Biksuni Jinaloka, Reliknya Sepasang Kuping

Sumber: Mamit 10/2012

Pelayan Dharma

 

Biksuni Jinaloka

Bhiksuni Jinaloka, Reliknya Sepasang Kuping

Adik-adik, Biksuni Jinaloka dilahirkan di Palembang 21 Mei 1921. Sejak kecil beliau memiliki banyak teman, vokal dan peduli dengan orang lain.

Menurut keponakannya (Safiit Hendrawan), sejak Pak Safiit masih anak-anak dan tinggal bersama kakeknya sebagai keluarga besar, rumah mereka selalu ramai dari pagi sampai malam, karena kedatangan teman-teman bibinya itu.

“Temannya sangat banyak, datang dari pagi sampai malam. Saat itu, tanda-tangannya bisa dijadikan uang untuk mereka yang membutuhkan. Ia bisa membuat memo untuk mereka yang dalam kesulitan untuk mengambil uang di toko-toko yang dituju. Selain sebagai ketua perkumpulan wanita Tionghoa, ia juga menjabat kepala sekolah di taman kanak-kanak sekolah Tionghoa”

Demikianlah masa muda Biksuni Jinaloka, sampai akhirnya beliau menikah dengan seorang pengusaha dan memiliki 3 orang putri, sikap pedulinya terhadap orang lain tak berubah.

Saat terjadi kerusuhan tahun 1966, beliau sempat mengungsi ke Bogor. Konon, di sinilah ia semakin mengenal Ashin Jinarakkhita yang juga dilahirkan di kota Bogor, dimana saat itu Ashin Jinarakkhita telah berdiam di Lembah Cipendawa, Pacet.

Seiring waktu, ketertarikan beliau terhadap kehidupan spritual semakin mendalam, sampai kemudian, setelah menikahkan putri terakhirnya tahun 1970 , beliau memutuskan menjadi biksuni.

Ketika menjadi biksuni, daerah binaan beliau meliputi Medan, Palembang, Jambi dan sekitarnya. Karena fasih mandarin, banyak pengikutnya adalah mereka yang menekuni Liam Keng, alias pembacaan sutra Buddha dalam bahasa Mandarin.

Salah satu murid beliau adalah Romo Darwis, ketua Yayasan Buddha Kirti di Palembang saat ini.

 “Pertama saya ke wihara waktu kuliah,  sanggha yang saya kenal adalah beliau. Beliaulah guru spritual saya yang pertama. Biksuni Jinalokalah yang memotivasi saya pada 2 Februari 1977 membentuk PPBD (Persaudaaan Pemuda Buddhis Dharmakirti,” kata Romo Darwis, murid kesayangan beliau.

 “Begitu sayangnya beliau dengan Romo Darwis, membuat saat itu kami yang ponakannya cemburu, hehe,” kata Bastian Hendrawan (keponakan Biksuni Jinaloka).

Beliau juga memiliki seorang dayaka yang sangat setia pada beliau sampai hari ini, adalah Ibu Eng Sui yang sampai hari ini mengajar di sekolah Padmajaya, Seberang Ulu, Palembang.

Meski, selalu memimpin liam keng, untuk praktek pribadinya, beliau adalah meditator ulung.

Menjelang akhir hayatnya, beliau sempat menolak dibawakan kembang oleh pembantu-pembantunya, “tak usah, di sini sudah banyak orang dan banyak kembang,” kata beliau.

“Mana? Di sini tak ada orang dan tidak ada kembang, Bhante,” kata pembantunya heran.

Beliau sempat minta keponakannya (Bastian) telepon ke Pacet, untuk ‘pamit’ dengan guru beliau Ashin Jinarakkhita.

Keesokan hari 18 Desember 1999, beliau diketemukan sudah meninggal dalam posisi duduk meditasi. Dokter keluarga beragama Katolik yang dipanggil Pak Safiit, meski terheran-heran, setelah memeriksa urat nadinya memastikan beliau sudah meninggal.

Dari sisa perabuan beliau ditemukan relik sepasang kuping besar, seperti kuping Buddha berbentuk batu giok hijau. Sayangnya, keberadaan relik sepasang kuping itu kini tak diketahui.

Safiit Hendrawan, keponakan beliau yang ikut saat pengambilan abu di tempat kremasi mengatakan, ia melihat Biksuni Pundarika dan Bhante Kumuda (sudah lepas jubah) hati-hati mengambil sepasang relik kuping hijau seperti batu giok itu, lalu membungkusnya dengan kain.

“Habis itu, tak tahulah aku ceritanya.”

Ada yang bisa membantu melacak keberadaan relik itu sekarang?