Cinta dalam Semangkok Rambutan

Hari Selasa saat kembali dari Pasar Asemka, di atas motor yang behenti di lampu merah Gunung Sahari , hpku berdering. Membuka helm aku mengambil hp dari sakuku, “Aheng Jambi” muncul di layar hp, kakakku paling tua yang menelepon.

 

“Halo, ada apa Heng?”

“Kiat, alamat kamu apa? Saya mau kirim rambutan” terbayang di benakku agaknya pohon-pohon rambutan di sekitar rumah yang saya beli dulu, yang kini ditempati kakak-kakak saya sudah berbuah. Di saat berbuah, bisa menjadi penghasilan buat kakak nomor dua yang telah berkeluarga.

 

Di Jakarta ini, rambutan bukanlah barang mahal yang susah didapat. Dengan sepuluh ribu rupiah saya bisa mendapatkan 2 ikat besar rambutan ngelotok di pasar, jadi aneh juga kalau jauh-jauh mengirimnya dari Jambi, bisa lebih mahal ongkos kirimnya, hehe.

 

“Oh yah, aku lagi di jalan, nanti aku sms saja yah,” kataku.

“Yah” kata kakakku, kemudian telepon aku tutup karena lampu sudah hijau.

 

Sepanjang jalan ke rumah aku berpikir apa perlu memberitahu dia di Jakarta rambutan sangat murah? Namun aku tidak tega, karena menyadari sebenarnya ia ingin mengatakan terima kasih dengan caranya, karena aku pernah membantu keuangan mereka di Jambi.

 

Membayangkan mungkin inilah cara dia berterimakasih, aku tak tega menyampaikan mudahnya aku memperoleh buah rambutan di Jakarta. Jangan-jangan juga, saat ini dia sudah ada di ekspedisi dan menunggu alamat dari aku.

 

Sampai di perkarangan pakir apartemenku, aku langsung sms alamat tempat jualanku di Mangga Dua Square. Sehari-hari saya lebih sering berada di sana.

 

Saat Dewi pacarku mendengar ceritaku, bahwa kakak di Jambi nanya alamat mau kirim rambutan, kalimat yang sama terucap dari mulutnya “bukannya nanti mahal di ongkos kirim?”

 

“Tidak apa-apa, mungkin ini cara dia mau berterimakasih, karena beberapa tahun ini aku selalu kirim baju baru dan uang untuk mereka saat Imlek.”

 

Dibesarkan dalam keluarga yang tercerai-berai, ayah sudah meninggal saat saya masih bayi, Aheng kakak tertuaku yang sudah merantau sejak kecil dan aku yang diumur enam tahun sudah tidak tinggal dengan Ibuku membuat kami empat bersaudara tumbuh tak seperti saudara umumnya, memiliki dunia dan keterasingan sendiri.

 

Menginjak kelas tiga SMP saya sudah merantau dan hidup indekos sendiri di Yogyakarta. Aku tak pernah merasakan kehangatan dalam persaudaraan dan keluarga. Maka tak pernah terbesit pikiran mengirim sesuatu berupa uang atau bingkisan untuk membahagiakan ibu maupun saudara-saudara saya di Jambi. Lo-lo, gue-gue, deh.

 

Anehnya, sikap-sikap tak peduli ini, perlahan mulai terkikis setelah aku mendalami meditasi wipassana di Myanmar.

 

Mengherankan juga, hanya duduk diam mencatat pikiran dan akhirnya mengalami hal-hal diluar nalar, muncul tahapan rasa sayang begitu meluap dalam diri saya untuk orang-orang dan semua mahkluk di muka bumi ini.

 

Mendekati bulan Imlek, saya menyadari kakak-kakak saya masih hidup dalam kemiskinan. Saya juga menyadari, bertapa alpanya saya dengan kehidupan ibu dan kakak-kakak saya sepanjang hidup ini. Penyesalan terdalam saya adalah tak bisa memberikan apa-apa lagi pada ibu saya karena beliau sudah tiada.

 

Jadi biasanya menjelang Imlek beberapa tahun ini, betapa kekurangan pun saya di Jakarta, saya selalu mengirim baju baru dan ampau untuk kakak-kakak dan ponakan saya di Jambi. Perhatian ini perlahan menjadi pengikat dalam persaudaraan kami.

 

Saya sudah lupa telepon kakak saya yang menanyakan alamat, ketika pagi ini, saat sedang membuka konter di Mangga Dua Square datang petugas TIKI membawa bungkusan seukuran galon cat 5 kg. “Ini tempat Pak Harpin yah?”

 

“Oh, ada paket? Dari Jambi?” kataku, oh pasti buah rambutannya kiriman Aheng sudah tiba.

 

Dewi, pacarku kemudian sibuk membuka paket itu yang beratnya 2 kg termasuk embernya.

 

“Ongkos kirimnya berapa yah, Sayang?”

 

“Mungkin 30 sampai 70 ribu. Dihitung dengan tips buat kurirnya tadi 10 ribu, total delapan puluh ribulah.”

 

“Belum termasuk ngepak dan membawa ke ekspedisi, yah?”

 

“Hehe.”

 

“Jangan dilihat dari jumlah rupiahnya yah, tapi niatnya untuk memberi.”

 

“Iyah, mungkin kita bisa mendapat rambutan dengan mudah dan murah di sini. Di sisi lain, kakak saya ingin berterimakasih.

 

Saat ini kebahagiaan mereka adalah menikmati rambutan yang berbuah di sekitar rumah. Dan, dia ingin membagi kehabagiaan itu ke kita. Jadi, inilah caranya berterimakasih. Memaketkan ke kita, meski terasa aneh karena mahal di ongkos.

 

Untung kemarin aku tak menolak kiriman dengan alasan, di Jakarta banyak kok, murah-murah lagi. Kalau itu aku lakukan, kita sudah mencampakkan sebuah kebahagiaan yang ingin ia bagikan.”

 

Segera setelah menerima paket, saya telepon Aheng kakak saya mengucapkan terimakasih buah rambutannya sudah sampai.

 

“Cuman dikit, gak bisa kasih banyak, buat cicip aja,” kata kakakku tertawa bahagia.

“Kamsia-kamsia, makasih” kataku menutup telepon membayangkan kebanggaan seorang kakak yang sudah mengirimkan paket rambutan ke adiknya.

 

“Rambutannya enak, berbeda dengan rambutan yang biasa kita beli” kata Dewi sibuk melahap rambutan dan menfotonya dengan BB untuk diunggah ke Facebook.

 

Aku ikut melahapnya. Penampilan rambutan itu memang berbeda dengan rambutan yang biasa kami beli, terasa lebih kokoh.

 

“Rambutan organic” kataku pada Dewi, karena memang pohon rambutan di sekitar rumah di Jambi, tumbuh alami tanpa dipupuk, jadi rasanya lebih asli dan asri.

 

Selain itu, rasa enak dan berbeda itu mungkin muncul dari kasih sayang seorang kakak pada adiknya, saat menyiapkan kiriman itu. Yah, kasih sayang dalam semangkok rambutan.

 

Bibit kasih sayang itu ada pada semua orang, pada semua mahkluk. Seringkali ia masih tertutup debu. Harus ada pionir untuk membersihkan debunya, agar ia bercahaya dan mampu menerangi sekitar untuk ikut bercahaya. Maukah Anda menjadi bagian dari pionir itu?

 

Menyayangi kalian semua, selalu, selamanya.

 

Mangga Dua Square Jakarta, 22 Feb 12

Harpin R