Bab 2. Palembang, Wong Kito Galo

50 Tahun Wihara Dharmakirti

Bab 2. Palembang, Wong Kito Galo

Di dalam foto itu, berdiri di belakang Ashin Jinarakkhita adalah seorang pemuda yang tampak tinggi gagah (g). Siapakah dia? Tak lain adalah murid beliau: Pandita Dharmarutji Ida Bagus Giri (kelak dikenal sebagai Bhikkhu Girirakkhita).

Karena keterbatasan akomodasi, saya tak bisa bergerak sendiri. Niat menjelajah nusantara mengungkap jejak beliau, tersimpan dalam memori.

Saya hanya melakukan ‘penggalian’ bila kebetulan ke daerah. Seperti menghadiri pernikahan keponakan di Jambi, saya manfaatkan ke Wihara Sakyakirti Jambi, yang saya tahu menyimpan jejak kuat beliau dalam menabur Dharma di Nusantara.

Maka, tawaran Romo Darwis, saya tanggapi antusias. Menulis buku 50 Tahun Wihara Dharmakirti berkaitan erat dengan kedatangan Ashin Jinarakkhita di Palembang, menabur Dharma di bumi Sriwijaya, sekian lama setelah Buddha Dharma lenyap bersamaan runtuhnya kedatuan Sriwijaya.

Segera saya pesan tiket Jakarta-Palembang PP lewat sms. Tiket dikirim by email dan aku print sendiri.

Begitu menginjakkan kaki di Wihara Dharmakirti, kami sudah ditunggu Romo Darwis rapat di perpustakaan.

Rapat dengan Romo Darwis

Kedua foto hitam putih yang pernah aku pasang di blog, menjadi kunci masuk menulis sejarah Wihara Dharmakirti. Karena seperti di Jambi, sejarah Agama Buddha di Palembang setelah ‘habisnya’ Sriwijaya dimulai dengan masuknya Ashin Jinarakkhita ke Palembang. Bahkan Ashin Jinarakkhita lebih dulu ke Palembang (1960), sebelum melanjutkan penyebaran Dharma ke Jambi tahun 1964.

Setelah rapat singkat, kami langsung bergerak. Selama 3 hari, napak tilas ke tempat-tempat yang pernah Ashin Jinarakkhita kunjungi, Menyusuri tempat beliau pertama kali menginap, pertama kali ceramah.

Kami mencari anak cucu para pendiri dalam foto hitam putih di blog aku, dan juga, nama-nama dalam akte pendirian Yayasan Buddhakirti.

Ternyata,Romo Sutanto, dosen Fakultas Teknik Unsri (Universitas Sriwijaya) yang mengantar saya napak tilas, merupakan cucu Tan Ek Kai (F), salah satu pendiri Yayasan Buddha Kirti.

Romo Sutanto, cucu dari Kapiten Tan Ek Kai.

Siap membawa kami menelusuri jejak
Ashin Jinarakkhita.

Diantar Mobil Yayasan Buddhakirti, Romo Darwis dan Romo Sutanto, kami menuju Seberang Ulu, rumah Enkong Romo Sutanto yang merupakan rumah masa kecil Romo Sutanto.

Sekitar lima belas menit setelah melalui jembatan Ampera, tibalah kami di deretan rumah kayu di Seberang Ulu, yang menggambarkan Palembang tempo doeloe.

Romo Sutanto, di depan rumah lama engkong yang bagian depannya sudah dibongkar, kini menjadi tempat penjualan kayu tua. Di rumah inilah Ashin Jinarakkhita pertama kali ceramah di Palembang.

“Ini rumah Enkong dulu, tapi depannya sudah dibongkar yah? Tunggu bentar, aku minta ijin orangnyo,” kata Romo Tanto bergerak masuk ke salah satu rumah kayu tersebut, yang kini bukan milik keluarganya lagi.

Di rumah kayu Kapiten Tan Ek Kai ini, tokoh masyarakat Tionghoa di Palembang saat itu, Ashin Jinarakkhita dan muridnya Biksu Jinapiya (kemudian dikenal sebagi Bhikkhu Thitaketuko) dan Pandita Dharmarutji Ida Bagus Giri (kelak dikenal sebagai Bhikkhu Girirakkhita) menghabiskan hari pertama di Palembang. Di rumah kayu di Seberang Ulu Palembang, yang masih berdiri hingga kini.

Perlu diketahui, secara geografis, Palembang terdiri dua wilayah daratan dipisahkan sungai Musi, yakni Seberang Ulu dan Seberang Ilir. Tahun 1962, Presiden Soekarno dengan tenaga ahli Jepang, membangun jembatan Ampera dari harta rampasan Jepang, menghubungkan kedua wilayah ini, sehingga perjalanan tak harus menggunakan angkutan laut lagi.

Rumah Kapiten Tan Ek Kai terletak di Seberang Ulu, sedangkan Wihara Dharmakirti yang belakangan dibangun terletak di Seberang Ilir.

Sejarah Palembang

Sriwijaya adalah kemaharajaan bahari Buddhis yang pernah berdiri di pulau Sumatera dan banyak memberi pengaruh di Nusantara. Daerah kekuasaannya membentang dari Kamboja, Thailand Selatan, Semenanjung Malaya, Sumatera, Jawa, dan pesisir Kalimantan.

Bukti awal keberadaan Sriwijaya berasal dari abad ke-7; seorang biksu dari Tiongkok, I Tsing, menulis bahwa ia mengunjungi Sriwijaya tahun 671 dan tinggal selama 6 bulan. Selanjutnya prasasti paling tua mengenai Sriwijaya dari abad ke-7, yaitu prasasti Kedukan Bukit di Palembang, bertarikh 682.

I Tsing melaporkan Sriwijaya menjadi rumah bagi sarjana Buddha, pusat pembelajaran agama Buddha. Terdapat 1000 biksu berguru pada Sakyakirti, seorang biksu terkenal di Sriwijaya.

Di akhir abad ke-8 beberapa kerajaan di Jawa, Tarumanegara dan Holing di bawah kekuasaan Sriwijaya. Menurut catatan, masa ini pula wangsa Sailendra bermigrasi ke Jawa Tengah dan berkuasa disana.

Setelah Dharmasetu, Samaratungga menjadi penerus kerajaan. Ia berkuasa periode 792 sampai 835. Tak seperti Dharmasetu yang ekspansionis, Samaratungga tak melakukan ekspansi militer, tapi memilih memperkuat penguasaan Sriwijaya di Jawa. Selama masa kepemimpinannya, ia membangun candi Borobudur di Jawa Tengah, selesai tahun 825.

Borobudur

Akhir Abad ke 9, Sriwijaya mulai mengalami kemunduran karena peperangan, di antaranya serangan raja Dharmawangsa Teguh dari Jawapada tahun 990, dan serangan Rajendra Chola I dari Koromandel tahun 1025. Selanjutnya, tahun 1183 Sriwijaya di bawah kendali kerajaan Dharmasraya.

Sriwijaya menjadi simbol kebesaran Sumatera awal, dan kerajaan besar Nusantara selain Majapahit di Jawa Timur.

Pada abad ke-20, kedua kerajaan Buddhis ini menjadi referensi kaum nasionalis, untuk menunjukkan Indonesia merupakan satu kesatuan negara sebelum kolonialisme Belanda.

Senjakala Kerajaan Hindu-Buddha di Nusantara

Laksamana Cheng Ho

Laksamana Sam Po Bo atau Laksamana Ceng Ho adalah kasim Muslim kepercayaan Kaisar Yongle dari Tiongkok (berkuasa tahun 1403-1424), kaisar ketiga dari Dinasti Ming.

Keberadaan Laksamana Cheng Ho tak bisa dipisahkan dari Palembang dan berkembangnya siar Islam di kepulauan Nusantara. Masyarakat Tionghoa Muslim/Hanafi pertama di bumi Nusantara dibentuk Laksamana Cheng Ho di Palembang, padahal saat itu agama masyarakat setempat adalah Buddha Wajrayana.

“Tahun 1405-1425 Armada dinasti Ming dibawah pimpinan Laksamana Sam Po Bo berhasil menguasai perairan dan pantai-pantai Nan Yang (Asia Tenggara).

Tahun 1407, armada dinasti Ming berhasil merebut Kukang(Palembang) yang secara turun-temurun menjadi sarang perampok orang-orang Tionghoa non Muslim dari Hokkian. Cen Cu Yi, kepala perampok ditawan, dirantai dan dibawa ke Tiongkok. Ia mati dipancung di muka umum, sebagai peringatan untuk orang-orang Hokkian di seluruh Nan Yang. Di Kukang dibentuk masyarakat Tionghoa Muslim/Hanafi yang pertama di kepulauan Indonesia. Tahun itu juga didirikan masyarakat Tionghoa Muslim/Hanafi yang kedua di Sambas.” Prof. Slamet Muljana, Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara.

Kedatantangan Laksamana Cheng Ho, selain mengembang tugas Kaisar Yongle, Dinasti Ming, juga membawa misi pribadi siar Islam. Di tiap kepulauan yang dilaluinya, beliau membentuk masyarakat Tionghoa Muslim, dan menempatkan orang kepercayaannya sebagai kapten Masyarakat Tionghoa di daerah tersebut untuk siar Islam, sebuah agama baru di Bumi Nusantara, berbeda dengan agama yang dianut penduduk Nusantara saat itu: Hindu-Buddha.

Tercatat Laksana Ceng Ho 4 kali mengunjungi Palembang. Kedatangan berikutnya tahun 1413–1415M, 1421–1422M, dan tahun 1431–1433 M.

Hingga kini, kita bisa melihat misi siar Laksamana Cheng Ho sukses besar, Islam menjadi agama mayoritas masyarakat Indonesia menggantikan agama Hindu-Buddha yang pernah ada.

Arya Damar (Swan Liong)

Pertengahan abad 14, Palembang telah menjadi daerah taklukan Kerajaan Majapahit. Palembang dibawah pemerintahan bupati yang diangkat Majapahit.  Beliau adalah Arya Damar (Swan Liong atau Jaka Dilah atau Ario Damar atau Ario Abdilah).

Siapakah Arya Damar?

Menurut kronik Tiongkok dari  Klenteng Sam Po Kong Semarang, Arya Damar atau Swan Liong (Naga Berlian) adalah putra raja Majapahit bernama Yang-wi-si-sa yang lahir dari seorang selir Tionghoa. Mungkin Yang-wi-si-sa sama dengan Hyang Wisesa atau mungkin Hyang Purwawisesa. Kedua nama ini ditemukan dalam naskah Pararaton.

Swan Liong bekerja sebagai kepala pabrik bahan peledak di Semarang. Pada tahun 1443 ia diangkat menjadi kapten Tionghoa di Palembang oleh Haji Gan Eng Cu, kapten Tionghoa di Jawa.

Swan Liong di Palembang memiliki asisten bernama Bong Swi Hoo. Pada tahun 1445 Bong Swi Hoo pindah ke Jawa dan menjadi menantu Haji Gan Eng Cu. Pada tahun 1451 Bong Swi Hoo mendirikan pusat pengajaran agama Islam di Surabaya, dan ia pun terkenal dengan sebutan Sunan Ampel.

Swan Liong di Palembang memiliki istri seorang bekas selir Kung-ta-bu-mi (Bhre Kertabhumi) raja Majapahit. Dari wanita itu lahir dua orang putra bernama Jin Bum (= Orang Kuat) dan Kim San (= Gunung Emas).

Pada tahun 1474 Jin Bum dan Kim San pindah ke Jawa untuk berguru kepada Bong Swi Hoo alias Sunan Ampel. Bong Swi Hoo, menantu dari kapten Haji Gan Eng Cu kemudian menggembleng Jin Bum dan Kim San untuk siar Islam.

Tahun 1475, Jin Bum diperintahkan Bong Swi Ho atau Sunan Ampel membentuk masyarkat Tionghoa Muslim di Pantai Utara Jawa, di kaki gunung Muria, menggantikan masyarakat Muslim Tionghoa di Semarang yang mulai murtad. Sedangkan Kim San diperintahkan menjadi barisan kelima dalam kraton Majapahit, bertugas mengumpulkan informasi dari kraton Majapahit mengantikan Haji Ma Hong Fu.

Raden Patah kemudian mendirikan kerajaan Demak. Selanjutnya, dalam buku best seler Sabdapalon karya Damar Shashangka terbitan Dolphin, menceritakan untuk menghindari perang dengan anaknya sendiri, Raja Brawijaya yang merupakan raja Majapahit yang terakhir melarikan diri ditemani 2 abdinya yang setia, biksu Sabda Palon dan biksu Naya Genggong.

Adapun yang menyerang dan membumihanguskan Majapahit adalah pasukan Raden Patah (Jin Bum), putra Brawijaya sendiri dari selir Tionghoa yang kemudian selagi masih hamil ia berikan kepada Arya Damar (Swan Liong) Bupati di Palembang untuk menjadi isteri.

Seiring melemah dan berakhirnya Majapahit, daerah-daerah taklukkannya mulai memerdekakan diri.  Demikian juga kondisi di Palembang, bermunculan penguasa-penguasa lokal baru.

Tahun 1659, berdirilah Kesultanan Palembang yang didirikan Ki Gede ing Suro, seorang bangsawan Jawa yang melarikan diri dari Demak. Pada era kesultanan ini, Sultan yang terkenal adalah Sultan Mahmud Badaruddin II, yang berhasil memenangkan 3 pertempuran melawan Belanda dan Inggris.

Tahun 1823, setelah menaklukkan kesultanan Palembang, pemerintah Hindia-Berlanda menghapus kesultanan Palembang dan membagi Palembang menjadi dua keresidenan, daerah Ilir dan Ulu yang dipisahkan Sungai Musi, yang dikenal sebagai Seberang Ulu dan Seberang Ilir. Setelah beberapa kali percobaan pemberontakan oleh penerus Sultan Mahmud Badaruddin II, istana kesultanan dibumihanguskan Belanda. Belanda kemudian berkuasa sampai tahun 1945, hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Kedatangan Ashin Jinarakkhita

 Tahun 1960, awal kedatangan Ashin Jinarakkhita ke hunian di tepi sungai Musi itu, sisa kedigdayaan Sriwijaya sebagai negara Buddhis bahari nyaris tak berbekas lagi.

Bahkan, dalam sejarahnya, tak ada orang Indonesia modern mendengar mengenai Sriwijaya sampai tahun 1920-an, ketika sarjana Perancis George Cœdès mempublikasikan penemuannya dalam surat kabar berbahasa Belanda dan Indonesia. Coedès menyatakan bahwa referensi Tiongkok terhadap “San-fo-ts’i”, sebelumnya dibaca “Sribhoja”, dan beberapa prasasti dalam Melayu Kuno merujuk pada kekaisaran yang sama.

Jadi bisa dibayangkan, biksu yang pada jaman Sriwijaya begitu banyak hilir-mudik di tempat umum dan begitu dihormati, kini dilihat sebagai manusia berbaju aneh dari planet lain dengan kepala botaknya.

Dengan kata lain, Buddhism sudah tak dikenal di Palembang yang pernah menjadi kerajaan Buddhis. Memang ada biksu Mahayana dari Tiongkok di klenteng-klenteng. Tapi, mereka tak berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia dan lebih banyak mengajar cara sembahyang yang erat kaitannya dengan tradisi Tiongkok.

Saat itu, Jembatan Ampera pun belum dibangun. Apabila dari Seberang Ilir hendak menuju Seberang Ulu, demikian sebaliknya, hanya bisa memakai perahu kayu meniti air menyeberangi Sungai Musi.

Sungai Musi jaman dulu, belum ada jembatan Ampera,dari Ulu ke Ilir hanya bisa diseberangi dengan perahu kayu.

Begitu juga rombongan Ashin Jinarakkhita muda bersama murid-muridnya: biksu Jinapiya, Pandita Dharmarutji Ida Bagus Giri dan Yogamurti, menyebrang dari Ilir ke Ulu menggunakan perahu.

Jalan beraspal juga belum ada. Ketika turun dari perahu, mereka harus meloncat gesit melewati tanah lumpur, atau meniti balok-balok kayu. Banjir juga sering terjadi, jadi harus siap-siap mengangkat jubah tinggi agar tak basah.

Di seberang Ulu ini, tinggalah masyarakat asli Palembang, baik itu Tionghoa maupun melayu. Pada dasarnya, mengingat sejarah panjang Palembang, pernah dibawah kekuasaan turun-temurun ribuan bajak laut asal Hokkian, Tahun 1407 armada dinasti Ming dibawah komando Laksama Cheng Ho merebut dan menaklukkan bajak laut Hokkian yang menguasainya, lalu ketika Arya Damar(Swan Liong) dan istrinya menjadi penguasa Palembang sebagai taklukan Majapahit, sebenarnya tak ada perbedaan signifikan lagi antara ras Melayu dan Tionghoa di sana, sama-sama pribumi.

Sejarah panjang dan pembauran membuat kini, kadang sulit membedakan Melayu ataupun Tionghoa di Palembang, karena yang dikatakan Melayu di Palembang biasanya juga putih-putih dan sipit-sipit.

Contohnya, saat kerusuhan tahun 1998, ada teman bereknis Melayu di Palembang rumahnya ikut dibakar massa perusuh. Sebab musababnya, keluarganya putih-putih dan sipit semua, jadi rumahnya ikut dibakar.

“Ai, payah nian ha! Padahal aku Islam! Melayu!” kata dia berkeluh-kesah saat mengungsi ke Jambi.

Yah, kadang ada yang memakai indentitas Islam untuk menunjukkan dirinya bukan Tionghoa, tapi Melayu.

Padahal kalau dirujuk ke belakang, sejarah Islam di Bumi Nusantara, baik itu di Palembang maupun di Jawa, lebih ribet lagi.

Prof.Dr. Slamet Muljana, seorang filolof dan sejarawan Indonesia yang pernah mengajar di Universitas Gadjah Mada, IKIP Bandung (Universitas Pendidikan Indonesia sekarang), Akademi Penerangan, dan Akademi Jurnalistik. Kemudian pada masa Orde Baru dikucilkan di Indonesia, buku-bukunya dilarang, mengakibatkan sejarawan hebat itu memilih mengajar di luar negeri, antara lain, Wolfgang Goethe Universitat (Frankfurt, Jerman), State University of New York (Albany, Amerika Serikat), dan Nanyang University of Singapore. Ia pernah menjabat sebagai direktur Institut untuk Bahasa dan Kebudayaan di Singapura, serta menjadi anggota dewan kurator pada Institute of Southeast Asian Studies di Singapura.

Menurut professor ini, dalam bukunya “Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara (1968, terbit ulang 2006) yang dibredel pada jaman Orde Baru, “8 dari 9 Wali yang menyebarkan agama Islam di Indonesia, yang sangat dihormati itu adalah keturunan Tionghoa.”

Delapan dari 9 Wali adalah keturunan Tionghoa

1. Sunan Ampel nama Mandarinnya Bong Swie Ho.

2. Sunan Drajat nama Mandarinnya Bong Tak Kheng.
3. Sunan Bonang nama Mandarinnya Bong Tak An.
4. Sunan Kalijaga nama Mandarinnya Gan Si Chang.
5. Sunan Gunung Jati nama Mandarinnya Tu An Po.
6. Sunan Kudus nama Mandarinnya Ca Tek Su.
7. Sunan Giri, adalah cucu Sunan Ampel, jadi juga bermarga Bong.
8. Sunan Muria Maulana Malik Ibrahim, bernama Tan Eng Huat/ Chen Ing Fat.

Dengan rujukan ini, sebenarnya klaim Islam sudah pasti bukan Tionghoa atau Tionghoa sudah pasti bukan Islam adalah sesat.  Buku itu justru memaparkan, yang meng-Islamkan Indonesia adalah orang Tionghoa.

Konon, mempertentangkan Islam dengan Tionghoa mulai dilakukan Belanda setelah mengetahui Raden Patah adalah keturunan Tionghoa. Penyelidikan berikutnya setelah menyita dokumen-dokumen di Klenteng Sam Po Kong, mereka lebih kaget lagi, 8 dari 9 Wali yang begitu dihormati dalam siar Islam adalah keturunan Tionghoa!

Kekhawatiran akan Tionghoa, Jawa, Melayu bersatupadu melawan misi 3G(Gold, Glory dan Gospel= kekayaan, kejayaan dan misionaris) mereka,  membuat Belanda memakai politik devide et impera baru, memecah belah Tionghoa dan orang Melayu, Jawa yang mayoritas sudah beragama Islam.

Celakanya, politik pecah-belah ini kemudian dilanjutkan pemerintah Orde Baru dengan beragam peraturannya yang mendiskriminasikan orang Tionghoa. Puncaknya adalah meletusnya kerusuhan Mei 1998.

Jadi? Yah, mau dia Tionghoa maupun Melayu atau setengah-setengah, mereka sama-sama pribumi di Indonesia, juga di seberang Ulu.

Sedangkan di Seberang Ilir yang dipisahkan Sungai Musi, saat itu dikenal sebagai daerahnya pendatang, bukan asli Palembang.

Nah, di Seberang Ulu inilah, tepatnya Seberang Ulu 10 (maksudnya kilometer 10), Ashin Jinarakkhita pertama kali menginap dan membabarkan Dharma di Palembang. Tepatnya di rumah Bapak Tan Ek Kai, ayah dari Dr. Jan Hadi S.T (Q), dan kakek dari Romo Sutanto.

———————————————-000————————————

Bab 3. Rumah Kayu Kapiten Tan Ek Kai

“Ini kamarnya Sukong” kata Romo Tanto menunjuk sebuah pintu kamar kayu yang tertutup rapat.

Entah mengapa, setelah sekian lama, setelah 50 tahun kedatangan beliau dan menginap di rumah itu, aku masih merasakan getaran damai di sana, di rumah kayu kuno tersebut, yang  mirip dengan kuti saya di Myanmar dulu. Sendi-sendi ini serasa bergetar semua, haru.

Kamar Ashin Jinarakkhita, pertama kali bermalam di Palembang, ‘aura’ damainya masih terasa.


(Bersambung…)

4 thoughts on “Bab 2. Palembang, Wong Kito Galo”

  1. Hello Mr. Harpin, On reading about Klenteng Kwam Im(Chandra Nadi), is there any address so I can check at google map?

    1. Thank you Mr. Teh CSiang. This is the oldest klenteng in Palembang. Built in 1733. You can search on google with keywords: Pasar 10 Ulu Palembang. Pasar means the market. Historically, this market is part of the temple lands forcibly seized by the government when it erupted in 1966 anti-Chinese in Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *