Bodhisattva Thích Quảng Đức

Bodhisattva Thích Quảng Đức

Quang Duc, a Buddhist monk, burns himself to death on a Saigon street June 11, 1963 to protest alleged persecution of Buddhists by the South Vietnamese government. (AP


Selama di Vihara Avalokitersvara aku menyadari perubahan-perubahan tubuhku. Karena perubahan-perubahan yang dialami tubuhku. Seperti ada pegas/peer di lutut kakiku. Sehingga kakiku tak dapat berdiri lama, bila berdiri lama ia akan secara otomatis menekuk/melipat sendiri sehingga aku bisa tiba-tiba terjatuh.

Pernah suatu hari aku berangkat bersama sejumlah umat dan pandita setempat mengunjungi seorang Ibu tua yang sakit. Ibu itu hidup seorang diri. Konon, usianya sudah tua tapi tak mati-mati, dicurigai beliau punya ilmu yang membuatnya susah mati.

Karena bukan ahli upacara, dalam tiap kunjugan saya bersama umat di daerah, saya memposisikan hanya mendampingi Pandita setempat, artinya saya meminta mereka tetap menjalankan fungsinya memimpin upacara sementara saya hanya mendampingi.

Tiap mengunjungi umat sakit parah di rumah sakit dengan selang di sana-sini, makan dari selang infus, buang air kecil dan air besar lewat selang, saya selalu menkonsentrasikan dalam batin, apabila saatnya sudah tiba, berikanlah dia kemudahan untuk ‘melanjutkan’ perjalanan. Sebaliknya apabila bisa sembuh, berikanlah kemudahan untuk sembuh dan mengakhiri penderitaannya yang berlarut-larut.

Dalam banyak kesempatan mengunjungi orang sakit, doa yang kami panjatkan saya rasa cukup efektif. Selama menjadi samanera dulu di Ekayana, pernah dalam sehari bersama Ibu Chaifung cs kami mengunjungi tiga orang yang sakitnya parah. Keesokan hari, menjelang makan siang aku mendengar kabar dari B.Aryamaitri Mahasthavira, ketiga pasien yang kami kunjungi kemarin sudah ‘lewat’.

Kembali pada semua persendianku yang lentur. Karena ada perubahan di persendianku ini, aku tak bisa berdiri lama. Saat mendoakan Ibu tua di pesisir Sumatra ini pun, karena baca doanya cukup panjang, dalam hatiku sudah was-was, takut kakiku menekuk sendiri. Dan dugaanku benar, saat tengah membaca doa, kakiku tiba-tiba menekukkan dirinya, hasilnya bisa ditebak: aku terjatuh dengan sukses berikut bonusnya keseleo. Aku segera diberikan kursi untuk duduk. Ibu tua itu beberapa hari kemudian kalau saya tak salah, memang ‘lewat’.

Keesokan hari kakiku membengkak. Ada umat vihara mengatakan suaminya bisa urut. Ia minta suaminya mengurut aku di kantin belakang vihara. Sebelum menjadi samanera, saat bekerja dulu, aku belajar otodidak pijat refleksi, yang hasilnya suka dimintai pijat oleh teman-teman sekantor,hehe. Jadi sedikit banyak tahulah aku tentang ilmu pijit.

Sepengetahuanku pijat refleksi menghindari memijat daerah yang membengkak, melainkan sisi-sisinya saja. Tapi apa yang dilakukan umat ini, mungkin bukan pijat refleksi. Daerah tapak kakiku yang keseleo dan membengkak, dipijat habis-habisan oleh beliau. Waduh-waduh, beberapa orang ibu yang melihat mengatakan kalau mereka yang mengalami mungkin akan menangis berurai air mata.

Sebelum memijit, Acek itu mewanti-wanti, dulu anaknya pernah jatuh dari tangga dan ia pijiti, sakitnya minta ampun, anaknya sambil menangis dan menjeri-jerit, tapi kemudian sembuh. Jadi aku harus siap menahan sakit.

Aku iya-iya sajalah. Sambil berpikir, sepertinya ada moment untuk berlatih. Lets me try,hehe.

Maka mulailah Acek itu mengeluarkan ilmu memijitnya. Tapi setelah sekian lama, agaknya beliau harus ‘kecewa’ dan terbelalak heran. Meski beliau memijit pengbengkakan di kakiku habis-habisan. Tak secuilpun erangan atau ringisan, apalagi jeritan yang tampak di wajahku. Wajahku hanya senyum, dan biasa saja.

Ini tak lain bisa terjadi karena aku mindfull pada titik-titik yang sakit selama beliau memijit kakiku. Saat tak diamati, atau saat kita tak mindfull, rasa sakit sepertinya ada pada seluruh tubuh. Atau tepatnya rasa sakit menguasai pikiran kita. Tapi begitu kita mindfull, dengan jelas kita bisa mendeteksi bagian yang sakit seperti menggunakan kaca pembesar. Makin dekat- makin detail. Kita tahu yang sakit ada di kaki. Setelah didekati lagi, ada di tapak, setelah didekati lagi, ada di satu titik. Setelah titik itu diamati lagi, ada molekul-molekul kecil berlarian di titik itu. Ketika molekul-molekul kecil itu diamati… mereka menjadi bias. Hasilnya sama sekali tak ada sakit yang kita rasakan.

Sebenarnya berangkat dari pengalaman ini aku bisa mengerti apa yang terjadi pada biku yang membakar diri di Vietnam, Yang Mulia Biku Thích Quảng Đức dimana masyarkat Vietnam mengenalnya sebagai Bodhisattva Thích Quảng Đức.

Yang Mulia Bodhisattva Thích Quảng Đức lahir di tahun 1897 dan meninggal 11 Juni 1963. Beliau adalah seorang Biku Mahayana, Master Meditasi yang mengakhiri hidupnya dengan membakar diri di keramaian jalan utama kota Saigon.

Hal ini beliau lakukan sebagai bentuk protes atas ketidakberdayaan Umat Buddha menghadapi tekanan dan penindasan dari penguasa Vietnam Utara yang tampaknya non Buddhist.

Di tahun 1963 itu, apa yang beliau lakukan sontak menarik perhatian dunia akan kondisi di Vietnam dan mendatangkan tekanan pada rejim yang berkuasa. Malcolm Browne yang mengabadikan moment itu dengan kameranya mendapatkan hadiah bergengsi di bidang jurnalistik dunia Pulitzer Price, demikian juga David Halberstam dengan laporan jurnalistiknya.

Uniknya, para saksi mata dan film dokumenter yang ada menunjukkan, selama proses pembakaran itu, beliau duduk dalam posisi meditasi dengan ketenangan tak tergoncangkan dari awal sampai akhir.

Jenazahnya kemudian dikremasi ulang. Lebih unik lagi, sisa pembakarannya berupa hatinya yang tetap utuh, dengan kata lain, terdapat relik berupa hati beliau. Ini adalah simbol belas kasih beliau yang luar biasa, masyarakat Vietnam kemudian menghormatinya sebagai bodhisattva. Atau secara Theravada Buddhism mengatakan, kalau ada relik sudah pasti Arahanta.

Pengorbanan beliau mendatangkan tekanan dunia internasional yang luar biasa pada rezim berkuasa, untuk merubah kebijakan yang mendiskreditkan umat Buddha di Vietnam. Akibat tekanan dunia internasional Rezim yang berkuasa merubah beberapa kebijakan, tapi tak sepenuh hati, sampai akhirnya terjadi kudeta militer, dimana rezim yang berkuasa Ngô Đình Diệm dibunuh militer dalam kudeta itu.

Jakarta, 24 Oktober 2009

4 thoughts on “Bodhisattva Thích Quảng Đức”

  1. bro… apakah seseorang bisa langsung mempraktekkan Vipassana seperti yang anda praktekkan? (karena beberapa sumber bilang ya dan beberapa sumber bilang tidak…)

    dalam beberapa cerita dikatakan bahwa ada murid2 sang Buddha yangmencapai arahat begitu selesai mendengarkan kotbah dharma…
    apakah di dunia saat ini masih memungkinkan?

    Hui Neng patriat ke 6 dari tradisi Zen sepertinya begitu? CMIIW

    Hehe, saya masih seorang pembelajar. Berdasarkan pengalaman, sangat susah bertemu guru-guru yang luar biasa, yang bisa membimbing kita tahap demi tahap, untuk ini saya beruntung. Memiliki karma baik bertemu dengan beliau-beliau yang luar biasa ini.

    Hidup ini penuh ketidakpastian, apakah ada yang tak mungkin di dunia ini? Salam.

  2. Ok … bagaimana sy memanggil (maaf .. ex-bhante .. hehe ) ..
    belum ada kelanjutan ceritanya ya … saya tunggu nih … saya sangat tertarik pada kisah perjuangan seseorang dalam pengalaman spiritualnya … atau ada kisah lainnya tolong share dong … terima kasih sebelumnya …
    Buddha memberkati … 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *