Beautiful Vipassana

BEAUTIFUL VIPASSANA

Buddha

Sudah dari kecil aku jago berdebat. Boleh dibilang, kalau maunya begini… tak ada yang bisa merubah jadi begitu. Hebatnya, otak ini seperti sumber inspirasi yang tak pernah habis bagi saya merubah hitam jadi putih atau putih jadi hitam.

Jadi, sudah lama aku menyadari tak ada kebenaran absolut. Sesuatu menjadi benar bergantung suasana hati. Kalau saya menginginkannya benar, jadilah benar. Kalau saya menginginkan salah, jadilah salah. Kata-kata hanyalah permainan logika.

Puncak kesewenang-wenangan saya terjadi saat di kelas 3 SMU 9 Yogyakarta tahun 1992. Mungkin suasana kelas Sosial yang rata-rata cowok bandel dan kompak sebagai landasannya.

Aku mulai berani menggugat guru Sejarah Perjuangan Bangsa dengan frontal.

Sudah rahasia umum, di jaman Orde Baru, semua materi sejarah adalah indoktrinasasi cuci otak tentang sucinya Orde Baru dan hinanya Orde Lama. Dengan mudahnya buku sejarah menyalahkan Bung Karno atas politik Ganyam Malaysia, tetapi melupakan keberhasilannya merebut Irian Barat.

Di tengah semangat 45 guru itu menjelekkan Bung Karno dan Orde Lama di depan kelas, aku intruksi, “Pak, seandainya kita berhasil merebut Malaysia dan kini menjadi wilayah Indonesia… mungkin sekarang kita tak akan menyalahkan Bung Karno atas politik Ganyang Malaysianya. Ironinya, keberhasilan yang didapat dari merebut Irian Barat tak pernah dipuji. So, hanya kegagalannya yang dicerca.

Kata penutup saya pada guru sejarah:”Kalau Orde Baru hanya bisa terus menjelekkan Orde Lama, akan datang suatu Orde berikutnya yang akan menhina-dinakan Orde Baru,” kalimat pamungkas yang membuat muka guru sejarah itu merah padam dan terdiam seribu bahasa.

Kelas hening sejenak, yang kemudian disambut sorak-sorai kemenangan dari teman-teman sekelas.

Ada banyak event pembrontakkan yang membuat muka guru-guru saya memerah, yang terakhir adalah Study Tour.

Waktu itu kalau tak salah, biaya study tour ke Bali Rp.75.000,- Ada enam kelas, IPA satu kelas, BIOLOGI dua kelas, SOSIAL 2 kelas yang masing-masing kelas terdiri 50 an orang.

Kami berangkat ke Bali dengan model bus gado-gado, anak IPA yang merupakan anak emas mendapat bus ber-ac, yang lain saya tak tahu, sedang kami yang anak SOSIAL-1, yang paling bandel kebagian bus tak ber-ac meski bayarnya sama!

Studi Tour kami antara lain mengunjungi tempat pembuatan arak bali. Tempat wisata yang kami kunjungi beberapanya karena tibanya malam, sudah ditutup, jadi kami tidak masuk dalam arti tak ada pengeluaran di situ.

Sebenarnya dari tahun sebelumnya sudah ada isu sumir pengurus Studi Tour yang korupsi. Yang katanya, habis Studi Tour bisa beli ini dan itu di rumah.

Secara naluri saya menyadari ada yang tak beres, tapi saya juga menyadari tak ada logika membuktikan penyelewengan itu, hingga tiba study tour untuk adik kelas kami tahun berikutnya saat kami di kelas tiga yang diurus guru berbeda, yang ternyata berbiaya sama, Rp.75.000,- Padahal BBM baru naik.

Logikanya BBM adalah komponen terpenting. Kenaikan BBM pasti disusul kenaikan transportasi, hotel, dan konsumsi. Apalagi penyelenggara tahun ini melibatkan travel bonafit, seharusnya biayanya jauh lebih mahal.

Dari logika sederhana itu aku bergerak. Dengan mesin tik tua, aku mengetik logika-logika sederhana diatas, yang isinya diakhiri kalimat “Oh Guru, Ajarilah kami tentang kejujuran.”

Kertas itu aku fotocopy, dibaca teman-teman, lalu bersama teman-teman, dicenplungkan lewat jendelah ke kantor kepala sekolah. Tak hanya itu, esoknya aku membawa kertas hvs dan spidol merah-biru yang aku tulis kalimat-kalimat provokatif, lalu ditempel teman-teman di kantin dan sudut-sudut sekolah.

Kami memang bebas bergerak, karena kelasnya paling bandel, kompak tapi tidak bodoh, jadi kami seperti penguasa sekolah. Di tangga menuju kelas kami, di tempel kertas bertuliskan “Koruptor Dilarang Masuk!”

Entah karena aksi kami atau bukan, hari itu upacara bendera ditiadakan. Kertas-kertas yang kami tempel dicabut guru. Kami juga mendapat info, guru yang menjadi panitia Study Tour masuk kelas demi kelas mempertangungjawabkan laporan keuangan.

Menjelang istirahat kedua, tibalah dua orang guru yang menjadi panitia ke kelas kami. Dari raut wajah, aku bisa merasakan sikap yang sedikit ketar-ketir, ini kelas singa, Bung!

Guru itu menjelaskan pengeluaran untuk ini-itu.

Saat saya tanya bayarnya sama kok busnya beda-beda yah, Pak. Ada yang pake ac ada yang nggak. Guru itu memberi penjelasan yang tak ada kaitannya bahwa kami harus memaklumi, sopirnya sampai begadang karena ban bocor dan sebagainya.

Aku dengan angkuh dan berkata menghakimi: “Lho Pak, itu bukan urusan kita, harusnya kita sudah bayar kita harus mendapatkan apa yang kita bayar, kalau tak sesuai kan kita bisa minta dikembaliin uangnya. Lagian, tidak pantas studi tour ke tempat pembuatan arak untuk anak sekolah,” kataku. Kalimat terakhir ini kurang didukung teman-teman, soalnya itu salah satu kegemaran mereka,he-he.

Guru itu entah menjelaskan apa aku tak mengikuti, ngalor-ngidul tambah tak ada hubungannya. Teman di samping juga mencolek, katanya ada objek wisata yang tak dikunjungi tapi tercatat pengeluarannya. weleh weleh. Tapi ada teman lain lagi mencolek, “udah-udah kasihan gurunya.”

Begitulah hari-hari terakhir saya di bangku SMU. Garang dan melelahkan.

Dengan kondisi yang suka berseberangan dengan guru, apalagi tak pernah belajar dari kelas 1sampai kelas 3 SMU, aku heran bisa lulus!

Sifat pemarah dan garang ini masih aku bawa sampai di Jakarta. Meski tubuhku saat itu ceking tak bertenaga, soal gertak-gertakan dengan sopir mikrolet karena bayaran dianggap kurang, menjadi makanan sehari-hariku.

Atau dengan penjual buku di pasar senen yang suka memalak, atau sewaktu sudah punya motor dan menjadi wartawan.. apalagi kalau bukan dengan polisi yang suka mencari-cari kesalahan, prinsipnya sepanjang gue benar.. Fight!

Jadi sebenarnya heran juga, dengan segala kekonyolan ini, aku bisa hidup sampai hari ini.

Bahkan setelah saya sempat jadi samanera dan lepas jubah untuk bekerja di kantor lagi, sifat garang ini masih tetap ada. Prinsip saya sepanjang tak diganggu, saya tak akan mengganggu. Tapi kalau saya diganggu, siapa pun dia, hajar, apalagi kalau sekedar berdebat di meja rapat, kata dan logika hanyalah mainan usang saya.

Apakah keberanian dan kemenangan ini membuat aku bahagia?

Terus terang tidak. Terkadang dalam hatiku, aku tak menginginkan semua ini. Aku tak menghendaki mereka bersedih, tapi di sisi lain aku tak bisa mengorbankan diriku untuk kemenangan mereka. Aku tipe idialis yang ingin terlihat hebat.

Namun, beruntunglah meski agak terlambat, seiring pertumbuhan usia aku menyadari “Yang menang jadi arang, yang kalah jadi abu.”

Mengingat semua kelakuanku dulu, yang bersisa hanyalah penyesalan mendalam pada orang-orang yang pernah aku sakiti. Kini aku berterimakasih dan menyadari, mereka yang pernah menjadi guru saya pasti memiliki kesabaran luar biasa menghadapi murid seperti saya.

Insight Meditation, Meditasi di Myanmar banyak merubah saya.

Sebagai contoh, dulu saya tak pernah betah duduk di belakang meja. Kini, sudah tiga tahun lebih saya setiap hari berada di tempat dengan rutinitas yang sama dan saya merasa biasa saja.

Dulu, kalau pacaran, saya sering berantem karena cemburu, curiga, prasangka dan mau menang sendiri, kini dua tahun lebih pacaran adem ayem saja .

Yang paling penting, kini saya memiliki begitu banyak orang-orang baik di sekitar saya. Mungkin karena aku tak biasa menebar api kegarangan dan kemarahan lagi di sekitar saya.

Batavia 16 Maret 2009 (4:00 am)
Peace,
Harpin

sumber: http://harpin.wordpress.com