Perjalanan MENANGKAP PIKIRAN 2

Perjalanan MENANGKAP PIKIRAN 2

Di Shwe Oo Min Center

Shwe Oo Min Sayadaw
Shwe Oo Min Sayadaw

U Tejaniya Sayadaw memintaku merapatkan tangan anjali, “apa yang terasa?” tanyanya.

“Hangat,” kataku

“Itu juga meditasi” katanya.

Satu hal berbeda di Shwe Oo Min center dibandingkan Panditarama Forest Monastry, di sini kami dapat ‘curhat’ panjang lebar dengan Sayadaw pembimbing.

Di Panditarama Forest Monastry kami tak boleh menatap guru pembimbing saat interviu, di sini kami bebas menatap, bertanya dan bercerita. Guru pembimbing sangat bersahabat. Terkadang karena kondisi, interviu dilakukan rombongan, bareng-bareng seperti klub sharing.

Di lain pihak, wajah U Tejaniya Sayadaw benar-benar mirip sahabat saya di Indonesia, Chinese dan putih.

Ditambah metode interviu friendly, jauh dari formalitas..bahkan aku bisa berbicara bila ketemu di jalan setapak, membuat dia reali seperti sahabat sepermainan saya.

Hal unik lainnya, U Tejaniya Sayadaw awet muda, dari teman biku Vietnam aku tahu usia beliau saat itu 40 tahunan, tapi gaya dan yang terlihat seperti baru menginjak 30an.

Dari rekan Biku Vietnam lagi aku mendapat info, penunjukan U Tejaniya Sayadaw sebagai guru meditasi oleh Shwe Oo Min Sayadaw menimbulkan pro kontra. Dari segi vassa, ada banyak murid Shwe Oo Min yang jauh lebih senior di center itu, namun beliaulah yang ditunjuk oleh Shwe Oo Min Sayadaw.

Sekedar info, ada kesamaan antara U Tejaniya Sayadaw dan Bhante Dharmavimala guru saya terkasih di Indonesia, Sama-sama tak pernah menunjukkan dan menuntut diperlakukan sebagai senior, tapi lebih memposisikan sebagai sahabat dalam Dharma, bahkan terhadap biku baru seperti saya

Mungkin bedanya, U Tejaniya Sayadaw lebih muda dan ekspresif.

Jadilah saya yang baru datang dari center ketat, Panditarama Forest Monastry, bagai menikmati liburan di Shwe Oo Min center.

Saat bel jam 3 pagi berbunyi, tak ada biku menyusuri kuti dengan ‘lonceng es’ mengusir kita ke hal meditasi. Semuanya lebih berdasar kesadaran.

Saat di meditation hal pun, tak ada urutan senioritas pada bantal-bantal tempat duduk seperti di Panditarama Forest Monastry. Dengan kata lain, kita boleh duduk dimana saja, yang penting nyaman.

Ajaibnya, saking bebasnya di hal meditasi, pemandangannya agak aneh Ada yang meditasinya menyandar ke tiang penyangah ruangan, ada yang duduk di kursi lipat/malas… dan tampaknya tertidur, weleh-weleh. Aku tak bisa membayangkan yang terjadi bila hal ini di Panditarama Forest Monastry.

Waktu meditasi jalan tak ada yang bergerak slow motion. Di sini yogi/pemeditasi berjalan biasa. Aku yang baru dari Mahasi tradition saat berjalan ke meditation hal masih kebawa berjalan pelan.

U Tejaniya Sayadaw yang melihatku di kejauhan berjalan mendekat.

“Don’t need to move so slowly” katanya, tak usah berjalan selambat itu. Berjalan biasa saja, tapi dengan kesadaran terjaga.

Saat interviu beliau bertanya, saat makan bagaimana?

“Aku menyadari makanan yang aku makan, keras, lunak, asin, pedas, manis. Sempat juga aku nafsu karena lapar, terus aku berhenti sebentar, menyadari nafsu itu, setelah tenang melanjutkan makan.”

“Hmm..itu dia,” kata beliau, “saat makan, saat dimana kita harus sangat berhati-hati ketika nafsu muncul dengan kuat.”

Selain perbedaan-perbedaan di atas, ada juga perbedaan fasilitas. Panditarama Forest Monastry adalah center besar, luas dan kaya dengan Big Master yang masih ada.

Sebaliknya Shwe Oo Min center tak terlalu luas. Tak ada kuti-kuti yang berdiri sendiri, melainkan bangunan dengan kamar berjajar seperti kamar kos, dan Shwe Oo Min Sayadaw yang sudah tutup usia.

Dari segi makanan juga begitu. Di Panditarama Forest Monastry, makanan berlimpah yang sering membuat kita kekenyangan, di sini tak demikian. Tak berlebih, tapi cukup.

Di Panditarama Forest Monastry tak disediakan menu vegetarian, di sini ada meja khusus menyediakan makanan vegetarian. Jadi tak heranlah, banyak biku dan bikuni Mahayana yang bahagia berlatih di sini.

Dengan kondisi center lebih bebas, perlahan aku ‘bisa’ menghirup nafas, menggunakan pikiranku, menganalisa buku-buku yang kuambil dari front office Panditarama Forest Monastry. Mencocokkan dengan praktek yang aku alami.

Perlahan aku menyadari dan menyesali kebodohan-kebodohanku. Hal mendasar Vipassana yang sebelumnya kuabaikan, sepeti mencatat proses batin: melamun, menghayal, rencana, sakit mulai aku mengerti.

Terkadang kalau lelah, aku tak mengikuti session meditasi pagi, tapi langsung sarapan di ruang makan jam 5.30 pagi.

Setelah itu, mengikuti pindapata yang dipimpin langsung U Tejaniya Sayadaw.

Tiga minggu aku di Shwe Oo Min center keadaan center mulai tak kondusif, karena mendekati tahun baru Myanmar, center dipenuhi orang-orang Myanmar.

Ini merupakan tradisi turun-menurun, mungkin seperti umat Islam di Indonesia mengikuti pesantren kilat saat liburan.

Mereka bisa masuk center sekeluarga. Bapaknhya ditabis jadi biku, anaknya karena dibawah 20 tahun ditabis jadi samanera, lalu ibunya jadi siale/samaneri. Itu hanya penabisan sementara, bisa seminggu, dua minggu dan 3 bulan. Dan ini bisa berlangsung tiap tahun menjelang tahun baru Myanmar.

Jadi jangan heran kalau rata-rata orang Myanmar pernah menjalani kehidupan sebagai biku kilat, umumnya berkali-kali. Cukur, lepas jubah. Cukur, lepas juba. Etc.

Karena banyak yang masuk center, kami pun harus berbagi kamar, yang dulunya 1 orang jadi 2 orang.

Karena kondisi yang mulai tak nyaman ini, rekan-rekan biku dari negara lain berencana sementara pindah ke center lain. Aku akhirnya juga memilih sementara keluar center.

Saat kembali ke Indonesia, aku sudah sedikit mengerti Vipassana, setidaknya tentang Mind. Begitu aku sadar sedang melamun, mencatat ‘melamun’… treetttttt… tiba-tiba seperti sesuatu berputar menyedot di dalam kepala dan lamunan itu lenyap.

Saat aku ‘berangan-angan’ dan menyadarinya mencatat :’berangan-angan’.. treeeettt… ada sesuatu, udara menggulung di dalam kepala menyedot habis rangkaian ‘angan-angan’.

Cukup menyenangkan juga ‘mainan’ baru ini.

Jadi aku suka duduk sendiri di depan tv kecil di lantai 4 yang panas dan sepi di Vihara Ekayana. Tak masalah ‘panas’, catat ‘panas’ lalu treet…. beres. Saat ‘senang’ catat: ‘senang’..treeett…. the mind is gone, kepalaku jadi ringan, plong.

Batavia, 30 , Januari 2009 (2.14am)

Harpin

Perjalanan MENANGKAP Pikiran

Perjalanan MENANGKAP PIKIRAN-

Awal di Panditarama Forest Monastry.

Mahasi Sayadaw
Mahasi Sayadaw

Kembali ke awal kedatangan saya di Panditarama Forest Monastry.

Waktu itu, masih Samanera. Saya diantar ke forest oleh sopir Pak Handaka, tiba di sana sekitar jam 10.30. Menjelang sore, saya ditabis menjadi Biku oleh guruku terkasih, U Thamana Kyaw di Sima asri dan sunyi Panditarama Forest Monastry.

Bagi penyuka eksotisme, mungkin senang berlama-lama di kuti ini. Untuk mencapainya melalui jembatan di atas danau penghubung meditation hal dan ruang makan. Nah, sima ini terletak ditengah perjalanan melalui jembatan.

Selesai ditabis aku minta ijin ke front office menggunakan internet mengabarkan Pak Handaka dan guruku terkasih di Indonesia, Bhante Dharmavimala.

Tentu tak boleh lama, di Myanmar yang dibentengi junta militer internet termasuk barang luarbiasa mewah, selain itu, ibu di front officer terkenal galak dan tak segan memarahi Biku! Weleh-weleh- weleh.

Awal masuk Panditarama Forest Monastry terusterang aku bego soal vipassana, apalagi mengamati naek turun perut.. aduh makkk ampun dah..gimana caranya? Aku sudah terbiasa dengan anapanasati, mengamati keluar masuk nafas.

Jadi semangat awalnya juga asal bisa ke Myanmar dan juga asal bisa belajar meditasi di Mahasi Center, kan terkenal tuh, Bhante Ashin Jinarakkhita yang kesohor itu kan belajar di sini, di Mahasi Center.

Barulah sampai di Myanmar, pelupuk mata ini sedikit terangkat. Ternyata Mahasi Tradition sudah beranak pinak, berkembang sangat pesat.

Dari Pak Handaka dan keluarganya yang helpful terhadap Sangha inilah aku diantar melihat satu center ke center lain di Myanmar. Baik itu ‘turunan’ Mahasi atau bukan.

Jadilah kita seperti Indiana Jones, dengan mobil (Jeep atau Kijang ya?). Kita, saya dan keluarga Pak Handaka berpetualang melihat center demi center.

Mahasi Center sendiri konon telah ditinggalkan murid-murid terbaiknya, seperti Sayadaw U Pandita (Panditarama) dan Chammay Sayadaw yang membuka center sendiri.

Karena Mahasi Sayadaw sudah tutup usia, maka tak ada guru besar lagi di Mahasi Center. Rekomendasi Pak Handaka, mau belajar metode Mahasi ada dua pilihan, tempat Sayadaw U Panditarama atau Chammay Sayadaw.

Perlu juga diketahui, tak hanya di Indonesia terjadi blok antara biku, di Myanmar juga begitu. Meski sama-sama menggunakan metode Mahasi, hubungan U Panditarama dan Chammay Sayadaw konon tak mulus.

Panditarama Sayadaw adalah guru meditasi Aung San Su Ki oposisi Junta berkuasa, sedangkan Chammy Sayadaw rekanan junta. Jadi ceritanya sedikit mirip kisah air dan minyak.

Selain kedua Master yang mengajarkan metode Mahasi, ada lagi satu center yang didirikan Sayadaw yang dulu merupakan sayadaw di Mahasi center, yakni Shwe Oo Min Center.

Cuma sedikit aneh, Shwe Oo Min Center tak mengajarkan Metode Mahasi, yang mengamati naik turunnya perut. Center ini bisa disebut center ‘kebebasan’ karena diijinkan menggunakan metode apa saja yang menurut anda nyaman. Mau anapanasati boleh, naik turun perut jug oke, atur aja bro.

Sekilas center ini mirip center zen, dan merupakan pusat meditasi pecinan di Myanmar.

Myanamar memang gudangnya master meditasi. Ada banyak center meditasi di sini dengan metode berlainan.

Ada Goenka Center, Pak Auk Sayadaw, Mingun Sayadaw, etc. Terlalu banyak center di sini dengan metode beragam. Ada center yang ketika anda masuk ke meditation hallnya seperti masuk ke rumah tukang kayu.

Anda seperti mendengar orang menggergaji kayu, ‘ngik ngok,ngik ngok’ yang berasal dari suara nafas keluar masuk hidung yang dipush, ditarik panjang hingga berdesis kayak ngorok.

Konon masternya meditation ini, yang awalnya petani, mencapai arahat saat mencangkul dengan nafas ngos-ngosan. Jadi beliau mengajarkan metode ‘ngos-ngosan’ mengepush nafas.

Uniknya, meski metode berbeda, oleh masyarakat di sini, master-master pendiri center ini dianggap telah mencapai arahat. Hal ini dibuktikan dengan relik dan sebagainya.

Namun begitu, yang membangakan kita orang Indonesia, apabila membaca biografi Mahasi Sayadaw, selalu terdapat paragraph menceritakan muridnya The Boan An atau Ashin Jinarakkhita. Cuma beliau satu-satunya murid yang diberi paragraph di biografi Mahasi Sayadaw.

Singkat cerita, mulailah aku melewati hari-hari ‘buta’ dan menyiksa di Panditarama Forest Monastry. Dikatakan buta karena memulai dari nol, buta tentang Metode Mahasi. Dikatakan menyiksa karena datang saat musim panas, summer di Myanmar. Saking panasnya angin yang berhembus pun panas.

Jadilah saya melewati hari gerah. Bukan hanya itu, Panditarama Center juga terkenal keras dan ketat. Rasanya semua kegiatan diawasi dan ditempel rapat dari bangun sampai tidur. Mencuri waktu menarik nafas rasanya bisa ketahuan.

Hampir menginjak sebulan setelah itu, aku mengirim email ke Handaka menceritakan ‘duka’ yang aku alami. Panas dan tak betah.

Oleh Pak Handaka disarankan kalau tak betah pindah center saja. Setelah itu, aku mencari hari baik minta ijin meninggalkan center.

Di hari melaporkan hasil meditasi, aku melaporkan mengamati naik turun perut, sampai akhirnya mendadak mengalami ‘plong’ semua eksistensi lenyap. Yang eksis hanya naik turun perut, tapi hanya sepersekian detik, kemudian semua normal kembali.

Guruku terkasih, U Thamana Kyaw tampak puas atas perkembangan meditasiku.

Aku tak melaporkan sebenarnya tak menggunakan metode vipassana dengan objeb berubah-ubah, tapi aku menggunakan metode samatha. Perhatian penuh pada perut dengan mengacuhkan hal di luar.

Tapi aku tak menyiakan kesempatan, segera mengungkapkan akan pamit dari center.

“Alasannya?” Tanya beliau

“Panas, aku gak kuat,” kataku, “aku ingin berziarah dulu ke India.”

Aku memang akan ziarah ke India, tapi sebelumnya akan ke center lain, tentu aku tak bercerita mau ke center lain.

Dengan murah hati beliau mengijinkan, ini sangat mengembirakan.

Sebelum pamit aku bertanya, boleh kembali ke center ini tidak? Yang dijawab: “boleh.”

Keesokan harinya, aku ikut mobil center di forest ke center yang ada di kota, dari situ dijemput Pak Handaka melanjutkan perjalanan ke Shwe Oo Min Center.

Batavia, 24 Januari 2009 (02:58 am)

Harpin

HARI-HARI yang ANEH

HARI-HARI yang ANEH

Singkat cerita, meditasiku memasuki tahap aneh. Semisal bisa merasakan getaran pada kaki maupun tanganku sebelah kiri.

Dua kali interview dengan guruku terkasih U Thamana Kyaw, beliau bertanya: “Apakah getaran di ubun-ubunku sudah hilang?”

Saat pertemuan pertama aku berpikir sebentar lalu bilang, “masih ada.”

“Kapan terakhir kamu merasakannya?”

“Sebelum memasuki ruangan ini”

Lalu seperti biasa aku melaporkan perkembangan meditasiku, aku meletakkan kesadaranku pada hembusan angin di kulit, hangatnya sinar mentari, juga dinginnya air atau keramik di kamar mandi yang menyentuh jemari dan wajahku.

Seperti puisi ya.. tapi ini beneran. Dengan latihan terpusat dan terus menerus, aku menyadari, menjaga kesadaran tak hanya saat kita melakukan meditasi duduk, tapi di tiap moment.

Hangatnya mentari pagi di kulit, desiran angin di pipi, kerikil-kerikil tajam yang menyakitkan kaki, bisa menjadi bahan menjaga kesadaran.

Aku melaporkan kejadian semalam, saat meditasi banyak binatang kecil berjalan di kulitku. Karena penasaran, aku meraba, ternyata tak ada apa-apa. Aku juga merasakan angin berputar-butar di telingaku, juga seperti ada orang yang menyentuh kakiku.

Sayadaw cuma tersernyum. Tetap menjaga kesadaran, mengamati hal yang dominan, katanya.

Rasanya, itu hari terakhir aku melapor dalam keadaan ‘normal’. Oleh kesalahan penafsiran instruksi beliau, dan keangkuhan yang timbul akan hasil meditasiku, karena sayadaw tampak bahagia tiap mendengar perkembangan meditasiku, tanpa aku sadari keangkuhanku makin kuat… Sesuatu yang bagai racun merampas kesadaranku untuk membunuhnya perlahan.

Oleh kejadian aneh yang aku alami, aku mulai susah membedakan maya dan nyata. Obyek meditasiku bukan lagi sesuatu yang nyata, seperti naik turunnya perut, tapi getaran dan uliran yang tak bisa ditangkap mata. Tapi bisa dirasakan dalam kondisi batin tertentu.

Biasanya, dari pengalaman, bila pikiran tak dibiarkan berkeliaran, dalam hal ini sebagai meditator, dalam tidur kita tak pernah mimpi.

Kesadaran kita bekerja lebih cepat dari tubuh dan pikiran. Begitu mata terbuka, langsung bangkit dari tidur. Atau terkadang kesadaran datangnya lebih cepat dari tubuh ini, sehingga saat terjaga sempat mendengar dengkur orang tidur. Mula-mula bingung juga. Dengkur siapa gerangan? Padahal aku tidur sendiri, ya iyalah denkur gue sendiri.. emang hantu bisa denkur? Hehe.

Nah, tak biasanya pagi itu aku mimpi dibangunkan seorang gundul, dari wajahnya kelihatan wanita. Seperti wajah Bikuni atau Samaneri. Wajah Samaneri itu cantik tapi bersedih.

What’s aku kebingungan. Kok bisa-bisanya, mimpi dibangunkan samaneri, seumur hidup ipertama aku mimpi wanita gundul. Aku tak mengubris mimpi itu. Akan tetapi, kesedihan wajah samaneri ternyata pertanda tak bagus.

Terbukti hari itu aku mengalami konflik dengan Biku dari Thailand. Masalahnya sederhana. Biku itu minta aku jalan lebih cepat selesai mengikuti patimoka dan hendak ke kuti, tapi aku ogah, balelo aja yang membuat dia jengkel.

Lalu saat meditasi malam, saat terasa ada tangan memegang pundakku, lututku, bukannya menjaga kesadaran, aku mencari dan mengamati sensasi itu. Hal paling bodoh sepanjang karier meditasiku, hehe.

Aku merasakan ada cahaya melayang dan berhenti di hadapanku. Lalu sebuah gelembung udara berputar-putar di hidungku. Mulutku terbuka sendiri. Gelembung itu mendesak masuk ke mulutku. Aku bisa merasakan proses itu berlangsung inci per-inci sampai gelembung itu di puserku, lalu keluar perlahan-lahan.

Saat meditasi malam usai, aku berjalan pulang ke kuti. Melewati pohon di tikungan, aku merasa ada yang mengajak bicara, mind to mind. (aku mengetik ini sedikit merinding merekar kembali pengalamanku, jangan nempel lagi yah, plsss).

Aku merasakan dialog terjadi di pikiranku, seperti dua orang berkomunikasi.

Ringkasnya, aku tak pulang ke kutiku sendiri. Ada yang ‘menyertai’. Ia mengatakan dirinya Avalokitesvara, atau lebih dikenal Kwam Im. Malam itu tak seperti biasa, aku duduk di dipan, kedua tanganku bekerja membentuk mudra-mudra, sambil mengucapkan ‘Om Mani Padme Hum’

Konon kata makhluk itu, ia sedang membersihkan cakra-cakra aku. Begitu juga keesokannya saat terjaga, kembali tanganku membentuk mudra-mudra yang tak aku mengerti, untuk membersihkan cakraku.

Saat makan pagi, aku tak makan daging, karena mahkluk itu tak doyan. Saat duduk maupun berjalan, aku merasa ada yang menempel di belakang. Tapi karena aku mau makan daging juga, aku menelan sepotong daging. Hebatnya, saat menelan daging, aku merasa makhluk yang nempel di belakangku mental sedikit. Tapi jangan khawatir, melalui gerakan-gerakan mudranya saat ga ada orang, ajaib dan susah dipercaya, daging itu bisa dimuntahkan kembali otomatis dari mulut aku, meski sebenarnya udah nyampe di perut.

Mulailah aku melewati hari-hari paling kacau dalam hidupku di Panditarama Forest Monastry.

Pagi itu saat berpindapata, tangan ini sibuk membentuk mudra memberi blessing pada tiap rumah penduduk yang kami lalui. Tentunya tak ada yang melihat tanganku bermain mudra, karena tanganku bergerak di balik jubah.

Itu belum berakhir, akan ada kekacauan lebih besar. Terlebih ketika aku berusaha melepaskan diri dari tempelan mahkluk ini. Dianggap gila dan rasanya hampir mati. Untung belum mati, kalau mati tak mungkin menulis cerita ini, hehe.

Ancol, 19 Januari 2009, (jam 02;38 pagi)

Harpin R

‘ULAR’ yang MELOMPAT dari JIDAT

BAGAI ‘ULAR’ MELOMPAT dari JIDAT

peking2

U Thamana Kyaw, guruku yang terkasih kaget saat saya melapor kemajuan meditasi secara rutin 2 hari sekali , memang saya tak melihat langsung perubahan wajahnya(kami tak diijinkan menatap langsung guru meditasi), tapi saya merasakan posisi duduknya yang tiba-tiba diubah.

Pagi itu saya melaporkan pusaran kecil bergerak dari alis kiri ke alis kanan mondar-mandir.

“Mungkin itu angin?” katanya diterjemahkan seorang ibu penerjemah,” kapan kamu merasakannya?”

“Saat saya mau tidur,” kataku tetap beranjali dan menunduk.

Mendengar itu, tiba-tiba beliau merubah posisi duduk, seperti orang terkejut, “sebelumnya kamu belajar ilmu apa?”

“Tidak belajar apa-apa” kataku reflek tanpa pikir panjang, karena takut.

“Dulu sehabis dari sini kamu ke India, di India belajar apa?” tanyanya mengulang yang diterjemahkan penerjemahnya. Beliau sendiri bisa bahasa Inggris, namun lebih nyaman menggunakan penerjemah.

Dulu, sebulan setelah ditabis beliau aku pamit ke India dan diijinkan. Kini, setelah mengikuti World Buddhist Sangha Council di Myanmar, aku tak menyiakan kesempatan masuk center lagi.

Dalam kondisi center meditasi yang ketat, melakukan sesuatu yang salah adalah menakutkan, belum divonis kita down dulu. Untuk memprotek diri saya langsung menjawab, “tidak belajar apa-apa, di India aku melakukan ziarah ke tempat suci Buddhis,” jawaban paling aman menurutku.

Susah bagiku yang biku Theravada, ditabis di center ini oleh beliau, menjelaskan di India saya juga mengikuti Nyung Nay retreat, mengambil Bhodisattva Sila dan 1000 armed Chenrezig inisiasi oleh Jhado Rinpoche di Tushita Meditation Center beraliran Tantra. Apakah guruku akan mengerti? Pikirku naïf, oleh simple mind berpikir itu upacara biasa. Jadi memang saya tak belajar apa-apa.

Guruku yang tekasih itu agaknya mengerti. Ia tak mengejar lagi, sebelumnya saya belajar ilmu apa? Ia kemudian menuntun mengamati objek yang dominan. Apa yang dominan yang aku rasakan, itu yang diamati. Dalam hal ini sesuatu yang bergerak di dahi saya.

Dalam tahap ini, saya menjalani pengamatan menyakitkan dan melelahkan. Pusaran itu setelah diawasi dengan ketat berhenti di titik tengah antara kedua alis. Karena titik itu terus berputar, saya mengamati titik itu. Makin diamati, titik itu berputar makin kuat dan tajam, bagaikan sebuah bor terus berputar mengebor jidat saya. Sakit… dan lelah.. sampai kapan?

Selama proses menyakitkan itu, berulang kali aku meminta waktu bertemu guruku yang juga merupakan abbot, kepala vihara. Sebuah permintaan yang amat mahal dan tak pernah dikabulkan oleh biku-biku pengawas di hall. Mereka hanya mengatakan, akan disampaikan, akan di sampaikan, titik.

Sampai akhirnya, setelah melewati rangkain sakit yang amat sangat, suatu siang aku merasakan titik di jidatku jebol. Sebuah aliran meluncur, bagaikan seekor ular menerjang, mendobrak keluar dari titik diantara kedua alis  saya.

Ah, melegakan, proses itu akhirnya selesai juga.

Keesokan harinya, seperti terjadwal dua hari sekali aku mendapat kesempatan melapor hasil meditasi ke guruku yang terkasih. Aku menceritakan proses menyakitkan itu, sampai akhirnya merasakan sesuatu menjebol, bagaikan ular melompat dari titik di kedua alis di jidat saya.

Guruku yang terkasih mendengarkan dengan seksama dan tertawa. Aku lega mendengar tawanya. Itu berarti, proses yang aku alami bukan sesuatu yang salah. Selanjutnya beliau membimbingku untuk mengamati objek yang dominan saja.

Beliau tak bertanya lagi selama di India aku belajar ilmu apa? Tinggal aku sendiri yang bertanya-tanya, maksud beliau bertanya seperti itu apa? Pertanyaan yang mana aku tak pernah punya kekuatan menanyakannya.

Dalam perjalanan belajar ‘ilmu’, aku hanya pernah mendapat ilmu dari seorang tua penjaga galangan kapal di Jambi. Itupun menurutku bukan ‘belajar’, tapi ‘hadiah’. Karena kondisi warung kakak saya suka diganggu preman setempat, pas aku pulang ke Jambi orang tua itu menawarkan ilmu ‘kuda lumping’ pada aku.

Dikatakan ilmu kuda lumping karena setelah menerima ilmu kita bisa makan kaca dan beling seperti kuda lumping. Dikatakan ‘hadiah’ karena sifatnya pemberian. Dengan menggunakan sebatang (saya lupa namanya, kemangi atau apa yang bisa didapat dari penjual bunga dan kemenyan di Pasar Angso Duo Jambi) yang diposisikan seperti sedotan antara alat kelamin orang tua itu dan saya (kita dalam posisi berdiri berhadapan berpakaian lengkap), orang tua itu menuntun aku membaca kalimat syahadat, ilmu tersebut langsung aku miliki. Dan ini bukan isapan jempol, setelah itu aku mengetes di belakang rumah, ilmu itu bekerja. Sampai aku kembali ke Jakarta pun ilmu itu tetap bekerja.

Orang tua itu cuma berpesan, tak boleh dipamerkan. Ia sempat menawarkan ilmu kebal, dimana harus melalui ritual mandi di sungai Batanghari, tapi tak sempat dilakukan karena keburu kembali ke Jakarta. Untuk berjaga-jaga aku sempat bertanya, kalau tak mau lagi melepasnya bagaimana?

“Cukup ke sungai dan ucapkan ‘kau yang ada di dalam diriku, pergilah, aku tak membutuhkannya lagi,’” katanya lagi malam itu di gardu jaganya.

Setelah mengenal Buddha Dharma dan belajar meditasi, mula-mula dibimbing guru penabisku sebagai samanera yang sangat aku kasihi dan hormati Bhante Dharmavimala Thera, selanjutnya aku belajar pada Bhante Suryabhumi Mahathera.

Aku sempat bertanya pada Bhante Suryabhumi Mahathera, kalau kita pernah belajar ilmu terus belajar meditasi bagaimana? Yang dijawab beliau, tak apa-apa, ilmu itu akan hilang sendiri.

Jawaban beliau yang aku jadikan patokan. Sampai sekarang aku tak pernah ke sungai melepaskannya, aku juga tak pernah mengetes ilmu itu masih bekerja atau tidak.

Yang menjadi pertanyaan sekarang, yang dimaksud guruku U Thamana Kyaw yang mana? Beliau hanya tahu sebelumnya aku pernah pamit ke India, tapi aku tak pernah cerita selain jiarah juga mengikuti Nyung Nay retreat, mengambil Bhodisattva Sila dan 1000 armed Chenrezig inisiasi oleh Jhado Rinpoche di center Tantra. Juga sebulan di Shwe Oe Min center. Jadi yang dimaksud ‘belajar ilmu’ dari orang tua itu, atau dari Tantra? Sudah pasti bukan di Shwe Oe Min yang juga center vipassana.

Oleh kesempatan terbatas, center yang ketat, meskipun guruku baik, aku tak punya kesempatan dan keberanian bercerita dan menanyakannya hingga kini.

Ancol, 14 Januari 2009 (12.56 menjelang pagi)

Harpin R

‘TELEVISI’ 29 inc DI KUTI SAYA

‘Televisi 29 inc’ di kuti saya

Sewaktu di Panditarama Forest Monastry saya mempunyai sebuah ‘televisi 29 inc’ di kamar. Sebuah kemewahan yang luar biasa bukan? Untuk seseorang Biku yang hidup di tengah hutan, di sebuah negara yang penghidupannya masih di bawah garis kemiskinan, ini adalah hal yang ‘wah’.

Pindapatta
Pindapatta

Sebagai seorang murid Guru Buddha berjubah saat itu, idealnya aku tak memiliki kemewahan apa-apa. Jubah cuma dua stel. Dua hari cuci sekali. Yang satu dijemur, satunya dipakai. Yang dijemur kering, satunya lagi yang dicuci, begitu siklusnya. Di samping itu, aku memiliki mangkok patta yang dipakai mengumpulkan makanan di pagi hari, berikut sendok dan garpu yang digunakan saat makan, alat cukur, alat mandi, beberapa alat tulis dan kamus. Alat makan ini kami cuci sendiri habis makan dan dijemur di depan kuti.

Rutinitas kami dimulai bangun jam tiga pagi (gilanya aku suka langsung mandi, hehe). Terus meditasi bersama di hall.

Waktu menunjukkan setengah enam saat makan pagi, habis itu dilanjutkan pindapatta, memberikan kesempatan umat perumah tangga mendapat kebajikan berdana pada mereka yang tengah berlatih.

Karena letak monastry di tengah hutan, untuk pindapatta, tiap pagi kami diangkut mobil truck melewati jalan hutan berdebu ke perkampungan penduduk. Biasanya kami menutup muka dengan secarik kain menembus kabut debu bertebangan oleh laju ban mobil truck. Sekitar setengah jam perjalanan kami tiba di perkampungan penduduk, dan diturunkan di ujung jalan.

Mulailah menyusuri tapak-tapak jalan desa yang terkadang berkrikil tajam. Sambil mengumpulkan makanan, kami melakukan meditasi jalan. Pemahaman saya, dalam kondisi batin meditatif, kami menjadi lahan yang efektif bagi umat yang berdana, apalagi jika disertai ketulusan yang baik.

Rasanya air mata ini selalu akan meleleh tiap kali melihat ketulusan penduduk yang meski hidup dalam kemiskinan mendanakan sendok demi sendok nasi ke mangkok patta kami, dengan begitu tulus dan rendah hati. Terkadang mereka melakukannya di depan gubuk mereka yang sangat ‘mungil’! (maafkan aku teman, susah bagiku menjelaskannnya dengan kata-kata).

Melihat kondisi ini, aku berpikir alasan lain kami berpindapatta, adalah memicu semangat kami agar lebih tekun berlatih, sehingga karma baik yang mereka tanam dalam bentuk dana makanan menjadi tak sia-sia.

Karena untuk monastry berkelas international, branchnya ada di seluruh dunia, dengan donatur yang global, kami tak akan kekurangan makanan. Monastry sendiri memiliki tukang masak yang tiap hari menyajikan makanan berkualitas bagi yogi yang berlatih.

Biasanya makanan hasil pindapatta digabungkan masakan koki di monastry.

Kembali ke pindapatta. Biasanya penduduk yang berdana berdiri di depan rumah atau di pesimpangan jalan yang biasa dilalui barisan biku berpindapatta. Berdiri di atas aspal di samping alas kaki yang sengaja dicopot. Kalau membawa anak, anaknya disuruh bersujud terus menerus sementara orang tuanya kusyuk mendanakan sendok demi sendok nasi ke dalam mangkok kami. Ada juga yang sebelum berdana, bernamaskara dulu di aspal. Setelah dana makanan habis, ia bernamaskara lagi.

Sepulang dari pindapatta dengan kaki pegal, karena kerikil tajam, terkadang gatal karena menginjak kotoran hewan, aku biasa mandi lagi dan melanjutkan jadwal meditasi seharian di hall. Di luar kegiatan rutin tentu suatu yang sangat surprise, ketika suatu malam sehabis jam meditasi di aula, menjelang tidur, aku mendapat kehadiran ‘televisi, layar lebar di kuti aku. Wow, kemewahan yang luar biasa! Tapi juga mengerikan!

Bayangkan, di tengah hutan sunyi dan dingin, di tengah kuti gelap gulita karena diesel monastry dimatikan tiap jam 10 malam, tiba-tiba hadir televisi 29 inci berwarna yang tengah menyala dengan sendirinya? Begitulah kenyataannya.

Malam itu aku sudah berbaring. Saat mataku hampir terpejam, tiba-tiba muncul televisi layar lebar itu di dinding kamarku. Tentu saja bentuknya tak seperti televisi konvensional yang kita kenal. Televisi di kuti aku lebih tipis, bahkan tak memakai boks, berupa layar menempel di dinding.

Mula-mula kaget setengah mampus mendapatkan kehadiran ini. Tapi aku segera mepertahankan kesadaran dengan meditasi pada bentuk tubuhku saat tidur, merasakan dinginnya matras tidurku. Intip-intip aku melihat apa yang ditampilkan televisi itu. Ada berberapa wanita berjalan, masuk rumah, berpakaian merah, ada pembantaian, merah darah… sampai akhirnya aku merasa tubuh kasar aku sudah tertidur dan tak bias digerakkan, tapi kesadaranku masih terjaga. Tapi itu hanya sebentar, karena kemudian aku tak ingat apa-apa lagi, benar-benar udah pulas. Televisi itu? Tak tahulah, saat terjaga pukul 3 pagi tak ada lagi.

Keesokan harinya, ketika giliran audisi dengan sayadaw pembimbingku yang terkasih, yang juga guru penabisku di Panditarama Forest Monastry: U Tamana Kyaw, aku melaporkan yang aku alami.

Tanpa melihat wajahnya (selama retreat kami tak boleh melihat wajah guru pembimbing saat melaporkan hasil meditasi) aku merasakan beliau mendengarkan seksama dan berpesan agar aku cukup tau dan sadar.

Jangan mengamati apa yang ditayangkan di layar. Jangan mengamati warna baju yang dipakai warna apa dan sebagainya. Cukup sadar, sadar, sadar. Mungkin bahasa gampangnya, melihat dengan tak melihat, hehe.

Nasehat yang manjur. Karena selanjutnya, setelah dua tiga hari, karena ‘dicuekin’, televisi itu ‘ditarik’ lagi oleh distributornya. Dalam arti, gambaran layar yang sangat jelas di dinding kamar aku tak muncul lagi. Aku juga tak keberatan ‘televisi’ ditarik supliernya, karena memang aku tak pernah meminta apalagi memesannya, hehe.

Namaskara buat guruku U Tamana Kyaw dari jauuhhhh, terima kasih atas bimbingannya.

Ancol, 13 Januari 2009 (jam 3.06 pagi)

Harpin R

Bhante Tukang Pukul Kentongan

–Bhante tukang pukul kentongan (‘mang tuh kentongan salehnye ape ye?Hehe)

tong tong tong
tong tong tong

Sedikit berbagi cerita tentang bhante tua yang baik ini. Yang tugas resminya di Panditarama Forest Monastry sehari-harinya adalah tukang pukul kentongan.

Yakni jam 03.00 pagi (bunyi kentongan yang sangat tak diidolakan oleh Yogi/peserta meditasi, karena kami harus segera, suka atau tidak, bangun dari tidur, berbenah diri menuju aula meditasi, kalau ada yang bandel, akan datang Bhante tua lain yang menyusuri kuti demi kuti ‘mengusir’ penghuninya segera ke aula meditasi. Bhante tua tukang ‘sapu bersih’ ini ‘bersenjatakan’ longceng penjual es doger yang buncinya: cring-cring, cring-cring, hehe)

Lalu Pukul 05.30, nah ini bel yang selalu diidamkan para yogi, bel makan pagi, haha. Segera kita berbenah, lalu berbaris rapi berjalan penuh kesadaran ke ruang makan. Jangan pikir ini gampang loh. Dari aula meditasi menuju ruang makan sekitar 300 meter, melalui jalan menurun, jembatan kayu, menanjak, anak-anak tangga dalam kondisi pagi buta yang sueer, asli dingin, gelap dan buta. Tapi kita dibekali senter kok. Habis makan boleh kembali sendiri-sendiri ke kuti, tapi tetap slow motion.. kayak nonton film yang gerakannya diperlambat, pelan dan penuh kesadaran melangkah.

Pukul 06.00 bell lagi, saatnya menuju aula meditasi lagi.

Pukul 10.00, hehe saatnya makan siang, saat yang diidolakan.

Pukul 12.00 uhhh, ke aula lagi

Pukul 14.00 break ceramah dharma

Pukul 16.00 meditasi lagi

Pukul 17.00 kembali ke kuti untuk berbesih diri.

Pukul 18.00 kembali ke aula, meditasi lagi.

Pukul 21.00 Saatnya kembali ke kuti untuk tidur dan akan dibangunkan lagi oleh bunyi kentongan jam 03.00 pagi buta,hehe.

Bhante tua inilah yang bertugas memukul kentongan ini.

Itu tugas resminya. Tugas tak resminya beliau hobi mengcukur rambut. Siapa saja dari peserta meditasi, baik itu sangha maupun umat biasa , kalau lewat kuti beliau, bila dilihat rambut kita cukup panjang menurut beliau, pasti dipanggil dengan jurus tiga kata saktinya..(Come..! Squat, lalu sit..) .

Jadi beliau memanggil kita dengan kata: Come untuk menghampiri dirinya, saat kita datang mendekatinya beliau pasti bilan :squat, disuruh jongkok lalu beliau membasahi rambut kita dengan air dari drum, setelah itu sit! yang artinya duduk dan beliau mulai mencukur rambut kita sampai bersih.

Itulah tiga jurus andalanya, soalnya beliau berasah dari Tiongkok dan tidak begitu bisa berbahasa Inggris, hehe. Tapi untunglah aku sedikit-sedikit bisa berkomunikasi dengan beliau pakai bahasa hokkian.

Saat saya browsing internet di Panditarama Monastry tiba-tiba aku mendapatkan foto beliau yang lagi memukul gong. Lalu munculah memori ini.

Ops, ternyata ada yang berubah. Kentongan kayu setinggi orang kini telah digantikan sebuah gong kecil, tapi bunyinya pasti sangat nyaring. Cukup nyaring untuk membangunkan kesadaran mereka yang masih terlelap, hahaha. Oh ya, mungkin kentungan kayu besar itu, karena suaranya yang dasyat, hanya dipukul saat pagi buta.

Namaste Bhante, namaskara dari jauuuuuhhhh. Jadi pengen dicukur ama bhante lagi nih, hehe.

kuti
kuti gue

Ancol, 10 Januari 2009

Harpin R

JADI VOLUNTER di NEGERI ORANG

Jadi Volunter di Negeri Orang


Di McLeo Ganj, Dharamsala-India, monk bukanlah mahkluk dari planet
lain yang kalau muncul di publik place(jalan, toko, etc) bisa
menjadi entertaiment show sesaat, menjadi pusat perhatian.

Di sini jumlah monk mungkin sama atau lebih banyak? dari masyarakat
umum yang ada di jalan. Monk-monk tantra berjubah merah maron tampak
hilir mudik menuju gompa(vihara) Namgyal. Ada juga yang sedang makan
di restoran,belanja di toko, menawarharga taksi. Persisnya tidak
hanya monk, nun juga. Meski sama-samagundul dan berjubah merah, nun
tetap bisa dibedakan dari wajahnya yang lebih feminin–atau tipikal
wanita tibet, pipinya tampak slalu lebih merah terbakar matahari.
Umumnya juga rambut monk tibet tidak plontos-plontos amat, bahkan
ada yang gondrong seperti Milarepa, mungkin ini yogi, bukan monk
meski mereka mengenakan jubah monk.

Selainmonkdan nun Tantra yang mayoriti, terkadang kita juga melihat
beberapa monk theravada Thailand. Umumnya mereka bergrombol (2,3
atau 4 orang).Ada juga satu dua yang berjalan sambil menghitung
butir tasbih di tangan seperti monk tibet.

Umumnya kepentingan mereka di McLeoGanj adalah kursus bahasa Inggris
gratis dari para bule yang native speaker.

Di McLeoGanj banyak kursus2 volunter–yang artinya khusus yang
gurunya spenuhnya adalah volunter–sukarelawan. Ada khusus bahasa
Inggris, komputer, bahasa tibet, dst.

Khusus ini didirikan sebenarnya untukkepentingan pengungsi tibet
yang terus bertambah. Ketika datang dari tibet sebagai pengungsi
sepertinya banyak diantara mereka tidak memiliki skill, sementara di
pengungsian bahasa inggris menjadi alat komunikasi yang vital.

Menurut rekan monk Thailand yang ikut kursus di sini, tidak
dibutuhkan pendaftaran atau biaya administrasi. Kita datang pada
waktu yang sudah ditetapkan dan langsung duduk di ruangan seluas
3×3. Namanya juga sekolah volunter, aturannya tidak formal-format
amat. Bangkunya juga terbatas, jadi Anda boleh duduk dimana saja,
termasuk di lantai.

Rekan monkthailand ini sedang mengambil gelar master di Dehli
university india. Sebenarnya pelajarannya mudah-mudah saja. Seperti
riwayat Buddha Gautama, Kisah Gotami dsb yang bagi monk thailand ini
sudah hafal diluar kepala. Tapi seperti umumnya orang Thailand
bahasa inggris mereka payah, sehingga ia kesulitan menyelesaikan
ujiannya. Maka liburan ini gurunya (monk) memberi 100 us dolar untuk
mengikuti kursus di Dharamsala, itu biaya untuk kontrak kamar dan
makan, kursusnya gratis. Ia datang bersama 2 orang monk dan
mengontrak satu pavilium seharga 4000 rupe perbulan–atau sekitar
800 ribu untuk kurs 1 dolar 8500.

Oh yah, kehidupan masyarakat di McLeoGanj, para pengungsi tibet
sangat religius. Umumnya orang tibet memegang tasbeh ditangan sambil
mengucapkan Om Mani Padme Hum dalam kegiatan harian mereka, seperti
menunggui dagangan, sambil berjalan kaki, dsb. Boleh dibilang tiada
hari tanpa mantra Om Mani Padme Hum. Tiap hari Uposatha toko tutup
sehari penuh, mereka menghabiskan waktu di gompal(vihara) untuk
melafalkan mantra Om Mani Padme Hum. Di toko-toko milik orang tibet
maupun orang india umumnya memasang foto/altar untuk HH Dalai Lama.

Melamar Jadi Volunter

Di tempat kursus gratis ini biasanya memasang bilboard di depan
gedung, yang isinya mengenai kebutuhan akan jenis-jenis volunter.
Semisal design graphic berapa orang, fotografer berapa orang,dsb.

Perlu diketahui volunter untuk tibet (begitu mereka menamakan diri)
tidak hanya memberi kursus-kursus gratis. Ada yang mengurus
pembuatan buletin, brosur, kerajinan tangan, dan yang pasti untuk
guru bahasa inggris selalu dibutuhkan.

Banyak turis-turis bule yang bersimpati dan menjadi volunter di
sini. Ada yang dari New zealand, Australia, Israel, Amerika, Canada,
dan sepanjang yang saya ketahui mereka adalah buddhis, atau yang
sedang falling in love pada buddhism.

Jangan dikira melamar untuk menjadi volunter (pekerja sosial)
sedemikian mudah seperti di Indonesia.

Saat melihat kebutuhan akan tenaga design graphic saya berpikir
untuk mengisi waktu membantu sedikit dengan skill yang saya miliki,
kebetulan sebelumnya di Indonesia saya pernah bekerja sebagai design
graphic.

Jam delapan pagi saya menunggu di depan kantor Volunteer for Tibet
karena kantornya belum buka. Jam 09.30 kantornya buka dan saya
mendapat jawaban bahwa untuk urusan perekrutan volunter berbeda
divisi, saya bisa datang jam 5atau 6 sore.

Saat datang jam 6 sore, menunggu sebentar lalu datang pengurusnya.
Well,menurut dia orang yang bisa memutuskan hari ini tidak masuk
karena kemarin sudah masuk. Jadi saya diharapkan datang besok saja,
hehe. Atau saya bisa mengirim email lamaran buat dia, sehingga
mereka tidak menerima orang lain lagi, jadi untuk melamar jadi
pekerja sosial pun harus bersaing, haha. Dalam hati saya berpikir
kalau ada orang lain sih, saya akan memberi kesempatan orang lain
untukberbuat baik.

Saya katakan pada dia, saya sudah datang 2 x hari ini. Tadi pagi
saya datang, kantor belum buka, saya menunggu satu setengah jam,
saat buka saya disuruh datang sore saja, datang sore hari, ternyata
decision makernya tidak ada. Ya udah tidak apa-apa. Pengurus itu
menyarankan saya menulis email lamaran ke decision maker sambil
memberikan alamat emailnya dan tidaklupa meminta email saya–tapi
sepertinya minat saya sudah hilang. Saya tidak menulis email ke
decision maker itu.

Selang seminggu kemudian saya mendapat undangan “Volunteer Tibet
First Volunteer Dinner” via email, hanya ada keterangan tempat dan
tanggal, tapi sayang tidak ada keterangan jamnya, sehingga saya
harus meminta konfirmasi jam, dan ajaibnya baru dijawab pas hari H.
Untung hari itu saya check email. Jam 7malam ternyata.

Hari H jam 6 30 sore saya sudah ke restoran tempat acara sambil
berpikir “waduh tidak enak juga , baru lamar gabung udah diajak
dinner segala”. Karena biasa tidak makan malam, mungkin baeknya saya
pesan juice aja nanti.

Sampi di tempat, pemilik restoran mengatakan acaranya jam 7 30, jadi
saya dan beberapa bule duduk2 di depan restoran yang ada chai shop
(kedai teh).

Saat jam 7 20 orang yang saya temui di kantor volunter muncul,
langsung masuk restoran, saya dan bule2 lain ikut masuk.

Kami sekitar 20 orang duduk di meja yang sudah dibooking. Pelayan
restoran mengedarkan menu.

Sambil menunggu pesanan kita saling memperkenalkan diri. Pertemuan
ini bisa disebut pertemuan internasional karena wakil negara2 cukup
lengkap. Australia, Israel, Amerika, New Zealand, Jerman, Tibet,
Indonesia, Norwegia, dst.

Yah, dinner itu ternyata sebuah dinner biasa, berkenalan dan bicara
sendiri-sendiri dengan kenalan baru. Dan habis itu ternyata makannya
juga bayar sendiri-sendiri..dan bubar sendiri-sendiri.

Haha, untung saya bawa uang. Kalau tidak bisa malu-malauin, hahaha.
Hitung-hitung untuk keperluan dinner malam itu saya mengeluarkan 35
rupe untuk apple juice, dan 60 rupe untuk taksi karena pulang
kemalaman.

Melihat kenyataan yang ada, sepertinya ini volunter dalam arti
sebenar-benarnya. Dari pendaftaran yang susah, berangkat dengan
ongkos sendiri,membayar tempat pondokan sendiri, dsb. Bahkan untuk
acara dinner yang notabene diadakan pengurus, volunter juga harus
membayar makan sendiri-sendiri.

Membandingkant kondisi ini, betapa termanjakan volunter-volunter di
Indonesia. Harus dirayu-rayu dulu untuk jadi volunter, diiming-iming
antar jemput dan mungkin disediakan fasilitas dan kemudahan lain.
Kalaupun ada acara makan-makan seperti dinner, biasanya itu
merupakan hadiah dari instansi bagi volunter, tidak usah bayar
sendiri-sendiri. Jadi volunter tidak harus punya modal sendiri,
sementara saya saat pendaftaran sudah ditanya punya komputer sendiri
gak?” Well, i am only traveller. Not carrying komputer on the way,
hehe. “Jawab saya.

Well, di satu sisi individualistiknya mungkin lebih tinggi. Dalam
sebuah masyarakat internasional yang didominasi bule-bule,
kebudayaan mereka jadi lebih dominan. Selesai makan satu meja dalam
sebuah acara resmi,volunter pamit sendiri-sendiri dan membayar
makannya sendiri-sendiri ke meja kasir.

Dalam kondisi seperti ini, saya yang baru datang dari dunia timur,
dunia penuh persahabatan dan persaudaraan, tiba-tiba merasa sangat
rindu akan kehangatan dan kebersamaan di Indonesia. Seperti semboyan
Ekayana, Di sini kita bertemu,di sini kita berkarya, di sini kita
bersaudara. Miss u all.

McLeoGanj-Dharamsala, 5 Juni 2004

Kisah PEMBUNGKUS PERMEN DAN ISINYA

Kisah PEMBUNGKUS PERMEN DAN ISINYA

Saat di Myanmar, saya mengalami membaca paritta dalam bahasa
Myanmar, hanya sekitar 15 menit di pagi hari, yang isinya adalah doa
cinta kasih semua. Meski tidak mengerti bahasa Myanmar, tapi saya
mengerti artinya, karena dibawa doa itu terdapat terjemahan dalam
Bahasa Inggris. Baik membaca Paritta maupun Patimokha dilakukan
dalam bahasa Myanmar.

Dari Myanmar menuju Thailand saya mengalami membaca paritta
dalam bahasa Pali yang datar (menurut rekan Bikkhu yang pernah
tinggal di sana ada yang dalam bahasa Thai juga). Dari Thailand
menuju Dharamsala, saya sempat mengikuti Patimokha di Nangyal
Gompanya Dalai Lama. Tentu saja doa atau paritta yang dibacakan
dalam bahasa Tibet, sehingga seperti Bikkhu Myanmar, Bikkhu Tibet
pun mengerti apa yang mereka baca.

Sebaliknya di Tushita Meditation Centre, karena orang barat yang
lebih
dominan, mereka membaca Sutra Buddhis(melakukan puja) dalam
Bahasa Inggris. Tentunya tetap dengan tekanan dan irama yang sama
seperti saat dibacakan dalam Bahasa Tibet, tak lupa diiringi
memainkan
tambur,bel dan vajra di tangan.

Sebaliknya saat berkunjung ke Fo Guang Shan Taiwan, saya sempat
mengikuti puja jam 5 pagi. Pembacaan sutra(puja) dilakukan dalam
bahasa Mandarin tentunya, bahasa yang dimengerti orang-orang
Tiongkok dimana agama Buddha Mahayana berkembang pesat.

Pada selebaran yang diberikan kepada saya karena tak mengerti
Mandarin, terdapat terjemahan dalam bahasa Inggris. Setelah saya
baca terjemahannya, isinya kurang lebih sama dengan yang dibaca oleh
Bikkhu-Bikkhu bule di Tushita Meditation Centre maupun di Nangyal
Gompal. Bedanya Bikkhu di Tushita membacakan(puja) dalam bahasa
Inggris, Nangyal Gompal dalam bahasa Tibet, sedangkan di Fo Guang
Shan dalam bahasa Mandarin.

Mengenai paritta yang dibaca dalam Bahasa Pali saya temukan di
vihara
Thailand dan India. Meskipun sama-sama bahasa Pali, bedanya di
India,
sesuai cara orang India berbicara, irama dan anggukan kecil
kepalanya
membuat mereka seperti sedang menyanyi.

Hasilnya, dalam hati saya bertanya-tanya; Orang Tibet bisa melakukan
puja dalam bahasa yang mereka mengerti, orang Taiwan, Vietnam dan
Myanmar juga begitu, bahkan bule-bule pun mampu melakukan puja
dalam bahasa mereka, Bahasa Inggris. Lalu, mengapa kita di Indonesia
terus memaksa diri melafah sesuatu yang kita tak tahu maknanya?
Mengapa tak membaca paritta dalam Bahasa Indonesia saja? Bahasa
kita sehari-hari, bahasa yang kita mengerti.

Kata orang bijak, kalau beli permen jangan makan bungkusnya, tapi
isinya. Di Tibet ajaran Guru Buddha dibungkus dengan kebudayaan
Tibet. Di Tiongkok ajaran Guru Buddha dibungkus dengan kebudayaan
Tiongkok. Di Thailand ajaran Guru Buddha tak lepas dari pengaruh
Raja
Thailand.

Kalau beli permen jangan makan bungkusnya, tapi isinya. Sah-sah saja
kita belajar ajaran Guru Buddha sampai ujung dunia . Sah-sah juga
kita
belajar kebudayaan setempat. Tapi jangan lalu jadikan kebudayaan
setempat sebagai agama baru kita. Kalau kita mau boleh-boleh aja,
tapi
jangan kemudian menganggap yang laen sesat dong, anak kecil juga
tau, hehe.

Bila Anda pernah bertemu Bhante Dewa yang merupakan bikkhu sepuh
Sangha Agung Indonesia di Jawa, beliau membaca paritta dalam Bahasa
Jawa.

Dan bodohnya kita, tak jarang kita bertengkar hanya karena ada yang
mengatakan bahasa dan irama yang satu lebih suci dari yang lain.
Hehehe… hahahahaha, kacaunya… dunia.

Ekayana Buddhist Centre–Jakarta, 22 September 2004
nyanachatta

KREMASI

KREMASI

Nenek saya punya adik meninggal. Selama masa duka jenazahnya
disemayangkan di rumah duka Atmajaya. Putranya 3 orang, putri 2
orang. Putra ke-2 termasuk orang hebat, punya pabrik baja yang
jumlah karyawannya tak terhitung (oleh saya) saking banyaknya. Maka
selama masa duka, karangan bunga untuk nenek saya punya adik (cimpo)
berjilbun memenuhi dan memonopoli perkarangan rumah duka Atmajaya,
tentu atas nama putra nomor 2nya itu.

Demikian juga saat dibawa ke tempat kremasi di Cilincing, dari kaca
bus yang mengangkut keluarganya di urutan paling depan, saya melihat
iringan mobil para pelayat yang nyaris tak terhitung. Saya berusaha
menghitung jumlah mobil pelayat, tapi selalu sebelum ketemu mobil
terakhir jalan sudah berkelok, sehingga usaha saya menghitung gagal.

Tiba di tempat kremasi jenazah, Cimpo saya diletakkan di atas
tumpukan kayu bakar, diselimuti baju-bajunya, memakai sepatu, tak
lupa rumah kertas (lengkap setifikat) berserta perlengkapannya :
parabola, tivi, etc(tidak tahu apakah juga disertakan kartu kredit
kertas atau handphone merek terbaru dari kertas) dan berkoper-koper
uang-uangan. Saya masih sempat melihat tangan dan kakiknya mengintip
keluar, di sela-sela bunga yang kami taburkan, saat membaca parita
sambil mengelilingi jenazahnya.

Setelah itu kami diminta keluar dari ruangan pembakaran. Pembacaan
doa dilakukan lagi di luar dipimpin 2 orang samaneri. Kemudian
dilanjutkkan lagi oleh orang-orang maitrea yang menyanyikan lagu
bahasa mandarin + musik (diiringi angin sepoi-sepoi
kami ‘berkaraoke’, tapi itu menyejukkan, meski saya tak mengerti
artinya). Gerombolan besar anak-anak dan cucu-cucunya tetap diminta
berlutut. Setelah itu terasa ada yang menerjang kulit, udara terasa
panas, secara reflek kami mundur beberapa langkah. karena melalui
celah pintu kami melihat jilatan api kekuning-kuningan, ternyata
tungku sudah dinyalakan! Anak-anaknya serentak
berteriak: “Maaaaaaaaaa!!!!!!!!!!” Dan
cucunya : “Amaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!” Muka-mukanya berubah merah, syok,
entah karena panas oleh api, atau panas karena emosi tak terbendung.
Suasana begitu haru-biru. “Maaaaaaaaa.!!!” “Amaaaaaaaaa..!
huhuhuuuuuuuu…!!!”

Saya terbengong-bengong mencari tempat duduk melihat peristiwa itu.
Kami serombongan orang ke sini mengantar sesosok tubuh Cimpo saya.
Yang saya masih ingat persis wajah dan cara berjalannya. Juga
kebaikan hatinya yang kalau bertemu selalu was-was bertanya saya
sudah makan belum? Lalu dengan tubuh tuanya yang tetap gesit ia
menyiapkan makan untuk saya—–ia tak pernah mengijinkan saya
menyiapkan sendiri. Ia juga selalu hati-hati menanyakan keadaan mama
saya—yang sudah ia anggap anaknya sendiri.

Lalu suatu hari terdengar kabar ia terjatuh di kamar mandi. Kami
ikut menjenguknya di rumah sakit. Ia sadar, matanya masih bisa
terbuka. Tapi itu tak lama. Lusa kemudian saat di kantor HP
saya ‘berkicau’, beritanya ‘Cimpo sudah meninggal’. Saya diminta
membawa mama ke sana. Mata saya hangat menatap jauh melalui jendela,
melihat awan gemawan di langit yang menghitam. Udara terasa membeku.
Semua begitu cepat, Live so fast….

Dan kini sosok Cimpo saya terbentang di sebuah kamar berukuran + 4×4
m. Sendirian di atas perapian merah kekuning-kuningan yang dengan
ganasnya menjilati sekujur tubuhnya. Sementara di luar ruangan itu,
dibatasi selembar tembok dan sebuah daun pintu yang terbuka sedikit,
dalam jarak begitu dekat anak-anak yang telah lahir dari rahimnya,
beserta menantu dan cucu-cucunya yang begitu ramai, hanya bisa
menangis. Yah, hanya bisa menangis tak berdaya.. Mungkin sampai
tahap ini, manusia baru bisa merasakan mereka hanyalah mahkluk
biasa. Uang tak banyak berarti, selain bisa memberikan sebuah
pemakaman yang lebih mewah, ia tak bisa menghidupkan yang mati. Yang
bersisa kemudian hanyalah kesedihan, atau bahkan terkadang
mendatangkan kegembiraan, bagi yang mendapat warisan, atau yang
sudah merasa kesulitan mengurus orang tuanya yang jompo. Sudah
bebas! Katanya.

Duduk di kursi saya melihat asap hitam keluar dari bagian atas
ruangan itu. Cimpo saya di dalam ruangan itu. Sendiri….
Betermankan asap dan api, kemudian ia akan menguap entah kemana….
Kemanakah gerangan ia pergi? Saya masih bertanya-tanya. Saya melihat
banyak orang di sana. Terhadap pertanyaan ini, seperti juga
kebanyakan agama, kebanyakan orang hanyalah bisa berteori-teori.
Saya mengamati orang-orang di sana lagi dengan beragam karakter.
Lalu saya mengamati sekeliling. Mengamati asap yang hilang di langit-
langit biru tak berbatas. Tiba-tiba saya merasa sangat kecil.., di
tengah dunia yang maha luas. Ada ngilu terasa di sekujur tubuh saya.
Tiba-tiba saya merasa sangat lelah. lelah… lelah… dan lelah….

Besok atau lusa beberapa anaknya akan ke sini lagi. Untuk membuka
ruangan itu. Tentu saja mereka tak akan bertemu sosok Cimpo
sebagaimana yang biasa kami kenal. Atau seutuhnya seperti waktu
dimasukkan ke dalam. Melainkan hanya akan mendapatkan seonggok abu.
Yah, seongok abu tubuh Cimpo, karena itu yang dicari dan ambil serta
harapkan. Sudah pasti mereka tak berharap menemukan sosok Cimpo yang
duduk dengan manisnya menunggu mereka lalu menyapa: “Hai…”, karena
bila itu ternyadi, pasti banyak yang kencing di celana. Kemudian abu
itu dimasukkan ke dalam guci, untuk disemayangkan di rumah abu di
Ekayana, bertetangga dengan guci-guci lain.

Cimpo saya, yang saya kenal sudah tak ada lagi. Tak ada lagi sosok
tua gesit, yang kalau bertemu pasti bertanya : “Li ciak ho boi” Kamu
sudah makan? Atau ” Li-e mak le?” Mama kamu di mana?

Yah, ia sudah tak ada lagi. Yang ada kini hanya seonggok abu dalam
guci yang tak bisa berbicara. Atau kalau ia bisa berbicara, pasti
membuat orang yang mendengarnya terbirit-birit. Apalagi Awi yang
mejanya bersebelahan dengan rumah abu, mungkin ia sudah memanggil
lontong-lontong. eh Tolong-tolonggggg.. Yang mana sampai hari ini,
itu belum terjadi.

Trawas (Jawa Timur), 24 September 2001
Chando

BULE BULE BULE

Bule bule bule

Dalam perjalanan di Dharamsala saya sempat tinggal dan mengikuti
beberapa kegiatan di Tushita Meditation Centre yang didirikan Lama
Yeshe.

Luar biasanya, bila di Indonesia ada satu bule saja muncul di vihara
atau ikut kebaktian pasti beratus sosok mata kelaparan mengarah pada
bule itu. Soalnya masih ada stereo type di pikiran kita, Buddhism
itu
hanya untuk orang Asia, terutama ras Mongoloid (Cina, Jepang, Korea,
Tibet, etc).

Meskipun sering mendengar agama Buddha berkembang pesat di Barat,
tapi mendengar dan menyaksikan sendiri tentu sangat berbeda.

Mari saya kisahkan sedikit surprise itu:
Saat tinggal di Tushita, tamu yang Asia cuma saya dan 2 wanita India
yang lebih mirip bule. Sisanya bule tulen semua. Dari Prancis,
Germany,
Israel, Australia, Italy, etc. Total jendral jumlah bule itu puluhan
orang.=

Mereka semua Buddhis.

Dari segi pengurus, Direkturnya bernama Drokkar (bukan dokar, hehe)—
pernah menjadi bikuni dan sepertinya orang German. Nun senior di
sini
Sangye Khadro (Kattlen Mc Donald), orang Amerika—penulis buku How
to Meditate. Monk in charge 1 orang Belanda dan 2 lagi bule juga,
tapi
tidak tau dari mana.

Resepsionisnya: Sabina (Germany), Pengurus perpustakaan: Noah
(Amerika). Spritual Program Koodinator: Fiona (Australia). Hanya
urusan dapur dipegang oleh orang Asia: Kokinya 1 orang India, 2
orang
Tibet.

Kalau di Indonesia ada bule masuk vihara jadi makluk aneh karena
penampilan fisik mereka berbeda sendiri. Di sini saya mengalami
kebalikannya. Sepertinya saya yang jadi orang aneh di dalam vihara
(gompa) bersama bule-bule itu. Hehe.

Keesokan paginya saya berkunjung ke Dhamma Sikhara, Goenka
Meditation Centre yang letaknya persis di sebelah Tushita Meditation
Centre.

Saat saya menuju ke dalam perkarangan Dhamma Sikhara, seorang
bule tampak berdiri di luar . Rambutnya agak ikal, selembar selimut
dililitkan di tubuhnya yang menggigil, mengatasi pagi yang menggigit
sambil mengawasi peserta meditasi yang sedang antri ransom pagi.

Segera ia meninggalkan posisinya ketika melihat saya, yang begitu
pagi
hadir di padepokan mereka.

“Pagi, ada yang bisa saya bantu ?” tanya dia sambil beranjali.

“Pagi juga, iya, saya pengen tahu lebih banyak tentang tempat ini.”
Kata
saya, tentu saja kami melakukan percakapan dalam bahasa Inggris,
ini
adalah hasil terjemahan dialognya, hehe.

Segera ia menjelaskan tempat ini adalah cabang Goenka di McLeoGanj.
Goenka adalah dst..dst…dari Burma. Kami juga berkenalan. Ia
menyebut namanya Noah. Saya menyebut nama saya Nyana. Ia
menanyakan asal saya dari mana? Saya bilang: Indonesia.

Kamu?

“I am from Israel.”

“So, you are Jewish?” Tanya saya memastikan dia keturuan Yahudi. Tak
ada maksud mengarah pada agama/kepercayaan Yahudi(Jewish). Tapi
pertanyaan ini sepertinya membuat dia agak tersingung, hehe, dan
menjelaskan dengan sangat jelas dan tegas:

“Maybe I am be born in this Jew body. But I am a Buddhist.”

Hehe, nice, kata saya. Lalu kami berbicara lagi. Kata dia, Manajer
mereka yang bernama I-T pernah 2 tahun jadi monk di Myanmar.
Hingga sekarang dia sangat respek kalau melihat monk. Dia sendiri
adalah volunteer dan kebetulan sedang bertugas. Ia meminta saya
duduk menunggu di kantor mereka sementara dia mencari managernya
yang bernama I-T untuk diperkenalkan pada saya, yang ternyata saat
muncul dan berkenalan juga orang Yahudi.

Ternyata ada banyak orang yahudi beragama Buddha menjadi volunteer
di Goenka Center, Dhamma Sikhara. Pagi ini saya sempat berkenalan
dengan 3 bule di situ. Mereka semua Yahudi. Mereka semua Buddhist.

14 Agustus 2004
Dari Room 204, Taiwan Monastry, Buddgaya—India

Nyanachatta