Ketika Komnas HAM harus Belajar arti HAM

 

Yap Tiam Hiem, Soe Hok Gie dan Munir.
Yap Tiam Hiem, Soe Hok Gie dan Munir.

Perjuang HAM (Hak Asasi Manusia) bagi saya adalah kegiatan yang sangat mulia. Dalam pikiran saya mereka adalah orang-orang seperti Yap Thiam Hiem, Soe Hok Gie, Munir, Adnan Buyung Nasution atau Bambang Wijayanto yang saat ini menjadi Ketua KPK.

Dalam gambaran saya, mereka adalah orang yang gelisah melihat ada yang mendapat perlakuan tak adil atau dibedakan karena ras, agama, sikap atau pandangan politik mereka.

Yap Thiam Hien

Pada masanya Yap Thiam Hien, ketika Orde Baru begitu kuat dan komunis menjadi bulan-bulanan dalam arti sah untuk dibunuh, Yap Thiam Hiem yang dikenal sebagai pribadi antikomunis, tampil membela para tersangka G30S, sepertiAbdul Latief, Asep Suryawan, dan Oei Tjoe Tat. Ia juga membela Soebandrio, bekas perdana menteri, yang menjadi sasaran cacian massa pada awal Orde Baru.

Pembelaan Yap yang serius dan teliti pada Soebandrio, membuat hakim-hakim militer di Mahmilub (Mahkamah Militer Luar Biasa) bingung dan kesal.

Soe Hok Gie

Soe Hok Gie sendiri adalah arsitek demo mahasiswa yang menggulingkan kekuasaan Orde Lama. Ketika rezim yang ia tantang runtuh, disusul bangunnya rezim Orde Baru yang tak lebih baik dari rezim sebelumnya, Soe Hok Gie menjadi gundah-gulana. Ia berusaha menyuarakan suara-suara mereka yang tertindas melalui pulpen wartawannya. Seperti pembantaian di Bali, pembunuhan, penjarahan terhadap mereka yang dianggap komunis.

Akan tetapi, seperti kata Arif Budiman (Kakaknya Soe Hok Gie) di Taman Ismail Marzuki tahun 1998 saat Majalah Tempo dibredel oleh pemerintahan Orba “seorang perjuang adalah orang yang berjalan sendiri di jalannya,” demikianlah yang dialami Soe Hok Gie. Sahabat-sahabat seperjuangan yang silau oleh harta dan tahta mulai menjauhinya. Banyak yang mengingatkannya untuk berhati-hati. Ia dikuntit dan juga diancam akan dibunuh.

Soe Hok Gie akhirnya menghembuskan nafas terakhir di puncak gunung Semeru tahun 1969 tepat sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27, konon akibat menghirup asap beracun dari gunung. Tukang peti mati yang mengirimkan mayatnya ke Jakarta, yang hanya mengenalnya dari tulisannya pun menangis, akan kepergian anak muda yang luar biasa ini.

Mengingat aktifitas dan ancaman yang pernah diterimanya, saya yang tak mengenalnya tetapi sangat mengaguminya pun sampai saat ini ragu, apa iya dia meninggal karena gas beracun di gunung?

Munir Said Thalib

Akan halnya Munir Saib Thalib, tak ada yang menyansikan kenekatannya. Ketika dominasi militer di segala sektor begitu kuat di masa Orde Baru, ia menjadi pemimpin dan harapan mereka yang tertindas oleh kekuatan ’sepatu lars’ ini, dimana yang lain hanya bisa bunkam. Saat menjabat Dewan Kontras, dia maju membela para aktivis yang menjadi korban penculikan Tim Mawar dari Kopassus.

Setelah Soeharto jatuh, penculikan itu menjadi alasan pencopotan Danjen Kopassus Prabowo Subianto dan diadilinya para anggota tim Mawar.

Munir sendiri meninggal diracun dalam perjalanan pesawat JakartaAmsterdam, 7 September 2004 pada umur 38 tahun. Hingga kini, pengusutan akan kematiannya masih seperti menegakkan benang basah.

Hidup untuk Orang Lain

Mereka yang saya ceritakan di atas, adalah orang-orang yang tahu kemana arah hidupnya dan siap mati untuk itu. Mereka tak digerakkan oleh iming-iming tahtah ataupun materi, tapi semata-mata tidak sudi melihat adanya ketidakadilan. Tidak sudi melihat ada yang dijalimi. Tidak sudi melihat ada yang dirampas haknya.

Mereka hidup bukan untuk diri sendiri, tapi untuk kepentingan orang banyak.

Ketika mereka berpulang, banyak yang menangisi kepergian mereka, meski tak kenal sekalipun, tapi orang-orang tahu betapa mulianya mereka ini.

Penutup

Sebagai penutup, cobalah Anda perhatikan sepak terjang anggota Komnas Ham pariode 2012-2016 ini. Baru jadi Komnas HAM sudah rebutan jadi ketua dan rebutan mobil Camry. Ham apa yang akan ditegakkan oleh orang-orang dengan mental seperti ini? Hamburger? Hahaha!

Mungkin benar kata Ahok: “Musti ditinjau ulang tuh pengertiannya Komnas HAM. Perlu saya kasih kuliah umum sama mereka arti HAM itu apa.” ungkap Ahok di Balaikota Jakarta, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *