Bab VII Sekolah Padmajaya

BAB VII

Sekolah Padmajaya

Sekolah Padmajaya 2012

Tahun 1960, saat kedatangan Ashin Jinarakkhita di Palembang, di Seberang Ulu ini merupakan perkampungan orang Tionghoa yang anak-anaknya tak bersekolah. Kecuali beberapa pengusaha hasil bumi superkaya seperti Goei Kim Hock, rata-rata orang Tionghoa di Seberang Ulu adalah orang miskin.

Pembelian tanah sekolah dilakukan tahun 1963, setahun setelah Wihara Dharmakirti  di Seberang Ilir diresmikan. Tahun 1964 sekolah Padmajaya memulai proses belajar mengajarnya, yang ditandai dengan penanaman pohon Bodhi oleh Ashin Jinarakkhita.

“Dulu waktu sekolah berdiri, banyak anak sudah besar-besar, baru duduk di kelas 1” kata Ibu Listyani, guru Bahasa Mandarin yang bergabung kembali di sekolah Padmajaya sepuluh tahun belakangan.

Diantara guru-guru Sekolah Padmajaya saat ini, Ibu Listyani merupakan guru yang paling awal mengajar. Beliau yang lulusan SPG (Sekolah Pendidikan Guru) mengajar sekitar tahun 68-69. Ia merasakan suka-dukanya mengabdi di awal sekolah Padmajaya berdiri.

Dikatakan mengabdi karena bagi dia yang tinggal di Seberang Ilir, membutuhkan perjuangan keras setiap hari mencapai sekolah ini di Seberang Ulu.

“Waktu itu angkutan umum cuma sampai di Jembatan Ampera. Kito harus jalan kaki dari Jembatan Ampera sampai sekolah Padmajaya. Saat itu dari Jembatan Ampera sampai ke sekolah masih tano merah galo, berdebu kalau panas, licin bila hujan. Seringkali, air sungai Musi meluap membuat jalanan dipenuhi air.

Kalau banjir meluap, kito harus menenteng sepatu di tangan dan angkat rok setinggi paha nah untuk mencapai sekolah ini,” tambahnya.

Itulah sebabnya, setahun kemudian, tahun 1969 meskipun ditawari posisi kepala sekolah di SD Padmajaya, karena kendala-kendala teknis dan masalah ekonomi, beliau memutuskan pindah ke sekolah lain yang memberikan honor sepuluh kali lipat  dibanding Sekolah Padmajaya.

Memasuki era reformasi, mantan Presiden Gus Dur menertawakan kebijakan pemerintah Orba. Menurut Gus Dur, satu-satunya negara di dunia yang melarang bahasa Mandarin beredar adalah Indonesia.

Gus Dur mencabut Intruksi Presiden (Inpres) No 14/1967 yang dikeluarkan pemerintah Suharto untuk ‘mengandangkan’ kebudayaan Tionghoa. Gus Dur lewat kebijakannya memungkinkan Bahasa Mandarin diajarkan secara bebas sebagaimana bahasa asing lainya di Indonesia.

Buah kebijakan pemerintahan Gus Dur, belajar Bahasa Mandarin bukan lagi sebuah ‘dosa besar’, dimana pada jaman Orba proses belajar mengajar ini harus dilakukan sembunyi-sembunyi layaknya penjahat narkoba sedang melakukan transaksi.

Di Sekolah Padmajaya, bahasa Mandarin pun diajarkan kembali. Hingga kini, sudah sepuluh tahun Ibu Lusiana mengabdi kembali di Sekolah Padmajaya sebagai guru Bahasa Mandarin.

Kiri ke kanan: Ibu Enggawati (kepala sekolah SD Padmajaya 1977-2012), Ibu Engsui (Staf dan dayaka setia Biksuni Jinaloka), Ibu Listyani (Guru Bahasa Mandarin/komisi pendidikan).

Ibu Enggawati

Ibu Enggawati mulai mengajar di Sekolah Padmajaya tahun 1969. Beliau diangkat menjadi kepala sekolah dari tahun 1977 sampai sekarang. Jadi, sudah 43 tahun mengabdi di Sekolah Padmajaya. Sebuah pengabdian luar biasa. Sekarang beliau berstatus PNS (Pegawai Negeri Sipil) dan akan pensiun tahun 2012 ini.

“Kalau ditanyo suko dukonya banyakan dukonnya dibanding sukonyo. Tapi kito bicarakan sukanyo baelah,hahaha” katanya dengan suara lantang. Yah, pengalaman mengajar hampir setengah abad di depan kelas, ditengah riuh-rendah suara anak-anak tanpa bantuan mikorfon, membuat suaranya kuat, jelas dan mantap.

“Ini arsip-arsipnyo. Waktu aku pertama jadi Kepala Sekolah dak ado ini, aku yang bikin dewek. Sanghapuspa kepala sekolah pertama, tuh fotonya nah. Dilanjutkan Theresia Hewida, istri dari Romo Edy Tan Tjong Leng.

Tahun 1958 aku lah tinggal di Seberang Ulu, jadi tahulah awal-awalnya. Dalam arsip kelulusan aku lihat tahun 1964 baru mulai proses belajar di Sekolah Padmajaya ini. Awalnya terdiri tigo kelas, taman kanak-kanak satu kelas,  SD duo kelas.

Segala sesuatu ado visi misinyo. Kalau sekolah ini, visi awalnya Sukong (Ashin Jinarakkhita) nak bantu orang-orang Tionghoa di Seberang Ulu ini yang idak mampu. Awal berdirinya cuma terdiri tigo ruangan kelas dari kayu,” lanjut Ibu Enggawati.

Yah, kelas dari kayu itu, pada masa kepemimpinan Romo Yusrin di Yayasan Buddhakirti tahun 1988 dibangun kembali menjadi bangunan tembok kokoh menggunakan sisa dana perluasan baktisala Wihara Dharmakirti yang beliau kumpulkan.

Romo Yusrin, Ketua Yayasan Buddhakirti 2 pariode 1987-1995 yang merenovasi gedung Sekolah Padmajaya.

Begitu perhatiannya Ashin Jinarakkhita kepada sektor pendidikan membuat beliau kembali menyempatkan diri meresmikan bangunan sekolah Padmajaya setelah direnovasi. Tak lupa beliau ‘menghadiahkan’ piagam penghargaan pada Romo Yusrin sebagai U.S.D.K (Upasaka Sri Dharma Kirti) pada 18 Maret 1988.

Peresmian kembali sekolah Padmajaya oleh Ashin Jinarakkhita setelah renovasi, 1988.

“Itulah hebatnya Sukong. Pada masa itu sudah memikirkan pendidikan yang idak terpikir oleh kito,” lanjut Romo Darwis, ketua Yayasan Buddhakirti sekarang ini.

Romo Darwis, ketua Yayasan Buddhakirti sekarang.

“Beliau merancang Wihara Dharmakirit di Seberang Ilir, dan Sekolah Padmajaya di Seberang Ulu, dimana dulunya merupakan perkampungan orang Tionghoa, banyak diantranya orang tidak mampu. Saat itu, pendidikan merupakan barang mewah yang tak bisa dijangkau mereka, Sukong telah memikirkan pendidikan yang murah untuk mereka,” tambah Romo Darwis.

“Dulunya, wong Tionghoa di Palembang dak ado dak yang beragama Kristen atau Katolik. Tapi pasca meletusnya PKI dan pemerintah Orba menutup dan mencaplok sekolah dan yayasan-yayasan Tionghoa, merajalelahlah mereko, sekolah-sekolah dan yayasan Kristen/Katolik,” kata Romo Yancik, pendiri sekolah Dharmajaya yang juga sesepuh dan pendiri Yayasan Buddhakirti yang kini berumur 87 tahun, tapi masih sehat dan bisa menyetir mobil sendiri.

Romo Yancik, sesepuh dan satu-satunya pendiri Yayasan Buddhakirti yang masih hidup, kini berumur 87 tahun.

Romo Yancik dan Ibu Padmawati memiliki andil besar dalam pendirian sekolah Padmajaya ini.

“Karena kebijakan pemerintah Orba, anak-anak kito banyak pindah agama di sekolah mereka itulah,” tambah Romo Yancik yang mendirikan sekolah Dharmajaya dengan 5 murid pertamanya adalah 5 orang anaknya, kemudian ditambah anak-anak dari sanak-saudaranya.

Tahun 80an pun, pemerintah Orba kembali melakukan tindakan represif dengan alasan pembauran, mengaduk-aduk sekolah yang murid-muridnya didominasi orang Tionghoa.

Kebijakan represif ini mengharuskan Sekolah Padmajaya memindahkan 60 persen muridnya yang Tionghoa ke sekolah negeri, dan memasukkan 40 persen murid sekolah negeri yang Melayu ke sekolah Padmajaya.

“Ah susahnyo bukan main. Murid yang Tionghoa saat dipindah ke sekolah negeri suka dikata-katain cino dan juga dipalak,” kata Ibu Enggawati yang sudah menjadi kepala sekolah saat ‘pembauran’ itu.

“Sebaliknya murid negeri yang dipindahkan ke sekolah ini juga bermasalah. Karena sistim pengajaran yang berbeda, murid di sini jam belajarnya lebih panjang sedangkan di sekolah negeri lebih pendek, akibatnya mereka sering bolos. Manjat-manjat tembok, ha.

Dari sisi orang tua, mereka curigo, karena ini sekolah Buddhis, mereka takut anak mereka nak kito Buddhiskan.

Dari sisi uang sekolah. Siswa Tionghoa bayar enam ratus rupiah, sedangkan siswa dari negeri cuma bayar sepuluh atau seratus rupiah. Perbedaannyo jauh mak. Pusinglah kito menutupinyo.

Kalau peraturan ini tak dijalankan, sekolah kito bisa ditutup. Pihak pemerintah juga sering datang kontrol apakah peraturan ini dijalankan.”

Demikianlah, suka duka Ibu Enggawati yang dipercaya Yayasan menjadi kepala sekolah mengawal sekolah Padmajaya ini dari tahun 1977 hingga sekarang. Salah satu lulusan sekolah Padmajaya yang cukup dikenal di MBI adalah Romo Marga Canto Santosa.

Menurut Ibu Enggawati, kelulusan dari sekolah ini selalu 100%. Saat ini, tercatat 38 siswa Tk  belajar di sini, ditambah 171 orang siswa SD dan  59 orang siswa SMP.

Namun mayoritas mereka bukanlah Tionghoa atau Buddhis lagi, melainkan Muslim. Itu bukanlah karena kebijakan pembauran, masa sulit pembauran sudah lewat. Tapi, karena dalam perkembangannya, anak cucu orang Tionghoa di Seberang Ulu ini pendidikan dan ekonominya membaik, menjual rumah mereka di Seberang Ulu, membeli rumah lalu pindah ke Seberang Ilir yang dianggap kota.

Kini kampung orang Tionghoa itu tak lagi didominasi orang Tionghoa. Mayoritas orang di situ sekarang Melayu Muslim.

Efeknya ke sekolah Padmajaya, karena komunitas tempat sekolah berdiri berubah menjadi komunitas Muslim, mayoritas muridnya pun kini didominasi Muslim

Bila dikembalikan ke visi misi sekolah Padmajaya dulunya, yakni membantu orang Tionghoa yang tak mampu di seberang Ulu mendapatkan pendidikan, rasanya misi ini telah selesai. Karena tak banyak orang Tionghoa di Seberang Ulu lagi, dan mayoritas murid di sekolah Padmajaya kini adalah Muslim. Dari segi visi dan misi, ini jelas sudah salah sasaran.

Mengingat hingga kini sekolah selalu disubsidi  Yayasan Buddhakirti yang menaunginya, timbul pemikiran sejumlah pihak, agar tak memberatkan kas yayasan sebaiknya sekolah Padmajaya ditutup saja.

Saat ditanyakan ke Romo Darwis, decision maker yang merupakan ketua Yayasan Buddhakirti saat ini, Romo Darwis mengatakan, “kalau misinya membantu orang, apakah harus dilihat agamanya?”

Romo Darwis dalam masa kepemimpinannya telah mendirikan Manggala School di samping Wihara Dharmakirti, sebuah sekolah Buddhis di Seberang Ilir yang telah lama diidamkan umat Wihara Dharmakirti.

Manggala School, 2012