Masyarakat Buddhis Kita yang Sakit

Masyarakat Buddhis Kita yang ‘Sakit’

 

Biksu berjualan di Petailing Street Malaysia, Fotografer: Budi Hermawan.

Sepanjang yang saya tahu, Buddhisme mengajarkan Ehipassiko: Datang, lihat, buktikan.

Yang Buddha ajarkan adalah penyakit itu ada, sumber penyakit ada, penyakit bisa sembuh, ada cara menyembuhkan penyakit itu.

Ketika kita enggan melihat penyakit, berpura-pura tidak tahu, berpura-pura tidak ada penyakit, semua baik-baik saja, berpura-pura bijaksana, atau menghakiminya sebagai aib… bahkan menyalahkan orang yang memberitahu kita sedang sakit, hahaha, dalam pandangan saya… sepertinya kita tak hidup di alam nyata.

 Wake up please, meski tak mengenakkan, realita ini ada, sentuhlah dia, kasihanilah dia, bantulah dia.

Sanggha sebagai Komunitas.

Tepat dua bulan setelah mencapai Penerangan Sempurna (558SM), Buddha Gautama membabarkan Dhamma untuk pertama kalinyakepada lima pertapa di Taman Rusa Isipatana.

Kelima  pertapa ini kemudian disebut Panca Vaggiya Biksu, mereka adalah Kondanna, Bhaddiya, Vappa, Mahanama, dan Assaji.

Selanjutnya, bersama Panca Vagghiya Biksu tersebut, Buddha membentuk Sanggha Biksu yang pertama. Dengan terbentuknya Sanggha, maka Tiratana (Triratna) menjadi lengkap. Sebelumnya, baru ada Buddha dan Dhamma (yang ditemukan oleh Buddha ).

Tiratana atau Triratna berarti Tiga Mustika, terdiri atas Buddha, Dhamma dan Sanggha. Tiratana merupakan pelindung umat Buddha. Setiap umat Buddha berlindung kepada Tiratana dengan memanjatkan paritta Tisarana (Trisarana).

Mari kita bahas soal Sanggha, dimana kita memohon  perlindungan.

Dalam hal ini perlu diingat, banyak yang belum bisa membedakan biksu dengan Sanggha. Setiap menyebut biksu selalu dikatakan Sanggha, padahal biksu yang disebut hanya seorang. “Menurut Sanggha begini,”, “menurut Sanggha begitu,” padahal yang ia maksud adalah seorang biksu semata. Berlindung pada Sanggha, ia samakan dengan berlindung kepada sesosok biksu.

Sanggha adalah komunitas monastik, bukan sosok individu biksu. Sesuai histori terbentuknya, 5 orang biksu baru bisa bertindak mewakili Sanggha. Biksu bukanlah Sanggha, melainkan anggota Sanggha.

Itulah sebabnya, perayaan Kathina, yakni hari persembahan pada Sanggha, harus dihadiri minimal 5 biksu. Apabila perayaan Kathina dihadiri kurang dari 5 biksu, itu tak mewakili Sanggha, dengan demikian, persembahan yang diberikan untuk Sanggha menjadi tidak sah.

Jadi jelas di sini, Sanggha adalah komunitas, bukan sosok pribadi biksu.

Hubungan Timba-Balik Sanggha dan Umat

Dharmavimala Mahathera di Sanggha Agung Indonesia pernah mengatakan, tempat tinggal biksu yang ideal adalah tidak terlalu jauh dari tempat tinggal penduduk, dan tidak terlalu dekat dengan pemukiman penduduk.

Tentu ini ada maksudnya. Sebagai orang yang meninggalkan kehidupan duniawi, para pertapa masih butuh makan, untuk melanjutkan latihan mereka.

Di sisi lain, umat awam butuh penuntun spritual, dan ladang untuk menanam kebajikan. Tempat tinggal yang tidak terlalu jauh sekaligus tidak terlalu dekat, akan membantu hubungan timbal balik ini.

Di masa lalu, tradisi menghormati pertapa/yogi yang begitu kuat di India, membuat tidak terlalu masalah dan tak sulit untuk seorang pertapa mengumpulkan makanan dari rumah ke rumah.

Makna Sanggha menurut Thich Nhat Hanh

Dalam perkembangannya, makna Sanggha diterjemahkan menjadi lebih luas. Bila dulu diterjemahkan komunitas monastik yang hanya terdiri para biksu, oleh biksu Thich Nhat Hanh, Sanggha diberi arti lebih luas, sebagai komunitas mereka yang berlatih. Jadi, meskipun umat awam, sepanjang mereka melakukan latihan hidup berkesadaran dalam kelompok, mereka bisa disebut Sanggha, atau di Buddhayana disebut Sanggha Putih, maksudnya Sanggha berbaju/berjubah putih.

Berikut kutipan pengertian Sanggha Putih dari Grup Dharmajala yang mengadopsi dari  biksu Thich Nhat Hanh:

Sanggha adalah komunitas para sahabat yang mempraktikkan Dharma secara bersama untuk menumbuhkembangkan dan mempertahankan keadaan sadar. Esensi Sanggha adalah keadaan sadar, pengertian, penerimaan, keharmonisan, dan cinta kasih. Ketika saudara menemukan elemen-elemen tersebut hadir dalam sebuah komunitas, saudara tahu bahwa saudara memiliki kebahagiaan serta keberuntungan dapat berada dalam sebuah Sanggha yang sejati.

Sanggha bukanlah tempat bersembunyi agar dapat menghindari berbagai tanggung jawab saudara.

Sanggha adalah tempat berlatih mencapai transformasi dan penyembuhan diri maupun masyarakat. Ketika saudara kuat, saudara bisa hadir membantu masyarakat. Jika masyarakat saudara bermasalah, jika keluarga saudara berantakan, jika wihara saudara tak lagi mampu menyediakan kehidupan spiritual, maka saudara berusahalah untuk berlindung pada Sanggha agar dapat mengembalikan kekuatan saudara, pengertian saudara, kasih sayang saudara, rasa percaya diri saudara. Dan setelah itu, saudara dapat menggunakan kekuatan, pengertian, dan kasih sayang tersebut untuk membangun kembali keluarga dan masyarakat saudara, meremajakan wihara saudara, mengembalikan komunikasi dan keharmonisan. Ini hanya bisa dilakukan sebagai sebuah komunitas–bukan sebagai individu, tapi sebagai sebuah Sanggha.

Ketika seekor harimau meninggalkan gunung dan turun ke dataran rendah, ia akan tertangkap dan mati dibunuh manusia. Saat praktisi meninggalkan Sangghanya, ia akan mencampakkan latihannya beberapa bulan kemudian. Agar dapat meneruskan praktik transformasi dan penyembuhan, kita membutuhkan sebuah Sanggha.

Ijinkanlah diri saudara didukung, digenggam oleh Sanggha. Ketika saudara mengijinkan diri saudara berada dalam Sanggha, bagaikan setetes air mengijinkan dirinya ke dalam sungai, energi Sanggha akan menembus ke dalam diri saudara dan transformasi serta penyembuhan akan menjadi mungkin.

Dengan kata lain, menurut penulis, dari jaman dulu hingga sekarang yang diterjemahkan lebih luas oleh biksu Thich Nhat Hanh, Sanggha adalah sebuah komunitas berlatih, tempat mereka yang berlatih diri berlindung, untuk menjaga latihan mereka.

Khusus untuk Sanggha monastic (biksu) tentu kondisinya berbeda dengan Sanggha putih (umat awam yang berlatih) karena biksu, sejak penabhisannya telah ‘diikat’ dengan sejumlah 227 peratutan atau dikenal dengan winaya.

Winaya

Winaya artinya: Peraturan, Disiplin, Tata Tertib. Kata Winaya sendiri berarti : melenyapkan/menghapus/memusnahkan/menghilangkan – dalam hal ini – segala tingkah laku yang menghalangi kemajuan dalam Jalan Pelaksanaan Dhamma; atau sesuatu yang membimbing ke luar (dari dukkha).

Ada beberapa hal yang menyebabkan Buddha menetapkan Winaya:

  1. Untuk tegaknya Sanggha (tanpa Winaya, Sanggha tidak akan bertahan lama).
  2. Untuk kebahagiaan Sanggha (sehingga biksu mempunyai sedikit rintangan dan hidup damai).
  3. Untuk pengendalian diri orang-orang yang tidak teguh (yang dapat menimbulkan persoalan dalam Sanggha),
  4. Untuk kebahagiaan biksu-biksu yang berkelakuan baik (pelaksanaan sila murni menyebabkan kebahagiaan sekarang ini),
  5. Untuk perlindungan diri dari asawa dalam kehidupan ini (karena banyak kesukaran dapat dihindarkan dengan tingkah laku moral yang baik),
  6. Untuk perlindungan diri asawa yang timbul dalam kehidupan yang akan datang (asawa tidak timbul pada orang yang melaksanakan sila dengan baik),
  7. Untuk membahagiakan mereka yang belum bahagia (orang yang belum mengenal Dhamma akan bahagia dengan tingkah laku biksu yang baik),
  8. Untuk meningkatkan mereka yang berbahagia (orang yang telah mengenal Dhamma akan bahagia melihat pelaksanaannya),
  9. Untuk tegaknya Dhamma yang Benar (Dhamma akan bertahan lama bila Winaya dilaksanakan dengan baik oleh para biksu),
  10. Untuk manfaat dari winaya (Winaya dapat memberi manfaat kepada makhluk-makhluk, terbebas dari dukkha, menuju Nibbana).”

(Anguttara Nikaya, Book of Tens, Discourse 31)

Dalam Buddhapaññati dan Abhisamacara disebut Winaya dapat diibaratkan bagaikan benang yang mengikat bunga-bunga menjadi suatu rangkaian, dengan cara demikian pula winaya membantu membentuk biksu Sanggha yang kuat.

Di jaman Buddha, mereka yang ditahbiskan menjadi biksu berasal dari keluarga yang tinggi, menengah bahkan rendah serta berbeda dalam sifat dan kasta.

Apabila tidak ada winaya untuk mengendalikan mereka atau apabila mereka tidak mematuhi winaya, maka mereka akan merupakan masyarakat biksu yang tidak baik dan hal ini tidak mendorong untuk timbulnya saddha dan pasada (keyakinan yang bijaksana dan kejernihan pandangan pada orang lain).

Apabila para biksu mematuhi winaya, maka mereka akan menjadi masyarakat yang baik yang mendorong timbulnya saddha dan pasada pada orang lain.

Bahkan dalam Mahaparinibbana Sutta, Ketika Ananda bertanya kepada Buddha apa yang akan menjadi guru setelah Ia wafat, Buddha menjawab,

“Apa yang diharapkan dariku, Ananda? Aku telah mambabarkan kebenaran tanpa perbedaan apa pun; karena demi kebenaran, tidak ada yang disembunyikan dalam ajaran Buddha… Adalah mungkin, Ananda, bahwa beberapa di antara kamu, akan timbul pikiran, ‘Kata-kata Sang Guru akan segera berakhir; sebentar lagi kita tidak akan memiliki seorang guru.’

Tapi jangan berpikir seperti itu, Ananda. Bila Aku telah pergi, ajaran dan aturan disiplin-Ku-lah yang akan menjadi gurumu.”

Dan aturan disiplin yang dimaksud dalam Mahaparinibbana Sutta tak lain adalah Winaya.

Abad Modern.

Kembali pada komunitas Sanggha, anggota Sanggha bernama biksu yang harus menjalankan 227 disiplin yang bernama winaya.

Dewasa ini muncul sejumlah postingan di facebook yang mempertanyakan apakah biksu boleh berjualan? Berdagang? Karena disinyalir ada biksu yang terlibat urusan Multi Level Marketing.

Ketika saya diminta pendapat, saya mengatakan dari sisi winaya, ini jelas pelanggaran. Lelakijagat dalam postingannya di grup Umat Buddha Mendukung KPK Menahan Yang Pantas Ditahan, menulis: karena biksu tidak boleh terlibat jual-beli. (Winaya Sutta, Nissaggiya-pācittiya, 19).

Lalu munculah sejumlah postingan foto dari Budi Hermawan, tentang biksu-biksu Therawada di Petailing Street Malaysia. Biksu-biksu itu, berjubah membawa mangkok patta sambil menjajalkan dagangan berupa gelang. Ada juga biksu Thailand yang melakukan Blessing seperti dengan cara memasukan kertas emas ke kepala umatnya. Perlembar kertas emas itu S$ 2. Ini dilakukan di salah satu toko alat-alat sembahyang Buddhis di Singapura.

Sekali blessing 2 dolar, Biksu Thailand di Singapura.
Fotografer:Budi Hermawan

Beragam tanggapan dan komentar:

Terhadap postingan Bro Budi Hermawan di wall saya, saya forward ke grup Buddhayana. Komentar pro dan kontra muncul sebagai berikut:

Teh Choo Sian: Pertama-tama, Petaling Street di kena “Duit ada di seluruh jalan situ”. Lagi sana tidak ada budaya “buat dana” atau “pindapatta”. Biksu-biksu ai manusia juga, perlu wang untuk makan, belanja hidup. Saya pikir karena kehidupan, mereka jual barang di situ.

Gyatso Zangmo: Bro…terima kasih. Gua ga tertarik dengan mengoreksi orang lain. Bro…semua orang punya cara hidupnya sendiri, selama kita belum tahu motivasinya…kita hanya melihat dari pemikiran kita sendiri. Mudah melihat kesalahan orang lain tapi sulit menghargai kebaikan orang lain. Lebih sulit lagi mengakui dan melihat kesalahan sendiri dan berani bertanggung jawab. Teh Choo Siang… ya semua orang butuh uang untuk hidup. Kamu bijaksana dalam melihat situasi, tidak menghakimi orang lain. 🙂 Terima kasih

Eko Nugroho Rahardjo: bisa jadi cuma orang yang pake jubah biku, di Bodhgaya India yang macam ini saya juga bisa ketemu tiap hari, malah mereka bukan berjualan pernak-pernik souvenir tapi agak lebih cerdik, menyambut pengunjung yang keluar masuk kuil dengan pembacaan paritta pemberkahan… kalo ada patroli kamtib mereka buru-buru menyingkir biar gak kena gebuk rotan petugas hehehe… yahh dunia… cari makan susah om… hehehe…

Chrismanto Kusuma: Dalam buku Yoga. Ada tahapan pembersihan yang terbagi 4 tahap. 1. Arambha. 2. Ghata. 3. Parichaya. 4. Nishpatti. Di dalam tubuh manusia ada NADI yang terdiri dari 3 tahap. Sushumna, Ida dan Pingala. Jadi jangan kaget para praktisi kadang berbuat salah yang tdk bisa kita terima secara akal sehat karena ada faktor2 Karma yang menghambat proses Kesucian. Jadi biarkan saja semoga dia menemukan jalan Meditasi yang benar dan semoga semua karma buruknya dapat terkikis pelahan lahan sesuai karma masing2.

Warsito Djufri: Sudah sangat jelas ini Bikkhsu GADUNGAN, ini dikoordinir oleh orang dari Tiongkok! Penjelasan sama seperti Faldly.

Bachtiar Ismail: Dalam Sapurisa Sutta, Buddha mengatakan:
‘Misalnya, ada seseorang yang jahat tetapi ahli dalam Winaya dan ia berfikir, ‘Aku adalah seorangahli dalam Winaya, tetapi yang lainnya bukan,’ dan ia meninggikan dirinya serta merendahkan orang lain.

Inilah Dhamma bagi orang jahat tersebut. Tetapi, orang yang baik berfikir seperti ini, ‘Ketamakan, kebencian dan kebodohan itu tak dapat dihancurkan karena keahlian dalam Winaya.’ Bahkan bila seseorang bukan ahli sama sekali dalam Winaya, ia masih dapat menjalankan latihan sesuai dengan Dhamma, dapat mempraktekkannya dengan benar, dapat hidup sesuai dengan Dhamma; dan, oleh karenanya, ia pantas mendapatkan penghargaan dan penghormatan.’ Setelah menjadikan Jalan Buddha hal yang utama dalam hidupnya, ia tidak meninggikan dirinya ataupun merendahkan orang lain. Inilah Dhamma bagi orang yang baik itu.’ (M.III,39)

Hasan Lo: Terserah ke masing2, mau jadi apatis atau tidak, tapi ingat,  apakah anda pernah menjadi pemula / starter dalam BuddhaDharma ? Bagaimana kondisi anda (luar, dalam dan yg tersembunyi) sebagai starter, coba renungkan ? Apalagi jika starter tertipu oleh Gadungan? Apa yg timbul dalam pikiran / kesan starter tersebut? Apakah kita salahkan karma aja? Seperti umum / biasanya, lebih mudah masalah selesai…hehehe
Sedikit bijaksana bukan berarti membiarkan dan ber- “assume” that life will go on and on and on on on….hehehe

Komentar saya?

Sepanjang yang saya tahu, Buddhisme mengajarkan Ehipassiko: Datang, lihat, buktikan.

Yang Buddha ajarkan adalah ‘penyakit’ itu ada, sumber penyakit ada, penyakit bisa sembuh, ada cara menyembuhkan penyakit itu.

Ketika kita enggan melihat penyakit, berpura-pura tidak tahu, berpura-pura tidak ada penyakit, semua baik-baik saja, berpura-pura bijaksana, atau menghakiminya sebagai aib… bahkan menyalahkan orang yang memberitahu kita sedang sakit, hahaha, dalam pandangan saya… sepertinya kita tak hidup di alam nyata.

Wake up please, meski tak mengenakkan, realita ini ada, sentuhlah dia, kasihanilah dia, bantulah dia.

Kesimpulan

Ketika terjadi biksu melakukan pelanggaran winaya, dengan berdagang dan sebagainya, mungkin kita bisa bersikap macam-macam: tidak mau tahu, terheran-heran, mencercah, tidak mau lihat dan menyalahkan orang yang memberitahu dan sebagainya.

Semua itu sah-sah saja, karena kita adalah pemilik dari pemikiran kita sendiri.

Pertanyaan kemudian, dimana peran Sanggha? Komunitas monastik yang seharusnya melindungi dan menjaga anggotanya?

Kemana peran umat penyokong Sanggha? Yang harusnya menyediakan kebutuhan mendasar Sanggha, sehingga biksu tak perlu terlibat urusan jual beli yang melanggar winaya?

Sedemikian sulitkah penghidupan biksu itu, sehingga harus mencari makan dengan merintis karir di bidang multi level marketing? Lalu apa makna penabhisan sebagai samana dan jubah yang dipakai? Sekedar seragam untuk keperluan upacara?

Ah, entalah. Mungkin, kita ada dalam sebuah masyarakat Buddhis yang ‘sakit’.

SARA adalah Mahakarya Penjajah Belanda

foto dari erepublik.com

Konon, mempertentangkan Islam dengan Tionghoa mulai dilakukan Belanda setelah mengetahui Raden Patah adalah keturunan Tionghoa. Penyelidikan berikutnya setelah menyita dokumen-dokumen di Klenteng Sam Po Kong, mereka lebih kaget lagi, 8 dari 9 Wali yang begitu dihormati dalam siar Islam adalah keturunan Tionghoa!

Kekhawatiran orang Tionghoa, Jawa, Melayu bersatupadu melawan misi 3G(Gold, Glory, Gospel= kekayaan, kejayaan dan misionaris), membuat Belanda memakai politik devide et impera baru, memecah belah Tionghoa dan orang Melayu, Jawa yang mayoritas sudah di-Islamkan oleh 9 Wali.

Di situlah cerita bermula, kebencian berbau SARA pada orang-orang Tionghoa yang sampai hari ini bagai bara dalam sekam di Indonesia.

Sehingga menurut saya, dosa Belanda teramat besar. Secara tak langsung, Belanda bertagungjawab terhadap seluruh kerusuhan berbau etnis di Indonesia hingga hari ini.

Khusus etnis Tionghoa saja, nama: Kali Angke, Tanah Abang, Rawa Bangke menjadi saksi bisu pembantaian orang-orang Tionghoa di Jakarta akibat api kebencian yang disulut Belanda.

Tahun 1740, di Batavia terjadi perebutan kekuasaan posisi Gubernur Jenderal Hindia-Belanda antara Valckenier dan Van Imhoff  yang juga memakai pola mengorbarkan kebencian terhadap orang-orang Tionghoa.

Kuat dugaan, metode sejenis, terus digunakan hingga di alam kemerdekaan ini. Amatilah kerusuhan berbau etnis di Indonesia, kerusuhan tahun 66, 88, seringkali merupakan riak-riak yang diciptakan beberapa petinggi yang tengah memperebutkan kekuasaan.

Ibarat perpatah, Gajah bertarung, pelanduk mati di tengah-tengah. Yang paling dekat saat ini adalah Pikada DKI 1, yang juga coba bermain di air keruh, memancing isu SARA.

Lihatlah kejadian tahun 1740. berlangsung di Batavia dari 9 Oktober hingga 22 Oktober. Sebagian besar sejarawan mencatat sebanyak 10.000 orang Tionghoa yang berada di dalam kota Batavia dibunuh, dan 500 lagi mengalami luka berat. Antara 600 dan 700 rumah milik orang Tionghoa dijarah dan dibakar.Vermeulen mencatat 600 orang Tionghoa yang selamat,sementara sejarawan Indonesia A.R.T. Kemasang mencatat 3.000 orang yang selamat. Sejarawan Tionghoa-Indonesia Benny G. Setiono mencatat bahwa sebanyak 500 tahanan dan pasien rumah sakit dibunuh, dengan jumlah orang yang selamat sebanyak 3.431.

Pembantaian ini disusul oleh periode yang rawan pembantaian terhadap warga keturunan Tionghoa di seluruh pulau Jawa, termasuk satu pembataian lagi di Semarang pada tahun 1741, dan beberapa pembantaian lain di Surabaya dan Gresik.

Angke, Tanah Abang, Rawa Bangke

Pembantaian ini mungkin juga menjadi asal nama beberapa daerah di Jakarta. Salah satu etimologi untuk nama Tanah Abang (yang berarti “tanah merah”) ialah bahwa daerah itu dinamakan untuk darah orang Tionghoa yang dibunuh di sana; van Hoëvell berpendapat bahwa nama itu diajukan agar orang Tionghoa yang selamat lebih cepat menerima amnesti. Nama Rawa Bangke mungkin diambil dari kata bangkai, karena jumlah orang Tionghoa yang dibunuh di sana; etimologi serupa juga pernah diajukan untuk Angke di Tambora, Jakarta Barat. Namun ada yang berpendapat, Angke berasal dari bahasa Hokkian (sungai merah). Karena saat itu mayat-mayat orang tionghoa bergelimpangan di kali itu, sehingga air di kali berwarna merah darah. Vermeulen menyebut pembantaian tahun 1740 ini, sebagai “salah satu peristiwa kelam dalam kolonialisme Belanda pada abad ke-18 yang paling menonjol”.

 Belanda Harus Minta Maaf

Seharusnya kita menuntut Belanda meminta maaf. Karena politik devide et impera yang mereka tanamkan tiga setengah abad lalu, terus mengakar dan menyebabkan kebencian pada orang Tionghoa terus berlanjut. Sebuah konspirasi besar penjajahan bermotif 3G (Gold, Glory, Gospel) yang terus berevolusi, yang dikatakan Bung Karno sebagai neocolonialism.

Neocolonialism

Bung karno, presiden RI pertama berhasil memimpin perlawanan terhadap penjajahan hingga mendeklarasikan Kemerdekaan RI. Namun, ironisnya, sejarah mencatat, Bung Karno sendiri berhasil digulingkan bentuk baru neocolonialism ini.

Saat Bung Karno jatuh, pemerintah Orde Baru didukung Amerika dan kroni-kroninya mulai menancapkan kuku-kukunya di Indonesia.

Mengiringi masuknya modal Amerika dan sekutunya menguras berbagai kekayaan alam dan tambang Indonesia (Gold), gaya hidup, produk dan idiologi barat merajalela (Glory), sekolah dan pusat-pusat kebudayaan Tionghoa ditutup, sekolah dan rumah sakit misionari berkembang pesat (Gospel). Lengkaplah neocolonialism di abad kemerdekaan. Dalam hal ini yang saya bahas, penjajahan kebudayaan Tionghoa oleh kaum misionari.

Hasil penjajahan ini, banyak generasi muda Tionghoa Indonesia tak mengenal budaya nenek moyangnya.

Tahun 1999, saat menjadi design grafis di sebuah percetakan di Kedoya, aku mendengar bos saya yang orang Tionghoa mendapat ucapan selamat tahun baru Imlek dari rekannya, ia menolak dan mengatakan, “Saya tidak merayakan Imlek, saya Kristen” katanya.

Kemudian, setelah reformasi, ada kebijakan berbeda dari kaum misionari. Bila jaman Orde Lama mengangap perayaan Imlek sebagai hari besar Buddha/ Konghucu dan tak perlu dirayakan oleh umat Kristen. Karena erat dengan pemujaan berhala. Namun,  setelah pemerintah Indonesia, Gus Dur lewat keppres No,6/ 2000 menjadikan Imlek libur fakultatif dan pemerintahan Megawati tahun 2000 menjadikan Imlek hari libur Nasional, mungkin supaya tidak kehilangan umatnya yang Tionghoa, beberapa gereja mulai melakukan Misa Imlek?

Dari tahapan itu saya melihat, api dalam sekam bernama SARA yang dimulai Belanda, telah dilanjutkan penguasa Orde Baru, dengan beragam peraturannya yang mendiskriminasikan orang Tionghoa. Puncaknya adalah meletusnya kerusuhan Mei 1998, yang konon menurut beberapa sumber berita, ada jendral-jendral yang adu kekuatan di belakangnya.

Jadi, di perayaan Hut RI ke 67 ini yang ingin saya tanyakan adalah, apakah kita sudah benar-benar merdeka?

Indikatornya adalah: Apakah kita sudah mengelolah hasil bumi dan pertambangan kita sendiri? Apakah kita sudah menggunakan produk anak bangsa sendiri? Apakah kita sudah bangga dengan kebudayaan kita sendiri? Kebudayaan Jawa, kebudayaan Betawi, Kebudayaan Tionghoa, Kebudayaan Melayu, Kebudayaan Bali, maupun Kebudayaan Papua.

Dan terakhir, apakah kita masih belum bisa menghindari isu SARA warisan kolonia Belanda?

Jika jawabannya belum, that’s right, Selamat! Kita masih belum merdeka!

Warning: Tulisan diatas adalah pendapat penulis pribadi, tidak mewakili institusi manapun, juga belum pasti kebenarannya, jadi jangan terlalu dipercaya maupun terlalu tidak dipercaya, hehe.

Bab VI. Cetiya Pertama di Rumah Eddy Tan Tjong Leng

Bab VI. Cetiya Pertama di Rumah Eddy Tan Tjong Leng

“Rumah ini adalah wihara. Dulu, sebelum wihara di sana berdiri, disinilah wiharanya.”

Eddy Tan Tjong Leng
Rumah Eddy Tan Tjong Leng (2012), Cetiya pertama di Palembang, tempat ibadah umat Buddha sebelum Wihara Dharmakirti berdiri.
Rumah Eddy Tan Tjong Leng (1960). Foto diambil oleh Kumuda Dharmatanna, sesaat setelah wisudhi Sapta(7) Upasaka pertama di Seberang Ilir. Waktu itu Wihara Dharmakirti belum berdiri. Wisudhi dilakukan di cetiya yang terletak di ruang tamu rumah Eddy Tan Tjong Leng.

Pada tahun 1960, pusat kegiatan Agama Buddha di 10 Ulu adalah di Wihara Kwam Im (Chandra Nadi), dimana saat itu Romo Tan Ek Kai (Maha Upasaka Padma Nanda) menjadi Locu (Ketua Yayasannya).

Seberang Ulu dikenal sebagai daerah asli masyarakat Palembang, baik Tionghoa maupun Melayu. Ada banyak klenteng di sana. Banyak orang Tionghoa bermukim di sana, yang secara ekonomi kurang mampu. Hanya ada beberapa pengusaha hasil bumi yang sangat kaya seperti Goei Kim Hock.

Tan Ek Kai merupakan sesepuh orang Tionghoa di seberang Ulu. Neneknya sendiri adalah putri Tiongkok beragama Islam, yang menikah dengan keturunan raja-raja Sriwijaya di Palembang. Karena kesaktiannya, makam neneknya kini menjadi tempat yang dikramatkan masyarakat Banyulincir, dan dikenal sebagai ‘Nyai Banyulincir’.

Sedangkan di Seberang Ilir, yang dibatasi sungai Musi, merupakan hunian peranakan atau pendatang, yang secara ekonomi lebih mapan. Ekonomi yang baik dan bentuk bangunan yang moderen, membuat seberang Ilir dianggap daerah kota dibandingkan Seberang Ulu.

Diantara peranakan Seberang Ilir ini adalah Eddy Tan Tjong Leng, saudagar pendatang dari Cirebon. Eddy Tan Tjong Leng yang kaya, menikah dengan wanita kaya di Palembang, membuat beliau menjadi salah satu orang terkaya di Palembang saat itu, selain Goie Kim Hock.

Eddy Tan Tjong Leng (Maha Upasaka Pandita Kumuda Nanda).

“Dialah, bersama Goei Kim Hock merupakan orang pertama yang punya mobil di Palembang,” kata Dr. Jan Hadi, anak dari Romo Tan Ek Kai.

“Kalau ada acara, kita bawa umat pakai mobil Goei Kim Hock. Tapi kalau buat antar jemput Bhante, pakai mobil Eddy Tan. Karena mobil Eddy Tan yang paling bagus,” kata Romo Yangtjik.

Untuk pembabaran Dharma di Seberang Ilir, dibuatlah cetiya pertama di Rumah Eddy Tan. Tempat kebaktian dan pembabaran Dharma dilakukan.

Pada jamannya, Rumah Eddy Tan di Jalan Teratai nomor 1/5571, merupakan rumah mewah di Palembang. Saat kebanyakan rumah masih dari kayu, rumah Eddy Tan yang menjadi cetiya, sudah merupakan rumah tembok berasitektur Belanda.

Di rumah ini pula, Eddy Tan mengalami sendiri bukti kekuatan batin Ashin Jinarakkhita.

Dikatakan, pada suatu hari Eddy Tan yang saat itu duda beranak tiga seharusnya berkunjung ke makam istrinya, tapi ia belum jua berangkat. Sampai akhirnya Ashin Jinarakhhita yang ada di cetiya di rumahnya mengingatkannya:

“Belum berangkat?”

“Kenapa Bhante?”

“Tadi pagi sudah dijemput.”

“Dijemput siapa, Bhante?” kata Eddy Tan heran.

“Istrinya.”

Sekonyong-konyong Eddy Tan menatap aneh Ashin Jinarakkhita. Istrinya sudah lama meninggal. Teman-teman aktivis Buddhis tak pernah mengenal almahum istrinya. Bagaimana bisa biksu muda yang baru muncul ini mengaku tahu istrinya? Melihat istrinya datang menjemputnya?

Di hari tertentu, ia memang rutin mengunjungi makam istrinya. Hari ini, seharusnya ia sudah ziarah ke makamnya. Tapi, perkataan biksu ini sungguh di luar akal sehat.

Untuk membuktikan Ashin Jinarakkhita memang ‘melihat’ kedatangan istrinya, Eddy Tan mengambil sebuah foto, satu dari beberapa orang dalam foto itu adalah istrinya.

 Hebatnya, Ashin Jinarakkhita dengan cepat, tepat menunjuk sosok dalam foto yang tak lain memang istrinya yang sudah meninggal, “ini istrimu yang datang menjemput tadi pagi.”

Sejak itu keyakinan Eddy Tan kepada Ashin Jinarakkhita bertambah kuat.

Wisudhi 7 Upasaka Pertama di Seberang Ilir

Di rumah Eddy Tan Tjong Leng ini pulalah, Ashin Jinarakkhita memberikan wisudhi 7 upasaka pertama di Seberang Ilir Palembang, untuk membantu tugas-tugasnya.

Ketujuh Upasaka pertama di seberang Ilir ini, dikenal sebagai Sapta Kumuda:

  1. Kumuda Nanda (Eddy Tan Tjong Leng)
  2. Kumuda Dharmatanna (Tan Guan Tjai)
  3. Kumuda Putra (Lim Ek Siu)
  4. Kumuda Chandra (Tan Ken Yung Kin).
  5. Kumuda Ratna (Tante Noni) Merupakan Upasika pertama.
  6. Kumuda Siri (William Chia)
  7. Lim Tji Lam (?)

Wisudhi 7 Upasaka Pertama di Seberang Ulu

Setelah itu, rombongan berangkat untuk melantik 7 Upasaka pertama di seberang Ulu.  Tan Ek Kai, sesepuh masyarakat Tionghoa di Seberang Ulu yang hadir saat wisudhi di rumah Eddy Tan Tjong Leng menyertai rombongan ke Seberang Ulu.

Saat itu, jembatan Ampera dan perahu mesin belum ada. Ashin Jinarakkhita muda dan rombongan, menyebrangi sungai Musi dengan sampan (perahu dayung).

Setiba di Seberang Ilir, dengan jubah merah maron berkibar oleh angin, sedikit basah oleh percikan air sungai Musi dari hempasan dayung kayu sampan yang terangkat, beliau melompat dari sampan.

Bertemankan udara pesisir khas berbau ikan, beliau meniti jembatan kayu dan tanah becek. Tak lama, tibalah rombongan di klenteng Kwam Im, dimana Tan Ek Kai sebagai Locu klenteng sudah mempersiapkan acara wisudhi Upasaka di Klenteng Kwam Im, Seberang Ulu .

Ternyata, berbeda dengan di Seberang Ilir, dimana Ashin Jinarakkhita memberi nama wisudhi serba ‘Kumuda’, untuk seberang Ulu ini diberi nama serba ‘Padma’.

 Ketujuh Upasaka pertama di Seberang Ulu ini adalah:

  1. Padma Nanda (Tan Ek Kai)
  2. Padma Kusala (Tji Siang Bo)
  3. Padma Gaya (Ong Kian Gwan)
  4. Padma Mula (Romo Poni)
  5. Padma Chandra (Romo Yangtjik)
  6. Padma…(I Ketut Danging-Brimob)
  7. Padma Sadha (…..

Setelah itu, dengan peran serta pembantu-pembantunya ini, Buddha Dharma berkembang pesat di Palembang. Wisudhi Upasaka terus dilakukan. Dua tahun kemudian, tepatnya 8 Juli 1962 Wihara Dharmakirti berdiri.

Salah satu Upasaka yang kemudian cukup menonjol adalah Upasaka Sri Kumuda Gayasih (Tjia Tian Sun), yang merupakan penulis dan penerjemah buku.

 “Pada awal kebangkitan kembali Agama Buddha di Indonesia dimana bacaan Buddhis dalam Bahasa Indonesia sangat jarang, Kumuda Gayasih sudah banyak menerjemahkan dan menerbitkan buku Buddhis. Kehadiran buku-buku beliau, membawa atmosfer tersendiri bagi mereka yang haus Buddha Dharma,” kata Bhante Dharmavimala.

Buku-buku hasil terjemahan Kumuda Gayasih adalah: Sutra Hati, Sutra Intan, Sutra Pertanyaan Dewa, Vinaya Mahayana, Meditasi Buddhis, Pemadaman Total Tanpa Sisa, Pendekatan yang Benar pada Dharma, Satipatthana dan Anapanasati.

Beberapa dari buku itu, bisa didownload dari grup-grup diskusi Buddhis di Internet, dengan bahasa yang sudah diedit mengikuti EYD (Ejaan yang Disempurnakan). Tapi sayang, ada yang tak mencantumkan Kumuda Gayasih sebagai penerjemahnya.

Masa Tua Eddy Tan Tjong Leng

Kondisi politik di Indonesia tahun 60-an sungguh tak menentu, atau Bung Karno mengatakan ‘Revolusi selalu memakan anak kandungnya sendiri.”

Demikian halnya Eddy Tan. Saat peristiwa PKI meletus dan muncul sentimen anti Tionghoa, dimana kantong-kantong kebudayaan Tionghoa dirusak dan dijarah, Eddy  Tan termasuk ‘anak kandung’ korban revolusi.

Ia sempat ditangkap, percetakan dan hartanya disita dengan semena-mena. Bahkan menurut Bastian Hendrawan (keponakan Biksuni Jinaloka), Romo Eddy Tan yang pernah menjadi orang terkaya di Palembang itu, sampai berjualan kue kering door to door ke rumah kenalannya. “Saya sempat beli, karena saya dan Biksuni Jinaloka cukup dekat dengan beliau,” tulisnya di FB mesengger.

Melalui banyak kesulitan, termasuk masa Ashin Jinarakkhita digoyang oleh muridnya sendiri yang mendapat pengaruh Dhammayut, yang diarsiteki oleh Dharmaduta dari Thailand yang ia undang untuk membantu penabhisan biksu di Indonesia, Upasaka Kumuda Nanda atau Eddy Tan tetap setia kepada Ashin Jinarakkhita.

Melalu proses waktu, Eddy Tan di Seberang Ilir dan Tan Ek Kai di Seberang Ulu, karena jasa-jasanya dalam penyebaran Dharma di Palembang, diangkat menjadi Maha Upasaka Pandita. Sebuah penghargaan yang sangat jarang diberikan, biasanya hanya kepada pribadi yang menunjukkan kualitas pengabdian luar biasa.

Namun sayang, kualitas kesetiaan dan pengabdian yang begitu panjang, akhirnya runtuh oleh penyakit kanker ganas yang  menggerogotinya.

“Menyedihkan, membaca kisah Romo Eddy. Saat sakit dia tak punya biaya berobat. Mungkin inilah yang dimanfaatkan pihak Kristen M,” tulis Bastian.

Terbujuk Kristen M

“Mulanya ada benjolan sebesar bisul di leher Papa. Papa melakukan pemeriksaan ke dokter. Kata dokter, Papa tak bisa dioperasi karena faktor umur dan glukoma. Akhirnya diambil cairan dari benjolah itu untuk dianalisa.

Namun, setelah diambil cairannya, benjolan itu justru tumbuh membesar, hingga sebesar gondok. Rasa sakitnya sungguh mengganggu Papa, Papa cuma ingin sembuh,” kata Metha Maria Tanzil dengan mata lelah, anak dari istri kedua Almarhum Eddy Tan yang kini mendiami rumah bersejarah itu.

Metha Maria Tanzil, anak Almarhum Eddy Tan Tjong Leng dari istri kedua.

“Datanglah keponakan Papa yang beragama Kristen Protestan M. Keponakan itu dan pendetanya menyakinkan, Papa bisa sembuh, bila mengikuti ritual Kristem M.

Papa yang juga pendeta agama Buddha, oleh penderitaannya, sangat ingin sembuh. Itulah yang membuat Papa terbujuk mengikuti ritual penyembuhan Kristen M,” kata Metha yang mencuri waktu pulang dari tempat kerjanya saat jam istirahat makan, untuk menemui kami yang menunggu di depan pagar rumahnya yang selalu terkunci.

“Papa tidak dipermandikan secara Kristen. Namun, dua hari setelah mengikuti ritual mereka, pendeta dari Gereja M dan orang-orangnya datang ke rumah, mereka menyita semua perlengkapan sembahyang di cetiya, altar milik Papa. Tanpa minta ijin dan sebagainya, mereka membawa patung-patung dan barang sembahyang Papa. Tidak tahu dibawa kemana. Sepertinya mereka beralasan papa sakit karena barang-barang itu.”

Bagaimana dengan kondisi Eddy Tan? Apakah membaik sesuai janji pendeta Gereja M?

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Bukannya sembuh dari sakitnya seperti dijanjikan Pendeta itu, setelah mengikuti ritual mereka sampai kemana-mana, kondisi Eddy Tan yang saat itu berumur 70-an justru memburuk.

Sebulan kemudian, Maha Upasaka Kumuda Nanda yang kondisinya kian payah setelah mengikuti ritual Kristen M, jatuh di kamar mandi  dan mengalami pendarahan hebat di benjolannya.

“Dokter Jan Hadi yang kami telepon, membantu dan merekomendasikan Papa ke rumah sakit Carita. Masuk UGD, ” tambah Metha.

“Kemudian, seminggu sebelum meninggal, menurut Mama, Papa minta dipermandikan sebagai Katolik. Kata Mama, Papa takut nanti tak ada yang merawatnya. Karena Mama beragama Katolik, anak Papa dari almarhum istri pertama maupun Mama sebagai istri keduanya juga beragama Katolik.”

Ketika ditanyakan, apakah Mitha mendengar permintaan untuk dikatolikkan langsung dari Papanya, Mitha menjawab ia hanya mendengar dari mamanya, bukan langsung dari papanya.

Saat itu, anak-anaknya juga berpikir risih, apa kata orang nanti, kalau papa yang seorang Maha Upasaka Pandita Agama Buddha, tiba-tiba menjadi Katolik. Tapi kata Mama, permintaan itu datang dari Papa sendiri.

Seminggu setelah dipermandikan secara Katolik, tepatnya 14 Januari 1999, mantan Maha Upasaka Kumuda Nanda (Eddy Tan Tjong Leng) menghembuskan nafas terakhir.

Setelah tulisan ini aku posting di blog harpin.wordpress.com, Bastian Hendrawan (keponakan Biksuni Jinaloka) mengontak lewat Facebook Messengger. Menurut Bastian, dua hari sebelum Romo Eddy meninggal, ia dan Biksuni Jinaloka sempat menjengguknya di rumah sakit:

“Waktu dirawat di rumah sakit beliau sakit keras sudah poisisi gak ingat lagi, saya besuk dengan Bhiksuni Jinaloka , beliau tidak bisa bicara, tapi masih bisa anjali pai Bhiksuni … “.

Menurut Bastian yang saat itu berusian 35 tahunan, sudah lama benjolan itu tumbuh, Eddy Tan sakit tak ada biaya utk berobat . Sepertinya orang-orang sudah lupa dengan jasa-jasa beliau. Entah mengapa, Biksuni Jinaloka menjenguknya juga diam-diam, hanya mengajak Bastian seorang.

“Waktu kami masuk ke ruangan , beliau dibisiki oleh penjaganya ( anaknya ? ) mungkin berkata ada Biksuni, beliau langsung namaskara pelan2, Biksuni terlihat terharu terus diam berdoa , sudah itu kami permisi sama si penjaga, terus dimobil Bhiksuni bilang tadi romo ada ucap salam .. Auummm …., mungkin alasan bahwa romo sdh bukan Buddhis lagi , Biksuni besuk berdua aja sama aku…. Omitofu”.

Posisi dan rak altar cetiya itu tak berubah. Hanya, perlengkapan puja, patung maupun aksesoris Agama Buddha yang menghiasinya sudah tak ada. ‘Disita’ pendeta Gereja M. Kini, di atas altar itu berganti salib, Patung Yesus dan Bunda Maria, serta foto almarhum. Paling kiri adalah foto ayahanda Eddy Tan. Paling kanan adalah foto Almarhum Eddy Tan. Sedangkan yang ditengah adalah foto istri kedua Eddy Tan: Almarhumah Theresia Hewida. Guci di tengah adalah abu almarhumah Theresia Hewida.

Saat rombongan duka Wihara Dharmakirti datang untuk mendoakan dan mengatur upacara kematiannya, istri Eddy Tan menolak dengan alasan sebelum meninggal, Eddy Tan atau Maha Upasaka Kumuda Nanda sudah menjadi Katolik. Jadi, semua upacara dan doa harus secara Katolik.

Kali ini, rombongan duka Wihara Dharmakirti benar-benar pulang dengan duka. Rumah yang pernah menjadi cikal bakal wihara Dharmakirti telah menolak mereka.

Bahkan, mereka tak diijinkan memberikan pelayanan atau doa di akhir hidup Maha Upasaka yang telah banyak berbuat untuk wihara dan Agama Buddha di Palembang.

Saat saya tanyakan ke Bastian, apakah dia maupun Biksuni Jinaloka datang di hari meninggalnya Eddy Tan, karena menurut Bastian, dia dan Biksuni Jinaloka dekat dengan Eddy Tan. Bastian bilang, dia tidak datang, Biksuni Jinaloka sepertinya juga tidak datang, dia tak tahu waktu itu alasannya kenapa.

Theresia Hewida

Istri kedua dari Eddy Tan bukan orang asing bagi pengurus Yayasan Buddhakirti. Sebelum menikah dengan eks Maha Upasaka Kumuda Nanda, beliau adalah guru di sekolah Padmajaya milik Yayaan Buddhakirti di Seberang Ulu.

Almarhumah Theresia Hewida, istri kedua Eddy Tan Tjong Leng. Beliau merupakan mantan guru dan kepala sekolah di SD Padmajaya milik Yayasan Buddhakirti.

Saat menjadi Ketua Komisi Pendidikan Padmajaya (menggantikan Ibu Healthy-istri Romo Tanjung yang pindah ke Jakarta) di Seberang Ulu inilah, Eddy Tan yang saat itu duda beranak tiga berkenalan dengan bakal istri keduanya yang masih muda usia, Theresia Hewida.

Cinta bersemih. Eddy Tan menjadi muda kembali. Sangat bersemangat, dandy dan trendy jika berangkat ke Sekolah Padmajaya di Seberang Ulu dari rumahnya di Seberang Ilir.

Beliau bisa berlama-lama menunggu ibu guru Theresia Hewida  yang tengah mengajar. Ibu guru muda Theresia Hewida  yang beragama Katolik, kemudian diangkat Eddy Tan menjadi kepala sekolah SD Padmajaya.

Akhirnya, mereka menikah dan hidup dalam perbedaan agama. Eddy Tan tetap menjalankan aktifitasnya sebagai aktifis Buddhis, dan istrinya tetap hidup dalam aktifitasnya sebagai aktifis gereja Katolik.

Anak-anak Eddy Tan, baik dari istri pertama maupun kedua, sampai saat ini mengikuti agama istri kedua Eddy Tan, yakni Katolik. Kecuali seorang putrinya dari istri pertama, mungkin mengikuti agama dari suaminya yang bereknis Melayu. Pernikahan putrinya itu, tak direstui Eddy Tan.

Eddy Tan sendiri menjadi Katolik dalam kondisi sakit parah, kesadaran lemah, tidak bisa bicara dan nyaris tak ingat apa-apa, tepatnya seminggu sebelum beliau meninggal.

Informasi kondisi terakhir Romo Eddy Tan didapat secara tak langsung dari kesaksian Bastian di atas, bersama Biksuni Jinaloka mengunjunginya dua hari sebelum beliau meninggal.

Foto keluarga besar almarhum Eddy Tan Tjong Leng minus Eddy Tan Tjong Leng, terdiri istri keduanya Theresia Hewida berserta semua anak, menantu dan cucu-cucunya. Foto direkayasa grafis, karena saat pembuatannya Eddy Tan Tjong Leng maupun Theresia Hewida sudah meninggal.

In Memoriam.

Apakah Metha ingat, hal paling berkesan dari Papanya?

“Dulu, meskipun Wihara Dharmakirti sudah berdiri, setiap waisak rombongan dari Wihara Dharmakirti selalu mengadakan kebaktian di rumah ini. Waktu itu Metha masih SD. Metha tanya ke Papa, ‘Pa, kenapa orang dari wihara sembayang di sini?’ Jawab Papa: ’Rumah ini adalah wihara. Dulu sebelum wihara di sana berdiri, disinilah wiharanya.’”

Keterangan sosok dalam foto tahun 1960 mengikuti abjad di bawah.

  1. (A) Tjie Sian Boh
  2. (B)Tan Yong Huat
  3. (C)Lim Ek Sioe (Kumuda Hema Putra)
  4. (D)So Tjiang Poo (Kemudian dikenal sebagai Yoga Murti).
  5. (E)Eddy Tan Tjong Leng.
  6. (F)Tan Ek Kai (Padmananda Tanzil)
  7. (G)Pandita Dharmarutji Ida Bagus Giri (kemudian lebih dikenal sebagai Biku Girirakkhita)
  8. (H)Injo Hong Hai
  9. (I)Goei Kim Hock (Ketua Yayasan yang Pertama).
  10. (J)Goei Kim Sek
  11. (K)Tan Guan Tjhai (Kumuda Dharmatanna), ayahanda dari Budiarsi dan Sanjaya.
  12. (L)Mertua dari Eddy Tan Tjong Leng.
  13. (M)Istri dari Yogamurti
  14. (N)Istri dari Tan Guan Tjhai (Kumuda Dhanatana), Ibunda dari Budiarsi.
  15. (O)Tante Nonik (Kumuda Ratna), merupakan Upasika pertama di Palembang.
  16. (P)Budiarsi.
  17. (Q)Dr. Jan Hadi S.T, pada saat itu kelas 3 SMU.
  18. (R)Sanjaya (adik dari Budiarsi).
  19. (S)Ashin Jinarakkhita
  20. (T)Adik dari Budiarsi
  21. (U)Toni Tanzil (Anak pertama dari Eddy Tan Tjong Leng dari istri pertama)
  22. (V)Eles Tanzil (Anak kedua dari Eddy Tan Tjong Leng dari istri pertama)
  23. (W)Niko Tanzil (Anak ketiga dari Eddy Tan Tjong Leng dari istri pertama)