“?” Bukan Film Pluralisme tapi Film Evangelis

Setelah penasaran akan keberangan FPI pada film ‘?’ yang diputar SCTV, yang ramai di forum Kaskus, saya mencari dvd film itu di pasaran. Bahkan karena player lama saya rusak sebab jarang dipakai, saya sengaja membeli player baru hanya untuk menonton film tersebut.

Ada sih link downloadnya di internet, tapi downloadnya itu yang bikin capek d. Bisa nunggu ampe tuek.

Setelah menonton, menurut aku film itu kental pesan evangelisnya.

    1. Dalam film itu ada karakter wanita (diperankan Endhita) yang pindah dari Agama Islam ke Katolik. Ada juga karakter pemuda Tionghoa berangasan (diperankan Rio Dewanto) yang konvert dari Konghucu ke Islam. Pertanyaannya, mengapa tak ada karakter yang konvert dari Katolik ke Islam atau Katolik ke Konghucu? Apakah Katolik yang paling benar, atau film ini mendapat sponsor dari Katolik?
    2. Dalam film itu juga, digambarkan citra negatif sekelompok masyarakat Islam sebagai tukang amuk. Pertanyaannya, mengapa tak ada adegan sekelompok pengikut nasrani sebagai tukang sebar Indomie, bergerilya dari rumah sakit dan sekolah untuk memberi agama pada orang yang sudah beragama? Kalau mau fair, realita ini juga perlu digambarkan.
    3. Citra Katolik kental dalam film ini, sebagian besar setting di gereja, pementasan doktrin Katolik akan pengorbanan Yesus untuk umat manusia. Katolik digambarkan sebagai agama penuh kasih yang teraniaya lewat penusukan pendeta Albertus dan bom di gereja.
    4. Penggambaran agama Konghucu dalam film ini persis cara berpikir para evangelis terhadap agama Buddha maupun Konghucu. Bahwa umat Konghucu atau Buddha orangnya baik. Memperlakukan orang lain dengan baik meski mereka diperlakukan tak baik. Tapi sayang, mereka tak mengenal Tuhan selain dewa-dewa. Selain itu, umat Konghucu/ Buddha adalah orang kuno yang sudah bau tanah, barang antik seperti kerentaan Tan Kat Sun dan istrinya yang tinggal menunggu waktu.
    5. Pluraris, harusnya interconnection. Dalam film ini yang ada hanya umat Islam(Banser) dan Konghucu (Tan Kat Sun) yang membantu perayaan di Gereja. Kenapa tak ada adegan umat gereja membantu acara di Mesjid maupun Klenteng/Wihara? Sebuah indroktinasi agar umat lain selalu mensuport gereja?

Demikian pendapat saya. Dari segi fairness, keberimbangan, film ini seolah disponsori Katolik.

Positifnya, film ini tergolong berani menggambarkan kondisi masyarakat Indonesia di tengah ancaman sebagian orang yang merasa negeri ini milik neneknya doang, hehe. Harus diapresiasi.

Sebagai karya seni tentu tak lepas dari opini pribadi pembuat dan sponsornya, jadi sah-sah sahaja. Dalam negara yang katanya demokratis, tak spantasnya dilarang dan diancam. Keberatan? Buat sendiri film menurut versi Anda.