Wihara Sakyakirti Jambi

Wihara  Perjuangan

 (Tulisan ini diambil dari Mamit  9/2012 yang akan terbit Juni ini)

 Adik-adik, sebelum menjadi anggota Sanggha, Ashin Jinarakkhita pernah menjadi guru di Sekolah Sariputra, Jakarta.

Sekolah Sariputra di Jakarta berdiri tahun 1955, merupakan sekolah Buddhis pertama di Indonesia yang didirikan Ong Tiang Biauw (kemudian ditabhiskan menjadi Biksu Jinaputta).

Sekolah ini juga memiliki sebuah wihara, yang merupakan tempat ibadah Buddhis pertama di Jakarta yang tak bercorak klenteng.

Tapi sayang, keberadaan Sekolah dan Wihara Sariputra di Jakarta yang bersejarah itu, kini tinggal kenangan, resmi ditutup 30 Juni 2007, untuk dirobohkan demi kepentingan bisnis.

Namun demikian adik-adik, di Jambi juga memiliki Sekolah Buddhayana yang didirikan tahun 1970 yang kini dikenal sebagai Sekolah Sariputra.

Pemberkatan oleh Ashin Jinarakkhita

Sekolah Sariputra ini meliputi TK-SD-SMP-SMU dan masih menjadi salah satu sekolah favorit di Kota Jambi hingga kini.

Awal berdirinya, sekolah ini hanya memiliki 3 kelas, berdinding papan dan beratapkan seng tanpa plafon, dengan hanya beberapa murid.

Menginjak tahun 1974, murid Sekolah Sariputra bertambah pesat mencapai 1000 orang, yang membuat ruang kelas terus ditambah dan harus memakai kelas bergiliran pagi dan sore.

Saat itu sekolah Sariputra menjadi sekolah terfavorit di Kota Jambi, mengalahkan sekolah favorit misionaris Katolik yang lebih dulu ada.

Namun, ditengah kegemilangan itu, tiba-tiba pada 19 Maret 1974 pemerintah mengeluarkan peraturan yang membongsai keberadaan sekolah Sariputra.

Atas nama pembauran, pemerintah meminta pihak sekolah mengeluarkan 60 persen siswanya yang Tionghoa dan menggantikannya dengan siswa pribumi yang non Buddhist.

Wah, Sekolah Sariputra dan siswanya kelimpungan.

Mengapa? Tak mudah memilih dan mengorbankan siswa untuk dikeluarkan dari sekolah hanya karena mereka terlahir sebagai orang Tionghoa. Karena, terlahir sebagai Tionghoa ataupun Melayu, bukanlah sebuah perbuatan kriminal yang harus diusir dari sekolah.

Selain itu, siswa non Tionghoa yang baru masuk tak harus membayar spp sebesar siswa Tionghoa yang sudah lebih dulu ada, melainkan harus lebih kecil.

Sejujurnya peraturan yang katanya untuk pembauran itu telah menciptakan diskriminasi. Selain itu, sekolah kini kesulitan memenuhi biaya operasional. Belum lagi pekerjaan membonkar kurikulum yang semula bercirikan Buddhis, untuk tak dianggap membuddhistkan murid-murid baru ini.

Syukurlah, melalui kesulitan-kesulitan tak sedikit itu, Sekolah Sariputra tetap menjadi sekolah favorit hingga hari ini. Banyak dari alumnusnya yang kini menyebar di berbagai kota di Indonesia maupun luar negeri, yang tetap menjadi aktivis memenuhi wihara tempat mereka tinggal kini.

Semua ini tentu tak lepas dari jasa Ashin Jinarakkhita adik-adik, yang sejak tahun 1964 telah menabur benih Dharma di Jambi, didampingi murid yang dikasihinya Samanera Jinagiri (kemudian dikenal sebagai Bhikkhu Girirakhitta) dan Samanera Jinaratana.

Berturut-turut dengan bimbingan beliau, didirikanlah Wihara Sakyakirti Jambi tahun 1968 sebagai tempat ibadah umat Buddha yang pertama di Jambi yang tak bercirikan klenteng.

Untuk memenuhi kebutuhan pendidikan umat Buddha yang terus meningkat kemudian di kompleks Wihara Sakyakitri didirikan Sekolah Buddhayana (Sekolah Sariputra), juga merupakan sekolah Buddhis pertama dan satu-satunya hingga kini di Jambi.

Beberapa murid beliau yang berjasa dalam pengembangan agama Buddha awal mula di Jambi adalah: Alm. Ali Santo, Alm Ibu Emy/ Tan Sian Nio(Kumuda Mitta), Alm Tjio Kiem Liang (Virya Mitta), Alm Oen Soei Jang (Satya Mitta) dan Alm Maitrimitta.

Semoga berkat timbunan perbuatan baik yang dilakukan mereka terlahir di alam bahagia. Untuk mereka yang masih dan terus mengabdi, semoga kesejahtraan mereka terpenuhi yah adik-adik, sadhu.

Saat ini ketua Yayasan Caka Maha Jaya yang menaungi Wihara Sakyakirti dan Sekolah Sariputra diketuai Romo Romo Balamitta (Tan Kian Ping).

Wihara Sakyakirti Jambi saat ini, 2012.