Bab V. Akta Pendirian Yayasan Buddhakirti, 1961.

Bab V. Akta Pendirian Yayasan Buddhakirti, 1961

Akta Pendirian Yayasan Buddhakirti, 1961

 

ANGGARAN DASAR JAJASAN JAJASAN

____________________________

Tambahan Berita – Negara R.I. tanggal 14/11 – 1961 No.91

 _______________________________________________

JAJASAN “BUDDHAKIRTI”

 

Nomer 38.

Pada hari ini, hari Rabu, tanggal tudjuh belas Mei seribu sembilan ratus enam puluh satu (17/5 – 1961).

Maka menghadap dihadapan saja, Sie Poo Tjiang, atas kekuatan penetapan Menteri Kehakiman tertanggal enam belas Agustus  seribu sembilan ratus enam puluh nomer J.A.7/8/12, pengganti dari tuan Tan Thong Kie, notaris di Palembang, dengan dihadiri oleh saksi-saksi jang akan disebut dan jang telah dikenal oleh saja, notaris.

I. Tuan Goei Kim Hock, saudagar, tinggal di Palembang, kampung 4 Ulu nomer 541, menurut keterangannja dalam hal ini mendjalani:

a.      untuk diri sendiri;

b.      atas kekuatan kuasa termuat dalam surat kuasa dibawah tangan tertanggal enam belas Maret seribu sembilan ratus enam puluh satu jang dilekatkan pada asli surat akte ini, selaku wakil dari dan karena itu bertindak untuk dan atas nama tuan Tjia Siok Ing, pegawai Pabrik Es Sekanak, tinggal di Palembang, keduanja dikampung 28 Ilir, djalan Pabean nomer 210;

 II.           Tuan Tan Ek Kai, saudagar, tinggal di Palembang , kampung 10 Ulu, djalan     Tembok Baru nomer 560 Rt. Nomer 26, menurut keterangannya dalam hal ini mendjalani:

a. untuk diri sendiri;

b. atas kekuatan kuada termuat dalam surat kuasa dibawah tangan tertanggal enam belas Maret seribu sembilan ratus enam puluh satu jang dilekatkan pada asli surat akte ini, selaku wakil dari dan karena itu bertindak untuk dan atas nama:

1.tuan Tan Thiam Kioe, pedagang ketjil, tinggal di Palembang, kampung 10 Ulu;

2.tuan Lim Tjong Moh, saudagar, tinggal di Palembang, djalan Indrapura nomer

 III.  Tuan Eddy Tan Chong Leng, saudagar, tinggal di Palembang, djalan Teratai nomer 1/5571/Rt.10/20, menurut keterangannja dalam hal ini mendjalani;

a.      untuk diri sendiri;

b.      atas kekuatan kuada termuat dalam surat kuasa dibawah tangan tertanggal enam belas Maret seribu sembilan ratus enam puluh satu jang dilekatkan pada asli surat akte ini, selaku wakil dari dan karena itu bertindak untuk dan atas nama tuan-tuan:

  1. Oen Kian Hoat,pemimpin tjabang Central Trading Company,    tinggal  di Palembang, djalan Tjek Bakar nomer 5;
  2. Lim Ek Sioe, saudagar, tinggal di palembang, Lorong Abdul Hamid nomer 6 ;
  3. Injo Hong Hai, saudagar, tinggal di Palembang djalan Duku nomer 87;

IV.              Tuan Lim Hong Gan, pengusaha pemangkas rambut “Kambodja”, tinggal di Palembang, kampung 20 Ilir, djalan Djenderal Sudirman nomer 5605 Rt.10/20; menurut keterangannja dalam hal ini mendjalani;

a.      untuk diri sendiri;

b.      atas kekuatan kuada termuat dalam surat kuasa dibawah tangan tertanggal enam belas Maret seribu sembilan ratus enam puluh satu jang dilekatkan pada asli surat akte ini, selaku wakil dari dan karena itu bertindak untuk dan atas nama tuan Tan Guan Tjay, Pengurus N.V. Organa dan tuan Tan Jong Khin, pengawai N.V. Organa, keduanja tinggal di Palembang.

 V.                 Tuan Tan Jong Huat alias Hasan, saudagar, tinggal di Palembang, djalan Djenderal Sudirman nomer 115;

 VI.              Tuan Tjia Jan Hoen (Romo Yancik, red) , saudagar, tinggal di Palembang kampung 17 Ilir, Lorong Gedong nomer 7;

 VII.            Tuan Lie Sioe Seng, saudagar di Palembang, djalan Bukit Ketjil nomer 36;

 Para penghadap nomer V dan VI, VII masing-masing telah dikenal oleh saja, notaris sedangkan para penghadap lainnja masing-masing telah diperkenalkan kepada saja, notaris, oleh dua orang teman penghadapnja jang lain, sebagai saksi-saksi jang memperkenalkan.

      Para penghadap untuk diri sendiri dan mendjalani seperti tersebut menerangkan dalam surat akte ini bahwa mereka bersama-sama telah menjendirikan dan memisahkan uang tunai sebanjak Rp. 5.000,- (lima ribu rupiah) jang dipergunakan dan diperuntukkan chusus untuk mendirikan suatu Jajasan dengan aturan-aturan atau anggaran dasar seperti tersebut dibawah ini:

 Fatsal 1.

Nama, tempat kedududukan dan waktu.

  1. Jajasan ini bernama ;”Jajasan Buddhakirti” dan berkedudukan di Palembang, dengan perwakilan-perwakilan ditempat lain jang dpandang perlu oleh Badan Pengurus.
  2. Jajasan ini didirikan untuk waktu jang tidak ditentukan lamanja dan bermulai pada hari ini.

Fatsal 2.

Maksud dan tudjuan.

 Maksud dan tudjuan jajasan ini ialah mendirikan, meneruskan, melangsungkan dan mejelenggarakan Lembaga-lembaga atau usaha-usaha untuk penjiaran, pendidikan, pertumbuhan dan penjempurnaan pengadjaran Buddha Dharma dalam arti-kata jang seluas-luasnja.

 Fatsal 3.

Usaha-usaha.

             Untuk mentjapai maksud dan tudjuan tersebut diatas maka jajasan berusaha:

  1. mendirikan atau meneruskan serta memlihara Vihara-vihara sebagai tempat-tempat peribadatan Umum Buddhis;
  2. mendirikan atau meneruskan serta memelihara tempat-tempat perabuan (crematoria);
  3. mendirikan atau meneruskan serta mengusahakan sekolah-sekolah, kursus-kursus, tempat-tempat pengobatan, pemondokan-pemondokan jatim-piatu atau fakir-miskin;
  4. mengadakan perpustakaan, menerbitkan, menjebarkan atau mengedarkan buku-buku, brosur-brosur, madjalah-madjalah dan /atau naskah-naskah batjaan lainnja;
  5. mendjalankan segala usaha lainnja, asal sadja tidak bertentangan dengan Undang-undang atau anggaran dasar jajasan.

Fatsal 4.

Kekajaan.

  1. Untuk pertama kalinja jajasan mempunyai kekajaan berupa uang tunai sebajak Rp.5000,- (lima ribu rupiah) jang telah disendirikan dan dipisahkan tersebut dan selandjutnja kekajaan diperoleh dari:
    1. sokongan dan sumbangan dari perseorangan dan/atau badan-badan partikulir;
    2. sokongan bulanan tetap, subsidi atau bantuan lain dari pemerintah;
    3. hibah-hibah dan/atau hibah warisan;
    4. penghasilan dari usaha-usaha jajasan sendiri atau penghasilan lainnja jang sah dan tidak bertentangan dengan Undang-undang atau sifat jajasan.
  2. Uang kekajaan jajasan jang tidak segera dibutuhkan untuk keperluan jajasan dapat disimpan pada salah satu Bank atau ditjarikan laba dengan tjara jang akan ditentukan oleh badang pengurus.

Fatsal 5.

Badan pengurus dan badan pengawas.

  1. Jajsan ini diurus oleh suatu badan pengurus jang terdiri dari sekurang-kurangnja lima orang, diantaranya harus ada seorang Ketua, seorang Wakil Ketua, seorang Penulis, seorang Bendahara, dan seorang Komisaris.
  2. Jang boleh dipilih dan diangkat medjadi anggota badan penggurus hanja Warga Negara Indonesia.
  3. Para anggota badan pengurus dan badan pengawas diangkat oleh rapat umum para anggota badan pengurus/badan pengawas untuk dua tahun lamanja dan tiap dua tahun akan diadakan pemilihan anggota badan pengurus dan badan pengawas jang baru, sedangkan anggota jang lama dapat dipilih kembali.
  4. Badan pengurus mewakili jajasan dihadapan dan diluar Pengadilan dan bertindak untuk dan atas nama Jajasan, mengikat jajadan dengan fihak lain atau sebaliknja dan dalam segala hal serta kedjadian badan pengurus berhak untuk melakukan segala tindakan, baik jang mengenai pengurusan maupun jang mengenai pemilikan (daden van beheer en daden van eigendom) dengan tidak terbatas, asal sadja tidak bertentangan dengan anggaran dasar ini.
  5. Badan pengurus berhak memberi kuasa kepada salah seorang anggotanja untuk bertindak untuk dan atas nama jajasan, dengan kuasa-kuasanja jang akan ditentukan oleh badan pengurus,
  6. Badan pengawas berkewadjiban mengawasi pekerdjaan badan pengurus. Badan pengawas baik bersama-sama maupun sendiri-sendiri berhak sewaktu-waktu masuk dalam gedung-gedung dan pekarangan-pekarangan jang dipakai oleh jajasan untuk memeriksa keadaan buku-buku surat-menjurat, teristimewa surat-surat berharga,memeriksa persediaan barang-barang serta harta kekajaan jajasan, badan pengurus diwadjibkan memberi keterangan yang diminta badan pengawas atau salah seorang anggotanja.
  1. Badan pengawas pada setiap waktu berhak memetjat atau memberhentikan badan pengurus atau salah seorang yang anggotanja apabila ternjata bahwa mereka melakukan pekerdjaan jang bertentangan dengan anggaran dasar jajasan ataupun jang merugikan nama baik dari jajasan.

Fatsal 6.

Pengurus Harian.

 Pengurus harian membantu badan pengurus dalam pekerdjaan sehari-hari dan terdiri dari seorang Ketua, seorang penulis dan seorang bendahara.

      Djika perlu dapat diangkat satu atau beberapa orang pegawai jang dapat diberikan gadji/honorarium jang tertentu sesuai dengan kemampuan jajasan.

      Pengurus harian dapat mewakili badan pengurus diluar untuk dan atas nama jajasan, tetapi dengan ketentuan, bahwa untuk memindjam uang, memindjamkan uang, melepaskan hak atas atau memberatkan barang-barang jang tidak bergerak milik jajasan, mengikat jajasan sebagai penanggung, mendjalankan perkara (proses) dan menggadaikan barang-barang bergerak milik jajasan, pengurus harian harus mendapat persetudjuan terlebih dahulu dari badan pengurus.

 Fatsal 7.

Rapat badan pengurus/badan pengawas.

  1. Badan pengurus/ badan pengawas mengadakan rapat sekurang-kurangnja satu kali dalam setahun dan apabila dipandang perlu dapat diadakan setiap waktu atas permintaan seorang ketua atau sekurang-kurannja dua orang-orang anggota badan pengurus.
  2. Rapat badan pengurus/ badan pengawas hanja dianggap sah bilamana lebih dari separuh djumlah anggota badan pengurus dan badan pengawas hadir atau diwakili dalam rapat itu.
  3. Masing-masing anggota badan pengurus dan badan pengawas berhak untuk mengeluarkan satu suara dalam rapat itu.
  4. Setiap keputusan dari badan pengurus bersama-sama badan pengawas jang diambil dalam rapat hanja dianggap sah, djika jang menjetudjui melebihi separoh dari djumlah suara jang dikeluarkan dengan sah dalam rapat, hal mana tidak mengurangi apa jang ditentukan dalam fatsal 11. Bilamana suara itu sama banjaknya, maka Ketua rapat berhak untuk mengambil keputusan demi kepentingan jajasan.

 Fatsal 8.

Perwakilan.

1.      Badan pengurus mengangkat dan memberhentikan wakil-wakil jang berkewadjiban memimpin perwakilan dan memberi segalah perintah serta petundjuk kepadanja.

2.      Wakil-wakil tersebut oleh Badan Pengurus diberi kuasa jang dianggap perlu atau baik untuk melantjarkan pekerdjaan dilingkungan daerahnja/kekuasaanja.

 Fatsal 9.

Tahun buku dan pertanggungan-djawab.

 

  1. Tahun buku jajasan dimulai dari satu Djanuari sampai dengan achir bulan Desember setiap tahun. Selambar-lambatnya bulan Djuni dari tahun berikutnja, untuk pertama kalinja selambat-lambatnja pada bulan Djuni seribu sembilan ratus enam puluh dua, badan pengurus harus membuat suatu neratja dari kekajaan, pendapatan dan pengeluaran jajasan jang harus diletakkan selambat-lambatnja pada tanggal lima belas Djuli dikantor jajasan untuk diperiksa dan diketahui oleh jang berkepentingan.
  1. Pengurus harian diwadjibkan membuat laporan tahunan jang disediakan bersama-sama dengan neratja tersebut di kantor jajasan.
  2. Tiap-tiap perwakilan jajasan diwadjibkan mengirimkan neratja perhitungan kekajaan dan laporan dari keadaan perwakilan selama tahun jang lampau selambat-lambatnja pada tanggal lima belas Mei setiap tahun kepada badan pengurus, dan badan pengurus berhak sewaktu-waktu meminta segala keterangan jang diperlukan olehnja.

Fatsal 10.

Badan penasehat dan badan pelindung.

  1. Badan pengurus dapat mengangkat suatu badan penasehat dan suatu badan pelindung, djika dianggap perlu.
  2. Badan penasehat dan badan pelindung tersebut masing-masing memberikan nasehatnja, bilamana diminta oleh badan pengurus atau  salah seorang anggotanja.

Fatsal 11.

Perobahan anggaran dasar dan pembubaran jajasan.

  1. Untuk merobah atau menambah anggaran dasar ini maka keputusan hanja sah, djika diambil dalam rapat jang dihadiri oleh semua anggota badan pengurus dan badan pengawas dan djika usul jang berkenaan disetudjui oleh sekurang-kurangnja dua pertiga dari djumlah suara jang dikeluarkan dengan sah. Dalam hal ini suara blanco dianggap sebagai suara jang tidak setudju.
  1. Apabila pada rapat pertama tidak semua anggota hadir atau diwakili dengan sah, maka dapat dadakan rapat kedua setjepat-tjepatnya satu minggu, tetapi selambat-lambatnja dalam waktu satu bulan sesudah rapat pertama diadakan.
  2. Dalam rapat kedua ini hanja dapat diambil keputusan jang sah apabila rapat itu dihadiri oleh sekurang-kurangnja dua pertiga djumlah anggota badan pengurus dan badan pengawas dan usul jang berkenaan disetudjui oleh sekurang-kurangnja dua pertiga djumlah suara jang dikeluarkan dengan sah.
  3. Dalam keputusan untuk membubarkan jajasan harus ditentukan djuga tjara mempergunakan sisa kekajaan jajasan dengan memperhatikan dasar tudjuannja.

Fatsal 12.

Aturan rumah tangga.

      Badan pengurus menetapkan aturan rumah tangga untuk mengatur segala hal jang tidak atau tidak tjukup diatur dalam anggaran dasar ini dan pula membuat aturan-aturan lain jang dipandang baik atau berguna untuk lantjar djalannja pekerjaan jajasan. Aturan-aturan itu tidak boleh bertentangan dengan anggaran dasar ini.

 Aturan penutup.

Dengan menjimpang dari apa jang telah ditentukan dalam fatsal 5 ajat 3 diatas tentang tjara pengangkatan para anggota badan pengurus dan badan pengawas, maka untuk pertama kalinja oleh para pendiri jajasan telah diangkat dalam susunan badan pengurus dan badan pengawas sebagai berikut:

 1. Badan Pengurus:

Ketua Umum      : penghadap Goei Kim Hock

Ketua I             : penghadap Eddy Tan Chong Leng,

Ketua II           : penghadap Lim Hong Gan

Ketua III          : penghadap Tan Ek Kai

Penulis I           : tuan Tjie Sian Boh,

Penulis II          : tuan Chia Hock Chiang,

Penulis III         : tuan Wiliam Chia Hock Soey,

Bendahara I     : tuan Lim Tjong Moh,

Bendahara II    : tuan Goei Kim Sik,

Bendahara III  : tuan Tan Bian Kim (K.W. Hartanu, redaksi)

Para pembantu      : tuan-tuan Lim Tjan Seck, Tan Soei Goean, Ong Kian Goean, Tan Gwan Tjay dan penghadap Tjia Jan Hoen (Romo Yancik sekarang, redaksi).

 2. Badan pengawas:

Penghadap Tan Jong Huat alias Hasan, Lie Sioe Seng, tuan-tuan Ida Ketut Dangin, Tan Yoe Tiong, Oen Kian Hoeat, Rambas Wadhwane, Tjia Siok Ing dan Injo Hong Hai, semuanja tersebut . Pengangkatan-pengangkatan tersebut harus diperkuat dalam rapat para anggota badan pengurus/badan pengawas jang akan diadakan untuk pertama kalinja.

      Akhirnja para penghadap untuk diri sendiri dan mendjalani seperti tersebut menerangkan telah memilih tempat tinggal kediaman (domicilie) jang tetap dan umum tentang segala hal jang timbul sebagai akibat dari surat akte ini dikantor Panitera Pengadilan Negeri di Palembang.

            Maka dari apa jang tersebut di atas.

      Dibikin dan dibuat surat akte ini, tertulis, dibatja dan tertanda-tangani di Palembang, pada hari, tanggal, bulan ini, di hadapan tuan Kiagus Husin Hanafiah dan njonja Warsiti Agoes Soelaiman, keduanja pegawai notaris dan tinggal di Palembang, sebagai saksi-saksi.

      Surat akte ini, setelah dibatjakan oleh saja, notaris, kepada para penghadap dan saksi-saksi, maka seketika itu djuga lantas ditanda-tangani oleh para penghadap, saksi-saki dan saja, notaris.

      Dibikin dengan tiga tjoretan, dua tjoretan serta gantian dan dua belas tambahan.

      Akte ini ditanda-tangani oleh:

 GOEI KIM HOCK,

TAN EK KAI,

EDDY TAN CHONG LENG,

LIM HONG GAN,

TAN JONG HUAT alias HASAN

TJIA JAN HOEN, (Romo Jantjik, redaksi)

LIE SIOE SENG,

KIAGUS HUSIN HANAFIAH,

WARSITI AGOES SOELAIMAN

SIE POO TJHIANG,

Diberikan sebagai salinan,

SIE POO TJHIANG.

                                     ———————————————————–

      Pada hari ini, Kemis, tanggal 20 Djuli seribu sembilan ratus enam puluh satu akte ini telah didaftarkan dalam buku register untuk maksud itu jang berada di kantor Pengadilan Negeri di Palembang dibawah nomor 248/1961.

Panitera Pengadilan Negeri

di Palembang,

R.A. HAMID HASANI.

Ongkos-ongkosnja:

Leges               Rp. 6,-

Upah tulis      “ 21,-

                         ______

Djumlah      Rp.27,-

                                                         ____________________

Bab. IV Goei Kim Hock, Ketua Umum Pertama

50 Tahun Wihara Dharmakirti

Bab IV. Goei Kim Hock, Ketua Umum Pertama

Penanaman Pohon Bodhi di halaman Wihara Dharmakirti. Paling kanan (berdasi, membaca teks) adalah Romo Liem Djie Lan (Kumuda Nama), kemudian Goei Kim Hock(berdasi), lalu Biksu Jinapiya, Ashin Jinarakkhita, yang gondrong adalah orang Menado yang kemudian menjadi Biksu Agga Jinametto, memiliki metta yang sangat kuat-gurunya Mahathera Dharmasuryabhumi. Kontributor Foto: Budiarsa Dharmatanna.

Goei Kim Hock (I) adalah Ketua Umum pertama Yayasan Buddhakirti. Saudagar, pedagang hasil bumi, yang menurut akte pendirian Yayasan Buddhakirti, tinggal di kampung 4 Ulu nomor 541, Palembang.

Sebagai saudagar mapan, bersama Lim Cong Mo (Mochtar Salim) mereka menjadi sosok penting donatur awal Yayasan Buddhakirti.

Beliau menjabat Ketua Umum sekitar 2 tahun, lalu terjadi kevakuman karena beliau meninggal dunia. Menurut Romo Tanjung, tahun 1964 posisinya digantikan Lim Cong Mo (Mochtar Salim). Sedangkan menurut surat Soewandi, anaknya Goei Kim Hock, Lim Cong Mo menjadi Ketua Umum tahun 1974. Pada era ini Romo Tanjung Kt menjadi Ketua I, Soewandi menjadi Bendahara I.

Mengikuti memori Romo Tanjung, sebagai pengurus awal di Wihara Dharmakirti, mereka berperan aktif menyelamatkan klenteng-klenteng di Palembang dari serangan KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia)/ KAPI (Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia). Mereka juga membantu proses penggantian nama masyarakat Tionghoa menjadi nama Indonesia, sebagaimana diwajibkan pemerintah Orde Baru.

Menurut catatan sejarah, karena efek G-30S (Gerakan 30 September), tahun 1966 segala sesuatu berbau Tionghoa diserang dan dijarah. Takut dicap PKI, klenteng-klenteng ditinggalkan pengurus dan penganutnya. Sekolah-sekolah Chung Hua diambil alih pemerintah,  dijadikan sekolah negeri.

SD negeri di samping Wihara Dharmakirti contohnya, dulunya adalah sekolah Chung Hua. Universitas Muhammadiyah di Palembang saat ini, dulunya merupakan sekolah Chung Hua. Bahkan Pasar 10 Ulu di Palembang, dulunya adalah wilayah klenteng Chandra Nadi, yang diambil pemerintah setelah meletusnya G-30S.

Salah satu pendiri Universitas Sriwijaya (UNSRI) adalah Lim Tjong Hian (pengacara terkenal di Palembang, Yap Thiam Hien-nya Palembang). Ia mendirikan UNSRI bersama-sama dengan Muhammad Isa dan Ibnu Sutowo (Pangdam Palembang) saat itu. Namun Lim Tjong Hian akhirnya kabur ke Belanda, konon karena dituduh anggota BAPERKI oleh Pemerintah Orba.

Di Jakarta, Universitas Trisakti merupakan Universitas BAPERKI yang disita pemerintah Orba, kepemilikan Universitas Trisakti kini tak jelas. Ada yang berpendapat, sebagai sitaan Orba, sama halnya dengan sekolah-sekolah sitaan lain, seharusnya Universitas Trisakti berstatus universitas negeri.

Mengikuti tahun kejadian ini, serangan KAMI/KAPI ke kantong-kantong kebudayaan Tionghoa, dan peran Wihara Dharmakirti melindungi masyarakat Tionghoa di Palembang saat itu, seharusnya Lim Cong Mo (Mochtar Salim) menjadi Ketua Umum sejak tahun 1964 seperti yang diingat Romo Tanjung.

“Patokannya peristiwa menghadapi KAMI/KAPI itu,” kata Romo Tanjung mengingat-ingat. Menurutnya, Lim Cong Mo menjabat 2 pariode, 1 pariode 4 tahun. Dengan hitungan tersebut, artinya Lim Cong Mo menjabat Ketua Umum sampai tahun 1972. “Setelah Lim Cong Mo, saya yang melanjutkan,” kata Romo Tanjung lagi.

Sejauh ini, ada dua versi  rangka tahun kepermimpinan Lim Cong Mo, yakni versi Romo Tanjung  sejak 1964, dan versi Goei Siang Soei sejak 1974.

Data otentik seperti surat pengangkatan versi tahun 1964 maupun 1974 belum ditemukan. Yang terdapat di dokumentasi Romo Tanjung adalah surat pengangkatan beliau (Romo Tanjung) sebagai Ketua tahun 1978. Surat pengangkatan itu ditanda-tangani drs.Tanjung Kt sebagai Ketua dan Agus Wanagiri sebagai Sekretaris.

Tidak seperti susunan pengurus pariode-pariode awal, surat pengangkatan pengurus tahun 1978 tidak terdapat jabatan Ketua Umum lagi. Posisi paling atas adalah Pelindung, kemudian Penasehat dan dibawahnya adalah Badan Pengurus.

Pada surat pengkangkatan drs.Tanjung Kt sebagai Ketua Pengurus tahun 1978 ini, I Ketut Budra (DEPAG) dan Padma Nanda Tanzil (Tan Ek Kai) duduk sebagai Pelindung. Mochtar Salim (Lim Cong Mo)  dan Yancik HP duduk sebagai penasehat.

Tambahan informasi yang didapat penulis, Romo Yancik, sesepuh Yayasan Buddhakirti (87 tahun) yang kini tinggal di Jakarta mengatakan, “Saya meninggalkan Palembang tahun 1968 akhir, saat itu Romo Tanjung belum aktif sebagai pengurus.” Menurut Romo Yancik lagi, Romo Tanjung mulai aktif setelah dia (Romo Yancik) tidak di Palembang.

 Sudah Bethel

Saat ini, anak-cucu Goei Kim Hock tak ada yang beragama Buddha, meski pada awalnya mereka pernah menjadi pengurus di Yayasan Buddhakirti.

Adalah Bapak Suryadi (Goei Sui Sen) kelahiran 27 Maret 1944 anak beliau yang berhasil kami temui di perumahan elit di Palembang yang kini menjadi pengusaha property, mengaku pernah aktif di wihara Dharmakirti tapi kini beragama Kristen Bethel.

Bapak Suryadi (Goei Sui Sen), anak dari Goei Kim Hock, dulu umat di Wihara Dharmakirti.

Bapak Suryadi dan istrinya menyambut ramah kedatangan kami tim penyusun buku 50 Tahun Wihara Dharmakirti, untuk mencari informasi seputar ayahnya, Goei Kim Hock. Istri beliau, menghubungi saudaranya di Jakarta untuk diwawancarai kami, tapi jawaban di telepon menyatakan ‘mereka sekarang sudah Kristen’, menemukan jalan buntu.

Bapak Suryadi bersama isteri. Semenjak menikah mengikuti agama isterinya. Kini mereka pengikut Kristen Bethel yang taat.

Map dari Soewandi G (Goei Siang Soei)

Di Jakarta, mengetahui saya sedang menyusun buku 50 tahun Wihara Dharmakirti, Mahathera Dharmavimala memberikan map merah ‘Sekelumit Berdirinya Wihara Dharmakirti Palembang’, yang katanya pemberian Soewandi G (Goei Siang Soei) anak tertua Goei Kim Hock, yang berarti kakaknya Suryadi (Goei Sui Sen).

Map itu berisi selembar HVS ketikan mesin tulis satu halaman, dua lembar A3 fotokopi foto2 penanaman pohon Bodhi dan kedatangan Gubernur, Pangdam, Walikota Palembang yang menandakan, keberadaan umat Buddha di Palembang tahun 1962 sudah diakui negara.

Sayangnya, mungkin karena sudah lama diberikan, keberadaan pemberi map itu, anak tertua dari Goei Kim Hock tak bisa dilacak. Alamat dalam kartu nama di map masih memakai alamat rumah di Palembang. Sementara saat dilacak, rumah itu sudah lama dijual.

“Bertahun-tahun aku ingin menemuinya, rumahnya selalu tertutup. Aku bahkan meninggalkan pesan lewat tetangganya, terakhir ke sana rumah itu sudah dijual, penghuninya sudah pindah ke Jakarta,” kata Romo Darwis lewat sms.

Saat ini saya sedang menunggu upaya Romo Tanjung menghubungi Soewandi G (Goei Siang Soei) untuk bisa diwawancara saya, sebagai narasumber dalam penulisan sejarah Wihara Dharmakirti.

 Isi Dokumen Map Merah

Dibawah adalah isi ketikan di atas kertas HVS dalam map merah, yang diberikan Soewandi G kepada Mahasthawira Aryamaitri hampir sepuluh tahun lalu:

 Palembang, July 2003

 Namo Buddhaya,

 “Sekilas  Perjalanan terbentuknya

Wihara dan Yayasan Buddhakirti di Palembang.”

Pada tahun 1960 (maaf lupa bulan) datang ke kantor kami di Jalan Sekanak 29 Ilir, waktu itu orang tua saya berkata kepada saya, ada hwesio mau datang (maklum masa itu hanya tahu hwesio, belum kenal nama biksu).

Setelah itu munculah sdr. Tan Ek Kai, Edy Tan, Goen Tjay, Yan Hoen dan Lim Hong Gan. Dan yang mengenalkan beliau adalah Yan Hoen (Romo Yancik), di situlah kami mengenal Ashin Jinarakkhita.

Yang pertama membuka suara adalah sdr, Goen Tjay. Inti dari pembicaraan adalah:

  1. Asal mula penganut ajaran Buddha di Palembang.
  2. Belum ada prasana yang mendukung, saat ini semua kegiatan masih dipusatkan di klenteng.

 Dari hasil pembicaraan itu:

  1. Sdr. Tan Ek Kai sebagai sesepuh di Seberang Ulu menjadi orang yang mengembang tugas.
  2. Goei Kim Hock menjadi koodinator dana (bendahara). Lokasi akan dicari bersama-sama.

 Masalah dialog itu masih aku ingat, karena ikut hadir.

Akhirnya lokasi didapat di Jalan Kamboja, berikut bangunan sekolah lama lantai masih tanah dan semen. Saat peresmian, digelar tikar sebagai tempat duduk. Untunglah saudara Yan Hoen (Romo Yancik) cukup aktif bergerak ke sana-sini membantu, dan saya yang lebih muda saat itu, menjadi ajudan orang tua saya menyediakan mobil Suburban untuk transportasi wihara.

Bangunan awal Wihara Dharmakirti, merupakan 3 ruang kelas dari kayu yang dibeli dari Sekolah Chung Hua.

Orang tua menyumbangkan Teraso Ubin merah dan hijau.

Pada masa itu, di Palembang tak ada yang bisa membuatnya, apalagi keramik. Semuanya harus dipasok dari Surabaya, beruntunglah kami memiliki stok karena sedang membuat rumah. Keramik-keramik dan teraso itu lalu dipasang di lantai wihara dan juga kantor seksi duka.

Setelah orang tua saya meninggal, terjadi kevakuman posisi ketua umum.

Untunglah tahun 1974, Ibu Kartina Ellis mulai menonjol dalam menggalang dana. Dari perkembangan itu, dibentuklah pengurus baru:

Ketua Umum : Mochtar Salim

Ketua I             : Tanjung Kt

Bendahara I   : Soewandi G

Bendahara II : Romo Cek Ba

Setelah tahun 1982, saya hadir bersama sdr. Tjoe Tjoe dan Cek Ba di Pacet, langsung saya mengundurkan diri sebagai pengurus dan umat di Dharmakirti.

Tidak tahu apa yang menggerakkan, awal Juli 2003 saya berkunjung ke Wihara Dharmakirti, dan saya gembira melihat kemajuan dan kemegahan wihara, dan saya dengar setiap minggu umat begitu banyak.

Sampai saat ini saya belum kenal ketua umum  maupun pengurus.

Kiranya saya ingin mengucapkan terima kasih  mewakili para pendiri dan pionir yang telah wafat, yang mana jerih payah mereka telah terkabul atas jasa Ketua Umum dan pengurus sekarang ini. Mudah-mudahan, ada kesempatan bertemu muka untuk mengucapkan terima kasih secara langsung.

Namo Buddhaya

Semoga Bahagia dan Sukses Selalu

Dan Selalu Dilindungi oleh Sang Tri Ratna

Soewandi G (Goei Siang Soei)

  1. Fotografer saat itu
  2. Ajudan orang tua saya Goei Kim Hock (Ketua Umum Pertama Yayasan Buddhakirti)
  1. Salah satu pendiri GP2BI (Gerakan Pemuda-Pemudi Buddhis Indonesia) 1961
  2. Bendahara I pariode 1974 Yayasan Buddhakirti

 

Bab3. Rumah Kapiten Tan Ek Kai

“Pada mulanya, datang menghadap ke rumah papa (Kapiten Tan Ek Kai), adalah Inyo Hong Hai, Lim Hong Gan, Eddy Tan Chong Leng pada bulan Mei 1960/61, yang meminta dukungan Tan Ek Kai sebagai pemimpin masyarakat Tionghoa, karena Palembang akan kedatangan seorang Biksu untuk pembabaran Buddha Dharma.”

 Dr. Jan Hadi S.T

Rumah Kapiten Tan Ek Kai,
kini menjati tempat penjualan kayu tua.

“Rumah enkong ada dua. Yang satu di sebelah sini, tempat enkong tinggal. Satunya di seberang kali, yang dihubungkan jembatan kayu,” kata Romo Sutanto, cucu Kapiten Tan Ek Kai, menunjuk sebuah rumah kayu lain di seberang kali.

“Rumah yang di seberang baru selesai dibangun. Jadi Sukong siang ceramah di rumah engkong yang ini, malamnya ceramah lagi di klenteng Kwam Im (Chandra Nadi) , terus malamnya tidur di rumah enkong yang baru selesai dibangun yang dihubungkan jembatan kayu,” lanjut Romo Tanto, pendiri dan ketua pertama Keluarga Mahasiswa Buddhis Palembang tahun 83-85, yang menyukai meditasi.

Meski kedua rumah tersebut kini bukan milik keluarga Tan Ek Kai, kami masih bebas menyusurinya, karena orang melayu pemilik baru kedua rumah itu sangat ramah.

Di rumah sebelumnya, anak muda berkulit hitam terpanggang matahari yang menyambut mengatakan,“Silahkan, anggap saja rumah sendiri.” Ia sedang dikop(buang angin) menggunakan tanduk kerbau oleh seorang berkopiah putih yang dipanggil Pak Haji.

Anak pemilik rumah yang sekarang,
sedang dikop buang angin saat kami berkunjung.

“Permisi yah,” kata Romo Tanto masuk ke sana-sini mengingat-ingat posisi Ashin Jinarakkhita duduk dan membabarkan Dharma.

Romo Tanto di dalam rumah yang pernah menjadi rumah Kapiten Tak Ek Kai, kakeknya. Tempat Ashin Jinarakkhita pertama kali ceramah.

Dari rumah Enkongnya, keluarga besarnya dulu tinggal, kami menuju rumah baru mereka di seberang jembatan, yang  dipakai sebagai kuti Ashin Jinarakkhita dan murid-muridnya awal berkunjung ke Palembang.

Rumah baru Tan Ek Kai diseberang jembatan
yang menjadi kuti Ashin Jinarakkhita.

“Sukong tidurnya di sini, di dalam. Ini kamarnya Sukong” katanya menunjuk sebuah pintu kamar kayu yang tertutup rapat.

Entah mengapa, setelah sekian lama, setelah 50 tahun kedatangan beliau dan menginap di rumah itu, aku masih merasakan getaran damai di sana, di rumah kayu kuno tersebut, yang  mirip dengan kuti saya di Myanmar dulu. Sekujur sendi dalam tubuh ini, serasa bergetar melihatnya,haru.

Kamar Ashin Jinarakkhita, pertama kali bermalam di Palembang,
‘aura’ damainya masih terasa.

“Nah, kalau murid sukong, Pandita Dharmarutji  Ida Bagus Giri, yang kelak menjadi Samanera Giri terus menjadi Bhikkhu Girirakkhita, tidurnya di kamar yang itu, yang ada di teras belakang,” kata Romo Sutanto bersemangat menelusuri lorong-lorong masa kecilnya. Dalam kunjungan ini, ia bertemu teman masa lalunya yang sudah 20 tahun tak bertemu.

Bagian belakang rumah baru Tan Ek Kai yang menjadi kuti Ashin Jinarakkhita, terdapat kamar kamar untuk muridnya Pandita Dharmarutji Ida Bagus Giri (yang kemudian dikenal sebagai Bhikkhu Girirakkhita)

Jadi, rumah baru Kapiten Tan Ek Kai yang terletak di Kampung 10 Ulu, Jalan Tembok Baru nomer 560, Rt.26 inilah, yang menjadi basecamp Ashin Jinarakkhita saat pertama kali berkunjung ke Bumi Sriwijaya.

Berita Kedatangan Biksu ke Palembang

Menurut Dr. Jan Hadi (Q), putra dari Tan Ek Kai, paman dari Romo Sutanto, yang saat kedatangan Ashin Jinarakkhita duduk di kelas 3 SMU:

“Pada mulanya, datang menghadap ke rumah papa (Kapiten Tan Ek Kai) adalah Inyo Hong Hai, Lim Hong Gan, Eddy Tan Chong Leng pada bulan Mei 1960/61, yang meminta dukungan Tan Ek Kai sebagai pemimpin masyarakat Tionghoa, karena Palembang akan kedatangan seorang Biksu untuk pembabaran Buddha Dharma.”

Kapiten Tan Ek Kai

Kapiten Tan Ek Kai merupakan pimpinan masyarakat Tionghoa di  Seberang Ilir Palembang. Ia seorang saudagar, juga sinshe ahli patah tulang,

Mendengar akan datangnya biksu membabarkan Buddha Dharma, beliau yang sebelumnya sedikit mengenal agama Buddha dari buku Kwe Tek Hoay, sangat bersemangat.

“Kemudian, setelah pertemuan itu datanglah Ashin Jinarakkhita,” lanjut Dokter Jan Hadi yang kelahiran 27 Juli 1939. Tokoh-tokoh masyarakat Tionghoa bahu membahu mengumpulkan orang mendengar ceramah Ashin Jinarakkhita.

Dr.Jan Hadi S.T, anak dari Tan Ek Kai, wakil ketua GPBI yang pertama, ketua GPBI pariode kedua, GPBI adalah organisasi pemuda pertama di Wihara Dharmakirti.

Wakil Ketua GPBI Pertama

Tahun 1964 Dr. Jan Hadi menjadi Wakil ketua GPBI (Gerakan Pemuda Buddhis Indonesia) dimana ketuanya adalah Tan Cong Leng, lalu pada pariode kedua, dia menjadi ketua GPBI.

GPBI merupakan organisasi pemuda pertama di Wihara Dharmakirti.

Dalam kesibukan aktifitasnya, Dr Jan Hadi S.T bertemu kekasih yang menjadi pendamping hidupnya, wanita Singapura berdarah melayu. Ia menikah secara Islam di Singapura, kemudian menikah lagi secara Tionghoa di Palembang.

Kemudian ia menghadap Sukong di Pacet bersama isterinya, dan melaporkan dia sudah masuk Islam, karena menikah dengan wanita Muslim.

Reaksi Sukong sungguh di luar perkiraannya. Sukong mengatakan “Bagus, sukong dulu juga berlajar dari Islam.”

Ia dan istrinya yang awalnya ketar-ketir, jadi bersemangat. Kemudian istrinya membiarkan saja, saat ia ciamsi di Pacet.

Istri dan anak-anaknya menetap di Singapura. Karena pernikahan, kedua anaknya kemudian tak lagi beragama Islam, kecuali dirinya dan istrinya.

“Saya muslim yang berpikiran Buddhis” katanya menutup pembicaraan.

Saat ini Dr. Jan Hadi masih berpraktek sebagai dokter, juga menjadi pengurus di PB.PBSI (Pengurus Besar Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia) dengan jabatan Hubungan Luar Negeri.

Dr. Jan Hadi S.T, istri dan kedua anaknya.

                                                     *********

Romo Yancik (Tjia Jan Hoen), Pendiri Yayasan Buddha Kirti

“Awal kedatangannya, Sukong datangnya sendiri, diiringi dayaka tentunya, tapi saya lupa siapa dayakanya, “ kata Romo Yancik (Tjia Jan Hoen),  satu-satunya pendiri Yayasan Buddha Kirti yang masih bisa ditemui, yang 13 Juli 2012 ini menginjak 87 tahun, tetap sehat tanpa tongkat, kadang masih menyupir sendiri. Selamat Hari Berkelanjutan Romo.

Romo Yancik (Tjia Jan Hoen)- 87 tahun, duduk tepat di depan laptop, satu-satunya pendiri Yayasan Buddha Kirti yang masih hidup. Di sebelahnya(berkacamata) adalah adik bungsunya. Duduk di atas kursi (berkacamata) adalah Romo Tanjung (mantan ketua Yayasan Buddha Kirti) suami dari adiknya tersebut. Sedangkan yang duduk di kursi putih adalah istri Romo Yancik.

Menurut Romo Yancik, setelah melihat dukungan masyarakat di Palembang, Ashin Jinarakkhita rutin ke Palembang diiringi rombongannya seperti Biksu Jinapiya (kemudian dikenal sebagai Bhikkhu Thitaketuko, Pandita Dharmarutji Ida Bagus Giri (Kemudian dikenal sebagai Bhikkhu Girirakkhita), Yogamurti (Upasaka So Tjiang Poo), Ibu Parwati, Oka Diputra dan sebagainya.

Romo Yancik yang saat itu berumur 37 tahun, rumahnya di dekat Klenteng Kwam Im (Chandra Nadi) mengatakan, saat kedatangan Ashin Jinarakkhita mereka sama sekali belum tahu agama Buddha.

“Barulah saat kedatangan sukong, kita tahu apa itu Dharma. Siapa itu Siddharta, oh ternyata beliau orang India dan sebagainya.”

“Sukong memang luar biasa, kita sebagai wong Palembang waktu itu belum tahu Bukit Siguntang adalah tempat bersejarah yang sakral. Kita tahunya daerah itu angker.

Tapi Sukong sudah nanya Bukit Siguntang dimana? Barulah kita cari-cari dan mengantar beliau ke sana. Di situ rupanya Sukong minta ijin, untuk membabarkan Buddha Dharma di Palembang”.

Ternyata belakangan mereka tahu Bukit Siguntang memiliki kaitan erat dengan Sriwijaya.

Romo Yancik kemudian menjadi salah satu pembantu utama Ashin Jinarakkhita, atau dikenal sebagai sekretarisnya sukong.

Dua Pilar Buddhayana di Jakarta

Setelah hijrah ke Jakarta, bersama Ibu Parwati mereka menjadi dua pilar utama Buddhayana di Jakarta. Ada segelintir isu beredar, bila mau jatuhkan Sukong di Jakarta, rebutlah kedua pilar ini. Tapi sayang, kedua pilar ini adalah pilar setia, yang tak bisa dibeli dengan apapun, apalagi dengan uang dan jabatan. Kesetiaan mereka sudah teruji oleh waktu.

Romo Yancik jugalah, bersama sahabatnya yang memperluas tanah Wihara Dharma Bhakti di Jelambar dari hanya sebuah klenteng kecil, menjadi lebih luas seperti sekarang.

                                                      *******

Klenteng Kwam Im (Chandra Nadi)

Setelah mengantar kami melihat rumah engkongnya (Tan Ek Kai) dulu, Romo Darwis dan Romo Sutanto mengajak kami ke klenteng Kwam Im (Chandra Nadi), klenteng tempat pertama Ashin Jinarakkhita ceramah di Palembang.

Klenteng Chandra Nadi, klenteng pertama kali
Ashin Jinarakkhita berceramah di Palembang.

Sebelum mengenal Buddha Dharma, almahum Biksu Vajragiri, pernah menjadi Locu di Klenteng ini, beliau pertama bertemu Ashin Jinarakkhita di klenteng ini.

Kami mencapai Klenteng Kwam Im dengan berjalan kaki sekitar 200 meter dari rumah Kapiten Tan Ek Kai. Klenteng ini terletak di 10 Ulu, di depan rumah Romo Yancik saat itu.

Asal Mula Mpek-Mpek Palembang

“Pada masa itu, daerah Seberang Ulu, merupakan daerah pecinan,” kata Romo Tanto, “Mpek-mpek yang menjadi makanan khas Palembang, lahir di 10 Ulu ini. “

“Dulu, ada apek-apek (bapak tua) yang kreatif, memodifikasi bakso ikan menjadi bentuk lain yang dimakan dengan cuko. Apek itu berjualan keliling di 10 Ulu dengan memakai keranjang rotan.

Dagangannya laris, tiap kali orang menunggunya lewat dan memangil Apek!!! Ada juga yang memanggilnya Mpek!!! Lama-lama jadilah kata Mpek-mpek, hahaha..!”

Karena laris, akhirnya banyak yang meniru dan menjualnya. Jadilah mpek-mpek makanan khas Palembang.

“Mpek-mpek Palembang yang terkenal kan dari 10 Ulu ini. Dulu berderet ha orang menjualnya di sini,” tutur Romo Tanto menunjuk deretan rumah kayu di samping klenteng.

Mpek-Mpek Palembang

                                                                  ******

(Bersambung…)