The CRAZY MIND (2)

The CRAZY MIND (2)

b_hist25

Pernolakan pada  makhluk mengaku Avalokitesvara berlanjut di kuti. Aku seperti bertempur dalam diri, seolah tubuhku  punya dua sopir. Aku, sopir resmi, dan makhluk mengaku Avalokitesvara sebagai sopir ‘tembak’ hehe.

Terjadi pertumbuhan  sel kontrol baru di luar ragaku. Susunan saraf abstrak terbentuk perlahan menempel dari bahu sampai jemari, fungsinya mengontrol tangan diluar kehendakku.

Makhluk itu mengajarkan tak usah makan nasi. Aku sudah hebat. Cukup konsentrasi membentuk bulatan di udara lalu menelannya. Makhluk itu juga suka main mudra di titik di tengah alis kedua mata, seperti tengah menunggu sesuatu.

Terus terang, ini membuat aku khawatir, apa yang ia tunggu? Whats next?

Dalam kondisi ini, pilihan kooperatif atau tidak jadi pertimbangan.

Beruntunglah, Buddha Dharma pegangan hidupku mengajarkan untuk menjadi tuan atas tubuh kita. Dengan pertimbangan itu, aku  tak mau dijadikan alat.

Pembrontakan ini tak mudah, terlebih makhluk itu melakukan perlawanan agar bisa memakai tubuhku.

Dalam kuti saat jam istirahat, aku berusaha ambil kontrol habis atas tubuhku. Berusaha semindful mungkin, bergerak super lambat berpegangaan pada lemari dan sebagainya, kesadaran penuh pada semua pori-pori tubuhku, terbongkok-bongkok melakukan kayanupasana, mindful atas tubuh ini.

Seorang diri dalam kuti aku benar-benar seperti sakit jiwa. Entah benar atau tidak, merasakan ada yang terus mengawasi aku, kalau-kalau aku lengah dan berusaha mengendarai lagi.

Meditasi Malam

Ketika meditasi malam, tiba-tiba aku merasakan makhluk sekecil debu terus menerus keluar dari tulang sayap bahu sebelah kiri. Merasakan hal ini aku ketakutan, lalu melakukan meditasi jalan.

Saat meditasi jalan pun, aku tetap merasakan gerakan-gerakan small things itu. Ketakutanku pada si Penempel belum usai, sekarang apalagi?

Dengan ketakutan amat sangat, aku mendekati kursi  Sayadaw U Panditarama biasa duduk berceramah, berharap miracle terjadi untuk melindungi diriku.

Dan, aku benar-benar mendapatkan keajaiban. Berdiri di samping kursi itu, small thinng lenyap. Menjauh dari kursi Sayadaw,  gerakan di bahu terasa lagi. Begitu aku mendekati kursi sayadaw, small thing itu lenyap lagi. Aneh?

Menyadari ini, aku bersujud ketakutan di samping kursi sayadaw. Aku merasakan gerakan-gerakan small thing itu hilang, sepertinya kesedot. Yah, kesedot ke atas?

Aku melihat ke atas, ternyata di atas kursi sayadaw biasa duduk  terdapat eksos, kipas angin menyedot udara dari dalam dan membuangnya keluar.

Jadi small thing hilang kesedot eksos?! Nice! Aku keasyikan meditasi duduk di dekat kursi sayadaw. Merasa terlindungi.

Pertempuran dalam Gelap Malam

Saat meditasi malam berakhir, aku kembali ke kuti. Tapi berakhirnya meditasi malam bukan berarti berakhirnya ketakutanku.

Bahkan ketakutan lebih besar telah menunggu. Karena menjelang tidur, aku merasakan bulatan yang terbentuk dari titik di tengah dua alis melompat bagai kelereng, mengenai jubah yang aku jadikan selimut.

Tapi saat itu aku belum tahu sumber bulatan itu darititik diantara dua alis mata. Aku berpikir bulatan yang melompat itu bersumber dari sesuatu di luar aku. Alien, hantu dan sebagainya.

Di tengah hutan, di tengah malam gelap dan sunyi, setelah pengalaman makhluk kecil berlarian keluar dari tulang sayap bahu, kini mendapati ada yang melompat mengenai jubah menjelang tidur, ketakutan ini makin jadi.

Celakanya, semakin takut aku, semakin liar imajinasi berkembang.

Saat itu, aku tak menyadari ini. Tiap imajinasi kegelapan datang, yang lahir dari ketakutanku, aku melawannya dengan menciptakan imajinasi suci sebagai perisai.

Celakanya, bermain dengan imajinasi, kita seperti bermain dengan sumber air samudra yang tak pernah kering. Selalu ada next dan next, sampai kita benar-benar kelelahan.

Oleh pikiran naib mengalami peristiwa sejenis dengan malam Pertapa Gautama menghadapi Mara, pikiran liar makin jadi, aku harus menaklukan Mara… agar jadi Buddha in this very moment.

Maka kian serulah pertempuran-pertempuran itu.

Oleh batin bening selama meditasi, tak sulit bagi kita melihat jelas melalui mata batin apa yang melintas di pikiran, layaknya melihat dengan mata biasa.

Tak aku sadari, penglihatan-penglihatan ini  bersumber dari pikiranku. Rumusnya  sederhana: Selama aku bertindak dan bertempur dengan dan berdasarkan pikiran, maka aku selalu dalam kekuasaan pikiran itu. Gak bakalan menang!

Setelah sekian lama, oleh ketakutan yang makin jadi, aku mengetuk kuti sebelah, yang baru dihuni pemeditasi baru tiba dari Jepang. Aku mengatakan ada hantu mau ganggu aku, aku minta ijin nebeng di kutinya.

Selesai menggelar matras dan tidur di lantai kuti sebelah, saat berbaring bulatan dan gerakan itu muncul, tapi kini aku lebih tenang, karena tak sendirian.

Satu hal yang membuat aku heran, ketika aku tertidur kecapean, bulatan-bulatan itu tak mengangguku. Aku baru merasaakannya lagi saat  terjaga….

Semua itu eksis hanya kala aku terjaga dan hilang saat aku tertidur… so semua bersumber dari diriku? Tanyaku dalam hati. That’s only in my mind?

Persis kisah Pangeran Sidharta mencapai Kebuddhaan menjelang fajar, kesadaran ini bagai setetes embun dini hari, luar biasa indahnya. Dengan kelegaan yang ada, selanjutnya aku tertidur.

Di sisi lain, merunut kisah Buddha Gotama yang sukses menaklukan Mara, aku berpikir telah mencapai Kebuddhaan, Arahanta… seperti pertapa Gotama. Pikiran yang tanpa aku sadari, merupakan jebakan baru dalam latihanku.

Tobe continue, hehe….

Batavia, 28 Februari 2009 (4:22am)

Harpin

The Crazy MIND

The Crazy MIND

(kelanjutan The Power of MIND)

avalokitesvara

Pada awalnya bentol-bentol alergi terhadap jamur, dan kadang muncul seenak udel tanpa sebab jelas itu, cukup mengganggu hidupku.

Tapi syukurlah, suatu ketika bentol-bentol itu muncul lalu aku bawa dalam meditasi, ajaib dan susah dipercaya, alergi yang hampir ‘membunuhku’ itu lenyap dalam 15 menit.

Jadi merupakan hal wajar berpegian dengan guruku terkasih, beliau suka melihatku duduk meditasi dalam kamar dengan jubah melilit menyelimuti tubuh dari ujung kepala sampai kaki saat alergi itu muncul.

Aku tak pernah minum obat mengatasi alergi ini, cukup dibawa meditasi anapanasati samata bhawana yang aku praktekkan saat itu, selesai.

Seolah kehilangan taringnya, tak lama setelah jadi samanera bentol-bentol ini lenyap dan tak pernah muncul lagi sampai sekarang. Sedangkan alergi terhadap jamur itu ikut menghilang.

Selanjutnya, tahun 2004 aku berkunjung ke Myanmar untuk kedua kali.

Setelah mengikuti Fourth World Buddhist Summit, aku melanjutkan perjalanan ke Panditarama Forest Monastry.

Semula sempat bingung, nanti bagaimana? Karena aku merasa sudah ‘pinter’, sudah bisa mengamati gerak pikiran (baca ‘Kembali ke MYANMAR’)

Jadi sikap dan gerak-gerik saya sesuai intruksi di Shwe Oo Min center just rileks, santai saja. Berjalan tak terlalu lambat, yang penting menyadari gerak-gerik pikiran.

Saat di ruang makan pun aku bergerak santai. Bahkan dalam hati aku meremehkan mereka yang focus dan serius, aku bertindak sebaliknya, menunjukkan senyum dan keramahanku.

Barulah saat interviue dengan guruku terkasih U Tamana Kyaw Sayadaw keesokan pagi, aku menyadari telah diamati sejak kemarin.

“Kalau tak salah, kamu yogi yang dulu ditabis di sini, bukan?”

“Betul, Bhante,” kataku beranjali menunduk.

“Waktu itu kamu ke India?” tanyanya yang diterjemahkan seorang ibu dokter penerjemah.

“Betul, Bhante.”

“Di India kamu kemana saja?”

“Saya ziarah, Bhante. Ke tempat-tempat suci Agama Buddha.”

“Oo…’ katanya senang. Kemudian beliau melanjutkan ‘setahu saya, dulu kamu yogi yang serius dan bagus. Saya harap kamu mempertahankan sikap yang dulu, kalau tidak, kamu tak akan mendapat kemajuan di sini.”

Deg, tiba-tiba aku menyadari, sikap yang memang tak seserius dulu. Dalam hal berjalan, aku selalu mendahului yogi-yogi lain yang bergerak seperti keong. Lambattt banget.

“Yah, Bhante,” kataku menunduk kian dalam. Malu bercampur takut.

“Masih ada yang ingin dilaporkan?”

“Tidak, Bhante.”

Ia berkata sesuatu pada penerjemahnya, lalu penerjemahnya mengatakan, “now you can go.”

Aku namaskara tiga kali perlahan-lahan, lalu bergerak slow motion meninggalkan ruangan interview.

Sejak itu, aku kembali pada metode Mahasi di Panditarama Forest Monastry yang serius dan keras. Berjalan sangat lambat. Aku menjadi serius dan tak banyak mengumbar keramahan, terutama saat makan. Benar-benar kembali hidup di dunia sendiri.

Hari terus berjalan, hingga suatu pagi saat bangun dan mandi jam 3 pagi, aku merasa gerakanku sangat lambat dalam arti bukan aku yang mengontrolnya, tapi gerakan itu melambat dengan sendirinya. Rasanya enak juga, aku tak usah melambatkan gerakanku, tapi ia melambat sendiri, jadi tak butuh usaha lagi, hehe.

Saat interviu dengan Sayadaw, ia tertawa yang terdengar dari gelaknya.

Aku agak tenang, berarti gerak lambat sendiri ini bukan sebuah kesalahan.

U Tamana Kyaw Sayadaw, guruku terkasih kemudian bertanya, “apakah pusaran di ubun-ubun kamu sudah hilang?

Saya ragu.. berpikir sebentar, “sudah,” kataku.

“Apa yang kau lihat?” Tanya Sayadaw.

“Hm…tidak jelas,” kataku.

“Mungkin belum cukup bersih,” tambahnya, “dan kami melihat gerakkanmu juga belum cukup lambat,” tambahnya lagi sambil tersenyum.

Berdasarkan pengalaman interviuw, aku bisa tahu meditasiku di trek yang benar atau tidak dari nada suara Sayadaw. Bila nadanya lembut berarti baik, bila suaranya tegas berarti ada yang tak beres.

“Ada lagi yang ingin kau laporkan?”

“Hm..aku ragu, sepertinya aku memiliki kekuatan aneh,” kataku sejurus kemudian.

“Dalam vipassana tak ada keraguan, yang ada hanya kepastian,” kata sayadaw tegas.

“Saat meditasi, tanganku bergerak sendiri. Membentuk mudra-mudra, dan sepertinya itu memiliki kekuatan,” kataku.

“Dalam vipassana yang ada hanya kepastian. Disadari saja, itu akan berhenti.” kata sayadaw lagi dengan tegas.

Ups aku menyadari kekeliruanku. Semakin hari, dengan obyeb meditasi yang kian abstrak dan hal aneh yang aku alami (baca ‘Bagai Ular Melompat dari Jidat’), sepertinya aku makin tak tahu apa-apa dan muda melakukan kesalahan mendasar tanpa menyadarinya.

Di lain pihak, nasehat Sayadaw manjur sekali, begitu aku meletakkan kesadaran pada tangan yang akan bergerak sendiri, tangan itu tiba-tiba lemas dan tak berhasil bergerak diluar kesadaranku.

Tapi efek dan perkembangan lebih lanjut berjalan sangat cepat. Jadwal interview dua hari sekali tak memadai lagi dengan peristiwa-peristiwa aneh yang aku alami.

Namun, untuk bertemu sayadaw di luar jadwal adalah hil yang mustahal. Bagaimana kerasnya aku memohon, biku-biku pengawas di meditation hall tak memberiku kesempatan.

Mungkin juga mereka tak berani menyampaikan pada Sayadaw, jawaban mereka selalu akan disampaikan atau Sayadaw tak ada di tempat, Sayadaw sedang mengajar di tempat lain, Sayadaw sedang istirahat.

Celakanya, oleh pengalaman kian aneh diluar nalar dan tak ada sumber pemberi masukan sesuai kapasitas pengetahuannya inilah, hingga suatu malam di dalam kuti yang gelap, di dalam hutan yang sunyi, gerakan-gerakan abstak itu berhasil menjebol kesadaranku, membuat malam itu sebagai malam pertempuran batin yang panjang, menakutkan, dan melelahkan.

Menjelang fajar aku akhirnya menyadari, semalaman aku bertempur dengan imajinasi-imajinasi yang diciptakan pikiranku sendiri.

Tentang ‘pertempuran itu’ akan diceritakan di tulisan berikutnya.

Sunda Kelapa, 14 Februari 2009 (3.32 am)

Harpin

The Power of MIND

The Power of Mind

A Tribute for my MOM

Kuan Yin
Kuan Yin

Ini cerita sewaktu mama saya masih ada. Saat aku ajak ke Jakarta dan tinggal bersama aku, Mama memiliki keluhan penyakit kulit. Yakni kulitnya suka bentol-bentol kayak alergi.

Kalau saya tak salah, penyakit ini cukup lama Mama pikul. Saya tak tahu mulai kapan. Karena sejak umur 7 tahun, aku tak ikut mama. Melainkan tinggal dengan Tuako/Bibi—adik perempuan paling besar dari papa.

Kakak saya yang paling besar merantau sejak umur belasan. Sedangkan Papa meninggal saat saya bayi. Jadilah Mama hanya tinggal bertiga dengan kakak saya kedua (perempuan) dan kakak ke tiga (laki-laki) di pedalaman Jambi.

Karena ketidakcocokan dengan paman, dilain pihak prestasi belajar yang bagus, rutin juara kelas di SMPN 2 Jambi, menginjak kelas 3 SMP aku dikirim ke Yogya, ikut anak bibi. Maksud Bibi, supaya saya bisa sekolah sambil kerja di toko besi anaknya.

Semenjak di Yogyakarta, Praktis hubungan aku dengan Mama kian jauh. Kalau masih di Jambi, bila liburan aku bisa ke tempat Mama, kini tidak lagi. Praktis aku disibukkan sekolah dan membantu anak bibi yang workaholic, pekerja keras.

Pagi jam tujuh sekolah sampai jam 12.30. Jam 1 siang aku sudah di toko besi grosiran di Bringharjo sampai jam 6 sore. Malamnya, aku pulang ke rumah merangkap gudang di daerah Pingit.

Yang namanya gudang, apalagi anak bibi workaholik, seringkali kita masih bekerja sampai jam 2 pagi menyusun barang. Yang namanya barang besi tahu sendirilah, betapa beratnya peti-peti palu, cangkul, kunci-kunci, baut, kaleng cat dan sohib-sohibnya.

Yah, mungkin karena mental tak siap, juga punya bakat membandel, hehe, sebulan berselang aku cabut alias kabur dari tempat anak bibi. Aku mencari kos di belakang gudang anak bibi , yang masih aku ingat, cuma Rp.10 ribu per bulan.

Demikianlah, sejak itu hingga kini, kediaman resmiku tak jauh dari kamar kos berukuran dua kali tiga, termasuk waktu tinggal di kuti biku,hehe.

Selama tiga tahun, untuk bertahan hidup aku dikirimi kakak kedua yang buka warung kelontong di Jambi sebulan Rp.30 ribu. Rp.10 ribu buat bayar kos. Bayar uang sekolah di SMPN12 Yogyakarta Rp.1000 sebulan. Sisanya RP.19 ribu.

Sebagai gambaran, tahun 1986 makan di warung nasi pakai telor sepiring 250,- Sehari makan tiga kali jadinya RP.750. Dikalikan 30 hari sebulan hasilnya RP.22.500.

Kesimpulannya kiriman kakak saya tak cukup, ada defisit Rp.3.500, itupun untuk standar makan minimun belum termasuk kebutuhan tetek bengek lain.

Untuk mengatasinya, setelah konflik batin mendalam dengan muka badak menahan malu, aku yang berumur 16 tahun saat itu, minta kerjaan lagi pada anak bibi saya. Masuknya sepulang sekolah, tak iku kerja di gudang malam hari, kata aku.

Beliau setuju. Seminggunya aku dikasih Rp.5000,- lumayanlah, hehe, buat nutup defisit.

Karena kondisi ini harap maklum, nantinya sekolah aku kacau beliau. Meski sukses lulus SMPN 12 dan diterima di SMUK de Britto yang muridnya laki-laki semua, tapi inilah awal kekacauan hidup dan kepribadian aku, sampai harus menamatkan SMU selama 6 tahun, 2 tahun di de Britto 4 tahun di SMUN 9, weleh weleh weleh.

Tapi aku ikut anak bibi aku hanya 3 tahun. Aku dikirimin uang juga hanya 3 tahun itu.

Tahun-tahun berikutnya, sambil sekolah aku memiliki dua usaha taman bacaan kakilima di depan Rumah Sakit Panti Rapih dan tiga pegawai yang adalah teman-teman sekolah saya.

Kembali pada cerita tentang Mama saya.

Sudah pasti, karena tak tumbuh bersama Mama, aku tak memiliki hubungan emosional dengan Mama. Perasaan memiliki tak ada. Oleh kenaipan dan pemikiran usia puber, mungkin juga karena rusak dimanja waktu balita, aku justru menyalahkan Mama atas kondisi aku.

Sehingga, saya terlalu masa bodoh atas kondisi Mama di daerah. Hanya sekali-kali aku pulang ke daerah dengan gaya backpacker. Di saat itulah, aku sering melihat Mama mengoles tubuhnya dengan arak, karena tubuhnya bentol-bentol alergi.

“Kenapa, Ma?”

“Gatel, ga tau kenapa, nggak sembuh-sembuh” kata Mama.

“Oh…” kata aku dengan mulut bulat tanpa dilandasi semangat berbakti dan jiwa bhodisattva, mencari solusi untuk Mama. Seolah that’s not my problem, that’s outside of me.

Hari terus berjalan. Aku sudah menjadi wartawan majalah remaja kesohor di Jakarta. Aku memiliki pacar, mencintai pacar saya lebih dari segalanya. Bahkan, Mama tak ada apa-apanya dibandingkan kekasih hatiku.

Kakak perempuan saya bilang, pulang ke Jambi seminggu aku telah sibuk menulis surat ke pacar di Jakarta. Sementara puluhan tahun di rantau, surat yang aku kirim pulang bisa dihitung dengan jari (waktu itu belum ada hp).

Seiring waktu berjalan, mungkin karena pemahaman Buddha Dharma yang lebih baik, aku mulai melihat ada yang salah dalam hubunganku dengan Mama. Terutama saat membaca buku Sutrabakti Seorang Anak, dan mengetahui keniscayaan membalas budi ibu, lulu lantaklah hati ini.

Apalagi ketika aku sudah rutin meditasi di ruang meditasi Ekayana, yang pertamanya untuk memakai ruang itu harus kucing-kucingan dengan Awi yang front officer, karena masih orang baru di Ekayana.

Terkadang saat sedang meditasi seorang diri, bayangan Mama suka melintas. Terbayang akan kesulitan yang beliau pikul saat melahirkan kami berempat, saat ia harus membesarkan kami yang masih kecil tanpa suami, saat ia harus kucing-kucingan menjual nomor buntut, saat ia harus menjadi pencuci baju, saat ia harus berjalan berkilo-kilo meter menagih utang kode buntut yang itupun suka tak dibayar, atau saat ia harus menggelar dagangan kaki lima di depan sekolah.

Belum lagi disertai cercaan dari orang-orang yang bisanya hanya mencerca. Aku tahu Mama tak memiliki tempat mengadu. Papa telah tiada sejak aku bayi. Mungkin Mama hanya bisa mengadu pada sepi, atau menangis di depan altar Kuan Im saat sembahyang di Vihara Sakyakirti Jambi.

Membayangkan wajah mama di foto yang mudanya sangat cantik, yang kini telah tua, bongkok dan beruban diiris waktu dan penderitaan, air mata ini mengalir deras dari kedua pelupuk mata saya. Aku bisa menanggis terisak-isak dalam remang ruangan meditasi di depan altar Guru Buddha.

Berangkat dari situlah, dan dari contoh seorang teman yang sangat berbakti pada mamanya, aku mulai memperbaiki hubungan dengan Mama. Aku coba memeluk dia, aku coba mencium dia, sesuatu yang sangat asing dalam hidup aku, karena tumbuh sendiri di alam bebas. Mula-mula semua berjalan aneh. Namun seiring waktu, kekakuan yang ada mencair satu persatu.

Perlahan tapi pasti, hubungan dengan Mama kian dekat, yang bahkan Bhante Aryamaitri terkasih pernah bercerita, sangat tersentuh akan kedekatan aku dan Mama, saat aku membawanya ikut kebaktian Minggu sore di Vihara Ekayana.

Aku membonceng Mama dengan motor dari kontrakan, menuntun Mama yang beruban dan agak bongkok masuk vihara, lalu mengajarkannya tata cara kebaktian dan melafahkan nama Buddha dengan metode paling sederhana, yang mana tetap Mama lakukan tiap pagi sampai akhir hayatnya.

Tentang bentol-bentol yang ada di tubuh Mama pun, mulai menjadi masalah aku. Semenjak membawanya ke Jakarta, aku mencarikan obat untuknya.

Oleh cerita Mama yang telah memakai banyak obat di Jambi dan tak sembuh, dan keibaan melihatnya di kamar saat bentol-bentol alergi datang, aku mulai bisa merasakan apa yang dirasakan oleh wanita yang telah melahirkan aku dengan penuh kasih ini.

Saat itulah, entah sadar atau tidak, aku berkata pada diriku sendiri dalam hati, ‘kalau diijinkan, biarlah apa yang diderita Mama, diberikan pada diriku. Aku siap menerima penderitaan yang dipikul Mama’

Aku tak tahu, obat itu yang manjur atau tekatku yang manjur. Setelah pulang ke Jambi, aku dapat kabar dari Mama, penyakit yang sangat menyiksanya telah hilang. Obat yang aku beli di Glodok sangat manjur, katanya

Yah, aku ikut berbahagia atas kesembuhan Mama. Hanya aku tak bercerita, kalau penyakit itu kini ada pada aku.

Suatu ketika, saat mengendarai motor di Jembatan Lima, saking besarnya bengkak alergi di sekujur tubuhku, terutama di wajah, aku hampir jatuh pingsan.

Terutama bengkak-bengkak di wajah, membuat mataku hampir tak bisa dibuka untuk melihat jalan. Padahal sebelumnya aku baru dari kantor rekanan pekerjaan design graphic dalam kondisi baik-baik hingga menjelang pulang.

Karena beranjak malam, bergegas aku mencari dokter terdekat. Yang aku temukan adalah apotik di pinggir jalan. Dari apotik itu aku dirujuk ke dokter praktek berjarak sepuluh meteran dari apotik itu.

Dengan segenap tenaga bersisa, aku mencari tempat praktek dokter itu. Sampai di sana sudah banyak pasien yang antri. Tapi karena kondisiku kritis, matanya yang sudah sipit makin sipit karena penbengkakan, aku langsung dibawah ke ruang dokter.

Apa dinyana, setelah melihat tanganku yang membengkak dan membiru, dokter itu angkat tangan.

Kata dokter itu keracunan.

“Disuntik aja dok,” kata beberapa orang yang membawaku ke dalam.

“Tak bisa, tangannya bengkak dan membiru, kemarin ada yang kondisinya begini disuntik mati” katanya, walah-walah.

“Jadi bagaimana, Dok?” Tanya aku.

“Ke rumah sakit saja, diinfus” katanya menyebut sebuah rumah sakit.

Mendengar nama rumah sakit, apalagi harus masuk rumah sakit, yang tebayangkan adalah tumpukan uang yang tak pernah cukup. Jadi prinsipnya jangan deh, sampai masuk rumah sakit.

Tapi harus bagaimana? Ada beberapa orang yang coba memanggilkan taksi, tapi aku menolak, karena memikirkan biaya dan nasib motor aku.

“Ada saudaranya tidak?” tanya seorang wanita sambil mengeluarkan hpnya, yang ditahun 99an itu termasuk barang mewah.

Aku ingat adik mama yang rumahnya tak jauh dari situ. Aku minta meneleponnya,menceritakan kondisi aku dan minta dijemput, seingat aku dia punya mobil.

Sambil menunggu, oleh kondisi aku yang tak kuat, sementara dokter menolak aku, aku mencari meja jualan pedagang makanan kaki lima yang pedagangnya libur.

Berbaringlah aku sendiri di situ. Di tepi jalan antara jembatan lima dan jembatan dua, di tepi kali angke dibatasi trotoar dua arah. Karena berpikir ini keracunan seperti kata dokter, aku membuka susu bubuk yang aku beli di Mangga Dua, menelannya ditemani botol air yang selalu aku bawa.

Sesaat kemudian, aku berbaring dalam diam, tapi aku tak tidur.

Samar aku mendengar suara orang-orang yang tadi mengantre di dokter praktik mendekat dan berbicara diantara mereka, “lihat, dia sudah tak bergerak” yang disahut yang lain, “mungkin sudah mati?”

Mereka terus berbisik dari jarak antara.

Anehnya, melihat tingkah mereka keisengan aku muncul, bukannya memberi reaksi kalau aku belum mati seperti sangkaan mereka, aku malah makin tak mau bergerak, biar mereka kian heboh menduga aku mati,hehe.

Sesaat ada beberapa orang yang berjalan mendekati aku.

Wah, kalau ada yang mendekat beneran begini, aku batuk sajalah: “Hm. Ehm,” memberi tanda aku belum mati.

Mereka menjauh lagi, berbisik dari kejauhan lagi.

Malam kian larut. Aku mulai sadar tak mungkin dijemput adik mama, karena jarak rumahnya dari tempatku cuma 15 menit, sedangkan aku telah berbaring satu jam lebih di sini.

Oleh kondisi mulai pulih, pembengkakan berkurang, aku melanjutkan perjalanan dibawah tatapan orang-orang yang tadi mengawasi aku, ke tempat adik mama.

Sampai di sana, A’I (adik mama) aku tak berkata apa-apa. Ia memintaku berbaring di sofa ruang tamu, lalu menarik-narik urat di leher aku. Setelah itu ia memberiku segelas teh pahit.

“Kamu masuk anginnya udah kelewat parah,” katanya. Setelah itu aku tertidur sebentar, untuk kemudian aneh bin ajaib setelah bangun kondisiku membaik dan aku segera pamit.

Di awal tahun 2000, saat aku menjadi samanera (samanera milenium ceritanya, hehe) penyakit ini awalnya masih suka muncul, terutama kalau habis makan sayur jamur, pasti bentol-bentol. Namun untunglah, kondisi ini bisa diatasi dengan meditasi anapanasati yang saat itu aku praktekan.

Dalam tempo setengah jam bisa lenyap. Maka sudah terbiasa bagi guruku terkasih, Bhante Dharmavimala, kalau berpegian dengan beliau, aku suka bermeditasi berselimutkan jubah menutupi sekujur tubuh dan wajahku kalau bentol-bentol itu ‘bertamu’.

Aku lupa terakhir kali penyakit itu muncul, mungkin saat mengisi acara waisak sekolah di Sunter, bersama Bhante Dharmavimala dan Bhante Badraruci yang waktu itu masih samanera.

Batavia, 8 Februari 2009 (12:42 am)

Harpin

Kembali KE MYANMAR

Kembali ke Myanmar.

World Buddist Summit 4, Myanmar
World Buddist Summit 4, Myanmar

Aku berkunjung ke Myanmar lagi saat World Buddhist Summit ke 4, Desember 2004.

Oleh Guru saya terkasih saya ditugaskan mewakili Sangha Agung Indonesia bersama Yang Mulia Bhante Nyanasuryanadi Mahathera.

Pada hari ‘H’ aku berangkat ke Batam. Entah mengapa aku menolak bawa cindramata rupang besar dari Bhante Aryamaitri Mahasthavira yang sudah seperti orang tua saya. Aduh kualat deh. Ampun Bhante, hehe.

Tapi untunglah, belakangan aku tahu, Bhante Nyanasuryanadi yang Mahathera sekalipun, sangat rendah hati membawakan patung itu.

Keesokan harinya, Bhante Nyanasuryanadi Mahathera menyusul tiba di Batam. Kami menginap di Vihara Buddhayana Nagoya Point, untuk keesokan menyebrang dengan kapal feri ke Singapura.

Di Singapura kami mencari pesawat ke Myanmar. Sebenarnya bisa terbang langsung dari Jakarta ke Singapura, tapi supaya irit, perjalanan dilakukan ala back paker traveler.

Ada rekan Hendritanti menemani dari Batam sampai Bandara Changi, Singapura. Terimakasih dan namaskara untuk rekan Hendritanti, yang kini menjadi Biku Nyanagupta. Siapa menyusul? Haha.

Seperti biasa, tiba di Myanmar, Bapak Handaka yang helpfull pada Monk menunggu di airport. Berbeda dengan perjumpaan pertama saat beliau masih menggunakan celana panjang, kini beliau ‘menyatu’ dengan masyarakat Myanmar, kemana-mana pakai sarung kotak-kotak, hehe.

Hari pertama kami bermalam di kediamannya. Terdapat ‘kuti’ di rumah beliau untuk biku-biku yang transit belajar ke Myanmar. Kami juga menerima dana makanan Ibu Eli yang selalu memberi terbaik buat biku.

Setelah cukup istirahat, kami bersafari dengan keluarga Handaka: Bapak Handaka, Ibu Eli dan kedua anaknya : Voni dan Nyonyo (waktu itu anak yang ketiga , Minggala belum hadir,hehe) ke vihara-vihara suci di Myanmar, sebelum akhirnya meregister di hotel, yang disediakan panitia World Buddhist Summit.

Ada catatan kecil manfaat yang saya dapat dari kebiasaan mencatat proses batin, chittanupassana. Terimakasih pada Sayadaw U Tejaniya yang mematangkan karma aku tentang chittanupassana.

Setidaknya kini aku bisa meditasi di tempat ramai sekalipun, aku bisa meditasi dengan mata terbuka, sambil baca koran, sambil ngobrol, sambil nonton televisi.

Jadi saat mata aku nonton televisi, bila ada pikiran melintas aku mencatatnya, seperti :melamun, sambil mengalihkan sejenak mata dari televisi, plong melamun itu hilang, nonton lagi. Merencanakan, catat: rencana, pusaran pikiran rencana itu melemah dan hilang, kembali ke televisi.

Terkadang kita seperti melihat dua hal pada saat bersamaan. Saat mata menonton ke televisi tetapi batin kita melihat /merasakan proses pikiran yang tercatat berputar lalu melemah. Kadang untuk menyeimbangkan proses dalam batin, kepala aku bergerak pelan ke kiri atau ke kanan 15 derajat seperti menoleh sesuatu di samping. Jadi saat nonton televisi, televisi jadi objeck meditasi utamanya,hehe.

Proses pencatatan dalam batin ini sangat bermanfaat bagi pengendalian diri, terutama saat mengobrol dengan umat maupun rekan biku supaya tak hanyut dalam pikiran dan pembicaraan yang berkembang. Karena batin yang terbiasa mencatat, aku cepat tersadar kemana pikiran atau ucapan bergerak.

Misalnya tanpa sadar pembicaraan menjurus ke arah benci atau iri, biasanya sifat pembicaraan ini cepat tertangkap melalui kebiasaan mencatat yang otomatis: Ini kebencian. Ini irihati, ini kesombongan, sehingga aku cepat mengerem pembicaraan.

Ringkasnya pencatatan pikiran membantu kesadaran akan hadirnya akar-akar kejahatan yang bersifat sangat halus, seperti kebencian, keangkuhan, keserakahan, nafsu dan irihati, yang bisa menciptakan karma buruk melalui pikiran, ucapan dan perbuatan. untuk kemudian sadar dan tak melanjutkan.

Jadi kini dari segi wajah, menurut aku sendiri, tampaknya aku lebih bahagia, hehe. Ups, ini keangkuhan, hehe lagi.

Sambil menonton televisi, baca koran terkadang makan ubi berteman secangkir teh aku mengamati proses yang berlangsung dalam batin datang dan pergi. Tuing muncul pikiran, tuing pikiran itu menjadi lemah, tuing muncul lagi, tuing lemah lagi. Tuing tuing tuing, terkadang prosesnya cepat sekali, tapi kadang juga lambat sekali.

Ketika World Buddhist Summit yang berlansung sekitar 2 minggu berakhir, aku melanjutkan perjalanan ke Panditarama Forest Monastry.

Sedangkan Yang Mulia Bhante Nyanasuryanadi Mahathera yang sangat rendah hati harus segera ke Indonesia, tugasnya di Sangha Agung Indonesia dan dosen di IIAB Smara Tunggal Ampel, Boyolali telah menanti.

Batavia, 05 Februari 2009 (05:17 am)

Harpin.