Sakit Gigi dan Wipassana

Sakit Gigi dan Wipassana

 gigi

Udara dingin beberapa hari ini membuat sakit gigiku kumat. Ini mengingatkanku saat masih menjadi biku dan berdiam di Wihara Buddhasena, Bogor.

 Saat itu sakit gigiku kumat, namun sebagai penganut aliran tak minum obat kalau tak kepepetz, saya menolak minum obat.

 Umat di sana pun khawatir dan menyarankan minum obat.

 “Belum perlulah, fungsi obat sakit gigi hanya menghilangkan rasa sakit, tapi tak menyembuhkan penyakitnya,” kataku.

 Di sisi lain, sepengetahuan saya, obat penahan sakit membuat kerja ginjal lebih berat. Prinsipnya, selama bisa ditahan, saya akan menahannya. Saat kita berkunjung ke dokter yang baik juga, minum obat penahan sakit direkomendasikan bila terpaksa saja.

 Di sisi lain, aha.. ini kesempatan yang baik untuk berlatih.

 Maka saya mulai memperhatikan naik turun perut, lalu mengkonsentrasi pada titik senat-senut di gigi yang begitu dominan.

 Setelah konsentrasi terbentuk, saya bisa merasakan pusaran getaran halus pada titik konsentrasi saya. Pusaran getaran ini lalu saya arahkan menyotir titik-titik sakit di gigi. Hasilnya “Bet! Bet! Bet!” bukan sulap bukan sihir… sakit giginya lenyap sodara-sodara!

 

Lepas Jubah

Saat tidak memakai jubah, kesempatan saya berlatih turun drastis.

 Ketika memakai jubah, saya tak disibukkan kegiatan mencari uang. Makan dan tempat tinggal sudah tersedia, bahkan berlebih. Dimana-mana, kemana-mana, umat akan bersukacita menerima kehadiran Anda, mengundang makan dan selalu mendanakan makanan.

 Kini?

 Kalau tak cari makan siapa yang akan memberi saya makan? Kalau tak cari uang, siapa yang akan membayar cicilan rumah saya?

 Bahkan waktu masih kos, saya sempat tak berani pulang kos sebelum mendapat pinjaman untuk membayar kos yang jatuh tempo.

 Penjaga kos cukup ekstrim, dia tak akan sungkan ketuk kamar Anda dan berteriak kenceng hingga satu lantai mendengar anda belum bayar kos, “Pin! Bayar kos Pin! Sudah terlambat berapa hari ini!”

Pernah pas jatuh tempo dan belum punya uang, saya keluyuran mencari pinjaman dulu hingga tengah malam baru berani pulang karena sudah dapat pinjaman, hihi.

Punya Rumah

Setelah punya rumah kesibukannya tetap sama. Memang tak khawatir lagi tengah malam diketuk pintu dan diteriaki untuk bayar kos.  Tapi kewajibannya justri bertambah, saya sibuk cari uang untuk bayar service charge, bayar air, bayar listrik, bayar telepon, bayar sewa konter, bayar cicilan rumah, dan beragam keperluan sehari-hari.

Kesibukan-kesibukan ini, beban hutang yang ada, juga beban jalur Bodhisattwa yang saya pilih terkadang harus menanggung hal yang tak terucap, praktis memberi tekanan batin tersendiri.

Waktu berlatih menjadi berkurang, bahkan jadi tidak sama sekali. Ditambah kondisi yang sudah tak pegang sila biku, membuat kadang saya membiarkan luapan pikiran dan sedikit kenakalan berkeliaran sebagai human basic instinc, hehe.

Jadi, dua hari ini, ketika udara dingin dan gigi ini sakit… mengingatkan saya untuk melakukan perhatian penuh lagi. Perhatian penuh pada gigi yang sakit. Apakah masih berhasil?

Yup, pusaran itu, meski tak sekuat dulu, ternyata masih ada sodara-sodara.

It works!

“Bet! Bet!” Sakit giginya lenyap.

Kesimpulannya, saya masih belum perlu minum obat sodara-sodara, hehe.

(Bandar Kemayoran, 17 November 2013)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *