Steve Jobs, from Zero to Hero

Artikel berikut diambil dari Majalah Mamit 8 yang akan terbit Februari 2012,
segera dapatkan Majalah Mamit dengan menghubungi:08989248677

Tokoh Dunia Beragama Buddha

Steve Jobs, From Zero to Hero

Adik-adik penggemar film animasi tiga dimensi seperti Toy Story, Kung Fu Panda dan sebagainya  dari Pixar Animation Studio dan Walt Disney Company?

Atau adik-adik pernah mendengar atau memiliki gadget canggih iPad, iPhone,iPod, komputer Macintosh dan produk lain yang berlogo buah apel digigit sedikit?

Jika begitu, sepantasnyalah adik-adik tahu sosok dibalik kemudahan dan keindahan teknologi ini, tak lain adalah Steve Jobs.

Steve Jobs dikenal sebagai visioner dunia, perintis dan jenius dalam bidang bisnis, inovasi, dan desain produk, dan orang yang berhasil mengubah wajah dunia modern. Lebih dari semua itu adik-adik, beliau adalah penggikut Buddha aliran Zen yang taat.

Steve Jobs dilahirkan di San Francisco, Amerika Serikat pada 24 Februari 1955. Sejak kecil ia diasuh orang tua angkatnya yang sederhana Paul dan Clara Jobs yang hanya tamatan SMU . Meskipun belakangan diketahui orang tua sebenarnya adalah Abdulfattah Jandali, seorang sarjana berkebangsaan Suriah[27] yang kemudian menjadi profesor ilmu politik,[28] dan Joanne Simpson (née Schieble), seorang sarjana berkebangsaan Amerika Serikat.

Karena diasuh keluarga yang sederhana, saat kuliah ia harus numpang tidur di lantai kamar temannya. Terkadang, ia harus berjalan berkilo-kilo meter hanya untuk mendapatkan makanan gratis di kuil Hindu. Bahkan, meski kemudian tak tercatat lagi sebagai mahasiswa di tempat kuliahnya, ia tetap menghadiri mata kuliah kaligrafi yang ia butuhkan ilmunya.

“Jika aku tak menghadiri kuliah tunggal di perguruan tinggi itu, maka komputerMac tak akan memiliki beragam huruf cetak ataupun huruf dengan spasi sejajar.”Katanya kelak kemudian hari.

Jobs muda kemudian melakukan perjalanan ke India dengan bekal seadanya. Saat pulang dari India, kepalanya sudah plontos dan ia sudah menjadi pengikut Buddha. Ada juga yang mengatakan ia bekeinginan menjadi biksu.

Demikianlah adik-adik, kesulitan dalam hidup tak menutup asa Steve Jobs bercita-cita menjadi orang sukses. Ia kemudian bekerja di perusaan game Atari. Bersama temannya Wozniak, ia lalu mendirikan perusahaan komputer Apple di sebuah garasi mobil.

Jatuh bangun membesarkan bahkan pernah dipecat dari Apple perusahaan yang ia dirikan, tak membuatnya patah arang.

Hingga akhir hayatnya, pada 5 Oktober 2011, Job yang dulunya harus tidur di lantai kamar temannya tercatat sebagai pemegang saham perorangan terbesar di Walt Disney Company. Ia tercatat juga sebagai anggota Dewan Direktur di Disney Company dan ketua Dewan Direktur di Apple.

Kematiannya dianggap kehilangan besar bagi dunia, beduyung-duyung orang mengucapkan belasungkawa di Apple Store seluruh dunia. Semua orang berduka karena dunia telah kehilangan seorang visioner besarnya.

Universitas Buddhis Internasional di Muaro Jambi

Artikel berikut diambil dari Majalah Mamit 8 yang akan terbit  Februari 2012

Universitas Buddhis Internasional

di Muaro Jambi

Adik-adik, di Propinsi Jambi, terdapat candi Muara Jambi seluas 2.612 hektar yang merupakan situs peninggalan agama Buddha terbesar di Indonesia.

Menurut ahli arkeologi, situs Muaro Jambi dulunya sebuah universitas Buddhis internasional.

Dari catatan Biksu I-Tsing yang singgah pada abad VII, terdapat ratusan biksu belajar di universitas Muaro Jambi ini. Kalau mau berimajinasi, mungkin adik-adik bisa membayangkan ramainya biksu Tantra di jalan-jalan Dharamsala, India.

Salah-satu diantara keramaian biksu itu adalah Atisha Dhipangkara Shrijnana (982-1054), biksu yang dulunya seorang pangeran di India. Beliau menghabiskan 12 tahun, menimba ilmu Agama Buddha Wajrayana di sini.

Biksu Atisha Dhipangkara kemudian menjadi alumnus universitas Buddhis asal Muaro Jambi yang sangat terkenal seantero jagat hingga kini.

Segala kebajikan yang dipelajari di Bumi Pertiwi ini, telah beliau wariskan pada Bangsa Tibet. Di abad ke-11, dengan ilmu kebajikannya, Biksu Atisha menyelamatkan Tibet dari kehancuran. Biksu Atisha berhasil mengubah sistem keagamaan di Tibet. Beliau menulis buku Bodhipatwapradipa, yang kini menjadi kurikulum belajar Bangsa Tibet.

Jadi, ajaran Wajrayana yang kini dibanggakan Bangsa Tibet, sebenarnya merupakan ajaran yang dikembangkan nenek-moyang Bangsa Indonesia yang berhasil dilestarikan di Tibet, tapi sempat hilang dari Indonesia. Beberapa ahli Tibet, termasuk Geshe Sopa dan Manansala menemukan bukti Suvarnadwipa dan Shambala adalah Sumatra, tempat asal munculnya Tantra Kala Chakra.

Kini semuanya terbalik adik-adik. Kalau mau mendalami Wajrayana, kita harus ke Dharamsala dan belajar Bahasa Tibet. Padahal, dulu Biksu Atisha dan biksu mancanegara lainnya harus mengarungi lautan untuk belajar Bahasa Melayu dan mendalami Tantra Kala Cakra, di universitas Muaro Jambi ini.

Ternyata luar biasa yah sejarahnya. Informasi lagi nih, kalau Universitas Nalanda di India dikenal sebagai universitas tertua di dunia, maka situs Muaro Jambi seperti kembarannya saja,. menjadi universitas tertua di Indonesia.

Semoga kita memiliki karma baik mengunjungi dan menyelamatkan tempat ini yah adik-adik, karena saat ini kelestariannya terancam penambangan batu-bara di sekitarnya… Sadhu!