Petugas Upacara Berseragam Biksu

206413_biksu-palsu-di-china-kendarai-ninja-hasil-ngemis_663_382

Petugas Upacara Berseragam Biksu

Semalam diminta Dharmadesana di Ruma Duka Atmajaya (Heaven Grup), ada keluarga umat di Wihara Cibubur yang meninggal. Setelah baca paritta dan Dharmadesana selesai kami duduk menikmati jamuan roti dan “air sorga” (air mineral mereknya Heaven).

Saat minum dan makan roti, masuklah dua orang: yang satu kepalanya plontos, satunya rambut dua senti. Yang kepala plontos lebih tua, pakai kaos kerah warna kuning dan celana panjang bahan warna coklat, yang rambut dua senti pakai kaos dan celana panjang seperti pengunjung biasa.

Pandita di sebelah saya berbisik, “katanya itu suhu di sini.”

“Suhu? Mungkin maksudnya guru kali, dalam pengertian chinese, suhu tidak berarti biksu, tapi orang yang dianggap lebih tahu, guru” kata saya.

Pandita itu mengangguk, “iya yah,” katanya.

Tapi apa yang selanjutnya terjadi membuat saya tercengang, “kedua orang itu bersalin dan menggunakan jubah biksu Mahayana berwarna kuning, lalu liam keng memimpin sembahyang tutup peti.

Oh, ternyata jubah telah menjadi seragam upacara.

Apa boleh buat, umat lebih sreg kalau ada orang berkepala botak memakai jubah biksu memimpin upacara. Sementara stok biksu terbatas, seseorang menjadi biksu sebenarnya tidak untuk memimpin upacara, karena agama Buddha sejatinya bukan agama upacara.

Jadi hukum ekonomi bermain, permintaan besar, ampao besar, tapi suply terbatas. Munculah manusia-manusia berkepala botak memakai jubah biksu memimpin upacara, lalu kembali berpakaian biasa saat sembahyang selesai.

Selesai memimpin kebaktian tutup peti, saya melihat kedua orang itu melepas jubahnya, berpakaian layaknya umat biasa.

Bandar Kemayoran, 09 Februari 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *