanda pada abad ke-18 yang paling menonjol”.

 Belanda Harus Minta Maaf

Seharusnya kita menuntut Belanda meminta maaf. Karena politik devide et impera yang mereka tanamkan tiga setengah abad lalu, terus mengakar dan menyebabkan kebencian pada orang Tionghoa terus berlanjut. Sebuah konspirasi besar penjajahan bermotif 3G (Gold, Glory, Gospel) yang terus berevolusi, yang dikatakan Bung Karno sebagai neocolonialism.

Neocolonialism

Bung karno, presiden RI pertama berhasil memimpin perlawanan terhadap penjajahan hingga mendeklarasikan Kemerdekaan RI. Namun, ironisnya, sejarah mencatat, Bung Karno sendiri berhasil digulingkan bentuk baru neocolonialism ini.

Saat Bung Karno jatuh, pemerintah Orde Baru didukung Amerika dan kroni-kroninya mulai menancapkan kuku-kukunya di Indonesia.

Mengiringi masuknya modal Amerika dan sekutunya menguras berbagai kekayaan alam dan tambang Indonesia (Gold), gaya hidup, produk dan idiologi barat merajalela (Glory), sekolah dan pusat-pusat kebudayaan Tionghoa ditutup, sekolah dan rumah sakit misionari berkembang pesat (Gospel). Lengkaplah neocolonialism di abad kemerdekaan. Dalam hal ini yang saya bahas, penjajahan kebudayaan Tionghoa oleh kaum misionari.

Hasil penjajahan ini, banyak generasi muda Tionghoa Indonesia tak mengenal budaya nenek moyangnya.

Tahun 1999, saat menjadi design grafis di sebuah percetakan di Kedoya, aku mendengar bos saya yang orang Tionghoa mendapat ucapan selamat tahun baru Imlek dari rekannya, ia menolak dan mengatakan, “Saya tidak merayakan Imlek, saya Kristen” katanya.

Kemudian, setelah reformasi, ada kebijakan berbeda dari kaum misionari. Bila jaman Orde Lama mengangap perayaan Imlek sebagai hari besar Buddha/ Konghucu dan tak perlu dirayakan oleh umat Kristen. Karena erat dengan pemujaan berhala. Namun,  setelah pemerintah Indonesia, Gus Dur lewat keppres No,6/ 2000 menjadikan Imlek libur fakultatif dan pemerintahan Megawati tahun 2000 menjadikan Imlek hari libur Nasional, mungkin supaya tidak kehilangan umatnya yang Tionghoa, beberapa gereja mulai melakukan Misa Imlek?

Dari tahapan itu saya melihat, api dalam sekam bernama SARA yang dimulai Belanda, telah dilanjutkan penguasa Orde Baru, dengan beragam peraturannya yang mendiskriminasikan orang Tionghoa. Puncaknya adalah meletusnya kerusuhan Mei 1998, yang konon menurut beberapa sumber berita, ada jendral-jendral yang adu kekuatan di belakangnya.

Jadi, di perayaan Hut RI ke 67 ini yang ingin saya tanyakan adalah, apakah kita sudah benar-benar merdeka?

Indikatornya adalah: Apakah kita sudah mengelolah hasil bumi dan pertambangan kita sendiri? Apakah kita sudah menggunakan produk anak bangsa sendiri? Apakah kita sudah bangga dengan kebudayaan kita sendiri? Kebudayaan Jawa, kebudayaan Betawi, Kebudayaan Tionghoa, Kebudayaan Melayu, Kebudayaan Bali, maupun Kebudayaan Papua.

Dan terakhir, apakah kita masih belum bisa menghindari isu SARA warisan kolonia Belanda?

Jika jawabannya belum, that’s right, Selamat! Kita masih belum merdeka!

Warning: Tulisan diatas adalah pendapat penulis pribadi, tidak mewakili institusi manapun, juga belum pasti kebenarannya, jadi jangan terlalu dipercaya maupun terlalu tidak dipercaya, hehe.

“?” Bukan Film Pluralisme tapi Film Evangelis

Setelah penasaran akan keberangan FPI pada film ‘?’ yang diputar SCTV, yang ramai di forum Kaskus, saya mencari dvd film itu di pasaran. Bahkan karena player lama saya rusak sebab jarang dipakai, saya sengaja membeli player baru hanya untuk menonton film tersebut.

Ada sih link downloadnya di internet, tapi downloadnya itu yang bikin capek d. Bisa nunggu ampe tuek.

Setelah menonton, menurut aku film itu kental pesan evangelisnya.

    1. Dalam film itu ada karakter wanita (diperankan Endhita) yang pindah dari Agama Islam ke Katolik. Ada juga karakter pemuda Tionghoa berangasan (diperankan Rio Dewanto) yang konvert dari Konghucu ke Islam. Pertanyaannya, mengapa tak ada karakter yang konvert dari Katolik ke Islam atau Katolik ke Konghucu? Apakah Katolik yang paling benar, atau film ini mendapat sponsor dari Katolik?
    2. Dalam film itu juga, digambarkan citra negatif sekelompok masyarakat Islam sebagai tukang amuk. Pertanyaannya, mengapa tak ada adegan sekelompok pengikut nasrani sebagai tukang sebar Indomie, bergerilya dari rumah sakit dan sekolah untuk memberi agama pada orang yang sudah beragama? Kalau mau fair, realita ini juga perlu digambarkan.
    3. Citra Katolik kental dalam film ini, sebagian besar setting di gereja, pementasan doktrin Katolik akan pengorbanan Yesus untuk umat manusia. Katolik digambarkan sebagai agama penuh kasih yang teraniaya lewat penusukan pendeta Albertus dan bom di gereja.
    4. Penggambaran agama Konghucu dalam film ini persis cara berpikir para evangelis terhadap agama Buddha maupun Konghucu. Bahwa umat Konghucu atau Buddha orangnya baik. Memperlakukan orang lain dengan baik meski mereka diperlakukan tak baik. Tapi sayang, mereka tak mengenal Tuhan selain dewa-dewa. Selain itu, umat Konghucu/ Buddha adalah orang kuno yang sudah bau tanah, barang antik seperti kerentaan Tan Kat Sun dan istrinya yang tinggal menunggu waktu.
    5. Pluraris, harusnya interconnection. Dalam film ini yang ada hanya umat Islam(Banser) dan Konghucu (Tan Kat Sun) yang membantu perayaan di Gereja. Kenapa tak ada adegan umat gereja membantu acara di Mesjid maupun Klenteng/Wihara? Sebuah indroktinasi agar umat lain selalu mensuport gereja?

Demikian pendapat saya. Dari segi fairness, keberimbangan, film ini seolah disponsori Katolik.

Positifnya, film ini tergolong berani menggambarkan kondisi masyarakat Indonesia di tengah ancaman sebagian orang yang merasa negeri ini milik neneknya doang, hehe. Harus diapresiasi.

Sebagai karya seni tentu tak lepas dari opini pribadi pembuat dan sponsornya, jadi sah-sah sahaja. Dalam negara yang katanya demokratis, tak spantasnya dilarang dan diancam. Keberatan? Buat sendiri film menurut versi Anda.

Cinta dalam Semangkok Rambutan

Hari Selasa saat kembali dari Pasar Asemka, di atas motor yang behenti di lampu merah Gunung Sahari , hpku berdering. Membuka helm aku mengambil hp dari sakuku, “Aheng Jambi” muncul di layar hp, kakakku paling tua yang menelepon.

 

“Halo, ada apa Heng?”

“Kiat, alamat kamu apa? Saya mau kirim rambutan” terbayang di benakku agaknya pohon-pohon rambutan di sekitar rumah yang saya beli dulu, yang kini ditempati kakak-kakak saya sudah berbuah. Di saat berbuah, bisa menjadi penghasilan buat kakak nomor dua yang telah berkeluarga.

 

Di Jakarta ini, rambutan bukanlah barang mahal yang susah didapat. Dengan sepuluh ribu rupiah saya bisa mendapatkan 2 ikat besar rambutan ngelotok di pasar, jadi aneh juga kalau jauh-jauh mengirimnya dari Jambi, bisa lebih mahal ongkos kirimnya, hehe.

 

“Oh yah, aku lagi di jalan, nanti aku sms saja yah,” kataku.

“Yah” kata kakakku, kemudian telepon aku tutup karena lampu sudah hijau.

 

Sepanjang jalan ke rumah aku berpikir apa perlu memberitahu dia di Jakarta rambutan sangat murah? Namun aku tidak tega, karena menyadari sebenarnya ia ingin mengatakan terima kasih dengan caranya, karena aku pernah membantu keuangan mereka di Jambi.

 

Membayangkan mungkin inilah cara dia berterimakasih, aku tak tega menyampaikan mudahnya aku memperoleh buah rambutan di Jakarta. Jangan-jangan juga, saat ini dia sudah ada di ekspedisi dan menunggu alamat dari aku.

 

Sampai di perkarangan pakir apartemenku, aku langsung sms alamat tempat jualanku di Mangga Dua Square. Sehari-hari saya lebih sering berada di sana.

 

Saat Dewi pacarku mendengar ceritaku, bahwa kakak di Jambi nanya alamat mau kirim rambutan, kalimat yang sama terucap dari mulutnya “bukannya nanti mahal di ongkos kirim?”

 

“Tidak apa-apa, mungkin ini cara dia mau berterimakasih, karena beberapa tahun ini aku selalu kirim baju baru dan uang untuk mereka saat Imlek.”

 

Dibesarkan dalam keluarga yang tercerai-berai, ayah sudah meninggal saat saya masih bayi, Aheng kakak tertuaku yang sudah merantau sejak kecil dan aku yang diumur enam tahun sudah tidak tinggal dengan Ibuku membuat kami empat bersaudara tumbuh tak seperti saudara umumnya, memiliki dunia dan keterasingan sendiri.

 

Menginjak kelas tiga SMP saya sudah merantau dan hidup indekos sendiri di Yogyakarta. Aku tak pernah merasakan kehangatan dalam persaudaraan dan keluarga. Maka tak pernah terbesit pikiran mengirim sesuatu berupa uang atau bingkisan untuk membahagiakan ibu maupun saudara-saudara saya di Jambi. Lo-lo, gue-gue, deh.

 

Anehnya, sikap-sikap tak peduli ini, perlahan mulai terkikis setelah aku mendalami meditasi wipassana di Myanmar.

 

Mengherankan juga, hanya duduk diam mencatat pikiran dan akhirnya mengalami hal-hal diluar nalar, muncul tahapan rasa sayang begitu meluap dalam diri saya untuk orang-orang dan semua mahkluk di muka bumi ini.

 

Mendekati bulan Imlek, saya menyadari kakak-kakak saya masih hidup dalam kemiskinan. Saya juga menyadari, bertapa alpanya saya dengan kehidupan ibu dan kakak-kakak saya sepanjang hidup ini. Penyesalan terdalam saya adalah tak bisa memberikan apa-apa lagi pada ibu saya karena beliau sudah tiada.

 

Jadi biasanya menjelang Imlek beberapa tahun ini, betapa kekurangan pun saya di Jakarta, saya selalu mengirim baju baru dan ampau untuk kakak-kakak dan ponakan saya di Jambi. Perhatian ini perlahan menjadi pengikat dalam persaudaraan kami.

 

Saya sudah lupa telepon kakak saya yang menanyakan alamat, ketika pagi ini, saat sedang membuka konter di Mangga Dua Square datang petugas TIKI membawa bungkusan seukuran galon cat 5 kg. “Ini tempat Pak Harpin yah?”

 

“Oh, ada paket? Dari Jambi?” kataku, oh pasti buah rambutannya kiriman Aheng sudah tiba.

 

Dewi, pacarku kemudian sibuk membuka paket itu yang beratnya 2 kg termasuk embernya.

 

“Ongkos kirimnya berapa yah, Sayang?”

 

“Mungkin 30 sampai 70 ribu. Dihitung dengan tips buat kurirnya tadi 10 ribu, total delapan puluh ribulah.”

 

“Belum termasuk ngepak dan membawa ke ekspedisi, yah?”

 

“Hehe.”

 

“Jangan dilihat dari jumlah rupiahnya yah, tapi niatnya untuk memberi.”

 

“Iyah, mungkin kita bisa mendapat rambutan dengan mudah dan murah di sini. Di sisi lain, kakak saya ingin berterimakasih.

 

Saat ini kebahagiaan mereka adalah menikmati rambutan yang berbuah di sekitar rumah. Dan, dia ingin membagi kehabagiaan itu ke kita. Jadi, inilah caranya berterimakasih. Memaketkan ke kita, meski terasa aneh karena mahal di ongkos.

 

Untung kemarin aku tak menolak kiriman dengan alasan, di Jakarta banyak kok, murah-murah lagi. Kalau itu aku lakukan, kita sudah mencampakkan sebuah kebahagiaan yang ingin ia bagikan.”

 

Segera setelah menerima paket, saya telepon Aheng kakak saya mengucapkan terimakasih buah rambutannya sudah sampai.

 

“Cuman dikit, gak bisa kasih banyak, buat cicip aja,” kata kakakku tertawa bahagia.

“Kamsia-kamsia, makasih” kataku menutup telepon membayangkan kebanggaan seorang kakak yang sudah mengirimkan paket rambutan ke adiknya.

 

“Rambutannya enak, berbeda dengan rambutan yang biasa kita beli” kata Dewi sibuk melahap rambutan dan menfotonya dengan BB untuk diunggah ke Facebook.

 

Aku ikut melahapnya. Penampilan rambutan itu memang berbeda dengan rambutan yang biasa kami beli, terasa lebih kokoh.

 

“Rambutan organic” kataku pada Dewi, karena memang pohon rambutan di sekitar rumah di Jambi, tumbuh alami tanpa dipupuk, jadi rasanya lebih asli dan asri.

 

Selain itu, rasa enak dan berbeda itu mungkin muncul dari kasih sayang seorang kakak pada adiknya, saat menyiapkan kiriman itu. Yah, kasih sayang dalam semangkok rambutan.

 

Bibit kasih sayang itu ada pada semua orang, pada semua mahkluk. Seringkali ia masih tertutup debu. Harus ada pionir untuk membersihkan debunya, agar ia bercahaya dan mampu menerangi sekitar untuk ikut bercahaya. Maukah Anda menjadi bagian dari pionir itu?

 

Menyayangi kalian semua, selalu, selamanya.

 

Mangga Dua Square Jakarta, 22 Feb 12

Harpin R

The Last Moment at Myanmar (1)

The Last Moment at Myanmar (1)

Still Mind, 50cm X 70cm, oil on canvas
HAPPY VAISAKA DAYS, MAY ALL BEING BE ENLIGHTENING AS LORD BUDDHA

Bagi kami yang berlatih Vipassana, terlebih metode Mahasi di Panditarama Forest Center, rasa sakit, jenuh, adalah makanan sehari-hari yang harus dilalui di awal-awal latihan.

Bayangkan, dari jam 3 pagi sudah harus di aula utama untuk meditasi. Diselingi break makan pagi dan siang, mandi sore, praktis hari-hari kami hanya meditasi dan meditasi.

Semua, tahap demi tahap bisa aku lalui hingga aku menikmatinya, terlebih oleh pengalaman di luar nalar yang aku alami, yang mana semua harus diakhiri oleh kekacauan ciptaanku sendiri.

Kekacauan yang kulalui mencapai klimaks, saat di suatu pagi, meditasi jalan di bawah terik matahari pagi, sengatan2 elektro dari cahaya matahari ‘membersihkan’ partikel2 di ubun-ubun kepalaku.

Amazingly thats i cannot believe, meski aku pernah punya ilmu kuda lumping, mengalami mimpi buto muncul dari dinding kamar aku 2 kali (pertama di ekayana-Jakarta, kedua di Tushita Meditation Center-Dharamasala,India), saat aku bangun ada cahaya sebesar sinar senter bergerak di kamar aku, lalu hilang. Tapi pagi ini yang aku alami benar-benar membuatku takjub tak bisa berkata-kata.

Setelah ubun2ku bersih, di jidatku muncul vision. Vision ini berbeda dengan vision ketika duduk meditasi mendalam. Vision saat duduk meditasi mendalam sifatnya samar-samar, seperti mimpi. Atau bahasanya ‘seperti’ melihat Kwam Im. ‘Seperti’ melihat Buddha, yang sifatnya seolah-olah… samar-samar seperti mimpi, begitu kita sadar gambar itu tak ada lagi.

Seperti juga di awal-awal saya tertarik meditasi dan sering berada di ruang meditasi Ekayana. Suatu kali saat mau meditasi di ruang itu aku terkaget-kaget. Ada rupang 1000 Armed Chenrezig/Kwam Im berwarna coklat Tibetan style di ruangan itu yang biasanya hanya terdapat rupang Buddha putih zen style. Sempat tak percaya dengan apa yang ada di hadapanku aku mendekati rupang Chenrezig itu, meraba dan memastikan its real?

Bukan apa-apa, waktu meditasi kemarin aku ‘seolah-olah’ melihat rupang Avalokitesvara itu, persis, plek. Kehadiran rupang ini mempertegas bentuk dan gambar yang ‘seolah-olah’ aku lihat dalam meditasi kemarin.

Saat aku ceritakan ke guruku terkasih Bhante Dharmavimala, menurut beliau, ruang meditasi ini memang spesial. Di Ekayana yang awalnya dimulai hanya dari beberapa ruko, sudah menjadi rahasia umum, ruangan-ruangan yang ada bersifat multifungsi dan banyak dijebol untuk mencari konfigurasi terbaik. Hanya ruang meditasi di sebelah kantor Bhante Aryamaitri saja dari awal dibangun tak pernah dimanfaatkan untuk ruangan apapun selain ruang meditasi.

Di ruangan ini pulalah, air mata dan seduh sedan saya pernah bersahutan saat vision my mom and his suffering live muncul di meditasiku.

But, sekedar info, kemarin setelah `3 tahun tak muncul, aku tiba-tiba mampir ke sana. Tebak yang kulihat? Ruangan ini akhirnya jebol juga menjadi kantor, hanya altarnya tetap di posisi dan tak diganggu-gugat. Yah, everything is impermanen, anicca.

Menurut Bhante Vimala, ruangan meditasi dipindahkan ke atas, ke lantai empat.

Kembali ke vision terbaru ini. Kali ini bukan vision ‘seolah-olah’ seperti pernah aku alami. But this vision is very real, seolah-olah jidatku menjadi proyektor film 3 dimensi seperti di Keong Emas Taman Mini Indonesia Indah.

Lazimnya vision meditasi yang aku alami bersifat ‘seolah-olah’ saat kita ‘terjaga’ vision itu hilang, sehingga tetap menjadi vision ‘seolah-olah’ melihat ini dan itu.

Nah, vision yang ini seperti tercetak di jidat. Begitu kita mengarahkan pandangan ke tempat yang pencahayaannya kuat, lampu atau matahari, vision yang terlihat di kening kita semakin kuat dan jelas. Jadi di saat mata kita melihat orang dan sebagainya di depan kita, di jidat kita juga sedang berlangsung pemutaran gambar 3 dimensi full color. Seperti tengah menonton film saja.

Benar, seperti menyetel film 3 dimensi. Karena bila konsentrasi kita lepas dari fim 3 dimensi itu ke arah lain,misalnya berbicara dengan rekan dan sebagainya, gambaran itu hilang. Begitu kita melihat apa yang ada dalam jidat lagi, gambaran itu muncul, reply dari awal.

Vision apa yang aku lihat?

Ada sebuah ruangan emas. Di dalamnya sebuah rupang emas duduk di singasana emas dengan bantalan merah. Arca emas dan singasananya terus berputar perlahan seperti kita sedang bekerja dengan program desain 3 dimensi. Aku mengamati Arca itu, bukan Buddha, tapi seperti Tibetan Deity. Belakangan, jauh setelah peristiwa itu saat aku mencari jawaban di internet, aku mendapat gambaran sepertinya  arca itu gambaran Guru Rimpoche/ Padmasambava.

Selanjutnya ada perpohonan dan air mancur yang sangat indah. Lalu di langit ada kuda terbang yang ada orang menungganginya terbang di awan-awan.

Darimana gambaran itu muncul? Kalau dibilang imajinasi saya, rasanya saya tak pernah mengkhayalkan kuda terbang. Padmasambava apalagi, Selama ini yang saya mengerti cuma Buddha dan Kwam Im.

Selain vision itu, di saat bersamaan terdapat sengatan elektrik yang bekerja dari ubun-ubun ke titik-titik konsentrasi yang dominan di tubuhku. Beberapa partikel kecil dalam tubuh aku yang beberapa hari ini bisa aku rasakan pergerakannya, bberhamburan ‘menyelamatkan’ diri saat sengatan elektrik ini muncul. karena sumber elektrik ini dari atas kepala, partikel-partikel kecil ini lari ke bawah. Ada yang keluar lewat mulut menjadi seperti sendawa, lewat lubang pantat menjadi kentut dan banyak yang lari keluar melalui ujung kaki.

Yang tak berhasil melarikan diri terkenal sengatan elektrik ini tertarik ke atas keluar dari ubun-ubun, lalu aku bisa merasakan pecikannya yang jatuh ke wajah aku seperti ketombe, bergerak, menimbulkan rasa gatal lalu lenyap tak bebekas.

Setelah munculnya sengatan ini, sangat mudah bagiku masuk dalam meditasi mendalam. Mungkin inilah sebabnya, U Tamanakyaw Sayadaw, guruku terkasih terakhir kali interviu sempat 2 kali bertanya ‘apa yang kamu lihat?’, waktu aku bilang tak lihat apa-apa, dia bilang mungkin belum bersih. Lalu beliau tanya aku duduk meditasi berapa jam? Aku jawab bisa 3 jam. Beliau mengingatkanku untuk duduk 1 satu jam dan jalan 1 jam, ganti-ganti, tak boleh duduk lama-lama.

Aku merasakan sengatan elektrik itu terus bekerja ‘membersihkan’ tubuhku inci percinci pada setiap sel darahku. Aku menyebutnya ‘membersihkan’ karena ia bersifat seperti vacum cleaner, menyedot habis sumbatan-sumbatan dalam sel darahku lalu membuangnya melalui ubun-ubun.

Celakanya, dalam kondisi ini aku tak memiliki tempat berbagi atau bertanya. Jadwal interviu dengan sayadaw 2 hari lagi. Aku lost kontrol terbawa pada kenikmatan sekaligus kecemasan apa yang aku alami.

Setelah break makan siang, aku duduk meditasi dengan sangat nyaman dan atusias, akhirnya… aku bisa mencapai arahat juga dalam kehidupan ini kataku dalam hati. Secara perlahan tapi pasti peristiwa luar biasa ini menghilangkan kewasapadaan dan kesadaranku. Sambil duduk meditasi aku terus mengawasi getaran dominan dan sengatan-sengatan elektrik itu. ‘Pembersihan’ dalam tubuh kasarku sedang berlangsung, kataku dalam hati. Saat itu aku seperti merasakan ada sekumpulan partikel yang berusaha mencenkram habis tulang belakang di pundakku. Aku berusaha konsentrasi mengarakan sengatan elektrik itu membersihkan partikel-partikel itu. Mungkin inilah cenkraman setan-setan kebodohan yang telah berlangsung sekian abad yang membuatku terlahir dan terus terlahir lagi, kataku dalam hati. Aku tenggelam dalam perang di dalam tubuhku ini dan takut melepaskan sedikit saja konsentrasiku, aku takut terjadi sesuatu tak diinginkan apabila aku lepas konsentrasi.

Bahkan hingga tiba saatnya U Panditarama memberikan Dharma Desana aku tak rela bangun dari meditasiku.

Biasanya, sebelum U Panditarama tiba, biku pengawas mengingatkan kami merapikan jubah kami. Melihat aku terus saja bermeditasi ia berusaha membangunkanku, ‘bangun-bangun Sayadaw sebentar lagi tiba,’ katanya. Tapi aku bergeming. Sekian lama melihat aku tak juga bergerak, dia mendorong tubuhku, dan aku merelakan diriku jatuh oleh dorongannya tanpa merubah posisi meditasiku.

Suasana tentu heboh. Aku segera dibopong ke kuti di dekat meditation hall. Di sana mereka mengira aku kesurupan. Aku dibacain doa, disembur dengan air, dan terakhir matanya dimasukkan cairan-cairan dan daun-daun pedas agar sadar dan bangun dari meditasiku.

Haha, usaha mereka tak membuahkan hasil. Aku mindfull pada tubuhku. Begitu cairan pedas itu menyentuh mataku, ia menjadi objec dominan. Aku cukup mengamati saja, begitu aku mengamati getaran dominan di mataku, getaran elektrik itu mencabut habis gerakan-gerakan dominan di situ, hasilnya ajaib..mataku tidak perih sama-sekali.

Berulang kali mereka melakukan hal itu tanpa hasil, hingga tiba utusan yang merupakan penerjemah U Tamana Kyaw Sayadaw. Kata Ibu itu, sayadaw bilang kesadaranku kuat, jadi biarkan saja aku tak mungkin kerasukan. Aku diberi waktu libur 2 minggu untuk tak mengikuti meditasi. Aku boleh jalan-jalan dan sebagainya. Aku juga diberi seorang dayaka. Untuk makan, aku tak perlu ke dining hall, akan diantar dayaka.

Di Forest Center sekelas Panditarama, ini kemewahan luar biasa bagi biku baru seperti aku. Selain itu, mungkin untuk jaga-jaga cuci dosa, ibu itu mengatakan aku sebelumnya habis dari India dan mempraktekan metode lain, selain itu bahasa inggrisku buruk, jadi mungkin terjadi salah komunikasi, untuk itu ia minta seorang yogi dari Indonesia mendampingi aku.

Harapanku satu-satunya agar bisa bertemu U Tamana Kyaw tak terpenuhi. Seandainya beliau sendiri yang datang dan memintaku bangun, mungkin akan aku lakukan. aku begini lebih karena tak berani melepas konsendtrasi dari sengatan itu dan tak memiliki tempat bertanya.

Sengatan itu begitu hebat menyedot habis sensasi dalam tubuhku, termasuk rasa sakit. Jadi tak heran, hari itu aku meditasi dari jam 2 siang sampai jam 19.30 malam tanpa merubah posisi. Itupun setelah aku diangkut dan dimasukkan dalam truk dalam posisi meditasi ke kutiku, dan mereka mengancam, kalau aku belum mau bangun juga akan disiramin air. Yah, udah ngalah ajalah, aku yang dipaksa tidur di ranjangku akhirnya membuka mata dan merebahkan diri. Gila cing, tubuh aku rasanya ringan dan rileks banget, just like a baby. Lebih terkejut lagi saat aku tanya jam berapa? Mereka bilang sudah 19.30. Ha? Aku kira masih sore!?

Malam itu aku tidur ditemani seorang dayaka. Aku kasihan melihat dia menggelar tikar di depan kuti, aku memintanya masuk tidur di kutiku, dia tak berani.

Keesokan harinya aku tetap bangun pagi dan meditasi. Anehnya, sekujur persendianku rasanya memiliki per. Terutama pada lutut dan siku tanganku. Perubahan fisik juga mulai terasa, jari-jariku menjadi lurus-lurus dan bahkan jempol jariku anehnya bisa melengkung ke atas.

Diluar itu, kini seorang yogi dari Indonesia menemaniku. Mungkin karena satu negara, apalagi beliau juga kenal Pak Handaka sebagai penyokong saya di Myanmar, aku merasa mendapat teman curhat. Dia tampak bersikap baik, tapi juga memberi masukan yang menciutkan nyaliku. Dia mengatakan aku tak boleh merepotkan orang, sampai harus diangkut dengan mobil ke kuti, disediakan dayaka, makan diantar segala. Kalimat-kalimatnya ini membuat aku merasa sangat bersalah, takut dan sebagainya.

Sorenya dia mengajak aku jalan-jalan. Saat melewati sebuah pohon di depan front office, aku bisa merasakan udara yang bergerak aktif masuk ke telingaku. Buzz!  Masuk ke dalam perutku, buzz! Lalu keluar lagi lewat kuping, buzz!

Malangnya aku tak bisa menceritakan ini pada siapa-siapa. aku merasakan tubuhku penuh angin, yang keluar masuk seenaknya. Aku rasanya hampir tak bisa bernafas karena tekanan angin-angin ini dan ketakutanku yang kian menjadi.

Aku coba mengatakan pada yogi itu, kalau pintu sudah terbuka dan aku tak bisa mengendalikannya, angin-angin ini bebas keluar masuk tubuhku seenaknya. Tanpa aku sadari, sepertinya yogi ini makin memandang minor pada diriku. Padahal aku mempercayainya dan menganggap dia sahabat dan saudaraku satu-satunya saat itu. Malamnya, karena ketakutanku aku memilih menginap di kuti yogi itu. Dalam kondisiku yang labil, aku memang berpikir dia sebaik Pak Handaka untuk menjaga aku.

Tapi harapanku sepertinya menjadi bumerang. Keesokannya, mungkin gara-gara menginap di kutinya, dan mungkin juga dari laporannya tentang ucapanku yang aneh-aneh, aku dipanggil oleh Sayadaw. Informasi ini tentu aku dapat dari yogi itu. Bahwa aku tak boleh lagi tinggal di situ. Dia akan mengantar aku ke Yangon. Nanti kalau ketemu Sayadaw kamu jangan bicara…. mereka tak mau bicara lagi dengan kamu tentang meditasi, katanya. Dari sikapnya aku menyadari, kepercayaanku padanya ternyata salah.

Saat ini, tiba-tiba dialah juru bicaraku, di sisi lain sebagai juru bicara dia memandang negatif pada aku. jadi saat ketemu Sayadaw aku menjadi terpidana. Aku malu dan takut, saat aku mencoba berbicara langsung menggunakan Bahasa Inggris dengan Sayadaw, dia mengatakan kamu mau ngomong apa biar aku yang omongin. Dan hebatnya, dia bertanya pada Sayadaw, “sebelum dibawah ke Yangon apakah dia perlu dilepasjubahkan dulu?”

Aku terkaget-kaget mendengarnya. Aku mempercayainya, tapi dia menganggap aku tak waras, ini mengiris-iris hatiku, tapi sebagai terpidana yang sudah menghebohkan Panditarama Forest Center, aku tak bisa berbuat apa-apa.

“Tidak usah” kata sayadaw. Dia masih memiliki guru di Indonesia. “Emang dia mau dibawa kemana?” tanya Sayadaw.

“Ke Yangon.”

“Terus kemana?”

“Di Yangon ada keluarganya, mereka yang akan mengurusnya” mungkin maksud dia keluarga Pak Handaka.

“Terus?”

“Nanti dari sana dia akan dibawa ke Indonesia.”

Aku menangkap, sepertinya U Tamana Kyaw ingin tahu atau mungkin memberi saran sebaiknya aku dibawa ke mana. Tapi sebagai biku yang baik layaknya guruku di Indonesia, aku tahu biasanya mereka tak akan memberi pendapat kalau tak diminta. Tapi sekali lagi aku hanyalah seorang terpidana yang tak memiliki hak suara.

Keesokan paginya, dengan menumpang mobil center bersama pegawai yang mau belanja keperluan dapur kami ke Yangon. Sepanjang jalan mereka menatap aku senyum-senyum penuh arti. Aku sendiri harus mempertahankan kesadaranku, entah mengapa, berada di dalam mobil membuatku puyeng dan mual. ah, malangnya nasibku, begitu sudah jadi arahat langsung dicap sebagai orang gila, nasib-nasib, pikirku dalam hati, hehe.

Saat sudah di Panditarama Center di Yangon inilah, saya berpikir harus melawan tekanan pikiran mereka bahwa saya gila. Caranya? Saya harusbisa melakukan semuanya sendiri, mencari jawaban apakah trek meditasi saya benar. Dan saya juga masih normal, tak usah dikawal seperti orang yang tak ingat jalan pulang.

Pertama-tama yang aku lakukan adalah menelepon Pak Handaka mengabarkan keadaanku, aku yang dianggap gila dan aku merasa tidak gila, dan niatku mencari solusi sendiri. Sepertinya Pak Handaka awalnya juga ragu, maklumlah kan banyak orang gila karena belajar meditasi tapi merasa tidak gila. Tapi untunglah Pak Handaka memberi kesempatan mempercayaiku untuk menunjukkan aku masih waras.

Jadi, yang pertama-tama aku lakukan ke pasar membeli silet cukur untuk didanakan pada guruku U Tamana Kyaw sebagai tanda terima kasih sudah membimbing aku, kemudian mencari taksi menuju Panditarama Forest Center.

Sesampainya di Forest Center, Ibu di front office yang menertawai aku waktu menuju Yangon di mobil terkaget-kaget melihat aku. “Aku tak seperti kalian kira, kataku. Apakah aku bisa bertemu Sayadaw untuk memberikan dana?” tanyaku.

“Ada di kutinya,” katanya.

Saat membuka pintu, Sayadaw yang habis cuci muka terkejut melihat kemunculanku, ‘ada apa?’ tanyanya.

‘Aku tidak apa-apa,’ kataku, “apa yang ku alami, semua cuman angin.”

Mendengar kalimatku dia tersenyum senang.

Tapi saat aku bertanya tentang vision yang aku lihat, tiba-tiba beliau menutup diri dari pembicaraan lebih lanjut. Dengan kata lain, misiku buyar. Terlebih saat aku bertanya apakah aku boleh tinggal lagi di situ, beliau mengatakan tidak, luluh lantaklah hati ini. Segera aku memberikan dana berupa pisau cukur padanya dengan hormat lalu pamit.

“Kamu mau pergi kemana?” tanyanya sebelum aku berbalik.

Aku kembali melakukan kesalahan, seharusnya aku meminta pertimbangan beliau, tapi karena terlanjur kecewa aku cuma menjawab, “karena tak diperbolehkan di center ini, saya akan mencari center lain,” dengan bahasa lain, yah udah kalau gak boleh di sini aku juga bisa mencari tempat lain.

Aku terus berlalu, segera naik taksi yang masih menunggu aku untuk menuju Panditara Center di Yangon.

Setiba di Center di Yangon aku cepat berbenah. Keesokan harinya sesuai perjanjian sopir Pak Handaka menjemput aku ke rumah Pak Handaka.

Mula-mula Pak Handaka hati-hati juga, tapi melalui serangkai dialog, sepertinya dia tahu aku masih waras, hehe.

Selang dua hari kemudian diantar sopir Pak Handaka aku ke Shwe Oi Min Center untuk kedua kalinya. aku berpikir, karena Pandita Center telah menutup pintu, mungkin aku bisa mencari jawaban di Shwe Oi Min. Kan Shwe Oi Min dulu juga guru di Mahasi Center.

Aku mengatakan pada U Tejaniya, selama di Panditarama mungkin juga pikiranku sempat ‘terganggu’. U Tejaniya mengatakan, bagus. Meditator kalau terganggu tapi menyadarinya bisa sembuh. Yang susah kalau terganggu tapi tidak merasa, katanya.

Cuman, ketika interviu rame-rame saat aku menanyakan vision yang aku lihat, tampaknya U Tejaniya blank, kamu melamun kali, katanya.

Yup, kayaknya memang bukan di sini jawabannya kataku dalam hati. Aku sangat yakin itu bukan khayalanku. Tamana Kyaw sendiri berulang kali bertanya apa yang aku lihat, sebelum aku melihat apa-apa. Tapi begitu aku sudah melilhat lalu terjadi peristiwa heboh itu, beliau menutup semua pembicaraan dengan saya berhubungan dengan meditasi.

Karena merasa tak akan menemukan jawaban di Shwe Oi Min center, seminggu kemudian aku kembali ke rumah Pak Handaka. Pak Handaka sempat mengusulkan aku ke Pak Au Sayadaw. Tapi aku pikir sedang belajar metode Mahasi dan ada di tengah jalan, sebaiknya aku mencari jawaban dari center metode Mahasi dulu. Untuk itu, aku harus ke Chammy Sayadaw.

Lalu aku berangkat sendiri ke Chammy Center.

Di sana aku minta bertemu guru meditasi yang ada, aku diketemukan dengan U Keti (aku tak tahu spellnya benar tidak).

Aku menceritakan yang aku alami. Mikro organisme yang berlarian di tubuhku, sesuatu yang seperti vacum cleaner menyedot mikroorganisme yang berlarian, dan vision yang aku lihat. U Keti, guru meditasi yang tampak sangat muda itu mengatakan trek saya tak salah. Saat aku bertanya aku mencapai tahap apa? Beliau menjawab, biku tak boleh mengatakan seseorang mencapai kesucian tahap begini dan begini.

Aku bertanya boleh tidak aku melanjutkan meditasi di Chammy center? Boleh, katanya. Tapi, karena paspor aku over stay seminggu, dia mengantar aku ke biku yang biasa mengurus yogi dari Indonesia.

Ternyata aku tak berjodoh dengan Chammy center. Biku itu mengatakan tak bisa membantu. Kalau mau tinggal di Chammy center, saya harus mengajukan permohonan sebelum masuk Myanmar.

Meskipun U Keti sangat ingin membantu, tapi beliau tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa mengantarkan aku ke pintu gerbang. “Tidak apa-apa, saya memang tak berjodoh belajar di sini, saya harus segera kembali ke Indonesia” kataku.

Saat di Imigrasi, karena overstay aku didenda tanpa ampun sebesar..aku lupa mungkin sekitar 1,5 juta.

To be Continue….

Batavia, 1/5 2009  4:42am

Beautiful Vipassana

BEAUTIFUL VIPASSANA

Buddha

Sudah dari kecil aku jago berdebat. Boleh dibilang, kalau maunya begini… tak ada yang bisa merubah jadi begitu. Hebatnya, otak ini seperti sumber inspirasi yang tak pernah habis bagi saya merubah hitam jadi putih atau putih jadi hitam.

Jadi, sudah lama aku menyadari tak ada kebenaran absolut. Sesuatu menjadi benar bergantung suasana hati. Kalau saya menginginkannya benar, jadilah benar. Kalau saya menginginkan salah, jadilah salah. Kata-kata hanyalah permainan logika.

Puncak kesewenang-wenangan saya terjadi saat di kelas 3 SMU 9 Yogyakarta tahun 1992. Mungkin suasana kelas Sosial yang rata-rata cowok bandel dan kompak sebagai landasannya.

Aku mulai berani menggugat guru Sejarah Perjuangan Bangsa dengan frontal.

Sudah rahasia umum, di jaman Orde Baru, semua materi sejarah adalah indoktrinasasi cuci otak tentang sucinya Orde Baru dan hinanya Orde Lama. Dengan mudahnya buku sejarah menyalahkan Bung Karno atas politik Ganyam Malaysia, tetapi melupakan keberhasilannya merebut Irian Barat.

Di tengah semangat 45 guru itu menjelekkan Bung Karno dan Orde Lama di depan kelas, aku intruksi, “Pak, seandainya kita berhasil merebut Malaysia dan kini menjadi wilayah Indonesia… mungkin sekarang kita tak akan menyalahkan Bung Karno atas politik Ganyang Malaysianya. Ironinya, keberhasilan yang didapat dari merebut Irian Barat tak pernah dipuji. So, hanya kegagalannya yang dicerca.

Kata penutup saya pada guru sejarah:”Kalau Orde Baru hanya bisa terus menjelekkan Orde Lama, akan datang suatu Orde berikutnya yang akan menhina-dinakan Orde Baru,” kalimat pamungkas yang membuat muka guru sejarah itu merah padam dan terdiam seribu bahasa.

Kelas hening sejenak, yang kemudian disambut sorak-sorai kemenangan dari teman-teman sekelas.

Ada banyak event pembrontakkan yang membuat muka guru-guru saya memerah, yang terakhir adalah Study Tour.

Waktu itu kalau tak salah, biaya study tour ke Bali Rp.75.000,- Ada enam kelas, IPA satu kelas, BIOLOGI dua kelas, SOSIAL 2 kelas yang masing-masing kelas terdiri 50 an orang.

Kami berangkat ke Bali dengan model bus gado-gado, anak IPA yang merupakan anak emas mendapat bus ber-ac, yang lain saya tak tahu, sedang kami yang anak SOSIAL-1, yang paling bandel kebagian bus tak ber-ac meski bayarnya sama!

Studi Tour kami antara lain mengunjungi tempat pembuatan arak bali. Tempat wisata yang kami kunjungi beberapanya karena tibanya malam, sudah ditutup, jadi kami tidak masuk dalam arti tak ada pengeluaran di situ.

Sebenarnya dari tahun sebelumnya sudah ada isu sumir pengurus Studi Tour yang korupsi. Yang katanya, habis Studi Tour bisa beli ini dan itu di rumah.

Secara naluri saya menyadari ada yang tak beres, tapi saya juga menyadari tak ada logika membuktikan penyelewengan itu, hingga tiba study tour untuk adik kelas kami tahun berikutnya saat kami di kelas tiga yang diurus guru berbeda, yang ternyata berbiaya sama, Rp.75.000,- Padahal BBM baru naik.

Logikanya BBM adalah komponen terpenting. Kenaikan BBM pasti disusul kenaikan transportasi, hotel, dan konsumsi. Apalagi penyelenggara tahun ini melibatkan travel bonafit, seharusnya biayanya jauh lebih mahal.

Dari logika sederhana itu aku bergerak. Dengan mesin tik tua, aku mengetik logika-logika sederhana diatas, yang isinya diakhiri kalimat “Oh Guru, Ajarilah kami tentang kejujuran.”

Kertas itu aku fotocopy, dibaca teman-teman, lalu bersama teman-teman, dicenplungkan lewat jendelah ke kantor kepala sekolah. Tak hanya itu, esoknya aku membawa kertas hvs dan spidol merah-biru yang aku tulis kalimat-kalimat provokatif, lalu ditempel teman-teman di kantin dan sudut-sudut sekolah.

Kami memang bebas bergerak, karena kelasnya paling bandel, kompak tapi tidak bodoh, jadi kami seperti penguasa sekolah. Di tangga menuju kelas kami, di tempel kertas bertuliskan “Koruptor Dilarang Masuk!”

Entah karena aksi kami atau bukan, hari itu upacara bendera ditiadakan. Kertas-kertas yang kami tempel dicabut guru. Kami juga mendapat info, guru yang menjadi panitia Study Tour masuk kelas demi kelas mempertangungjawabkan laporan keuangan.

Menjelang istirahat kedua, tibalah dua orang guru yang menjadi panitia ke kelas kami. Dari raut wajah, aku bisa merasakan sikap yang sedikit ketar-ketir, ini kelas singa, Bung!

Guru itu menjelaskan pengeluaran untuk ini-itu.

Saat saya tanya bayarnya sama kok busnya beda-beda yah, Pak. Ada yang pake ac ada yang nggak. Guru itu memberi penjelasan yang tak ada kaitannya bahwa kami harus memaklumi, sopirnya sampai begadang karena ban bocor dan sebagainya.

Aku dengan angkuh dan berkata menghakimi: “Lho Pak, itu bukan urusan kita, harusnya kita sudah bayar kita harus mendapatkan apa yang kita bayar, kalau tak sesuai kan kita bisa minta dikembaliin uangnya. Lagian, tidak pantas studi tour ke tempat pembuatan arak untuk anak sekolah,” kataku. Kalimat terakhir ini kurang didukung teman-teman, soalnya itu salah satu kegemaran mereka,he-he.

Guru itu entah menjelaskan apa aku tak mengikuti, ngalor-ngidul tambah tak ada hubungannya. Teman di samping juga mencolek, katanya ada objek wisata yang tak dikunjungi tapi tercatat pengeluarannya. weleh weleh. Tapi ada teman lain lagi mencolek, “udah-udah kasihan gurunya.”

Begitulah hari-hari terakhir saya di bangku SMU. Garang dan melelahkan.

Dengan kondisi yang suka berseberangan dengan guru, apalagi tak pernah belajar dari kelas 1sampai kelas 3 SMU, aku heran bisa lulus!

Sifat pemarah dan garang ini masih aku bawa sampai di Jakarta. Meski tubuhku saat itu ceking tak bertenaga, soal gertak-gertakan dengan sopir mikrolet karena bayaran dianggap kurang, menjadi makanan sehari-hariku.

Atau dengan penjual buku di pasar senen yang suka memalak, atau sewaktu sudah punya motor dan menjadi wartawan.. apalagi kalau bukan dengan polisi yang suka mencari-cari kesalahan, prinsipnya sepanjang gue benar.. Fight!

Jadi sebenarnya heran juga, dengan segala kekonyolan ini, aku bisa hidup sampai hari ini.

Bahkan setelah saya sempat jadi samanera dan lepas jubah untuk bekerja di kantor lagi, sifat garang ini masih tetap ada. Prinsip saya sepanjang tak diganggu, saya tak akan mengganggu. Tapi kalau saya diganggu, siapa pun dia, hajar, apalagi kalau sekedar berdebat di meja rapat, kata dan logika hanyalah mainan usang saya.

Apakah keberanian dan kemenangan ini membuat aku bahagia?

Terus terang tidak. Terkadang dalam hatiku, aku tak menginginkan semua ini. Aku tak menghendaki mereka bersedih, tapi di sisi lain aku tak bisa mengorbankan diriku untuk kemenangan mereka. Aku tipe idialis yang ingin terlihat hebat.

Namun, beruntunglah meski agak terlambat, seiring pertumbuhan usia aku menyadari “Yang menang jadi arang, yang kalah jadi abu.”

Mengingat semua kelakuanku dulu, yang bersisa hanyalah penyesalan mendalam pada orang-orang yang pernah aku sakiti. Kini aku berterimakasih dan menyadari, mereka yang pernah menjadi guru saya pasti memiliki kesabaran luar biasa menghadapi murid seperti saya.

Insight Meditation, Meditasi di Myanmar banyak merubah saya.

Sebagai contoh, dulu saya tak pernah betah duduk di belakang meja. Kini, sudah tiga tahun lebih saya setiap hari berada di tempat dengan rutinitas yang sama dan saya merasa biasa saja.

Dulu, kalau pacaran, saya sering berantem karena cemburu, curiga, prasangka dan mau menang sendiri, kini dua tahun lebih pacaran adem ayem saja .

Yang paling penting, kini saya memiliki begitu banyak orang-orang baik di sekitar saya. Mungkin karena aku tak biasa menebar api kegarangan dan kemarahan lagi di sekitar saya.

Batavia 16 Maret 2009 (4:00 am)
Peace,
Harpin

sumber: http://harpin.wordpress.com

The CRAZY MIND (2)

The CRAZY MIND (2)

b_hist25

Pernolakan pada  makhluk mengaku Avalokitesvara berlanjut di kuti. Aku seperti bertempur dalam diri, seolah tubuhku  punya dua sopir. Aku, sopir resmi, dan makhluk mengaku Avalokitesvara sebagai sopir ‘tembak’ hehe.

Terjadi pertumbuhan  sel kontrol baru di luar ragaku. Susunan saraf abstrak terbentuk perlahan menempel dari bahu sampai jemari, fungsinya mengontrol tangan diluar kehendakku.

Makhluk itu mengajarkan tak usah makan nasi. Aku sudah hebat. Cukup konsentrasi membentuk bulatan di udara lalu menelannya. Makhluk itu juga suka main mudra di titik di tengah alis kedua mata, seperti tengah menunggu sesuatu.

Terus terang, ini membuat aku khawatir, apa yang ia tunggu? Whats next?

Dalam kondisi ini, pilihan kooperatif atau tidak jadi pertimbangan.

Beruntunglah, Buddha Dharma pegangan hidupku mengajarkan untuk menjadi tuan atas tubuh kita. Dengan pertimbangan itu, aku  tak mau dijadikan alat.

Pembrontakan ini tak mudah, terlebih makhluk itu melakukan perlawanan agar bisa memakai tubuhku.

Dalam kuti saat jam istirahat, aku berusaha ambil kontrol habis atas tubuhku. Berusaha semindful mungkin, bergerak super lambat berpegangaan pada lemari dan sebagainya, kesadaran penuh pada semua pori-pori tubuhku, terbongkok-bongkok melakukan kayanupasana, mindful atas tubuh ini.

Seorang diri dalam kuti aku benar-benar seperti sakit jiwa. Entah benar atau tidak, merasakan ada yang terus mengawasi aku, kalau-kalau aku lengah dan berusaha mengendarai lagi.

Meditasi Malam

Ketika meditasi malam, tiba-tiba aku merasakan makhluk sekecil debu terus menerus keluar dari tulang sayap bahu sebelah kiri. Merasakan hal ini aku ketakutan, lalu melakukan meditasi jalan.

Saat meditasi jalan pun, aku tetap merasakan gerakan-gerakan small things itu. Ketakutanku pada si Penempel belum usai, sekarang apalagi?

Dengan ketakutan amat sangat, aku mendekati kursi  Sayadaw U Panditarama biasa duduk berceramah, berharap miracle terjadi untuk melindungi diriku.

Dan, aku benar-benar mendapatkan keajaiban. Berdiri di samping kursi itu, small thinng lenyap. Menjauh dari kursi Sayadaw,  gerakan di bahu terasa lagi. Begitu aku mendekati kursi sayadaw, small thing itu lenyap lagi. Aneh?

Menyadari ini, aku bersujud ketakutan di samping kursi sayadaw. Aku merasakan gerakan-gerakan small thing itu hilang, sepertinya kesedot. Yah, kesedot ke atas?

Aku melihat ke atas, ternyata di atas kursi sayadaw biasa duduk  terdapat eksos, kipas angin menyedot udara dari dalam dan membuangnya keluar.

Jadi small thing hilang kesedot eksos?! Nice! Aku keasyikan meditasi duduk di dekat kursi sayadaw. Merasa terlindungi.

Pertempuran dalam Gelap Malam

Saat meditasi malam berakhir, aku kembali ke kuti. Tapi berakhirnya meditasi malam bukan berarti berakhirnya ketakutanku.

Bahkan ketakutan lebih besar telah menunggu. Karena menjelang tidur, aku merasakan bulatan yang terbentuk dari titik di tengah dua alis melompat bagai kelereng, mengenai jubah yang aku jadikan selimut.

Tapi saat itu aku belum tahu sumber bulatan itu darititik diantara dua alis mata. Aku berpikir bulatan yang melompat itu bersumber dari sesuatu di luar aku. Alien, hantu dan sebagainya.

Di tengah hutan, di tengah malam gelap dan sunyi, setelah pengalaman makhluk kecil berlarian keluar dari tulang sayap bahu, kini mendapati ada yang melompat mengenai jubah menjelang tidur, ketakutan ini makin jadi.

Celakanya, semakin takut aku, semakin liar imajinasi berkembang.

Saat itu, aku tak menyadari ini. Tiap imajinasi kegelapan datang, yang lahir dari ketakutanku, aku melawannya dengan menciptakan imajinasi suci sebagai perisai.

Celakanya, bermain dengan imajinasi, kita seperti bermain dengan sumber air samudra yang tak pernah kering. Selalu ada next dan next, sampai kita benar-benar kelelahan.

Oleh pikiran naib mengalami peristiwa sejenis dengan malam Pertapa Gautama menghadapi Mara, pikiran liar makin jadi, aku harus menaklukan Mara… agar jadi Buddha in this very moment.

Maka kian serulah pertempuran-pertempuran itu.

Oleh batin bening selama meditasi, tak sulit bagi kita melihat jelas melalui mata batin apa yang melintas di pikiran, layaknya melihat dengan mata biasa.

Tak aku sadari, penglihatan-penglihatan ini  bersumber dari pikiranku. Rumusnya  sederhana: Selama aku bertindak dan bertempur dengan dan berdasarkan pikiran, maka aku selalu dalam kekuasaan pikiran itu. Gak bakalan menang!

Setelah sekian lama, oleh ketakutan yang makin jadi, aku mengetuk kuti sebelah, yang baru dihuni pemeditasi baru tiba dari Jepang. Aku mengatakan ada hantu mau ganggu aku, aku minta ijin nebeng di kutinya.

Selesai menggelar matras dan tidur di lantai kuti sebelah, saat berbaring bulatan dan gerakan itu muncul, tapi kini aku lebih tenang, karena tak sendirian.

Satu hal yang membuat aku heran, ketika aku tertidur kecapean, bulatan-bulatan itu tak mengangguku. Aku baru merasaakannya lagi saat  terjaga….

Semua itu eksis hanya kala aku terjaga dan hilang saat aku tertidur… so semua bersumber dari diriku? Tanyaku dalam hati. That’s only in my mind?

Persis kisah Pangeran Sidharta mencapai Kebuddhaan menjelang fajar, kesadaran ini bagai setetes embun dini hari, luar biasa indahnya. Dengan kelegaan yang ada, selanjutnya aku tertidur.

Di sisi lain, merunut kisah Buddha Gotama yang sukses menaklukan Mara, aku berpikir telah mencapai Kebuddhaan, Arahanta… seperti pertapa Gotama. Pikiran yang tanpa aku sadari, merupakan jebakan baru dalam latihanku.

Tobe continue, hehe….

Batavia, 28 Februari 2009 (4:22am)

Harpin

The Crazy MIND

The Crazy MIND

(kelanjutan The Power of MIND)

avalokitesvara

Pada awalnya bentol-bentol alergi terhadap jamur, dan kadang muncul seenak udel tanpa sebab jelas itu, cukup mengganggu hidupku.

Tapi syukurlah, suatu ketika bentol-bentol itu muncul lalu aku bawa dalam meditasi, ajaib dan susah dipercaya, alergi yang hampir ‘membunuhku’ itu lenyap dalam 15 menit.

Jadi merupakan hal wajar berpegian dengan guruku terkasih, beliau suka melihatku duduk meditasi dalam kamar dengan jubah melilit menyelimuti tubuh dari ujung kepala sampai kaki saat alergi itu muncul.

Aku tak pernah minum obat mengatasi alergi ini, cukup dibawa meditasi anapanasati samata bhawana yang aku praktekkan saat itu, selesai.

Seolah kehilangan taringnya, tak lama setelah jadi samanera bentol-bentol ini lenyap dan tak pernah muncul lagi sampai sekarang. Sedangkan alergi terhadap jamur itu ikut menghilang.

Selanjutnya, tahun 2004 aku berkunjung ke Myanmar untuk kedua kali.

Setelah mengikuti Fourth World Buddhist Summit, aku melanjutkan perjalanan ke Panditarama Forest Monastry.

Semula sempat bingung, nanti bagaimana? Karena aku merasa sudah ‘pinter’, sudah bisa mengamati gerak pikiran (baca ‘Kembali ke MYANMAR’)

Jadi sikap dan gerak-gerik saya sesuai intruksi di Shwe Oo Min center just rileks, santai saja. Berjalan tak terlalu lambat, yang penting menyadari gerak-gerik pikiran.

Saat di ruang makan pun aku bergerak santai. Bahkan dalam hati aku meremehkan mereka yang focus dan serius, aku bertindak sebaliknya, menunjukkan senyum dan keramahanku.

Barulah saat interviue dengan guruku terkasih U Tamana Kyaw Sayadaw keesokan pagi, aku menyadari telah diamati sejak kemarin.

“Kalau tak salah, kamu yogi yang dulu ditabis di sini, bukan?”

“Betul, Bhante,” kataku beranjali menunduk.

“Waktu itu kamu ke India?” tanyanya yang diterjemahkan seorang ibu dokter penerjemah.

“Betul, Bhante.”

“Di India kamu kemana saja?”

“Saya ziarah, Bhante. Ke tempat-tempat suci Agama Buddha.”

“Oo…’ katanya senang. Kemudian beliau melanjutkan ‘setahu saya, dulu kamu yogi yang serius dan bagus. Saya harap kamu mempertahankan sikap yang dulu, kalau tidak, kamu tak akan mendapat kemajuan di sini.”

Deg, tiba-tiba aku menyadari, sikap yang memang tak seserius dulu. Dalam hal berjalan, aku selalu mendahului yogi-yogi lain yang bergerak seperti keong. Lambattt banget.

“Yah, Bhante,” kataku menunduk kian dalam. Malu bercampur takut.

“Masih ada yang ingin dilaporkan?”

“Tidak, Bhante.”

Ia berkata sesuatu pada penerjemahnya, lalu penerjemahnya mengatakan, “now you can go.”

Aku namaskara tiga kali perlahan-lahan, lalu bergerak slow motion meninggalkan ruangan interview.

Sejak itu, aku kembali pada metode Mahasi di Panditarama Forest Monastry yang serius dan keras. Berjalan sangat lambat. Aku menjadi serius dan tak banyak mengumbar keramahan, terutama saat makan. Benar-benar kembali hidup di dunia sendiri.

Hari terus berjalan, hingga suatu pagi saat bangun dan mandi jam 3 pagi, aku merasa gerakanku sangat lambat dalam arti bukan aku yang mengontrolnya, tapi gerakan itu melambat dengan sendirinya. Rasanya enak juga, aku tak usah melambatkan gerakanku, tapi ia melambat sendiri, jadi tak butuh usaha lagi, hehe.

Saat interviu dengan Sayadaw, ia tertawa yang terdengar dari gelaknya.

Aku agak tenang, berarti gerak lambat sendiri ini bukan sebuah kesalahan.

U Tamana Kyaw Sayadaw, guruku terkasih kemudian bertanya, “apakah pusaran di ubun-ubun kamu sudah hilang?

Saya ragu.. berpikir sebentar, “sudah,” kataku.

“Apa yang kau lihat?” Tanya Sayadaw.

“Hm…tidak jelas,” kataku.

“Mungkin belum cukup bersih,” tambahnya, “dan kami melihat gerakkanmu juga belum cukup lambat,” tambahnya lagi sambil tersenyum.

Berdasarkan pengalaman interviuw, aku bisa tahu meditasiku di trek yang benar atau tidak dari nada suara Sayadaw. Bila nadanya lembut berarti baik, bila suaranya tegas berarti ada yang tak beres.

“Ada lagi yang ingin kau laporkan?”

“Hm..aku ragu, sepertinya aku memiliki kekuatan aneh,” kataku sejurus kemudian.

“Dalam vipassana tak ada keraguan, yang ada hanya kepastian,” kata sayadaw tegas.

“Saat meditasi, tanganku bergerak sendiri. Membentuk mudra-mudra, dan sepertinya itu memiliki kekuatan,” kataku.

“Dalam vipassana yang ada hanya kepastian. Disadari saja, itu akan berhenti.” kata sayadaw lagi dengan tegas.

Ups aku menyadari kekeliruanku. Semakin hari, dengan obyeb meditasi yang kian abstrak dan hal aneh yang aku alami (baca ‘Bagai Ular Melompat dari Jidat’), sepertinya aku makin tak tahu apa-apa dan muda melakukan kesalahan mendasar tanpa menyadarinya.

Di lain pihak, nasehat Sayadaw manjur sekali, begitu aku meletakkan kesadaran pada tangan yang akan bergerak sendiri, tangan itu tiba-tiba lemas dan tak berhasil bergerak diluar kesadaranku.

Tapi efek dan perkembangan lebih lanjut berjalan sangat cepat. Jadwal interview dua hari sekali tak memadai lagi dengan peristiwa-peristiwa aneh yang aku alami.

Namun, untuk bertemu sayadaw di luar jadwal adalah hil yang mustahal. Bagaimana kerasnya aku memohon, biku-biku pengawas di meditation hall tak memberiku kesempatan.

Mungkin juga mereka tak berani menyampaikan pada Sayadaw, jawaban mereka selalu akan disampaikan atau Sayadaw tak ada di tempat, Sayadaw sedang mengajar di tempat lain, Sayadaw sedang istirahat.

Celakanya, oleh pengalaman kian aneh diluar nalar dan tak ada sumber pemberi masukan sesuai kapasitas pengetahuannya inilah, hingga suatu malam di dalam kuti yang gelap, di dalam hutan yang sunyi, gerakan-gerakan abstak itu berhasil menjebol kesadaranku, membuat malam itu sebagai malam pertempuran batin yang panjang, menakutkan, dan melelahkan.

Menjelang fajar aku akhirnya menyadari, semalaman aku bertempur dengan imajinasi-imajinasi yang diciptakan pikiranku sendiri.

Tentang ‘pertempuran itu’ akan diceritakan di tulisan berikutnya.

Sunda Kelapa, 14 Februari 2009 (3.32 am)

Harpin

The Power of MIND

The Power of Mind

A Tribute for my MOM

Kuan Yin
Kuan Yin

Ini cerita sewaktu mama saya masih ada. Saat aku ajak ke Jakarta dan tinggal bersama aku, Mama memiliki keluhan penyakit kulit. Yakni kulitnya suka bentol-bentol kayak alergi.

Kalau saya tak salah, penyakit ini cukup lama Mama pikul. Saya tak tahu mulai kapan. Karena sejak umur 7 tahun, aku tak ikut mama. Melainkan tinggal dengan Tuako/Bibi—adik perempuan paling besar dari papa.

Kakak saya yang paling besar merantau sejak umur belasan. Sedangkan Papa meninggal saat saya bayi. Jadilah Mama hanya tinggal bertiga dengan kakak saya kedua (perempuan) dan kakak ke tiga (laki-laki) di pedalaman Jambi.

Karena ketidakcocokan dengan paman, dilain pihak prestasi belajar yang bagus, rutin juara kelas di SMPN 2 Jambi, menginjak kelas 3 SMP aku dikirim ke Yogya, ikut anak bibi. Maksud Bibi, supaya saya bisa sekolah sambil kerja di toko besi anaknya.

Semenjak di Yogyakarta, Praktis hubungan aku dengan Mama kian jauh. Kalau masih di Jambi, bila liburan aku bisa ke tempat Mama, kini tidak lagi. Praktis aku disibukkan sekolah dan membantu anak bibi yang workaholic, pekerja keras.

Pagi jam tujuh sekolah sampai jam 12.30. Jam 1 siang aku sudah di toko besi grosiran di Bringharjo sampai jam 6 sore. Malamnya, aku pulang ke rumah merangkap gudang di daerah Pingit.

Yang namanya gudang, apalagi anak bibi workaholik, seringkali kita masih bekerja sampai jam 2 pagi menyusun barang. Yang namanya barang besi tahu sendirilah, betapa beratnya peti-peti palu, cangkul, kunci-kunci, baut, kaleng cat dan sohib-sohibnya.

Yah, mungkin karena mental tak siap, juga punya bakat membandel, hehe, sebulan berselang aku cabut alias kabur dari tempat anak bibi. Aku mencari kos di belakang gudang anak bibi , yang masih aku ingat, cuma Rp.10 ribu per bulan.

Demikianlah, sejak itu hingga kini, kediaman resmiku tak jauh dari kamar kos berukuran dua kali tiga, termasuk waktu tinggal di kuti biku,hehe.

Selama tiga tahun, untuk bertahan hidup aku dikirimi kakak kedua yang buka warung kelontong di Jambi sebulan Rp.30 ribu. Rp.10 ribu buat bayar kos. Bayar uang sekolah di SMPN12 Yogyakarta Rp.1000 sebulan. Sisanya RP.19 ribu.

Sebagai gambaran, tahun 1986 makan di warung nasi pakai telor sepiring 250,- Sehari makan tiga kali jadinya RP.750. Dikalikan 30 hari sebulan hasilnya RP.22.500.

Kesimpulannya kiriman kakak saya tak cukup, ada defisit Rp.3.500, itupun untuk standar makan minimun belum termasuk kebutuhan tetek bengek lain.

Untuk mengatasinya, setelah konflik batin mendalam dengan muka badak menahan malu, aku yang berumur 16 tahun saat itu, minta kerjaan lagi pada anak bibi saya. Masuknya sepulang sekolah, tak iku kerja di gudang malam hari, kata aku.

Beliau setuju. Seminggunya aku dikasih Rp.5000,- lumayanlah, hehe, buat nutup defisit.

Karena kondisi ini harap maklum, nantinya sekolah aku kacau beliau. Meski sukses lulus SMPN 12 dan diterima di SMUK de Britto yang muridnya laki-laki semua, tapi inilah awal kekacauan hidup dan kepribadian aku, sampai harus menamatkan SMU selama 6 tahun, 2 tahun di de Britto 4 tahun di SMUN 9, weleh weleh weleh.

Tapi aku ikut anak bibi aku hanya 3 tahun. Aku dikirimin uang juga hanya 3 tahun itu.

Tahun-tahun berikutnya, sambil sekolah aku memiliki dua usaha taman bacaan kakilima di depan Rumah Sakit Panti Rapih dan tiga pegawai yang adalah teman-teman sekolah saya.

Kembali pada cerita tentang Mama saya.

Sudah pasti, karena tak tumbuh bersama Mama, aku tak memiliki hubungan emosional dengan Mama. Perasaan memiliki tak ada. Oleh kenaipan dan pemikiran usia puber, mungkin juga karena rusak dimanja waktu balita, aku justru menyalahkan Mama atas kondisi aku.

Sehingga, saya terlalu masa bodoh atas kondisi Mama di daerah. Hanya sekali-kali aku pulang ke daerah dengan gaya backpacker. Di saat itulah, aku sering melihat Mama mengoles tubuhnya dengan arak, karena tubuhnya bentol-bentol alergi.

“Kenapa, Ma?”

“Gatel, ga tau kenapa, nggak sembuh-sembuh” kata Mama.

“Oh…” kata aku dengan mulut bulat tanpa dilandasi semangat berbakti dan jiwa bhodisattva, mencari solusi untuk Mama. Seolah that’s not my problem, that’s outside of me.

Hari terus berjalan. Aku sudah menjadi wartawan majalah remaja kesohor di Jakarta. Aku memiliki pacar, mencintai pacar saya lebih dari segalanya. Bahkan, Mama tak ada apa-apanya dibandingkan kekasih hatiku.

Kakak perempuan saya bilang, pulang ke Jambi seminggu aku telah sibuk menulis surat ke pacar di Jakarta. Sementara puluhan tahun di rantau, surat yang aku kirim pulang bisa dihitung dengan jari (waktu itu belum ada hp).

Seiring waktu berjalan, mungkin karena pemahaman Buddha Dharma yang lebih baik, aku mulai melihat ada yang salah dalam hubunganku dengan Mama. Terutama saat membaca buku Sutrabakti Seorang Anak, dan mengetahui keniscayaan membalas budi ibu, lulu lantaklah hati ini.

Apalagi ketika aku sudah rutin meditasi di ruang meditasi Ekayana, yang pertamanya untuk memakai ruang itu harus kucing-kucingan dengan Awi yang front officer, karena masih orang baru di Ekayana.

Terkadang saat sedang meditasi seorang diri, bayangan Mama suka melintas. Terbayang akan kesulitan yang beliau pikul saat melahirkan kami berempat, saat ia harus membesarkan kami yang masih kecil tanpa suami, saat ia harus kucing-kucingan menjual nomor buntut, saat ia harus menjadi pencuci baju, saat ia harus berjalan berkilo-kilo meter menagih utang kode buntut yang itupun suka tak dibayar, atau saat ia harus menggelar dagangan kaki lima di depan sekolah.

Belum lagi disertai cercaan dari orang-orang yang bisanya hanya mencerca. Aku tahu Mama tak memiliki tempat mengadu. Papa telah tiada sejak aku bayi. Mungkin Mama hanya bisa mengadu pada sepi, atau menangis di depan altar Kuan Im saat sembahyang di Vihara Sakyakirti Jambi.

Membayangkan wajah mama di foto yang mudanya sangat cantik, yang kini telah tua, bongkok dan beruban diiris waktu dan penderitaan, air mata ini mengalir deras dari kedua pelupuk mata saya. Aku bisa menanggis terisak-isak dalam remang ruangan meditasi di depan altar Guru Buddha.

Berangkat dari situlah, dan dari contoh seorang teman yang sangat berbakti pada mamanya, aku mulai memperbaiki hubungan dengan Mama. Aku coba memeluk dia, aku coba mencium dia, sesuatu yang sangat asing dalam hidup aku, karena tumbuh sendiri di alam bebas. Mula-mula semua berjalan aneh. Namun seiring waktu, kekakuan yang ada mencair satu persatu.

Perlahan tapi pasti, hubungan dengan Mama kian dekat, yang bahkan Bhante Aryamaitri terkasih pernah bercerita, sangat tersentuh akan kedekatan aku dan Mama, saat aku membawanya ikut kebaktian Minggu sore di Vihara Ekayana.

Aku membonceng Mama dengan motor dari kontrakan, menuntun Mama yang beruban dan agak bongkok masuk vihara, lalu mengajarkannya tata cara kebaktian dan melafahkan nama Buddha dengan metode paling sederhana, yang mana tetap Mama lakukan tiap pagi sampai akhir hayatnya.

Tentang bentol-bentol yang ada di tubuh Mama pun, mulai menjadi masalah aku. Semenjak membawanya ke Jakarta, aku mencarikan obat untuknya.

Oleh cerita Mama yang telah memakai banyak obat di Jambi dan tak sembuh, dan keibaan melihatnya di kamar saat bentol-bentol alergi datang, aku mulai bisa merasakan apa yang dirasakan oleh wanita yang telah melahirkan aku dengan penuh kasih ini.

Saat itulah, entah sadar atau tidak, aku berkata pada diriku sendiri dalam hati, ‘kalau diijinkan, biarlah apa yang diderita Mama, diberikan pada diriku. Aku siap menerima penderitaan yang dipikul Mama’

Aku tak tahu, obat itu yang manjur atau tekatku yang manjur. Setelah pulang ke Jambi, aku dapat kabar dari Mama, penyakit yang sangat menyiksanya telah hilang. Obat yang aku beli di Glodok sangat manjur, katanya

Yah, aku ikut berbahagia atas kesembuhan Mama. Hanya aku tak bercerita, kalau penyakit itu kini ada pada aku.

Suatu ketika, saat mengendarai motor di Jembatan Lima, saking besarnya bengkak alergi di sekujur tubuhku, terutama di wajah, aku hampir jatuh pingsan.

Terutama bengkak-bengkak di wajah, membuat mataku hampir tak bisa dibuka untuk melihat jalan. Padahal sebelumnya aku baru dari kantor rekanan pekerjaan design graphic dalam kondisi baik-baik hingga menjelang pulang.

Karena beranjak malam, bergegas aku mencari dokter terdekat. Yang aku temukan adalah apotik di pinggir jalan. Dari apotik itu aku dirujuk ke dokter praktek berjarak sepuluh meteran dari apotik itu.

Dengan segenap tenaga bersisa, aku mencari tempat praktek dokter itu. Sampai di sana sudah banyak pasien yang antri. Tapi karena kondisiku kritis, matanya yang sudah sipit makin sipit karena penbengkakan, aku langsung dibawah ke ruang dokter.

Apa dinyana, setelah melihat tanganku yang membengkak dan membiru, dokter itu angkat tangan.

Kata dokter itu keracunan.

“Disuntik aja dok,” kata beberapa orang yang membawaku ke dalam.

“Tak bisa, tangannya bengkak dan membiru, kemarin ada yang kondisinya begini disuntik mati” katanya, walah-walah.

“Jadi bagaimana, Dok?” Tanya aku.

“Ke rumah sakit saja, diinfus” katanya menyebut sebuah rumah sakit.

Mendengar nama rumah sakit, apalagi harus masuk rumah sakit, yang tebayangkan adalah tumpukan uang yang tak pernah cukup. Jadi prinsipnya jangan deh, sampai masuk rumah sakit.

Tapi harus bagaimana? Ada beberapa orang yang coba memanggilkan taksi, tapi aku menolak, karena memikirkan biaya dan nasib motor aku.

“Ada saudaranya tidak?” tanya seorang wanita sambil mengeluarkan hpnya, yang ditahun 99an itu termasuk barang mewah.

Aku ingat adik mama yang rumahnya tak jauh dari situ. Aku minta meneleponnya,menceritakan kondisi aku dan minta dijemput, seingat aku dia punya mobil.

Sambil menunggu, oleh kondisi aku yang tak kuat, sementara dokter menolak aku, aku mencari meja jualan pedagang makanan kaki lima yang pedagangnya libur.

Berbaringlah aku sendiri di situ. Di tepi jalan antara jembatan lima dan jembatan dua, di tepi kali angke dibatasi trotoar dua arah. Karena berpikir ini keracunan seperti kata dokter, aku membuka susu bubuk yang aku beli di Mangga Dua, menelannya ditemani botol air yang selalu aku bawa.

Sesaat kemudian, aku berbaring dalam diam, tapi aku tak tidur.

Samar aku mendengar suara orang-orang yang tadi mengantre di dokter praktik mendekat dan berbicara diantara mereka, “lihat, dia sudah tak bergerak” yang disahut yang lain, “mungkin sudah mati?”

Mereka terus berbisik dari jarak antara.

Anehnya, melihat tingkah mereka keisengan aku muncul, bukannya memberi reaksi kalau aku belum mati seperti sangkaan mereka, aku malah makin tak mau bergerak, biar mereka kian heboh menduga aku mati,hehe.

Sesaat ada beberapa orang yang berjalan mendekati aku.

Wah, kalau ada yang mendekat beneran begini, aku batuk sajalah: “Hm. Ehm,” memberi tanda aku belum mati.

Mereka menjauh lagi, berbisik dari kejauhan lagi.

Malam kian larut. Aku mulai sadar tak mungkin dijemput adik mama, karena jarak rumahnya dari tempatku cuma 15 menit, sedangkan aku telah berbaring satu jam lebih di sini.

Oleh kondisi mulai pulih, pembengkakan berkurang, aku melanjutkan perjalanan dibawah tatapan orang-orang yang tadi mengawasi aku, ke tempat adik mama.

Sampai di sana, A’I (adik mama) aku tak berkata apa-apa. Ia memintaku berbaring di sofa ruang tamu, lalu menarik-narik urat di leher aku. Setelah itu ia memberiku segelas teh pahit.

“Kamu masuk anginnya udah kelewat parah,” katanya. Setelah itu aku tertidur sebentar, untuk kemudian aneh bin ajaib setelah bangun kondisiku membaik dan aku segera pamit.

Di awal tahun 2000, saat aku menjadi samanera (samanera milenium ceritanya, hehe) penyakit ini awalnya masih suka muncul, terutama kalau habis makan sayur jamur, pasti bentol-bentol. Namun untunglah, kondisi ini bisa diatasi dengan meditasi anapanasati yang saat itu aku praktekan.

Dalam tempo setengah jam bisa lenyap. Maka sudah terbiasa bagi guruku terkasih, Bhante Dharmavimala, kalau berpegian dengan beliau, aku suka bermeditasi berselimutkan jubah menutupi sekujur tubuh dan wajahku kalau bentol-bentol itu ‘bertamu’.

Aku lupa terakhir kali penyakit itu muncul, mungkin saat mengisi acara waisak sekolah di Sunter, bersama Bhante Dharmavimala dan Bhante Badraruci yang waktu itu masih samanera.

Batavia, 8 Februari 2009 (12:42 am)

Harpin

Kembali KE MYANMAR

Kembali ke Myanmar.

World Buddist Summit 4, Myanmar
World Buddist Summit 4, Myanmar

Aku berkunjung ke Myanmar lagi saat World Buddhist Summit ke 4, Desember 2004.

Oleh Guru saya terkasih saya ditugaskan mewakili Sangha Agung Indonesia bersama Yang Mulia Bhante Nyanasuryanadi Mahathera.

Pada hari ‘H’ aku berangkat ke Batam. Entah mengapa aku menolak bawa cindramata rupang besar dari Bhante Aryamaitri Mahasthavira yang sudah seperti orang tua saya. Aduh kualat deh. Ampun Bhante, hehe.

Tapi untunglah, belakangan aku tahu, Bhante Nyanasuryanadi yang Mahathera sekalipun, sangat rendah hati membawakan patung itu.

Keesokan harinya, Bhante Nyanasuryanadi Mahathera menyusul tiba di Batam. Kami menginap di Vihara Buddhayana Nagoya Point, untuk keesokan menyebrang dengan kapal feri ke Singapura.

Di Singapura kami mencari pesawat ke Myanmar. Sebenarnya bisa terbang langsung dari Jakarta ke Singapura, tapi supaya irit, perjalanan dilakukan ala back paker traveler.

Ada rekan Hendritanti menemani dari Batam sampai Bandara Changi, Singapura. Terimakasih dan namaskara untuk rekan Hendritanti, yang kini menjadi Biku Nyanagupta. Siapa menyusul? Haha.

Seperti biasa, tiba di Myanmar, Bapak Handaka yang helpfull pada Monk menunggu di airport. Berbeda dengan perjumpaan pertama saat beliau masih menggunakan celana panjang, kini beliau ‘menyatu’ dengan masyarakat Myanmar, kemana-mana pakai sarung kotak-kotak, hehe.

Hari pertama kami bermalam di kediamannya. Terdapat ‘kuti’ di rumah beliau untuk biku-biku yang transit belajar ke Myanmar. Kami juga menerima dana makanan Ibu Eli yang selalu memberi terbaik buat biku.

Setelah cukup istirahat, kami bersafari dengan keluarga Handaka: Bapak Handaka, Ibu Eli dan kedua anaknya : Voni dan Nyonyo (waktu itu anak yang ketiga , Minggala belum hadir,hehe) ke vihara-vihara suci di Myanmar, sebelum akhirnya meregister di hotel, yang disediakan panitia World Buddhist Summit.

Ada catatan kecil manfaat yang saya dapat dari kebiasaan mencatat proses batin, chittanupassana. Terimakasih pada Sayadaw U Tejaniya yang mematangkan karma aku tentang chittanupassana.

Setidaknya kini aku bisa meditasi di tempat ramai sekalipun, aku bisa meditasi dengan mata terbuka, sambil baca koran, sambil ngobrol, sambil nonton televisi.

Jadi saat mata aku nonton televisi, bila ada pikiran melintas aku mencatatnya, seperti :melamun, sambil mengalihkan sejenak mata dari televisi, plong melamun itu hilang, nonton lagi. Merencanakan, catat: rencana, pusaran pikiran rencana itu melemah dan hilang, kembali ke televisi.

Terkadang kita seperti melihat dua hal pada saat bersamaan. Saat mata menonton ke televisi tetapi batin kita melihat /merasakan proses pikiran yang tercatat berputar lalu melemah. Kadang untuk menyeimbangkan proses dalam batin, kepala aku bergerak pelan ke kiri atau ke kanan 15 derajat seperti menoleh sesuatu di samping. Jadi saat nonton televisi, televisi jadi objeck meditasi utamanya,hehe.

Proses pencatatan dalam batin ini sangat bermanfaat bagi pengendalian diri, terutama saat mengobrol dengan umat maupun rekan biku supaya tak hanyut dalam pikiran dan pembicaraan yang berkembang. Karena batin yang terbiasa mencatat, aku cepat tersadar kemana pikiran atau ucapan bergerak.

Misalnya tanpa sadar pembicaraan menjurus ke arah benci atau iri, biasanya sifat pembicaraan ini cepat tertangkap melalui kebiasaan mencatat yang otomatis: Ini kebencian. Ini irihati, ini kesombongan, sehingga aku cepat mengerem pembicaraan.

Ringkasnya pencatatan pikiran membantu kesadaran akan hadirnya akar-akar kejahatan yang bersifat sangat halus, seperti kebencian, keangkuhan, keserakahan, nafsu dan irihati, yang bisa menciptakan karma buruk melalui pikiran, ucapan dan perbuatan. untuk kemudian sadar dan tak melanjutkan.

Jadi kini dari segi wajah, menurut aku sendiri, tampaknya aku lebih bahagia, hehe. Ups, ini keangkuhan, hehe lagi.

Sambil menonton televisi, baca koran terkadang makan ubi berteman secangkir teh aku mengamati proses yang berlangsung dalam batin datang dan pergi. Tuing muncul pikiran, tuing pikiran itu menjadi lemah, tuing muncul lagi, tuing lemah lagi. Tuing tuing tuing, terkadang prosesnya cepat sekali, tapi kadang juga lambat sekali.

Ketika World Buddhist Summit yang berlansung sekitar 2 minggu berakhir, aku melanjutkan perjalanan ke Panditarama Forest Monastry.

Sedangkan Yang Mulia Bhante Nyanasuryanadi Mahathera yang sangat rendah hati harus segera ke Indonesia, tugasnya di Sangha Agung Indonesia dan dosen di IIAB Smara Tunggal Ampel, Boyolali telah menanti.

Batavia, 05 Februari 2009 (05:17 am)

Harpin.