The Last Moment at Myanmar (2)

The Last Moment at   Myanmar (2)

chakraasis

Aku diarahkan bagian pengecekan paspor ke sebuah ruangan. Meski aku menjelaskan ke Myanmar atas undangan Pemerintah Myanmar, mengikuti Word Buddhist Summit, tapi over stay karena berada di center meditasi, dan saya biku, bagian imigrasi masa bodoh.

Berapa hari over stay aku dihitung, lalu diwajibkan membayar baru diperbolehkan menuju pesawat. Poor day.

Pesawat mendarat di Bandara Changi, Singapura. Ada rekan Hendritanti (sekarang Biku Nyanagupta) menyambutku. Malam itu aku menginap di kontrakannya. Untuk keesokan hari melanjutkan perjalanan ke Indonesia.

Rekan Hendritanti menjagaku sangat baik.  Untuk makan, biar kita makan di tempat umum, dia mewanti-wanti penjualnya untuk tak menggunakan daging, yang sebenarnya bukan pantangan aku, but as long we can follow it, its doesn’t matter.

Dia juga selalu membuka jalan untuk aku saat berjalan di keramaian, tapi saat aku minta diperlakukan biasa saja, dia juga easy going. Take care me as friendly monk, hehe. Dia juga mau membayar penuh tiket pesawat aku ke Jakarta. Tapi aku menolaknya, aku masih ada sisa sedikit uang, kamu nambahin kekurangannya saja, kataku.

Setiba di Indonesia, aku mengontak salah satu biku senior yang punya center di gunung.

“Namo Buddhaya Bhante, Ini Nyanachatta. Aku baru pulang dari Myanmar, Aku butuh bantuan Bhante, sepertinya meditasiku mengalami gangguan,” kataku to the point.

Ajaibnya, ternyata bhante itu sedang ‘turun gunung’ dan berada di Jakarta. “Udah tunggu aja, nanti sekalian aku jemput ke sana,” katanya.

Wah, kali ini sebuah kehormatan besar lagi bagiku. Biku sesenior dia pas lagi di Jakarta dan menjemput aku langsung di Ekayana.

Saat di dalam mobil, biku senior itu bertanya ”dalam mobil  begini pusing gak?”

Ups, dia sangat mengerti kondisiku, kataku dalam hati. Ini yang kucari, “Mual banget Bhante,” kataku.

Saat umat yang ada dalam mobil ikut berbicara, biku senior itu mengalihkan pembicaraan seolah tentang hal lain, jadi komunikasi ini cuma dua arah antara aku dan dia.

Singkat cerita kami sudah sampai di centernya di gunung. Biku senior itu berguman, “Selalu saja begini kalau udah mau jadi.” Beliau juga kaget saat tahu aku baru satu bulan di Forest Center Myanmar, “kirain sudah berapa tahun,” katanya.

Aku sekilas menceritakan kondisi center di Myanmar tempatku berlatih. Disiplin ketat.
Entah karena cerita ini atau bukan, di sini biku ini lalu memperlakukan aku dengan sangat keras… bahasa lainnya dibentak terus. Agak syok juga, hehe. Belakangan hari saat tidak di center biku senior ini lagi, dan bertemu salah satu yogi yang ada di sana saat itu, yogi itu bercerita mereka sempat komplain ke biku senior itu, kenapa memperlakukan aku begitu keras. Dalam pandangan aku, mungkin ada misundestanding antara disiplin dan bentakan.

Di Myanmar, guru kami begitu lembut dan tak pernah membentak. Memang disiplinnya sangat ketat dan seolah bisa membuat kita tak bisa bernapas, tapi fibrasi cintakasihnya yang kuat, rasa menyayanginya yang besar bisa kami rasakan dalam setiap sesi pertemuan yang terbatas.

Ketika biku senior ini, mungkin surprise dengan kemajuanku yang hanya satu bulan lebih di center Myanmar yang ketat ingin mengaplikasi system ini di tempatnya, suasana center berubah menjadi medan ospek. Disiplin tanpa loving kindness membuat center menjadi hanya medan bara. Dari center yang damai, saya tiba-tiba mendapati tiap hari harus diomelin.

Seperti ketika makan siang: Di Panditarama Forest Center, Myanmar, setiap moment adalah meditasi. Saat makan sekalipun, kami memasukan suap demi suap nasi ke mulut dengan sangat pelahan, mengunyahnya dengan penuh kesadaran, merasakan asin, manis, panas dan dingin makanan yang tercerap indra  lidah kami.

Agaknya belakangan aku tahu, biku senior ini juga pernah berada di Soeb  Oo Min Center Myanmar, dimana tidak menyarankan melakukan segala hal terlalu lambat. Mungkin karena hal inilah, siang itu biku senior itu membentak aku lagi. “Apa sih yang kamu lakukan? Makan begitu lambat! Kamu menikmati makanan itu kan?”

“Tidak Bhante,” kataku pelan setelah ia menghabiskan unek-uneknya. Mendengar  jawaban aku, ia melihatku untuk mendengar alasan lebih lanjut. Dengan memberanikan diri, untuk tak berkesan menggurui, aku menjelaskan aku sedang melakukan meditasi dalam makanan.

“Meditasi gimana?! Kamu pasti menikmati makanan itu, enak kan?!” hardiknya.

“Tidak Bhante,” kataku hati-hati dengan sedikit menunduk. “Aku mengawasi rasa asin, asam, manis, panas atau dingin yang kurasakan dari makananku,” aku tak menikmatinya,” kataku.

Syukurlah, meski tampak keras, biku senior itu bisa menerima alasanku. Beliau tampak berpikir dan tak memarahiku lagi. Namun, suasana makan tentu tak mengenakkan lagi.

Meski tahu bahwa aku sedang mendapat gangguan dalam meditasi, aku mencoba selektif terhadap resep yang diberikan padaku. Berhati-hati untuk mencari tahu kondisi batinku ada dimana, dan resep apa yang cocok untukku. Maka ketika biku senior itu diawal kedatanganku, memberikan foto-foto mayat, untuk dilihat lalu diingat dalam batin katanya, tentu tak aku jalankan.

Setahu aku, yang aku pelajari adalah meditasi vipasana. Dalam vipasana kita tak menciptakan atau menghilangkan sesuatu. Jadi agak aneh kalau sekarang aku harus memasukkan mayat-mayat ini ke dalam batinku. Melihatnya, lalu menutup mata membayanginya di dalam batin.

“Nanti aku ajarkan yang lainnya lagi,” katanya.

Namun, tak etis kalau aku menolak di hadapan biku itu. Aku  bilang ya dan menyimpan foto itu, tetapi aku tetap praktek meditasi dengan metode yang sudah aku jalani di dalam kutiku.

Maka bisa dipastikan, esok harinya ketika ditanya hasil meditasiku, apakah sudah ada gambaran mayat itu di dalam batin, aku menjawab belum, biku senior itu tampak mangkel. Terlebih saat aku tanyakan seperti ada tangan robot, tangan tambahan yang menempel di saraf-sarafku.

Langsung saja, pagi itu aku menjadi bulan-bulanan bentakannya. Agaknya dia nge kalau aku tak menjalankan arahannya. Yah, mohon maaf, mungkin aku termasuk pembelajar yang selektif. Meski kadang bisa merugikanku, tapi seringkali itu bermanfaat untukku. “Pantas kamu disuruh keluar dari center. Keras kepala. Disuruh begini malah jalanin yang lain. Lama-lama kamu bisa gila! Denger yah, jangan memasukkan nafas lewat mulut. Nafas masuk lewat hidung harus keluar lewat hidung.”

Astaga, inilah untungnya belajar dengan biku senior, ada point-point yang tak kita sebutkan, tapi dari jam terbangnya yang tinggi, beliau bisa tahu dan menjelaskan.

“Maaf Bhante, aku salah… tadi pagi aku memasukkan nafas lewat mulut dan mengeluarkan lewat ubun-ubun, aku merasa tubuh ini sepertinya dikuasai orang lain.”

“Hah, kamu bisa gila!”

“Maaf Bhante, aku tidak mengulanginya lagi.” Kataku bersujud  tiga kali. “Makasih banget, Bhante.”

Setidaknya biku senior ini mengingatkan dasar-dasar meditasi yang ternyata aku lepaskan. Selama mengamati getaran-getaran tubuh yang terus berpindah, aku sudah terbawa terlalu jauh. Aku bisa merasakan getaran perputaran di titik anus, perut, jantung, hati,tenggorokan, jidat dan ubun-ubun yang bergetar bersamaan, lalu nafas yang masuk lewat mulut aku keluarkan melewati pusaran-pusaaran itu dan berakhir di ubun-ubun seperti helikopter, hehe.

Meditasi yang aku lakukan dengan mengamati pusaran-pusaran itu tanpa aku sadar membuat aku mengamati semua sensasi abstrak yang aku rasakan. Hal sangat sepele yang dulu aku tahu untuk mengabaikan/cukup tahu saja sensasi abstrak colekan di kaki, seperti ada yang berusaha menempel sehingga punggung terasa berat dan sebagainya, telah aku abaikan.

Aku terjebak dan tak bisa membedakan menyadari dengan mengikuti. Dalam hal meditasi, dua kata ini memiliki makna dan akibat yang begitu fatal.

Aku menyadari sepertinya kekacauan ini dimulai dua malam terakhir saat aku di Forest Center Myanmar,ketika aku mengikuti sensasi colekan di kakiku.

Terima kasih Bhante, from that moment, kondisi meditasiku membaik. Aku berhutang sangat banyak pada Bhante.

Tetapi di sisi lain, aku tahu, metode yang aku pelajari berbeda dengan metode di center biku senior yang ada di gunung ini, yang tampaknya menurutku lebih ke arah Samatha Bhawana.

“Kalau aku menutup mata, rasanya tak seperti sedang menutup mata biasanya, tapi seperti sedang ada di alam lain, “ kataku memulai pembicaraan.

“Itu alam tanpa batas,” kata biku senior itu.

Point terakhir yang ingin aku tahu adalah, gambaran yang aku lihat dulu, permadangan yang sangat indah, kuda terbang yang mengangkut penumpang di awan itu apa?

Ketika keesokan harinya aku tanyakan pada biku senior itu, beliau berkata” kamu melamun kali?”

“Yang aku lihat bukan dalam kondisi duduk meditasi, Bhante. Tapi saat mata terbuka begini. Itu seolah ada di jidat, bergerak seperti film, kalau diarahkan ke matahari, gambar itu makin terang…”

Bhante itu tampak terdiam. Ia tak mengucapkan apa-apa. Kesimpulannya, tak ada jawaban di sini.

Genap seminggu, karena merasa yang aku dapat cukup, sore itu aku minta ijin pada biku senior itu untuk pulang ke Jakarta.

Aku bersujud tiga kali mengucapkan rasa terimakasih yang amat sangat. Beliau telah mengingatkan aku sebuah masalah sangat simple dan dasar, tetapi peringatan itu telah menyelamatkan aku.

“Budi ini tak akan bisa aku balas, Bhante,” sujudku pada beliau.

“Ke Jakartanya naek pesawat saja, jangan naek bis” pesan beliau tahu aku belum bisa berada di satu ruangan dengan banyak orang, pasti aku akan mual. Setidaknya pesawat bisa mempercepat semuanya.

Bersambung  gak yah? Hehe….

Jakarta 15 Agustus 2009 (10:56 pm)

Harpin

Sumber: harpin.wordpress.com

2 thoughts on “The Last Moment at Myanmar (2)”

  1. bhante mohon disambunglah ceritanya… supaya dapat menjadi referansi bagi kita2 yang masih pemula ini…

    nice posting anumodana…

    ho ho ho

    Ok bro, but i am not bhante anymore

    ho ho ho, hehe

  2. ya, bhante .. cerita terus ya .. berbagi dengan semua .. sudah lama sy periksa terus postingannya, baru sambung, jangan putus lagi ya ..
    saya juga tertarik dg meditasi, tp sejauh ini sy lakukan tanpa bimbingan guru..
    thanks …

    Yoi,thx untuk apresiasinya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *